Refleksi Catatan 86: Berhenti Menjadi Sempurna

Dalam melakukan apa pun, aku selalu berusaha untuk sempurna. Aku sadar, kesalahanku adalah aku tak pernah mengizinkan diriku menjadi seorang pemula. Aku selalu membandingkan diriku dengan orang-orang yang sudah berada di level tertentu. Ketika hal itu terjadi dan aku mendapatkan pujian, rasanya senang bukan main. Tapi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginanku, aku langsung marah dan merendahkan diriku sendiri serendah-rendahnya.

Sampai akhirnya aku lelah. Lalu aku bertemu dengan lingkungan yang mengingatkanku untuk mengizinkan diriku menjadi pemula. Untuk tidak melihat jalan orang lain, cukup fokus pada jalanku sendiri. Kalau aku masih berada di titik satu dan orang lain di titik lima, tentu tidak adil kalau aku terus membandingkan diriku dengan mereka.

Aku pernah ingin menjadi guru yang kompeten, istri yang baik, ibu yang baik suatu hari nanti, menantu yang baik, teman yang baik, anak yang baik, dan rekan kerja yang baik. Aku berusaha keras untuk semua itu. Namun, sekeras apa pun aku mencoba, akan selalu ada saja orang yang tidak setuju, tidak menyukai, atau menemukan celah dalam apa yang kulakukan. Akan selalu ada masalah yang muncul.

Sampai akhirnya aku sadar: aku harus berhenti memaksakan diri menjadi “orang baik” versi semua orang. Aku juga harus berhenti mengejar kesempurnaan. Kalau memang ada yang tidak suka, apakah harus dipaksa suka? Tidak. Jadi mulai sekarang, aku belajar untuk tidak menilai diriku berdasarkan apa yang orang sukai. Aku ingin lebih banyak mendengarkan diriku sendiri dan melakukan apa pun yang benar-benar ingin kulakukan.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang memenuhi ekspektasi siapa pun. Hidup ini tentang belajar pelan-pelan, tumbuh dengan ritmeku sendiri, dan menerima bahwa menjadi manusia berarti membuat kesalahan, jatuh, bangun lagi, dan terus berjalan. Aku ingin memberikan ruang bagi diriku untuk bernapas, belajar, salah, mencoba lagi, dan berkembang tanpa tekanan untuk selalu benar.

Aku ingin menapaki hidup dengan lebih ringan, tanpa harus terburu-buru mengejar standar orang lain. Mulai sekarang, aku memilih untuk menyayangi diriku apa adanya, dengan segala kekurangan, proses, dan perjalanan panjang yang masih terus berlangsung. Aku mungkin belum sampai ke mana-mana, tapi aku sedang menuju ke sana, dengan langkah-langkah kecil yang tulus.


Love,

Ihat

Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi