Thursday, January 29, 2026
Write about a gift you have always cherished.
Sepertinya hadiah berupa postcard dari Turki yang dikasih sama temen aku yang baru pulang kerja dari sana. Tanpa minta oleh-oleh dia ngasih itu dan rasanya entah kenapa seneng aja. Melihatnya setiap hari membuat aku termotivasi untuk belajar lebih giat lagi agar mendapatkan beasiswa yang aku inginkan. Hadiah itu aku simpan di meja kecilku sebagai alarm atas mimpiku, setiap kali aku bengong aku selalu mengambil postcard itu dan membayangkan suatu saat aku akan ada di sana.
![]() |
| doc.pribadi |
Kadang aku mikir, postcard sederhana ini gak cuma sekedar kertas dengan gambar cantik, tapi simbol dari harapan yang hidup. Ia mengingatkan dan meyakinkan aku kalau kerja keras bakal bawa aku ke tempat-tempat yang aku impikan. Setiap kali pegangnya, rasanya seperti janji kecil buat diri sendiri, bahwa aku nggak sendirian dalam perjalanan ini.
Write about your favourite song and share your memories associated with it.
Kau adalah belahan jiwa
Ku tau itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku
Tompi - Sedari Dulu
Lagu ini akan dan terus menjadi lagu favoritku karena aku suka cerita di balik lagu ini. Pertama kali mendengarkan lagu ini di televisi, di acara inbox ketika aku masih SD kelas 5, duduk di kursi pasien sambil menunggu antrean untuk periksa oleh dokter. Lagu ini yang menemani aku yang kala itu belum tahu sakit apa tapi setelah diperiksa dan di test darah ternyata aku mengalami gejala tipus.
Lagu itu masih terngiang-ngiang di telinga ketika perjalan pulang dan Mamah mengomel karena khawatir akan kondisi aku sendiri. Dan untuk pertama kalinya aku merasa dikhawatirkan oleh Mamah dan rasanya senang sekali. Sekarang, setiap kali mendengar lagu ini, aku teringat betapa kecilnya aku dulu, tapi juga betapa besarnya cinta dan perhatian yang datang dari orang-orang terdekat. Lagu ini seperti pengingat bahwa di balik rasa sakit atau ketakutan, ada kehangatan yang membuat segalanya terasa lebih ringan, dan itu membuatku lebih menghargai momen-momen sederhana dalam hidup.
Monday, January 26, 2026
What is the first wish you want to make if you are granted three wishes?
Aku bakalan minta buat kasih jalan biar aku bisa keliling dunia. Mau gimana pun itu. Mau itu akunya dikasih rezeki yang melimpah, lewat beasiswa, atau dapet tiket gratis: yang penting bisa jalan-jalan keliling dunia.
Kenapa ngebet banget pengen keliling dunia? Ya penasaran aja sama budaya mereka, pola pikir masyarakatnya, adat istiadatnya, makanannya, tempat-tempatnya. Semua itu pengen aku pelajari dan jadi bahan renungan untuk aku sendiri. Dan sisanya aku bisa share melalui tulisan di blog ini.
What are the three things you are unable to let go of?
1. Lanjut sekolah
Impian untuk bisa melanjutkan sekolah masih terus menggebu walau belum benar-benar dieksekusi, tapi impian ini akan tetap menyala sampai kapanpun.
2. Menulis Diary
Dari sejak SD sampai sekarang gak bisa tuh meninggalkan satu hobiku ini. Mau dalam keadaan apapun tetap menulis di diary karena ini satu-satunya cara agar aku bisa berkomunikasi dengan diri aku sendiri dan mengeluarkan semua yang isi kepala yang kusut dan berisik.
3. Tidur habis shubuh
Gak tahu kenapa ya rasanya enak aja gitu tidur habis shubuh. Walau sebenarnya ini gak boleh ya, tapi tetep aja dilakuin huhuu. Meski gak setiap hari tapi tetep aja intensitasnya cukup sering. Habis solat shubuh masih pakai mukena, terus tidur lagi deh. Heheheee.
Friday, January 23, 2026
Your inspiration
Inspirasi itu seperti angin: bisa datang dari mana saja, dan sering kali tiba-tiba, tanpa diundang. Kadang-kadang, ia muncul dari obrolan singkat dengan orang asing, atau saat aku bersepeda santai, melihat-lihat sekitar jalanan yang ramai, dan tiba-tiba ada ide yang melintas di pikiran. Inspirasi juga bisa datang dari buku yang aku baca, video di YouTube yang menarik, atau bahkan saat aku asyik scrolling di media sosial. Ya, sumbernya memang tak terbatas, tapi untuk saat ini, inspirasi-inspirasi terbesar aku datang dari buku karya Brianna Wiest berjudul 101 Essays that Will Change the Way You Think.
Melalui buku ini, aku banyak merenung dan berefleksi tentang diri aku sendiri serta kehidupan aku. Setiap esai di dalamnya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang memaksa aku untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Siapa aku sebenarnya? Apa yang benar-benar aku inginkan dari hidup ini? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan itu yang akhirnya membantu aku mencari tahu jawabannya, bukan dengan jawaban instan, melainkan melalui proses menulis dan dialog internal. Ini seperti terapi gratis: aku duduk sendirian, pena di tangan, dan menuangkan pikiran-pikiran yang selama ini tersembunyi.
Satu hal yang pasti, ketika inspirasi datang, aku selalu buru-buru mencatatnya. Tak peduli di mana aku berada atau media apa yang aku gunakan: apakah itu catatan di ponsel, buku harian, atau bahkan coretan di kertas bekas, aku langsung menuliskannya. Karena, aku tahu betul, inspirasi itu mudah sekali hilang jika tidak segera diabadikan. Pikiran kita kan seperti pasir yang licin; kalau tidak segera dipegang, ia akan luruh begitu saja.
Refleksi ini membuat aku sadar bahwa inspirasi bukanlah sesuatu yang harus dicari-cari, melainkan sesuatu yang harus kita siapkan diri untuk menangkapnya. Dengan membaca buku seperti ini, aku belajar untuk lebih terbuka terhadap dunia di sekitar aku. Dan siapa tahu, inspirasi berikutnya mungkin datang dari hal-hal sederhana yang aku lewatkan hari ini. Mari kita jaga agar api inspirasi itu terus menyala dengan mencatat, merenung, dan berbagi. Siapa tahu, inspirasi aku bisa menjadi inspirasi bagi orang lain juga.
What can you do to create an ideal world for yourself and others?
Dalam perjalanan hidup ini, aku sering merenung tentang apa yang bisa aku lakukan untuk membangun dunia yang lebih baik—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar aku. Dunia ideal bagi aku bukanlah utopia yang jauh dari jangkauan, melainkan sebuah realitas yang bisa kita wujudkan melalui langkah-langkah konkret. Salah satu jalan utama yang aku yakini adalah melalui pendidikan. Mengapa? Karena pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan fondasi untuk perubahan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.
Ketika aku memikirkan kembali pengalaman pribadi aku, pendidikan telah menjadi pilar utama dalam hidup aku. Dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, setiap pelajaran yang aku terima membuka pintu untuk mimpi-mimpi yang lebih besar. Namun, aku sadar bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama. Itulah mengapa aku percaya bahwa memprioritaskan pendidikan adalah langkah pertama. Kita harus menyamakan kualitas pendidikan bagi semua kalangan, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Pendidikan di Indonesia, pendidikan adalah hak setiap warga negara—bukan hak istimewa. Ini bukan hanya tentang keadilan, tapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih kuat dan inklusif.
Refleksi ini membuat aku bertanya-tanya: Bagaimana kita bisa mewujudkan ini? Aku ingat saat aku melihat teman-teman di desa yang kesulitan melanjutkan sekolah karena biaya atau fasilitas yang terbatas. Itu membuat aku sadar bahwa pendidikan yang merata bukanlah impian kosong, melainkan tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran krusial di sini. Mereka harus mengutamakan kesejahteraan para pendidik—guru, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya. Bayangkan jika guru-guru kita diberi gaji layak, pelatihan berkala, dan dukungan psikologis; pendidikan akan berjalan lebih efektif, dan siswa akan termotivasi untuk belajar.
Melalui pendidikan, kita bisa mengubah taraf kesejahteraan hidup kita secara fundamental. Aku percaya bahwa pengetahuan adalah kunci untuk membuka peluang kerja, inovasi, dan bahkan perdamaian dunia. Saat aku melihat bagaimana pendidikan telah mengubah hidup aku, dari seorang anak yang tadinya hampir putus sekolah menjadi seseorang yang bisa berkontribusi melalui mengajar di kelas. Tapi ini bukan hanya tentang aku; ini tentang kita semua. Mari kita refleksikan bersama: Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk mendukung pendidikan? Mulai dari mendukung kampanye literasi hingga mendorong kebijakan yang adil.
Dalam dunia yang penuh tantangan ini, pendidikan adalah cahaya harapan. Dengan memprioritaskannya, kita tidak hanya menciptakan dunia ideal untuk diri sendiri, tapi juga untuk generasi mendatang. Mari kita mulai dari sekarang.
Wednesday, January 21, 2026
![]() |
| Photo by Snapwire |
If I had the love I wanted, what would today look like?*
I am somewhat confused about this topic. as many thoughts are swirling in my mind. However, reflecting on it. I believe that of I had the love I desired, my day would be filled with happiness, routine, and deep emotional connection. Let me outline what a such a day might look like.
In the morning, I would wake up feeling content, seeing my partner beside me. I would kiss his forehead and say, "Good morning, honey," or perhaps he would do the same to me. We would pray shubuh together, fostering a sense of shared spiritually. He would then prepare for work while I got ready for breakfast. We would eat together, engaging in light conversation about our plans for the day. Before he left, he would kiss my forehead, leaving me with a warm feeling.
Throughout the day, I would tidy up our home, write on my blog about our love story, read a book to nurture my personal interests. In the evening, before he arrived home, I would send him a text saying, "Miss you." Upon his return, he might bring me a red flower as a small gesture of affection. After he showered, we would have dinner together, pray isya as a couple, and share stories from our day, strengthening our bond.
In conclusion, this idealized day represents the harmony and fulfillment that true love could bring. While I am still figuring out my feelings on this topic, it highlights the importance of emotional intimacy in daily life.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)
What is that one thing you have always wanted to do but could not?
Sebenarnya ini bisa dilakukan sih, tapi aku memilih untuk tidak karena banyak sekali pertimbangan. Apa itu? Jadi full time writer. Kenapa gak bisa? Karena ya butuh effort yang besar dan konsisten kan untuk bisa menghasilkan uang dari karya kita? Sementara di awal-awal dan ini udah jadi rahasia umum, pasti tulisan kita belum bisa menghasilkan uang. Pengen banget gitu jadi full time writer, diem di rumah, sesekali nulis di kafe, baca buku. Tapi untuk saat ini itu belum bisa. Aku masih perlu kerja yang lain untuk bisa menghidupi diri aku seorang. Jadi aku menulis hanya untuk sampingan dan menyalurkan hobi serta isi kepala yang berisik.
Kalau kamu gimana?
Tuesday, January 20, 2026
![]() |
| Photo by The masked Guy: |
Who from your past are you still trying to earn the acceptance of*
I know that there is still someone from my past whose acceptance I am trying to earn. This person is him: an individual I loved deeply during my senior high school years, despite his rejection and hurtful words. I often wonder why I loved him so much back then. Even though he said rude things to me, I never responded in kind. For example, he commented that my body was fat and covered in acne, and he bullied me constantly. My best friend repeatedly advised me to stop loving him, as he clearly never reciprocated my feelings.
I have been trying to talk to myself, urging myself to forgive that era or my life, forgive him, and accept my own foolishness in the past. However, it is incredibly difficult. In my heart, I still want to say the things I have never expressed to him before. Perhaps I need to confront these feelings:
I want to say: I hate you! I never really love you even in the past. I hate you. Really-really hate you! You are the worst thing that happened in my life. I hate you!
In conclusion, this unresolved emotion shows how past relationship can linger, affecting our present. While I strive for acceptance and forgiveness, the pain remains a challenge.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
How is your life today? Write three good things and three areas of improvement.
Hidup saat ini baik-baik saja. Meski jauh dari kata ideal bagi standar masyarakat kita, tapi aku tidak peduli. Aku tidak hidup untuk membungkam mulut mereka, karena itu di luar kendaliku jadi aku hanya akan fokus pada hal yang bisa aku kendalikan.
3 hal baik dalam hidupku
1. Masih bisa bekerja
Alhamdulillah masih bisa bekerja walaupun gajinya belum dua dijit ya. Hahaa. Tapi ini masih sangat aku syukuri, karena selain dapat gaji juga pekerjaan ini membantu aku untuk bisa improve skill aku di bagian mengajar dan bahasa Inggris.
2. Tinggal bersama orang tua
Meski selalu ada cek coknya tapi ya begitulah hidup bersama orang tua/keluarga. Aku bersyukur masih bisa tinggal bersama mereka di tengah-tengah perjuangan aku untuk bisa sembuh dari depressive episode.
3. Lingkungan kerja yang suportif
Aku sangat senang dan bersyukur karena lingkungan kerjaku saat ini sangat suportif, tidak saling sikut, dan hanya fokus pada pertumbuhan diri masing-masing. Selain itu, lingkungannya masih saling mengingatkan untuk ibadah.
3 hal yang harus aku tingkatkan
1. Skill bahasa Inggris aku.
Jujur skill bahasa Inggris aku masih mentok di level B1-B2. Mau ke C1 rasanya butuh effort yang besar, tapi aku tetap belajar agar bisa sampai ke level itu. Semangat
2. Belajar tentang sidehustle
Karena gajiku hanya cukup untuk makan, jajan dan kebutuhan pribadi, aku harus putar otak untuk bisa menambah penghasilan aku di jam pagi sampai siang. Saat ini aku sedang mencoba untuk melamar di luar zona nyaman aku: mengajar. Hihiii Semangat juga, Ihat.
3. Rajin olahraga dan makan sayur serta buah
Ini nih, masih harus terus ditingkatkan. Meski tiap pagi suka sepedahan, cuma intensitasnya harus ditambah setiap harinya ya. Biar badan sehat dan melepaskan stres atau emosi-emosi yang membelenggu hehheee. Makan sayur sama buahnya harus sering juga, okay.
Monday, January 19, 2026
![]() |
| Photo by Anna Shvets |
If you didn't have to work anymore, what would you do with your days?*
If I didn't have to work anymore, I would spend my days reading numerous books and writing on my blog. This question reminds me of one of my dreams: becoming a full time mom or housewife after getting married someday. I would quit my job, stay at home, take care of my children, read extensively, and continue writing on my blog. LOL
Besides that, I would take IELTS lessons, create basic English lesson videos, enjoy my mornings and evenings with a cup of coffee, get more sleep, read, and learn Qur'an as much as possible. These activities stem from my dreams and imagination, allowing me to purse personal growth and relaxation.
However, in reality, I love working and I think I can't live without it. For instance, during one- week holiday when I did whatever I wanted, I gradually became bored. Work provides structure and purpose to my life.
In conclusion, while my ideas days would focus on family, learning, and creativity, I value the balance that work brings.
What about you?
*) Brianna Wiest 101 Essays that Will Change the way You Think (p. 140)
![]() |
| Photo by Ricky Esquivel: |
Whom do you admire most, and why?*
The person I admire most is my former co-worker, whom I worked with during my time as a teacher. He embodies qualities such as kindness, firmness, and strong leadership, which have profoundly influenced my professional growth. I respect him deeply because he consistently respects my boundaries and always seeks my permission before taking any actions that might affect me. His guidance has been invaluable, providing me with numerous pieces if advice that helped me navigate challenges.
One aspect I particularly appreciate is his problem-solving approach. He always think carefully before making decisions, and he is not afraid to admit when he cannot do something if he does not fully believe in himself. His words often bring a sense of calm and relaxation, enabling me to face problems with greater confidence. Additionally, he frequently speaks positively about his wife, highlighting how well she treats him, even in front of students. Despite his knowledge, he remains humble and never arrogant. He led me patiently, offering many opportunities without interrupting my progress. When I made mistakes, he discussed them with me thoughtfully, allowing me to reflect and learn independently. This is my first time I have encountered someone so considerate and supportive.
In conclusion, meeting such as an individual has been a rare and inspiring experience. I hope to encounter similar people in the future workplace, as they motivate me to become a better version of myself.
*)Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
Your long-forgotten hobby.
Menulis, membaca dan mendengarkan radio itu adalah hobi yang aku tekuni dari sejak SD sampai sekarang. Lalu hobi apa ya yang aku dulu lakukan dan sekarang udah enggak lagi? Bentar. Harus agak mikir dulu.
Kayaknya ini deh, main ke rumah temen. Iya, dulu pas zaman TK, SD sampai SMA seneng banget tuh main ke rumah temen. Pokoknya mau ngerjain apa-apa harus di rumah temen ampe pernah ikut tidur siang juga di rumah temen. Gak tahu deh, dulu gak betah banget di rumah. Pengennya main mulu, ketemu orang. Kalau sekarang boro-boro. Diajakin ngumpul atau ketemuan sama temen aja malesnya ampun. Mending diem aja di rumah, tidur walaupun diomelin sama orang tua tidur mulu, tapi ya dari pada kelayapan ke luar rumah ketemu orang banyak? No. Big no.
Untuk saat ini aku lebih banyak menikmati waktu ku seorang diri. Gak tahu kenapa, lagi seneng sama diri sendiri aja, lagi anteng. Dulu boro-boro. Habis beres mandi pagi, makan langsung nyamper tetangga. Hahahaa. Meski harus nunggu karena temen masih mandi juga ya aku tungguin aja. Pernah kena omel gegara masih pagi udah nyamper buat main. Wkwkkw. Tapi ya itu aku yang dulu, gak pernah betah di rumah.
Sunday, January 18, 2026
Write about that one movie or book or incident that drastically changed your life.
Dari sekian film ataupun buku yang pernah nemenin aku, tetep hanya satu film dan buku-buku ini yang berhasil mengubah hidup aku: Laskar Pelangi. Film dan juga tetralogi bukunya berhasil membuat aku memiliki sudut pandang yang baru mengenai pendidikan tinggi bagi orang yang kurang secara finansial. Film dan buku ini juga berhasil membakar semangat aku kala aku tengah hampir putus asa untuk bisa berkuliah S1 kala itu karena tidak memiliki biaya. Berbekal cerita Ikal dan kawan-kawan yang bisa berkuliah sampai ke Paris, akhirnya mematahkan omongan orang-orang yang bilang bahwa aku gak bisa kuliah karena kondisi keuangan keluarga yang serba kurang. Namun tidak ada yang mustahil bagi Allah. Selama aku berusaha dan bertekad, akhirnya aku bisa berkuliah. Walau sambil bekerja dan mengambil kelas karyawan, aku sangat mensyukuri momen tersebut. Karena setelah disadari, banyak yang tidak bisa mengenyam pendidikan sampai ke S1.
Buku ini juga yang sampai sekarang terus menginspirasi aku yang masih memiliki mimpi untuk melanjutkan study. Bismillah ya. Jangan pantang menyerah.
Imagine yourself stranded alone in an unknown land. How does it look?
Gak bisa ngebayangin sih gimana jadinya. Terdampar di sebuah negeri yang aku sendiri gak kenal udah pasti langkah pertama yang akan aku cari adalah rumah ibadah. Mau agama apapun itu karena satu hal yang aku yakini, semua rumah ibadah itu adalah aman. Tempat yang aman. Habis itu baru nanya ama orang sekitar mau pake bahasa isyarat sekalipun yang penting ada orang yang bisa dikenal dan bantu kita buat bisa stay di sana atau ke luar dari negeri tersebut. Karena aku bisa bahasa Inggris, bisa ngebantu sih kalau mereka bisa ngobrol Inggris. Dari sini aku mikir, ternyata penting juga buat belajar bahasa lain ya. Walau belajar buat mantepin bahasa Inggris saja aku masih butuh effort yang luar biasa. Ya namanya juga bahasa gak bisa satu hari lu cas cis cus ngomong kan?
Habis itu gimana ya? Entahlah aku juga gak bisa bayangin. Yang jelas dua hal itu yang akan aku lakukan. Hahahaa.
Friday, January 16, 2026
You are allowed to change one thing in your life. What will it be?
Aku ingin kembali ke tahun 2012, tahun di mana aku bisa memilih sekolah impianku dulu. SMAN 1 Tasikmalaya, tanpa takut soal biaya dll.
Nilai sudah mumpuni untuk bisa daftar ke sekolah tersebut, tapi izin dari orang tua? Tidak. Aku tidak mendapatkan itu. Ditambah obrolan orang-orang yang bilang kalau di sekolah tersebut banyaknya anak-anak orang kaya, nanti secara pergaulan aku gak kuat. Belum nanti anak-anaknya pada les ini itu. sementara aku hanya mengandalkan otak dan usaha aku sendiri karena untuk bisa di tahap itu rasanya jauh sekali.
Padahal itu hanya gosip belaka. Belum tentu seperti itu. Dulu aku terlalu nurut sama orang tua. Gak berani ambil resiko, dan menciut soal uang. Tapi ya, nasi sudah menjadi bubur. Mungkin tidak jadi sekolah di sana dan harus bersekolah di tempat lain adalah jalan terbaik dari Allah.
Hanya saja dari pengalaman ini aku jadi belajar, jangan pernah takut ambil kesempatan. Karena gak semua kesempatan datang dua kali dalam hidupmu bukan?
Thursday, January 15, 2026
![]() |
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa
Penulis: Kim Haenam & Park Jongseok
Tahun Terbit: Cetakan keempat, September 2022
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Blurb
"Saat aku dewasa, kupikir aku tidak akan sakit.
Saat aku dewasa, kupikir aku akan menjadi lebih kuat.
Saat aku dewasa, kupikir aku tidak akan terluka.
Aku menulis buku ini sebagai pedoman dan tali penghubung bagi jiwa yang sakit.
Aku menulis buku ini untuk membagi pengetahuan dan ceritaku kepada orang-orang yang bermasalah dengan kesehatan mental mereka dan menderita karenanya, serta bersama-sama menemukan jawabn dari pertanyaan, 'Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?'
Jika cara ini bisa menyembuhkan mereka atau menjadi sinar terang untuk membuka pintu harapan, tidak ada yang lebih kuharapkan dari itu." - Kim Haenam
Tiga Ingsight Utama
1. Di balik rasa ingin mati, mungkin terdapat keinginan yang sangat dalam untuk hidup. (p. 38)
2. Rawatlah diri Anda sendiri seperti orang lain merawat Anda, maafkanlah diri sendiri seperti orang lain memaafkan Anda. Ini adalah langkah awal untuk keluar dari penderitaan agar bisa berdamai dengan diri Anda dan memiliki pola pikir bahwa Anda bisa berbahagia seperti orang lain. (p. 67)
3. Anda harus berlatih untuk tidak hidup agar dibanggakan oleh orang lain, melainkan oleh diri sendiri.
Seberapa pun besarnya pengaruh orang lain di hidup Anda, mereka adalah orang lain. Inti dari kehidupan saya adalah diri saya sendiri. (p. 103)
Refleksi Pribadi
Tidak menyangka, buku yang aku ambil secara random di rak toko buku Gramedia ini ternyata banyak memberikan ilmu baru mengenai kesehatan mental serta bagaimana cara menanganinya. Buku ini disajikan dalam bentuk cerita-cerita dari pasien yang memiliki gangguan kesehatan yang berbeda. Membaca buku ini seperti sedang bercerita seorang diri kepada psikiater langsung. Selain itu, saran-saran praktisnya bikib aku jadi sadar bahwa masalah kesehatan mental itu bisa diatasi step by step, tanpa perlu malu atau merasa sendirian. Buku ini juga rasanya kayak temen ngobrol yang ngingetin kalau hidup itu masih ada harapan, dan aku jadi lebih berani buat ngobrolin perasaan sendiri ke orang terdekat. Buku ini bener-bener eye-opening banget dan aku merasa lebih kuat setelah membaca buku ini. Di lain kesempatan aku harus mencoba untuk menerapkan ilmu-ilmu yang ada di buku ini.
Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.
Write about your pet or write about a pet you always wanted.
Ngomongin soal pet, dari dulu pengen banget punya kucing tapi sayangnya tubuh aku menolak itu semua. Kenapa? Karena tiap main ama kucing tetangga pulang-pulang ke rumah mata gatal, hidung berair, dan bersin-bersin. Iyap, aku alergi sama bulu kucing.
Suatu ketika pernah ketika aku berkunjung ke rumah teman untuk mengerjakan tugas kuliah. Di rumah temanku banyak kucing. Awalnya masih biasa aja ya, sampai beberapa menit kemudian bersin-bersin, hidung gatal, mata merah berair. Boro-boro bisa mengerjakan tugas, yang ada aku udah kewalahan sama alergi aku sendiri. Gak lama aku pamit pulang aja daripada terus menerus menyiksa diri berada di lingkungan yang ada kucingnya banyak.
Kalau sekarang mungkin daripada memaksakan diri pengen punya kucing, kayaknya aku pengen punya kolam ikan yang di dalamnya banyak banget jenis ikan. Tapi hiu gak termasuk ya. Apalagi paus, gak muat kolamnya wkkw. Aku bercita-cita kalau nanti Allah izinkan aku banyak duit, aku pengen beli kolam ikan aja, biar kalau lagi suntuk bisa duduk di pinggir kolam sambil merhatiin ikan-ikan yang lagi berenang ke sana - ke mari.
Wednesday, January 14, 2026
![]() |
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Personal Finance 101
Penulis: Philip Mulyana
Tahun Terbit: Cetakan kedua, Maret 2025
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Blurb
Salah satu kenyataan yang baru kita sadari setelah dewasa adalah betapa sulitnya mengelola keuangan. Gaji pas-pasan, habis. Gaji besar, habis juga. Jangankan untuk investasi, untuk dana darurat pun nggak ada. Bokap gue mengalami itu. Setelah melihat sendiri bagaimana bokap kesulitan mengatur keuangan, gue malah mengulangi kesalahan beliau. Itulah alasan kenapa gue menulis buku ini. Gue nggak mau kesalahan ini terulang lagi pada kalian.
Di dalam buku ini, gue bakal ngebahas hal-hal yang harus kalian tahu tentang personal finance. Gue bakal bagikan ilmu yang sudah gue pelajari selama bertahun-tahun menjadi financial content creator. Mulai dari gimana caranya naikin penghasilan (making more money), gimana caranya mengelola keuangan (managing the money), sampai gimana caranya mengembangkan uang yang sudah ada (growing the money).
Gue harap buku ini bisa membantu kalian menghindari kesalahan-kesalahan yang fatal terkait personal finance. Gue udah pernah mengalami kesalahan-kesalahan itu dan "biayanya" sangat mahal. Baca buku ini dan praktikkan ilmunya. Kehidupan kalian akan lebih aman dan nyaman.
Tiga Insight Utama
1. Bekal terpenting unutk meningkatkan penghasilan adalah keberanian mengambil kesempatan. (p. 7)
2. Instant gratification. Lo lebih memilih kebahagiaan instan dibanding jangka panjang. Padahal kebahagiaan instan belum tentu baik untuk hidup lo ke depannya. (p. 59)
3. Lalu banyak juga yang gak bisa membedakan needs & wants (kebutuhan dan keinginan). Rentan terhadap impulsive buying. (p. 61-64)
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini seperti mendapatkan pencerahan baru mengenai cara mengelola keuangan. Dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat aku sebagai pembaca mulai bisa memahami langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengelola keuangan. Tidak hanya membahas soal mengelola keuangan saja sih, cara kita memandang uang, karier, bisnis, semua dibahas di buku ini secara ringkas dan mudah dimengerti. Tiga insight utama itu benar-benar menjadi insight baru buat aku karena buat bisa making more money ya berani untuk mengambil kesempatan, menjemput bola. Terlepas nanti hasilnya bagiamana setidaknya kita sudah mencoba bukan?
Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kamu yang sedang belajar mengelola keuangan, atau ingin memiliki freedom financial di usia tertentu. Kamu bisa membaca buku ini untuk menambah pengetahuan dan mendapatkan insight-insight baru terkait mengelola keuangan.
Tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini https://aff.gramedia.com/s/eHRysHUQGS
Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.
Write your goals for the next 1 month
Gak muluk-muluk dan gak besar juga sih. Cukup simple tapi aku tahu gak semua orang juga bisa. Goals aku di satu bulan kedepan adalah sering nulis di blog, satu hari satu tulisan, bisa baca minimal 2 buku. Buku apapun itu. Bebas yang penting bisa beres dibaca. Sama rajin olahraga pagi. Mau jalan kaki, sepedahan, lari apapun itu yang penting gerak di pagi hari.
Entahlah untuk saat ini aku gak punya target yang besar-besar. Semuanya aku coba runut menjadi hal-hal kecil yang bisa aku lakukan setiap hari tapi konsisten. Nah ini sih, di konsistennya. Karena untuk bisa konsisten kan gak melulu soal mood gak mood. Mau dalam keadaan apapun yang tetap dikerjakan karena itu sudah komitmen dengan diri sendiri. Ini sih terutama modalnya disiplin juga ya.
Yah gitu sih gak muluk-muluk. Kelihatannya mudah, tapi gak semua orang bisa melakukannya dengan konsisten kan? Huhuuu
Tuesday, January 13, 2026
Hai readers! Maaf terlambat untuk menulis reklefsi minggu kemarin. Aku sakit dari hari Sabtu kemarin. Alhamdulillahnya sekarang sudah membaik.
Hari Sabtu lebih tepatnya. Sabtu shubuh, tiba-tiba aku sakit perut tak tertahankan. Langsung pergi ke Puskesmas diantar Bapak dan setelah diperiksa ternyata aku didiagnosis gejala usus buntu. Aku menghela napas panjang. Yallah, apalagi ini?
Aku berjalan gontai menuju tempat parkir begitu selesai pemeriksaan. Rasa sakit di perutku masih terasa, tapi masih bisa ku tahan.
Kalau sudah gak kuat nahan sakitnya, langsung ke IGD saja.
Terngiang-ngiang suara dokter di telingaku dan segera ku tepis. Amit-amit sampai dibawa ke IGD.
Selama perjalanan pulang ke rumah aku terus mikir. Ini kok tiba-tiba sakit begini ya? Habis makan apa? Padahal makan pedes suka dikit, udah dikurangi levelnya. Apa jangan-jangan karena keseringan kali ya? Ditambah jarang makan sayur dan buah. Ya sudahlah. Aku terdiam dan mengakui bahwa aku salah.
Begitu sampai rumah, aku langsung makan bubur lalu minum obat. Beberapa menit setelah itu rasa sakit kembali lagi datang menyerang bahkan sampai muntah. Hampir di hari itu apa yang aku makan kembali lagi dimuntahkan. Malamnya ketika akan tidur, aku melihat ke langit-langit kamar.
Ya Allah, aku gak mau mati karena aku sakit ini. Aku mau sembuh, aku mau sehat.
Tiba-tiba aku terdiam lagi. Hah? Serius? Bukannya beberapa minggu lalu dipikiran kamu hanya ada kalimat gimana caranya mati?
Tak lama dari itu, air mata menetes. Enggak Ya Allah, aku masih mau hidup, masih mau melakukan banyak hal, tolong angkat penyakit ini, jangan biarin aku mati.
Sampai akhirnya aku tertidur, walau sedikit-sedikit terbangun karena rasa sakitnya masih terasa seperti ditusuk-tusuk jarum.
Pada awalnya, aku udah ngeluh kayak kenapa sih, Allah kasih aku ujian lagi? Belum juga selesai masalah mental aku, sekarang fisik aku juga kena. Aku capek. Tapi setelah sadar aku jadi berpikir, ternyata dengan didatangkannya rasa sakit ini justru muncul semangat baru dalam hidup agar aku sehat dan bisa hidup lebih lama.
Yah begitulah. Intinya harus back to real food, forget fast food and friends.
See you!
Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.
Write about the three most important people you’ve ever met
Ini harus banget tiga ya. Okay. Aku akan menulis tiga orang ini berdasarkan nama-nama yang muncul begitu aja di kepala dan mempengaruhi cara pandang aku soal hidup.
1. Pak Mus (Mantan Rekan Kerja sekaligus Atasan Aku)
Hidup aku mulai jungkir balik dengan segala perspektif baru setelah beliau menunjuk aku untuk menjadi Pembina OSIS. Luar biasa darderdor nya dengan aku yang minim ilmu mengenai leadership. Berbekal pengalaman berorganisasi selama di sekolah dulu dan di pondok satu persatu bisa dilalui. Satu hal yang selalu aku ingat dari perkataan beliau setiap kenyataan tak sesuai dengan harapan adalah,
"Gak apa-apa Bu. Kita cuma bisa berencana, semua yang terjadi itu di luar kuasa kita."
Atau,
"Gak apa-apa, Bu. Gak harus nunggu sempurna buat mulai. Yang penting mulai aja dulu, nanti kurangnya dievaluasi dan diperbaiki."
Dari sana perlahan aku belajar untuk lebih legowo tentang hidup. Mau sehebat apapun kita merancang, tetap ada yang lebih Maha Hebat lagi, yaitu Allah. Jadi setelah banyak berusaha dan berdoa, sisanya serahkan ya.
2. Bu Risma
Teman, sahabat, sekaligus alarm aku tentang akhirat heheheee. Dari dia aku belajar bahwa saat terjadi sesuatu yang tidak sesuai perbanyak istighfar, deketin Allah, minta sama Allah, jangan jauh sama Allah. Pokoknya apa-apa Allah dulu, Allah lagi, Allah terus lah gitu. Yang selalu menyemangati aku di kala aku sedang down. Atau dia akan mengajak kita untuk merenung sejenak alih-alih banyak scrolling gak jelas. Selain itu kadang kalau aku lagi grasak-grusuk gak jelas dia akan mengingatkan aku untuk lebih bersabar lagi.
"Sabar, Ceu. Gak usah buru-buru. Mau ke mana sih?"
3. Kak Anwar
Pertama kali bertemu di English Volunteers, orang yang peka banget sama perasaan orang, orang yang untuk pertama kalinya tiba-tiba nyuruh aku nangis, mengingatkan aku kalau lagi gak baik-baik aja dan jangan semunya dipendam sendiri. Awalnya tersinggung sih, kayak ngapain sih nih orang baru aja kenal udah sok tahu hahahaaa. Tapi lambat laun memang aku sedang tidak baik-baik saja dan selalu berusaha untuk terlihat kuat padahal sebenarnya udah mulai hancur dari dalam.
Teman mengobrol untuk hal-hal random sampai hal-hal yang harus dipikirin. Apalagi semenjak didagnosis depressive episode aku serasa punya teman untuk sama-sama mengobrol hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh orang gila wkwkwk. Perspektifnya soal hidup membuat aku bisa memiliki harapan baru lagi, apalagi dia sering jalan-jalan ke luar negeri bikin aku mikir,
"Ok, aku gak mau mati sekarang. Aku pengen bisa jalan-jalan ke luar negeri kayak dia."
Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.
Write a letter to a close friend that you lost contact with
Dear Silmi,
Kamu apa kabar? Udah lama banget ya kita gak ketemu. Terakhir ketemu ya waktu kita masih TK. Meski begitu aku akan selalu mengingat kamu karena kamu orang baik dan orang yang pertama kali mengajak kenalan denganku ketika aku masih malu menjadi murid baru.
Kamu di mana sekarang? Kira-kira kalau kamu ketemu aku, kamu bakal ingat aku enggak? Kalau kamu lupa kayaknya aku bakal nangis sih. Hahahaaa.
Aku ingat banget gimana kamu suka traktir aku jajan susu karena uang bekal aku sedikit. Atau kamu bagi makanan kamu sama aku. Main bareng sepulang sekolah, sampai aku ingat banget waktu Mamah kamu datang buat jenguk Mamah aku yang pada saat itu sama-sama sedang mengandung.
Oh iya, terakhir aku dengar, Mamah kamu sudah tidak ada. Aku sedih mendapat kabar itu. Bagaimana pun, Mamah kamu itu baik banget sama aku.
Gak banyak yang ingin aku sampaikan sama kamu, aku cuma pengen bilang aku rindu dan ingin bertemu. Semoga kamu di sana sehat dan bahagia ya!
Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.
What is the biggest lesson you learned till now?
"Jangan jadi gak enakan. Nanti malah ditindas orang seenaknya."
"Jangan apa-apa iya-iya terus. Sesekali harus belajar bilang "enggak."
"Jangan membenani diri sendiri dengan kata iya, kalau gak sanggup bilang daripada menyiksa diri."
Dari beberapa teman dekatku selalu saja bilang begitu. Aku tahu dan aku kenal diriku yang begitu people pleasure sampai apapun yang diminta orang aku turuti dan aku terima.
Sampai suatu ketika pernah rekan kerjaku yang sudah agak kesal denganku langsung menolak beberapa pekerjaan yang tadinya akan diberikan padaku. Aku hanya melongo pada saat itu. Dari sana aku berpikir, orang lain aja bisa paham kalau kamu itu sudah kesulitan dan tak perlu lagi menambah beban, lalu kenapa diri kamu sendiri yang selalu mengiyakan keinginan mereka semua?
Semenjak kejadian itu aku mulai belajar untuk berkata tidak. Meski di awal rasanya gak enak ya tapi justru bikin lega. Makin ke sini makin belajar lagi untuk memprioritaskan diri sendiri. Karena aku paham aku gak bisa terus bergantung sama rekan kerjaku itu untuk membelaku berkata tidak.
Dan sampai sekarang aku masih belajar soal ini. Aku menikmati prosesnya sampai suatu hari nanti aku akan terbiasa bilang tidak pada sesuatu yang aku sendiri tidak sanggup mengerjakannya. Karena pada akhirnya kita gak bisa menyenangkan semua orang kan?
Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.
Write about a friend who never left your side.
Her name is Dede Kharisma.
"Ceu, kamu teh harus banyak istighfar geura."
"Ceu, bangunin aku ya jam 9. Nanti aku pulangnya jam 9."
"Ceu, euleuh kamu sakit apa? Mau dibeliin bubur gak? Nanti pulang sekolah aku ke kosan kamu."
"Ceu, anter aku ke klinik yuk. Aku lagi gak enak badan."
"Ceu, ke Selasih yuk."
Dan banyak sekali ungkapan-ungkapan yang selalu ia lontarkan diawali dengan kata Ceu, yang artinya Kakak Perempuan.
Berteman dekat selama tiga tahun ketika aku merantau di Bandung membuat aku merasa merasa she's not only my best friend, but also my sister. Rasanya kayak udah jadi sama saudara jauh aja gitu. Bersama dia aku berani menjadi diri aku sendiri, berani cerita apa saja. Walau sering banget berantem, rebutan apapun itu, dan saling menjaili, tapi aku sayang sama sahabatku yang satu ini.
Hal yang paling aku suka adalah caranya yang hanya banyak diam selama aku bercerita. Karena dia faham, aku hanya butuh didengarkan saja. Meski kadang dibuat kesal karena ujung-ujungnya dia malah tertidur pulas meninggalkan aku yang masih nyeroscos sendirian. Walau begitu ya pada akhirnya aku bisa tertidur pulas dan lupa membangunkan dia di jam sembilan malam. Alhasil dia harus pulang pagi buta sebelum berangkat ke sekolah.
Pernah suatu ketika pada saat aku sedang sakit, dia rela tidur di kosan demi bisa merawatku. Apa-apa diambilin sama dia, diurusin sama dia.
Mungkin masa kami bersama-sama hanya diberikan tiga tahun. Meski begitu dia tetap jadi sahabatku di mana pun kita berada.
Monday, January 12, 2026
![]() |
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Broken Strings
Penulis: Aurélie Moeremans
Tahun Terbit: 2025
Tiga Insight Utama
1. Ia berdiri di atasku dan berkata tenang, "Kalau aku memukulmu dengan Alkitab, maka rasa sakitmu itu urusan Tuhan."
Ia membuatnya suci. Ia membuatnya benar. Ia membuatnya seolah kesalahanku. (p.169)
2. Mamaku menangis. Papaku hanya menggeleng berulang kali. Keduanya merasa gagal. Tapi mereka berjanji, mulai sekarang, mereka akan menebus semuanya. "Nggak ada lagi rahasia," kata mereka. "Katakan semuanya. Jangan tanggung sendiri." (p. 189)
3. Aku menginginkan keadilan, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk semua gadis yang pernah terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak dipercaya siapapun. Aku ingin menunjukkan bahwa monster bisa terlihat menawan, bahwa kejahatan bisa tersenyum, dan bahwa bertahan hidup itu tidak selalu indah.
Tapi aku belajar cepat, bahwa keadilan bukan jaminan. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa dipihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu. Mungkin suatu hari keadaan akan berubah. Tapi saat itu, begitu keadaannya. Jadi aku biarkan saja orang-orang percaya apapun yang mereka mau. (p.196-197)
Refleksi Pribadi
Hanya butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan memoar yang ditulis oleh artis Aurélie ini. Selama membacanya emosiku serasa diaduk-aduk, ingin mengumpat, marah, sekaligus muak dengan lelaki modelan Bobby. Ditambah sok suci bawa-bawa ajaran agama, padahal kelakuannya udah gak beda jauh sama iblis. Buku ini membuatku sadar, betapa manipulasi bisa tampil sangat rapi, bahkan tampak "suci" di permukaan.
Aku jadi teringat bagaimana aku memiliki teman dekat yang mendapatkan perlakuan yang sama dari pacarnya dulu. Tapi dia enggan bercerita secara detail pada saat itu. Yang aku ingat adalah waktu mata dia bengkak berwarna ungu, kemudian ketika aku tanya alasannya kenapa dia memilih menjawab tidak sengaja nabrak potral di jalan dekat kosannya. Aku mulai mikir, ya kali nabrak portal bisa ampe lebam gitu matanya yang sebelah. Mulai merasa ada yang aneh, pada saat itu aku laporan saja kepada atasan aku. Dari sana baru terbongkar, kalau selama ini sudah terjadi kekerasan baik fisik maupun verbal kepada teman dekat aku itu. Aku masih ingat jelas bagaimana tubuhnya gemetar dan air matanya jatuh satu per satu saat ia menceritakan semuanya. Meski tidak detail, namun beberapa poin yang teman aku sampaikan cukup membuat kami yang mendengarnya naik pitam. Kami meminta dan menyarankan agar dia mau membawa kasus itu ke ranah hukum. Sayangnya, kekerasan memang sering kali meninggalkan luka yang sulit dibuktikan. Bukti lebam itu sudah hilang, dan kasusnya pun tak bisa dilanjutkan.
Aku masih ingat, karena aku pernah ikut tidur di kosannya, aku merasa aneh dengan kelakuan teman ku itu. Dia tidak bisa jauh-jauh dair hp, bahkan pada saat kuotanya habis ribut minta tethering data kepadaku. Tidur sambil telfonan gitu, alias sleep call. Dan pernah bilang, kalau cowoknya itu overprotective dan beberapa kali aku juga bilang untuk putus aja dari dia. Tapi sayangnya selalu ada alasan: cinta, kasihan, janji berubah, rasa bersalah. Hingga akhirnya bogem mentah itu mendarat ke wajah cantiknya dan ternyata itu bukan pertama kalinya. Belum lagi hutang-hutang si cowok itu yang menggunung ke temen aku.
Aku gak tahu sih perkaranya udah selesai apa belum. Aku hanya berharap temanku sudah aman, merdeka, dan tak lagi menanggung beban yang bukan miliknya. Terakhir berkabar sih si cowoknya udah mulai nyicil bayar hutang-hutangnya. Ya, semoga hutang-hutang itu lunas. Bukan hanya secara materi, tetatpi juga secara batin.
Setelah baca buku ini aku jadi faham, mungkin itu ya yang dimaksud dengan temanku dulu. Alasan berpisah susah dan malah balik lagi-balik lagi ke orang yang menyakitinya. Buku ini juga membuka mataku bahwa hubungan abusif bukan sekedar soal kekerasan, tetapi juga soal jerat psikologis yang perlahan mengikis nalar dan harga diri korban.
Refleksi terbesarku setelah membaca buku adalah: jika di sekitar kita ada orang yang terjebak dalam hubungan yang seperti ini, tolong jangan buru-buru menghakimi. Yang mereka butuhkan bukan ceramah, tapi ruang aman. Aku sangat salut pada orang tuanya Aurélie yang memberikan dukungan penuh. Dukungan semacam itulah yang sering kali menjadi satu-satunya tali penyelamat.
Dari buku ini juga aku jadi belajar pola orang-orang manipulatif, bahkan ini seperti memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder. Kalau udah ada tanda-tanda begitu: merendahkan, mengontrol, memutarbalikkan fakta, membuat kita merasa bersalah atas luka yang mereka ciptakan, mungkin memang satu-satnunya jalan adalah cut off. Kejam sih, tetapi karena kita juga harus selamat dari orang-orang modelan begini.
Terima kasih Aurélie sudah berani menuliskan kisahmu itu. Melalui ceritamu itu aku jadi belajar mengenali lelaki yang harus dijauhi, belajar memahami kompleksitas luka para korban, dan yang terpenting adalah belajar untuk berempati. Buku ini bukan hanya sekedar bacaan, tapi peringatan sekaligus pengingat bahwa kekerasan tidak selalu datang dengan wajah garang. Kadang ia datang dengan kata-kata manis dan topeng beratasn namakan "Tuhan."
Sunday, January 11, 2026
Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.
What is one thing you regret very badly and cannot change?
Kalau ditanya pertanyaan ini aku akan jawab soal audisi penyiar radio vs sekolah.
When I was in junior high school, I applied a radio announcer. Radio announcer cilik gitu, buat yang masih sekolah. Hari itu inget banget, lagi libur semester kan jadi aku bisa ikut audisinya langsung ke tempat. Udah sampe ke tahap interview, kemudian si penyiarnya nanya,
"Kalau nanti lolo dan hari Minggu harus ikut kelas radio bisa?"
Aku diam sejenak. Rasanya galau. Kenapa galau? Ya karena dulu sekolah aku liburnya Jumat dan Minggu itu masuk. Lalu, udah pasti orang tua gak ngizinin karena harus mengutamakan sekolah. Dengan berat hati aku jawab,
"Aku sekolah kak kalau hari Minggu. Jadi sepertinya gak bisa."
Si kakak penyiar radio itu hanya bisa manggut-manggut sambil menulis di kertas. Udah pasti gak akan keterima. Batinku.
Acara berlangsung sampai siang. Dan begitu diumumkan iya, aku tidak lolos.
Aku pulang dengan langkah yang gontai. Sedih? Tentu! Begitu sampai rumah dan cerita kepada orang tua, orang tua tidak banyak komentar. Kalau aku ingat-ingat ya, keputusan itu aku ambil berdasarkan perspektif aku sendiri. Padahal jika didiskusikan dengan orang tua, sepertinya aku akan diizinkan. Dan sekolah akupun pastinya akan mengizinkan juga.
Aku dulu terlalu takut untuk keluar dari zona aman. Aku terlalu takut akan nilai rapor aku yang jelek, kemudian dikomentari oleh teman-teman karena izin tidak masuk di hari Minggu. Hei! Padahal itu semua hanya terjadi di isi kepalamu bukan? Tidak terjadi di dalam kehidupan nyata?
Aku tahu, aku gak bisa merubah tentang hari itu. Tapi dari kejadian ini, aku mengambil hikmahnya. Jangan pernah takut untuk mengambil kesempatan yang ada di depan mata. Selama itu positif, gak apa-apa kan?
Thursday, January 08, 2026
Difficult relationship often push you to change your behavior for the better. In feeling helpless, you learn to take care of yourself. In feeling used, you recognize your worth. In being abused, you develop compassion. In feeling like you're stuck, you realize there is always a choice. In accepting what was done to you, you realize that nobody has control at the end of the day, but in surrendering the need for something we'll never have, we can find peace, which is what we were actually seeking in the first place.
-Brianna Wiest-*
Menulis ini butuh tarikan nafas yang panjang. Mengumpulkan semua memori yang berantakan dan menjadikannya runut tapi rasanya masih sama: ada sedikit rasa sakit yang tertinggal di sana.
Hai!
Lo apa kabar? Selamat atas pernikahan lo ya. Lo kaget gak waktu gue datang ke nikahan lo? Gue masih inget, alis lo terangkat sambil menahan diri agar tetap tenang walau sebenarnya lo pasti kaget dan gak nyangka gue bakal hadir kan? Untungnya gue gak nyanyi, harusnya aku yang di sana dampingimu dan bukan dia. Kalau gue nyanyi itu, kira-kira perasaan lo gimana?
Gue tahu, gue banyak mendem dan gue gak marah sama lo pada saat itu. Harusnya dulu gue marah dan terus mempertanyakan semua ke lo sampai akhirnya lo memberikan keputusan yang jelas. Tapi sayangnya lo malah banyak menyangkal dan bilang udah gak perlu ada yang dibahas lagi. Lo gimana sih? Lo yang mulai, ngasih harapan, tiba-tiba ninggalin, terus balik lagi seolah gak terjadi apa-apa. Lo kira gue ini tempat parkir yang bisa didatangi dan ditinggali gitu aja?
Begonya, gue dulu manut-manut aja dan menganggap bahwa gua yang terlalu berharap sama lo. Nyantanya lo yang salah! Lo yang duluan ngasih harapan ke gue, bilang kalau lo punya harapan ke gue biar gue bisa nemenin lo terus. Kan kamvret!
Otak lo di mana sih? Kok lo sejahat itu? Mau segimana pun lo dikagumi banyak orang, dipuja banyak orang, dihormati, bagi gue lo tetep orang jahat yang ngasih harapan seenak jidat terus pergi tanpa ngasih closure yang jelas. Wait! Bukannya pergi itu caranya lo ngasih closure kan? Tapi lo harusnya tutup juga cerita yang udah lo buat dengan kata-kata jelas: SELESAI!
Kemaren waktu gak sengaja ketemu, kenapa lo langsung diam gitu aja waktu lihat gue? Lo masih ngerasa punya salah ya? Harusnya lo tuh selesaikan dulu sebelum married. Bilang sama gue udah ya, udahan. Sampai sini aja. Gak usah temenin gue lagi. Kan selesai.
Gue tahu, gue masih kesel sama lo, masih marah sama lo, pengen banget maki-maki lo, tapi ya gak ada gunanya sekarang. Harusnya gue habisin semua amarah dan kata-kata gue dulu: waktu gue maksa dan nanya tentang kepastian kita. Gue dulu goblok sih nurut-nurut aja sama kata-kata manipulatif lo.
Gue cuma pengen bilang sama lo, semoga lo gak lupa sama gue karena lo sendiri yang buat kesalahan dan lo gak minta maaf. Lo yang berani mengawali tapi lo terlalu pengecut buat menutup ceritanya. Gue cuma mau belajar buat maafin diri gue di masa lalu yang bodohnya mau-mau aja terima tawaran lo. Gue cuma mau maafin diri gue yang bertahun-tahun galauin lo, yang lo sendiri aja malah ke sana ke mari nyari cewek lain.
Gue nyesel ketemu sama lo, tapi gue bersyukur gak jadi sama lo. Karena kalau gue sama lo, belum tentu gue bisa sebebas sekarang pergi ke sana - ke mari, ketemu orang-orang yang lebih keren dari lo, dan mewujudkan mimpi-mimpi gue yang sempat tertunda.
Makasih udah jahat sama gue!
*)101 Essays That Will Change The Way You Think (p. 169)
Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.
What fascinates you about life and people around you?
Aku selalu tertarik dengan masa depan. Kira-kira apa ya yang akan terjadi pada kehidupan ku selanjutnya? Lalu bagaimana dunia ini dengan segala kemajuan teknologinya? Meski mau secanggih apapun tetap tak ada yang bisa membuat waktu berhenti sejenak, pindah ke masa lalu, atau pergi ke masa depan.
Aku selalu tertarik juga dengan kehidupan orang yang berbeda-beda. Bagaimana mereka memulai hari di pagi hari, menjalani hari, hingga menutup hari mereka. Aku selalu takjub saja dengan seluruh perbedaan yang ada di dunia ini.
Semenjak berteman dengan depresi, aku jadi menyadari banyak hal yang selama ini aku lewatkan begitu saja. Misal segarnya udara di pagi hari, hangatnya sinar mentari pagi, hiruk pikuk orang-orang di pagi hari yang berbeda-beda.
Sejujurnya topik ini agak berat ya menurutku. Terlebih untuk kondisi aku saat ini yang belum benar-benar pulih. Untuk bisa mendapatkan spark dalam hidup ini aku harus mencoba banyak hal yang selama ini tak pernah aku lakukan. Tak seperti dulu, hal apapun bisa menjadi sumber inspirasi. Kini agak susah ya, tapi aku yakin aku bisa keluar dari situasi ini dan kembali melihat dunia dengan segala warna dan rasanya.








Social Media
Search