Tuesday, September 29, 2026
What does closure mean in your life?
Wow, talking about closure, I had a bad experience with it.
There was a time when someone suddenly left me without giving me any reason or explanation. But then, he came back again, said hello to me, and acted like there had never been anything important between us.
That's why this experience influenced my mindset and also affected my mental health. It made me feel left behind and abandoned. I kept asking myself so many questions.
Why did he leave me?
Did I make a mistake?
Did I make him angry?
Was there something wrong with me?
For me, closure means being able to say "goodbye" and close the story with the words, "This is the end." Just say it and then you can go away.
Even though it might hurt one of the people involved, I think it is still better than leaving someone without any explanation. At least, the other person doesn't have to spend so much time thinking about the reason behind it.
Leaving someone without saying goodbye can feel like hurting them slowly. Because you leave them with unanswered questions, and sometimes those questions can haunt them for a long time. They may start blaming themselves for something they don't even understand.
And I think when you give someone proper closure, you help them leave some of their old pain behind. They can focus more on today instead of constantly going back to the past and wondering about the reason.
Maybe it happened many years ago, but I still remember how painful it was. Sometimes, I still remember the feeling of being unseen, unvalued, and abandoned.
Let's see.
Sometimes, the things we do to other people can have a much bigger impact than we realize.
So please, be wiser and be gentle.
If you want to end something, don't only think about how you can leave. Think about how the other person will receive your goodbye, too. And it doesn't only apply to romantic relationships. It can happen in friendships, workplaces, communities, or even in our daily interactions with other people.
You don't have to stay if you no longer want to.
You don't have to continue something that isn't right for you.
But if you can, give people a clear and kind goodbye.
Because sometimes, a simple explanation can help someone stop blaming themselves.
And sometimes, saying "goodbye" is not about being cruel.
It is about giving both people a chance to finally move forward.
What makes life meaningful to you?
For me, life feels meaningful when I can share moments with my family and friends. I feel seen, valued, and heard by the people around me. I also think having daily goals can guide my choices and give me a reason to keep moving forward. But for this one, I'm still finding out. That's why I write in my journal every day and give myself space to talk a lot with her, myself.
Not only that, learning new skills and becoming wiser over time also makes my life meaningful. One of the new skills that I have learned recently is reflective writing. It is not only about learning a new skill, but also about getting to know myself better. When I write, I can take a pause and ask myself more questions. Sometimes, I find answers that I didn't even know I was looking for.
Creating or building things that matter to me also makes my life meaningful. One example is Teras English, which I built. I'm so happy with this community because I can share my knowledge and also help people through learning English. Seeing other people learn something from what I share gives me a feeling that what I do has a purpose.
Enjoying simple daily routines that make the world feel stable is also something that I want. As my therapist said, my homework now is to limit my jobs so I can focus on only one thing. That's why I chose my course instead of my school, because I need a quiet morning rather than a rushed morning.
I have to be mindful of the things that I do. I think it will help me manage my symptoms better. Even though I know it isn't easy. My mind is still busy, and I still have many ideas coming into my head. But maybe I don't have to follow every idea immediately. I can write them down, take a breath, and come back to them later.
Finding quiet moments for reflection and gratitude is also important to me. Because I don't have any agenda in the morning, I can use this time to read the Qur'an, write in my journal, and practice gratitude. It helps me a lot to save my mood throughout the day.
Maybe life doesn't always have to be about achieving something big.
Sometimes, life can feel meaningful simply because I have people to love, something to learn, something to build, and quiet moments to come back to myself.
And maybe I'm still finding out what makes life meaningful to me.
And that's okay.
I don't have to have all the answers right now.
Monday, September 28, 2026
![]() |
| doc. pribadi |
Eina Martha, atau yang akrab dipanggil Eina atau Ina, merupakan salah satu sahabat aku yang kini sedang menekuni usaha laundry miliknya, @takashiklinlaundry, yang beralamat di samping Inara Guest House, Jl. Cilolohan, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115. Menariknya, perjalanan Ina membawaku pada satu pertanyaan sederhana: bagaimana seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan hukum akhirnya memilih untuk terjun ke dunia usaha laundry?
Bagi aku, cerita Ina bukan sekadar tentang memilih sebuah pekerjaan. Ada perjalanan, keadaan, pertimbangan, bahkan tanggung jawab keluarga yang akhirnya membentuk pilihan hidupnya saat ini.
Kenapa akhirnya memilih usaha laundry?
Sebenarnya sebelumnya aku pernah coba buka kafe di depan rumah. Tapi sekarang kafe-kafe di Tasik tuh interiornya sudah bagus-bagus banget. Ya sudah, rasanya kita kalah di situ.
Akhirnya aku berpikir, “Ya sudah, coba cari yang lain saja.” Terus adikku sering lewat daerah Cilolohan. Di sana kan banyak sekolah dan mahasiswa, sedangkan laundry cuma ada satu-dua, terutama di sekitar Unsil.
Dari situ aku berpikir, kayaknya ada peluang. Laundry juga kan sesuatu yang memang dibutuhkan orang. Nggak seperti makanan yang bisa basi. Selama orang masih pakai baju, mereka pasti butuh mencuci.
Sebenarnya rencananya mau buka dari 2024, sekitar bulan Agustus. Tapi akhirnya baru benar-benar buka pada 2025. Jadi memang melalui proses melihat-lihat peluang dan trial and error dulu.
Berarti sebelum akhirnya jalan, ada proses mencoba dan mencari tahu dulu, ya. Terus waktu pertama membuka laundry, bagaimana pengalamannya?
Waktu awal malah hampir ketipu. Kocak banget kalau diingat sekarang.
Aku waktu itu sudah keluar uang sekitar Rp200 juta lebih. Dari awal perhitungannya, Rp200 juta itu sudah all in, mulai dari barang sampai training. Tapi ternyata aku nggak mendapatkan training-nya.
Terus aku malah diminta menambah biaya lagi sekitar Rp30 juta. Jadi rasanya kayak, “Loh, kok begini?”
Akhirnya aku belajar manual. Aku bayar orang lagi untuk ngajarin selama sekitar seminggu. Dari situ aku mulai belajar sedikit-sedikit dan memberanikan diri untuk menjalankan sendiri.
Alhamdulillah, lama-lama mulai ramai karena orang-orang sudah tahu laundry-ku.
Memang ada yang bilang harganya mahal. Bahkan pernah dibilang, “Paling mahal se-Cilolohan.”
Tapi kalau perang harga, ya pasti kalah. Jadi menurutku usaha itu bukan cuma soal siapa yang paling murah. Kita juga harus punya kualitas dan mempertahankan apa yang kita tawarkan.
Ina sendiri kan kuliahnya hukum. Ada nggak ilmu atau mata kuliah yang ternyata terasa relate dengan pekerjaan Ina sekarang?
Nggak ada, sih. (tertawa)
Kalau di STHG itu memang cukup universal. Ada hukum bisnis juga, tapi dipelajarinya selewat-selewat saja. Jadi kalau ditanya apakah ilmu hukum benar-benar kepakai untuk menjalankan laundry, ya nggak terlalu terasa.
Terus, Ina menikmati nggak kehidupan yang sekarang? Dan apakah ini memang pilihan Ina sendiri?
Kalau dibilang enjoy, ya enjoy kalau dapat duitnya. (tertawa)
Sebenarnya aku tuh nggak mau di rumah. Aku juga pernah punya keinginan untuk pergi, bahkan pengin seperti kamu yang bisa ke Bandung dan menjalani kehidupan sendiri.
Tapi sekarang keadaannya sudah seperti ini.
Papa aku sudah nggak ada. Kakakku juga di luar kota. Jadi yang akhirnya tinggal dan bisa menemani Mama ya aku.
Mungkin memang nggak ada yang menungguin Mama kalau aku pergi.
Jadi sebenarnya bukan berarti aku nggak punya keinginan sendiri. Aku punya. Cuma mungkin sekarang ada keadaan yang membuat aku harus mempertimbangkan hal lain juga.
Refleksi
Percakapan dengan Ina membuatku kembali memikirkan satu hal: hidup adalah tentang pilihan.
Setiap orang mungkin memiliki jalan yang berbeda. Ada yang setelah lulus kuliah bekerja sesuai dengan jurusannya. Ada yang memilih menjadi pengusaha. Ada yang merantau jauh dari keluarga. Ada pula yang memilih tetap tinggal karena ada orang tua yang perlu ditemani.
Tidak ada jalan yang benar-benar bebas dari konsekuensi.
Setiap pilihan membawa tanggung jawabnya sendiri.
Ketika kita memilih sesuatu, kita juga perlu belajar bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Dan dalam perjalanan itu, rasanya hampir mustahil jika kita tidak menemukan kerikil.
Ina sendiri mengalaminya. Mulai dari usaha yang sempat tidak berjalan sesuai rencana, pengalaman dengan vendor, belajar dari awal, menghadapi komentar tentang harga, sampai menerima kenyataan bahwa kehidupannya mungkin tidak berjalan seperti yang dulu ia bayangkan.
Tetapi mungkin memang seperti itulah hidup.
Kita tidak selalu mendapatkan jalan yang lurus dan mulus. Kadang ada jalan yang berbelok. Kadang kita harus berhenti. Kadang kita bahkan harus memilih jalan yang sebenarnya tidak pernah ada dalam rencana awal kita.
Dan ada satu hal lain yang aku renungkan dari cerita Ina: dalam sebuah keluarga, mungkin akan selalu ada satu anak yang pada akhirnya memilih atau perlu berada lebih dekat dengan orang tuanya.
Bukan karena anak tersebut tidak memiliki impian sendiri. Bukan pula karena ia tidak ingin pergi.
Bisa jadi justru karena ia memiliki sesuatu yang ingin ia jaga.
Menemani orang tua juga merupakan sebuah pilihan. Dan seperti pilihan lainnya, pilihan tersebut memiliki pengorbanan, tanggung jawab, sekaligus makna yang mungkin hanya benar-benar dipahami oleh orang yang menjalaninya.
Cerita Ina mengingatkanku bahwa hidup bukan tentang apakah jalan kita sesuai dengan rencana yang pernah kita buat.
Mungkin yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani jalan yang akhirnya kita pilih, dengan sadar, bertanggung jawab, dan tetap mau melangkah meskipun sesekali harus melewati kerikil.
Karena pada akhirnya, setiap orang sedang menulis ceritanya sendiri.
Dan mungkin, jalan yang berbeda bukan berarti jalan yang salah.
![]() |
| doc. pribadi |
Di usia 23 tahun, bagaimana rasanya ketika kamu sudah menjadi seorang PNS? Apakah ini memang sesuatu yang sejak awal kamu targetkan?
Rasanya tentu bersyukur. Menjadi PNS sebenarnya bukan sesuatu yang sejak awal saya targetkan. Bahkan dulu saya tidak ingin menjadi seorang PNS karena merasa pekerjaan “PNS” itu tidak keren untuk anak muda.
Namun, saya hidup dengan menjalani takdir demi takdir dan proses demi proses. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Maka, hasilnya seperti sekarang. Saya berada di pekerjaan yang ternyata banyak orang idamkan.
Apa tantangan atau hal paling mengejutkan yang kamu temui ketika mulai bekerja sebagai PNS di usia yang masih sangat muda?
Tentunya adalah pace kerja yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan birokrasi yang cukup ketat.
Kalau sebelumnya keputusan A dan B mungkin bisa diputuskan hanya dalam satu rapat, sekarang semuanya harus melalui proses yang lebih panjang untuk mendapatkan suatu keputusan. Jadi, saya belajar untuk lebih sabar dan memahami bagaimana sebuah sistem bekerja.
Kalau bisa berbicara kepada anak muda seusiamu yang sedang berjuang mencari arah dalam karier, apa yang ingin kamu sampaikan?
Saya mengikuti pepatah dari pimpinan Ponpes Gontor yang sedang viral: “Jangan menjadi be yourself, tapi jadilah be your best for yourself.”
Pastikan kita selalu melihat segala sesuatu dari sisi yang positif, sehingga mindset yang terbentuk juga positif.
Misalnya, ketika berpikir, “Ah, saya sudah mengirim 1.000 lamaran kerja, tapi tidak ada yang diterima,” mungkin sebenarnya kamu sedang diberi waktu untuk beristirahat oleh Allah dari kesibukan yang akan menantimu di depan.
Atau ketika berpikir, “Saya capek dengan keadaan saya sekarang. Saya melihat orang lain semakin sukses, sedangkan saya masih begini-begini saja,” mungkin kamu belum melihat orang lain yang perjuangannya lebih sulit dari kamu.
Memang masih banyak hal yang belum tercapai dalam hidupmu, tetapi tidak sedikit juga yang sudah kamu miliki dalam hidupmu.
Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an:
“Perhaps you love a thing and it is bad for you, and perhaps you hate a thing and it is good for you.”
Pada akhirnya, kita tidak selalu tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Jadi, jalani saja prosesnya dengan sebaik mungkin.
Refleksi
Dari sesi wawancara dengan Ridho kali ini, membawa kita pada satu hal,
Berhenti overthinking. Jalani setiap takdir yang diberikan dan lakukan yang terbaik.
Kita tidak selalu tahu ke mana sebuah proses akan membawa kita. Sesuatu yang hari ini terasa bukan bagian dari rencana, mungkin justru menjadi jalan yang Allah pilihkan untuk kita.
Jadi, tidak apa-apa kalau hidupmu belum berjalan seperti yang kamu bayangkan. Tidak semua hal harus dipahami sekarang. Jalani prosesnya, lakukan bagianmu dengan sebaik mungkin, dan percayakan sisanya kepada Allah.
Karena terkadang, apa yang kita anggap sebagai keterlambatan sebenarnya adalah waktu yang sedang Allah gunakan untuk mempersiapkan kita.
What makes you feel better after crying?
For me, the thing that makes me feel better after crying is sleeping. I don't know why, but this is the best way for me to feel relaxed. After crying a lot, I always feel sleepy, and that's why I usually go to my bed and sleep. And you know? It feels like the best sleep ever.
I think there is something comforting about sleeping after crying. Maybe after letting all my emotions out, my body just needs to rest. I don't need to think about the problem for a while. I just close my eyes and let myself rest.
This reminds me of what Allah says in the Qur'an:
“Then, after the grief, He sent down a sense of security upon you, a sleep overtaking some of you..."
(QS. Ali 'Imran: 154)
I don't know if I can fully explain why, but this verse always feels close to me. Sometimes, after crying and feeling overwhelmed, sleep feels like a small form of peace that Allah gives me.
I can sleep for two hours, and when I wake up, I usually feel better. The problem may still be there, but somehow, it doesn't feel as heavy as before. It feels like I can breathe again and face my problems with a calmer mind.
Maybe crying helps me release what I have been holding inside, while sleeping gives me the chance to rest from it for a while. And sometimes, that's all I need.
What about you? What makes you feel better after crying?
.png)
.png)
Social Media
Search