3. Topeng Di Depan Manusia

Topeng apa yang sering kupakai di depan manusia?

Pura-pura baik-baik saja. Pura-pura aku bisa. Pura-pura aku kuat. Pura-pura aku bisa sendiri. Padahal semuanya palsu. Semuanya hanya topeng belaka. 

Di balik semua itu, aku lemah. Aku tak mampu mengerjakan seorang diri. Aku butuh teman. Aku butuh orang yang bisa membantuku, mendukung aku. Aku butuh kehadiran yang mengingatkan bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi kerasnya hidup. 

Yang paling menyakitkan adalah kadang saat mengerjakan sesuatu, aku selalu ingin menampilkan yang terbaik. Memberikan yang terbaik agar aku dianggap mampu. Agar aku dianggap capable oleh manusia. Agar aku tak direndahkan. Padahal semuanya terjadi karena atas izin-Nya. Tanpa kehendak dan pertolongan dari Allah, aku tak akan mampu melakukan apa pun. 

Kamu tahu? Saat aku haus akan pujian, tepuk tangan orang, dan ingin membuktikan bahwa aku mampu, di saat itu juga justru kegagalan yang menimpa aku. Sampai kemudian aku diingatkan bahwa berhasil atau tidak itu sudah bukan lagi tanggung jawabku. Sudah bukan dalam kendaliku lagi untuk bisa mewujudkannya sesuai dengan apa yang aku mau. 

Aku lupa. Bahwa segala sesuatu itu sudah diatur. Sudah ada kadarnya. Aku tak bisa merubahnya sesuaid dengan keinginanku. Saat aku begitu serakah dengan semua itu, yang ada justru aku malah menyakiti diriku sendiri. Menyalahkan segala kemampuanku, usahaku. Menganggap bahwa aku tak layak, aku tak mampu, aku tak becus, hanya karena satu kegagalan yang menimpaku. Padahal jika aku mengembalikan semua itu kepada Rabbku, aku tak akan pernah menyakiti diriku sendiri dan percaya bahwa ini adalah keputusan yang terbaik, hasil terbaik yang diberikan Allah untuk aku. Seandainya aja dulu aku punya keyakinan ini. Aku tak perlu menunggu sampai jatuh sakit secara mental seperti sekarang.

Kini, aku perlahan melepas topengku. 

Saat ada orang yang bertanya kabarku dan saat kabarku sedang tidak baik-baik aja, aku akan jujur untuk bilang kalau aku sedang tidak baik-baik aja. Jika ada sesuatu hal yang tidak aku mengerti, kini aku tak lagi sungkan untuk bertanya meski dia usianya lebih muda dari aku. 

Jika aku gagal pada hari itu, aku tak lagi menyalahkan diriku sendiri. Aku tak lagi menilai diriku dari kegagalan yang aku terima. Kini aku berprinsip bahwa gagal dan berhasil itu akan selalu datang mengiringi. Tak akan selamanya gagal dan tak akan selamanya berhasil. 

Dan satu lagi, aku tak punya kendali atas hidupku seutuhnya. Aku punya Allah dan Dia yang sudah mengatur segalanya untukku. Aku yakin apa yang telah Dia gariskan untukku adalah yang terbaik untuk urusan dunia dan akhiratku. 

Aku bisa bepikir seperti ini setelah mengalami masa-masa gelap dalam hidupku. Mungkin inilah cara Allah membuka mataku. Mungkin inilah yang dibutuhkan agar aku bisa bernapas lega. 

Kini aku belajar untuk tidak peduli terhadap obrolan orang lain. Karena yang menjalani hidup adalah aku, bukan kamu ataupun mereka. Belajar lagi untuk tidak peduli pada pencapaian orang lain, fokus pada dirimu sendiri dan yakini bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tak ada gunanya membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain. Karena jalan kita semua berbeda.

Aku tak mau lagi berbuat sesuatu karena validasi orang lain. Aku hanya mau melakukan sesuatu atas validasi diriku sendiri dan tentunya rida Tuhanku. Karena mengejar validasi mereka yang fana justru perlahan membunuhku dan tanpa sadar aku kehilangan diriku sendiri: aku selalu ingin menyenangkan mereka tanpa mau mendengar apa yang diri sendiri inginkan. Tanpa membuat diriku sendiri senang. 

Akhirnya, peralahan aku memilih untuk berjalan kembali kepada diriku sendiri. 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah 263)

0 Comments