Sunday, August 30, 2026
What is essential to forming meaningful connections?
Buat aku meaningful connections itu saat kita bisa menjalin hubungan dengan orang lain tanpa terasa membebani diri kita sendiri. Kita bisa bebas menjadi diri sendiri tanpa takut judment, bisa jujur atas apa yang dirasakan lalu berani menyampaikan juga, tak peduli sesibuk apapun pasti bisa menyempatkan untuk sekedar menyapa, menanyakan kabar.
Ada satu hal yang aku pelajari dari my connections this week. Saat aku memberanikan diri untuk berkata tidak walaupun rasanya di awal sangat tidak nyaman, membebani, tapi setelah dicoba aku bisa merasakan kelegaan dalam hati. Kemudian, saat aku mulai belajar untuk memprioritaskan diri sendiri tanpa harus takut orang lain jadi jengkel atau benci, that's their bussiness, not mine. Karena apa yang mereka rasakan itu kan hak mereka and I don't have to make eveveryone pleased with me, do I?
Aku bahkan sudah berada di fase yang ada temen ok, gak ada temen juga gak apa-apa. As long as I enjoy myself. Aku gak mau berada di lingkaran pertemanan yang aku sendiri merasa terbebani, gak nyaman, bahkan kayak pretend to be ok. No, I don't want to fake anything. It's exhausting.
The thing that makes me grateful and also sad in the same time is.
Saat aku bisa menemukan orang itu, pada akhirnya kita dihadapkan pada realita bahwa connection which we have doesn't work for the future. Aku nyaman bersama orang ini, bahkan bisa ngobrol lama padahal dalam berkomunikasi kita tidak pakai bahasa Ibu masing-masing. Biasanya aku akan sangat ke drain energi kalau banyak ngobrol sama orang lain even we use Indonesian language, but with him I don't know why I really enjoy every topic that we discuss. Untuk dia yang gengsi dan takut penolakan dengan aku yang inisiatif, biasanya aku yang pancing dia baru sisanya aku membiarkan dia bergerak sendiri. Setelah beberapa bulan ini kita tidak ada kontak sama sekali, tapi entah mengapa malam tadi kita malah bisa kembali ngobrol lama seperti dulu-dulu yang biasa kita lakukan. Satu hal yang kini berubah adalah aku sudah tidak lagi banyak berharap kepada dia, karena hubungan dua negara yang berbeda memang banyak membutuhkan persiapan. Selain itu, untuk hal mendasar seperti finansial yang bisa kita jadikan sebagai alat untuk kita bisa bertemu di dunia nyata dengan kondisi keuangan dan pekerjaan kita saat ini rasanya mustahil. Dulu aku pernah marah sama dia hanya karena aku merasa tidak perjuangkan, tapi kini seiring dengan berlalunya waktu aku juga sadar ternyata apa yang dia katakan itu benar. Dia lebih baik menyampaikan hal seadanya daripada membuat janji yang pada akhirnya tidak bisa ditepati. Jika saat ini aku lebih banyak legowo dengan connection yang kita punya, dia sekarang sudah punya plan untuk membangun hidupnya dan ada keinginan untuk memperjuangkan visa agar dia bisa bekerja di Spanyol. Untuk saat ini menikah bagi dia tidak ada dalam kamusnya, karena dia masih struggle dengan keuangannya dan aku sangat respect hal itu. Satu jam berlalu kami isi dengan ngobrol tentang kehidupan kami masing-masing, pekerjaan, rencana ke depannya, dan juga kondisi negara kami masing-masing. Aku tahu, aku sudah terlanjur nyaman dengan orang ini. Bahkan ketika dihitung-hitung it's almost 3 years we've known each other. Meski sudah beberapa kali aku yang memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi tapi entah kenapa ya balik lagi-balik lagi. Satu pesan yang dikirim bisa jadi bahan obrolan yang panjang. Dan aku senang dengan dia yang sekarang karena dia sudah lebih terbuka tentang kehidupannya dibandingkan awal-awal ketika kami masih berkenalan.
Bersama dia, aku diberi kesempatan untuk merasakan sebuah meaningful connection. Meski hanya sebatas di dunia maya, tapi bersama dia untuk pertama kalinya aku merasa aku bisa jadi diri sendiri. Perasaan marah, kesal, dan semua perasaan yang aku rasakan bisa valid saat bersama dia. Aku banyak belajar dari dia tentang memandang kehidupan ini. Untuk aku yang emosional dan dia yang sangat rasional. Rasanya seperti saling melengkapi. Bersama dia juga aku tidak merasa sendiri, semua percakapan apapun bisa menjadi terasa bermakna atau hal-hal seserius apapun kadang dia bawa sedikit bercanda supaya lebih relaxed. Jika di awal aku sangat menginginkan orang ini bahkan terdengar seperti memaksa, namun saat melihat realita yang ada aku menjadi sadar. Bisa jadi apa yang kita anggap baik belum tentu baik untuk kita sebenarnya.
Aku hanya jadi punya pijakan baru, pandangan baru, dan juga pengalaman baru bahwa tipe laki-laki seperti inilah yang bisa mengimbangi aku, membimbing aku, sekaligus menemani overthinking-nya aku sehingga bisa diuraikan dengan benar.
Kalaupun pada akhirnya orang itu bukan dia, semoga nanti akan dipertemukan dengan jenis-jenis manusia seperti dia yang pastinya akan selalu lebih baik dan bisa menerima diri ini dengan segala keabsurdannya.
Dan untuk diri sendiri, sebelum kamu punya meaningful connection dengan orang lain ternyata semuanya berawal dari cara kamu menerima dan memperlakukan dirimu sendiri dengan baik.
Hey, I'm proud of you.
Tuesday, August 25, 2026
It is strange how life works. When I stopped chasing things endlessly and simply focused on what I could control, everything felt lighter.
First, my friend texted me out of nowhere to check on me. She asked for my forgiveness for anything she might have done to upset me, about marriage and other things. She was genuinely shocked to know about my depression diagnosis and my psychiatric appointments.
Second, my parents gently brought up my relationship status tonight. They spoke so carefully that before I even realized it, I found myself opening up. I told them about how I was left in the past by someone who went on to marry another girl. I honestly thought I would be fine sharing it, but as the words left my mouth, my lips trembled, my breathing grew heavy, and my voice began to shake.
In that moment, a quiet realization hit me: Did I ever truly heal from this wound? Or did I just bury it under hard work, chasing my dreams relentlessly, and forgetting to ask myself what I actually want out of this life?
The truth is, I do want to get married. I want to have my own family. I want to be a wife and a mother. I don't want to spend my whole life feeling lonely; I want someone who will stand by my side and support me.
Deep down, my parents have been quietly trying to find someone to introduce to me. They believe that while they can rely on me, they should also help me find my person. Namanya juga ikhtiar, gak cuma bisa doa aja, they told me. Hearing those words touched me deeply. I felt so seen and supported. I am not walking this path alone; the people around me are quietly holding space for me.
I know I can’t wait until I am completely fine or fully healed to start living again. Healing isn't a final destination. It is a continuous journey. So as long as I am taking steps to heal every single day, why not open my heart to the possibilities ahead?
Sunday, August 23, 2026
Hai, selamat memasuki hari Senin di esok hari. Untuk kamu yang tengah bersiap-siap untuk menghadapi esok hari, semoga harinya dilancarkan dan sesuai dengan apa yang direncanakan, ya!
So, how was your week?
Nothing special.
Cuma seminggu ini aku babak belur dengan flu, batuk, asma yang datang silih berganti. Baru kali ini, entah mengapa, asmanya terasa the worst in my life. Kadang aku berpikir, apa sebenarnya tubuh aku terus meronta-ronta, meminta aku untuk lebih banyak istirahat dulu daripada kedebag-kedebug bekerja?
Tapi gimana, ya? Aku juga dilema. Di satu sisi, aku juga butuh uang. Aku nggak bisa mengandalkan siapa-siapa lagi selain mengandalkan diri sendiri. Meski sedih sih, sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, ya?
Orang tua juga sudah khawatir banget dengan kondisi aku yang akhir-akhir ini mudah sakit, dan sakitnya sudah bukan main-main lagi. Apalagi kalau asmanya udah kambuh. Mereka juga dilema. Mereka minta aku untuk berhenti kerja, tetapi mereka juga nggak bisa afford kebutuhan pribadi aku. Ditambah kondisi keuangan mereka juga lagi nggak baik-baik saja.
Kadang aku mikir, udah kerja keras mati-matian dari pagi sampai malam kadang, tapi ya penghasilannya segitu-gitu saja, bahkan masih di bawah UMR. Boleh nggak sih nyalahin pemerintah? Kalau kayak gini terus, kapan aku bisa keluar dari garis kemiskinan ini? Dan lucunya lagi desil aku berada di antara 6-10. WKWKKWKWKWKWK. Kadang memang hidup se-absurd itu, ya.
Apalagi pekerjaan aku adalah guru.
Ya, nggak usah ditanyain lagi, ya, gimana jadi guru di negeri ini.
MIRIS.
Kadang rasanya aku pengen menyerah dengan semua ini. Tapi aku sadar, mengambil keputusan besar tanpa dasar yang kuat dan tanpa backup dana yang cukup juga bukan keputusan yang bijak.
Meski begitu, hal yang paling aku syukuri adalah kedua orang tua aku nggak pernah menuntut aku dan tetep support pekerjaan aku. Cuma ya, aku juga pengen bisa bantu mereka, meringankan beban mereka. Dan ini belum bisa.
Begitu pun mereka sebaliknya. Mereka juga ingin memberikan aku lebih, tapi apa daya. Untuk sekadar bisa bertahan hidup di era sekarang saja sudah lebih dari cukup.
Aku sadar dan aku semakin memahami kondisi diriku saat ini. Aku nggak bisa mengerjakan semua hal sekaligus. Memang ini kapasitas aku. Aku hanya bisa merangkak sedikit demi sedikit untuk bisa keluar dari lingkaran kemiskinan ini.
Aku nggak bisa lagi keras sama diri sendiri untuk melakukan banyak hal yang memang diri aku sendiri saja nggak sanggup.
Ihat,
Ingat, ya, nggak semua hal harus kamu tanggung sendiri.
Nggak semua hal harus menjadi penyesalan kamu hanya karena kamu belum bisa mewujudkan keinginan kamu.
Niat baikmu tetap akan menjadi nilai kebaikan di sisi Allah.
Kamu pelan-pelan saja, ya, berjalan. Jangan lari, apalagi ngebut-ngebut.
You're not competing with others.
Ingat, semua ini hanya temporary. Nggak akan selamanya kamu berada dalam posisi ini.
Tetap berprasangka baik atas takdir-Nya, ya.
Tetap minta tolong dan libatkan Allah dalam setiap urusanmu.
Aku tahu, di usia kamu saat ini, kamu ingin karier yang cemerlang, gaji yang cukup tanpa harus babak belur kerja ke sana kemari, menikah dengan orang yang bisa membimbing kamu, mengimbangi kamu, dan saling support untuk mewujudkan mimpi masing-masing.
Tapi semua itu harus di-hold dulu untuk saat ini.
Mungkin Allah ingin memberikan kamu banyak kesempatan untuk mengenal diri sendiri, ngobrol sama diri sendiri, dan memberikan kamu lebih banyak waktu untuk membuat kenangan yang baik bersama kedua orang tua kamu; sesuatu yang selama ini hilang dari hidup kamu dan baru kali ini bisa kamu nikmati.
Mungkin ini adalah kesempatan untuk menikmati semua itu sebelum waktu akhirnya memisahkan.
Jadi, apa yang kamu cari, Hat?
Hat, lihat terus ke atas bikin kamu banyak kufur sama nikmat yang sudah Allah kasih.
Ingat, apa yang mereka tampilkan di media sosial itu pasti sebanding dengan apa yang harus mereka relakan, meski mereka nggak akan pernah mau show itu.
Selama kamu bernapas di dunia ini, masalah akan terus datang menghampiri dirimu. Dan kamu juga harus ingat bahwa Allah menciptakan dunia ini bukan untuk bersenang-senang, tetapi memang sebagai tempat untuk berjuang.
Apalagi bagi seorang yang beriman, hidup nggak akan pernah lepas dari yang namanya ujian.
Dan Allah juga nggak melihat hasil semata dari seorang hamba, tetapi juga usaha, kesungguhan, dan keimanannya atas takdir yang telah ditetapkan untuknya.
When your life feels hard, please go back to Allah, go back to yourself.
Hug yourself tightly, forgive yourself, and appreciate yourself.
Please don't be hard on yourself.
She is the only one who will always be there for you, no matter what happens in the future.
Janji, ya, nggak akan pernah keras lagi sama diri sendiri.
Janji, ya, nggak akan marah-marah lagi kalau diri sendiri sudah mulai capek, lemas, bahkan sakit.
Lepaskan hal-hal yang sulit untuk bisa kamu raih saat ini.
Kamu nggak perlu mengejar segitunya.
Relax and enjoy your moment now.
Pelan-pelan saja, Hat.
Kamu nggak sedang berlomba dengan siapa-siapa.
Kamu cuma lagi belajar aja gimana caranya bisa menjalani hidupmu sendiri tanpa harus lihat kiri-kanan sebagai pembanding.
I know.
I'm so hard on myself.
I never give myself space to breathe for a while.
I always force myself to run like everyone else,
to achieve things that require so much effort.
You didn't just start from zero.
You started from minus.
Hey.
Stop being so hard and rude to yourself.
Not everything has to be carried by you.
You don't have to be strong all the time.
It's okay to feel weak.
Just allow yourself to have weaknesses.
You're not behind.
Maybe Allah is protecting you from something that might hurt you.
Just calm down, relax, and go with the flow.
You don't have to hurry.
You're not competing with anyone.
You're not even competing with your siblings.
I know you need someone to talk to, someone to accompany you and make you feel less alone.
But believe me, that person will come into your life.
Don't worry.
For now, just prepare yourself to become a better version of yourself.
Accept everything about yourself and learn to love yourself as well.
Throw away the mask.
You can't always pretend that you're okay.
You are allowed to be sad.
You are allowed to be angry.
You are allowed to be disappointed.
And that's okay.
That's normal.
One thing I want to remind you of is this:
Please stop comparing your life to the lives you see on other people's screens.
You never know what is happening behind those screens.
Love your life.
Embrace yourself.
And celebrate every small thing you manage to achieve.
I love you,
and I forgive you.
You're not alone.
You still have a lovely family who loves you endlessly.
Yes, you still have them.
They don't ask you to be perfect anymore.
They only want you to be happy and to see you smile.
So please, don't carry everything by yourself.
You don't have to carry it all alone.
Just let it go.
Let yourself be free.
And enjoy your life.
Sunday, August 09, 2026
This week has taught me a lot about life.
First, I decided to return to school. It was unpredictable. As you know, my plan was to study English hard to get a higher score. But then, I realized something: I only truly understand after I teach or share with other people. That is my learning style: learning by teaching.
I know this is not easy. In the morning, I have to go to school, and in the evening, I teach at the English course. Sometimes this routine makes me tired. My parents spoke to me and asked how I felt. For the first time, I felt truly cared for. They asked me, "Are you tired? Do you feel forced because of our family's condition?" But my answer was no. I just want to do it and learn to face my own fears.
Second, I don’t know how to express this properly, but even though I am the newest teacher at school, I love the environment and the principal. Based on my observations over these past two weeks, she doesn't just look at the results—she really appreciates the process itself. She never lets me feel alone.
Third, I met my former colleague, and she shared her situation with me. It made me so angry! She was yelled at by a stakeholder in front of many people. It was crazy! Even though this person is the child of an ustadz, they showed no manners (adab) at all. She cried in front of me while telling the story. This made me realize that just because someone is the child of a religious leader, it doesn't mean they have good character. Never judge a book by its cover!
What relieved me was that she finally resigned from that school. I tried to remind her that all her feelings are valid. She doesn't have to force herself to forgive them right away. She should give herself space to feel and process her emotions.
Finally, I want to say Alhamdulillah. Thank you, Allah, and thank you to myself. Thank you for letting yourself experience a new atmosphere. Thank you for trusting Allah’s plan, asking for His help in every situation, and leaving the results to Him. Everything happens for a reason and by His permission.
Thank you for treating yourself gently. You don't have to force yourself to be perfect all the time. Allow yourself to make mistakes, because making mistakes is normal and helps you learn. Remember, nobody is perfect.
Embrace every single part of your life. You cannot control everything, only Allah can.
Social Media
Search