Ramadan Journaling

Monday, March 16, 2026

Pola emosi apa yan terus berulang dalam hidupku?

Setiap pagi, matahari menyusup melalui celah-celah jendela kamar yang kusam, tapi aku tetap berbaring di atas kasur. Tubuhku berat, seperti ditindih beban tak kasat mata. "Bangunlah, ayo," bisik pikiranku, tapi semangat itu hilang entah ke mana. Hidup terasa seperti kabut abu-abu yang tak berujung, tidak ada warna, tidak ada tujuan. Sedih itu datang lagi, seperti tamu tak diundang yang selalu muncul tanpa kenal waktu. Di tengah kekosongan itu, perasaan hampa merayap masuk, meninggalkan lubang di dada yang tak bisa diisi apa pun, bukan makanan, bukan hiburan, bahkan bukan pula sebuah pelukan. 

Siang hari, hal-hal kecil pun antara terasa menusuk atau sama sekali tak berarti. Aku bisa sangat numb atau bisa saja aku terlalu sensitif dengan apa yang terjadi. Kadang tertawa hanya ikut tertawa, diam melamun, lalu tiba-tiba air mata sudah menggenang tanpa alasan jelas. Dan aku merasa dunia terlalu kasar untuk bisa kufahami. 

Malam hari lebih parah. Jam menunjukkan pukul satu dini hari, tapi mataku menolak terpejam. Pikiran berputar-putar: kenangan masa lalu yang menyakitkan, kekhawatiran besok yang tak pasti, dan pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti, "Buat apa semua ini? Buat apa aku hidup?" Aku berguling-guling di tempat tidur, menatap langit-langit kamar, atau kalau sudah kesal sekali lantaran tak bisa memejamkan mata pada akhirnya aku akan mengambil hp, scroll ini-itu berharap riuhnya isi kepala bisa teralihkan. Tapi setelah menit, jam berlalu semuanya tidak membantu. Bahkan dengan keheningan yang menyelimuti, justru itu terasa menyiksa diri bahkan disertai dengan air mata yang diam-diam tumpah. 

Ini pola yang kukenali sekarang. Sedih, hampa, sensitif pada hal kecil, sulit fokus, kehilangan semangat, susah tidur, susah bangun, sedih lagi. Lingkaran setan yang berulang setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Kadang aku coba lawan dengan minum latte: varian kopi favoritku, bersepedah, atau membaca buku. Tapi besoknya? Semuanya kembali. Seperti roda yang rusak, terus berputar di tempat. Semua ini kembali lagi terulang setelah aku berhenti minum obat anti depresan. Meski pola ini tak separah sebelumnya, namun sungguh tak nyaman untuk dirasakan dan dilalui. 

Suatu hari, aku menatap cermin, melihat pantulan wajahku di sana. "Kapan ini berhenti?" Lalu, dalam hening itu aku berdoa pelan, 

"Ya Allah, sekuat-kuatnya perasaan ini menguasaiku tolong jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah membiarkan aku putus asa dari rahmat-Mu dan meragukan kuasa-Mu."

"Ya Wali, be my closest friend when the world drifts away. Guard me with the grip that never slips. Guide me gently through what I don't understand and let every loss lead me back to You.

Ya Barr, keep me firm on the ground of Your goodness. Make my faith steady when my heart trembles. Let me love what brings me to Your stability and make me patient with what keeps me on its shore. 

Ya Rafiq, be tender with my soul as You unfold Your plan. Soften the path without removing its purpose. Make me gentle with others as You've been gentle with me. And when I am lonely, fill that space with Your Companion." (The Friend Who Never Leaves - Ep 4 Dr Omar Suleiman)




 

Monday, March 02, 2026

There is a question that often lingers in the quite corners of my mind: What mistakes or shortcomings still haunt me with guilt? However, this is not merely about my flaws or past errors. Rather, it is a reflection on a deeper struggle, one that has shaped my understanding of faith, doubt, and surrender. 

I have walked through that darkness. There were moments, some still present now, when I contemplated leaving Islam altogether. When I lost faith in myself, in my life, and eventually in my belief, I found myself thinking: Should I seek another God?

Yet, something pulled me back. I forced myself reopen the Qur'an. I watched countless videos about Islam, particulary about Qada and Qadar. And in those moment, I wept. 

The root of my despair lay in my struggle with Qadar. I wanted to control of my life, to shape it according to my own desires. Whenever things unfolded differently from what I had planned, disappoitment consumed me. I blamed myself, convinced that I had failed beyond repair.

But slowly, I began to learn something profound: to surrender it all back to Allah. I started seeking His light, believing that only He can guide me out of the darkness and lead me back to the right path. 

Ya Hadi, guide me when my heart forgets the way. Pull me back from every turn that leads me astray. Let your guidance feel closer than the doubts in my chest and steadier than the voices that confuse me. 

Ya Rasyid, teach me to see the truth instinctively. Make faith beloved to me. make righteousness feel natural. And let sin feel heavy on my chest and hated by my every breath. Inspire me with wisdom that protects me even from myself. 

Ya Nur, light every darkness I carried or  caryy within. Let your light pour into my heart and onto all my other limbs. Until you make me a light and everything I see reminds me of you. 

Ya Mubin, make your signs clear in what surrounds me and what is within me. Reveal the lessons hidden in every trial. Let me never lose sight of your signs again. (When You're Searching For Meaning, The Name I need Ep. 3, Dr Omar Suleiman)


Thursday, February 26, 2026

Jika hatiku bisa berbicara kepada Allah hari ini, apa yang ingin ia sampaikan?

Aku ingin bilang, 

Izinkan aku berdiri di hadapan-Mu dengan hati yang terbuka. Dengan segala kerentanan dan ketakutan yang menyertainya. Aku menyadari bahwa seringkali aku melupakan-Mu di tengah hiruk pikuk urusan dunia yang tak ada habisnya. Namun Engkau tetap menjadi cahaya yang tidak pernah padam, bahkan di saat-saat kegelapan datang menyelimuti yang terasa begitu menyesakkan. 

Ya Rabb, bimbing aku agar langkahku tidak tersesat dalam labirin kehidupan yang fana ini. Hadirkan cahaya-Mu agar aku dapat melihat jalan-Mu yang benar. Menghilangkan kabut yang memenuhi pikiran dan menjauhkanku dari jurang keputusasaan yang begitu gelap dan panjang. 

Ingatkan aku, Ya Allah, bahwa hidup ini adalah ujian yang bersifat sementara. Bahwa setiap detik yang kulalui adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Dan akhirat adalah rumah yang kekal, tempat balasan sejati atas setiap usaha yang aku kerjakan dengan ikhlas.

Bimbing aku untuk menjadi hamba yang Engkau ridhai. Bukan manusia yang mengejar kepuasan dunia, melainkan jiwa yang tentram dalam naungan cinta dan kasih-Mu. 

Ketika dunia menarik perhatianku ke arah yang salah, ingatkan aku bahwa Engkau adalah pusat dari segalanya. Ajarkan aku untuk menyucikan niat, agar setiap langkah yang aku ambil, setiap nafas yang aku hembuskan, semata-mata hanya untuk-Mu.

Ketika dunia sibuk memperjuangkan kekayaan dengan segala cara, hingga aku mulai mengeluh dan melupakan segala nikmat-Mu, ingatkan aku bahwa rezeki ku sudah Engkau atur dengan sempurna. 

Ketika seluruh dunia mencari validasi dari sudut pandang manusia lain, ingatkan aku bahwa nilai diriku hanya berasal dari-Mu. Engkau adalah satu-satunya yang berhak menilai, bukan manusia fana yang juga mencari jawaban yang sama

Dan ketika hati mulai terbagi untuk mencintai urusan dunia yang sementara, ingatkan aku bahwa hatiku adalah milik-Mu semata. Seluruh aktifitasku, pengorbananku, sepenuhnya untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang-Mu. 

Ya Rabb, ajarakan aku untuk terbebas dari belenggu penilaian duniawi yang kadang membutakan mata hati hingga melupakan kehadiran-Mu. 

Ya Allah, The One my heart was created to seek, pull me away from every false worship, from anything that divines my devotion, until nothing fills my longing but You. 

Ya Wahid, Unify my pursuit into a single direction. And when the world pull me apart, center me in Your oneness. 

Ya Ahad, open my heart to see that nothing compare, so that I'm never overly impressed by anyone but You. And I come to love Your names and attributes in a way that fress me from all others but You. 

Ya Witr, when I stand alone at the close of the night, let my solitude remind me of Your singular majesty. Make my heart distinct by its devotion, and make me one of Your servants. (Who Owns Your Heart? Allah's Name Ep.2 Dr. Omar Suleiman)

"Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, "Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya: 87)


Tuesday, February 24, 2026

Kapan terakhir kali aku merasa jauh dari Allah, dan kenapa?

Mungkin pertanyaan itu selalu menggema di setiap sudut hatiku yang paling gelap. Dan jawaban itu selalu sama: saat depressive episode datang mengetuk pintu hidupku. Aku merasakan hidupku yang gelap, tak ada lagi harapan, dan masa depan yang suram: saat dunia tiba-tiba kehilangan warnanya, saat harapan menjadi kata yang asing, dan masa depan terasa seperti lautan luas tanpa tujuan. 

Malam-malamku dipenuhi bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, seperti film yang diputar berulang-ulang tanpa bisa dihentikan. Aku mencoba memejamkan mata, tetapi kenangan-kenangan itu selalu berhasil membangunkanku lagi. 

Aku kehilangan semangat untuk beribadah. Salat yang seharusnya menjadi penenang, justru menjadi beban yang terasa sangat berat. Tapi anehnya, meskipun jiwaku  letih, aku tetap memaksakan diri untuk bersujud, seraya berdoa, "Ya Allah, bagaimana pun kondisi aku, jangan biarkan aku melupakan dan meninggalkan-Mu."

Di titik terdalam keputusasaanku, ada sebuah pikiran yang terus mengantui: aku merasa tidak layak atas hidupku ini dan pada saat itu yang ada dalam fikiranku adalah aku ingin segera mengakhiri hidupku ini. 

Namun berapa kali aku mencoba untuk menyakiti diri sendiri dan ingin mengakhiri hidup, hal itu tidak pernah sampai di garis finish yang aku inginkan. Aku merasa seolah Allah terus menerus menjagaku, melindungiku, dan membimbingku. 

Sekarang,  aku terus mencari apa arti hidup ini, serta apa yang bisa membuatku kembali menemukan cahaya di ujung kegelapan terpanjang ini. 

"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Saturday, February 21, 2026

Topeng apa yang sering kupakai di depan manusia?

Pura-pura baik-baik saja. Pura-pura aku bisa. Pura-pura aku kuat. Pura-pura aku bisa sendiri. Padahal semuanya palsu. Semuanya hanya topeng belaka. 

Di balik semua itu, aku lemah. Aku tak mampu mengerjakan seorang diri. Aku butuh teman. Aku butuh orang yang bisa membantuku, mendukung aku. Aku butuh kehadiran yang mengingatkan bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi kerasnya hidup. 

Yang paling menyakitkan adalah kadang saat mengerjakan sesuatu, aku selalu ingin menampilkan yang terbaik. Memberikan yang terbaik agar aku dianggap mampu. Agar aku dianggap capable oleh manusia. Agar aku tak direndahkan. Padahal semuanya terjadi karena atas izin-Nya. Tanpa kehendak dan pertolongan dari Allah, aku tak akan mampu melakukan apa pun. 

Kamu tahu? Saat aku haus akan pujian, tepuk tangan orang, dan ingin membuktikan bahwa aku mampu, di saat itu juga justru kegagalan yang menimpa aku. Sampai kemudian aku diingatkan bahwa berhasil atau tidak itu sudah bukan lagi tanggung jawabku. Sudah bukan dalam kendaliku lagi untuk bisa mewujudkannya sesuai dengan apa yang aku mau. 

Aku lupa. Bahwa segala sesuatu itu sudah diatur. Sudah ada kadarnya. Aku tak bisa merubahnya sesuaid dengan keinginanku. Saat aku begitu serakah dengan semua itu, yang ada justru aku malah menyakiti diriku sendiri. Menyalahkan segala kemampuanku, usahaku. Menganggap bahwa aku tak layak, aku tak mampu, aku tak becus, hanya karena satu kegagalan yang menimpaku. Padahal jika aku mengembalikan semua itu kepada Rabbku, aku tak akan pernah menyakiti diriku sendiri dan percaya bahwa ini adalah keputusan yang terbaik, hasil terbaik yang diberikan Allah untuk aku. Seandainya aja dulu aku punya keyakinan ini. Aku tak perlu menunggu sampai jatuh sakit secara mental seperti sekarang.

Kini, aku perlahan melepas topengku. 

Saat ada orang yang bertanya kabarku dan saat kabarku sedang tidak baik-baik aja, aku akan jujur untuk bilang kalau aku sedang tidak baik-baik aja. Jika ada sesuatu hal yang tidak aku mengerti, kini aku tak lagi sungkan untuk bertanya meski dia usianya lebih muda dari aku. 

Jika aku gagal pada hari itu, aku tak lagi menyalahkan diriku sendiri. Aku tak lagi menilai diriku dari kegagalan yang aku terima. Kini aku berprinsip bahwa gagal dan berhasil itu akan selalu datang mengiringi. Tak akan selamanya gagal dan tak akan selamanya berhasil. 

Dan satu lagi, aku tak punya kendali atas hidupku seutuhnya. Aku punya Allah dan Dia yang sudah mengatur segalanya untukku. Aku yakin apa yang telah Dia gariskan untukku adalah yang terbaik untuk urusan dunia dan akhiratku. 

Aku bisa bepikir seperti ini setelah mengalami masa-masa gelap dalam hidupku. Mungkin inilah cara Allah membuka mataku. Mungkin inilah yang dibutuhkan agar aku bisa bernapas lega. 

Kini aku belajar untuk tidak peduli terhadap obrolan orang lain. Karena yang menjalani hidup adalah aku, bukan kamu ataupun mereka. Belajar lagi untuk tidak peduli pada pencapaian orang lain, fokus pada dirimu sendiri dan yakini bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tak ada gunanya membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain. Karena jalan kita semua berbeda.

Aku tak mau lagi berbuat sesuatu karena validasi orang lain. Aku hanya mau melakukan sesuatu atas validasi diriku sendiri dan tentunya rida Tuhanku. Karena mengejar validasi mereka yang fana justru perlahan membunuhku dan tanpa sadar aku kehilangan diriku sendiri: aku selalu ingin menyenangkan mereka tanpa mau mendengar apa yang diri sendiri inginkan. Tanpa membuat diriku sendiri senang. 

Akhirnya, peralahan aku memilih untuk berjalan kembali kepada diriku sendiri. 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah 263)

Thursday, February 19, 2026

Apa yang membuat hatiku lelah akhir-akhir ini? 

Mungkin inilah pertanyaan yang tepat untuk menggambarkan kondisi jiwaku saat ini. Hati yang lelah, bukan karena tubuh yang capek, melainkan karena terlalu lama membawa beban yang tidak seharusnya ditanggung: ekspektasi. 

Ekspektasi tentang hidup dan harapan terhadap manusia yang pada akhirnya selalu membuat kecewa. Aku tahu, aku udah jahat banget sama diri aku sendiri dengan menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Menyalahkan diri saat kegagalan menghampiri dan lupa bahwa sesungguhnya segala sesuatu sudah ada yang mengatur, Allah SWT. 

Lantas mengapa aku terus menguras seluruh tenagaku untuk urusan dunia ini? Bukankah sudah ada Allah yang mengatur? Mengapa aku tidak berusaha semampu yang aku bisa, berdoa, lalu bertawakal? Meletakkan sisanya kepada Allah?

Orang tuaku sendiri bahkan tidak pernah membebaniku soal pekerjaan harus berpenghasilan tertentu, atau harus menjadi ini-itu. Mereka mendukung aku untuk menjadi guru, bermanfaat bagi sesama. Hanya saja, mereka mengingatkan aku bahwa aku juga harus memikirkan diriku sendiri. Jangan terus menerus mengajar tanpa cukup untuk hidup. Karena untuk saat ini ya harus realistis saja. Hidup butuh makan, dan makan butuh uang, bukan pahala.

Maka, satu persatu yang memang tidak masuk akal dan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupku, aku tinggalkan. Apalagi jalannya ribet dan aturannya sering berubah. Aku memilih mengerjakan yang pasti-pasti saja, yang penghasilannya mencukupi.

Di tahun ini, untuk pertama kalinya selama sepuluh tahun aku bekerja, adalah tahun tersantai. Aku hanya bekerja dari jam satu siang sampai jam delapan malam. Aku tidak perlu lagi ribut-ribut di pagi hari karena harus masuk di jam tujuh pagi. Meski begitu, entah kenapa rasanya aneh saja. Mungkin aku belum terbiasa dengan ritme santai ini. 

Beberapa lamaran sudah aku kirimkan untuk mengisi waktu pagiku, tapi tidak ada panggilan. Mungkin memang waktunya untuk beristirahat dulu dari seluruh ambisiku yang tidak pernah ada habisnya. Lebih banyak mendengarkan diri sendiri dan lebih sering berdialog dengan Allah. 

Satu pesan Mamah.

"Jangan sering lihat-lihat ke kehidupan orang yang ada di atas kamu. Karena itu bikin kamu sakit dan terus menerus gak bersyukur sama nikmat yang udah Allah kasih."

Aku terdiam. Aku tahu itu. Dan aku sedang berproses untuk menerima kondisiku, kehidupanku saat ini. Meski ujung-ujungnya, aku dibuat kesal juga sama Mamah karena Mamah bilang aku dinasehatin gitu gak ada hasilnya. Kayak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. 

Ya, aku gak terima dong digituin. Aku bilang, gak serta merta kita bisa menerima plek-ketiplek soal hidup kita. Itu butuh waktu, butuh proses. Dan aku pun gak perlu cerita soal proses penerimaan atas hidupku ke Mamah ataupun ke orang lain, bukan? Mereka gak akan pernah tahu dan faham soal pergolakan batin apa yang sedang berkecamuk di hati dan pikiran kita. 

Aku cuma ingat kata psikolog sekolah aku dulu,

"Jalan menuju penyucian jiwa itu tidak mudah, tapi ingat balasannya adalah surga." 

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr 27-30)

Maka di bulan Ramadan ini aku terus menerus berdoa agar dilembutkan hatiku untuk menerima kondisi dan kehidupanku saat ini. Rida atas apa yang telah ditetapkannya untukku dan aku pun rida untuk terus beramal melakukan kebaikan karena-Nya, bukan lagi karena urusan dunia. 

Ya Rahman, Your throne you wrote mercy upon yourself. You were merciful before there was anyone to receive mercy. Embrace every part of me with that mercy, my past with its scars, my present with its needs, my future with its uncertainty. Ya Rahim, let me taste the mercy you keep for those who return. Reward me with the mercy I have yet to know and raise me to the highest place in Paradise despite my lows. Ya Ra'uf, cover me from storms I don't see coming. mend me before I break. Spare me from trials of every kind. Let your mercy reach me in ways I'll only understand when I finally meet You. (How Merciful is the Most Merciful? Allah's Names Ep. 1. Dr. Omar Suleiman)

Wednesday, February 18, 2026

doc. pribadi

Siapa diriku saat ini adalah...

Aku adalah orang yang sangat mudah lelah.

Sensitif.

Sulit tidur.

Dan terakhir aku didiagnosis depressive episode berat oleh psikiater. 

Diriku saat ini adalah orang yang sulit untuk bisa menerima kenyataan tentang dirinya sendiri.

Seseorang  yang masih memandang bahwa angka-angka adalah simbol dari kesuksesan.

Seseorang yang diam-diam masih mengukur harga diri dari pencapaian.

Hingga tanpa sadar melupakan bahwa akhirat adalah tujuan akhir dari semua perjalanan ini. 

Kemudian ayat ini kembali mengingatkanku,

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hashr: 18)

Astaghfiurllah.

Jadi selama ini apa yang membuat hatimu risau, hat? 

Apa yang membuat pikiranmu berkecamuk hingga sulit untuk bisa memejamkan mata di malam hari?

Apakah karena pencapaian-pencapaian seusiamu yang ditampilkan di layar ponsel? 

Apakah karena kamu merasa tertinggal?

Jika iya, mengapa mimpimu menjadi begitu pendek?

Mengapa ia hanya sebatas kebahagian dunia yang sesaat, dan bukan akhirat yang kekal?

Aku tahu, kamu marah dengan kondisimu saat ini. Karena secara tidak langsung kondisimu saat ini mengubah banyak hal dalam dirimu.

Kamu jadi mudah lelah.

Sulit berkonsentrasi.

Lebih sensitif.

Dan sering memandang segala sesuatu dari sisi yang paling gelap. 

Kamu marah karena kamu tak bisa lagi berlari sekencang dulu.

Kamu merasa tertahan.

Merasa tertinggal.

Tapi coba tengok lagi, apa yang sudah kamu lakukan pada dirimu hingga tubuh dan jiwamu berakhir seperti ini?

Bukankah selama ini kamu terlalu keras?

Terlalu memaksa?

Terlalu mendengar ego dan ambisi, tapi jarang benar-benar mendengar isi hati?

Jangan-jangan ini bukan hukuman.

Jangan-jangan ini adalah panggilan. 

Panggilan untuk memperbaiki niat, arah, dan juga untuk mendengar diri kamu sendiri lebih jernih lagi. Bukan egomu, bukan nafsumu. Tapi hatimu yang paling dalam.

Aku tahu, ini tak mudah bagi aku. Bagi orang yang kompetitif seperti aku. Yang terbiasa bergerak cepat, yang terbiasa mengukur diri dari pencapaian. Kini harus terbiasa belajar untuk menerima bahwa yang namanya hidup ada fasenya, ada masanya, ada waktunya. 

Ada masanya berlari.

Ada masanya berhenti.

Ada masanya diuji agar kembali diluruskan. 

Mungkin dengan ujian ini, Allah ingin mengingatkan aku bahwa aku hidup bukan hanya untuk mengejar angka-angka yang tidak pernah ada habisnya, bukan untuk memuaskan ego yang tak pernah bisa benar-benar kenyang. 

Tapi Allah ingin agar aku hidup membawa makna dan manfaat sehingga bisa menyelamatkan aku di akhirat nanti. Dengan niat yang tulus, bukan karena urusan dunia lagi. 

Ya Allah, bantu aku melewati fase ini. Bantu aku untuk melawan ego serta hawa nafsuku sendiri. Ingatkan aku selalu bahwa pencapaian dunia tak ada artinya jika hatiku tak pernah ditautkan kepada-Mu atau jika tujuanku hanya ingin membuat egoku puas. Jangan pernah tinggalkan aku sendiri di tengah gemerlap dunia yang menipu ini, jauhkan aku dari pencapaian-pencapaian dunia yang bisa membuatku jauh dari Mu.

Dan jika fase ini adalah cara-Mu untuk menyelamatkanku, maka kuatkan aku untuk menjalaninya dengan sabar. 

Karena mungkin, di Ramadan tahun ini yang perlu aku perbaiki bukan daftar targetku, tetapi hatiku. 

Monday, February 16, 2026

doc.pribadi

Ramadan sering kita sebut sebagai bulan kembali. Kembali kepada Al-Qur'an, kembali kepada masjid, kembali kepada doa. 

Namun, pernahkah kita benar-benar kembali kepada diri sendiri?

Sering kali kita berpuasa dari makan dan minum, tetapi tidak pernah berpuasa dari luka lama, dari dendam, dari rasa tidak cukup yang terus menggerogoti hati. Kita sibuk memperbaiki amal, tetapi lupa memeriksa hati.

Tahun ini, aku tidak ingin hanya menjalani Ramadan sebagai rutinitas ibadah. Aku ingin menjadikannya perjalanan. Perjalan untuk mengenal siapa diriku sebenarnya di hadapan Allah. Perjalanan untuk berdamai dengan luka yang belum selesai. Perjalanan untuk menemukan kembali makna hidup yang mungkin sempat hilang di tengah lelahnya dunia. 

Melalui seri #RamadanJournaling ini dengan tema Self Discovery, aku ingin menuliskan percakapan-percakapan sunyi antara aku dan Penciptaku. Tentang dosa yang masih membuatku takut. Tentang doa yang belum terjawab. Tentang harapan yang diam-diam masih kupeluk. 

Ada lelah yang belum selesai

Ada luka yang belum sembuh

Ada doa yang masih menggantung di langit. 

Aku sadar, mungkin selama ini aku lebih sibuk memperbaiki penampilanku di hadapan manusia daripada memperbaiki hatiku di hadapan-Mu.

Maka di bulan ini, izinkan aku belajar kembali. Belajar mengenal diriku sebagaimana Engkau mengenalkanku. Belajar menerima takdir yang tak selalu sesuai harapan. Belajar mencitai-Mu bukan hanya karena takut, tapi karena rindu. 

Semoga tulisan ini bukan hanya menjadi catatam perjalan pribadiku, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi siapapun yang sedang mencari cahaya di bulan penuh ampunan ini. 

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi