Tuesday, June 16, 2026
Aku sedih, aku kecewa, aku marah, dan juga kesal. Sesuatu yang sangat ingin aku dapatkan, ternyata belum bisa diwujudkan saat ini. Aku terpaksa harus mengalah pada keadaan. Aku tahu, melangkah nekat pun belum tentu menjadi jalan terbaik, karena kondisi mentalku belum benar-benar dinyatakan pulih sepenuhnya oleh psikiater—meski terkadang ego di kepalaku merasa bahwa aku baik-baik saja.
Beberapa teman di tempat kerja mulai menyadari perubahanku. Sikapku kini lebih banyak diam. Terkadang, aku memilih untuk melipat tangan dan tidur sejenak di atas meja kerja, sekadar mengistirahatkan pikiran sembari menunggu jadwal kelas berikutnya. Aku pun merasakannya; ada bagian dari diriku yang berubah sejak depresi itu bertamu ke hidupku. Aku tidak lagi seberisik dulu. Kini, aku lebih nyaman diam dan mendengarkan ketimbang mengobrol ramai ke sana kemari. Energi mental yang kupunya terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa arti.
Di tengah kesunyian ini, riuh kecemasan tentang masa depan kerap datang mengetuk. Namun, aku segera tersadar: siapakah aku? Aku hanyalah manusia yang hanya mampu menyusun rencana di atas kertas, sementara Allah adalah Sang Maha Pembuat Skenario, penentu mutlak yang memegang kendali atas setiap ketukan takdir. Lantas, kenapa aku harus merisaukan hari esok secara berlebihan?
Keinginan yang harus tertunda hari ini bisa jadi adalah cara lembut Allah untuk menyelamatkanku dari jurang-jurang tak terlihat, yang mungkin saja menyeretku kembali ke lembah gelap yang mengerikan. Allah begitu menyayangiku. Pintu itu ditutup rapat agar aku berbelok arah, mencari pintu-pintu lain yang lebih aman, tanpa harus memaksa mentalku hancur dan jatuh ke lubang luka yang sama.
Walau hati kecil terkadang goyah dan tergiur oleh nominal angka, aku mengingatkan diriku lagi: jika kupaksakan, prosesnya akan jauh lebih menyakitkan. Aku bisa saja terhempas lebih keras hingga sulit untuk kembali ke titik normal. Tidak apa-apa jika dunia melihatku terlambat. Bisa jadi, keterlambatan yang selama ini kutangisi justru adalah pelindung yang sedang menuntunku pada peluang-peluang baru yang jauh lebih indah.
Menangis dan bersedihlah jika hari ini terasa berat, tapi jangan pernah putus asa. Tertutupnya satu pintu hanyalah tanda bahwa perjalananmu belum selesai; kamu hanya diminta untuk mencari dan mengetuk pintu-pintu lain. Tenanglah, Allah menjagamu dengan teramat sangat. Ingat itu selalu.
Sudah direncanakan, sudah diusahakan dengan seluruh tenaga, tapi kalau takdirnya belum tiba, selalu saja ada jalan penghalang yang menghentikan langkah. Namun, di sinilah aku belajar: tertutupnya satu pintu bukan aba-aba untuk menyerah pada keadaan. Aku menolak untuk berhenti mengetuk pintu lain hanya karena satu ruang telah mengunci harapanku.
Tidak, aku tidak ingin menyerah. Aku memilih percaya bahwa pintu yang tertutup itu adalah cara Allah menyelamatkanku agar tidak kembali jatuh ke lubang luka yang sama. Mungkin itu cara-Nya membelokkan jalanku menuju pintu-pintu lain yang jauh lebih lapang, yang perlahan akan mengantarkanku pada mimpi-mimpiku yang sebenarnya.
Hari ini, aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menikmati rezeki yang sudah Allah beri dengan penuh syukur. Walau jujur, di sudut hati yang paling sunyi, kadang terselip rasa sesak—perasaan takut tertinggal karena di usia ini rasanya aku belum memiliki apa-apa dibandingkan orang lain. Namun, aku mengingatkan diriku lagi, bahwa "memiliki" tidak selalu tentang pencapaian materi yang terlihat. Mungkin, apa yang aku miliki hari ini adalah ketabahan, napas yang masih bertahan, dan hati yang terus belajar menyembuhkan diri. Dan itu lebih dari cukup.
Thursday, June 11, 2026
I know I still face many struggles since depression entered my life. It is so hard for me to wake up early, or even to stay awake after the Shubuh prayer. I usually prefer to go back to sleep. I don't know why, but I just feel so exhausted and sleepy all day long.
Yesterday, as usual, I taught my teenage student. She was beaming with happiness because she was finally accepted into Sekolah Maung in my city. She told me that all her hard work had finally paid off. Before class began, she shared her story: how she did everything she could to make her dream come true. She studied, she prayed, she woke up for Tahajjud, and she even made a promise to complete her Quran recitation if she got in.
Listening to her made me think about my own dream of studying abroad. Have I given enough effort to reach it? Why do I feel too tired to pursue it lately? Things like practicing for the IELTS, exercising in the morning, or researching information feel so heavy. With only one year left for preparation, a year feels so short, and I feel like I'm on the verge of giving up. I don't know why.
I keep wondering: is this my depression speaking, or am I just being lazy? But when I look back at my past, whenever I wanted to achieve something, I would give it my all. So I think the truth is simply that I am deeply, completely exhausted. That is why my body and mind need much more rest than usual right now.
Hi Ihat, Don’t rush. Take your time. Take all the time you need with yourself so you can truly hear what your soul wants. Keep going. It is completely okay to take small steps. That’s okay. I am so proud of you.
Sunday, May 31, 2026
I don’t know why, but I feel like something is completely messed up. My mind, my mood, and everything. I have a one-week holiday for Eid al-Adha, but instead of resting, I feel this heavy weight. It’s as if I have so much to say, yet I can’t find the words for it. I long for a friend, someone to dive into a deep conversation with, but there is no one around. Whenever this season of emptiness comes, I find myself drowning in self-blame, simply because I don’t know how to fix it. So, instead of desperately searching for answers, I just sit here and let myself feel the discomfort.
When night falls, closing my eyes feels like an impossible task. My mind speaks so loudly, replaying everything on a loop, and I can't find the switch to turn it off. So, I just stare at the ceiling until midnight catches up with me and sleep finally takes over.
Consequently, I’ve been waking up late. For the past two days, I’ve overslept and almost missed my Fajr prayer. I look at myself and wonder what is happening. But I know the pattern: whenever I have nothing to do—when the days stretch out for more than three days, the depression easily creeps back in, taking full mastery over my body and my mind.
I can't quite pinpoint what this is. I just need to write and share. For me, writing has always been the purest way to talk to myself without interruption. Here, I can bleed every thought onto the page without the hesitation or fear of being judged. In this space, I genuinely don’t care.
Deep down, I know I need someone to talk to. I know I need him. But he couldn't promise a forever, so I chose to walk away. And now, I am holding the weight of everything entirely alone. AGAIN.
Hey, you. I MISS YOU. I miss the times when we used to talk and share our days.
But wait... do I really miss you? Or do I just miss the routine? I think I just miss the routine that I’ve probably romanticized in my head. Hahaha.
The truth is, I’m just so tired of falling in love again. Tired of the vulnerability it takes to get comfortable with someone. I am exhausted, and honestly, I’ve forgotten how to open my heart after being lonely for so long since the breakup.
And on top of that, I carry this depression. So... would you still want to stay by my side?
Saturday, May 30, 2026
Selamat merayakan Iduladha 1447 H bagi kamu yang merayakan!
I’m so grateful with this Eid. Entah mengapa, kali ini aku merasakan seperti ada beberapa cahaya yang menyinari hatiku. Cahaya yang mengembalikan diriku seperti sebelumnya: an initiator in my family. Aku kembali memiliki ide dan energi untuk merayakan Iduladha ini, walau mungkin tidak seberapa. Kondisi ini sangat berbeda dengan diriku saat Idulfitri lalu, di mana aku lebih banyak diam ketimbang menginisiasi perayaannya.
Semuanya bermula ketika aku ingin membuat BBQ-an (dibandingkan bikin sate seperti biasa), sekaligus tetap ingin makan kupat dan opor ayam. Saat mengobrol, Mamah bercerita dan meminta maaf karena tidak bisa memasak menu tersebut dikarenakan keuangan keluarga yang sedang menurun.
Mendengar itu, muncullah inisiatifku untuk mengajak adikku yang sudah sama-sama bekerja untuk udunan (patungan). Biasanya, akulah yang selalu menanggung semuanya sendirian. Jujur saja, selama ini terkadang di dalam hati suka ada rasa kesal sedikit. Tapi dari momen ini aku tersadar: rasa kesal itu muncul hanya karena aku tidak mengomunikasikannya dengan baik. Adikku tipe orang yang memang harus dikasih tahu, bukan seperti aku yang mudah terenyuh dan cepat paham situasi. Dan ternyata, saat diajak udunan dia mau-mau saja tanpa keberatan.
Momen ini mendadak mengingatkanku pada sebuah kutipan buku yang sangat menampar:
"Jika kita menginginkan sesuatu dari orang lain, hal kecil sekalipun, kita harus memberitahu mereka yang sebenar-benarnya. Pengertian dan perhatian, hal apa pun yang menyangkut ekonomi, kata-kata yang hangat untuk disampaikan, apa pun itu. Jika kita tidak berkata apa-apa, orang lain tidak akan tahu kalau kita terluka. Tak ada tersangka, yang ada hanya korban." Yoo Eun-Jung, Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti.
Dan, boomm! Tulisan itu betul sekali. Selama ini aku selalu pura-pura kuat. Pura-pura bisa menanggung semuanya, padahal sebetulnya aku pun butuh bantuan tapi tidak tahu harus mengomunikasikannya bagaimana.
Dari pengalaman Iduladha kali ini, aku membuktikan sendiri bahwa adikku tidak egois. Dia hanya butuh diberi tahu, dan sisanya dia paham sendiri. Bahkan saat kami mau membuat BBQ, dia malah menyumbang minuman tanpa diminta!
Ternyata, asumsi-asumsi buruk itu hanya ada dalam benakku saja. Karena tidak berani menyampaikan dan memilih menyimpannya sendiri, akhirnya aku kewalahan sendiri, kan?
You are the only person responsible for your life and your happiness.
Betul sekali. Tidak ada yang bisa memahamiku pada saat itu karena, ya... semuanya aku pendam sendiri tanpa dikomunikasikan dengan baik.
Kembali meminjam kutipan dari buku Yoo Eun-Jung di halaman 5:
"Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri, menciptakan situasi yang membuat kita menanggung segala hal sendirian, dan saat sesuatu terjadi, kita tak punya siapa-siapa. “Aku sangat memikirkan dan peduli pada orang lain, tapi kenapa mereka tidak mengerti perasaanku sama sekali?” “Kenapa dia menyepelekan kebaikanku?” Kita harus berhenti dikuasai oleh keputusasaan, frustrasi, kemarahan, dan keterasingan."
Iduladha tahun ini bukan cuma tentang daging kurban atau BBQ, tapi tentang sebuah kesadaran baru untuk diriku sendiri. Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri dengan ekspektasi bahwa orang lain harus selalu paham tanpa kita bicara.
Yuk, belajar menurunkan ego untuk meminta bantuan, dan belajar mengomunikasikan isi hati dengan jujur. Karena orang lain bukan cenayang, dan kita tidak harus selalu jadi pahlawan sendirian.
Social Media
Search