Ternyata yang bikin aku susah lupa dan move on itu bukan karena perasaan aku yang masih tertinggal di sana, atau karena aku masih rindu dengan semua kenangan itu. Bukan. Bukan itu.
Tapi amarah aku, kekecewaan aku, dan kesedihan aku yang tak pernah aku terima kehadirannya dan menganggap semuanya baik-baik saja. Harusnya saat itu aku marah, aku kecewa, aku sedih. Alih-alih berteriak kesurupan dan berlinang air mata, aku malah memilih untuk tersenyum: menekan semua perasaan yang sebenarnya hadir.
Akhirnya apa? Jadi bom waktu juga kan?
Maka dari itu, setiap kali memori itu hadir, sebenarnya itu bukan tanda kalau aku lagi kangen momen itu. No. Bukan. Tapi ada perasaan lama yang sudah aku tekan dan aku kubur bertahun-tahun, yang kini minta untuk didengarkan, dikeluarkan, dan diekspresikan.
Jadi kalau saat ini mau nangis, ya nangis. Mau marah ya marah. Gak usah dipendam lagi. Gak usah diganti dengan senyum dan tawa lebar seolah semuanya baik-baik aja. Pengen terlihat kuat padahal sebenarnya udah hancur banget di dalam. Iya kan?
Jadi ngapain pura-pura kuat kalau pada akhirnya semua ini harus kamu tanggung sendiri akibatnya?
Enggak enak kan, berjalan sendirian di labirin hitam yang kamu sendiri gak tahu akan ketemu cahayanya di mana?
Enggak enak kan, sama gedoran di dalam hati dan bisikan di kepala yang seolah tidak pernah berhenti?
Enggak enak kan, ketika semua warna-warni dalam hidup tiba-tiba berubah menjadi hitam putih kayak hasil foto copyan?
Apalagi yang enggak enak?
Oh, tidur kamu. Kamu jadi sering terbangun tengah malam kan? Tiba-tiba nangis tanpa alasan yang jelas. Isi kepala yang terus menerus aktif, berlari-lari dari masa lalu ke masa depan. Heningnya malam yang seharusnya bisa menenangkan, ini justru malah menikam diam-diam.
Saat semua orang minta kamu buat semangat untuk menjalani hidup, padahal kamu sendiri sedang kewalahan dengan diri kamu sendiri.
Lalu tanpa sadar, kamu ingin mengakhiri semua keributan di isi kepala kamu dan ingin mengembalikan warna di hidup kamu bukan?
Sayang, yang terdengar bukan itu.
Yang didengar bukan itu.
Yang diikuti bukan itu.
Kamu justru malah semakin jauh dan memilih untuk menyalakan api di tubuhmu sendiri.
“Kamu tuh kuat di luar, tapi rapuh di dalam.”
Kata seseorang sambil menatapku tajam, seolah ingin menembus benteng pertahananku. Tapi aku memilih untuk menghindar saat itu. Memilih untuk tidak mendengar ucapannya dan berpura-pura kalau aku baik-baik saja.
Maaf. Aku terlalu dungu untuk kalimatmu di tahun-tahun yang telah berlalu, yang kini sempat kusesali. Kenapa dulu aku begitu egois untuk terlihat baik-baik saja?
Belum lagi aku muak pada lingkungan yang terkadang menertawakan apa yang sedang kurasa. Dibilang lebay lah, gitu aja cengeng, harus kuat. Tanpa mau benar-benar memahami atau hanya sekedar diam, mendengarkan sepenuhnya, dan hadir.
Disaat itu pula aku memutuskan untuk menutup semua perasaan yang hadir. Menggantinya dengan senyum dan tawa keras nan sumbang. Aku kira, dengan begitu aku akan kuat. Tak lagi dianggap cengeng dan lebay.
Satu hari, dua hari, seminggu, sebulan, hingga akhirnya bertahun-tahun hal buruk ini menjadi kebiasaanku.
Sampai di titik ketika hati dan jiwaku sudah lelah dengan topeng busuk ini. Di waktu yang tak pernah ku duga, semuanya meledak. Tak bisa lagi ditahan.
Kini, aku diberi teguran keras oleh diriku sendiri.
Berjalan sendirian di tengah kegelapan yang tak pernah ada ujungnya dan cahaya itu pergi entah ke mana.
