Friday, January 23, 2026
Your inspiration
Inspirasi itu seperti angin: bisa datang dari mana saja, dan sering kali tiba-tiba, tanpa diundang. Kadang-kadang, ia muncul dari obrolan singkat dengan orang asing, atau saat aku bersepeda santai, melihat-lihat sekitar jalanan yang ramai, dan tiba-tiba ada ide yang melintas di pikiran. Inspirasi juga bisa datang dari buku yang aku baca, video di YouTube yang menarik, atau bahkan saat aku asyik scrolling di media sosial. Ya, sumbernya memang tak terbatas, tapi untuk saat ini, inspirasi-inspirasi terbesar aku datang dari buku karya Brianna Wiest berjudul 101 Essays that Will Change the Way You Think.
Melalui buku ini, aku banyak merenung dan berefleksi tentang diri aku sendiri serta kehidupan aku. Setiap esai di dalamnya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang memaksa aku untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Siapa aku sebenarnya? Apa yang benar-benar aku inginkan dari hidup ini? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan itu yang akhirnya membantu aku mencari tahu jawabannya, bukan dengan jawaban instan, melainkan melalui proses menulis dan dialog internal. Ini seperti terapi gratis: aku duduk sendirian, pena di tangan, dan menuangkan pikiran-pikiran yang selama ini tersembunyi.
Satu hal yang pasti, ketika inspirasi datang, aku selalu buru-buru mencatatnya. Tak peduli di mana aku berada atau media apa yang aku gunakan: apakah itu catatan di ponsel, buku harian, atau bahkan coretan di kertas bekas, aku langsung menuliskannya. Karena, aku tahu betul, inspirasi itu mudah sekali hilang jika tidak segera diabadikan. Pikiran kita kan seperti pasir yang licin; kalau tidak segera dipegang, ia akan luruh begitu saja.
Refleksi ini membuat aku sadar bahwa inspirasi bukanlah sesuatu yang harus dicari-cari, melainkan sesuatu yang harus kita siapkan diri untuk menangkapnya. Dengan membaca buku seperti ini, aku belajar untuk lebih terbuka terhadap dunia di sekitar aku. Dan siapa tahu, inspirasi berikutnya mungkin datang dari hal-hal sederhana yang aku lewatkan hari ini. Mari kita jaga agar api inspirasi itu terus menyala dengan mencatat, merenung, dan berbagi. Siapa tahu, inspirasi aku bisa menjadi inspirasi bagi orang lain juga.
What can you do to create an ideal world for yourself and others?
Dalam perjalanan hidup ini, aku sering merenung tentang apa yang bisa aku lakukan untuk membangun dunia yang lebih baik—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar aku. Dunia ideal bagi aku bukanlah utopia yang jauh dari jangkauan, melainkan sebuah realitas yang bisa kita wujudkan melalui langkah-langkah konkret. Salah satu jalan utama yang aku yakini adalah melalui pendidikan. Mengapa? Karena pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan fondasi untuk perubahan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.
Ketika aku memikirkan kembali pengalaman pribadi aku, pendidikan telah menjadi pilar utama dalam hidup aku. Dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, setiap pelajaran yang aku terima membuka pintu untuk mimpi-mimpi yang lebih besar. Namun, aku sadar bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama. Itulah mengapa aku percaya bahwa memprioritaskan pendidikan adalah langkah pertama. Kita harus menyamakan kualitas pendidikan bagi semua kalangan, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Pendidikan di Indonesia, pendidikan adalah hak setiap warga negara—bukan hak istimewa. Ini bukan hanya tentang keadilan, tapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih kuat dan inklusif.
Refleksi ini membuat aku bertanya-tanya: Bagaimana kita bisa mewujudkan ini? Aku ingat saat aku melihat teman-teman di desa yang kesulitan melanjutkan sekolah karena biaya atau fasilitas yang terbatas. Itu membuat aku sadar bahwa pendidikan yang merata bukanlah impian kosong, melainkan tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran krusial di sini. Mereka harus mengutamakan kesejahteraan para pendidik—guru, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya. Bayangkan jika guru-guru kita diberi gaji layak, pelatihan berkala, dan dukungan psikologis; pendidikan akan berjalan lebih efektif, dan siswa akan termotivasi untuk belajar.
Melalui pendidikan, kita bisa mengubah taraf kesejahteraan hidup kita secara fundamental. Aku percaya bahwa pengetahuan adalah kunci untuk membuka peluang kerja, inovasi, dan bahkan perdamaian dunia. Saat aku melihat bagaimana pendidikan telah mengubah hidup aku, dari seorang anak yang tadinya hampir putus sekolah menjadi seseorang yang bisa berkontribusi melalui mengajar di kelas. Tapi ini bukan hanya tentang aku; ini tentang kita semua. Mari kita refleksikan bersama: Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk mendukung pendidikan? Mulai dari mendukung kampanye literasi hingga mendorong kebijakan yang adil.
Dalam dunia yang penuh tantangan ini, pendidikan adalah cahaya harapan. Dengan memprioritaskannya, kita tidak hanya menciptakan dunia ideal untuk diri sendiri, tapi juga untuk generasi mendatang. Mari kita mulai dari sekarang.
Wednesday, January 21, 2026
![]() |
| Photo by Snapwire |
If I had the love I wanted, what would today look like?*
I am somewhat confused about this topic. as many thoughts are swirling in my mind. However, reflecting on it. I believe that of I had the love I desired, my day would be filled with happiness, routine, and deep emotional connection. Let me outline what a such a day might look like.
In the morning, I would wake up feeling content, seeing my partner beside me. I would kiss his forehead and say, "Good morning, honey," or perhaps he would do the same to me. We would pray shubuh together, fostering a sense of shared spiritually. He would then prepare for work while I got ready for breakfast. We would eat together, engaging in light conversation about our plans for the day. Before he left, he would kiss my forehead, leaving me with a warm feeling.
Throughout the day, I would tidy up our home, write on my blog about our love story, read a book to nurture my personal interests. In the evening, before he arrived home, I would send him a text saying, "Miss you." Upon his return, he might bring me a red flower as a small gesture of affection. After he showered, we would have dinner together, pray isya as a couple, and share stories from our day, strengthening our bond.
In conclusion, this idealized day represents the harmony and fulfillment that true love could bring. While I am still figuring out my feelings on this topic, it highlights the importance of emotional intimacy in daily life.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)
What is that one thing you have always wanted to do but could not?
Sebenarnya ini bisa dilakukan sih, tapi aku memilih untuk tidak karena banyak sekali pertimbangan. Apa itu? Jadi full time writer. Kenapa gak bisa? Karena ya butuh effort yang besar dan konsisten kan untuk bisa menghasilkan uang dari karya kita? Sementara di awal-awal dan ini udah jadi rahasia umum, pasti tulisan kita belum bisa menghasilkan uang. Pengen banget gitu jadi full time writer, diem di rumah, sesekali nulis di kafe, baca buku. Tapi untuk saat ini itu belum bisa. Aku masih perlu kerja yang lain untuk bisa menghidupi diri aku seorang. Jadi aku menulis hanya untuk sampingan dan menyalurkan hobi serta isi kepala yang berisik.
Kalau kamu gimana?
Tuesday, January 20, 2026
![]() |
| Photo by The masked Guy: |
Who from your past are you still trying to earn the acceptance of*
I know that there is still someone from my past whose acceptance I am trying to earn. This person is him: an individual I loved deeply during my senior high school years, despite his rejection and hurtful words. I often wonder why I loved him so much back then. Even though he said rude things to me, I never responded in kind. For example, he commented that my body was fat and covered in acne, and he bullied me constantly. My best friend repeatedly advised me to stop loving him, as he clearly never reciprocated my feelings.
I have been trying to talk to myself, urging myself to forgive that era or my life, forgive him, and accept my own foolishness in the past. However, it is incredibly difficult. In my heart, I still want to say the things I have never expressed to him before. Perhaps I need to confront these feelings:
I want to say: I hate you! I never really love you even in the past. I hate you. Really-really hate you! You are the worst thing that happened in my life. I hate you!
In conclusion, this unresolved emotion shows how past relationship can linger, affecting our present. While I strive for acceptance and forgiveness, the pain remains a challenge.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)


Social Media
Search