Day 13 #30DaysWritingChallenge

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

Write about the three most important people you’ve ever met

Ini harus banget tiga ya. Okay. Aku akan menulis tiga orang ini berdasarkan nama-nama yang muncul begitu aja di kepala dan mempengaruhi cara pandang aku soal hidup. 

1. Pak Mus (Mantan Rekan Kerja sekaligus Atasan Aku)

Hidup aku mulai jungkir balik dengan segala perspektif baru setelah beliau menunjuk aku untuk menjadi Pembina OSIS. Luar biasa darderdor nya dengan aku yang minim ilmu mengenai leadership. Berbekal pengalaman berorganisasi selama di sekolah dulu dan di pondok satu persatu bisa dilalui. Satu hal yang selalu aku ingat dari perkataan beliau setiap kenyataan tak sesuai dengan harapan adalah,

"Gak apa-apa Bu. Kita cuma bisa berencana, semua yang terjadi itu di luar kuasa kita."

Atau,

"Gak apa-apa, Bu. Gak harus nunggu sempurna buat mulai. Yang penting mulai aja dulu, nanti kurangnya dievaluasi dan diperbaiki."

Dari sana perlahan aku belajar untuk lebih legowo tentang hidup. Mau sehebat apapun kita merancang, tetap ada yang lebih Maha Hebat lagi, yaitu Allah. Jadi setelah banyak berusaha dan berdoa, sisanya serahkan ya.

2. Bu Risma 

Teman, sahabat, sekaligus alarm aku tentang akhirat heheheee. Dari dia aku belajar bahwa saat terjadi sesuatu yang tidak sesuai perbanyak istighfar, deketin Allah, minta sama Allah, jangan jauh sama Allah. Pokoknya apa-apa Allah dulu, Allah lagi, Allah terus lah gitu. Yang selalu menyemangati aku di kala aku sedang down. Atau dia akan mengajak kita untuk merenung sejenak alih-alih banyak scrolling gak jelas. Selain itu kadang kalau aku lagi grasak-grusuk gak jelas dia akan mengingatkan aku untuk lebih bersabar lagi. 

"Sabar, Ceu. Gak usah buru-buru. Mau ke mana sih?"

3. Kak Anwar

Pertama kali bertemu di English Volunteers, orang yang peka banget sama perasaan orang, orang yang untuk pertama kalinya tiba-tiba nyuruh aku nangis, mengingatkan aku kalau lagi gak baik-baik aja dan jangan semunya dipendam sendiri. Awalnya tersinggung sih, kayak ngapain sih nih orang baru aja kenal udah sok tahu hahahaaa. Tapi lambat laun memang aku sedang tidak baik-baik saja dan selalu berusaha untuk terlihat kuat padahal sebenarnya udah mulai hancur dari dalam. 

Teman mengobrol untuk hal-hal random sampai hal-hal yang harus dipikirin. Apalagi semenjak didagnosis depressive episode aku serasa punya teman untuk sama-sama mengobrol hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh orang gila wkwkwk. Perspektifnya soal hidup membuat aku bisa memiliki harapan baru lagi, apalagi dia sering jalan-jalan ke luar negeri bikin aku mikir, 

"Ok, aku gak mau mati sekarang. Aku pengen bisa jalan-jalan ke luar negeri kayak dia."


Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi