Tuesday, May 12, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Blurb
"...to feel,
to hurt,
to love,
and to heal
you were born to be a human being."
This book serves as a compaasionate reminder that, on your self-love journey, you are never truly alone. May its pages empower you with the courage to embrace and forgive every aspect of yourself, both inside and out.
Tiga Insight Utama
1. As now you're recognizing your inner child or getting along with your inner voice, let's begin the journey of loving yourself. Let's give your inner voice a space to be heard. Let's give a chance for your emotions to be felt. The journey of embracing your inner voice will be challenging, but you'll be okay.
2. You are different, unique, and you have your own path. You don't have to be someone else to be successful dan happy. You don't have to follow other people's lives to be considered as someone who's worthy. Being you is enough.
3. Sometimes, not everything is your fault. Sometimes, bad things happened because it supposed to happen. And, no, you shouldn't blame and beat yourself up that hard. Because darling, there are many things out there which are beyond your control. Not everything is your fault. Please forgive yourself.
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini rasanya seperti sedang dipeluk dan dipahami tanpa sedikit pun dihakimi. Bahasanya sederhana namun sangat dalam, seolah setiap kalimatnya mampu menyentuh bagian paling rapuh dalam diri yang selama ini disembunyikan. Buku ini benar-benar mewakili suara hati kita yang sedang berjuang untuk menerima luka dan belajar mencintai diri sendiri kembali. Melalui buku ini, aku diingatkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah, dan tidak apa-apa jika proses sembuhku tidak secepat orang lain. Benar-benar sebuah teman perjalanan yang menenangkan bagi siapa pun yang sedang berusaha berdamai dengan masa lalu.
Thursday, April 30, 2026
Amalia pulang ke Tasikmalaya bukan untuk mencari kenangan, melainkan untuk melarikan diri dari suara-suara di kepalanya. Namun, di kota kecil yang tenang ini, ia justru didiagnosis depresi. Di saat ia berjuang untuk tetap "waras", sebuah kabar datang: pria yang dulu menghancurkan masa SMA-nya dengan perundungan kejam, kini kehilangan kewarasan di Rumah Sakit Jiwa.
Ironi itu memuncak saat mereka bertemu. Pria itu tak lagi ingat siapa dirinya sendiri, tak lagi ingat dunia yang ia tinggalkan. Hanya satu memori yang tersisa di kepalanya: Nama Amalia.
Sanggupkah Amalia memaafkan seseorang yang bahkan tidak ingat pernah menyakitinya?
Setelah hiatus hampir beberapa tahun, akhirnya saya kembali mencoba menulis non-fiksi berjudul Breathing Through the Noise. Kamu bisa membacanya dengan klink link berikut ini ya. Saran dan komentar sangat saya tunggu!
Monday, March 16, 2026
| doc.pribadi |
Identitas Buku
Judul: Blooming Gracefully: A Collection of Comforting Writings to Give You Love in Your Healing Journey
Penulis: Rara Noormega
Tanggal Rilis: 03 Desember 2024
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Blurb
A healing journey might look different for each of us, but it feels almost the same for us all: lonely, hurtful, hopeless, and full of despair. And that is why I wrote this book for you. To be your healing friend. To be your source of love when you need to feel loved. This book is a love letter for you whenever you feel all alone in your healing journey.
Healing is not linear, and it doesn't happen in a stright line. Thus, read this book as you wish. You can start from each chapter accordingly, or you can opne the page wherever your heart is calling you. May this book be your friend, especially on your healing journey's most lonely and hurtful nights. May each of the pages in this book lead you to yourself. May this book lead you home. And most of all, may you heal your wounds while also blooming gracefully.
Your healing journey doesn't make you a broken one. It's making you more beautiful than ever before. Healing makes you grow. It makes you bloom.
Tiga Insight Utama
1. I hope you fall in love with how you put your best efforts into everything you do. I hope you fall deeply in love, not with a person, but with how you live your life. I hope you fall in love with your mind, talents, and courage, even with your silly jokes and foolish decisions. I hope you fall in love with how you stumble upon failures and get back up. I hope you fall in love with how you love someone instead of the idea of someone. I hope you fall in love with your thoughts, hopes, and dreams, not your expectations towards someone.
2. Your healing journey might take months or years, and you might need to create yourself all over again, but it'll be worth that wait and the effort. Your healing journey doesn't have to be fast or smooth or full of trips to tropical island. Most of the time, you need kindness from yourself.
3. So, when you feel trapped in a dark place and have no way out, go inside yourself and cast a light from within. Because even when you're in the dark, you still grow.
Refleksi Pribadi
Sebelum membahas buku ini, let me tell you something about this book. Sebenarnya udah dari lama aku pengen banget baca buku ini, berkali-kali tiap ke Gramedia hanya mampu foto cover bukunya saja, sambil berharap bulan depan uang gajiku bisa aku sisihkan untuk membeli buku ini. Meski aku belum tahu pasti ini isi bukunya membahas apa, tapi entah mengapa di dalam hati terus bergumam, "Ini buku yang aku butuhkan." Sayangnya, bulan selanjutnya, uang gajiku belum bisa aku alokasikan untuk membeli buku ini. Namun, gejolak itu tak kunjung reda, seperti panggilan halus dari dalam diri.
Hingga suatu malam, aku membuka aplikasi Gramedia Digital yang sudah lama aku download di Ipadku. Scroll-scroll pelan hingga akhirnya aku memutuskan untuk berlangganan non-fiction sebesar Rp. 49.000 untuk bisa aku gunakan selama satu bulan. Dan duaarr!! Senangnya tak terkira, karena aku bisa menemukan buku-buku yang ingin aku baca tanpa harus merogoh kocek yang besar walau ya bedanya aku tak punya buku fisik di tangan heheee. Untuk kamu yang ingin mendapatkan buku ini secara fisik kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini ya! Cuma satu pelajaran penting buat aku, di tengah keterbatasan budget yang aku punya, aku bersyukur dengan kehadiran aplikasi Gramedia Digital ini sehingga aku bisa membaca buku apapun yang aku mau tanpa harus merogoh uang saku yang banyak.
Ternyata intuisi hati tak pernah mengkhianati. Aku tak pernah menyesal sedikitpun untuk bisa membaca buku ini. Buku ini berhasil menggoyahkan sudut pandangaku tentang luka, kegelapan, healing process, seperti cermin lembut, memantulkan bayanganku sendiri yang selama ini kusembunyikan. Buku ini juga seperti seorang sahabat yang tak bermaksud untuk menasihati tapi kata-katanya menenangkan hatiku yang sebelumnya kacau balau. Aku merasa diingatkan tanpa paksaan, ditenangkan tanpa penghakiman, dan akhirnya, aku seperti sedang diajak pulang ke rumah diri sendiri. Terima kasih, Kak Rara sudah menulis buku seindah ini. Terima kasih karena sudah menulis tenang healing dari sudut pandang yang mudah dimengerti dan difahami.
Buku ini sangat cocok untuk kamu yang sedang berada dalam fase gelapnya hidup, kehilangan arah, tengah menyembuhkan luka, atau untuk kamu yang sedang berjuang kembali ke pelukan diri sendiri, mengajakmu merenung, bahwa proses ini adalah bagian dari perjalanan pulang.
Selamat berproses, dari hati ke hati.
Monday, February 16, 2026
![]() |
| doc.pribadi |
Identitas Buku
Judul: Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah
Penulis: Alfialghazi
Tahun Terbit: Cetakan kesebelas, 2022
Penerbit: Penerbit Sahima (Kelompok Penerbit PT Magenta Media), Depok, Jawa Barat
Blurb
Tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginanmu. Pada satu waktu, impianmu akan dipukul mundur, harapanmu terpatahkan, dan langkahmu dihentikan paksa.
Dunia yang luas terasa begitu menyesakkan. Ramai, tapi sepi.
Ingin terus melangkah, takut terjatuh. Ingin putar balik, sudah tak mungkin tertempuh. Ingin menyerah, tetap saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Setiap pilihan nyaris tak mampu kamu tanggun konsekuensianya.
"Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah" akan menemanimu, untuk terus melangkah maju, menerabas segala keterbatasan, menikmati segala kekecewaan, melewati dunia yang penuh dengan kefanaan, menuju satu tempat bernama keabadian.
Untukmu, jiwa-jiwa kecil yang sedang mendamba bahagia, kebahagiaan yang sesungguhnya. Selamat menikmati!
Tiga Insight Utama:
1. Padahal, itu semua tak akan pernah menemui kata selesai, angka-angka tak akan pernah memuaskanmu, karena yang sedang kamu beri makan adalah nafsu, ia tak punya rasa kenyang. Sayangnya, kamu meletakkan kebahagiaan pada hal-hal semacam itu, pada deretan angka yang menipu. (p. 21)
2. Apabila pada masanya nanti kita menemu situasi-situasi sulit, bahkan sangat rumit untuk diselesaikan, ingatlah selalu bahwa langkah kita harus terus berlanjut, sebesar apa pun halangannya dan sesakit apa pun kenyataannya.
Walaupun kebahagiaan terasa begitu jauh, kita tetap tak boleh kehilangan harapan karena sejatinya kebahagiaan ataupun kesulitan keduanya sama. Keduanya adalah jalan juang yang harus dilewati. Pada kebahagiaan, kita tak boleh lali, sedangkan pada kesulitan, kita tak boleh menyerah. (p. 68)
3. Memang benar, mencari pekerjaan yang baik memang tidaklah salah. Namun, jika itu membuat seseorang menjadikan dunia sebagai poros kehidupan dan harta sebagai tanda keberhasilan maka tentu hal tersebut adalah keliru.
Kaya belum tentu menemui kebahagiaan dan miskin belum tentu menemui kesengsaraan. Inilah kenyataan yang kira sering alpa untuk memahaminya. (p. 242)
Refleksi Pribadi
Buku ini adalah buku milik teman yang aku pinjam. Aku tidak pernah menyangka bahwa buku ini akan banyak menamparku dan membuatku menangis. Aku sadar selama ini aku terlalu menjadikan angka-angka itu sebagai bentuk keberhasilan padahal ketika aku sudah merasakannya nyatanya hati aku tidak pernah tenang dan nyaris sering membuatku stress tak karuan. Angka-angka kecil yang kini aku terima entah mengapa rasanya jauh menenangkan dan membuatku tak pernah takut merasa kehilangan. Dengan waktu yang aku korbankan untuk berbagi melalui program mengajar gratis, hatiku merasa tenang dan diriku merasa utuh kembali. Kini aku sedang belajar kembali menata niat, diri, dan hati. Akan bawa ke mana hidupku ini?
Meski tak bisa dipungkiri, melihat teman-teman se usiaku banyak yang sudah mapan secara angka dan mudah pergi bolak-balik ke luar negeri membuatku kadang merasa iri, tapi ini aku selalu berusaha untuk menyadarkan dan menenangkan diri. Kalau kamu dikasih kesempatan itu sama Allah, apa niat kamu? Mau pamer sama orang-orang bahwa kamu itu mampu dan hebat? Sementara yang memampukan dan menghebatkan itu semua adalah atas izin Allah?
Aku kembali lagi merenung. Kenapa hanya poros dunia yang dijadikan standar keberhasilannya bukan standar akhirat? Apakah ini yang memicu stress dan merasa bahwa diri ini tidak layak?
Buku ini sangat membantu kamu yang sedang kehilangan arah, hampir dan bahkan ingin menyerah. Kita akan disadarkan kembali melalui buku ini, bahwa dunia adalah sementara dan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.
Kamu tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.
Tuesday, February 03, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: A Guide Book To Find Yourself
Penulis: Luc Diana
Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2024
Penerbit: Brilliant Books
Blurb
I still haven't found what I'm looking for
"Aku masih belum menemukan apa yang aku cari." Piuhh... perasaan semacam ini sangat menyebalkan, saat aku merasa galau terus-menerus dan merasa tidak harus melakukan apa dalam hidupku ini. Inilah yang sempat kurasakan pada masa-masa pendewasaan diriku. Aku pernah merasakan hari-hari gelap, saat aku merasa tidak pernah cukup untuk diriku sendiri, dan aku merasa begitu kesepian, sampai-sampai aku ingin mati saja.
Di luar sana, mungkin banyak orang yang punya pengalaman sama. Punya perasaan yang sama ketika hari-hari mereka dipenuhi oleh kegelisahan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Buku ini adalah salah satu caraku mengatasi hari-hari gelap itu. Ini adalah catatan pergulatan batinku, serta hasil pencarianku tentang bagiaman aku harus menemukan diriku yang sejati, dan bagaimana menemukan apa yang kucari selama ini dalam hidupku. Buku ini sekaligus menjadi semacam pengingat bagiku.
Besar harapanku agar buku ini bisa menjadi panduan sekaligus teman untukmu yang sedang mengalami pergulatan dalam pencarian jati diri dan di akhir kamu bisa mengatakan, "Now, I have found what I'm looking fo."
Tiga Insight Utama
1. "Mengapa aku selalu merasa tidak bahagia?" adalah karena aku terlalu ketat, dan terlalu tinggi menerapkan standar-standar dalam kehidupanku. Aku lupa kalau hidup itu tidak perlu sempurna, atau tidak perlu mengikuti standar-standar kebahagiaan orang lain. (p. 43)
2. Pikiran itu muncul karena aku merasa jika aku mati, sepertinya perasaan-perasaan menyiksa itu pasti akan hilang. Padahal, kan belum tentu. (p. 67)
3. Ketika aku menarik napas dan menghembuskannya, di situlah kesadaranku dilatih. Saat aku harus sadar bahwa yang aku pikirkan secara terus menerus itu hanyalah ilusi. Jika aku berpikir tentang masa depan, itu artinya aku memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
Sementara itu, kalau aku berpikir tentang masa lalu, itu artinya aku mimikirkan hal yang sudah lewat, dan sia-sia karena masa itu tidak akan pernah kembali atau mengubah hal yang sudah terjadi itu.
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini persis seperti sedang berbicara kepada seorang teman yang paham sekali dengan kondisi kita, terutama aku pribadi. Penggunaan bahasa yang santai dan mudah dipahami membuat aku merasa tidak sendiri dalam menjalani hari-hari gelap itu. Banyak tips menarik dan mudah dipraktikkan dalam buku ini, seperti latihan pernapasan sederhana yang langsung bisa aku coba saat merasa cemas. Buku ini benar-benar membantuku memahami bahwa kesepian itu sementara, dan aku mulai merasa lebih percaya diri setelah menerapkan saran-sarannya. Jika kamu sedang dalam masa-masa sulit dan belum mengenal siapa dirimu, kamu bisa mulai dengan membaca buku ini, siapa tahu, ini bisa jadi titik balik kamu.
Untuk kamu yang ingin mendapatkan buku ini, kamu bisa klik link berikut ini ya!
Thursday, January 15, 2026
![]() |
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa
Penulis: Kim Haenam & Park Jongseok
Tahun Terbit: Cetakan keempat, September 2022
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Blurb
"Saat aku dewasa, kupikir aku tidak akan sakit.
Saat aku dewasa, kupikir aku akan menjadi lebih kuat.
Saat aku dewasa, kupikir aku tidak akan terluka.
Aku menulis buku ini sebagai pedoman dan tali penghubung bagi jiwa yang sakit.
Aku menulis buku ini untuk membagi pengetahuan dan ceritaku kepada orang-orang yang bermasalah dengan kesehatan mental mereka dan menderita karenanya, serta bersama-sama menemukan jawabn dari pertanyaan, 'Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?'
Jika cara ini bisa menyembuhkan mereka atau menjadi sinar terang untuk membuka pintu harapan, tidak ada yang lebih kuharapkan dari itu." - Kim Haenam
Tiga Ingsight Utama
1. Di balik rasa ingin mati, mungkin terdapat keinginan yang sangat dalam untuk hidup. (p. 38)
2. Rawatlah diri Anda sendiri seperti orang lain merawat Anda, maafkanlah diri sendiri seperti orang lain memaafkan Anda. Ini adalah langkah awal untuk keluar dari penderitaan agar bisa berdamai dengan diri Anda dan memiliki pola pikir bahwa Anda bisa berbahagia seperti orang lain. (p. 67)
3. Anda harus berlatih untuk tidak hidup agar dibanggakan oleh orang lain, melainkan oleh diri sendiri.
Seberapa pun besarnya pengaruh orang lain di hidup Anda, mereka adalah orang lain. Inti dari kehidupan saya adalah diri saya sendiri. (p. 103)
Refleksi Pribadi
Tidak menyangka, buku yang aku ambil secara random di rak toko buku Gramedia ini ternyata banyak memberikan ilmu baru mengenai kesehatan mental serta bagaimana cara menanganinya. Buku ini disajikan dalam bentuk cerita-cerita dari pasien yang memiliki gangguan kesehatan yang berbeda. Membaca buku ini seperti sedang bercerita seorang diri kepada psikiater langsung. Selain itu, saran-saran praktisnya bikib aku jadi sadar bahwa masalah kesehatan mental itu bisa diatasi step by step, tanpa perlu malu atau merasa sendirian. Buku ini juga rasanya kayak temen ngobrol yang ngingetin kalau hidup itu masih ada harapan, dan aku jadi lebih berani buat ngobrolin perasaan sendiri ke orang terdekat. Buku ini bener-bener eye-opening banget dan aku merasa lebih kuat setelah membaca buku ini. Di lain kesempatan aku harus mencoba untuk menerapkan ilmu-ilmu yang ada di buku ini.
Wednesday, January 14, 2026
![]() |
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Personal Finance 101
Penulis: Philip Mulyana
Tahun Terbit: Cetakan kedua, Maret 2025
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Blurb
Salah satu kenyataan yang baru kita sadari setelah dewasa adalah betapa sulitnya mengelola keuangan. Gaji pas-pasan, habis. Gaji besar, habis juga. Jangankan untuk investasi, untuk dana darurat pun nggak ada. Bokap gue mengalami itu. Setelah melihat sendiri bagaimana bokap kesulitan mengatur keuangan, gue malah mengulangi kesalahan beliau. Itulah alasan kenapa gue menulis buku ini. Gue nggak mau kesalahan ini terulang lagi pada kalian.
Di dalam buku ini, gue bakal ngebahas hal-hal yang harus kalian tahu tentang personal finance. Gue bakal bagikan ilmu yang sudah gue pelajari selama bertahun-tahun menjadi financial content creator. Mulai dari gimana caranya naikin penghasilan (making more money), gimana caranya mengelola keuangan (managing the money), sampai gimana caranya mengembangkan uang yang sudah ada (growing the money).
Gue harap buku ini bisa membantu kalian menghindari kesalahan-kesalahan yang fatal terkait personal finance. Gue udah pernah mengalami kesalahan-kesalahan itu dan "biayanya" sangat mahal. Baca buku ini dan praktikkan ilmunya. Kehidupan kalian akan lebih aman dan nyaman.
Tiga Insight Utama
1. Bekal terpenting unutk meningkatkan penghasilan adalah keberanian mengambil kesempatan. (p. 7)
2. Instant gratification. Lo lebih memilih kebahagiaan instan dibanding jangka panjang. Padahal kebahagiaan instan belum tentu baik untuk hidup lo ke depannya. (p. 59)
3. Lalu banyak juga yang gak bisa membedakan needs & wants (kebutuhan dan keinginan). Rentan terhadap impulsive buying. (p. 61-64)
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini seperti mendapatkan pencerahan baru mengenai cara mengelola keuangan. Dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat aku sebagai pembaca mulai bisa memahami langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengelola keuangan. Tidak hanya membahas soal mengelola keuangan saja sih, cara kita memandang uang, karier, bisnis, semua dibahas di buku ini secara ringkas dan mudah dimengerti. Tiga insight utama itu benar-benar menjadi insight baru buat aku karena buat bisa making more money ya berani untuk mengambil kesempatan, menjemput bola. Terlepas nanti hasilnya bagiamana setidaknya kita sudah mencoba bukan?
Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kamu yang sedang belajar mengelola keuangan, atau ingin memiliki freedom financial di usia tertentu. Kamu bisa membaca buku ini untuk menambah pengetahuan dan mendapatkan insight-insight baru terkait mengelola keuangan.
Tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini https://aff.gramedia.com/s/eHRysHUQGS
Monday, January 12, 2026
![]() |
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Broken Strings
Penulis: Aurélie Moeremans
Tahun Terbit: 2025
Tiga Insight Utama
1. Ia berdiri di atasku dan berkata tenang, "Kalau aku memukulmu dengan Alkitab, maka rasa sakitmu itu urusan Tuhan."
Ia membuatnya suci. Ia membuatnya benar. Ia membuatnya seolah kesalahanku. (p.169)
2. Mamaku menangis. Papaku hanya menggeleng berulang kali. Keduanya merasa gagal. Tapi mereka berjanji, mulai sekarang, mereka akan menebus semuanya. "Nggak ada lagi rahasia," kata mereka. "Katakan semuanya. Jangan tanggung sendiri." (p. 189)
3. Aku menginginkan keadilan, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk semua gadis yang pernah terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak dipercaya siapapun. Aku ingin menunjukkan bahwa monster bisa terlihat menawan, bahwa kejahatan bisa tersenyum, dan bahwa bertahan hidup itu tidak selalu indah.
Tapi aku belajar cepat, bahwa keadilan bukan jaminan. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa dipihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu. Mungkin suatu hari keadaan akan berubah. Tapi saat itu, begitu keadaannya. Jadi aku biarkan saja orang-orang percaya apapun yang mereka mau. (p.196-197)
Refleksi Pribadi
Hanya butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan memoar yang ditulis oleh artis Aurélie ini. Selama membacanya emosiku serasa diaduk-aduk, ingin mengumpat, marah, sekaligus muak dengan lelaki modelan Bobby. Ditambah sok suci bawa-bawa ajaran agama, padahal kelakuannya udah gak beda jauh sama iblis. Buku ini membuatku sadar, betapa manipulasi bisa tampil sangat rapi, bahkan tampak "suci" di permukaan.
Aku jadi teringat bagaimana aku memiliki teman dekat yang mendapatkan perlakuan yang sama dari pacarnya dulu. Tapi dia enggan bercerita secara detail pada saat itu. Yang aku ingat adalah waktu mata dia bengkak berwarna ungu, kemudian ketika aku tanya alasannya kenapa dia memilih menjawab tidak sengaja nabrak potral di jalan dekat kosannya. Aku mulai mikir, ya kali nabrak portal bisa ampe lebam gitu matanya yang sebelah. Mulai merasa ada yang aneh, pada saat itu aku laporan saja kepada atasan aku. Dari sana baru terbongkar, kalau selama ini sudah terjadi kekerasan baik fisik maupun verbal kepada teman dekat aku itu. Aku masih ingat jelas bagaimana tubuhnya gemetar dan air matanya jatuh satu per satu saat ia menceritakan semuanya. Meski tidak detail, namun beberapa poin yang teman aku sampaikan cukup membuat kami yang mendengarnya naik pitam. Kami meminta dan menyarankan agar dia mau membawa kasus itu ke ranah hukum. Sayangnya, kekerasan memang sering kali meninggalkan luka yang sulit dibuktikan. Bukti lebam itu sudah hilang, dan kasusnya pun tak bisa dilanjutkan.
Aku masih ingat, karena aku pernah ikut tidur di kosannya, aku merasa aneh dengan kelakuan teman ku itu. Dia tidak bisa jauh-jauh dair hp, bahkan pada saat kuotanya habis ribut minta tethering data kepadaku. Tidur sambil telfonan gitu, alias sleep call. Dan pernah bilang, kalau cowoknya itu overprotective dan beberapa kali aku juga bilang untuk putus aja dari dia. Tapi sayangnya selalu ada alasan: cinta, kasihan, janji berubah, rasa bersalah. Hingga akhirnya bogem mentah itu mendarat ke wajah cantiknya dan ternyata itu bukan pertama kalinya. Belum lagi hutang-hutang si cowok itu yang menggunung ke temen aku.
Aku gak tahu sih perkaranya udah selesai apa belum. Aku hanya berharap temanku sudah aman, merdeka, dan tak lagi menanggung beban yang bukan miliknya. Terakhir berkabar sih si cowoknya udah mulai nyicil bayar hutang-hutangnya. Ya, semoga hutang-hutang itu lunas. Bukan hanya secara materi, tetatpi juga secara batin.
Setelah baca buku ini aku jadi faham, mungkin itu ya yang dimaksud dengan temanku dulu. Alasan berpisah susah dan malah balik lagi-balik lagi ke orang yang menyakitinya. Buku ini juga membuka mataku bahwa hubungan abusif bukan sekedar soal kekerasan, tetapi juga soal jerat psikologis yang perlahan mengikis nalar dan harga diri korban.
Refleksi terbesarku setelah membaca buku adalah: jika di sekitar kita ada orang yang terjebak dalam hubungan yang seperti ini, tolong jangan buru-buru menghakimi. Yang mereka butuhkan bukan ceramah, tapi ruang aman. Aku sangat salut pada orang tuanya Aurélie yang memberikan dukungan penuh. Dukungan semacam itulah yang sering kali menjadi satu-satunya tali penyelamat.
Dari buku ini juga aku jadi belajar pola orang-orang manipulatif, bahkan ini seperti memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder. Kalau udah ada tanda-tanda begitu: merendahkan, mengontrol, memutarbalikkan fakta, membuat kita merasa bersalah atas luka yang mereka ciptakan, mungkin memang satu-satnunya jalan adalah cut off. Kejam sih, tetapi karena kita juga harus selamat dari orang-orang modelan begini.
Terima kasih Aurélie sudah berani menuliskan kisahmu itu. Melalui ceritamu itu aku jadi belajar mengenali lelaki yang harus dijauhi, belajar memahami kompleksitas luka para korban, dan yang terpenting adalah belajar untuk berempati. Buku ini bukan hanya sekedar bacaan, tapi peringatan sekaligus pengingat bahwa kekerasan tidak selalu datang dengan wajah garang. Kadang ia datang dengan kata-kata manis dan topeng beratasn namakan "Tuhan."
Thursday, January 01, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Alasan untuk Tetap Hidup (Reasons to Stay Alive)
Penulis: Matt Haig
Tahun Terbit: Cetakan ketiga: Oktober 2020
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Blurb
Apa rasanya menjadi orang yang mengalami gangguan kecemasan atau depresi? Ada dorongan yang membanjiri perasaan dan pikiran mereka sampai-sampai tubuh fisiknya pun ikut sakit. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.
Matt Haig pernah berada di titik itu. Ia pernah mencoba bunuh diri di pinggir tebing ketika berusia 24 tahun. Serangan panik yang bertubi-tubi dan harapan yang tak lagi terlihat membuatnya berpikir bahwa mengakhiri segalanya adalah hal terbaik. Tetapi, pada langkah terakhir, ia berhenti dan mengurungkan niatnya.
Sampai sekarang, ia menjadi bukti bahwa gangguan kecemasan dan depresi bisa diatasi. Melalui buku inni, Matt Haig akan membagikan pengalamannya, mulai dari gejala depresi, rasanya mendapat serangan panik, hingga apa yang membuatnya bertahan hidup hingga hari ini. Kita akan menyelami apa yang para penderita depresi rasakan dan bagaimana cara membantu mereka (atau bahkan diri sendiri) menjadi lebih baik.
Tiga Insight Utama
1. Ada sebuah fakta aneh tentang pikiran, yaitu Anda bisa saja memikirkan hal-hal yang sangat intens dalam benak Anda, tapi tidak seorang pun bisa melihatnya. (p. 12)
2. Depresi tidak selalu memiliki sebab yang jelas. Depresi bisa memengaruhi banyak orang - para jutawan, orang-orang berambut indah, orang-orang dengan kehidupan pernikahan yang bahagia, orang-orang yang baru saja naik jabatan, orang-orang yang bisa menari tap, melakukan trik kartu, dan main gitar, orang-orang yang pori-porinya kecil, orang-orang yang membanjiri unggahan status mereka dengan kebahagiaan - yang dari luar, kelihatannya tidak punya alasan untuk bersedih.
Depresi itu misterius, bahkan bagi para penderitanya. (p. 17)
3. Dengarkan baik-baik. Kalau selama ini Anda percaya bahwa seseroang yang deprei ingin bahagia, Anda salah. Mereka sama sekali tidak peduli betapa menyenangkannya kebahagiaan. Mereka hanya ingin kepedihan mereka lenyap. Mereka ingin lari dari pikiran yang terbakar, saat semua isi benak menyala-nyala dan mengeluarkan asap bagai benda-benda peninggalan kuno yang dilalap api. (p. 20)
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini seperti sedang menerjemahkan perasaan yang sulit dipahami begitu depresi itu sendiri menyerang diri sendiri. Melalui buku ini, aku merasa tidak sendiri, seperti ada teman yang mampu memahami perasaan yang selama ini sulit untuk dimengerti.
Buku ini juga mengingatkanku betapa pentingnya memahami kondisi seseorang secara utuh. Alih-alih buru-buru menghakimi atau memberi nasihat klise, kita justru perlu memperkaya diri dengan literasi dan informasi. Dengan begitu, kita tidak gegabah saat menemani proses seseorang—atau diri sendiri—keluar dari kondisi yang gelap tersebut.
Buku ini sangat aku rekomendasikan, baik untuk kamu yang sedang bergulat dengan depresi, maupun untuk kamu yang memiliki keluarga, kerabat, atau teman yang sedang mengalaminya. Setidaknya, buku ini bisa membantu kita belajar memahami—bahwa bertahan hidup saja, bagi sebagian orang, sudah merupakan perjuangan yang luar biasa.
Saturday, December 20, 2025
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Blurb
Tiga Insight Utama
Refleksi Pribadi
Banyak tulisan dalam buku ini menyadarkanku bahwa sebagai manusia, kita tidak pernah benar-benar lepas dari kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Dan pada kenyataannya, kita juga tidak sepenting itu dalam hidup orang lain, sehingga kita bisa lebih fokus pada apa yang ingin dan perlu kita lakukan.
Sebagai manusia, kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang bahagia. Akan selalu ada yang menjadikan kita tokoh jahat dalam cerita versinya sendiri. Semua kembali pada sudut pandang. Dan tugas kita hanyalah tetap melakukan kebaikan, meski kebaikan itu tidak selalu dipandang baik oleh orang lain.
Hal lain yang membuatku menyukai buku ini adalah caranya mengajak pembaca untuk lebih memperhatikan sekitar, memperlambat ritme hidup, dan benar-benar hadir. Sebab ternyata, hal-hal kecil yang selama ini kita lewati begitu saja bisa menumbuhkan rasa syukur yang luar biasa.
Penutup
Mungkin, keinginan untuk menjadi pohon semangka bukan tentang ingin kabur dari hidup, melainkan tentang lelah menjadi manusia yang terus dituntut untuk kuat, sempurna, dan selalu tahu jawabannya.
Buku ini mengajakku berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memang tidak selalu indah, dan itu tidak apa-apa. Bahwa kecewa, menyesal, dan merasa tidak cukup bukanlah tanda gagal, melainkan bagian dari proses menjadi manusia.
Dan setelah menutup buku ini, aku pulang dengan satu pengingat sederhana: tidak semua hari harus luar biasa. Kadang, bertahan saja sudah cukup. Kadang, duduk diam, menarik napas, dan mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita adalah bentuk kebahagiaan yang paling jujur.
Tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Surat untuk Putriku: 37 Pelajaran Hidup dari Seorang Ibu
Penulis: Han Sung Hee
Tahun Terbit: Cetakan kedua, Mei 2025
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Blurb
- Jadilah anak yang nakal
- Tak ada yang memintamu menjadi superwoman
- Jangan berusaha melakukan semuanya dengan sempurna
- Depresi adalah sinyal untuk memulihkan keseimbangan hati yang hancur
- Seperti apa pun hidup yang kau jalani, jangan menunda cinta
- Hiduo tidaklah serumit itu, jadi nikmati saja prosesnya
Tiga Insight Utama
Refleksi Pribadi
Tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.
Wednesday, December 17, 2025
| doc.pribadi |
Identitas Buku
Blurb
Tiga Insight Utama
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini membuatku semakin sadar bahwa di dunia ini, tidak ada orang yang benar-benar normal lalu tiba-tiba ingin bunuh diri. Pikiran tersebut tidak muncul begitu saja.
Ini bukan semata soal kurang iman, kurang bersyukur, atau kurang kuat. Di baliknya, ada luka yang tidak terlihat, beban yang terlalu lama dipendam, dan kelelahan yang tidak pernah benar-benar mendapat ruang.
Mereka yang mengalami depresi sebenarnya hanya membutuhkan satu hal yang sangat manusiawi: ruang untuk dipahami. Didengarkan tanpa dihakimi. Diterima tanpa disudutkan. Buku ini mengajarkanku bahwa memanusiakan manusia adalah bentuk empati paling sederhana. Mengakui bahwa semua perasaan itu valid dan setiap peristiwa tidak bisa kita pukul rata kadarnya.
Setiap manusia memiliki kapasitasnya masing-masing dalam menghadapi masalah. Dan memahami hal itu, barangkali, adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan seseorang atau bahkan diri kita sendiri.
Penutup
Buku ini tidak memberian aku jawaban instan tentang bagaimana caranya sembuh. Tetapi buku ini memberikan aku sesuatu yang jauh lebih penting: pengertian. Tentang diri sendiri, tentang orang lain, dan tentang luka yang sering kali tidak terlihat.
Aku belajar bahwa depresi bukanlah kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada bagian jiwa yang terlalu lama diabaikan. Dan mencintai jiwa yang terluka bukan berarti memaksa diri untuk segera baik-baik saja, melainkan berani berhenti sejenak, mengakui lelah, lalu perlahan mencari pertolongan.
Semoga setelah membaca buku ini, kita bisa lebih lembut pada orang lain, dan terutama pada diri sendiri. Karena barangkali, itulah langkah awal dari proses penyembuhan yang sesungguhnya.
Kamu tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Blurb
Tiga Insight Utama
Refleksi Pribadi
Ini adalah pertama kalinya aku kembali membaca novel setelah hiatus beberapa bulan. Selama ini, aku lebih memilih buku-buku self-improvement, seolah sedang sibuk membenahi diri, mencari jawaban, dan belajar kuat.
Aku pertama kali menemukan cerita ini dari blognya Tsana. Dan entah kenapa, sekali baca, rasanya boom. Ceritanya seperti menampar, pelan tapi tepat sasaran. Ada banyak bagian yang terasa dekat, terlalu dekat bahkan. Seolah kisah Rani tidak sepenuhnya fiksi, tapi potongan-potongan perasaan yang pernah aku simpan rapi.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung membeli bukunya. Dan benar saja, novel ini bukan sekadar tentang cinta atau masa lalu, tapi tentang keberanian untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kita miliki, sekeras apa pun kita menginginkannya.
Membaca buku ini membuatku diam cukup lama. Mengingat, merasakan, lalu perlahan belajar melepaskan lagi.
Penutup
Mungkin memang ada musim yang tidak ditakdirkan untuk kita miliki, sekeras apa pun kita ingin menetap di sana. Ada cerita yang hanya hadir untuk mengajarkan, bukan untuk dilanjutkan.
Novel ini mengingatkanku bahwa melepaskan bukan berarti kalah, dan mengingat bukan berarti harus kembali. Kadang, yang paling bisa kita lakukan hanyalah menerima bahwa beberapa orang dan rasa memang diciptakan untuk selesai.
Dan setelah menutup halaman terakhirnya, aku belajar satu hal: tidak semua yang kita sayangi harus kita simpan. Sebagian cukup kita kenang, lalu kita biarkan pergi dengan tenang.
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Blurb
Tiga Insight Utama
1. Menjadi pemula berarti berdamai dengan proses
Untuk menjadi pemula yang bahagia, kita perlu memahami bahwa tidak ada hal yang bisa langsung jadi. Tidak ada proses instan atau abrakadabra. Semua membutuhkan waktu, dan tugas kita adalah menikmati setiap tahapannya.
2. Banyak hal sederhana yang bisa dicoba tanpa harus sempurna
Memasak tidak harus sekelas MasterChef. Berenang berarti bermain air. Belajar menyetir cukup menjadi sopir amatir. Menari bisa membuat hati bahagia, bernyanyi di kamar mandi itu sah-sah saja, dan menjadi gitaris, meski baru bisa satu kunci, tetap terasa keren.
3. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi manusia bahagia
Usia bukan penghalang untuk memulai. Selama kita masih hidup, selalu ada ruang untuk mencoba dan bertumbuh.
Refleksi Pribadi
Dari buku ini, aku belajar bahwa di usia berapa pun, saat ada keinginan, lakukan saja. Jangan menunggu momen sempurna atau merasa benar-benar siap, karena pada hakikatnya kita tidak akan pernah sepenuhnya siap.
Mulailah dari hal yang paling mudah. Jangan terlalu ambisius untuk langsung bisa atau langsung jago. Nikmati setiap momen di tiap levelnya. Karena sejatinya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang langsung mahir dalam suatu bidang.
Sebelum menjadi ahli, mereka lebih dulu akrab dengan kegagalan, menikmati proses, dan memilih untuk tidak menyerah.
Penutup
Membaca buku ini seperti diingatkan kembali bahwa aku tidak perlu terburu-buru menjadi siapa-siapa. Tidak harus hebat hari ini, tidak harus rapi dari awal, dan tidak harus tahu semua jawabannya sekarang. Cukup hadir sebagai pemula yang mau belajar, jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi.
Di dunia yang sering menuntut kita untuk cepat, buku ini mengajakku melambat. Mengizinkan diri untuk tidak tahu, tidak bisa, dan belum mahir, tanpa harus merasa gagal. Karena ternyata, menjadi pemula bukanlah tanda ketertinggalan, melainkan bukti keberanian: berani memulai.
Dan mungkin, di fase hidupku saat ini, menjadi pemula adalah bentuk paling jujur dari mencintai diri sendiri.
Untuk kamu yang penasaran dengan isi buku ini, kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.
Sunday, September 28, 2025
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: A Guide Book to Trust Yourself
Penulis: Ares Ulia
Tahun Terbit: 2022
Penerbit: Penerbit Briliant
Jumlah Halaman: 142
Blurb
Mental breakdown, introvert hangover, burnout, overthinking, dan masih banyak lainnya berhubungan dengan diri sendiri, interaksi sosial, dan rasa lelah akibat perpaduan hal-hal tersebut. Baik fisik, pikiran, ataupun mental harus selalu dirawat karena kesehatan dari ketiga hal tersebut semuanya sama-sama penting. Tidak ada yang lebih penting dibanding lainnya. Bahkan, beberapa sakit fisik bisa timbul karena banyaknya beban fikiran.
3 Insight Utama
1. Saat overthinking kambuh, kita bisa lakukan langkah nyata dengan menulis apa pun yang mengganggu pikiran kita. Anggap menulis sebagai ajang curhat dan wadah untuk mencurahkan semua kegelisahan yang ada dalam diri. Selain itu, kegiatan ini juga melatih kita untuk lebih jujur pada diri sendiri.
2. Kita selalu meremehkan kemampuan diri kita sendiri. Padahal kemampuan individu itu selalu bisa ditingkatkan. Tidak bisa pada percobaan pertama bukan berarti akan selamanya tidak bisa.
3. Kalau punya rencana, keep it secret. Berhenti banyak bicara dan langsung lakukan saja.
Refleksi Pribadi
Aku mau mengucapkan terima kasih banyak, jazakillah khoiran katsiira buat Bu Sabin yang sudah menghadiahkan buku ini. Dari buku ini aku jadi sadar, ternyata dunia tidak semenyeramkan bayangan di kepala. Sekarang, kalau overthinkingnya mulai kambuh, aku biasanya langsung ambil buku atau kertas untuk menuliskan semua ketakutan yang ada di pikiran. Hasilnya? Aku bisa lebih lega, karena ternyata semua itu hanya imajinasi di dalam kepala.
Selain itu, overthinking sering merambat ke konsep diri. Jujur, aku sering jadi merendahkan kemampuan diri sendiri. Gagal dipercobaan pertama sering membuat aku menyimpulkan kalau aku itu gak capable dan ingin pindah ke bidang lain. Padahal konsepnya gak gitu. Lingkungan kerja aku juga alhamdulillah sangat suportif. Jadi sekarang, aku belajar untuk lebih banyak mengapresiasi diri sendiri sekecil apa pun atas usaha yang sudah dilakukan, sambil terus evaluasi dan belajar lagi. Bukankah orang-orang yang expert di bidang tertentu awalnya juga seorang beginner kan? Dengan banyak trial and errornya?
Terakhir, bagian yang paling menampar aku adalah soal keep your plan secret. Karena kalau banyak diumbar sana-sini, seringnya malah muncul banyak komentar atau masukan, yang pada akhirnya bikin kita malas memulai. Apalagi kalau sudah dapat pujian, rasanya kayak cukup sampai sebatas rencana saja tanpa benar-benar terealisasi.
Rekomendasi
Menurutku, buku ini cocok untuk siapa saja yang sedang merasa gagal, tak berdaya, sering overthinking atau merasa bahwa dirinya sendiri tidak layak. Buku ini juga pas dibaca saat kamu lagi butuh teman refleksi, supaya sadar kalau ternyata banyak hal yang bisa diselesaikan dengan langkah sederhana. Selain itu, buku ini ringan dibaca, jadi cocok buat kamu yang baru mulai tertarik dengan tema self-healing dan pengembangan diri.
Untuk kamu yang ingin mendapatkan buku ini, kamu bisa klik link berikut ini.
Cheers,
Solihat
Sunday, April 09, 2023
Hai! Sambil mengisi waktu ngabuburit selama bulan Ramadan. kali ini insha allah aku akan mengisinya dnegan menulis proyek terbaru aku di Storial.co berjudul The Answer for My Prayers. Proyek ini merupakan proyek untuk kompetisi yang diadakan oleh Storial berjudul Kejutan Sebelum Ramadan.
Segala bentuk komentar dan saran yang membangun sangat aku tunggu ya!
Love,
Ihat
Thursday, May 12, 2022
![]() |
| doc.pribadi |
Before deciding to buy this book, aku sempet galau karena sebelumnya I had watched this movie. Iya udah tahu kan jalan ceritanya dari film pasti gak jauh beda dari bukunya kan? Gitu fikirku. Cuma akhirnya aku membeli juga buku ini karena aku yakin pasti ada kata-kata yang lebih nyentuh ke hati dari buku ini yang biasanya gak ada di film atau emang akunya aja yang gak fokus nonton sehingga bagian pentingnya ke skip. And after reading this book? Boom!
Buku Rentang Kisah ini sendiri berkisah tentang pengalamannya Kak Gita Savitri Devi dari mulai dia SMA, bingung mau kuliah kemana, jurusannya apa, kemudian tiba-tiba ditawari kuliah ke Jerman, bagaimana hidup di Jerman, dan juga kisah asmaranya hingga pertemuannya dia dengan Paul yang kini menjadi suaminya.
I particularly liked about this book because this book use simple words, easy to understand, to the to point, tidak terkesan menggurui, dan lebih ke membuat aku sebagai pembaca banyak introspeksi diri. Besides, the thing that I disliked from this book is the font size used is a bit too large. I would highly recommend this book to young adult, especially for the students in senior high school.
I give this book 5 stars.
Here some my favourite quotes from this book:
Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita mau. Ketika itu terjadi, kita harus bisa menerima dan menghadapinya dengan bijaksana atau nggak akan pernah belajar tentang apa-apa dari hidup ini. – hal 51
Aku pun selalu bilang kepada diri sendiri untuk selalu percaya dengan apa pun yang Allah SWT kasih. Karena hal tersebut semata-mata hanyalah untuk kebaikanku sendiri. – hal 158
Blurb
Apa tujuan hidupmu?
Kalau itu ditanyakan kepadaku saat remaja, aku pasti nggak bisa
menjawabnya. Jangankan tujuan hidup, cara belajar yang benar saja aku enggak
tahu. Setiap hari aku ke sekolah lebih suka bertemu teman-teman dan bermain
kartu. Aku nggak tahu apa yang menjadi passion-ku. Aku sekedar menjalani
apa yang ibu pilihkan untukku-termasuk melanjutkan kuliah di Jerman.
Tentu bukan keputusan mudah untuk hidup mandiri di negara baru. Selama 7
tahun tinggal di Jerman, banyak kendala aku alami; bahasa Jerman yang belum
fasih membuat proses perkuliahan menjadi berat, hingga uang yang pas-pasan
membuatku harus mengantur waktu antara kuliah dan kerja sambilan.
Semua proses yang sulit itu telah mengubahku; jadi mengenal diri
sendiri, mengenal agamaku, dan memahami untuk apa aku ada di dunia. Buatku,
kini hidup tak lagi sama, bukan hanya tentang aku, aku, dan aku. Tapi juga,
tentang orangtua, orang lain, dan yang paling penting mensyukuri semua hal yang
sudah Tuhan berikan.
The purpose to live a happy life is to always be grateful and don’t
forget the magic words: ikhlas,
ikhlas, ikhlas.
Thank You!
Ihat
Tuesday, May 03, 2022
![]() |
| doc.pribadi |
Book identity
Judul: I Want to Die but I Want to Eat TteokpokkiPenulis: Baek Se Hee
Penerjemah: Hyacinta Louisa
Bahasa: Indonesia
Penerbit: PT Haru Media Sejahtera
Catakan kedua puluh empat, Januari 2022
Hal: 236 Hal
Genre: Self Improvement
Blurb
Aku: Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standar dan biasa saja?Psikiater: Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki?
Aku: Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri
This book tells us….
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Baek Se Hee, penulis asal Korea Selatan, yang menceritakan tentang catatan pengobatannya yang terjangkit distmia atau gangguan distimik (kondisi di mana penderitanya mengalami depresi ringan yang berkepanjangan dan terus-menerus). Hal 12.
What I particularly liked about this book…
Membaca buku ini sama seperti sedang membaca diary seseorang, mostly the content of this book is about conversation between the writer and her psychiatrist during the treatment process. Dari dialog-dialog inilah banyak sekali hal-hal yang bisa kita ambil. Diantaranya adalah bagaimana cara kita menerima dan mencintai diri kita sendiri. Besides, there are many her reflections after the conversations yang membuat aku sebagai pembaca jadi ikut merenung dan kembali berkaca pada diri sendiri. Isi bukunya juga tidak teoritis hanya berisi percakapan apa adanya berdasarkan pengalaman pasien dengan psikiaternya dan yang dibahasnya pun sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. (Started from less confident, overthinking, membandingkan hidup dengan orang lain, pekerjaan, and many so on. Please read this book!)
What I disliked about this book…
Bahasanya kaku (contohnya: aku tidak tahu kenapa aku berbicara tajam seperti ini. Hal 136), baku dan ada beberapa istilah psikiatri yang tidak dijelaskan secara definisi.The last…
I would highly recommend this book to new adult and adult, yang sedang bertahan dan memperjuangkan hidupnya to keep sane. Exactly, being an adult is not easy. By reading this book I think you can find the formula to face it.
Penyebab utamanya adalah karena anda terlalu mengkhawatirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Akibatnya, kepuasan terhadap diri anda sendiri pun menurun. Padahal, hidup anda adalah milik anda sendiri. Tubuh anda adalah milik anda dan andalah yang sepenuhnya bertanggung jawab atasnya. Hal 61
Hanya ada satu ‘aku’ di dunia. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat special. Diriku adalah sesuatu yang harus aku jaga selamanya. Diriku adalah sesuatu yang harus kubantu secara dengan perlahan, kutuntun selangkah demi selangkah dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Diriku adalah sesuatu yang butuh istirahat sesaat sambil menarik nafas panjang atau terkadang butuh cambukan agar bisa bergerak ke depan. Aku percaya bahwa aku akan menjadi semakin bahagia jika aku sering melihat ke dalam diriku sendiri. Hal. 111
Sepertinya kehidupan adalah suatu proses pembelajaran untuk menerima hal-hal yang terjadi pada kita. Aku pun terpikir bahwa kemampuan untuk menerima dan pasrah bukanlah sesuatu yang bisa muncul hanya pada masa-masa tertentu dalam hidup saja. Kedua hal itu adalah suatu tugas yang harus dipelajari dan dilatih terus-menerus selama hidup. Aku harus belajar dan berusaha untuk menerima diriku apa adanya. Hal. 201








Social Media
Search