Wednesday, June 17, 2026
Hari ini, tanpa rencana apa pun, seorang teman tiba-tiba mengajakku ikut acara reuni SMP. Sempat ada ragu, tapi akhirnya aku mengiyakan dan buru-buru mengganti baju.
Setibanya di sana, aku kembali bersua dengan wajah-wajah lama dari masa remaja. Kebanyakan dari mereka kini sudah menikah. Namun, hal yang paling menyentuh hatiku malam ini adalah sikap mereka: tidak ada satu pun yang menyudutkan aku atau temanku karena status kami yang belum menikah. Ada kehangatan yang tulus, sebuah penerimaan tanpa penghakiman.
Malam ini aku disadarkan kembali, bahwa setiap orang benar-benar memiliki garis waktunya masing-masing. Hidup ini tak pernah seindah apa yang dipamerkan di etalase media sosial.
Aku jadi teringat, dulu aku pernah berkata bahwa aku enggan datang ke acara reuni. Aku takut dihakimi, takut diberondong pertanyaan-pertanyaan yang sensitif. Namun faktanya? Kekhawatiran itu hanya riuh di dalam kepalaku sendiri. Nyatanya, realitas tak pernah semenakutkan apa yang kita bayangkan. Kita hanya perlu melangkah dengan hati yang santai.
Setiap manusia diuji dengan porsinya masing-masing. Tidak ada yang berhak merasa menjadi "si paling" dalam hidup ini. Semuanya sudah tertakar sempurna oleh-Nya, dan tidak akan pernah tertukar.
Btw, thanks Inaa for inviting me tonight. Kamu menuntun langkahku keluar dari ketakutan. Malam ini, aku pulang dengan harapan baru dalam memandang hidup. Ternyata, masa depanku tak semenakutkan yang sempat kurisaukan. Everything is gonna be okay.
Saturday, May 30, 2026
Selamat merayakan Iduladha 1447 H bagi kamu yang merayakan!
I’m so grateful with this Eid. Entah mengapa, kali ini aku merasakan seperti ada beberapa cahaya yang menyinari hatiku. Cahaya yang mengembalikan diriku seperti sebelumnya: an initiator in my family. Aku kembali memiliki ide dan energi untuk merayakan Iduladha ini, walau mungkin tidak seberapa. Kondisi ini sangat berbeda dengan diriku saat Idulfitri lalu, di mana aku lebih banyak diam ketimbang menginisiasi perayaannya.
Semuanya bermula ketika aku ingin membuat BBQ-an (dibandingkan bikin sate seperti biasa), sekaligus tetap ingin makan kupat dan opor ayam. Saat mengobrol, Mamah bercerita dan meminta maaf karena tidak bisa memasak menu tersebut dikarenakan keuangan keluarga yang sedang menurun.
Mendengar itu, muncullah inisiatifku untuk mengajak adikku yang sudah sama-sama bekerja untuk udunan (patungan). Biasanya, akulah yang selalu menanggung semuanya sendirian. Jujur saja, selama ini terkadang di dalam hati suka ada rasa kesal sedikit. Tapi dari momen ini aku tersadar: rasa kesal itu muncul hanya karena aku tidak mengomunikasikannya dengan baik. Adikku tipe orang yang memang harus dikasih tahu, bukan seperti aku yang mudah terenyuh dan cepat paham situasi. Dan ternyata, saat diajak udunan dia mau-mau saja tanpa keberatan.
Momen ini mendadak mengingatkanku pada sebuah kutipan buku yang sangat menampar:
"Jika kita menginginkan sesuatu dari orang lain, hal kecil sekalipun, kita harus memberitahu mereka yang sebenar-benarnya. Pengertian dan perhatian, hal apa pun yang menyangkut ekonomi, kata-kata yang hangat untuk disampaikan, apa pun itu. Jika kita tidak berkata apa-apa, orang lain tidak akan tahu kalau kita terluka. Tak ada tersangka, yang ada hanya korban." Yoo Eun-Jung, Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti.
Dan, boomm! Tulisan itu betul sekali. Selama ini aku selalu pura-pura kuat. Pura-pura bisa menanggung semuanya, padahal sebetulnya aku pun butuh bantuan tapi tidak tahu harus mengomunikasikannya bagaimana.
Dari pengalaman Iduladha kali ini, aku membuktikan sendiri bahwa adikku tidak egois. Dia hanya butuh diberi tahu, dan sisanya dia paham sendiri. Bahkan saat kami mau membuat BBQ, dia malah menyumbang minuman tanpa diminta!
Ternyata, asumsi-asumsi buruk itu hanya ada dalam benakku saja. Karena tidak berani menyampaikan dan memilih menyimpannya sendiri, akhirnya aku kewalahan sendiri, kan?
You are the only person responsible for your life and your happiness.*
Betul sekali. Tidak ada yang bisa memahamiku pada saat itu karena, ya... semuanya aku pendam sendiri tanpa dikomunikasikan dengan baik.
Kembali meminjam kutipan dari buku Yoo Eun-Jung di halaman 5:
"Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri, menciptakan situasi yang membuat kita menanggung segala hal sendirian, dan saat sesuatu terjadi, kita tak punya siapa-siapa. “Aku sangat memikirkan dan peduli pada orang lain, tapi kenapa mereka tidak mengerti perasaanku sama sekali?” “Kenapa dia menyepelekan kebaikanku?” Kita harus berhenti dikuasai oleh keputusasaan, frustrasi, kemarahan, dan keterasingan."
Iduladha tahun ini bukan cuma tentang daging kurban atau BBQ, tapi tentang sebuah kesadaran baru untuk diriku sendiri. Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri dengan ekspektasi bahwa orang lain harus selalu paham tanpa kita bicara.
Yuk, belajar menurunkan ego untuk meminta bantuan, dan belajar mengomunikasikan isi hati dengan jujur. Karena orang lain bukan cenayang, dan kita tidak harus selalu jadi pahlawan sendirian.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think
Sunday, May 24, 2026
Halo!
Jadi, bagaimana seminggu ini? Capek? Kesal? Marah? Atau bahagia?
Talking about this week, I feel like I've been tired almost every day. Entahlah, rasanya capek aja. Iya sih, seminggu kemarin banyak mengerjakan administrasi kelas, seperti menilai hasil ujian siswa dan juga bikin report. Tapi kenapa ya, semenjak depresi hadir dalam hidup aku, aku jadi tak sekuat biasanya?
Aku jadi mudah lelah. Ngumpul atau terlalu banyak ketemu orang rasanya menyedot banyak energiku. Ah, ya! Nah kan, aku baru sadar alasan kenapa lelah sekali seminggu ini—bahkan di hari Minggu ini aku malas melakukan aktivitas. Seminggu ini aku memang banyak bertemu dengan orang tua siswa untuk acara parents' meeting. Rasanya energi ini benar-benar tersedot habis.
Bahkan kemarin, ketika teman-temanku mengajak untuk nongkrong di kafe, pada akhirnya aku tolak. Karena udah capek aja gitu, gak tahu kenapa. Udah gak ada energi lagi buat ketemu banyak manusia. Kadang suka mikir, kalau kayak gini terus, kapan ya bisa ketemu jodohnya? Hahaha.
Tapi wajar kok. Gak semua minggu harus kamu lalui dengan perasaan yang excited. Kamu boleh lelah, boleh merasa malas, dan boleh untuk tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk pertama kalinya dalam hidupku, orang tuaku tidak banyak komplain hari ini, meskipun aku tidak melakukan apa pun selain mandi, mengajar anak-anak (volunteer), makan, tidur, nonton, jajan, lalu ditutup dengan menulis buku dan membaca.
Btw, minggu ini aku sedang membaca buku Gentle Souls karya Dhannisa Cho. Isinya benar-benar menggambarkan apa yang pernah dan sedang aku rasakan. Kapan-kapan nanti aku tulis review-nya ya!
Ya sudahlah, untuk minggu ini pokoknya aku lelah. Aku lelah bertemu dan banyak berkomunikasi dengan manusia. Entahlah, aku juga tidak paham kenapa bisa se-lelah ini. Tapi ya sudahlah, biarlah. Mungkin memang minggu ini aku harus mengizinkan diriku merasakan lelah berkepanjangan.
Selamat menutup hari Minggu dan selamat bertemu hari Senin!
Sunday, May 17, 2026
Halo semua, selamat malam.
Sebelum melangkah memasuki hari Senin, aku ingin meluangkan waktu sejenak untuk merefleksikan minggu ini.
Satu hal yang paling aku syukuri dalam seminggu terakhir adalah kesempatan untuk berkumpul dan bercengkerama kembali dengan teman-teman kerja lama. Kami mengobrol ke sana kemari, tertawa, bahkan sampai berpindah tempat nongkrong. Rasanya lumayan sekali untuk melepas penat sekaligus rindu karena cukup lama tak bertemu. Mendengar celotehan mereka soal dinamika pekerjaan masing-masing menjadi hiburan tersendiri untukku.
Aku juga sangat bersyukur dengan hari Minggu kali ini. Aku bisa melaluinya dengan santai, tanpa beban berat untuk menjemput hari Senin. Menikmati Minggu yang damai seperti ini sungguh kontras dengan apa yang sering aku alami di tempat kerja sebelumnya. Dulu, aku sering kali dilanda stres setiap hari Minggu. Aku jarang bisa menikmati hari libur dari gawai (gadget), karena dari Minggu sore menuju malam, pesan-pesan instruksi untuk esok hari sudah ramai bertebaran di grup kerja.
Oh iya, ada satu momen menarik yang tertangkap mataku saat sedang berkumpul bersama teman-temanku kemarin. Aku melihat seorang anak yang mengajak ibunya makan bersama. Setelah selesai makan, anak itu meminta ibunya berpose lalu mengabadikannya dengan kamera. Melihat beberapa pose yang berhasil difoto itu, entah mengapa ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatiku. Momen sederhana, tapi begitu penuh kasih. Semoga Mamah mau juga ya diajak begini nanti.
Ya... meski hari Mingguku terasa hangat, tetap saja ada bumbu kekesalan kecil karena di sepanjang jalan ketika berkumpul bersama teman-teman itu banyak sekali tukang parkir yang bermunculan, hehe.
Kalau minggu ini, bagaimana dengan ceritamu? Adakah hal manis yang bisa kamu syukuri, atau justru ada hal kecil yang sempat bikin kamu kesal?
Selamat bertemu hari Senin!
Social Media
Search