Refleksi Diri

Saturday, May 30, 2026

Selamat merayakan Iduladha 1447 H bagi kamu yang merayakan!

I’m so grateful with this Eid. Entah mengapa, kali ini aku merasakan seperti ada beberapa cahaya yang menyinari hatiku. Cahaya yang mengembalikan diriku seperti sebelumnya: an initiator in my family. Aku kembali memiliki ide dan energi untuk merayakan Iduladha ini, walau mungkin tidak seberapa. Kondisi ini sangat berbeda dengan diriku saat Idulfitri lalu, di mana aku lebih banyak diam ketimbang menginisiasi perayaannya.

Semuanya bermula ketika aku ingin membuat BBQ-an (dibandingkan bikin sate seperti biasa), sekaligus tetap ingin makan kupat dan opor ayam. Saat mengobrol, Mamah bercerita dan meminta maaf karena tidak bisa memasak menu tersebut dikarenakan keuangan keluarga yang sedang menurun.

Mendengar itu, muncullah inisiatifku untuk mengajak adikku yang sudah sama-sama bekerja untuk udunan (patungan). Biasanya, akulah yang selalu menanggung semuanya sendirian. Jujur saja, selama ini terkadang di dalam hati suka ada rasa kesal sedikit. Tapi dari momen ini aku tersadar: rasa kesal itu muncul hanya karena aku tidak mengomunikasikannya dengan baik. Adikku tipe orang yang memang harus dikasih tahu, bukan seperti aku yang mudah terenyuh dan cepat paham situasi. Dan ternyata, saat diajak udunan dia mau-mau saja tanpa keberatan.

Momen ini mendadak mengingatkanku pada sebuah kutipan buku yang sangat menampar:

"Jika kita menginginkan sesuatu dari orang lain, hal kecil sekalipun, kita harus memberitahu mereka yang sebenar-benarnya. Pengertian dan perhatian, hal apa pun yang menyangkut ekonomi, kata-kata yang hangat untuk disampaikan, apa pun itu. Jika kita tidak berkata apa-apa, orang lain tidak akan tahu kalau kita terluka. Tak ada tersangka, yang ada hanya korban." Yoo Eun-Jung, Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti.

Dan, boomm! Tulisan itu betul sekali. Selama ini aku selalu pura-pura kuat. Pura-pura bisa menanggung semuanya, padahal sebetulnya aku pun butuh bantuan tapi tidak tahu harus mengomunikasikannya bagaimana.

Dari pengalaman Iduladha kali ini, aku membuktikan sendiri bahwa adikku tidak egois. Dia hanya butuh diberi tahu, dan sisanya dia paham sendiri. Bahkan saat kami mau membuat BBQ, dia malah menyumbang minuman tanpa diminta!

Ternyata, asumsi-asumsi buruk itu hanya ada dalam benakku saja. Karena tidak berani menyampaikan dan memilih menyimpannya sendiri, akhirnya aku kewalahan sendiri, kan?

You are the only person responsible for your life and your happiness.

Betul sekali. Tidak ada yang bisa memahamiku pada saat itu karena, ya... semuanya aku pendam sendiri tanpa dikomunikasikan dengan baik.

Kembali meminjam kutipan dari buku Yoo Eun-Jung di halaman 5:

"Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri, menciptakan situasi yang membuat kita menanggung segala hal sendirian, dan saat sesuatu terjadi, kita tak punya siapa-siapa. “Aku sangat memikirkan dan peduli pada orang lain, tapi kenapa mereka tidak mengerti perasaanku sama sekali?” “Kenapa dia menyepelekan kebaikanku?” Kita harus berhenti dikuasai oleh keputusasaan, frustrasi, kemarahan, dan keterasingan."

Iduladha tahun ini bukan cuma tentang daging kurban atau BBQ, tapi tentang sebuah kesadaran baru untuk diriku sendiri. Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri dengan ekspektasi bahwa orang lain harus selalu paham tanpa kita bicara.

Yuk, belajar menurunkan ego untuk meminta bantuan, dan belajar mengomunikasikan isi hati dengan jujur. Karena orang lain bukan cenayang, dan kita tidak harus selalu jadi pahlawan sendirian.


Sunday, May 24, 2026

Halo! 

Jadi, bagaimana seminggu ini? Capek? Kesal? Marah? Atau bahagia?

Talking about this week, I feel like I've been tired almost every day. Entahlah, rasanya capek aja. Iya sih, seminggu kemarin banyak mengerjakan administrasi kelas, seperti menilai hasil ujian siswa dan juga bikin report. Tapi kenapa ya, semenjak depresi hadir dalam hidup aku, aku jadi tak sekuat biasanya?

Aku jadi mudah lelah. Ngumpul atau terlalu banyak ketemu orang rasanya menyedot banyak energiku. Ah, ya! Nah kan, aku baru sadar alasan kenapa lelah sekali seminggu ini—bahkan di hari Minggu ini aku malas melakukan aktivitas. Seminggu ini aku memang banyak bertemu dengan orang tua siswa untuk acara parents' meeting. Rasanya energi ini benar-benar tersedot habis.

Bahkan kemarin, ketika teman-temanku mengajak untuk nongkrong di kafe, pada akhirnya aku tolak. Karena udah capek aja gitu, gak tahu kenapa. Udah gak ada energi lagi buat ketemu banyak manusia. Kadang suka mikir, kalau kayak gini terus, kapan ya bisa ketemu jodohnya? Hahaha.

Tapi wajar kok. Gak semua minggu harus kamu lalui dengan perasaan yang excited. Kamu boleh lelah, boleh merasa malas, dan boleh untuk tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk pertama kalinya dalam hidupku, orang tuaku tidak banyak komplain hari ini, meskipun aku tidak melakukan apa pun selain mandi, mengajar anak-anak (volunteer), makan, tidur, nonton, jajan, lalu ditutup dengan menulis buku dan membaca.

Btw, minggu ini aku sedang membaca buku Gentle Souls karya Dhannisa Cho. Isinya benar-benar menggambarkan apa yang pernah dan sedang aku rasakan. Kapan-kapan nanti aku tulis review-nya ya!

Ya sudahlah, untuk minggu ini pokoknya aku lelah. Aku lelah bertemu dan banyak berkomunikasi dengan manusia. Entahlah, aku juga tidak paham kenapa bisa se-lelah ini. Tapi ya sudahlah, biarlah. Mungkin memang minggu ini aku harus mengizinkan diriku merasakan lelah berkepanjangan. 

Selamat menutup hari Minggu dan selamat bertemu hari Senin!

Sunday, May 17, 2026

Halo semua, selamat malam.

Sebelum melangkah memasuki hari Senin, aku ingin meluangkan waktu sejenak untuk merefleksikan minggu ini.

Satu hal yang paling aku syukuri dalam seminggu terakhir adalah kesempatan untuk berkumpul dan bercengkerama kembali dengan teman-teman kerja lama. Kami mengobrol ke sana kemari, tertawa, bahkan sampai berpindah tempat nongkrong. Rasanya lumayan sekali untuk melepas penat sekaligus rindu karena cukup lama tak bertemu. Mendengar celotehan mereka soal dinamika pekerjaan masing-masing menjadi hiburan tersendiri untukku. 

Aku juga sangat bersyukur dengan hari Minggu kali ini. Aku bisa melaluinya dengan santai, tanpa beban berat untuk menjemput hari Senin. Menikmati Minggu yang damai seperti ini sungguh kontras dengan apa yang sering aku alami di tempat kerja sebelumnya. Dulu, aku sering kali dilanda stres setiap hari Minggu. Aku jarang bisa menikmati hari libur dari gawai (gadget), karena dari Minggu sore menuju malam, pesan-pesan instruksi untuk esok hari sudah ramai bertebaran di grup kerja.

Oh iya, ada satu momen menarik yang tertangkap mataku saat sedang berkumpul bersama teman-temanku kemarin. Aku melihat seorang anak yang mengajak ibunya makan bersama. Setelah selesai makan, anak itu meminta ibunya berpose lalu mengabadikannya dengan kamera. Melihat beberapa pose yang berhasil difoto itu, entah mengapa ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatiku. Momen sederhana, tapi begitu penuh kasih. Semoga Mamah mau juga ya diajak begini nanti. 

Ya... meski hari Mingguku terasa hangat, tetap saja ada bumbu kekesalan kecil karena di sepanjang jalan ketika berkumpul bersama teman-teman itu banyak sekali tukang parkir yang bermunculan, hehe.

Kalau minggu ini, bagaimana dengan ceritamu? Adakah hal manis yang bisa kamu syukuri, atau justru ada hal kecil yang sempat bikin kamu kesal?

Selamat bertemu hari Senin!

Monday, May 11, 2026

Hallo! Selamat pagi.

Selamat hari Senin.

Selamat memulai kembali hari untuk bekerja.

Enggak tahu kenapa rasanya happy aja nulis refleksi mingguan di hari Senin pagi. Serasa memberikan semangat dan energi untuk diri sendiri menghadapi minggu baru di bulan ini. 

Seminggu yang lalu, aku merasa aku bahagia dengan diriku sendiri. Aku senang dan bangga pada diriku sendiri karena mampu mempresentasikan materi dengan baik. Semula, aku nervous sekaligus anxious yang luar biasa sampai gerd. Tapi setelah hari H tiba dan selesai mempresentasikannya, perasaan aku lega dan sakit di perut perlahan hilang. 

Aku tahu. Ini efek dari pengalaman buruk aku ketika aku SMP. Pada saat itu aku mengikuti lomba speech dan aku tidak hafal dengan teksnya. Demam panggung. Begitu saat berdiri di hadapan umum aku gemetaran, panik, baru juga salam aku sudah turun panggung lagi karena aku tak bisa menyampaikan isi speech nya. Begitu turun, guru pendampingku hanya memalingkan muka. Tidak ada ucapan untuk menenangkan diriku yang panik luar biasa pada saat itu. Apalagi setelah diumumkan juara-juaranya, guru tersebut lebih membanggakan yang juara-juara saja. 

Maka dari itu, aku ingin memutus rantai ini. Menghentikannya bahwa ini sudah berlalu dan kejadian tersebut akan berbeda dengan kejadian yang akan aku alami nanti. 

Hallo Ihat remaja, usia SMP yang masih labil.

Terima kasih sudah berani untuk maju ke atas panggung, walau kamu belum hafal teksnya dan kamu sadar pada saat itu tidak ada guru satupun yang membimbingmu. Kamu berlatih seadanya dan sendirian. Tidak apa-apa. Tenang. Kamu aman bersamaku di sini. Jangan merasa bersalah. Tidak apa-apa. Itu pengalaman pertama kamu dan semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan sedih lagi ya. Berhenti menyalahkan diri sendiri karena itu sudah berlalu lama sekali. Terima kasih karena setelah kejadian itu, kamu jadi lebih well prepared. Sehingga setiap kamu tampil, kamu bisa dan mampu memberikan yang terbaik. Buang suara-suara buruk itu. Kamu berharga, kamu mampu, kamu cukup, dan kamu bisa. 

Terakhir, aku juga senang karena dosis obatku kini mulai dikurangi oleh psikiaterku. 

Semangat melanjutkan hidup! 

Hai, Ihat!

Terima kasih sudah berjuang minggu ini. Terima kasih karena kamu memilih untuk berjuang daripada membiarkan dirimu tenggelam dalam lubang hitam. Terima kasih karena saat ini kamu sudah tidak segan untuk meminta tolong, menyampaikan perasaan kamu, dan juga menerima seluruh perasaan yang hadir dalam hidupmu. Terima kasih karena perlahan cahaya itu mulai menerangi hatimu yang sempat gelap gulita. Terima kasih karena selalu melihat hal-hal kecil yang ada di sekitarmu untuk dijadikan refleksi rasa syukurmu. Terima kasih karena kamu lebih memilih untuk hidup. Karena nyatanya hidup menawarkan dua hal, senang dan sedih. Itu sepaket. Dan tak bisa kita memilih salah satunya saja. Terima kasih sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada waktunya. Kini. kamu bisa lebih tenang dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam hidupmu. Karena kamu sudah sadar, semua akan berlalu dan berganti dengan yang baru. 

Terima kasih. Mari berjuang kembali di minggu ini. Aku sayang kamu!


Demi menarikmu keluar dari emosi merusak diri, 

aku mencebur ke dalamnya, menyelami dan menemukan kata-kata untuk menyelamatkanmu.

Kata-kata yang belum pernah kuucapkan. 

"Tolong aku."

Tapi ternyata kata-kata yang kutemukan itu justru menyelamatkan diriku. 

Saat kau keluar dari situasi terburuk, tiba-tiba prespektif baru terbuka, dan semua hal yang dulu menyusahkan mulai terasa sepele. 

Kesuksesan?

Debut?

Persetan semua.

Jika aku cuma ada satu permintaan dalam hidup, aku ingin mati karena usia tua.

Semoga kucing, pohon, dan semua makhluk hidup mati karena usia tua. 

Bukan karena penyakit, bukan karena derita.

Semoga semuanya mati karena usia tua, seperti daun yang gugur sendiri. 

Hwang Dong-Man (We Are All Trying Here)

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi