Refleksi Diri

Wednesday, June 17, 2026

Hari ini, tanpa rencana apa pun, seorang teman tiba-tiba mengajakku ikut acara reuni SMP. Sempat ada ragu, tapi akhirnya aku mengiyakan dan buru-buru mengganti baju.

Setibanya di sana, aku kembali bersua dengan wajah-wajah lama dari masa remaja. Kebanyakan dari mereka kini sudah menikah. Namun, hal yang paling menyentuh hatiku malam ini adalah sikap mereka: tidak ada satu pun yang menyudutkan aku atau temanku karena status kami yang belum menikah. Ada kehangatan yang tulus, sebuah penerimaan tanpa penghakiman.

Malam ini aku disadarkan kembali, bahwa setiap orang benar-benar memiliki garis waktunya masing-masing. Hidup ini tak pernah seindah apa yang dipamerkan di etalase media sosial.

Aku jadi teringat, dulu aku pernah berkata bahwa aku enggan datang ke acara reuni. Aku takut dihakimi, takut diberondong pertanyaan-pertanyaan yang sensitif. Namun faktanya? Kekhawatiran itu hanya riuh di dalam kepalaku sendiri. Nyatanya, realitas tak pernah semenakutkan apa yang kita bayangkan. Kita hanya perlu melangkah dengan hati yang santai.

Setiap manusia diuji dengan porsinya masing-masing. Tidak ada yang berhak merasa menjadi "si paling" dalam hidup ini. Semuanya sudah tertakar sempurna oleh-Nya, dan tidak akan pernah tertukar.

Btw, thanks Inaa for inviting me tonight. Kamu menuntun langkahku keluar dari ketakutan. Malam ini, aku pulang dengan harapan baru dalam memandang hidup. Ternyata, masa depanku tak semenakutkan yang sempat kurisaukan. Everything is gonna be okay.

Saturday, May 30, 2026

Selamat merayakan Iduladha 1447 H bagi kamu yang merayakan!

I’m so grateful with this Eid. Entah mengapa, kali ini aku merasakan seperti ada beberapa cahaya yang menyinari hatiku. Cahaya yang mengembalikan diriku seperti sebelumnya: an initiator in my family. Aku kembali memiliki ide dan energi untuk merayakan Iduladha ini, walau mungkin tidak seberapa. Kondisi ini sangat berbeda dengan diriku saat Idulfitri lalu, di mana aku lebih banyak diam ketimbang menginisiasi perayaannya.

Semuanya bermula ketika aku ingin membuat BBQ-an (dibandingkan bikin sate seperti biasa), sekaligus tetap ingin makan kupat dan opor ayam. Saat mengobrol, Mamah bercerita dan meminta maaf karena tidak bisa memasak menu tersebut dikarenakan keuangan keluarga yang sedang menurun.

Mendengar itu, muncullah inisiatifku untuk mengajak adikku yang sudah sama-sama bekerja untuk udunan (patungan). Biasanya, akulah yang selalu menanggung semuanya sendirian. Jujur saja, selama ini terkadang di dalam hati suka ada rasa kesal sedikit. Tapi dari momen ini aku tersadar: rasa kesal itu muncul hanya karena aku tidak mengomunikasikannya dengan baik. Adikku tipe orang yang memang harus dikasih tahu, bukan seperti aku yang mudah terenyuh dan cepat paham situasi. Dan ternyata, saat diajak udunan dia mau-mau saja tanpa keberatan.

Momen ini mendadak mengingatkanku pada sebuah kutipan buku yang sangat menampar:

"Jika kita menginginkan sesuatu dari orang lain, hal kecil sekalipun, kita harus memberitahu mereka yang sebenar-benarnya. Pengertian dan perhatian, hal apa pun yang menyangkut ekonomi, kata-kata yang hangat untuk disampaikan, apa pun itu. Jika kita tidak berkata apa-apa, orang lain tidak akan tahu kalau kita terluka. Tak ada tersangka, yang ada hanya korban." Yoo Eun-Jung, Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti.

Dan, boomm! Tulisan itu betul sekali. Selama ini aku selalu pura-pura kuat. Pura-pura bisa menanggung semuanya, padahal sebetulnya aku pun butuh bantuan tapi tidak tahu harus mengomunikasikannya bagaimana.

Dari pengalaman Iduladha kali ini, aku membuktikan sendiri bahwa adikku tidak egois. Dia hanya butuh diberi tahu, dan sisanya dia paham sendiri. Bahkan saat kami mau membuat BBQ, dia malah menyumbang minuman tanpa diminta!

Ternyata, asumsi-asumsi buruk itu hanya ada dalam benakku saja. Karena tidak berani menyampaikan dan memilih menyimpannya sendiri, akhirnya aku kewalahan sendiri, kan?

You are the only person responsible for your life and your happiness.*

Betul sekali. Tidak ada yang bisa memahamiku pada saat itu karena, ya... semuanya aku pendam sendiri tanpa dikomunikasikan dengan baik.

Kembali meminjam kutipan dari buku Yoo Eun-Jung di halaman 5:

"Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri, menciptakan situasi yang membuat kita menanggung segala hal sendirian, dan saat sesuatu terjadi, kita tak punya siapa-siapa. “Aku sangat memikirkan dan peduli pada orang lain, tapi kenapa mereka tidak mengerti perasaanku sama sekali?” “Kenapa dia menyepelekan kebaikanku?” Kita harus berhenti dikuasai oleh keputusasaan, frustrasi, kemarahan, dan keterasingan."

Iduladha tahun ini bukan cuma tentang daging kurban atau BBQ, tapi tentang sebuah kesadaran baru untuk diriku sendiri. Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri dengan ekspektasi bahwa orang lain harus selalu paham tanpa kita bicara.

Yuk, belajar menurunkan ego untuk meminta bantuan, dan belajar mengomunikasikan isi hati dengan jujur. Karena orang lain bukan cenayang, dan kita tidak harus selalu jadi pahlawan sendirian.

*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think 

Sunday, May 24, 2026

Halo! 

Jadi, bagaimana seminggu ini? Capek? Kesal? Marah? Atau bahagia?

Talking about this week, I feel like I've been tired almost every day. Entahlah, rasanya capek aja. Iya sih, seminggu kemarin banyak mengerjakan administrasi kelas, seperti menilai hasil ujian siswa dan juga bikin report. Tapi kenapa ya, semenjak depresi hadir dalam hidup aku, aku jadi tak sekuat biasanya?

Aku jadi mudah lelah. Ngumpul atau terlalu banyak ketemu orang rasanya menyedot banyak energiku. Ah, ya! Nah kan, aku baru sadar alasan kenapa lelah sekali seminggu ini—bahkan di hari Minggu ini aku malas melakukan aktivitas. Seminggu ini aku memang banyak bertemu dengan orang tua siswa untuk acara parents' meeting. Rasanya energi ini benar-benar tersedot habis.

Bahkan kemarin, ketika teman-temanku mengajak untuk nongkrong di kafe, pada akhirnya aku tolak. Karena udah capek aja gitu, gak tahu kenapa. Udah gak ada energi lagi buat ketemu banyak manusia. Kadang suka mikir, kalau kayak gini terus, kapan ya bisa ketemu jodohnya? Hahaha.

Tapi wajar kok. Gak semua minggu harus kamu lalui dengan perasaan yang excited. Kamu boleh lelah, boleh merasa malas, dan boleh untuk tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk pertama kalinya dalam hidupku, orang tuaku tidak banyak komplain hari ini, meskipun aku tidak melakukan apa pun selain mandi, mengajar anak-anak (volunteer), makan, tidur, nonton, jajan, lalu ditutup dengan menulis buku dan membaca.

Btw, minggu ini aku sedang membaca buku Gentle Souls karya Dhannisa Cho. Isinya benar-benar menggambarkan apa yang pernah dan sedang aku rasakan. Kapan-kapan nanti aku tulis review-nya ya!

Ya sudahlah, untuk minggu ini pokoknya aku lelah. Aku lelah bertemu dan banyak berkomunikasi dengan manusia. Entahlah, aku juga tidak paham kenapa bisa se-lelah ini. Tapi ya sudahlah, biarlah. Mungkin memang minggu ini aku harus mengizinkan diriku merasakan lelah berkepanjangan. 

Selamat menutup hari Minggu dan selamat bertemu hari Senin!

Sunday, May 17, 2026

Halo semua, selamat malam.

Sebelum melangkah memasuki hari Senin, aku ingin meluangkan waktu sejenak untuk merefleksikan minggu ini.

Satu hal yang paling aku syukuri dalam seminggu terakhir adalah kesempatan untuk berkumpul dan bercengkerama kembali dengan teman-teman kerja lama. Kami mengobrol ke sana kemari, tertawa, bahkan sampai berpindah tempat nongkrong. Rasanya lumayan sekali untuk melepas penat sekaligus rindu karena cukup lama tak bertemu. Mendengar celotehan mereka soal dinamika pekerjaan masing-masing menjadi hiburan tersendiri untukku. 

Aku juga sangat bersyukur dengan hari Minggu kali ini. Aku bisa melaluinya dengan santai, tanpa beban berat untuk menjemput hari Senin. Menikmati Minggu yang damai seperti ini sungguh kontras dengan apa yang sering aku alami di tempat kerja sebelumnya. Dulu, aku sering kali dilanda stres setiap hari Minggu. Aku jarang bisa menikmati hari libur dari gawai (gadget), karena dari Minggu sore menuju malam, pesan-pesan instruksi untuk esok hari sudah ramai bertebaran di grup kerja.

Oh iya, ada satu momen menarik yang tertangkap mataku saat sedang berkumpul bersama teman-temanku kemarin. Aku melihat seorang anak yang mengajak ibunya makan bersama. Setelah selesai makan, anak itu meminta ibunya berpose lalu mengabadikannya dengan kamera. Melihat beberapa pose yang berhasil difoto itu, entah mengapa ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatiku. Momen sederhana, tapi begitu penuh kasih. Semoga Mamah mau juga ya diajak begini nanti. 

Ya... meski hari Mingguku terasa hangat, tetap saja ada bumbu kekesalan kecil karena di sepanjang jalan ketika berkumpul bersama teman-teman itu banyak sekali tukang parkir yang bermunculan, hehe.

Kalau minggu ini, bagaimana dengan ceritamu? Adakah hal manis yang bisa kamu syukuri, atau justru ada hal kecil yang sempat bikin kamu kesal?

Selamat bertemu hari Senin!

Monday, May 11, 2026

Hallo! Selamat pagi.

Selamat hari Senin.

Selamat memulai kembali hari untuk bekerja.

Enggak tahu kenapa rasanya happy aja nulis refleksi mingguan di hari Senin pagi. Serasa memberikan semangat dan energi untuk diri sendiri menghadapi minggu baru di bulan ini. 

Seminggu yang lalu, aku merasa aku bahagia dengan diriku sendiri. Aku senang dan bangga pada diriku sendiri karena mampu mempresentasikan materi dengan baik. Semula, aku nervous sekaligus anxious yang luar biasa sampai gerd. Tapi setelah hari H tiba dan selesai mempresentasikannya, perasaan aku lega dan sakit di perut perlahan hilang. 

Aku tahu. Ini efek dari pengalaman buruk aku ketika aku SMP. Pada saat itu aku mengikuti lomba speech dan aku tidak hafal dengan teksnya. Demam panggung. Begitu saat berdiri di hadapan umum aku gemetaran, panik, baru juga salam aku sudah turun panggung lagi karena aku tak bisa menyampaikan isi speech nya. Begitu turun, guru pendampingku hanya memalingkan muka. Tidak ada ucapan untuk menenangkan diriku yang panik luar biasa pada saat itu. Apalagi setelah diumumkan juara-juaranya, guru tersebut lebih membanggakan yang juara-juara saja. 

Maka dari itu, aku ingin memutus rantai ini. Menghentikannya bahwa ini sudah berlalu dan kejadian tersebut akan berbeda dengan kejadian yang akan aku alami nanti. 

Hallo Ihat remaja, usia SMP yang masih labil.

Terima kasih sudah berani untuk maju ke atas panggung, walau kamu belum hafal teksnya dan kamu sadar pada saat itu tidak ada guru satupun yang membimbingmu. Kamu berlatih seadanya dan sendirian. Tidak apa-apa. Tenang. Kamu aman bersamaku di sini. Jangan merasa bersalah. Tidak apa-apa. Itu pengalaman pertama kamu dan semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan sedih lagi ya. Berhenti menyalahkan diri sendiri karena itu sudah berlalu lama sekali. Terima kasih karena setelah kejadian itu, kamu jadi lebih well prepared. Sehingga setiap kamu tampil, kamu bisa dan mampu memberikan yang terbaik. Buang suara-suara buruk itu. Kamu berharga, kamu mampu, kamu cukup, dan kamu bisa. 

Terakhir, aku juga senang karena dosis obatku kini mulai dikurangi oleh psikiaterku. 

Semangat melanjutkan hidup! 

Hai, Ihat!

Terima kasih sudah berjuang minggu ini. Terima kasih karena kamu memilih untuk berjuang daripada membiarkan dirimu tenggelam dalam lubang hitam. Terima kasih karena saat ini kamu sudah tidak segan untuk meminta tolong, menyampaikan perasaan kamu, dan juga menerima seluruh perasaan yang hadir dalam hidupmu. Terima kasih karena perlahan cahaya itu mulai menerangi hatimu yang sempat gelap gulita. Terima kasih karena selalu melihat hal-hal kecil yang ada di sekitarmu untuk dijadikan refleksi rasa syukurmu. Terima kasih karena kamu lebih memilih untuk hidup. Karena nyatanya hidup menawarkan dua hal, senang dan sedih. Itu sepaket. Dan tak bisa kita memilih salah satunya saja. Terima kasih sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada waktunya. Kini. kamu bisa lebih tenang dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam hidupmu. Karena kamu sudah sadar, semua akan berlalu dan berganti dengan yang baru. 

Terima kasih. Mari berjuang kembali di minggu ini. Aku sayang kamu!


Demi menarikmu keluar dari emosi merusak diri, 

aku mencebur ke dalamnya, menyelami dan menemukan kata-kata untuk menyelamatkanmu.

Kata-kata yang belum pernah kuucapkan. 

"Tolong aku."

Tapi ternyata kata-kata yang kutemukan itu justru menyelamatkan diriku. 

Saat kau keluar dari situasi terburuk, tiba-tiba prespektif baru terbuka, dan semua hal yang dulu menyusahkan mulai terasa sepele. 

Kesuksesan?

Debut?

Persetan semua.

Jika aku cuma ada satu permintaan dalam hidup, aku ingin mati karena usia tua.

Semoga kucing, pohon, dan semua makhluk hidup mati karena usia tua. 

Bukan karena penyakit, bukan karena derita.

Semoga semuanya mati karena usia tua, seperti daun yang gugur sendiri. 

Hwang Dong-Man (We Are All Trying Here)

Monday, May 04, 2026

Selamat malam, selamat hari Senin!

Gimana hari Seninnya? Berjalan lancar? Atau belum sesuai dengan apa yang ditargetkan? Gak apa-apa. Masih ada esok, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat. Yang penting tutup hari kamu dengan pelukan hangat untuk diri kamu sendiri. Berterima kasihlah pada dirimu karena sudah menemani dirimu sejauh ini.

Sebenarnya ini tuh terlambat sih ya buat nulis refleksi mingguannya. Iya, harusnya kemarin hari Minggu. Tapi gak apa-apa lah ya. 

Mm, seminggu kemarin yang ingin aku syukuri adalah aku mau berterima kasih sama diri aku sendiri karena sudah memilih berjuang daripada menyerah. Curiosity akan musim yang sedang aku alami ini akhirnya membawaku duduk di hadapan seorang psikolog. 

Sesi konseling pertama selama 1,5 jam itu berhasil memperlihatkan sisi lain dari diriku. Dari rangkaian cerita yang kusampaikan, ternyata ada satu pola yang tidak kusadari telah membentukku selama ini:

MELARIKAN DIRI.

Iya, melarikan diri. Tanpa sadar, setiap ada masalah, aku cenderung menghindar. Entah itu dengan cara mengalah padahal aku punya hak membela diri, atau hal kecil seperti menunda membalas pesan karena takut membukanya, padahal isinya biasa saja. Bahkan sampai pada titik memilih tidak masuk kerja hanya karena enggan menghadapi sesuatu.

Psikologku sempat berujar bahwa keputusanku pulang ke kampung halaman pun mungkin bentuk dari pelarian. Namun, aku memilih untuk tidak menelan mentah-mentah pernyataan itu. Aku tahu persis kenapa aku keluar dari pekerjaan sebelumnya: mental yang sudah tidak sehat dan realita yang tak lagi sejalan dengan cita-cita. Aku teringat pesan seorang teman: “Tidak semua perkataan ahli harus kamu cerna bulat-bulat, karena ada bagian dari dirimu yang hanya kamu sendiri yang paham.” Apalagi ini baru pertemuan pertama; 1,5 jam tentu tak cukup untuk merunut semua luka, apalagi ditambah episode menangisnya, kan? :D

Meski begitu, pernyataan itu membekas. Aku sadar tidak bisa terus berada dalam pola yang sama. Sekarang, aku belajar untuk mengomunikasikan hal-hal yang tidak enak, alih-alih menutup diri dan membuat kesimpulan sendiri. Siapa tahu dengan bicara baik-baik, ada jawaban yang menenangkan? Setidaknya, aku tidak lagi menerka-nerka dalam penyesalan.

Aku tahu ini tidak mudah. Memutus pola komunikasi dan problem solving yang tidak sehat itu butuh waktu. Menariknya, aku merasa "melarikan diri" bukanlah akar masalahku yang sebenarnya. Mungkin itu hanya faktor pendukung dari beban masa lalu—di mana aku terbiasa berada "di puncak". Dari ranking 1-3 selama SD, ketua OSIS di SMP dan SMA, hingga mendapat kepercayaan besar dari petinggi di tempat kerja. Ketika akhirnya aku bertemu dengan satu kasus berat yang proses penyelesaiannya panjang dan terasa buntu, mentalku jatuh sejatuh-jatuhnya karena merasa gagal.

Intinya, jika kamu punya sesuatu yang ingin disampaikan, sampaikanlah dengan cara yang baik. Jangan terlalu lama dipendam. Takutnya, jika terus ditumpuk, suatu saat ia akan meledak.

Selamat malam!

Monday, April 20, 2026

Sudah memasuki hari Senin lagi. 

Hallo semuanya. Selamat kembali beraktifitas!

Sebenarnya aku ini terlambat untuk menulis refleski mingguan, biasanya kan di hari Minggu ya, tapi ini malah di Senin pagi. Tapi gak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada gak sama sekali kan?

Aku sangat bersyukur atas minggu ini, atas hidup ini, dan juga semua hal yang terjadi dalam hidupku. Hubungan aku dengan orang tua semakin membaik; mereka lebih memahami kondisi aku saat ini. Maka dengan itu, akupun lebih mudah untuk memahami diriku sendiri, memeluk semua luka yang terjadi di masa lalu, terus belajar untuk memaafkan dan juga let go atas apa yang telah terjadi. Karena aku tidak mau terus menerus membawa serta hidup dalam bayang-bayang amarah dan kecewa. Aku berhak bahagia, damai, dan tenang dalam menjalani hidup ini. 

Selain itu, aku pun mau mengucapkan terima kasih kepada diriku sendiri karena sudah berani untuk mendaftar beasiswa AAS. Meski efek samping obat membuat cara berpikirku sedikit melambat dan mudah lupa, aku bangga karena tetap mencoba.

Aku merasa seperti menemukan kembali titik-titik cahaya dalam hidupku. Semua itu dimulai saat aku kembali belajar sedikit-demi sedikit. Aku merasa aku kembali hidup dan bersemangat. 

Semoga titik-titik terang ini akan terus bertambah setiap harinya sehingga aku dapat menemukan kembali cahaya dalam hidupku.


Tuesday, April 14, 2026

Sudah hampir satu bulan lebih aku tidak menulis. Bahkan proyek menulis Ramadan Journaling tak bisa aku selesaikan. Bulan lalu aku relapse setelah tidak lagi minum obat secara sepihak. Pertama karena BPJS aku dinon-aktifkan, kedua sempat berdebat dengan orang tua karena orang tua tidak setuju aku minum obat. Ketiga, orang tua masih denial dengan kondisi aku. 

Dua minggu pertama setelah lepas obat, aku merasa baik-baik saja. Baru di minggu ketiga, keempat aku kesulitan untuk bisa memejamkan mata, isi kepala rasanya lebih berisik dari sebelumnya, mood ku berantakan, emosiku lebih sensitif. 

Di minggu ini aku relapse. Kembali memukul-memukul diri sendiri, mencaci maki, bahkan sempat kalap mencari gunting. Namun aku patut berbangga diri pada diri sendiri, karena di tengah kondisi aku yang kacau, masih ada sisi dari diri aku yang lain untuk meminta menghentikannya. 

Lalu aku melihat karet rambut. Aku mengenakan karet rambut itu dipergelangan tanganku sebagai pengganti benda tajam. 

Memasuki minggu kelima, aku sudah tak bisa lagi menahan akan kondisiku. Maka dari itu, aku putuskan untuk pergi ke kantor BPJS, mengurus BPJS aku yang tidak aktif, lalu kembali mengambil rujukan. 

"Iya, Ibu itu sudah terlalu lama memendam semuanya sendirian. Makannya ini dikategorikan berat," ucap psikiater aku ketika aku kembali berkunjung. 

"Ini kita kembali lagi ke nol ya. Soalnya sudah lebih dari satu minggu gak kontrol."

"Dok, tapi orang tua saya tidak mendukung saya untuk berobat."

"Nanti kalau kontrol selanjutnya, orang tua Ibu boleh kok diajak ke sini. Biar nanti saya jelaskan kondisi Ibu."

Setelah itu aku tidak pernah berhenti berdoa agar orang tua aku bisa memahami kondisiku. Dan doa itu dikabulkan. 

Beberapa hari kemudian, datang salah satu dari orang dinas sosial berkunjung ke rumah didampingi oleh mantan RT setempat. Orang dari dinsos itu bilang aku lagi berobat apa, aku jawab kondisi aku. Ternyata mantan RT setempat pun pernah berada di posisi yang sama dulu. 

Setelah diceritakan oleh mantan RT tersebut, barulah kedua orang tuaku paham tentang kondisi aku sebenarnya. Barulah setelah itu mereka mendukung aku untuk berobat sampai tuntas. 

Rasanya gimana ya. Nano-nano gitu. Senang iya akhirnya keluarga tahu dan mensupport aku untuk bisa sembuh. 

"Ingat ya Bu, tidak semua orang faham tentang kesehatan mental." 

Dari pengalaman ini aku belajar bahwa aku harus mempercai diriku sendiri, kata hatiku, dan juga menerima kondisiku bahwa memang betul aku sedang tidak baik-baik saja. Kalau harus mengobati, ya lanjutkan. Tak perlu menunggu persetujuan orang lain ataupun mendengar omongan mereka karena yang merasakan dan yang melaluinya adalah dirimu sendiri. 

Wednesday, February 11, 2026

Udah hampir 10 hari ke belakang ini aku merasa aku ditarik kembali menuju lembah bewarna hitam itu. Meski tidak sehitam legam dulu, namun kekuatannya masih sama. Malamnya aku sulit memejamkan mata, baru bisa tidur di jam 12 atau 1 malam dan itu pun masih dengan pikiran yang berisik gak karuan, seolah memori lama, luka-luka yang belum sempat diproses pun bermunculan berdatangan, belum lagi soal overthinking yang menyerang, tiba-tiba ingin menangis lalu menangis meski sulit banget buat bisa nangis kejer padahal pengen banget biar hati lega. Menyiksa banget? Jangan ditanya. 

Besoknya? Aku malas bangun, masih betah di tempat tidur. Seolah ada yang menarikku untuk tetap stay di tempat tidur, tidak semangat untuk memulai hari, bahkan rasanya aku ingin tidur seharian saja. Orang tua mulai panik lagi dengan polaku yang begini, meski mereka benar-benar tidak bisa mengomunikasikannya dengan baik. Mereka mensupport aku untuk semangat mengawali hari yang justru malah bikin aku down, mereka mengingatkan aku bahwa tidur pagi itu jelek, padahal mereka gak benar-benar tahu gimana strugglenya aku setiap malam, dan setiap aku bilang aku susah tidur malam-malam pasti keluar dari mulut mereka tuh omongan-omongan yang tanpa terasa mereka sadari menyudutkan aku: apa sih yang bikin aku susah tidur, ngajar gak secape itu, kerjaan di rumah juga diurus Mamah.

Ah, shit! Mau marah males juga nanti dicap anak durhaka, maka dari itu aku lebih banyak memendam semua ini. Mereka tahu aku sedang depresi, tapi meraka gak benar-benar mau cari tahu gimana caranya merawat dan menemani orang yang sedang depresi. 

Walau Mamah pernah bilang dia juga pernah ngerasain hal yang sama dulu dan itu bisa dilawan rasa malasnya. 

Tapi untuk saat ini aku gak butuh kata-kata itu semua. Aku cuma ingin didengarkan saja tanpa dihakimi, tanpa dicela. Cukup ada dan mendengarkan. Aku gak butuh support, ceramah, dll.

Bahkan yang paling kesal adalah mereka bilang bahwa aku harus dekat dengan Allah biar urusan aku dibantu. Gimana urusan aku mau dibantu katanya kalau aku jauh sama Allah? 

Mah, Pak, tahu gak? Tanpa kita dekat atau enggak sama Allah, aku yakin Dia selalu bantu kita, karena Dia gak butuh ibadah kita, tapi kita yang butuh Dia. Tahu gak gimana strugglenya aku tiap perasaan aneh itu muncul dan aku masih tetep nyebut nama Dia? Memohon-mohon sama Allah buat tetap stay sama aku, nangis diem-diem sambil terus nyebut " Ya Allah, Ya Allah aku capek," ? Aku gak harus sebut semua itu juga kan? Itu ranah privacy, meski aku tahu tujuan kalian baik, tapi dengan kondisi aku yang saat ini bukan di posisi orang 'normal' secara mental, bukannya menerima ya aku bakal marah. 

Capek banget sih, mana seminggu kemarin aku gak jadi kontrol ke psikiater karena BPJS aku bantuannya dicabut sama Pemerintah tanpa informasi apa-apa dulu. Padahal gaji aku masih di bawah UMR huhuuu. 

Capek ya? Banget. Jangan ditanya. Gak usah perdulikan apa kata orang ya, karena cuma kamu yang paham kondisi kamu saat ini. Persetan mereka mau ngobrol apa, masih bisa kerja dan stay focus dikerjaan aja udah bersyukur banget. 

Dan satu pertanyaan yang bikin aku kesal se kesal-kesalnya adalah,

"Gak ada keingininan buat ke luar negeri gitu?"

Rasanya nyes aja. Aku tahu konteks itu dilontarkan karena gaji kerja aku saat ini tak menentu dan di bawah UMR. Dia tahu aku lagi depresi, tapi please. Meski dia gak bermaksud apa-apa, tapi pertanyaan itu sensitif banget buat aku. 

Buat bisa kerja aja udah syukur alhamdulillah, bisa mandi, makan, ngurus diri, walau malamnya kelihatan banget acak-acakannya. 

Jadi buat kamu, hati-hati ya kalau ngobrol sama orang yang lagi kena penyakit mental. Cukup ada dan dengarkan. Gak usah sok bijak, menjudge, atau mengatur-ngatur hidup mereka. 

Tuesday, January 13, 2026

Hai readers! Maaf terlambat untuk menulis reklefsi minggu kemarin. Aku sakit dari hari Sabtu kemarin. Alhamdulillahnya sekarang sudah membaik. 

Hari Sabtu lebih tepatnya. Sabtu shubuh, tiba-tiba aku sakit perut tak tertahankan. Langsung pergi ke Puskesmas diantar Bapak dan setelah diperiksa ternyata aku didiagnosis gejala usus buntu. Aku menghela napas panjang. Yallah, apalagi ini? 

Aku berjalan gontai menuju tempat parkir begitu selesai pemeriksaan. Rasa sakit di perutku masih terasa, tapi masih bisa ku tahan. 

Kalau sudah gak kuat nahan sakitnya, langsung ke IGD saja. 

Terngiang-ngiang suara dokter di telingaku dan segera ku tepis. Amit-amit sampai dibawa ke IGD.

Selama perjalanan pulang ke rumah aku terus mikir. Ini kok tiba-tiba sakit begini ya? Habis makan apa? Padahal makan pedes suka dikit, udah dikurangi levelnya. Apa jangan-jangan karena keseringan kali ya? Ditambah jarang makan sayur dan buah. Ya sudahlah. Aku terdiam dan mengakui bahwa aku salah. 

Begitu sampai rumah, aku langsung makan bubur lalu minum obat. Beberapa menit setelah itu rasa sakit kembali lagi datang menyerang bahkan sampai muntah. Hampir di hari itu apa yang aku makan kembali lagi dimuntahkan. Malamnya ketika akan tidur, aku melihat ke langit-langit kamar.

Ya Allah, aku gak mau mati karena aku sakit ini. Aku mau sembuh, aku mau sehat.

Tiba-tiba aku terdiam lagi. Hah? Serius? Bukannya beberapa minggu lalu dipikiran kamu hanya ada kalimat gimana caranya mati? 

Tak lama dari itu, air mata menetes. Enggak Ya Allah, aku masih mau hidup, masih mau melakukan banyak hal, tolong angkat penyakit ini, jangan biarin aku mati. 

Sampai akhirnya aku tertidur, walau sedikit-sedikit terbangun karena rasa sakitnya masih terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. 

Pada awalnya, aku udah ngeluh kayak kenapa sih, Allah kasih aku ujian lagi? Belum juga selesai masalah mental aku, sekarang fisik aku juga kena. Aku capek. Tapi setelah sadar aku jadi berpikir, ternyata dengan didatangkannya rasa sakit ini justru muncul semangat baru dalam hidup agar aku sehat dan bisa hidup lebih lama. 

Yah begitulah. Intinya harus back to real food, forget fast food and friends. 

See you!


Monday, January 05, 2026

Maaf banget baru nulis di hari Senin pagi. Kemarin mendadak sakit flu tak tertahankan. Gak apa-apa ya. Meski terlambat yang penting tetep nulis kan?

Ok, seminggu kemarin setelah liburan ke Bandung begitu balik ke Tasik, entah kenapa aku merasa capek sekali dan mulai malas melakukan hal apapun. Hampir 4 hari aku bangun siang, mandi, nonton K-Drama, baca buku bentar, tidur lagi. Gitu terus aja kerjaannya. Malas ngapa-ngapain dan mulai kembali kerasa: hilang semangat hidup dan inginnya tidur terus. 

"Harus banyak digerakin. Semakin diam semakin menjadi." Kata psikiaterku waktu hari Jumat kemarin konseling. "Gimana mau lepas obat kalau pola hidup sehatnya belum dilaksanakan?" 

"Jangan nunggu mood. Bikin jadwal harian dan paksakan untuk lakukan."

"Kamu gak bisa terus ketergantungan sama obat ini." 

"Sembuh atau tidaknya itu kembali ke diri kamu sendiri. Pola hidup sehat jika rutin dilakukan secara konsisten itu baru terasa 6 bulan kemudian." 

Aku cuma banyak mendengarkan. Okay, kalau mau lepas obat jadi harus gimana, Hat?

Aku melirik jam di tangan, sepertinya tak ada waktu untuk menunggu obat. Aku bergegas pergi menuju tempat kerjaku dan membiarkan obatku diurus pengirimannya oleh JNE. 

Setelah masuk kerja, fokusku bisa lebih mudah terarahkan. Ditambah dengan motto: gak kerja, gak bisa beli kopi, membuatku mau tidak mau harus masuk kerja. 

Apa jangan-jangan aku gak boleh libur ya? Hahahaa. Maksudnya libur lama gitu. Kalau kerja kan ya gitu, fokusnya jadi terarah. 

Di saat yang lain menggerutu karena tanggal 2 sudah masuk kerja, aku justru malah bersyukur karena aku bisa punya duit dan juga fokusku bisa teralihkan. Aku tahu ada banyak tantangan di depan mata, tapi aku gak akan tahu diri aku mampu atau tidak kalau aku gak mencoba bukan?


Wednesday, December 31, 2025

Sepertinya sudah telat 3 hari ya aku tidak menulis refleksi untuk satu minggu yang lalu? Tapi tidak ada kata terlambat bukan? Jadi baru hari ini aku akan menulis apa saja yang aku lalui di satu minggu ke belakang. 

What makes me happy is jalan-jalan. Iyaps! Sabtu kemarin aku habis ikutan Cerita Bandung dengan rute Pecinan Discover disusul hari Minggunya pergi ke Katapang, naik motor bareng temen lama waktu kerja di Bandung. It was so amazing! And I really enjoyed the tour. 

Uniknya aku menemukan hal aneh dalam diriku. Jika biasanya aku akan banyak ngobrol dan berisik, entah kenapa kali ini aku lebih menikmati mode diamku. Aku sangat menikmati jalan-jalan hanya dengan mengamati ketimbang banyak bertanya atau mengobrol. Dan hal itupun dirasakan oleh teman-temanku: aku lebih banyak diam. Entahlah, ini menjadi hobi baruku rasanya. Aku senang jalan-jalan dengan mengamati pemandangan tanpa banyak obrolan. Sepertinya ini akan aku lanjutkan di tahun selanjutnya! Solo travelling kali ya?

Minggu kemarin juga menjadi minggu pertama aku melepas status sebagai guru bahasa Inggris secara formal. Yeayy! Aku sudah tak lagi menjadi guru formal di sekolah dan rasanya entah mengapa melegakkan. Mungkin aku tidak suka suasana pagi yang kedabag-kedebug. Karena itu menguras emosiku. 

Mm, mau cerita apalagi ya? Oh iya. Aku juga sudah lepas obat tidur hahahaa. Meski begitu, ternyata susah buat bisa tidur.  Biasanya kan kebantu banget sama obat itu. Tapi kini enggak. Yang jam 8 biasanya udah nguap dan mata udah nutup rapat, ini masih melek. Bahkan aku benar-benar bisa tidur di jam 1 dini hari. Otak tuh rasanya berisik gak bisa diem. Capek banget sumpah. Kalau lagi susah tidur gitu, biasanya aku bakal gangguin adek aku yang udah tidur. Saking udah kesel gak bisa tidur. 

Aku sudah mengupayakan berbagai cara. Mengurangi kafein, banyakin minum air putih, menjauhkan gadget minimal banget di 30 menit sebelum tidur, baca buku dulu sebelum tidur, dzikir. Arghh....!! Tetep aja otak aku aktif banget bahkan berisik. Udah pakai cara nulis juga tetep. But, wait! Aku jadi inget malam waktu aku nginep di kosan temenku kemarin. Sebelumnya itu aku sama temenku lari malam di Gasibu dan aku bisa banget tidur lelap tanpa otak berisik dan aktif. Apa jangan-jangan aku harus rutin lari sore kali ya? Biar bisa bobo nyenyak?

Karena jam tidurku yang kini berantakan, alhasil bangun pagi pun berantakan. Aku jadi mudah ngantuk di pagi hari dan sudah tiga hari ini aku melewatkan kegiatan fisik di pagi hari sambil menghirup udara pagi. Rasanya melelahkan ya? Banget! Huhuuu.

Dan lucunya aku juga gak bisa cerita ke sembarang orang. Aku udah capek di semangatin terus dan dikasih tips-tips ala-ala. Aku cuma butuh didengar dan dipahami. Udah itu aja. Alhamdulillahnya aku bersyukur karena aku punya satu teman itu. Karena kita sama-sama sedang berjuang dengan si depressive episode ini, tiap kali kita berulah kayak anak kecil ya no comment. Karena tanpa diceritakan udah paham aja rasanya gimana. 

Beberapa jam lagi kita akan menuju tahun 2026 dan aku masih harus berjuang serta berteman sama si depressive episode ini. Tanggal 2 aku harus kontrol lagi ke psikiater. Tapi kayaknya aku juga butuh ke psikolog untuk membantu proses penyembuhanku gak sih? 

Semoga tahun 2026 makin banyak duit biar bisa konseling ke psikolog atau biar bisa banyak jalan-jalan? Hahhaaa.

Yang jelas di minggu terakhir di tahun 2026 ini aku cuma pengen bilang sama diri aku:

Makasih karena kamu udah bertahan sejauh ini, terus mencoba berdamai dan menerima setiap kali si derpressive episode itu datang dan kambuh. Meski berat, susah, dan complicated pada akhirnya kamu bisa kan ya mengatasinya sedikit demi sedikit? 

Makasih yaa karena udah bertahan. Aku sayang sama kamu!

Love,

Ihat

Sunday, December 21, 2025

Photo by Tima Miroshnichenko

Hari Minggu beberapa jam lagi akan berakhir. Sebentar lagi waktu akan berganti, besok Senin dan itu artinya sudah masuk waktuku untuk mereview sekaligus merefleksikan satu minggu yang sudah aku lalui kemarin. Rutinitas kecil yang kini terasa lebih bermakna, karena aku belajar berhenti sejenak dan benar-benar hadir.

How was your week?

Alhamdulillah, berjalan baik. Tidak selalu mudah, tapi cukup baik untuk disyukuri. Apalagi semenjak didiagnosis depressive episode, banyak banget hal yang selama ini aku lewatkan begitu saja tanpa benar-benar aku sadari, apalagi aku syukuri. Kini aku bisa lebih menghargai segarnya udara di pagi hari, yang dulu begitu aku lewatkan begitu saja. Ternyata dengan bernapas secara sadar, secara tidak langsung itu bikin otak aku kayak direfresh lagi, lebih ringan, dan lebih tenang. 

Hangatnya sinar matahari yang menyentuh kulit juga mampu  membangkitkan rasa semangat aku untuk menjalani hidup, satu hari demi satu hari. Makanan yang saat ini bisa aku rasakan rasanya, setelah beberapa minggu yang lalu terasa hambar dan tidak enak dimakan, kini kembali punya rasa. Hal-hal kecil yang dulu hanya aku lewati begitu saja, sekarang justru menjadi sumber syukurku yang besar. Ternyata banyak sekali ya nikmat yang sudah diberikan oleh Allah. Dan betul sekali, jika kita mencoba menghitungnya satu per satu, rasanya tak akan pernah bisa terhitung nikmat yang sudah diberikan oleh-Nya. 

Mm, apalagi ya?

Kayaknya itu aja sih. Tapi mungkin sebenarnya bukan "itu aja", melainkan sudah lebih dari cukup. Aku cuma mau bilang terima kasih aja sama diri sendiri yang sudah melewati hari-hari di minggu ini, walau terkadang perasaan menyerah selalu hinggap tanpa permisi. Terima kasih karena kamu sudah tidak memaksakan dirimu untuk selalu tampil sempurna dan ceria setiap harinya. 

Pada akhirnya gak apa-apa kan kalau hari itu gak berjalan sesuai dengan keinginan kamu? Ternyata gak apa-apa juga ya, kalau satu hari aja kamu gak all out  karena energi kamu emang udah habis? Dan ternyata, aku gak harus galak dan sejahat itu sama diri aku sendiri. Aku boleh lelah. Aku boleh berhenti sebentar. Aku boleh bernapas

Tetap lakukan yang terbaik sesuai dengan kadarnya saja. Jangan melampui batasmu lagi. Mungkin kamu akan mendapatkan tepuk tangan, tapi gak sedikit juga yang akan meremehkan kamu. Selalu ada dua sisi itu, dan kamu gak bisa mengontrol keduanya. Maka dari itu, berhenti mengejar kesempurnaan, dan jalani hari sebisa yang kamu berikan hari itu: gak lebih dan gak kurang juga. 

Jangan pernah paksanakan diri kamu lagi ya. Udah cukup depresi ini menjadi pengingat, bahkan tamparan halus, buat kamu untuk lebih menyayangi diri kamu sendiri. Karena pada akhirnya, yang akan terus menemani sampai akhir adalah diri kamu sendiri. Bukan pencapaian kamu, bukan validasi orang lain, tapi diri kamu sendiri: dengan segala luka dan uapaya kamu.

Jadi, ucapkanlah terima kasih pada diri kamu sendiri sebelum tidur dengan tulus. Bilang,

Makasih ya. Kamu udah hebat banget hari ini. 

Kamu udah keren banget bisa melewati hari ini. 

Besok tetep temenin aku ya. 


Bye! <3

Ihat

Thursday, December 18, 2025

Ada banyak hal yang aku lewati dalam satu minggu kemarin. Dengan kondisi otakku yang sedang tidak baik-baik saja, ada kalanya aku ingin menyimpannya di kamar dan tidak membawanya ke mana-mana. Karena rasanya sakit, berat, dan sangat tidak nyaman untuk diajak hidup bersama.

Minggu lalu, aku akhirnya memutuskan untuk resign dari kegiatan mengajarku di sekolah formal. Aku sudah lelah. Aku butuh pagi yang tenang, tanpa debur langkah yang terburu-buru menuju sekolah, tanpa omelan, tanpa keluhan rekan kerja tentang siswa yang seolah tak pernah ada habisnya.

Beberapa rekan kerja menyayangkan keputusanku. Namun, keputusanku sudah bulat. Aku tak lagi sanggup membohongi diri sendiri dengan terus berpura-pura terlihat baik-baik saja. Aku benar-benar lelah.

Lelah.

Terlalu banyak waktu yang selama ini aku habiskan hanya untuk bekerja. Terlalu banyak hal yang akhirnya terlewat. Tiga tahun di Bandung menjadi masa yang kini kusesali. Bukan karena tempatnya, tapi karena aku terlalu fokus dan memprioritaskan pekerjaan, sampai lupa memberi jeda dan istirahat untuk diriku sendiri.

Sepuluh tahun bekerja tanpa henti, sering kali mengabaikan alarm-alarm tubuh, akhirnya membawaku pada kondisi yang harus kuterima hari ini.

Baiklah, dengan berat hati aku akan mengatakannya.

Aku didiagnosis mengalami depressive episode dan saat ini sedang menjalani terapi obat.

Capek?

Jangan ditanya.

Aku juga lelah.

Lelah.

Lain kali, aku akan bercerita lagi.


Love,

Ihat

Thursday, December 11, 2025

Dalam melakukan apa pun, aku selalu berusaha untuk sempurna. Aku sadar, kesalahanku adalah aku tak pernah mengizinkan diriku menjadi seorang pemula. Aku selalu membandingkan diriku dengan orang-orang yang sudah berada di level tertentu. Ketika hal itu terjadi dan aku mendapatkan pujian, rasanya senang bukan main. Tapi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginanku, aku langsung marah dan merendahkan diriku sendiri serendah-rendahnya.

Sampai akhirnya aku lelah. Lalu aku bertemu dengan lingkungan yang mengingatkanku untuk mengizinkan diriku menjadi pemula. Untuk tidak melihat jalan orang lain, cukup fokus pada jalanku sendiri. Kalau aku masih berada di titik satu dan orang lain di titik lima, tentu tidak adil kalau aku terus membandingkan diriku dengan mereka.

Aku pernah ingin menjadi guru yang kompeten, istri yang baik, ibu yang baik suatu hari nanti, menantu yang baik, teman yang baik, anak yang baik, dan rekan kerja yang baik. Aku berusaha keras untuk semua itu. Namun, sekeras apa pun aku mencoba, akan selalu ada saja orang yang tidak setuju, tidak menyukai, atau menemukan celah dalam apa yang kulakukan. Akan selalu ada masalah yang muncul.

Sampai akhirnya aku sadar: aku harus berhenti memaksakan diri menjadi “orang baik” versi semua orang. Aku juga harus berhenti mengejar kesempurnaan. Kalau memang ada yang tidak suka, apakah harus dipaksa suka? Tidak. Jadi mulai sekarang, aku belajar untuk tidak menilai diriku berdasarkan apa yang orang sukai. Aku ingin lebih banyak mendengarkan diriku sendiri dan melakukan apa pun yang benar-benar ingin kulakukan.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang memenuhi ekspektasi siapa pun. Hidup ini tentang belajar pelan-pelan, tumbuh dengan ritmeku sendiri, dan menerima bahwa menjadi manusia berarti membuat kesalahan, jatuh, bangun lagi, dan terus berjalan. Aku ingin memberikan ruang bagi diriku untuk bernapas, belajar, salah, mencoba lagi, dan berkembang tanpa tekanan untuk selalu benar.

Aku ingin menapaki hidup dengan lebih ringan, tanpa harus terburu-buru mengejar standar orang lain. Mulai sekarang, aku memilih untuk menyayangi diriku apa adanya, dengan segala kekurangan, proses, dan perjalanan panjang yang masih terus berlangsung. Aku mungkin belum sampai ke mana-mana, tapi aku sedang menuju ke sana, dengan langkah-langkah kecil yang tulus.


Love,

Ihat

Monday, December 08, 2025

Malam itu aku mendengar tangisan seorang anak kecil, disusul teriakan sumpah serapah dari seorang Ibu. Aku tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi jelas sekali: setiap kali anak itu menangis, si Ibu yang tampaknya sudah kelelahan terus mengeluarkan kata-kata kasar.

“Anjing.”

“Goblog.”

“Kamu itu anak saya. Harusnya kamu sayang sama saya!”

Aku sempat melihat sekilas. Si Ibu sedang mengepel bagian luar rumahnya. Sepertinya anaknya menjatuhkan sesuatu hingga tumpah dan membasahi lantai. Ia masih sangat muda, mungkin usianya jauh di bawahku, namun beban hidup yang ia tanggung terasa begitu berat.

Aku terdiam mendengar semuanya. Di satu sisi aku bisa merasakan bahwa dia lelah, mungkin kewalahan, mungkin tidak punya dukungan. Tapi di sisi lain, batinku ikut perih membayangkan apa yang dirasakan anak itu jika ia sudah bisa berkata-kata. Mungkin ia ingin bertanya:

“Bu… kalau Ibu belum siap jadi Ibu, kenapa harus punya anak? Kenapa melahirkan aku ke dunia? Aku tidak pernah meminta itu…”

Malam itu aku belajar sesuatu lagi. Bahwa memilih untuk menikah itu penting. Memilih untuk punya anak secara sadar itu jauh lebih penting. Kita sering diberi tahu bahwa cinta cukup, tapi tidak. Untuk membangun rumah tangga dan membesarkan anak, cinta saja tidak cukup. Dibutuhkan ilmu, kedewasaan, kesiapan mental, dan ruang untuk bertumbuh.

Memang benar, tidak ada manusia yang benar-benar siap sepenuhnya. Tapi setidaknya, ada yang dipersiapkan. Ada kesadaran. Ada tanggung jawab yang diterima tanpa paksaan.

Bukan lagi karena ekspektasi keluarga.

Bukan karena desakan budaya.

Bukan karena ingin membungkam omongan tetangga.

Aku jadi teringat perkataan rekanku yang sudah menikah, lalu bercerai, dan kini membesarkan anaknya seorang diri:

“Nikmati dulu waktu singlenya. Lakukan apa yang kamu suka. Jangan menikah hanya karena sudah gerah dengan omongan orang. Omongan mereka tidak akan pernah selesai. Bahkan setelah menikah pun, akan ada omongan lain. Menikahlah hanya kalau memang kamu sadar memilih itu dan siap dengan segala konsekuensinya.”

Malam itu, dari balik dinding rumah orang lain, aku belajar tentang kehidupan. Tentang luka yang diwariskan. Tentang tanggung jawab yang sering diambil tanpa benar-benar dipahami. Dan tentang betapa berharganya keputusan-keputusan besar yang seharusnya dibuat dengan hati yang sadar, bukan hati yang takut.


Love,

Ihat

Sunday, December 07, 2025

Sebenarnya sudah hampir 2-3 minggu aku hiatus dari menulis reflektif di blog, apalagi sejak  aku didiagnosa dan harus menjalani konseling dengan psikiater. Awalnya aku marah dan sulit  menerima kondisi itu. Namun entah mengapa, setelah aku mencoba berdamai dengan semuanya, perlahan perjalanan hidup ini terasa penuh dengan jeda. Penuh tarikan napas panjang,  penuh dengan hal-hal kecil yang terus menerus mengajak aku untuk berhenti sejenak, dan terus mengajak aku untuk memperlambat langkah. 

Ada banyak sekali momen yang mungkin bagi sebagian orang itu kecil, tapi menurutku itu besar. Momen-momen yang mengetuk hati dan terus memaksaku kembali melihat diri sendiri dengan lebih jujur. 

Aku belum bisa cerita tentang kondisi detailnya kepada kalian. Yang jelas, saat ini aku tidak lagi denial bahwa aku memang sedang tidak baik-baik saja, sedang berobat ke psikiater, dan terus melakukan terapi menulis. 

 1. Apa tiga hal besar yang paling memengaruhi emosiku minggu ini, dan bagaimana aku meresponnya?

Tiga hal besar yang paling memengaruhi emoski minggu ini adalah hubungan dengan orang tua yang semakin terbuka sehingga membuat aku lebih cepat mengerti dan menerima masa lalu. Lalu tulisan jahil seorang teman yang entah mengapa berhasil membuat hatiku terenyuh walaupun aku tahu itu ia tidak benar-benar menuliskannya, dan rasa kesal saat seseorang mulai melewati batas yang sudah aku tetapkan. 

2. Pelajaran penting apa yang Allah ingin tunjukkan kepadaku melalui minggu ini?

Minggu ini aku kembali menjalani konseling lagi ke psikiater. Entah mengapa, seharian setelah konseling itu rasanya lelah. Dari situ aku belajar satu hal: Allah sedang mengajari aku untuk bisa lebih berempati dan lebih sayang sama diri sendiri. Semua perasaan itu valid dan aku belajar untuk bisa menerima sekaligus merasakannya tanpa menghakimi diri.

Selain itu, aku juga sadar kalau aku tidak bisa menjadikan kondisiku saat ini sebagai alasan aku untuk berleha-leha atau mencari pembenaran. Meski aku tahu, aku tak bisa sefokus atau semaksimal dulu. Kini aku sedang belajar untuk hidup dalam mode "biasa-biasa saja." Aku lelah selalu berusaha menjadi yang terbaik. Jadi untuk saat ini, tugasku adalah hanya menjalankan tanggung jawab sebaik yang aku bisa, tanpa membenani diri dengan ekspektasi berlebih yang aku buat sendiri. Let yourself be a beginner.

3. Bagian mana dari diriku yang tumbuh, berubah, atau mulai kusadari sepanjang minggu ini?

Jika minggu-minggu sebelumnya aku merasakan numb, semuanya terasa abu-kelabu, kini perlahan entah mengapa seperti ada kepakan sayap kupu-kupu yang menari di dalam kepalaku. Aku mulai tersentuh oleh hal-hal kecil yang dulu, sewaktu aku kecil belum sempat aku nikmati. 

Misalnya, diantar jajan ke alun-alun oleh Bapak, membeli es krim dan memakan bersama keluarga, atau membeli ayam goreng yang bisa dimakan tanpa nasi bersama keluarga. Sederhana, tapi menghangatkan hati. Walau aku tahu, berbicara soal uang tidak ada habisnya, tapi aku tak pernah tahu apakah masih ada kesempatan esok hari untuk aku bisa berkumpul dan menghidupkan haarapan-harapan diriku sewaktu kecil yang belum bisa diraih. 

4. Interaksi atau hubungan mana yang paling membekas minggu ini, dan mengapa?

Hubungan dengan kedua orang tua. Mereka bercerita soal masa lalu, tentang bagaimana mereka dulu dan alasan kenapa mereka memperlakukan aku begitu. Tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. 

Aku belajar untuk menerima seluruh kebaikan dan kekurangan mereka. Belajar untuk memahami bahwa dalam hidup semuanya datang dengan satu paket. Baik dengan buruknya, lebih dan kurangnya, cinta dan juga benci, bahagia dan juga tangis. Aku sudah menurunkan semua ekspektasi aku tentang orang tua yang dari dulu aku bangun. Tidak ada orang tua yang sempurna. Begitupun aku sebagai anak: tidak ada anak yang sempurna. 

5. Apa satu langkah kecil yang ingin aku lakukan minggu depan agar hidupku lebih selaras dengan diri dan Tuhanku?

Aku ingin bangun lebih pagi dan bisa bercengkrama dengan Tuhanku. Aku ingin berdoa agar suatu saat nanti aku bisa lepas dari obat-obat ini, berolahraga di pagi hari, dan mensyukuri setiap nafas yang telah diberikan-Nya. 

Aku tidak ingin lagi membebani diri dengan ekspektasi-ekspektasi yang terlalu tinggi, tidak ingin menyalahkan rencana-Nya yang jauh lebih indah dari apa yang sudah aku rancang sendiri, serta ingin terus belajar rendah hati dalam menerima dan menjalani apa yang sudah ditetapkan-Nya. 


Sekarang giliran kamu, bagaimana kamu berhasil melalui minggu ini?

Love,

Ihat

What would you say if you could tell every single person in the world just one thing?

This morning, I got that question from 101 Essay that will Change the Way You Think written by Brianna Wiest

If I could tell every single person in the world just one thing, I would say:

“Let people have their space. Let them have their own time.”

There are many people in this world who can respect our choices. For example, when someone needs a moment alone or wants to sit quietly in a corner, others simply let them be without asking too many questions. They understand that needing space doesn’t mean pushing people away.

But in my case, it’s different.

When I take a step back or sit alone for a while, people around me think I’m avoiding them because I’m upset or I hate them. They misunderstand my silence. And in the end, I’m forced to sit in the same room again, pretend everything is fine, and ignore my own need for breathing space.

I don’t like that feeling.

Why is this person so bossy? Why does she feel the need to tell everyone that I “have a problem”? I just needed a moment. I just needed space. But she keeps making it bigger, louder, and more complicated than it is.

At work, there are days when I simply need to be by myself. To recharge, to breathe, to think. But it seems like they never understand that. They always want everyone to gather in the same room, no matter what.

And honestly… it’s exhausting.


-Ihat-

Saturday, December 06, 2025

Photo by daniyal gh

Di kehidupan berikutnya kamu mau jadi apa?

Aku dapat pertanyaan ini dari buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya yang ditulis oleh dr. Andreasa Kurniawan, Sp.KJ. 

Kalau dipikir-pikir, dalam Islam setelah mati memang ada kehidupan selanjutnya, yaitu akhirat. Jadi, sebenarnya pertanyaan ini mungkin tidak terlalu relevan ya. Tapi baiklah, kalau seandainya ada “kehidupan berikutnya” dalam arti lain, aku ingin menjadi… burung.

Kenapa burung? Karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya benar-benar bebas. Terbang ke sana kemari tanpa batas, tanpa banyak hal yang mengikat. Melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dari atas pohon, dari tanah, dari atap rumah. Menyaksikan matahari terbit dari ketinggian. Menikmati angin yang menyentuh tubuh tanpa harus memikirkan apa-apa. Sepertinya menyenangkan sekali menjadi burung.

Kadang aku membayangkan, betapa tenangnya hidup jika bisa berpindah tempat hanya dengan mengepakkan sayap. Enggak ada rencana yang rumit, gak ada tekanan untuk selalu kuat, atau beban untuk menjadi versi terbaik setiap saat. Hanya ada aku, udara, dan semesta yang luas. Betapa ringan hidup ketika yang perlu dipikirkan hanya terbang dan kembali pulang.

Kalau jadi manusia ya begini. Banyak aturan, banyak tanggung jawab, banyak hal yang harus dikerjakan dan diurusi. Ada lelah yang tak bisa dijelaskan. Ada ekspektasi, ada tuntutan, ada suara-suara dari luar yang kadang lebih keras dari suara hatiku sendiri. Ruang gerakku sering terasa sempit, seolah aku harus menyesuaikan diri terus-menerus.

Mungkin itu sebabnya bayangan menjadi burung terasa begitu menenangkan; seru, ringan, dan bebas. Seolah aku bisa beristirahat sebentar dari ributnya dunia, dan kembali mengingat bahwa hidup juga bisa sesederhana menikmati angin yang berhembus di antara sayap.

Jadi gimana? Hmm...

Sebenarnya ketika menulis ini aku gak tahu arah tulisannya ke mana. Tapi tulisan ini juga jadi mengingatkan aku bahwa gak semua manusia bisa menikmati angin yang berhembus kan? Kadang kita banyak melewatkannya tanpa sadar. Padahal beberapa waktu lalu, saat aku mencoba menikmati angin secara sadar, rasanya luar biasa… bagaimana angin membelai lembut pipiku, seperti mengingatkan bahwa aku masih hidup, masih bisa merasakan sesuatu.

Ternyata banyak hal yang kita lewati dalam hidup hanya karena kita terlalu fokus pada hal-hal besar. Padahal mungkin, kebahagiaan yang kita cari selama ini tersimpan di momen-momen kecil yang selama ini tak sempat kita hiraukan. 


Cheers, 

Ihat

Monday, November 10, 2025

Photo by Andrea Piacquadio

Menulis itu berarti mengingat ulang, dan tidak semua ingatan itu menyenangkan. Rintik Sedu. 

Semalam aku membaca blognya Rintik Sedu dan menemukan kalimat itu. Rasanya iya betul banget. Kadang yang membuat kita enggan menulis bukan karena menulisnya, tapi karena kita harus siap berhadapan dengan ingatan yang tidak semuanya menghadirkan senyum. Ada bagian dari diri yang masih perih, yang belum siap disentuh, apalagi dituangkan ke dalam kata.

Aku teringat ketika tahun lalu mengikuti sesi konseling bersama psikolog sekolah. Beliau berkata, “Untuk bisa mengenal luka inner child, cobalah banyak mengobrol dengan diri sendiri atau menulis.”

Satu dua kali aku mencobanya. Tapi setiap kali sampai di titik harus mengingat momen yang menyakitkan, aku menarik diri. Aku berhenti menulis. Seolah tubuh dan pikiranku bersekongkol untuk melindungiku dari rasa sakit itu.

“Bu, rasanya menyesakkan setiap kali ingat momen itu,” kataku pelan. “Aku gak sanggup melihat diri aku di sana, apalagi memeluknya.”

Beliau tersenyum lembut.

“Kalau orang sakit terus minum obat, gimana rasanya?”

“Pahit, Bu.”

“Tapi demi sembuh, tetap harus diminum, kan?”

Aku terdiam.

“Sama seperti jiwa kita. Sesakit apa pun, tetap harus dihadapi. Memang terasa sesak saat menuliskan pengalaman yang tak kita inginkan, tapi setelah itu semuanya akan lebih ringan.”

Beberapa waktu setelahnya, sekolah mengadakan IHT bertema “Deep Secret and Inner Child Healing: Learn How to Make Peace with Your Inner Child and Create A Trauma Free Environment for Your Kids to Grow.” Kami diajarkan berdialog dengan diri sendiri, lewat kata-kata, doa, dan tulisan sambil menatap foto masa kecil kami.

Aku mencobanya.

Tapi baru melihat foto itu saja, air mataku sudah jatuh. Dadaku terasa sesak. Aku gagal lagi menjalani sesi terapi menulis itu. Sampai akhirnya kondisiku makin tidak stabil. Emosiku berantakan, pikiranku mudah kalut. Seorang rekan kerja bahkan berkata lembut, “Kamu kayaknya udah butuh bantuan profesional.” Dan benar saja, aku kembali menemui psikolog sekolah.

Sebenarnya aku tahu apa yang harus kulakukan: mendengarkan diri sendiri, journaling, olahraga, beristirahat. Tapi semua itu selalu kuhindari karena aku tak siap menghadapi rasa sakit setiap kali harus mengingat masa lalu. Hingga suatu hari aku sadar: jika ingin sembuh, aku tidak bisa terus berlari dari hal-hal yang menyakitkan.

Aku pun memulai lagi.

Menulis sambil memandangi foto masa kecilku.

Rasanya seperti membuka kembali luka lama yang belum benar-benar kering. Dua jam lamanya aku habiskan hanya untuk menelusuri ingatan-ingatan yang dulu sengaja kupendam. Keesokan harinya, aku mengabari psikologku. Dan beliau membalas dengan kalimat yang membuatku menangis:

“Subhanallah, Solihah. Dengan lembut Allah berkata kepada teteh:
Aku menulis namamu sebelum bumi ini tercipta. Aku merawatmu, menemanimu, menjagamu, dan tak akan meninggalkanmu meski sekejap matapun. Maka maafkanlah segala hal yang menurutmu tak lengkap dan tak sempurna, karena hanya Aku yang Maha Sempurna.”

Sejak saat itu, aku belajar berdialog dengan diri sendiri. Perlahan, setiap kali aku menulis, rasa sakitnya tak lagi sesedih dulu. Setiap huruf yang kutulis seperti menjadi doa kecil untuk jiwaku sendiri. Aku mulai bisa melepaskan, menerima, dan memaafkan terutama memaafkan diriku sendiri.

Perlakuan orang tuaku pun kini berubah. Lebih hangat, lebih menerima, dan lebih penuh kasih. Perubahan itu membuat proses penyembuhanku semakin mudah. Aku merasa Allah memang bekerja lewat cara-cara yang lembut: melalui orang-orang di sekitarku, melalui rasa sakit yang dulu aku benci, dan melalui tulisan-tulisanku sendiri.

Lucunya, kini aku justru kecanduan menulis. Setiap kali perasaan datang dan aku tak tahu harus berbicara pada siapa, aku menulis. Kadang tanpa arah, tapi selalu berakhir dengan kelegaan. Aku sadar, menulis bukan sekadar kegiatan menuangkan pikiran, melainkan proses berdamai dengan masa lalu, dengan diri sendiri, dan dengan takdir.

Menulis itu memang mengingat ulang. Tapi dari setiap ingatan yang kutulis, aku belajar satu hal: bahwa Allah tidak pernah salah menempatkanku di jalan hidup ini. Ada rasa sakit, ada kehilangan, ada luka tapi di antara itu semua, ada pertumbuhan. Dan setiap kalimat yang kutulis adalah bentuk kecil dari kepercayaanku bahwa setelah setiap perih, ada kesembuhan; setelah setiap tangis, ada ketenangan. 

Kini aku tak lagi menulis untuk melarikan diri, tapi untuk pulang. Pulang kepada diriku sendiri.


Love,

Ihat




Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi