Refleksi Catatan 92: Capek Ya? Banget!

Udah hampir 10 hari ke belakang ini aku merasa aku ditarik kembali menuju lembah bewarna hitam itu. Meski tidak sehitam legam dulu, namun kekuatannya masih sama. Malamnya aku sulit memejamkan mata, baru bisa tidur di jam 12 atau 1 malam dan itu pun masih dengan pikiran yang berisik gak karuan, seolah memori lama, luka-luka yang belum sempat diproses pun bermunculan berdatangan, belum lagi soal overthinking yang menyerang, tiba-tiba ingin menangis lalu menangis meski sulit banget buat bisa nangis kejer padahal pengen banget biar hati lega. Menyiksa banget? Jangan ditanya. 

Besoknya? Aku malas bangun, masih betah di tempat tidur. Seolah ada yang menarikku untuk tetap stay di tempat tidur, tidak semangat untuk memulai hari, bahkan rasanya aku ingin tidur seharian saja. Orang tua mulai panik lagi dengan polaku yang begini, meski mereka benar-benar tidak bisa mengomunikasikannya dengan baik. Mereka mensupport aku untuk semangat mengawali hari yang justru malah bikin aku down, mereka mengingatkan aku bahwa tidur pagi itu jelek, padahal mereka gak benar-benar tahu gimana strugglenya aku setiap malam, dan setiap aku bilang aku susah tidur malam-malam pasti keluar dari mulut mereka tuh omongan-omongan yang tanpa terasa mereka sadari menyudutkan aku: apa sih yang bikin aku susah tidur, ngajar gak secape itu, kerjaan di rumah juga diurus Mamah.

Ah, shit! Mau marah males juga nanti dicap anak durhaka, maka dari itu aku lebih banyak memendam semua ini. Mereka tahu aku sedang depresi, tapi meraka gak benar-benar mau cari tahu gimana caranya merawat dan menemani orang yang sedang depresi. 

Walau Mamah pernah bilang dia juga pernah ngerasain hal yang sama dulu dan itu bisa dilawan rasa malasnya. 

Tapi untuk saat ini aku gak butuh kata-kata itu semua. Aku cuma ingin didengarkan saja tanpa dihakimi, tanpa dicela. Cukup ada dan mendengarkan. Aku gak butuh support, ceramah, dll.

Bahkan yang paling kesal adalah mereka bilang bahwa aku harus dekat dengan Allah biar urusan aku dibantu. Gimana urusan aku mau dibantu katanya kalau aku jauh sama Allah? 

Mah, Pak, tahu gak? Tanpa kita dekat atau enggak sama Allah, aku yakin Dia selalu bantu kita, karena Dia gak butuh ibadah kita, tapi kita yang butuh Dia. Tahu gak gimana strugglenya aku tiap perasaan aneh itu muncul dan aku masih tetep nyebut nama Dia? Memohon-mohon sama Allah buat tetap stay sama aku, nangis diem-diem sambil terus nyebut " Ya Allah, Ya Allah aku capek," ? Aku gak harus sebut semua itu juga kan? Itu ranah privacy, meski aku tahu tujuan kalian baik, tapi dengan kondisi aku yang saat ini bukan di posisi orang 'normal' secara mental, bukannya menerima ya aku bakal marah. 

Capek banget sih, mana seminggu kemarin aku gak jadi kontrol ke psikiater karena BPJS aku bantuannya dicabut sama Pemerintah tanpa informasi apa-apa dulu. Padahal gaji aku masih di bawah UMR huhuuu. 

Capek ya? Banget. Jangan ditanya. Gak usah perdulikan apa kata orang ya, karena cuma kamu yang paham kondisi kamu saat ini. Persetan mereka mau ngobrol apa, masih bisa kerja dan stay focus dikerjaan aja udah bersyukur banget. 

Dan satu pertanyaan yang bikin aku kesal se kesal-kesalnya adalah,

"Gak ada keingininan buat ke luar negeri gitu?"

Rasanya nyes aja. Aku tahu konteks itu dilontarkan karena gaji kerja aku saat ini tak menentu dan di bawah UMR. Dia tahu aku lagi depresi, tapi please. Meski dia gak bermaksud apa-apa, tapi pertanyaan itu sensitif banget buat aku. 

Buat bisa kerja aja udah syukur alhamdulillah, bisa mandi, makan, ngurus diri, walau malamnya kelihatan banget acak-acakannya. 

Jadi buat kamu, hati-hati ya kalau ngobrol sama orang yang lagi kena penyakit mental. Cukup ada dan dengarkan. Gak usah sok bijak, menjudge, atau mengatur-ngatur hidup mereka. 

Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi