Slider

Top Categories

My Thougths

Life Reflections

Book Reviews

Weekly Journal

Finding The Light Behind The Fog

What They Have to Say

Monday, September 28, 2026

doc. pribadi

Eina Martha, atau yang akrab dipanggil Eina atau Ina, merupakan salah satu sahabat aku yang kini sedang menekuni usaha laundry miliknya, @takashiklinlaundry, yang beralamat di samping Inara Guest House, Jl. Cilolohan, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115. Menariknya, perjalanan Ina membawaku pada satu pertanyaan sederhana: bagaimana seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan hukum akhirnya memilih untuk terjun ke dunia usaha laundry?

Bagi aku, cerita Ina bukan sekadar tentang memilih sebuah pekerjaan. Ada perjalanan, keadaan, pertimbangan, bahkan tanggung jawab keluarga yang akhirnya membentuk pilihan hidupnya saat ini.

Kenapa akhirnya memilih usaha laundry?

Sebenarnya sebelumnya aku pernah coba buka kafe di depan rumah. Tapi sekarang kafe-kafe di Tasik tuh interiornya sudah bagus-bagus banget. Ya sudah, rasanya kita kalah di situ.

Akhirnya aku berpikir, “Ya sudah, coba cari yang lain saja.” Terus adikku sering lewat daerah Cilolohan. Di sana kan banyak sekolah dan mahasiswa, sedangkan laundry cuma ada satu-dua, terutama di sekitar Unsil.

Dari situ aku berpikir, kayaknya ada peluang. Laundry juga kan sesuatu yang memang dibutuhkan orang. Nggak seperti makanan yang bisa basi. Selama orang masih pakai baju, mereka pasti butuh mencuci.

Sebenarnya rencananya mau buka dari 2024, sekitar bulan Agustus. Tapi akhirnya baru benar-benar buka pada 2025. Jadi memang melalui proses melihat-lihat peluang dan trial and error dulu.

Berarti sebelum akhirnya jalan, ada proses mencoba dan mencari tahu dulu, ya. Terus waktu pertama membuka laundry, bagaimana pengalamannya?

Waktu awal malah hampir ketipu. Kocak banget kalau diingat sekarang.

Aku waktu itu sudah keluar uang sekitar Rp200 juta lebih. Dari awal perhitungannya, Rp200 juta itu sudah all in, mulai dari barang sampai training. Tapi ternyata aku nggak mendapatkan training-nya.

Terus aku malah diminta menambah biaya lagi sekitar Rp30 juta. Jadi rasanya kayak, “Loh, kok begini?”

Akhirnya aku belajar manual. Aku bayar orang lagi untuk ngajarin selama sekitar seminggu. Dari situ aku mulai belajar sedikit-sedikit dan memberanikan diri untuk menjalankan sendiri.

Alhamdulillah, lama-lama mulai ramai karena orang-orang sudah tahu laundry-ku.

Memang ada yang bilang harganya mahal. Bahkan pernah dibilang, “Paling mahal se-Cilolohan.”

Tapi kalau perang harga, ya pasti kalah. Jadi menurutku usaha itu bukan cuma soal siapa yang paling murah. Kita juga harus punya kualitas dan mempertahankan apa yang kita tawarkan.

Ina sendiri kan kuliahnya hukum. Ada nggak ilmu atau mata kuliah yang ternyata terasa relate dengan pekerjaan Ina sekarang?

Nggak ada, sih. (tertawa)

Kalau di STHG itu memang cukup universal. Ada hukum bisnis juga, tapi dipelajarinya selewat-selewat saja. Jadi kalau ditanya apakah ilmu hukum benar-benar kepakai untuk menjalankan laundry, ya nggak terlalu terasa.

Terus, Ina menikmati nggak kehidupan yang sekarang? Dan apakah ini memang pilihan Ina sendiri?

Kalau dibilang enjoy, ya enjoy kalau dapat duitnya. (tertawa)

Sebenarnya aku tuh nggak mau di rumah. Aku juga pernah punya keinginan untuk pergi, bahkan pengin seperti kamu yang bisa ke Bandung dan menjalani kehidupan sendiri.

Tapi sekarang keadaannya sudah seperti ini.

Papa aku sudah nggak ada. Kakakku juga di luar kota. Jadi yang akhirnya tinggal dan bisa menemani Mama ya aku.

Mungkin memang nggak ada yang menungguin Mama kalau aku pergi.

Jadi sebenarnya bukan berarti aku nggak punya keinginan sendiri. Aku punya. Cuma mungkin sekarang ada keadaan yang membuat aku harus mempertimbangkan hal lain juga.

Refleksi

Percakapan dengan Ina membuatku kembali memikirkan satu hal: hidup adalah tentang pilihan.

Setiap orang mungkin memiliki jalan yang berbeda. Ada yang setelah lulus kuliah bekerja sesuai dengan jurusannya. Ada yang memilih menjadi pengusaha. Ada yang merantau jauh dari keluarga. Ada pula yang memilih tetap tinggal karena ada orang tua yang perlu ditemani.

Tidak ada jalan yang benar-benar bebas dari konsekuensi.

Setiap pilihan membawa tanggung jawabnya sendiri.

Ketika kita memilih sesuatu, kita juga perlu belajar bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Dan dalam perjalanan itu, rasanya hampir mustahil jika kita tidak menemukan kerikil.

Ina sendiri mengalaminya. Mulai dari usaha yang sempat tidak berjalan sesuai rencana, pengalaman dengan vendor, belajar dari awal, menghadapi komentar tentang harga, sampai menerima kenyataan bahwa kehidupannya mungkin tidak berjalan seperti yang dulu ia bayangkan.

Tetapi mungkin memang seperti itulah hidup.

Kita tidak selalu mendapatkan jalan yang lurus dan mulus. Kadang ada jalan yang berbelok. Kadang kita harus berhenti. Kadang kita bahkan harus memilih jalan yang sebenarnya tidak pernah ada dalam rencana awal kita.

Dan ada satu hal lain yang aku renungkan dari cerita Ina: dalam sebuah keluarga, mungkin akan selalu ada satu anak yang pada akhirnya memilih atau perlu berada lebih dekat dengan orang tuanya.

Bukan karena anak tersebut tidak memiliki impian sendiri. Bukan pula karena ia tidak ingin pergi.

Bisa jadi justru karena ia memiliki sesuatu yang ingin ia jaga.

Menemani orang tua juga merupakan sebuah pilihan. Dan seperti pilihan lainnya, pilihan tersebut memiliki pengorbanan, tanggung jawab, sekaligus makna yang mungkin hanya benar-benar dipahami oleh orang yang menjalaninya.

Cerita Ina mengingatkanku bahwa hidup bukan tentang apakah jalan kita sesuai dengan rencana yang pernah kita buat.

Mungkin yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani jalan yang akhirnya kita pilih, dengan sadar, bertanggung jawab, dan tetap mau melangkah meskipun sesekali harus melewati kerikil.

Karena pada akhirnya, setiap orang sedang menulis ceritanya sendiri.

Dan mungkin, jalan yang berbeda bukan berarti jalan yang salah.

doc. pribadi


Kali ini, What They Have to Say berkenalan dengan Muhamad Ridho, atau yang lebih akrab disapa Ridho atau Ido. Berasal dari Tasikmalaya dan kini menetap di Bandung, Ridho menjalani kesehariannya sebagai Perencana Ahli Pertama di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Menariknya, di usia 23 tahun, perjalanan Ridho membawanya menjadi seorang PNS, sesuatu yang ternyata tidak pernah ia targetkan sejak awal. Kalau kamu sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi PNS dan ingin bertanya langsung tentang pengalamannya, Ridho bisa ditemui melalui Instagram @m.ridho_04.

Di usia 23 tahun, bagaimana rasanya ketika kamu sudah menjadi seorang PNS? Apakah ini memang sesuatu yang sejak awal kamu targetkan?

Rasanya tentu bersyukur. Menjadi PNS sebenarnya bukan sesuatu yang sejak awal saya targetkan. Bahkan dulu saya tidak ingin menjadi seorang PNS karena merasa pekerjaan “PNS” itu tidak keren untuk anak muda.

Namun, saya hidup dengan menjalani takdir demi takdir dan proses demi proses. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Maka, hasilnya seperti sekarang. Saya berada di pekerjaan yang ternyata banyak orang idamkan.

Apa tantangan atau hal paling mengejutkan yang kamu temui ketika mulai bekerja sebagai PNS di usia yang masih sangat muda?

Tentunya adalah pace kerja yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan birokrasi yang cukup ketat.

Kalau sebelumnya keputusan A dan B mungkin bisa diputuskan hanya dalam satu rapat, sekarang semuanya harus melalui proses yang lebih panjang untuk mendapatkan suatu keputusan. Jadi, saya belajar untuk lebih sabar dan memahami bagaimana sebuah sistem bekerja.

Kalau bisa berbicara kepada anak muda seusiamu yang sedang berjuang mencari arah dalam karier, apa yang ingin kamu sampaikan?

Saya mengikuti pepatah dari pimpinan Ponpes Gontor yang sedang viral: “Jangan menjadi be yourself, tapi jadilah be your best for yourself.”

Pastikan kita selalu melihat segala sesuatu dari sisi yang positif, sehingga mindset yang terbentuk juga positif.

Misalnya, ketika berpikir, “Ah, saya sudah mengirim 1.000 lamaran kerja, tapi tidak ada yang diterima,” mungkin sebenarnya kamu sedang diberi waktu untuk beristirahat oleh Allah dari kesibukan yang akan menantimu di depan.

Atau ketika berpikir, “Saya capek dengan keadaan saya sekarang. Saya melihat orang lain semakin sukses, sedangkan saya masih begini-begini saja,” mungkin kamu belum melihat orang lain yang perjuangannya lebih sulit dari kamu.

Memang masih banyak hal yang belum tercapai dalam hidupmu, tetapi tidak sedikit juga yang sudah kamu miliki dalam hidupmu.

Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an:

“Perhaps you love a thing and it is bad for you, and perhaps you hate a thing and it is good for you.”

Pada akhirnya, kita tidak selalu tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Jadi, jalani saja prosesnya dengan sebaik mungkin.

Refleksi

Dari sesi wawancara dengan Ridho kali ini, membawa kita pada satu hal,

Berhenti overthinking. Jalani setiap takdir yang diberikan dan lakukan yang terbaik.

Kita tidak selalu tahu ke mana sebuah proses akan membawa kita. Sesuatu yang hari ini terasa bukan bagian dari rencana, mungkin justru menjadi jalan yang Allah pilihkan untuk kita.

Jadi, tidak apa-apa kalau hidupmu belum berjalan seperti yang kamu bayangkan. Tidak semua hal harus dipahami sekarang. Jalani prosesnya, lakukan bagianmu dengan sebaik mungkin, dan percayakan sisanya kepada Allah.

Karena terkadang, apa yang kita anggap sebagai keterlambatan sebenarnya adalah waktu yang sedang Allah gunakan untuk mempersiapkan kita.



What makes you feel better after crying?

For me, the thing that makes me feel better after crying is sleeping. I don't know why, but this is the best way for me to feel relaxed. After crying a lot, I always feel sleepy, and that's why I usually go to my bed and sleep. And you know? It feels like the best sleep ever.

I think there is something comforting about sleeping after crying. Maybe after letting all my emotions out, my body just needs to rest. I don't need to think about the problem for a while. I just close my eyes and let myself rest.

This reminds me of what Allah says in the Qur'an:

“Then, after the grief, He sent down a sense of security upon you, a sleep overtaking some of you..."

(QS. Ali 'Imran: 154)

I don't know if I can fully explain why, but this verse always feels close to me. Sometimes, after crying and feeling overwhelmed, sleep feels like a small form of peace that Allah gives me.

I can sleep for two hours, and when I wake up, I usually feel better. The problem may still be there, but somehow, it doesn't feel as heavy as before. It feels like I can breathe again and face my problems with a calmer mind.

Maybe crying helps me release what I have been holding inside, while sleeping gives me the chance to rest from it for a while. And sometimes, that's all I need.

What about you? What makes you feel better after crying?

What makes your job meaningful to you?

The first thing that makes a job meaningful to me is when my job can have an impact on society.

I love teaching, especially teaching English, because I know that many people out there don't have access to learning English. That's why I built Teras English, a free English course for children in my hometown. I'm so happy when my students say that this course helps them improve their English. Even though the impact may not be big, I'm happy to know that I can contribute something. For me, sometimes a small impact can still mean something.

The second thing is that I love writing. Why? Because through writing, I can share the things that come to my mind. It feels like I can release my overthinking through words. I love sharing good things, experiences, and thoughts, and I hope the readers can get something from my writing. Maybe my words cannot change someone's life, but if they can make someone feel understood or give them a new perspective, that is already meaningful to me.

Another thing that makes a job meaningful to me is when we can work while upholding honesty and integrity. I want to work in an environment where there is no corruption, unhealthy politics, or unnecessary competition. I believe people should be able to respect each other, understand each other's boundaries, and work together in a healthy environment. For me, a meaningful job is not only about what we do, but also about how we do it.

And, of course, I also think that a meaningful job should provide a sense of security. The salary should be paid on time, and there should be clear boundaries and responsibilities according to the contract. I don't want to constantly worry about whether my salary will be paid or whether there will suddenly be additional work outside the contract.

So, for me, a meaningful job is not simply about earning money. It is about having an impact, expressing myself, working with honesty and respect, and having enough stability to do my work well.

What about you? 

Sunday, September 27, 2026

Hello! Good evening, and be ready for tomorrow, Monday. Hihii.

As usual, there are many things that I wanna share with you about this week.

First, I'm so grateful for this week because:

  1. I could meet my therapist offline last Monday and also had an online session this morning. Even though I'm so sad because, based on the assessment result, I still have severe depression and also a tendency toward the bipolar spectrum. But I'm trying to accept it little by little. I know that this is something that I need to face, not something that I have to be ashamed of.

  2. I got enough time to consider whether I should continue teaching at my school or not. After thinking about it for more than one week, I decided that I need to leave the school. My energy has been easily drained lately, and I realize that I need more time to recover myself. I need to listen to myself more and give my mind some space to rest.

  3. My parents are very supportive of me. I'm really grateful because, this time, they understand that I need to prioritize myself and my recovery. Having their support makes me feel less alone in dealing with all of this.

  4. Because I'm in a manic phase, many ideas come to my mind. And then, boom! I created a new program on my blog called "What They Have to Say." Alhamdulillah, and I'm proud of myself. Even though sometimes my mind feels too crowded with ideas, I'm also learning that some of those ideas can become something meaningful.

  5. I still have many friends who love and care about me. Sometimes I forget how blessed I am to have people who are willing to listen to me, stay beside me, and remind me that I don't have to go through everything alone.

  6. He called me first, and we argued about psychologists because, for him, this was the first time he knew about my condition. At first, it was quite emotional because I had to explain many things. But after I explained a lot about what I've been going through, I somehow felt lega and tenang aja gitu. At the end, he said, "Syafakillah" for my condition. Somehow, those simple words meant something to me.

  7. I could close this week by having a conversation with my best friend since MTs (Junior High School). It was really nice to talk about our memories, our lives, and how much we've changed.

The challenges that I faced this week:

  1. Of course, I have to deal with this condition. With my mood, my brain, and also my feelings. They sometimes feel like they're going in different directions. So, sometimes I'm overwhelmed by this condition. There are moments when I don't understand myself, and I have to remind myself to be patient with the process.

  2. I have to take a risk by leaving that school. Realizing that my current condition doesn't allow me to handle too many things at once is not easy. I need much more time to release myself, to talk with myself more, and to focus on my recovery instead of working. My therapist said that I have to avoid multitasking. And I know that when I have two jobs, my brain can't stop thinking, and it hurts me a lot. So, maybe choosing myself this time is not giving up. Maybe it's actually one of the ways I take care of myself.

  3. During my meeting with my best friend, we talked about our Junior High School era. At that time, we felt like we were on the same page, starting from the same line. But then, when we graduated from college, everything became different. I thought about my ex-best friend and how, with her privileges, she can go abroad wherever she wants, watch K-pop idol concerts, have a good job, and continue her master's degree. For a moment, I compared my life with hers. But then, I realized that I don't have to be jealous of her life. Her journey is hers, and mine is mine. We may have started from the same place, but Allah doesn't promise that our paths will be the same. Because in His eyes, only taqwa can be the differentiator. Not because you're rich, you've been abroad, you have a good job, or you have achieved certain things in life. Maybe my life looks different right now. And that's okay.

This week, I've got many lessons that I have to learn and also some homework from my therapist that I have to do. But I'm so grateful because I can take better care of myself and love myself more.

Maybe healing is not always about becoming stronger. Sometimes, healing is about admitting that you're tired, giving yourself permission to rest, and choosing not to force yourself to keep going when you actually need to stop.

Hi, Ihat.

Thank you for holding on to this life.

I know this condition is out of your control, but please stay. Don't give up.

Remember, this condition is temporary, and you still have a blooming season.

You don't have to rush.

You don't have to become someone else.

Wait for your season, and keep growing into the best version of yourself.

One day, you'll look back and realize that choosing to stay was one of the bravest things you've ever done.

For now, just take it one day at a time.

You are still here.

And that's already something to be grateful for.

Alhamdulillah. 

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi