Kapan terakhir kali aku merasa jauh dari Allah, dan kenapa?
Mungkin pertanyaan itu selalu menggema di setiap sudut hatiku yang paling gelap. Dan jawaban itu selalu sama: saat depressive episode datang mengetuk pintu hidupku. Aku merasakan hidupku yang gelap, tak ada lagi harapan, dan masa depan yang suram: saat dunia tiba-tiba kehilangan warnanya, saat harapan menjadi kata yang asing, dan masa depan terasa seperti lautan luas tanpa tujuan.
Malam-malamku dipenuhi bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, seperti film yang diputar berulang-ulang tanpa bisa dihentikan. Aku mencoba memejamkan mata, tetapi kenangan-kenangan itu selalu berhasil membangunkanku lagi.
Aku kehilangan semangat untuk beribadah. Salat yang seharusnya menjadi penenang, justru menjadi beban yang terasa sangat berat. Tapi anehnya, meskipun jiwaku letih, aku tetap memaksakan diri untuk bersujud, seraya berdoa, "Ya Allah, bagaimana pun kondisi aku, jangan biarkan aku melupakan dan meninggalkan-Mu."
Di titik terdalam keputusasaanku, ada sebuah pikiran yang terus mengantui: aku merasa tidak layak atas hidupku ini dan pada saat itu yang ada dalam fikiranku adalah aku ingin segera mengakhiri hidupku ini.
Namun berapa kali aku mencoba untuk menyakiti diri sendiri dan ingin mengakhiri hidup, hal itu tidak pernah sampai di garis finish yang aku inginkan. Aku merasa seolah Allah terus menerus menjagaku, melindungiku, dan membimbingku.
Sekarang, aku terus mencari apa arti hidup ini, serta apa yang bisa membuatku kembali menemukan cahaya di ujung kegelapan terpanjang ini.
"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
.png)

