Slider

Top Categories

Life Reflections

Book Reviews

Terlambat

#30DaysWritingChallenge

My Thoughts

Wednesday, February 11, 2026

Udah hampir 10 hari ke belakang ini aku merasa aku ditarik kembali menuju lembah bewarna hitam itu. Meski tidak sehitam legam dulu, namun kekuatannya masih sama. Malamnya aku sulit memejamkan mata, baru bisa tidur di jam 12 atau 1 malam dan itu pun masih dengan pikiran yang berisik gak karuan, seolah memori lama, luka-luka yang belum sempat diproses pun bermunculan berdatangan, belum lagi soal overthinking yang menyerang, tiba-tiba ingin menangis lalu menangis meski sulit banget buat bisa nangis kejer padahal pengen banget biar hati lega. Menyiksa banget? Jangan ditanya. 

Besoknya? Aku malas bangun, masih betah di tempat tidur. Seolah ada yang menarikku untuk tetap stay di tempat tidur, tidak semangat untuk memulai hari, bahkan rasanya aku ingin tidur seharian saja. Orang tua mulai panik lagi dengan polaku yang begini, meski mereka benar-benar tidak bisa mengomunikasikannya dengan baik. Mereka mensupport aku untuk semangat mengawali hari yang justru malah bikin aku down, mereka mengingatkan aku bahwa tidur pagi itu jelek, padahal mereka gak benar-benar tahu gimana strugglenya aku setiap malam, dan setiap aku bilang aku susah tidur malam-malam pasti keluar dari mulut mereka tuh omongan-omongan yang tanpa terasa mereka sadari menyudutkan aku: apa sih yang bikin aku susah tidur, ngajar gak secape itu, kerjaan di rumah juga diurus Mamah.

Ah, shit! Mau marah males juga nanti dicap anak durhaka, maka dari itu aku lebih banyak memendam semua ini. Mereka tahu aku sedang depresi, tapi meraka gak benar-benar mau cari tahu gimana caranya merawat dan menemani orang yang sedang depresi. 

Walau Mamah pernah bilang dia juga pernah ngerasain hal yang sama dulu dan itu bisa dilawan rasa malasnya. 

Tapi untuk saat ini aku gak butuh kata-kata itu semua. Aku cuma ingin didengarkan saja tanpa dihakimi, tanpa dicela. Cukup ada dan mendengarkan. Aku gak butuh support, ceramah, dll.

Bahkan yang paling kesal adalah mereka bilang bahwa aku harus dekat dengan Allah biar urusan aku dibantu. Gimana urusan aku mau dibantu katanya kalau aku jauh sama Allah? 

Mah, Pak, tahu gak? Tanpa kita dekat atau enggak sama Allah, aku yakin Dia selalu bantu kita, karena Dia gak butuh ibadah kita, tapi kita yang butuh Dia. Tahu gak gimana strugglenya aku tiap perasaan aneh itu muncul dan aku masih tetep nyebut nama Dia? Memohon-mohon sama Allah buat tetap stay sama aku, nangis diem-diem sambil terus nyebut " Ya Allah, Ya Allah aku capek," ? Aku gak harus sebut semua itu juga kan? Itu ranah privacy, meski aku tahu tujuan kalian baik, tapi dengan kondisi aku yang saat ini bukan di posisi orang 'normal' secara mental, bukannya menerima ya aku bakal marah. 

Capek banget sih, mana seminggu kemarin aku gak jadi kontrol ke psikiater karena BPJS aku bantuannya dicabut sama Pemerintah tanpa informasi apa-apa dulu. Padahal gaji aku masih di bawah UMR huhuuu. 

Capek ya? Banget. Jangan ditanya. Gak usah perdulikan apa kata orang ya, karena cuma kamu yang paham kondisi kamu saat ini. Persetan mereka mau ngobrol apa, masih bisa kerja dan stay focus dikerjaan aja udah bersyukur banget. 

Dan satu pertanyaan yang bikin aku kesal se kesal-kesalnya adalah,

"Gak ada keingininan buat ke luar negeri gitu?"

Rasanya nyes aja. Aku tahu konteks itu dilontarkan karena gaji kerja aku saat ini tak menentu dan di bawah UMR. Dia tahu aku lagi depresi, tapi please. Meski dia gak bermaksud apa-apa, tapi pertanyaan itu sensitif banget buat aku. 

Buat bisa kerja aja udah syukur alhamdulillah, bisa mandi, makan, ngurus diri, walau malamnya kelihatan banget acak-acakannya. 

Jadi buat kamu, hati-hati ya kalau ngobrol sama orang yang lagi kena penyakit mental. Cukup ada dan dengarkan. Gak usah sok bijak, menjudge, atau mengatur-ngatur hidup mereka. 

Wednesday, February 04, 2026

 1. Last month was the month when 

Untuk pertama kalinya tidak lagi menjadi guru di sekolah formal setelah tiga setengah tahun. Pagi-pagi menjadi lebih rileks, tidak merasa terburu-buru harus mengerjakan sesuatu atau langsung bertemu orang banyak (siswa). Saat ini hanya fokus di kursusan. Meski begitu, tetap rasanya tetap capek, tapi kali ini aku bisa lebih fokus. Ternyata, transisi ini juga memberi ruang untuk bernapas lebih dalam, meskipun tantangan baru seperti mengatur waktu sendiri kadang membuatku merasa sedikit hilang arah.

2. Last month I spent most of my quality time with

Banyak banget waktu luang bikin aku lebih banyak waktu sama diri sendiri. Ngobrol sama diri sendiri melalui tulisan, baca buku yang emang lagi dibutuhin sama diri sendiri. Ternyata semakin kita banyak dengerin dan ngomong diri sendiri itu lebih tenang dan alhamdulillah bisa mengurangi anxiety. Di waktu-waktu itu, aku juga mulai mencoba meditasi sederhana, seperti duduk diam dan merasakan napas, yang membantu menenangkan pikiran yang sering berkecamuk.

3. Last month I spent most of my time

Menulis, membaca dan juga menonton YouTube. Aku senang karena setelah resign dari sekolah, aku bisa punya waktu lebih banyak untuk menulis dan juga membaca. Aktivitas ini bukan hanya sekedar hobi, tapi juga cara untuk mengeskplorasi pikiran dan emosi yang selama ini terpendam di balik rutinitas harian yang padat.

4. Last month, I felt

Sebenarnya bulan lalu perasaan aku kacau balau. Naik turunnya signifikan. Bisa tiba-tiba semangat, lalu tiba-tiba hilang semangat. Kadang mudah tidur, kadang tiba-tiba sulit tidur jadi mudah mengantuk di pagi hari. Dan seminggu terakhir di bulan kemarin, aku sering mengalami mimpi buruk. Entahlah, aku juga gak tahu kenapa. Bulan lalu juga, dosis obat anti depresannya di tambah lagi dosisnya, balik lagi ke setelan awal. Meski begitu, aku coba buat baik-baik aja di hadapan keluarga aku. Mungkin ini bagian dari proses penyembuhan, di mana tubuh dan pikiran sedang belajar menyesuaikan diri dengan perubahan besar, dan aku berusaha menerima bahwa fluktuasi ini adalah hal yang normal.

5. Last month's list

Mm, bulan lalu aku bisa selesai baca satu buku, nonton 4 episode drakor, nulis beberapa tulisan di blog yang aku rasa bulan kemarin aku bisa nulis banyak. Olahraga renang, iya! Iya aku mulai rutin olahraga renang. 

6. Love letter to self

Hi, Ihat. Thank you for surviving ya. I love you and I am always proud of you. Aku tahu, sulit banget buat bisa berdamai dengan depresi, tapi dari depresi kamu belajar bahwa gak apa-apa kok kalau kamu lagi gak baik-baik aja, gak apa-apa kok kalau di hari tertentu kamu gak semangat, gak apa-apa kok kalau ngajar kamu di hari tertentu gak sebaik biasanya. Remember, you are a human. Dan semua perasaan itu berhak hadir dan dirasakan. Jangan lagi denial ya dengan perasaan apapun yang hadir. Mereka cuma butuh diterima, dirasakan, dan dipeluk. Semangat berjuang bersama depresi yang kamu alami ini. Meski kadang terasa melelahkan, tapi ingat semua ini sementara dan kamu akan keluar dari lingkaran hitam yang kadang menakutkan itu. Keep it up! Kamu sudah melangkah jauh, dan setiap hari yang kamu lalui adalah bukti kekuatanmu yang luar biasa. 

Prompt journal ini aku dapatkan dari instagramnya beradadisini. 

Tuesday, February 03, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: A Guide Book To Find Yourself

Penulis: Luc Diana

Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2024

Penerbit: Brilliant Books

Blurb

I still haven't found what I'm looking for 

"Aku masih belum menemukan apa yang aku cari." Piuhh... perasaan semacam ini sangat menyebalkan, saat aku merasa galau terus-menerus dan merasa tidak harus melakukan apa dalam hidupku ini. Inilah yang sempat kurasakan pada masa-masa pendewasaan diriku. Aku pernah merasakan hari-hari gelap, saat aku merasa tidak pernah cukup untuk diriku sendiri, dan aku merasa begitu kesepian, sampai-sampai aku ingin mati saja. 

Di luar sana, mungkin banyak orang yang punya pengalaman sama. Punya perasaan yang sama ketika hari-hari mereka dipenuhi oleh kegelisahan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Buku ini adalah salah satu caraku mengatasi hari-hari gelap itu. Ini adalah catatan pergulatan batinku, serta hasil pencarianku tentang bagiaman aku harus menemukan diriku yang sejati, dan bagaimana menemukan apa yang kucari selama ini dalam hidupku. Buku ini sekaligus menjadi semacam pengingat bagiku.

Besar harapanku agar buku ini bisa menjadi panduan sekaligus teman untukmu yang sedang mengalami pergulatan dalam pencarian jati diri dan di akhir kamu bisa mengatakan, "Now, I have found what I'm looking fo."

Tiga Insight Utama

1. "Mengapa aku selalu merasa tidak bahagia?" adalah karena aku terlalu ketat, dan terlalu tinggi menerapkan standar-standar dalam kehidupanku. Aku lupa kalau hidup itu tidak perlu sempurna, atau tidak perlu mengikuti standar-standar kebahagiaan orang lain. (p. 43)

2. Pikiran itu muncul karena aku merasa jika aku mati, sepertinya perasaan-perasaan menyiksa itu pasti akan hilang. Padahal, kan belum tentu. (p. 67)

3. Ketika aku menarik napas dan menghembuskannya, di situlah kesadaranku dilatih. Saat aku harus sadar bahwa yang aku pikirkan secara terus menerus itu hanyalah ilusi. Jika aku berpikir tentang masa depan, itu artinya aku memikirkan hal yang belum tentu terjadi. 

Sementara itu, kalau aku berpikir tentang masa lalu, itu artinya aku mimikirkan hal yang sudah lewat, dan sia-sia karena masa itu tidak akan pernah kembali atau mengubah hal yang sudah terjadi itu. 

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini persis seperti sedang berbicara kepada seorang teman yang paham sekali dengan kondisi kita, terutama aku pribadi. Penggunaan bahasa yang santai dan mudah dipahami membuat aku merasa tidak sendiri dalam menjalani hari-hari gelap itu. Banyak tips menarik dan mudah dipraktikkan dalam buku ini, seperti latihan pernapasan sederhana yang langsung bisa aku coba saat merasa cemas. Buku ini benar-benar membantuku memahami bahwa kesepian itu sementara, dan aku mulai merasa lebih percaya diri setelah menerapkan saran-sarannya. Jika kamu sedang dalam masa-masa sulit dan belum mengenal siapa dirimu, kamu bisa mulai dengan membaca buku ini, siapa tahu, ini bisa jadi titik balik kamu.


Monday, February 02, 2026

 If I didn't feel tired, what would I do today?

If I didn't feel tired, I would engage in numerous tasks similar to those I handled in my previous school. For instance, I would organize various events, lead students in activities, attend multiple meetings, and connect with many people to gather inspiration and ideas. This would allow me to be highly productive and energetic throughout the day.

However, upon reflection, I realize that this busyness raises important questions: What am I truly chasing? When would I have time to listen to myself if I were constantly occupied with others? This thought makes me grateful for my tiredness. It enables me to live more slowly, observe my surroundings mindfully, and tune into my own needs and thoughts. 

Perhaps it is time for me to relax and slow down in life, appreciating the balance that fatigue brings. In conclusion, while energy might fuel productivity, tiredness teaches valuable lessons about self-awareness and intentional living. 


 Write about your chilhood ambition

Dari semenjak dulu ampe sekarang, cita-cita aku gak pernah berubah: menjadi seorang guru. Alhamdulillah ini berhasil dicapai walau kalau kita lihat kondisi sekarang miris banget buat jadi guru karena pemerintah gak peduli sama nasib guru. Gaji gak seberapa, tapi tugasnya seabrek. Malah lebih fokus sama MBG. Hahahaaa.

Januari lalu aku sudah berhenti tidak lagi menjadi guru honorer di sekolah. Kenapa? Ya realistis aja. Di gaji 400 ribu perbulan tapi tugasnya sama kayak PNS. Ogah deh. Aku memilih untuk jadi guru lesan aja di sebuah lembaga kursusan. Sedih? Iya sedih. Tapi buat makan sehari-hari emangnya bisa bermodalkan ikhlas dan pengabdian? 

Semoga pemerintah bisa berbenah soal kesejahteraan guru ini. Bisa lebih memperhatikan mereka dan mendukung para guru baik dari segi finansial, fisik, dan mental. 

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi