Slider

Top Categories

My Thougths

Life Reflections

Book Reviews

Sunday, September 06, 2026

Hi, selamat hari Minggu, and also selamat menuju hari Senin!

So, what are the things that you’re grateful for this week?

For me, I’m so grateful that I was able to overcome my fear of riding a motorcycle. For now, I can ride it to school and to my English course. Besides that, now I can finally feel how much my parents worry about me. Something that I’ve been waiting for. When I was at school, they never really showed how worried they were about me.

Now, when I get home late, they text me asking where I am and telling me to come home early because there might be geng motor around. And when I leave for work, they say things like, “Hati-hati di jalan.” It makes me feel so warm inside, and I’m really happy about it.

Next, I’m grateful that I was able to deliver a presentation about English classroom instructions to my colleagues at school. At that time, I didn’t feel nervous or anxious. I was just like, “Okay, I just want to do my best, and I don’t care whether they like it or not, because that’s out of my control.”

So, yeah, I was able to deliver it well without putting too much pressure on myself about things I couldn’t control.

But then, we had another meeting where we discussed the same topic, this time with all of the teachers. The English teacher who was responsible for the presentation was my friend. Before the meeting, she asked me what topic I had presented before, so I sent her my PowerPoint. I thought she would change it and use her own version, but when she presented it, she actually used my PPT. And of course, my name was still on it.

However, her presentation wasn’t exactly the same as mine. The functions and meanings of some of the expressions were presented differently from what I had explained to my SMP team before.

But yeah, that’s okay. Instead, I felt like she was me in the past.

When I was a beginner at my previous school and had to present something new to senior teachers, I was nervous, and my presentation didn’t go well. So when I saw her, I could understand how she felt. Maybe this is also a reminder for me not to judge someone too quickly when they are still learning.

The last thing I’m so grateful for this week is that I closed the week with a warm and meaningful discussion with my new community.

It reminded me of the group discussions I used to have when I was in Bandung. We discussed some verses from the Bible and reflected on them together.

I don’t know why, even though we have different faiths, there are still so many good deeds and values that we share. And you know what? The verses we discussed this evening really slapped me in the face—in a good way.

It felt like the realization about my life purpose that I had been praying for was finally given to me through this meeting.

First, I realized that I’m still struggling with my life purpose.

Like, yeah, I want to be rich so I can travel abroad. It’s something I really, really want. But the reality is very far from that dream. You know, the salary of being a teacher in Indonesia sometimes makes that kind of dream feel almost impossible.

So sometimes, I force myself to do more. I push myself too hard, and in the end, I hurt myself.

Then, when I’m tired or sick, I blame Allah.

“Ya Allah, why does my body get sick so easily? Why am I so weak?”

But then, during this discussion, I realized something.

Maybe this isn’t a test given by Allah. Maybe some of this suffering comes from my own desires. I rush my life. I’m always trying to get somewhere faster.

Oh my God.

Then I asked myself, “Does Allah actually instruct me to live like this?”

No.

He never asks me to do more than I am capable of. He asks me to worship Him and spread kindness to His creation. He looks at our taqwa, not simply at our achievements.

And then, I wanted to cry.

Why have I been so blinded by worldly desires?

I force myself to do more and more without caring about myself. I’m always rushing through my life.

I keep looking at other people and thinking, “Why do they seem to have such happy lives? They’re getting married. They have children. They have husbands. They’re getting master’s scholarships. But what about me?”

I’m still alone. I’m still struggling with my career. I’m still struggling with myself.

But yeah, I forgot something.

There are actually so many things I’ve been missing because I was too busy looking at what I don’t have.

My parents are treating me better than before.

I’m surrounded by good people who always remind me to do good things.

I still have enough money to buy some of the things I want.

I can still wake up in the morning, breathe, and feel the morning atmosphere.

I’m still here.

And I admit and realize that I’ve been too far from Allah.

Recently, I’ve rarely read His Kalam. How will I know His words of love if I never read them and try to understand their meaning?

Oh Allah, please forgive me.

Forgive me for still being cruel to myself.

Thank You for always being there for me, reminding me, and guiding me to stay on Your path.

Thank You for surrounding me with good and sincere people.

Please heal my scars and wounds, so I can become a better listener instead of someone who easily reacts to things without having all the information.

And lastly…

I want to get married.

I want to share my life with someone. I want to have a companion. I’m so tired of handling everything by myself.

I need someone who can hold my hand and say,

“That’s okay. Let’s figure it out together. Let’s face it together. Let’s walk toward His Jannah together. I’ll always be by your side.”

Maybe that is also one of the things I’m praying for.

Not because I want someone to save me, but because someday, I hope I can share this life with someone who is willing to grow, struggle, learn, and walk toward Allah with me.

For now, I think I’ll just keep walking.

Slowly.

And trust that Allah knows exactly where He is taking me.

Sunday, August 30, 2026

What is essential to forming meaningful connections?

Buat aku meaningful connections itu saat kita bisa menjalin hubungan dengan orang lain tanpa terasa membebani diri kita sendiri. Kita bisa bebas menjadi diri sendiri tanpa takut judment, bisa jujur atas apa yang dirasakan lalu berani menyampaikan juga, tak peduli sesibuk apapun pasti bisa menyempatkan untuk sekedar menyapa, menanyakan kabar. 

Ada satu hal yang aku pelajari dari my connections this week. Saat aku memberanikan diri untuk berkata tidak walaupun rasanya di awal sangat tidak nyaman, membebani, tapi setelah dicoba aku bisa merasakan kelegaan dalam hati. Kemudian, saat aku mulai belajar untuk memprioritaskan diri sendiri tanpa harus takut orang lain jadi jengkel atau benci, that's their bussiness, not mine. Karena apa yang mereka rasakan itu kan hak mereka and I don't have to make eveveryone pleased with me, do I?

Aku bahkan sudah berada di fase yang ada temen ok, gak ada temen juga gak apa-apa. As long as I enjoy myself. Aku gak mau berada di lingkaran pertemanan yang aku sendiri merasa terbebani, gak nyaman, bahkan kayak pretend to be ok. No, I don't want to fake anything. It's exhausting.

The thing that makes me grateful and also sad in the same time is. 

Saat aku bisa menemukan orang itu, pada akhirnya kita dihadapkan pada realita bahwa connection which we have doesn't work for the future. Aku nyaman bersama orang ini, bahkan bisa ngobrol lama padahal dalam berkomunikasi kita tidak pakai bahasa Ibu masing-masing. Biasanya aku akan sangat ke drain energi kalau banyak ngobrol sama orang lain even we use Indonesian language, but with him I don't  know why I really enjoy every topic that we discuss. Untuk dia yang gengsi dan takut penolakan dengan aku yang inisiatif, biasanya aku yang pancing dia baru sisanya aku membiarkan dia bergerak sendiri. Setelah beberapa bulan ini kita tidak ada kontak sama sekali, tapi entah mengapa malam tadi kita malah bisa kembali ngobrol lama seperti dulu-dulu yang biasa kita lakukan. Satu hal yang kini berubah adalah aku sudah tidak lagi banyak berharap kepada dia, karena hubungan dua negara yang berbeda memang banyak membutuhkan persiapan. Selain itu, untuk hal mendasar seperti finansial yang bisa kita jadikan sebagai alat untuk kita bisa bertemu di dunia nyata dengan kondisi keuangan dan pekerjaan kita saat ini rasanya mustahil. Dulu aku pernah marah sama dia hanya karena aku merasa tidak perjuangkan, tapi kini seiring dengan berlalunya waktu aku juga sadar ternyata apa yang dia katakan itu benar. Dia lebih baik menyampaikan hal seadanya daripada membuat janji yang pada akhirnya tidak bisa ditepati. Jika saat ini aku lebih banyak legowo dengan connection yang kita punya, dia sekarang sudah punya plan untuk membangun hidupnya dan ada keinginan untuk memperjuangkan visa agar dia bisa bekerja di Spanyol. Untuk saat ini menikah bagi dia tidak ada dalam kamusnya, karena dia masih struggle dengan keuangannya dan aku sangat respect hal itu. Satu jam berlalu kami isi dengan ngobrol tentang kehidupan kami masing-masing, pekerjaan, rencana ke depannya, dan juga kondisi negara kami masing-masing. Aku tahu, aku sudah terlanjur nyaman dengan orang ini. Bahkan ketika dihitung-hitung it's almost 3 years we've known each other. Meski sudah beberapa kali aku yang memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi tapi entah kenapa ya balik lagi-balik lagi. Satu pesan yang dikirim bisa jadi bahan obrolan yang panjang. Dan aku senang dengan dia yang sekarang karena dia sudah lebih terbuka tentang kehidupannya dibandingkan awal-awal ketika kami masih berkenalan. 

Bersama dia, aku diberi kesempatan untuk merasakan sebuah meaningful connection. Meski hanya sebatas di dunia maya, tapi bersama dia untuk pertama kalinya aku merasa aku bisa jadi diri sendiri. Perasaan marah, kesal, dan semua perasaan yang aku rasakan bisa valid saat bersama dia. Aku banyak belajar dari dia tentang memandang kehidupan ini. Untuk aku yang emosional dan dia yang sangat rasional. Rasanya seperti saling melengkapi. Bersama dia juga aku tidak merasa sendiri, semua percakapan apapun bisa menjadi terasa bermakna atau hal-hal seserius apapun kadang dia bawa sedikit bercanda supaya lebih relaxed. Jika di awal aku sangat menginginkan orang ini bahkan terdengar seperti memaksa, namun saat melihat realita yang ada aku menjadi sadar. Bisa jadi apa yang kita anggap baik belum tentu baik untuk kita sebenarnya. 

Aku hanya jadi punya pijakan baru, pandangan baru, dan juga pengalaman baru bahwa tipe laki-laki seperti inilah yang bisa mengimbangi aku, membimbing aku, sekaligus menemani overthinking-nya aku sehingga bisa diuraikan dengan benar. 

Kalaupun pada akhirnya orang itu bukan dia, semoga nanti akan dipertemukan dengan jenis-jenis manusia seperti dia yang pastinya akan selalu lebih baik dan bisa menerima diri ini dengan segala keabsurdannya. 

Dan untuk diri sendiri, sebelum kamu punya meaningful connection dengan orang lain ternyata semuanya berawal dari cara kamu menerima dan memperlakukan dirimu sendiri dengan baik. 

Hey, I'm proud of you. 

Tuesday, August 25, 2026

It is strange how life works. When I stopped chasing things endlessly and simply focused on what I could control, everything felt lighter.

First, my friend texted me out of nowhere to check on me. She asked for my forgiveness for anything she might have done to upset me, about marriage and other things. She was genuinely shocked to know about my depression diagnosis and my psychiatric appointments.

Second, my parents gently brought up my relationship status tonight. They spoke so carefully that before I even realized it, I found myself opening up. I told them about how I was left in the past by someone who went on to marry another girl. I honestly thought I would be fine sharing it, but as the words left my mouth, my lips trembled, my breathing grew heavy, and my voice began to shake.

In that moment, a quiet realization hit me: Did I ever truly heal from this wound? Or did I just bury it under hard work, chasing my dreams relentlessly, and forgetting to ask myself what I actually want out of this life?

The truth is, I do want to get married. I want to have my own family. I want to be a wife and a mother. I don't want to spend my whole life feeling lonely; I want someone who will stand by my side and support me.

Deep down, my parents have been quietly trying to find someone to introduce to me. They believe that while they can rely on me, they should also help me find my person. Namanya juga ikhtiar, gak cuma bisa doa aja, they told me. Hearing those words touched me deeply. I felt so seen and supported. I am not walking this path alone; the people around me are quietly holding space for me.

I know I can’t wait until I am completely fine or fully healed to start living again. Healing isn't a final destination. It is a continuous journey. So as long as I am taking steps to heal every single day, why not open my heart to the possibilities ahead?

Sunday, August 23, 2026

Hai, selamat memasuki hari Senin di esok hari. Untuk kamu yang tengah bersiap-siap untuk menghadapi esok hari, semoga harinya dilancarkan dan sesuai dengan apa yang direncanakan, ya!

So, how was your week?

Nothing special.

Cuma seminggu ini aku babak belur dengan flu, batuk, asma yang datang silih berganti. Baru kali ini, entah mengapa, asmanya terasa the worst in my life. Kadang aku berpikir, apa sebenarnya tubuh aku terus meronta-ronta, meminta aku untuk lebih banyak istirahat dulu daripada kedebag-kedebug bekerja?

Tapi gimana, ya? Aku juga dilema. Di satu sisi, aku juga butuh uang. Aku nggak bisa mengandalkan siapa-siapa lagi selain mengandalkan diri sendiri. Meski sedih sih, sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, ya?

Orang tua juga sudah khawatir banget dengan kondisi aku yang akhir-akhir ini mudah sakit, dan sakitnya sudah bukan main-main lagi. Apalagi kalau asmanya udah kambuh. Mereka juga dilema. Mereka minta aku untuk berhenti kerja, tetapi mereka juga nggak bisa afford kebutuhan pribadi aku. Ditambah kondisi keuangan mereka juga lagi nggak baik-baik saja.

Kadang aku mikir, udah kerja keras mati-matian dari pagi sampai malam kadang, tapi ya penghasilannya segitu-gitu saja, bahkan masih di bawah UMR. Boleh nggak sih nyalahin pemerintah? Kalau kayak gini terus, kapan aku bisa keluar dari garis kemiskinan ini? Dan lucunya lagi desil aku berada di antara 6-10. WKWKKWKWKWKWK. Kadang memang hidup se-absurd itu, ya.

Apalagi pekerjaan aku adalah guru.

Ya, nggak usah ditanyain lagi, ya, gimana jadi guru di negeri ini.

MIRIS.

Kadang rasanya aku pengen menyerah dengan semua ini. Tapi aku sadar, mengambil keputusan besar tanpa dasar yang kuat dan tanpa backup dana yang cukup juga bukan keputusan yang bijak.

Meski begitu, hal yang paling aku syukuri adalah kedua orang tua aku nggak pernah menuntut aku dan tetep support pekerjaan aku. Cuma ya, aku juga pengen bisa bantu mereka, meringankan beban mereka. Dan ini belum bisa.

Begitu pun mereka sebaliknya. Mereka juga ingin memberikan aku lebih, tapi apa daya. Untuk sekadar bisa bertahan hidup di era sekarang saja sudah lebih dari cukup.

Aku sadar dan aku semakin memahami kondisi diriku saat ini. Aku nggak bisa mengerjakan semua hal sekaligus. Memang ini kapasitas aku. Aku hanya bisa merangkak sedikit demi sedikit untuk bisa keluar dari lingkaran kemiskinan ini.

Aku nggak bisa lagi keras sama diri sendiri untuk melakukan banyak hal yang memang diri aku sendiri saja nggak sanggup.

Ihat,

Ingat, ya, nggak semua hal harus kamu tanggung sendiri.

Nggak semua hal harus menjadi penyesalan kamu hanya karena kamu belum bisa mewujudkan keinginan kamu.

Niat baikmu tetap akan menjadi nilai kebaikan di sisi Allah.

Kamu pelan-pelan saja, ya, berjalan. Jangan lari, apalagi ngebut-ngebut.

You're not competing with others.

Ingat, semua ini hanya temporary. Nggak akan selamanya kamu berada dalam posisi ini.

Tetap berprasangka baik atas takdir-Nya, ya.

Tetap minta tolong dan libatkan Allah dalam setiap urusanmu.

Aku tahu, di usia kamu saat ini, kamu ingin karier yang cemerlang, gaji yang cukup tanpa harus babak belur kerja ke sana kemari, menikah dengan orang yang bisa membimbing kamu, mengimbangi kamu, dan saling support untuk mewujudkan mimpi masing-masing.

Tapi semua itu harus di-hold dulu untuk saat ini.

Mungkin Allah ingin memberikan kamu banyak kesempatan untuk mengenal diri sendiri, ngobrol sama diri sendiri, dan memberikan kamu lebih banyak waktu untuk membuat kenangan yang baik bersama kedua orang tua kamu; sesuatu yang selama ini hilang dari hidup kamu dan baru kali ini bisa kamu nikmati.

Mungkin ini adalah kesempatan untuk menikmati semua itu sebelum waktu akhirnya memisahkan.

Jadi, apa yang kamu cari, Hat?

Hat, lihat terus ke atas bikin kamu banyak kufur sama nikmat yang sudah Allah kasih.

Ingat, apa yang mereka tampilkan di media sosial itu pasti sebanding dengan apa yang harus mereka relakan, meski mereka nggak akan pernah mau show itu.

Selama kamu bernapas di dunia ini, masalah akan terus datang menghampiri dirimu. Dan kamu juga harus ingat bahwa Allah menciptakan dunia ini bukan untuk bersenang-senang, tetapi memang sebagai tempat untuk berjuang.

Apalagi bagi seorang yang beriman, hidup nggak akan pernah lepas dari yang namanya ujian.

Dan Allah juga nggak melihat hasil semata dari seorang hamba, tetapi juga usaha, kesungguhan, dan keimanannya atas takdir yang telah ditetapkan untuknya.

When your life feels hard, please go back to Allah, go back to yourself.

Hug yourself tightly, forgive yourself, and appreciate yourself.

Please don't be hard on yourself.

She is the only one who will always be there for you, no matter what happens in the future.

Janji, ya, nggak akan pernah keras lagi sama diri sendiri.

Janji, ya, nggak akan marah-marah lagi kalau diri sendiri sudah mulai capek, lemas, bahkan sakit.

Lepaskan hal-hal yang sulit untuk bisa kamu raih saat ini.

Kamu nggak perlu mengejar segitunya.

Relax and enjoy your moment now.

Pelan-pelan saja, Hat.

Kamu nggak sedang berlomba dengan siapa-siapa.

Kamu cuma lagi belajar aja gimana caranya bisa menjalani hidupmu sendiri tanpa harus lihat kiri-kanan sebagai pembanding. 

I know.


I'm so hard on myself.

I never give myself space to breathe for a while.

I always force myself to run like everyone else,

to achieve things that require so much effort.


You didn't just start from zero.

You started from minus.


Hey.


Stop being so hard and rude to yourself.

Not everything has to be carried by you.

You don't have to be strong all the time.

It's okay to feel weak.

Just allow yourself to have weaknesses.

You're not behind.


Maybe Allah is protecting you from something that might hurt you.

Just calm down, relax, and go with the flow.

You don't have to hurry.

You're not competing with anyone.

You're not even competing with your siblings.


I know you need someone to talk to, someone to accompany you and make you feel less alone.

But believe me, that person will come into your life.

Don't worry.


For now, just prepare yourself to become a better version of yourself.

Accept everything about yourself and learn to love yourself as well.

Throw away the mask.

You can't always pretend that you're okay.


You are allowed to be sad.

You are allowed to be angry.

You are allowed to be disappointed.

And that's okay.

That's normal.


One thing I want to remind you of is this:

Please stop comparing your life to the lives you see on other people's screens.

You never know what is happening behind those screens.


Love your life.

Embrace yourself.

And celebrate every small thing you manage to achieve.


I love you,

and I forgive you.

You're not alone.


You still have a lovely family who loves you endlessly.

Yes, you still have them.

They don't ask you to be perfect anymore.

They only want you to be happy and to see you smile.

So please, don't carry everything by yourself.

You don't have to carry it all alone.


Just let it go.

Let yourself be free.

And enjoy your life.

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi