Monday, February 16, 2026
![]() |
| doc.pribadi |
Ramadan sering kita sebut sebagai bulan kembali. Kembali kepada Al-Qur'an, kembali kepada masjid, kembali kepada doa.
Namun, pernahkah kita benar-benar kembali kepada diri sendiri?
Sering kali kita berpuasa dari makan dan minum, tetapi tidak pernah berpuasa dari luka lama, dari dendam, dari rasa tidak cukup yang terus menggerogoti hati. Kita sibuk memperbaiki amal, tetapi lupa memeriksa hati.
Tahun ini, aku tidak ingin hanya menjalani Ramadan sebagai rutinitas ibadah. Aku ingin menjadikannya perjalanan. Perjalan untuk mengenal siapa diriku sebenarnya di hadapan Allah. Perjalanan untuk berdamai dengan luka yang belum selesai. Perjalanan untuk menemukan kembali makna hidup yang mungkin sempat hilang di tengah lelahnya dunia.
Melalui seri #RamadanJournaling ini dengan tema Self Discovery, aku ingin menuliskan percakapan-percakapan sunyi antara aku dan Penciptaku. Tentang dosa yang masih membuatku takut. Tentang doa yang belum terjawab. Tentang harapan yang diam-diam masih kupeluk.
Ada lelah yang belum selesai
Ada luka yang belum sembuh
Ada doa yang masih menggantung di langit.
Aku sadar, mungkin selama ini aku lebih sibuk memperbaiki penampilanku di hadapan manusia daripada memperbaiki hatiku di hadapan-Mu.
Maka di bulan ini, izinkan aku belajar kembali. Belajar mengenal diriku sebagaimana Engkau mengenalkanku. Belajar menerima takdir yang tak selalu sesuai harapan. Belajar mencitai-Mu bukan hanya karena takut, tapi karena rindu.
Semoga tulisan ini bukan hanya menjadi catatam perjalan pribadiku, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi siapapun yang sedang mencari cahaya di bulan penuh ampunan ini.
![]() |
| doc.pribadi |
Identitas Buku
Judul: Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah
Penulis: Alfialghazi
Tahun Terbit: Cetakan kesebelas, 2022
Penerbit: Penerbit Sahima (Kelompok Penerbit PT Magenta Media), Depok, Jawa Barat
Blurb
Tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginanmu. Pada satu waktu, impianmu akan dipukul mundur, harapanmu terpatahkan, dan langkahmu dihentikan paksa.
Dunia yang luas terasa begitu menyesakkan. Ramai, tapi sepi.
Ingin terus melangkah, takut terjatuh. Ingin putar balik, sudah tak mungkin tertempuh. Ingin menyerah, tetap saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Setiap pilihan nyaris tak mampu kamu tanggun konsekuensianya.
"Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah" akan menemanimu, untuk terus melangkah maju, menerabas segala keterbatasan, menikmati segala kekecewaan, melewati dunia yang penuh dengan kefanaan, menuju satu tempat bernama keabadian.
Untukmu, jiwa-jiwa kecil yang sedang mendamba bahagia, kebahagiaan yang sesungguhnya. Selamat menikmati!
Tiga Insight Utama:
1. Padahal, itu semua tak akan pernah menemui kata selesai, angka-angka tak akan pernah memuaskanmu, karena yang sedang kamu beri makan adalah nafsu, ia tak punya rasa kenyang. Sayangnya, kamu meletakkan kebahagiaan pada hal-hal semacam itu, pada deretan angka yang menipu. (p. 21)
2. Apabila pada masanya nanti kita menemu situasi-situasi sulit, bahkan sangat rumit untuk diselesaikan, ingatlah selalu bahwa langkah kita harus terus berlanjut, sebesar apa pun halangannya dan sesakit apa pun kenyataannya.
Walaupun kebahagiaan terasa begitu jauh, kita tetap tak boleh kehilangan harapan karena sejatinya kebahagiaan ataupun kesulitan keduanya sama. Keduanya adalah jalan juang yang harus dilewati. Pada kebahagiaan, kita tak boleh lali, sedangkan pada kesulitan, kita tak boleh menyerah. (p. 68)
3. Memang benar, mencari pekerjaan yang baik memang tidaklah salah. Namun, jika itu membuat seseorang menjadikan dunia sebagai poros kehidupan dan harta sebagai tanda keberhasilan maka tentu hal tersebut adalah keliru.
Kaya belum tentu menemui kebahagiaan dan miskin belum tentu menemui kesengsaraan. Inilah kenyataan yang kira sering alpa untuk memahaminya. (p. 242)
Refleksi Pribadi
Buku ini adalah buku milik teman yang aku pinjam. Aku tidak pernah menyangkan bahwa isinya akan banyak menamparku dan membuatku menangis. Aku sadar selama ini aku terlalu menjadikan angka-angka itu sebagai bentuk keberhasilan padahal ketika aku sudah merasakannya nyatanya hati aku tidak pernah tenang dan nyaris sering membuatku stress tak karuan. Angka-angka kecil yang kini aku terima entah mengapa rasanya jauh menenangkan dan membuatku tak pernah takut merasa kehilangan. Dengan waktu yang aku korbankan untuk berbagi melalui program mengajar gratis, hatiku merasa tenang dan diriku merasa utuh kembali. Kini aku sedang belajar kembali menata niat, diri, dan hati. Akan bawa ke mana hidupku ini?
Meski tak bisa dipungkiri, melihat teman-teman se usiaku banyak yang sudah mapan secara angka dan mudah pergi bolak-balik ke luar negeri membuatku kadang merasa iri, tapi ini aku selalu berusaha untuk menyadarkan dan menenangkan diri. Kalau kamu dikasih kesempatan itu sama Allah, apa niat kamu? Mau pamer sama orang-orang bahwa kamu itu mampu dan hebat? Sementara yang memampukan dan menghebatkan itu semua adalah atas izin Allah?
Aku kembali lagi merenung. Kenapa hanya poros dunia yang dijadikan standar keberhasilannya bukan standar akhirat? Apakah ini yang memicu stress dan merasa bahwa diri ini tidak layak?
Buku ini sangat membantu kamu yang sedang kehilangan arah, hampir dan bahkan ingin menyerah. Kita akan disadarkan kembali melalui buku ini, bahwa dunia adalah sementara dan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.
Wednesday, February 11, 2026
Udah hampir 10 hari ke belakang ini aku merasa aku ditarik kembali menuju lembah bewarna hitam itu. Meski tidak sehitam legam dulu, namun kekuatannya masih sama. Malamnya aku sulit memejamkan mata, baru bisa tidur di jam 12 atau 1 malam dan itu pun masih dengan pikiran yang berisik gak karuan, seolah memori lama, luka-luka yang belum sempat diproses pun bermunculan berdatangan, belum lagi soal overthinking yang menyerang, tiba-tiba ingin menangis lalu menangis meski sulit banget buat bisa nangis kejer padahal pengen banget biar hati lega. Menyiksa banget? Jangan ditanya.
Besoknya? Aku malas bangun, masih betah di tempat tidur. Seolah ada yang menarikku untuk tetap stay di tempat tidur, tidak semangat untuk memulai hari, bahkan rasanya aku ingin tidur seharian saja. Orang tua mulai panik lagi dengan polaku yang begini, meski mereka benar-benar tidak bisa mengomunikasikannya dengan baik. Mereka mensupport aku untuk semangat mengawali hari yang justru malah bikin aku down, mereka mengingatkan aku bahwa tidur pagi itu jelek, padahal mereka gak benar-benar tahu gimana strugglenya aku setiap malam, dan setiap aku bilang aku susah tidur malam-malam pasti keluar dari mulut mereka tuh omongan-omongan yang tanpa terasa mereka sadari menyudutkan aku: apa sih yang bikin aku susah tidur, ngajar gak secape itu, kerjaan di rumah juga diurus Mamah.
Ah, shit! Mau marah males juga nanti dicap anak durhaka, maka dari itu aku lebih banyak memendam semua ini. Mereka tahu aku sedang depresi, tapi meraka gak benar-benar mau cari tahu gimana caranya merawat dan menemani orang yang sedang depresi.
Walau Mamah pernah bilang dia juga pernah ngerasain hal yang sama dulu dan itu bisa dilawan rasa malasnya.
Tapi untuk saat ini aku gak butuh kata-kata itu semua. Aku cuma ingin didengarkan saja tanpa dihakimi, tanpa dicela. Cukup ada dan mendengarkan. Aku gak butuh support, ceramah, dll.
Bahkan yang paling kesal adalah mereka bilang bahwa aku harus dekat dengan Allah biar urusan aku dibantu. Gimana urusan aku mau dibantu katanya kalau aku jauh sama Allah?
Mah, Pak, tahu gak? Tanpa kita dekat atau enggak sama Allah, aku yakin Dia selalu bantu kita, karena Dia gak butuh ibadah kita, tapi kita yang butuh Dia. Tahu gak gimana strugglenya aku tiap perasaan aneh itu muncul dan aku masih tetep nyebut nama Dia? Memohon-mohon sama Allah buat tetap stay sama aku, nangis diem-diem sambil terus nyebut " Ya Allah, Ya Allah aku capek," ? Aku gak harus sebut semua itu juga kan? Itu ranah privacy, meski aku tahu tujuan kalian baik, tapi dengan kondisi aku yang saat ini bukan di posisi orang 'normal' secara mental, bukannya menerima ya aku bakal marah.
Capek banget sih, mana seminggu kemarin aku gak jadi kontrol ke psikiater karena BPJS aku bantuannya dicabut sama Pemerintah tanpa informasi apa-apa dulu. Padahal gaji aku masih di bawah UMR huhuuu.
Capek ya? Banget. Jangan ditanya. Gak usah perdulikan apa kata orang ya, karena cuma kamu yang paham kondisi kamu saat ini. Persetan mereka mau ngobrol apa, masih bisa kerja dan stay focus dikerjaan aja udah bersyukur banget.
Dan satu pertanyaan yang bikin aku kesal se kesal-kesalnya adalah,
"Gak ada keingininan buat ke luar negeri gitu?"
Rasanya nyes aja. Aku tahu konteks itu dilontarkan karena gaji kerja aku saat ini tak menentu dan di bawah UMR. Dia tahu aku lagi depresi, tapi please. Meski dia gak bermaksud apa-apa, tapi pertanyaan itu sensitif banget buat aku.
Buat bisa kerja aja udah syukur alhamdulillah, bisa mandi, makan, ngurus diri, walau malamnya kelihatan banget acak-acakannya.
Jadi buat kamu, hati-hati ya kalau ngobrol sama orang yang lagi kena penyakit mental. Cukup ada dan dengarkan. Gak usah sok bijak, menjudge, atau mengatur-ngatur hidup mereka.
Wednesday, February 04, 2026
1. Last month was the month when
Untuk pertama kalinya tidak lagi menjadi guru di sekolah formal setelah tiga setengah tahun. Pagi-pagi menjadi lebih rileks, tidak merasa terburu-buru harus mengerjakan sesuatu atau langsung bertemu orang banyak (siswa). Saat ini hanya fokus di kursusan. Meski begitu, tetap rasanya tetap capek, tapi kali ini aku bisa lebih fokus. Ternyata, transisi ini juga memberi ruang untuk bernapas lebih dalam, meskipun tantangan baru seperti mengatur waktu sendiri kadang membuatku merasa sedikit hilang arah.
2. Last month I spent most of my quality time with
Banyak banget waktu luang bikin aku lebih banyak waktu sama diri sendiri. Ngobrol sama diri sendiri melalui tulisan, baca buku yang emang lagi dibutuhin sama diri sendiri. Ternyata semakin kita banyak dengerin dan ngomong diri sendiri itu lebih tenang dan alhamdulillah bisa mengurangi anxiety. Di waktu-waktu itu, aku juga mulai mencoba meditasi sederhana, seperti duduk diam dan merasakan napas, yang membantu menenangkan pikiran yang sering berkecamuk.
3. Last month I spent most of my time
Menulis, membaca dan juga menonton YouTube. Aku senang karena setelah resign dari sekolah, aku bisa punya waktu lebih banyak untuk menulis dan juga membaca. Aktivitas ini bukan hanya sekedar hobi, tapi juga cara untuk mengeskplorasi pikiran dan emosi yang selama ini terpendam di balik rutinitas harian yang padat.
4. Last month, I felt
Sebenarnya bulan lalu perasaan aku kacau balau. Naik turunnya signifikan. Bisa tiba-tiba semangat, lalu tiba-tiba hilang semangat. Kadang mudah tidur, kadang tiba-tiba sulit tidur jadi mudah mengantuk di pagi hari. Dan seminggu terakhir di bulan kemarin, aku sering mengalami mimpi buruk. Entahlah, aku juga gak tahu kenapa. Bulan lalu juga, dosis obat anti depresannya di tambah lagi dosisnya, balik lagi ke setelan awal. Meski begitu, aku coba buat baik-baik aja di hadapan keluarga aku. Mungkin ini bagian dari proses penyembuhan, di mana tubuh dan pikiran sedang belajar menyesuaikan diri dengan perubahan besar, dan aku berusaha menerima bahwa fluktuasi ini adalah hal yang normal.
5. Last month's list
Mm, bulan lalu aku bisa selesai baca satu buku, nonton 4 episode drakor, nulis beberapa tulisan di blog yang aku rasa bulan kemarin aku bisa nulis banyak. Olahraga renang, iya! Iya aku mulai rutin olahraga renang.
6. Love letter to self
Hi, Ihat. Thank you for surviving ya. I love you and I am always proud of you. Aku tahu, sulit banget buat bisa berdamai dengan depresi, tapi dari depresi kamu belajar bahwa gak apa-apa kok kalau kamu lagi gak baik-baik aja, gak apa-apa kok kalau di hari tertentu kamu gak semangat, gak apa-apa kok kalau ngajar kamu di hari tertentu gak sebaik biasanya. Remember, you are a human. Dan semua perasaan itu berhak hadir dan dirasakan. Jangan lagi denial ya dengan perasaan apapun yang hadir. Mereka cuma butuh diterima, dirasakan, dan dipeluk. Semangat berjuang bersama depresi yang kamu alami ini. Meski kadang terasa melelahkan, tapi ingat semua ini sementara dan kamu akan keluar dari lingkaran hitam yang kadang menakutkan itu. Keep it up! Kamu sudah melangkah jauh, dan setiap hari yang kamu lalui adalah bukti kekuatanmu yang luar biasa.
Prompt journal ini aku dapatkan dari instagramnya beradadisini.
Tuesday, February 03, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: A Guide Book To Find Yourself
Penulis: Luc Diana
Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2024
Penerbit: Brilliant Books
Blurb
I still haven't found what I'm looking for
"Aku masih belum menemukan apa yang aku cari." Piuhh... perasaan semacam ini sangat menyebalkan, saat aku merasa galau terus-menerus dan merasa tidak harus melakukan apa dalam hidupku ini. Inilah yang sempat kurasakan pada masa-masa pendewasaan diriku. Aku pernah merasakan hari-hari gelap, saat aku merasa tidak pernah cukup untuk diriku sendiri, dan aku merasa begitu kesepian, sampai-sampai aku ingin mati saja.
Di luar sana, mungkin banyak orang yang punya pengalaman sama. Punya perasaan yang sama ketika hari-hari mereka dipenuhi oleh kegelisahan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Buku ini adalah salah satu caraku mengatasi hari-hari gelap itu. Ini adalah catatan pergulatan batinku, serta hasil pencarianku tentang bagiaman aku harus menemukan diriku yang sejati, dan bagaimana menemukan apa yang kucari selama ini dalam hidupku. Buku ini sekaligus menjadi semacam pengingat bagiku.
Besar harapanku agar buku ini bisa menjadi panduan sekaligus teman untukmu yang sedang mengalami pergulatan dalam pencarian jati diri dan di akhir kamu bisa mengatakan, "Now, I have found what I'm looking fo."
Tiga Insight Utama
1. "Mengapa aku selalu merasa tidak bahagia?" adalah karena aku terlalu ketat, dan terlalu tinggi menerapkan standar-standar dalam kehidupanku. Aku lupa kalau hidup itu tidak perlu sempurna, atau tidak perlu mengikuti standar-standar kebahagiaan orang lain. (p. 43)
2. Pikiran itu muncul karena aku merasa jika aku mati, sepertinya perasaan-perasaan menyiksa itu pasti akan hilang. Padahal, kan belum tentu. (p. 67)
3. Ketika aku menarik napas dan menghembuskannya, di situlah kesadaranku dilatih. Saat aku harus sadar bahwa yang aku pikirkan secara terus menerus itu hanyalah ilusi. Jika aku berpikir tentang masa depan, itu artinya aku memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
Sementara itu, kalau aku berpikir tentang masa lalu, itu artinya aku mimikirkan hal yang sudah lewat, dan sia-sia karena masa itu tidak akan pernah kembali atau mengubah hal yang sudah terjadi itu.
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini persis seperti sedang berbicara kepada seorang teman yang paham sekali dengan kondisi kita, terutama aku pribadi. Penggunaan bahasa yang santai dan mudah dipahami membuat aku merasa tidak sendiri dalam menjalani hari-hari gelap itu. Banyak tips menarik dan mudah dipraktikkan dalam buku ini, seperti latihan pernapasan sederhana yang langsung bisa aku coba saat merasa cemas. Buku ini benar-benar membantuku memahami bahwa kesepian itu sementara, dan aku mulai merasa lebih percaya diri setelah menerapkan saran-sarannya. Jika kamu sedang dalam masa-masa sulit dan belum mengenal siapa dirimu, kamu bisa mulai dengan membaca buku ini, siapa tahu, ini bisa jadi titik balik kamu.


Social Media
Search