Slider

Top Categories

My Thougths

Life Reflections

Book Reviews

Weekly Journal

Finding The Light Behind The Fog

What They Have to Say

Wednesday, September 23, 2026

doc. pribadi


What They Have to Say

One Person. One Story. One Lesson 

What They Have to Say adalah program wawancara mingguan dari Hisolihat yang menghadirkan cerita, pengalaman, pandangan, dan pelajaran dari berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda.

Setiap hari Minggu, kami akan mengajak satu orang untuk berbagi cerita tentang perjalanan mereka—mulai dari membangun usaha, menjalani pekerjaan, mengejar impian, menghadapi kegagalan, belajar hal baru, melewati masa sulit, hingga menemukan hal-hal kecil yang membuat hidup lebih berarti.

Kami percaya bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak didengarkan. Tidak harus menjadi tokoh terkenal, memiliki pencapaian besar, atau memiliki kehidupan yang sempurna. Terkadang, pelajaran yang paling berarti justru datang dari pengalaman sederhana orang-orang di sekitar kita.

Melalui What They Have to Say, kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar wawancara. Kami ingin pembaca menemukan sudut pandang baru, mendapatkan tips yang bisa diterapkan, dan mungkin menemukan sedikit inspirasi atau keberanian dari cerita orang lain untuk menjalani perjalanan mereka sendiri.

Jika kamu tertarik untuk menceritakan kisahmu dan bisa dijadikan sebuah lesson untuk orang lain, kamu bisa menghubungi via email hisolihat@gmail.com. 

Setiap Minggu, satu cerita baru akan hadir di Hisolihat.

One Person. One Story. One Lesson Every Sunday.


doc. pribadi


Identitas Buku

Judul : Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakit

Penulis : Yoo Eun-Jung

Penerjemah : Ratnadya Thurfa

Tahun Terbit : Cetakan ketiga, November 2022

Halaman : 225 hal

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Blurb

Luka hati selalu disebabkan oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita. Semakin kita membuka diri dalam sebuah relasi, semakin rentan kita tersakiti. Ingin menyenangkan orang lain, berusaha keras memenuhi standar mereka, kita pun berharap mendapat timbal balik yang setara, bahkan lebih. Sayangnya, kenyataan berkata lain.

Namun, mestikah kita menutup diri dari semua relasi dalam hidup kita? Menjadi dingin dan apatis hingga melewatkan kesempatan untuk menjalani hidup yang menyenangkan?

Yoo Eun-Jung, lewat pengalamannya sebagai psikiater, telah bertemu banyak pasien yang terluka hatinya karena relasi dengan keluarga, teman, kolega, dan pasangan. Dalam buku ini, ia menuliskan "resep psikologis" untuk melindungi diri dan perasaan kita sendiri dalam sebuah relasi. Sebuah penguat bagi orang-orang muda untuk mencapai kemandirian emosi, dengan belajar mengenai diri sendiri, berfokus pada perasaan sendiri, dan menyampaikan kebutuhannya kepada orang lain. 

Sebab, siapa lagi yang bisa menjadi pendukung terbaik bagi diri kalau bukan kita sendiri?

Tiga Insight Utama

  1. Jika kita tidak berkata apa-apa, orang lain tidak akan tahu kalau kita terluka. Tak ada tersangka, yang ada hanya korban. Jadi, jangan takut menjadi seseorang yang aktif. Jangan berbaik hati pada orang lain, tetapi tidak pada diri sendiri. 
  2. Mengapa kita membenci dan menyalahkan diri sendiri? Diri kita sudah cukup menarik. Hidup berjalan sesuai pemikiran kita. Singkirkanlah pesan-pesan yang menyalahkan diri sendiri. Kita tidak perlu melabeli kehidupan kita sendiri. Hidup bukan "satu-satunya kesempatan", tapi "hanya sekali."
  3. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak layak. Setiap orang memiliki kekuatan masing-masing, jadi tidak perlu membandingkan dirimu dengan orang yang lebih baik dan menjauhkan kualifikasimu sendiri. 

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini seperti sedang diajak untuk melihat kehidupan orang lain, lalu kita bisa menemukan makna di balik cerita tersebut dan diakhiri dengan tips-tips supaya kita tidak jatuh di lubang yang sama. Dalam buku ini, kamu akan diajari bagaimana caranya mencintai dan menghormati dirimu sendiri, serta berhenti menjadikan dirimu sendiri sebagai orang yang paling tersakiti sedunia.

Ada satu hal yang cukup membuatku banyak berpikir setelah membaca buku ini: terkadang kita terlalu sibuk memahami perasaan orang lain sampai lupa memahami perasaan diri sendiri. Kita berusaha menjadi orang yang baik, tidak ingin mengecewakan orang lain, takut dianggap egois, hingga akhirnya kebutuhan diri sendiri selalu berada di urutan terakhir.

Buku ini mengingatkanku bahwa menjaga perasaan orang lain bukan berarti kita harus mengorbankan diri sendiri. Kita tetap boleh mengatakan tidak, menyampaikan bahwa kita terluka, menetapkan batasan, dan memilih menjauh dari sesuatu yang terus-menerus membuat kita kehilangan ketenangan. Menjadi baik kepada orang lain seharusnya tidak membuat kita berhenti bersikap baik kepada diri sendiri.

Aku juga merasa buku ini mengajak kita untuk berhenti terlalu keras kepada diri sendiri. Ada kalanya kita melakukan kesalahan, mengambil keputusan yang kurang tepat, atau berada dalam hubungan yang ternyata tidak sehat. Namun, pengalaman tersebut tidak otomatis menjadikan kita sebagai orang yang gagal. Kita tetap bisa belajar, memperbaiki diri, dan melanjutkan hidup tanpa harus terus-menerus menghukum diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Menurutku, belajar menghargai diri sendiri bukan berarti menjadi seseorang yang egois atau tidak peduli dengan orang lain. Justru, ketika kita mulai memahami kebutuhan dan batasan diri, kita bisa membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang-orang di sekitar kita. Kita tidak lagi mencintai orang lain karena takut kehilangan mereka, tetapi karena memang ingin berbagi kehidupan tanpa kehilangan diri sendiri.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk kamu yang masih dalam perjalanan menyembuhkan dan berdamai dengan traumamu, sedang belajar membangun batasan dalam hubungan, atau akhir-akhir ini merasa irritated dengan banyak hal di sekitarmu.

Mungkin, terkadang yang kita butuhkan bukan menjadi lebih kuat untuk terus bertahan, tetapi belajar bertanya kepada diri sendiri: “Apakah aku masih memperlakukan diriku dengan baik?”

Karena pada akhirnya, kita akan menjalani hidup ini bersama diri kita sendiri. Jadi, jangan sampai kita menjadi orang yang paling kita cintai untuk orang lain, tetapi menjadi orang yang paling sering kita sakiti untuk diri sendiri.

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul : Perjalanan Menerima Diri

Penulis : Rara Noormega

Tahun Terbit : 2025

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta


Blurb

Dear kamu,

Ketika kamu merasa sendirian, kuharap buku ini mampu hadir sebagai teman, sepasang tangan untukmu berpegangan, dan membersamaimu selama perjalanan.

Melalui kumpulan tulisan dan beragam pertanyaan untuk mengenali dirimu lebih dalam, kuharap kamu akan mampu memahami lukamu, memaafkan masa lalu, dan merangkai cerita baru di masa depanmu.

Semoga halaman demi halamannya mampu menjadi pengingat bahwa kamu selalu layak dicintai, terutama oleh dirimu sendiri.


Tiga Insight Utama

  1. Inner voice atau suara batin yang selalu ada di benakmu biasanya hadir dengan isi pesan yang bersumber dari ucapan-ucapan yang sering kamu dengar di tempatmu tumbuh besar. 
  2. Pada akhirnya, sebanyak apa pun orang yang menyayangi kita, tidak akan pernah cukup kalau kita tidak menyayangi diri sendiri.
  3. Salah satu hal penting yang perlu kita pelajari dalam hidup adalah bagaimana kita bisa menemukan ketengangan dan kebahagiaan di dalam diri kita sendiri. Tenang dan damaimu tidak ada di tangan orang lain. 


Refleksi Pribadi

Membaca buku ini serasa seperti sedang berdialog langsung dengan psikolog. Buku ini membagi perjalanan menerima diri dalam empat bab. Bab pertama berisi tentang perjalanan menerima masa lalu, bab kedua berisi tentang perjalanan menerima dirimu yang selalu tumbuh, bab ketiga perjalanan menerima perasaan secara utuh, dan bab keempat membahas tentang perjalanan menerima cita-cita yang dituju.

Di dalam buku ini, kamu tidak hanya diberikan worksheet di setiap babnya, tetapi selalu ada penjelasan tertentu sebelum kamu memulai perjalanan melalui prompt-prompt yang sudah dibuat. Rasanya seperti sedang ditemani oleh seseorang ketika kamu memulai perjalanan untuk menerima diri dengan menggunakan buku ini.

Salah satu bagian yang paling membuatku banyak berpikir adalah pembahasan mengenai inner voice. Ternyata, suara yang selama ini ada di kepala kita tidak selalu benar-benar berasal dari diri kita sendiri. Bisa jadi, suara tersebut terbentuk dari berbagai ucapan yang sering kita dengar ketika tumbuh, baik dari keluarga, lingkungan, maupun orang-orang di sekitar kita. Dari sini aku belajar bahwa tidak semua hal yang kita katakan kepada diri sendiri harus langsung dipercaya.

Buku ini juga mengingatkanku bahwa menerima diri bukan berarti kita harus menyukai semua hal tentang diri kita atau menganggap masa lalu tidak pernah menyakitkan. Menerima diri justru bisa berarti mengakui bahwa pernah ada bagian dari diri kita yang terluka, pernah melakukan kesalahan, pernah merasa kecewa, dan tetap memilih untuk memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk tumbuh.

Menurutku, proses menerima diri juga tidak selalu berjalan lurus. Ada hari ketika kita merasa sudah baik-baik saja, tetapi kemudian sesuatu dari masa lalu kembali muncul dan membuat kita merasa sedih. Ada pula saat ketika kita kembali meragukan diri sendiri. Buku ini membuatku memahami bahwa hal tersebut tidak selalu berarti kita kembali ke titik awal. Mungkin, itu hanya bagian dari perjalanan untuk memahami diri dengan lebih dalam.

Aku juga menyukai pesan bahwa ketenangan dan kebahagiaan tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada orang lain. Kita boleh mendapatkan dukungan, kasih sayang, dan validasi dari orang-orang yang kita cintai. Namun, perlahan kita juga perlu belajar menjadi tempat yang aman bagi diri sendiri.

Buku ini sangat cocok untuk kamu yang ingin mengenal dirimu sendiri lebih dalam, sedang kehilangan arah, sedang belajar berdamai dengan masa lalu, atau sedang berada dalam pengawasan psikolog/psikiater. Menurutku, buku ini juga bisa menjadi teman untuk menemani proses refleksi di antara sesi profesional, meskipun tentu saja tidak menggantikan peran psikolog maupun psikiater.

Pada akhirnya, Perjalanan Menerima Diri bukan hanya mengajakku untuk bertanya, “Apa yang salah dengan diriku?” tetapi juga mengubah pertanyaannya menjadi, “Apa yang sebenarnya sedang aku butuhkan?”

Dan mungkin, menerima diri memang dimulai dari keberanian untuk mendengarkan diri sendiri dengan lebih lembut.

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul : Psychologist for Everyone

Penulis : Anette Isabella Ginting, M.Psi.

Tahun Terbit : Cetakan keempat, 2025

Halaman : 162 hlm

Penerbit : Mediakita, Jakarta Selatan

Blurb

Setiap manusia memiliki perasaan-perasaan kompleks yang terkadang sulit untuk diungkapkan. Kamu pun pasti begitu. Padahal, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengeluarkan perasaan-perasaan itu, seperti melakukan art therapy dan journaling. Buku ini menggabungkan kedua cara tersebut agar bisa menjadi wadah bagi segala emosimu yang terpendam.

Bersama buku ini, kamu bisa melakukan self therapy yang mudah dan sederhana untuk menjaga kesehatan mentalmu.

Karena ada satu hal yang harus kamu pahami: 

Kamu berhak sembuh.

Refleksi Pribadi

Refleksi Pribadi

Dari buku ini, aku merasa seperti diajak untuk berhenti sejenak dan benar-benar melihat ke dalam diri sendiri. Buku ini tidak hanya memberikan penjelasan tentang kesehatan mental, tetapi juga menyediakan berbagai aktivitas sederhana yang bisa dilakukan untuk mengenali apa yang sedang kita rasakan. Karena itu, aku bisa menggunakan buku ini sebagai salah satu media untuk melakukan self-therapy secara sederhana.

Hal yang paling aku sukai adalah bagaimana buku ini mengajak kita untuk mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Kita diajak memahami diri, mengenali potensi, memahami emosi, hingga belajar merilis emosi yang selama ini mungkin kita pendam. Ada pula beberapa tips yang berkaitan dengan kondisi tubuh ketika mulai merasa lelah secara fisik maupun emosional.

Menurutku, terkadang kita terlalu sibuk menjalani kehidupan sampai lupa bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya aku sedang merasa apa?” atau “Apa yang sebenarnya sedang aku butuhkan?” Buku ini membuatku menyadari bahwa mengenali emosi adalah bagian penting dari proses menjaga kesehatan mental. Tidak semua perasaan harus langsung diselesaikan. Beberapa perasaan perlu didengarkan, diterima, dan diberi ruang untuk keluar.

Aku juga belajar bahwa mengekspresikan emosi tidak selalu harus dilakukan melalui percakapan. Kita bisa menulis, menggambar, membuat jurnal, atau melakukan aktivitas kreatif lainnya. Bagi seseorang yang terkadang kesulitan mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran, cara-cara seperti ini bisa menjadi langkah awal yang cukup membantu.

Namun, menurutku self-therapy bukan berarti kita tidak membutuhkan bantuan profesional. Justru buku ini bisa menjadi teman untuk lebih mengenal diri sebelum, selama, atau setelah mendapatkan bantuan dari psikolog maupun profesional kesehatan mental lainnya. Ketika kita mulai menyadari bahwa apa yang kita rasakan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional tetap merupakan langkah yang penting.

Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kamu yang sedang merasa kehilangan arah, ingin lebih mengenal diri sendiri, atau sedang belajar memahami emosi yang selama ini sulit untuk diungkapkan. Bahasanya sederhana, aktivitasnya praktis, dan kita bisa menggunakannya secara perlahan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pada akhirnya, buku ini mengingatkanku bahwa proses memahami diri sendiri tidak harus selalu terburu-buru. Ada kalanya kita memang perlu berhenti, beristirahat, menangis, menulis, atau sekadar mengakui bahwa hari ini kita sedang tidak baik-baik saja.

Dan mungkin, dari proses sederhana itulah kita mulai belajar kembali untuk lebih menyayangi diri sendiri.

Kamu berhak sembuh. Dan kamu juga berhak mendapatkan ruang untuk memahami dirimu sendiri.

Untuk kamu yang ingin mendapatkan buku ini, kamu bisa klik link ini ya.


Tuesday, September 22, 2026

 


Indah terbiasa menjadi sempurna. Di sekolah yang menuntut prestasi, ia belajar menyembunyikan lelah, menelan ketakutan, dan terus tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.

Lalu ia bertemu Ridwan, seorang guru Art yang tenang, tegas, dan selalu terlihat mampu menghadapi apa pun. Namun, di balik sikapanya, tersimpan luka tentang kehilangan dan kesendirian yang tidak pernah ia ceritakan.

Hubungan mereka bermula dari hal-hal sederhana: sebuah senyum, percakapan singkat, tawaran tumpangan yang ditolak, hingga sebuah gerbang yang terkunci.

Di antara luka dan tuntutan untuk menjadi sempurna, keduanya perlahan belajar bahwa pulang bukan tentang tempat, melainkan tentang seseorang yang membuat mereka merasa aman menjadi diri sendiri. 

Kamu bisa membacanya langsung di sini ya!

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi