Tuesday, January 13, 2026
Hai readers! Maaf terlambat untuk menulis reklefsi minggu kemarin. Aku sakit dari hari Sabtu kemarin. Alhamdulillahnya sekarang sudah membaik.
Hari Sabtu lebih tepatnya. Sabtu shubuh, tiba-tiba aku sakit perut tak tertahankan. Langsung pergi ke Puskesmas diantar Bapak dan setelah diperiksa ternyata aku didiagnosis gejala usus buntu. Aku menghela napas panjang. Yallah, apalagi ini?
Aku berjalan gontai menuju tempat parkir begitu selesai pemeriksaan. Rasa sakit di perutku masih terasa, tapi masih bisa ku tahan.
Kalau sudah gak kuat nahan sakitnya, langsung ke IGD saja.
Terngiang-ngiang suara dokter di telingaku dan segera ku tepis. Amit-amit sampai dibawa ke IGD.
Selama perjalanan pulang ke rumah aku terus mikir. Ini kok tiba-tiba sakit begini ya? Habis makan apa? Padahal makan pedes suka dikit, udah dikurangi levelnya. Apa jangan-jangan karena keseringan kali ya? Ditambah jarang makan sayur dan buah. Ya sudahlah. Aku terdiam dan mengakui bahwa aku salah.
Begitu sampai rumah, aku langsung makan bubur lalu minum obat. Beberapa menit setelah itu rasa sakit kembali lagi datang menyerang bahkan sampai muntah. Hampir di hari itu apa yang aku makan kembali lagi dimuntahkan. Malamnya ketika akan tidur, aku melihat ke langit-langit kamar.
Ya Allah, aku gak mau mati karena aku sakit ini. Aku mau sembuh, aku mau sehat.
Tiba-tiba aku terdiam lagi. Hah? Serius? Bukannya beberapa minggu lalu dipikiran kamu hanya ada kalimat gimana caranya mati?
Tak lama dari itu, air mata menetes. Enggak Ya Allah, aku masih mau hidup, masih mau melakukan banyak hal, tolong angkat penyakit ini, jangan biarin aku mati.
Sampai akhirnya aku tertidur, walau sedikit-sedikit terbangun karena rasa sakitnya masih terasa seperti ditusuk-tusuk jarum.
Pada awalnya, aku udah ngeluh kayak kenapa sih, Allah kasih aku ujian lagi? Belum juga selesai masalah mental aku, sekarang fisik aku juga kena. Aku capek. Tapi setelah sadar aku jadi berpikir, ternyata dengan didatangkannya rasa sakit ini justru muncul semangat baru dalam hidup agar aku sehat dan bisa hidup lebih lama.
Yah begitulah. Intinya harus back to real food, forget fast food and friends.
See you!
Monday, January 05, 2026
Maaf banget baru nulis di hari Senin pagi. Kemarin mendadak sakit flu tak tertahankan. Gak apa-apa ya. Meski terlambat yang penting tetep nulis kan?
Ok, seminggu kemarin setelah liburan ke Bandung begitu balik ke Tasik, entah kenapa aku merasa capek sekali dan mulai malas melakukan hal apapun. Hampir 4 hari aku bangun siang, mandi, nonton K-Drama, baca buku bentar, tidur lagi. Gitu terus aja kerjaannya. Malas ngapa-ngapain dan mulai kembali kerasa: hilang semangat hidup dan inginnya tidur terus.
"Harus banyak digerakin. Semakin diam semakin menjadi." Kata psikiaterku waktu hari Jumat kemarin konseling. "Gimana mau lepas obat kalau pola hidup sehatnya belum dilaksanakan?"
"Jangan nunggu mood. Bikin jadwal harian dan paksakan untuk lakukan."
"Kamu gak bisa terus ketergantungan sama obat ini."
"Sembuh atau tidaknya itu kembali ke diri kamu sendiri. Pola hidup sehat jika rutin dilakukan secara konsisten itu baru terasa 6 bulan kemudian."
Aku cuma banyak mendengarkan. Okay, kalau mau lepas obat jadi harus gimana, Hat?
Aku melirik jam di tangan, sepertinya tak ada waktu untuk menunggu obat. Aku bergegas pergi menuju tempat kerjaku dan membiarkan obatku diurus pengirimannya oleh JNE.
Setelah masuk kerja, fokusku bisa lebih mudah terarahkan. Ditambah dengan motto: gak kerja, gak bisa beli kopi, membuatku mau tidak mau harus masuk kerja.
Apa jangan-jangan aku gak boleh libur ya? Hahahaa. Maksudnya libur lama gitu. Kalau kerja kan ya gitu, fokusnya jadi terarah.
Di saat yang lain menggerutu karena tanggal 2 sudah masuk kerja, aku justru malah bersyukur karena aku bisa punya duit dan juga fokusku bisa teralihkan. Aku tahu ada banyak tantangan di depan mata, tapi aku gak akan tahu diri aku mampu atau tidak kalau aku gak mencoba bukan?
Wednesday, December 31, 2025
Sepertinya sudah telat 3 hari ya aku tidak menulis refleksi untuk satu minggu yang lalu? Tapi tidak ada kata terlambat bukan? Jadi baru hari ini aku akan menulis apa saja yang aku lalui di satu minggu ke belakang.
What makes me happy is jalan-jalan. Iyaps! Sabtu kemarin aku habis ikutan Cerita Bandung dengan rute Pecinan Discover disusul hari Minggunya pergi ke Katapang, naik motor bareng temen lama waktu kerja di Bandung. It was so amazing! And I really enjoyed the tour.
Uniknya aku menemukan hal aneh dalam diriku. Jika biasanya aku akan banyak ngobrol dan berisik, entah kenapa kali ini aku lebih menikmati mode diamku. Aku sangat menikmati jalan-jalan hanya dengan mengamati ketimbang banyak bertanya atau mengobrol. Dan hal itupun dirasakan oleh teman-temanku: aku lebih banyak diam. Entahlah, ini menjadi hobi baruku rasanya. Aku senang jalan-jalan dengan mengamati pemandangan tanpa banyak obrolan. Sepertinya ini akan aku lanjutkan di tahun selanjutnya! Solo travelling kali ya?
Minggu kemarin juga menjadi minggu pertama aku melepas status sebagai guru bahasa Inggris secara formal. Yeayy! Aku sudah tak lagi menjadi guru formal di sekolah dan rasanya entah mengapa melegakkan. Mungkin aku tidak suka suasana pagi yang kedabag-kedebug. Karena itu menguras emosiku.
Mm, mau cerita apalagi ya? Oh iya. Aku juga sudah lepas obat tidur hahahaa. Meski begitu, ternyata susah buat bisa tidur. Biasanya kan kebantu banget sama obat itu. Tapi kini enggak. Yang jam 8 biasanya udah nguap dan mata udah nutup rapat, ini masih melek. Bahkan aku benar-benar bisa tidur di jam 1 dini hari. Otak tuh rasanya berisik gak bisa diem. Capek banget sumpah. Kalau lagi susah tidur gitu, biasanya aku bakal gangguin adek aku yang udah tidur. Saking udah kesel gak bisa tidur.
Aku sudah mengupayakan berbagai cara. Mengurangi kafein, banyakin minum air putih, menjauhkan gadget minimal banget di 30 menit sebelum tidur, baca buku dulu sebelum tidur, dzikir. Arghh....!! Tetep aja otak aku aktif banget bahkan berisik. Udah pakai cara nulis juga tetep. But, wait! Aku jadi inget malam waktu aku nginep di kosan temenku kemarin. Sebelumnya itu aku sama temenku lari malam di Gasibu dan aku bisa banget tidur lelap tanpa otak berisik dan aktif. Apa jangan-jangan aku harus rutin lari sore kali ya? Biar bisa bobo nyenyak?
Karena jam tidurku yang kini berantakan, alhasil bangun pagi pun berantakan. Aku jadi mudah ngantuk di pagi hari dan sudah tiga hari ini aku melewatkan kegiatan fisik di pagi hari sambil menghirup udara pagi. Rasanya melelahkan ya? Banget! Huhuuu.
Dan lucunya aku juga gak bisa cerita ke sembarang orang. Aku udah capek di semangatin terus dan dikasih tips-tips ala-ala. Aku cuma butuh didengar dan dipahami. Udah itu aja. Alhamdulillahnya aku bersyukur karena aku punya satu teman itu. Karena kita sama-sama sedang berjuang dengan si depressive episode ini, tiap kali kita berulah kayak anak kecil ya no comment. Karena tanpa diceritakan udah paham aja rasanya gimana.
Beberapa jam lagi kita akan menuju tahun 2026 dan aku masih harus berjuang serta berteman sama si depressive episode ini. Tanggal 2 aku harus kontrol lagi ke psikiater. Tapi kayaknya aku juga butuh ke psikolog untuk membantu proses penyembuhanku gak sih?
Semoga tahun 2026 makin banyak duit biar bisa konseling ke psikolog atau biar bisa banyak jalan-jalan? Hahhaaa.
Yang jelas di minggu terakhir di tahun 2026 ini aku cuma pengen bilang sama diri aku:
Makasih karena kamu udah bertahan sejauh ini, terus mencoba berdamai dan menerima setiap kali si derpressive episode itu datang dan kambuh. Meski berat, susah, dan complicated pada akhirnya kamu bisa kan ya mengatasinya sedikit demi sedikit?
Makasih yaa karena udah bertahan. Aku sayang sama kamu!
Love,
Ihat
Sunday, December 21, 2025
![]() |
| Photo by Tima Miroshnichenko |
Hari Minggu beberapa jam lagi akan berakhir. Sebentar lagi waktu akan berganti, besok Senin dan itu artinya sudah masuk waktuku untuk mereview sekaligus merefleksikan satu minggu yang sudah aku lalui kemarin. Rutinitas kecil yang kini terasa lebih bermakna, karena aku belajar berhenti sejenak dan benar-benar hadir.
How was your week?
Alhamdulillah, berjalan baik. Tidak selalu mudah, tapi cukup baik untuk disyukuri. Apalagi semenjak didiagnosis depressive episode, banyak banget hal yang selama ini aku lewatkan begitu saja tanpa benar-benar aku sadari, apalagi aku syukuri. Kini aku bisa lebih menghargai segarnya udara di pagi hari, yang dulu begitu aku lewatkan begitu saja. Ternyata dengan bernapas secara sadar, secara tidak langsung itu bikin otak aku kayak direfresh lagi, lebih ringan, dan lebih tenang.
Hangatnya sinar matahari yang menyentuh kulit juga mampu membangkitkan rasa semangat aku untuk menjalani hidup, satu hari demi satu hari. Makanan yang saat ini bisa aku rasakan rasanya, setelah beberapa minggu yang lalu terasa hambar dan tidak enak dimakan, kini kembali punya rasa. Hal-hal kecil yang dulu hanya aku lewati begitu saja, sekarang justru menjadi sumber syukurku yang besar. Ternyata banyak sekali ya nikmat yang sudah diberikan oleh Allah. Dan betul sekali, jika kita mencoba menghitungnya satu per satu, rasanya tak akan pernah bisa terhitung nikmat yang sudah diberikan oleh-Nya.
Mm, apalagi ya?
Kayaknya itu aja sih. Tapi mungkin sebenarnya bukan "itu aja", melainkan sudah lebih dari cukup. Aku cuma mau bilang terima kasih aja sama diri sendiri yang sudah melewati hari-hari di minggu ini, walau terkadang perasaan menyerah selalu hinggap tanpa permisi. Terima kasih karena kamu sudah tidak memaksakan dirimu untuk selalu tampil sempurna dan ceria setiap harinya.
Pada akhirnya gak apa-apa kan kalau hari itu gak berjalan sesuai dengan keinginan kamu? Ternyata gak apa-apa juga ya, kalau satu hari aja kamu gak all out karena energi kamu emang udah habis? Dan ternyata, aku gak harus galak dan sejahat itu sama diri aku sendiri. Aku boleh lelah. Aku boleh berhenti sebentar. Aku boleh bernapas
Tetap lakukan yang terbaik sesuai dengan kadarnya saja. Jangan melampui batasmu lagi. Mungkin kamu akan mendapatkan tepuk tangan, tapi gak sedikit juga yang akan meremehkan kamu. Selalu ada dua sisi itu, dan kamu gak bisa mengontrol keduanya. Maka dari itu, berhenti mengejar kesempurnaan, dan jalani hari sebisa yang kamu berikan hari itu: gak lebih dan gak kurang juga.
Jangan pernah paksanakan diri kamu lagi ya. Udah cukup depresi ini menjadi pengingat, bahkan tamparan halus, buat kamu untuk lebih menyayangi diri kamu sendiri. Karena pada akhirnya, yang akan terus menemani sampai akhir adalah diri kamu sendiri. Bukan pencapaian kamu, bukan validasi orang lain, tapi diri kamu sendiri: dengan segala luka dan uapaya kamu.
Jadi, ucapkanlah terima kasih pada diri kamu sendiri sebelum tidur dengan tulus. Bilang,
Makasih ya. Kamu udah hebat banget hari ini.
Kamu udah keren banget bisa melewati hari ini.
Besok tetep temenin aku ya.
Bye! <3
Ihat

Social Media
Search