Wednesday, February 04, 2026
1. Last month was the month when
Untuk pertama kalinya tidak lagi menjadi guru di sekolah formal setelah tiga setengah tahun. Pagi-pagi menjadi lebih rileks, tidak merasa terburu-buru harus mengerjakan sesuatu atau langsung bertemu orang banyak (siswa). Saat ini hanya fokus di kursusan. Meski begitu, tetap rasanya tetap capek, tapi kali ini aku bisa lebih fokus. Ternyata, transisi ini juga memberi ruang untuk bernapas lebih dalam, meskipun tantangan baru seperti mengatur waktu sendiri kadang membuatku merasa sedikit hilang arah.
2. Last month I spent most of my quality time with
Banyak banget waktu luang bikin aku lebih banyak waktu sama diri sendiri. Ngobrol sama diri sendiri melalui tulisan, baca buku yang emang lagi dibutuhin sama diri sendiri. Ternyata semakin kita banyak dengerin dan ngomong diri sendiri itu lebih tenang dan alhamdulillah bisa mengurangi anxiety. Di waktu-waktu itu, aku juga mulai mencoba meditasi sederhana, seperti duduk diam dan merasakan napas, yang membantu menenangkan pikiran yang sering berkecamuk.
3. Last month I spent most of my time
Menulis, membaca dan juga menonton YouTube. Aku senang karena setelah resign dari sekolah, aku bisa punya waktu lebih banyak untuk menulis dan juga membaca. Aktivitas ini bukan hanya sekedar hobi, tapi juga cara untuk mengeskplorasi pikiran dan emosi yang selama ini terpendam di balik rutinitas harian yang padat.
4. Last month, I felt
Sebenarnya bulan lalu perasaan aku kacau balau. Naik turunnya signifikan. Bisa tiba-tiba semangat, lalu tiba-tiba hilang semangat. Kadang mudah tidur, kadang tiba-tiba sulit tidur jadi mudah mengantuk di pagi hari. Dan seminggu terakhir di bulan kemarin, aku sering mengalami mimpi buruk. Entahlah, aku juga gak tahu kenapa. Bulan lalu juga, dosis obat anti depresannya di tambah lagi dosisnya, balik lagi ke setelan awal. Meski begitu, aku coba buat baik-baik aja di hadapan keluarga aku. Mungkin ini bagian dari proses penyembuhan, di mana tubuh dan pikiran sedang belajar menyesuaikan diri dengan perubahan besar, dan aku berusaha menerima bahwa fluktuasi ini adalah hal yang normal.
5. Last month's list
Mm, bulan lalu aku bisa selesai baca satu buku, nonton 4 episode drakor, nulis beberapa tulisan di blog yang aku rasa bulan kemarin aku bisa nulis banyak. Olahraga renang, iya! Iya aku mulai rutin olahraga renang.
6. Love letter to self
Hi, Ihat. Thank you for surviving ya. I love you and I am always proud of you. Aku tahu, sulit banget buat bisa berdamai dengan depresi, tapi dari depresi kamu belajar bahwa gak apa-apa kok kalau kamu lagi gak baik-baik aja, gak apa-apa kok kalau di hari tertentu kamu gak semangat, gak apa-apa kok kalau ngajar kamu di hari tertentu gak sebaik biasanya. Remember, you are a human. Dan semua perasaan itu berhak hadir dan dirasakan. Jangan lagi denial ya dengan perasaan apapun yang hadir. Mereka cuma butuh diterima, dirasakan, dan dipeluk. Semangat berjuang bersama depresi yang kamu alami ini. Meski kadang terasa melelahkan, tapi ingat semua ini sementara dan kamu akan keluar dari lingkaran hitam yang kadang menakutkan itu. Keep it up! Kamu sudah melangkah jauh, dan setiap hari yang kamu lalui adalah bukti kekuatanmu yang luar biasa.
Prompt journal ini aku dapatkan dari instagramnya beradadisini.
Tuesday, February 03, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: A Guide Book To Find Yourself
Penulis: Luc Diana
Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2024
Penerbit: Brilliant Books
Blurb
I still haven't found what I'm looking for
"Aku masih belum menemukan apa yang aku cari." Piuhh... perasaan semacam ini sangat menyebalkan, saat aku merasa galau terus-menerus dan merasa tidak harus melakukan apa dalam hidupku ini. Inilah yang sempat kurasakan pada masa-masa pendewasaan diriku. Aku pernah merasakan hari-hari gelap, saat aku merasa tidak pernah cukup untuk diriku sendiri, dan aku merasa begitu kesepian, sampai-sampai aku ingin mati saja.
Di luar sana, mungkin banyak orang yang punya pengalaman sama. Punya perasaan yang sama ketika hari-hari mereka dipenuhi oleh kegelisahan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Buku ini adalah salah satu caraku mengatasi hari-hari gelap itu. Ini adalah catatan pergulatan batinku, serta hasil pencarianku tentang bagiaman aku harus menemukan diriku yang sejati, dan bagaimana menemukan apa yang kucari selama ini dalam hidupku. Buku ini sekaligus menjadi semacam pengingat bagiku.
Besar harapanku agar buku ini bisa menjadi panduan sekaligus teman untukmu yang sedang mengalami pergulatan dalam pencarian jati diri dan di akhir kamu bisa mengatakan, "Now, I have found what I'm looking fo."
Tiga Insight Utama
1. "Mengapa aku selalu merasa tidak bahagia?" adalah karena aku terlalu ketat, dan terlalu tinggi menerapkan standar-standar dalam kehidupanku. Aku lupa kalau hidup itu tidak perlu sempurna, atau tidak perlu mengikuti standar-standar kebahagiaan orang lain. (p. 43)
2. Pikiran itu muncul karena aku merasa jika aku mati, sepertinya perasaan-perasaan menyiksa itu pasti akan hilang. Padahal, kan belum tentu. (p. 67)
3. Ketika aku menarik napas dan menghembuskannya, di situlah kesadaranku dilatih. Saat aku harus sadar bahwa yang aku pikirkan secara terus menerus itu hanyalah ilusi. Jika aku berpikir tentang masa depan, itu artinya aku memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
Sementara itu, kalau aku berpikir tentang masa lalu, itu artinya aku mimikirkan hal yang sudah lewat, dan sia-sia karena masa itu tidak akan pernah kembali atau mengubah hal yang sudah terjadi itu.
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini persis seperti sedang berbicara kepada seorang teman yang paham sekali dengan kondisi kita, terutama aku pribadi. Penggunaan bahasa yang santai dan mudah dipahami membuat aku merasa tidak sendiri dalam menjalani hari-hari gelap itu. Banyak tips menarik dan mudah dipraktikkan dalam buku ini, seperti latihan pernapasan sederhana yang langsung bisa aku coba saat merasa cemas. Buku ini benar-benar membantuku memahami bahwa kesepian itu sementara, dan aku mulai merasa lebih percaya diri setelah menerapkan saran-sarannya. Jika kamu sedang dalam masa-masa sulit dan belum mengenal siapa dirimu, kamu bisa mulai dengan membaca buku ini, siapa tahu, ini bisa jadi titik balik kamu.
Monday, February 02, 2026
If I didn't feel tired, what would I do today?
If I didn't feel tired, I would engage in numerous tasks similar to those I handled in my previous school. For instance, I would organize various events, lead students in activities, attend multiple meetings, and connect with many people to gather inspiration and ideas. This would allow me to be highly productive and energetic throughout the day.
However, upon reflection, I realize that this busyness raises important questions: What am I truly chasing? When would I have time to listen to myself if I were constantly occupied with others? This thought makes me grateful for my tiredness. It enables me to live more slowly, observe my surroundings mindfully, and tune into my own needs and thoughts.
Perhaps it is time for me to relax and slow down in life, appreciating the balance that fatigue brings. In conclusion, while energy might fuel productivity, tiredness teaches valuable lessons about self-awareness and intentional living.
Write about your chilhood ambition
Dari semenjak dulu ampe sekarang, cita-cita aku gak pernah berubah: menjadi seorang guru. Alhamdulillah ini berhasil dicapai walau kalau kita lihat kondisi sekarang miris banget buat jadi guru karena pemerintah gak peduli sama nasib guru. Gaji gak seberapa, tapi tugasnya seabrek. Malah lebih fokus sama MBG. Hahahaaa.
Januari lalu aku sudah berhenti tidak lagi menjadi guru honorer di sekolah. Kenapa? Ya realistis aja. Di gaji 400 ribu perbulan tapi tugasnya sama kayak PNS. Ogah deh. Aku memilih untuk jadi guru lesan aja di sebuah lembaga kursusan. Sedih? Iya sedih. Tapi buat makan sehari-hari emangnya bisa bermodalkan ikhlas dan pengabdian?
Semoga pemerintah bisa berbenah soal kesejahteraan guru ini. Bisa lebih memperhatikan mereka dan mendukung para guru baik dari segi finansial, fisik, dan mental.
Who and what adds meaning to your life?
Bingung harus jawab apa. Karena untuk saat ini aku aja masih mempertanyakan tujuan hidup aku apa, aku mau ke mana, dan harus apa untuk hidup ini. Apalagi semenjak keinginan untuk bunuh diri itu kuat banget, walau pada akhirnya aku gak jadi melakukan itu.
Untuk saat ini aku hanya ingin berhenti sejenak dari semua ambisi-ambisi aku yang tak pernah ada habisnya. Aku hanya ingin mendengar diriku lebih banyak dan apa yang sebenarnya aku butuhkan. Aku hanya ingin mendengar diri sendiri saja untuk saat ini. Gak apa-apa mau dibilang lambat, gagal, gak ada tujuan hidup. Untuk bisa bangun dari tempat tidur, mandi, dan pergi kerja buat aku itu sudah menjadi pencapaian yang besar.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, pertanyaan "Who and what adds meaning to your life?" ini bikin aku mikir lebih dalam. Saat ini, mungkin belum ada orang atau hal spesifik yang benar-benar menambahkan makna besar ke hidupku, karena aku sedang fokus untuk mengerti sama diri sendiri dulu. Tapi, proses mendengarkan suara hati aku sendiri itu mulai jadi sumber makna kecil-kecilan, meski belum jelas bentuknya. Mungkin nanti, setelah aku lebih paham apa yang aku butuhkan, aku baru bisa menemukan jawaban yang lebih pasti. Yang penting, aku sedang belajar menerima bahwa pencapaian sehari-hari seperti itu sudah cukup untuk saat ini.
Social Media
Search