Alula SMP tempat lomba olimpiade Fisika tingkat kota itu riuh oleh suara langkah dan peserta yang berbisik-bisik. Nadia duduk di kursinya sambil memeluk tas, mencoba menenangkan degup jantung yang sejak pagi dag-dig-dug tak beraturan.
Meski gugup, ada sedikit kebanggaan dalam dirinya. Guru Fisika memilihnya untuk mewakili sekolah. Itu bukan hal kecil untuk anak SMP kelas 2 yang biasanya lebih sibuk dengan komik dan tugas kelompok.
"Duh, dingin ya ruangannya," gumam Sari, sahabat Nadia , sambil mengusap lengan.
Nadia mengangguk. Namun perhatiannya langsung teralih saat melihat seseorang kakak panitia lewat di depan pintu. Usianya mungkin SMA. Tubuhnya lebih tinggi, lebih dewasa, dengan papan nama ... Sayangnya terbalik tergantung di lehernya. Ia membawa tumpukan map sambil bergegas.
Entah kenapa, Nadia malah terpaku.
"Kamu lagi liat apa sih?" Sari mencondongkan tubuhnya, mencoba mengikuti arah padangan Nadia.
Nadia buru-buru menunduk. "Enggak... enggak lihat apa-apa, kok."
Sari mengangkat alis curiga.
Tak lama panitia itu kembali lewat. Rambutnya sedikit berantakan, tapi itu justru yang membuatnya terlihat... berbeda. Tidak seperti cowok sebayanya. Lebih keren. Lebih tenang. Lebih... menarik.
Sari menekan bibirnya, menahan tawa. "Kamu suka, ya?"
Nadia mencubit lengan Sari, "Apaan sih! Enggak!"
Tapi pipinya merah terbantahkan oleh omongannya sendiri.
***
Setelah lomba selesai, para peserta bubar. Nadia dan Sari berjalan menuju gerbang sekolah, sesekali membahas soal yang rumit dan bagaimana Nadia yakin ia salah menjawab soal terakhir.
Di sudut halaman, para panitia sibuk mengumpulkan perlengkapan. Panitia itu ada di sana, menunduk sambil membereskan kertas pendaftaran. Nadia melintas sambil menundukkan kepala, berusaha tidak ketahuan mencuri pandang lagi.
Sari menahan tawa kecil. "Halah, sok malu."
"Udah jangan bahas..." gumam Nadia, mendorong Sari ke arah angkot.
Hari itu berakhir begitu saja.
Atau setiddaknya Nadia pikir begitu.
***
Pengumuman hasil lomba baru saja diumumkan tadi pagi setelah upacara selesai. Butuh dua minggu untuk Nadia dan Sari menunggu hasil lomba Fisika tersebut. Sayangnya keduanya gagal melaju ke tingkat provinsi.
Malamnya, saat Nadia sedang mengerjakan PR Matematika, HP Nokia 3310 miliknya bergetar pelan. Nada SMS masuk berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Hai. Ini Reza, panitia olimpiade Fisika tingkat Kota. Apakah ini dengan Nadia Putri Anindya?
Jantung Nadia langsung berdebar tak menentu.
Jangan-jangan mau klarifikasi soal pemenangnya kali ya? Fikir Nadia.
Ia membaca ulang SMS itu setidaknya empat kali, sebelum akhirnya Sari menelfon untuk menanyakan soal PR.
"Ada SMS masuk dari nomor yang tidak dikenal." Ucap Nadia begitu ia menjawab telfon dari Sari.
"Dari siapa?"
"Bilangnya dari panitia olimpiade Fisika tingkat kota kemaren. Namanya Reza."
Sari diam sesaaat. "Jangan-jangan yang kamu taksir itu lagi!"
"Enggak tahu juga sih, barangkali mau klarifikasi soal pemenangnya kali ya?" Jawab Nadia santai walau sebenarnya hatinya masih berdebar tak karuan.
Sambil ngalor-ngidul membahas PR, fikiran Nadia masih ada di pesan baru itu. Nadia menatap langit-langit kamarnya begitu telfon selesai dimatikan dan membiarkan pesan itu terbuka begitu saja.
Iya betul. Ada apa ya Kak?
Balasan datang cepat.
Tadi saya beresin berkas pendaftaran, saya lihat tulisan kamu dan nomor kamu di sana. Pengen kenalan aja, boleh kan?
Percakapan lewat SMS pun berlanjut. Beruntung Nadia punya gratisan SMS sampai jam dua belas malam. Reza ternyata ramah. Menanyakan sekolah Nadia, kemudian tentang olimpiade itu, dan hal-hal kecil yang membuat Nadia tersenyum tanpa sadar.
Malam itu, Nadia tidur dengan pesan yang ia sengaja buka.
Ya udah, gih tidur sana. Besok kan sekolah. Selamat tidur, Nadia. Mimpi yang indah ya.
***
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Nadia dan Sari sepakat untuk pergi ke warnet sebrang sekolah. Tak henti-hentinya Nadia bercerita soal sms semalam itu pada Sari.
"Udah tahu nama lengkapnya kan? Kita cek di Facebook!" Ucap Sari begitu mereka masuk ke dalam warnet. Siang itu entah kenapa banyak sekali anak-anak lain yang datang ke sana. Niat Nadia dan Sari akan menggunakan komputer secara terpisah, namun karena tersisa satu bilik yang kosong, akhirnya terpaksa mereka masuk ke bilik tersebut bersama.
"Ya udah kamu dulu yang login ke Facebook."
Tanpa banyak bicara, Nadia langsung login ke Facebooknya sembari melihat dulu ke buku kecilnya untuk memastikan bahwa email dan passwordnya itu sama. Setelah berhasil login, dengan hati yang berharap-harap cemas, ia mengetikan nama lelaki itu.
Reza Pratama.
Jari-jarinya gemetar.
Dan ketika hasil pencarian itu muncul....Urutan pertama adalah ....!
Itu dia! Kakak panitia yang membuatnya terpesona pada pandangan pertama.
Nadia menahan napas keras-keras.
"Ya ampun, itu dia beneran Nadd!!" Sari yang duduk di samping Nadia tak kalah ikut kaget juga.
Nadia menutup mulutnya, menahan senyum lebar.
Nadia memeluk Sari erat.
Hari itu, tanpa Nadia sadari, sesuatu dimulai.
Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Sesuatu yang... mungkin akan lama membekas.

0 Comments