Books

Tuesday, February 03, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: A Guide Book To Find Yourself

Penulis: Luc Diana

Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2024

Penerbit: Brilliant Books

Blurb

I still haven't found what I'm looking for 

"Aku masih belum menemukan apa yang aku cari." Piuhh... perasaan semacam ini sangat menyebalkan, saat aku merasa galau terus-menerus dan merasa tidak harus melakukan apa dalam hidupku ini. Inilah yang sempat kurasakan pada masa-masa pendewasaan diriku. Aku pernah merasakan hari-hari gelap, saat aku merasa tidak pernah cukup untuk diriku sendiri, dan aku merasa begitu kesepian, sampai-sampai aku ingin mati saja. 

Di luar sana, mungkin banyak orang yang punya pengalaman sama. Punya perasaan yang sama ketika hari-hari mereka dipenuhi oleh kegelisahan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Buku ini adalah salah satu caraku mengatasi hari-hari gelap itu. Ini adalah catatan pergulatan batinku, serta hasil pencarianku tentang bagiaman aku harus menemukan diriku yang sejati, dan bagaimana menemukan apa yang kucari selama ini dalam hidupku. Buku ini sekaligus menjadi semacam pengingat bagiku.

Besar harapanku agar buku ini bisa menjadi panduan sekaligus teman untukmu yang sedang mengalami pergulatan dalam pencarian jati diri dan di akhir kamu bisa mengatakan, "Now, I have found what I'm looking fo."

Tiga Insight Utama

1. "Mengapa aku selalu merasa tidak bahagia?" adalah karena aku terlalu ketat, dan terlalu tinggi menerapkan standar-standar dalam kehidupanku. Aku lupa kalau hidup itu tidak perlu sempurna, atau tidak perlu mengikuti standar-standar kebahagiaan orang lain. (p. 43)

2. Pikiran itu muncul karena aku merasa jika aku mati, sepertinya perasaan-perasaan menyiksa itu pasti akan hilang. Padahal, kan belum tentu. (p. 67)

3. Ketika aku menarik napas dan menghembuskannya, di situlah kesadaranku dilatih. Saat aku harus sadar bahwa yang aku pikirkan secara terus menerus itu hanyalah ilusi. Jika aku berpikir tentang masa depan, itu artinya aku memikirkan hal yang belum tentu terjadi. 

Sementara itu, kalau aku berpikir tentang masa lalu, itu artinya aku mimikirkan hal yang sudah lewat, dan sia-sia karena masa itu tidak akan pernah kembali atau mengubah hal yang sudah terjadi itu. 

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini persis seperti sedang berbicara kepada seorang teman yang paham sekali dengan kondisi kita, terutama aku pribadi. Penggunaan bahasa yang santai dan mudah dipahami membuat aku merasa tidak sendiri dalam menjalani hari-hari gelap itu. Banyak tips menarik dan mudah dipraktikkan dalam buku ini, seperti latihan pernapasan sederhana yang langsung bisa aku coba saat merasa cemas. Buku ini benar-benar membantuku memahami bahwa kesepian itu sementara, dan aku mulai merasa lebih percaya diri setelah menerapkan saran-sarannya. Jika kamu sedang dalam masa-masa sulit dan belum mengenal siapa dirimu, kamu bisa mulai dengan membaca buku ini, siapa tahu, ini bisa jadi titik balik kamu.


Thursday, January 15, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa

Penulis: Kim Haenam & Park Jongseok

Tahun Terbit: Cetakan keempat, September 2022

Penerbit: PT Gramedia, Jakarta


Blurb

"Saat aku dewasa, kupikir aku tidak akan sakit.

Saat aku dewasa, kupikir aku akan menjadi lebih kuat.

Saat aku dewasa, kupikir aku tidak akan terluka.

Aku menulis buku ini sebagai pedoman dan tali penghubung bagi jiwa yang sakit.

Aku menulis buku ini untuk membagi pengetahuan dan ceritaku kepada orang-orang yang bermasalah dengan kesehatan mental mereka dan menderita karenanya, serta bersama-sama menemukan jawabn dari pertanyaan, 'Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?'

Jika cara ini bisa menyembuhkan mereka atau menjadi sinar terang untuk membuka pintu harapan, tidak ada yang lebih kuharapkan dari itu." - Kim Haenam


Tiga Ingsight Utama

1. Di balik rasa ingin mati, mungkin terdapat keinginan yang sangat dalam untuk hidup. (p. 38)

2. Rawatlah diri Anda sendiri seperti orang lain merawat Anda, maafkanlah diri sendiri seperti orang lain memaafkan Anda. Ini adalah langkah awal untuk keluar dari penderitaan agar bisa berdamai dengan diri Anda dan memiliki pola pikir bahwa Anda bisa berbahagia seperti orang lain. (p. 67)

3. Anda harus berlatih untuk tidak hidup agar dibanggakan oleh orang lain, melainkan oleh diri sendiri. 
Seberapa pun besarnya pengaruh orang lain di hidup Anda, mereka adalah orang lain. Inti dari kehidupan saya adalah diri saya sendiri. (p. 103)


Refleksi Pribadi

Tidak menyangka, buku yang aku ambil secara random di rak toko buku Gramedia ini ternyata banyak memberikan ilmu baru mengenai kesehatan mental serta bagaimana cara menanganinya. Buku ini disajikan dalam bentuk cerita-cerita dari pasien yang memiliki gangguan kesehatan yang berbeda. Membaca buku ini seperti sedang bercerita seorang diri kepada psikiater langsung. Selain itu, saran-saran praktisnya bikib aku jadi sadar bahwa masalah kesehatan mental itu bisa diatasi step by step, tanpa perlu malu atau merasa sendirian. Buku ini juga rasanya kayak temen ngobrol yang ngingetin kalau hidup itu masih ada harapan, dan aku jadi lebih berani buat ngobrolin perasaan sendiri ke orang terdekat. Buku ini bener-bener eye-opening banget dan aku merasa lebih kuat setelah membaca buku ini. Di lain kesempatan aku harus mencoba untuk menerapkan ilmu-ilmu yang ada di buku ini. 



Wednesday, January 14, 2026

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul: Personal Finance 101
Penulis: Philip Mulyana
Tahun Terbit: Cetakan kedua, Maret 2025
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Blurb

Salah satu kenyataan yang baru kita sadari setelah dewasa adalah betapa sulitnya mengelola keuangan. Gaji pas-pasan, habis. Gaji besar, habis juga. Jangankan untuk investasi, untuk dana darurat pun nggak ada. Bokap gue mengalami itu. Setelah melihat sendiri bagaimana bokap kesulitan mengatur keuangan, gue malah mengulangi kesalahan beliau. Itulah alasan kenapa gue menulis buku ini. Gue nggak mau kesalahan ini terulang lagi pada kalian.
Di dalam buku ini, gue bakal ngebahas hal-hal yang harus kalian tahu tentang personal finance. Gue bakal bagikan ilmu yang sudah gue pelajari selama bertahun-tahun menjadi financial content creator. Mulai dari gimana caranya naikin penghasilan (making more money), gimana caranya mengelola keuangan (managing the money), sampai gimana caranya mengembangkan uang yang sudah ada (growing the money).
Gue harap buku ini bisa membantu kalian menghindari kesalahan-kesalahan yang fatal terkait personal finance. Gue udah pernah mengalami kesalahan-kesalahan itu dan "biayanya" sangat mahal. Baca buku ini dan praktikkan ilmunya. Kehidupan kalian akan lebih aman dan nyaman. 


Tiga Insight Utama

1. Bekal terpenting unutk meningkatkan penghasilan adalah keberanian mengambil kesempatan. (p. 7)
2. Instant gratification. Lo lebih memilih kebahagiaan instan dibanding jangka panjang. Padahal kebahagiaan instan belum tentu baik untuk hidup lo ke depannya. (p. 59)
3. Lalu banyak juga yang gak bisa membedakan needs & wants (kebutuhan dan keinginan). Rentan terhadap impulsive buying. (p. 61-64)


Refleksi Pribadi

Membaca buku ini seperti mendapatkan pencerahan baru mengenai cara mengelola keuangan. Dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat aku sebagai pembaca mulai bisa memahami langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengelola keuangan. Tidak hanya membahas soal mengelola keuangan saja sih, cara kita memandang uang, karier, bisnis, semua dibahas di buku ini secara ringkas dan mudah dimengerti. Tiga insight utama itu benar-benar menjadi insight baru buat aku karena buat bisa making more money ya berani untuk mengambil kesempatan, menjemput bola. Terlepas nanti hasilnya bagiamana setidaknya kita sudah mencoba bukan? 
Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kamu yang sedang belajar mengelola keuangan, atau ingin memiliki freedom financial di usia tertentu. Kamu bisa membaca buku ini untuk menambah pengetahuan dan mendapatkan insight-insight baru terkait mengelola keuangan. 

Monday, January 12, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: Broken Strings 
Penulis: Aurélie Moeremans
Tahun Terbit: 2025


Tiga Insight Utama

1. Ia berdiri di atasku dan berkata tenang, "Kalau aku memukulmu dengan Alkitab, maka rasa sakitmu itu urusan Tuhan." 
Ia membuatnya suci. Ia membuatnya benar. Ia membuatnya seolah kesalahanku. (p.169)
2. Mamaku menangis. Papaku hanya menggeleng berulang kali. Keduanya merasa gagal. Tapi mereka berjanji, mulai sekarang, mereka akan menebus semuanya. "Nggak ada lagi rahasia," kata mereka. "Katakan semuanya. Jangan tanggung sendiri." (p. 189)
3. Aku menginginkan keadilan, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk semua gadis yang pernah terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak dipercaya siapapun. Aku ingin menunjukkan bahwa monster bisa terlihat menawan, bahwa kejahatan bisa tersenyum, dan bahwa bertahan hidup itu tidak selalu indah. 
Tapi aku belajar cepat, bahwa keadilan bukan jaminan. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa dipihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu. Mungkin suatu hari keadaan akan berubah. Tapi saat itu, begitu keadaannya. Jadi aku biarkan saja orang-orang percaya apapun yang mereka mau. (p.196-197)


Refleksi Pribadi

Hanya butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan memoar yang ditulis oleh artis Aurélie ini. Selama membacanya emosiku serasa diaduk-aduk, ingin mengumpat, marah, sekaligus muak dengan lelaki modelan Bobby. Ditambah sok suci bawa-bawa ajaran agama, padahal kelakuannya udah gak beda jauh sama iblis. Buku ini membuatku sadar, betapa manipulasi bisa tampil sangat rapi, bahkan tampak "suci" di permukaan. 

Aku jadi teringat bagaimana aku memiliki teman dekat yang mendapatkan perlakuan yang sama dari pacarnya dulu. Tapi dia enggan bercerita secara detail pada saat itu. Yang aku ingat adalah waktu mata dia bengkak berwarna ungu, kemudian ketika aku tanya alasannya kenapa dia memilih menjawab tidak sengaja nabrak potral di jalan dekat kosannya. Aku mulai mikir, ya kali nabrak portal bisa ampe lebam gitu matanya yang sebelah. Mulai merasa ada yang aneh, pada saat itu aku laporan saja kepada atasan aku. Dari sana baru terbongkar, kalau selama ini sudah terjadi kekerasan baik fisik maupun verbal kepada teman dekat aku itu. Aku masih ingat jelas bagaimana tubuhnya gemetar dan air matanya jatuh satu per satu saat ia menceritakan semuanya. Meski tidak detail, namun beberapa poin yang teman aku sampaikan cukup membuat kami yang mendengarnya naik pitam. Kami meminta dan menyarankan agar dia mau membawa kasus itu ke ranah hukum. Sayangnya,  kekerasan memang sering kali meninggalkan luka yang sulit dibuktikan. Bukti lebam itu sudah hilang, dan kasusnya pun tak bisa dilanjutkan. 

Aku masih ingat, karena aku pernah ikut tidur di kosannya, aku merasa aneh dengan kelakuan teman ku itu. Dia tidak bisa jauh-jauh dair hp, bahkan pada saat kuotanya habis ribut minta tethering data kepadaku. Tidur sambil telfonan gitu, alias sleep call. Dan pernah bilang, kalau cowoknya itu overprotective dan beberapa kali aku juga bilang untuk putus aja dari dia. Tapi sayangnya selalu ada alasan: cinta, kasihan, janji berubah, rasa bersalah.  Hingga akhirnya bogem mentah itu mendarat ke wajah cantiknya dan ternyata itu bukan pertama kalinya. Belum lagi hutang-hutang si cowok itu yang menggunung ke temen aku. 

Aku gak tahu sih perkaranya udah selesai apa belum. Aku hanya berharap temanku sudah aman, merdeka, dan tak lagi menanggung beban yang bukan miliknya. Terakhir berkabar sih si cowoknya udah mulai nyicil bayar hutang-hutangnya. Ya, semoga hutang-hutang itu lunas. Bukan hanya secara materi, tetatpi juga secara batin. 

Setelah baca buku ini aku jadi faham, mungkin itu ya yang dimaksud dengan temanku dulu. Alasan berpisah susah dan malah balik lagi-balik lagi ke orang yang menyakitinya. Buku ini juga membuka mataku bahwa hubungan abusif bukan sekedar soal kekerasan, tetapi juga soal jerat psikologis yang perlahan mengikis nalar dan harga diri korban. 

Refleksi terbesarku setelah membaca buku adalah:  jika di sekitar kita ada orang yang terjebak dalam hubungan yang seperti ini, tolong jangan buru-buru menghakimi. Yang mereka butuhkan bukan ceramah, tapi ruang aman.  Aku  sangat salut pada orang tuanya Aurélie yang memberikan dukungan penuh. Dukungan semacam itulah yang sering kali menjadi satu-satunya tali penyelamat. 

Dari buku ini juga aku jadi belajar pola orang-orang manipulatif, bahkan ini seperti memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder. Kalau udah ada tanda-tanda begitu: merendahkan, mengontrol, memutarbalikkan fakta, membuat kita merasa bersalah atas luka yang mereka ciptakan, mungkin memang satu-satnunya jalan adalah cut off. Kejam sih, tetapi karena kita juga harus selamat dari orang-orang modelan begini. 

Terima kasih Aurélie sudah berani menuliskan kisahmu itu. Melalui ceritamu itu aku jadi belajar mengenali lelaki yang harus dijauhi, belajar memahami kompleksitas luka para korban, dan yang terpenting adalah belajar untuk berempati. Buku ini bukan hanya sekedar bacaan, tapi peringatan sekaligus pengingat bahwa kekerasan tidak selalu datang dengan wajah garang. Kadang ia datang dengan kata-kata manis dan topeng beratasn namakan "Tuhan."


Thursday, January 01, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: Alasan untuk Tetap Hidup (Reasons to Stay Alive)
Penulis: Matt Haig
Tahun Terbit: Cetakan ketiga: Oktober 2020
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Blurb

Apa rasanya menjadi orang yang mengalami gangguan kecemasan atau depresi? Ada dorongan yang membanjiri perasaan dan pikiran mereka sampai-sampai tubuh fisiknya pun ikut sakit. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Matt Haig pernah berada di titik itu. Ia pernah mencoba bunuh diri di pinggir tebing ketika berusia 24 tahun. Serangan panik yang bertubi-tubi dan harapan yang tak lagi terlihat membuatnya berpikir bahwa mengakhiri segalanya adalah hal terbaik. Tetapi, pada langkah terakhir, ia berhenti dan mengurungkan niatnya.

Sampai sekarang, ia menjadi bukti bahwa gangguan kecemasan dan depresi bisa diatasi. Melalui buku inni, Matt Haig akan membagikan pengalamannya, mulai dari gejala depresi, rasanya mendapat serangan panik, hingga apa yang membuatnya bertahan hidup hingga hari ini. Kita akan menyelami apa yang para penderita depresi rasakan dan bagaimana cara membantu mereka (atau bahkan diri sendiri) menjadi lebih baik. 

Tiga Insight Utama

1. Ada sebuah fakta aneh tentang pikiran, yaitu Anda bisa saja memikirkan hal-hal yang sangat intens dalam benak Anda, tapi tidak seorang pun bisa melihatnya. (p. 12)

2. Depresi tidak selalu memiliki sebab yang jelas. Depresi bisa memengaruhi banyak orang - para jutawan, orang-orang berambut indah, orang-orang dengan kehidupan pernikahan yang bahagia, orang-orang yang baru saja naik jabatan, orang-orang yang bisa menari tap, melakukan trik kartu, dan main gitar, orang-orang yang pori-porinya kecil, orang-orang yang membanjiri unggahan status mereka dengan kebahagiaan - yang dari luar, kelihatannya tidak punya alasan untuk bersedih. 
Depresi itu misterius, bahkan bagi para penderitanya. (p. 17)

3. Dengarkan baik-baik. Kalau selama ini Anda percaya bahwa seseroang yang deprei ingin bahagia, Anda salah. Mereka sama sekali tidak peduli betapa menyenangkannya kebahagiaan. Mereka hanya ingin kepedihan mereka lenyap. Mereka ingin lari dari pikiran yang terbakar, saat semua isi benak menyala-nyala dan mengeluarkan asap bagai benda-benda peninggalan kuno yang dilalap api. (p. 20)

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini seperti sedang menerjemahkan perasaan yang sulit dipahami begitu depresi itu sendiri menyerang diri sendiri. Melalui buku ini, aku merasa tidak sendiri, seperti ada teman yang mampu memahami perasaan yang selama ini sulit untuk dimengerti. 

Buku ini juga mengingatkanku betapa pentingnya memahami kondisi seseorang secara utuh. Alih-alih buru-buru menghakimi atau memberi nasihat klise, kita justru perlu memperkaya diri dengan literasi dan informasi. Dengan begitu, kita tidak gegabah saat menemani proses seseorang—atau diri sendiri—keluar dari kondisi yang gelap tersebut.

Buku ini sangat aku rekomendasikan, baik untuk kamu yang sedang bergulat dengan depresi, maupun untuk kamu yang memiliki keluarga, kerabat, atau teman yang sedang mengalaminya. Setidaknya, buku ini bisa membantu kita belajar memahami—bahwa bertahan hidup saja, bagi sebagian orang, sudah merupakan perjuangan yang luar biasa.


Saturday, December 20, 2025

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul: Surat untuk Putriku: 37 Pelajaran Hidup dari Seorang Ibu

Penulis: Han Sung Hee

Tahun Terbit: Cetakan kedua, Mei 2025

Penerbit: PT Gramedia, Jakarta


Blurb

Buku ini adalah surat cinta dari seorang ibu untuk seluruh anak perempuan di dunia. Ke -37 nasihat kehidupan di dalamnya terasa hangat dan jujur, sekaligus merangkul dan penuh wawasan yang penting, diantaranya:

  • Jadilah anak yang nakal
  • Tak ada yang memintamu menjadi superwoman
  • Jangan berusaha melakukan semuanya dengan sempurna
  • Depresi adalah sinyal untuk memulihkan keseimbangan hati yang hancur
  • Seperti apa pun hidup yang kau jalani, jangan menunda cinta
  • Hiduo tidaklah serumit itu, jadi nikmati saja prosesnya
Kehidupan adalah perjalan tanpa henti yang terus bergerak maju. Dengan nasihat bijak yang tulus dari Ibu, apa pun yang terjadi, kita pasti mampu melaluinya dengan hati yang kuat. 

Tiga Insight Utama

1. Mereka tahu bahwa meskipun gagal dan melakukan kesalahan, mereka tetap berharga untuk dicintai. (p.7)
2. Jika merasa lelah, makanlah makanan favoritmu, temui orang-orang yang kausukai, dan pergilah meliaht hal-hal yang indah. Jadi, anakku tertawalah dan menangislah dengan sepenuh hati. Biarkan semua perasaanmu mengalir sehingga kamu bisa mengalami sebanyak mungkin keragaman yang ditawarkan kehidupan. (p. 35)
3. "Mengapa hidup saya begitu susah sementara orang lain begitu mudah?" Namun, kita harus ingat bahwa mereka yang kita irikan harus mengorbankan banyak hal untuk mendapatkan bakat, kesempatan, dan jaringan yang mereka dapatkan. Kita mungkin perlu mengubah pertanyaan menjadi, "Apa yang mereka korbankan untuk mendapatkan itu?"

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini seperti diajak dialog oleh Ibu sendiri. Bagiamana petuah-petuah yang tertulis dalam buku ini semuanya pasti kita alami sendiri. 


 

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya
Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
Tahun Terbit: Cetakan kedepalan, Juli 2025
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Blurb

Jawab dengan cepat: Seandainya terlahir kembali di kehidupan berikutnya, kamu ingin menjadi apa? Berikut beberapa jawaban unik yang pernah kudengar baik dalam ruang praktik maupun ketika ngobrol santai dengan teman-teman:

"Aku ingin menjadi ubur-ubur, melayang bebas tanpa tekanan atasan dan ekspektasi sosial,"

"Aku ingin menjadi pohon pinus, karena tinggi dan keren."

"Aku ingin menjadi ikan mas koki. Katanya memorinya cuma bertahan lima detik, jadi aku tidak akan overthinking."

Suatu hari, seorang pasien perempuan mengatakan bahwa ia ingin terlahir kembali menjadi bunga matahari. Terdengar sangat indah, ya? Tapi, di sesi berikutnya, dia merevisi pendapatnya. "Aku ingin menjadi pohon semangka di kehidupa berikutnya." Kehidupan seperti apa yang dia alami sampai berpikir lebih baik menjadi pohon semangka?

Ini adalah buku tentang kekecewaan, penyesalan, dan ketidaksempuranaan. Buku ini cocok untuk kalian yang sering dituduh kurang bersyukur, yang suka duduk di kursi minimarket di akhir hari, yang ingin belajar menanam bunga matahari, dan tentunya yang masih mencari arti dari kata kebahagiaan. 

Tiga Insight Utama

1. Kita bisa mati kapan saja. Bukankah sangat rugi bila kita mati, hal terakhir yang ada dalam pikiran kita adalah hal negatif? Apalagi pikiran negatif itu adalah tentang seseorang yang sungguh tidak penting dalam hidup kita! (p. 5)
2. Kadang memang kita perlu belajar untuk menjadi orang jahat dalam cerita orang lain. Bukan tugasmu untuk membuat mereka senang dengan keberadaaanmu. Tugas mereka adalah untuk membecimu dan menyebarkan berita buruk tentangmu. Tugasmu adalah untuk membuktikan pada orang-orang lain, terutama yang masih netral, bahwa kamu tidak seperti itu. (p. 40)
3. Menginginkan sesuatu membuatmu bergerak dan memperjuangkannya. Tapi, kita juga perlu sadar bahwa hasrat itu tidak sempurna dan tidak menetap. Ada saatnya perasaan itu begitu kuat dan kita sangat menginginkannya, seolah bila mendapatkannya, maka hidup kita akan sempurna. Di saat lain, ada waktunya perasaan tersebut akan meluruh, berganti menjadi perasaan lain. (p. 188)

Refleksi Pribadi

Banyak tulisan dalam buku ini menyadarkanku bahwa sebagai manusia, kita tidak pernah benar-benar lepas dari kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Dan pada kenyataannya, kita juga tidak sepenting itu dalam hidup orang lain, sehingga kita bisa lebih fokus pada apa yang ingin dan perlu kita lakukan.

Sebagai manusia, kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang bahagia. Akan selalu ada yang menjadikan kita tokoh jahat dalam cerita versinya sendiri. Semua kembali pada sudut pandang. Dan tugas kita hanyalah tetap melakukan kebaikan, meski kebaikan itu tidak selalu dipandang baik oleh orang lain.

Hal lain yang membuatku menyukai buku ini adalah caranya mengajak pembaca untuk lebih memperhatikan sekitar, memperlambat ritme hidup, dan benar-benar hadir. Sebab ternyata, hal-hal kecil yang selama ini kita lewati begitu saja bisa menumbuhkan rasa syukur yang luar biasa.

Penutup

Mungkin, keinginan untuk menjadi pohon semangka bukan tentang ingin kabur dari hidup, melainkan tentang lelah menjadi manusia yang terus dituntut untuk kuat, sempurna, dan selalu tahu jawabannya.

Buku ini mengajakku berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memang tidak selalu indah, dan itu tidak apa-apa. Bahwa kecewa, menyesal, dan merasa tidak cukup bukanlah tanda gagal, melainkan bagian dari proses menjadi manusia.

Dan setelah menutup buku ini, aku pulang dengan satu pengingat sederhana: tidak semua hari harus luar biasa. Kadang, bertahan saja sudah cukup. Kadang, duduk diam, menarik napas, dan mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita adalah bentuk kebahagiaan yang paling jujur.

Wednesday, December 17, 2025

doc.pribadi

Identitas Buku

Judul: Loving the Wounded Soul
Penulis: Regis Machdy
Tahun Terbit: Cetakan enambelas, Mei 2024
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Blurb

Depresi adalah penyakit yang sangat menganggu, bahkan dapat memunculkan keinginan untuk mengakhiri hidup bagi yang mengalaminya. Di tengah pergulatan orang dengan depresi, banyak stigma yang melabeli sehingga mereka kesulitan untuk mendapatkan pertolongan. Regis, sebagai salah satu penyintas depresi dan akademisi psikologi, akan mengungkap apa itu depresi dan mengapa depresi rentan dialami manusia abad ini.

Buku Loving the Wounded Soul membahas depresi secara komprehensif, mulai dari aspek klinis dan budaya, faktor internal dan eksternal, serta higher meaning dari kehadiran depresi itu sendiri. Tak hanya menjadi pedoman bagi orang dengan depresi, buku ininjuga penting bagi pendamping dan siapa saja yang ingin memahami kompleksitas jiwa sekaligus menemukan sejati kehidupan. 

Tiga Insight Utama

1. Pikiran orang dengan depresi sangat kompleks dan dipenuhi narasi negatif. 
 Pikiran mereka seperti benang kusut, puzzle yang tak pernah lengkap, dan labirin yang tanpa jalan keluar. Mereka mengalami sedih yang tak berkesudahan, lalu pikiran mereka selalu mempertanyakannya. Setiap pengalaman dianalisis, setiap memori kami ingat sebagai luka, dan setiap kenangan kami anggap sebagai duka. Kami membungkus diri dalam kesedihan, memenjarakan pikiran kami sendiri dalam kegelapan. 
2. Pikiran bunuh diri bukanlah bentuk mencari perhatian. 
Siapapun yang memiliki pikiran bunuh diri, mereka bukan mencari perhatian atau sengaja menginginkannya. Orang dengan depresi yang memiliki pikiran bunuh diri pun tak pernah menginginkan kondisi tersebut. (p. 66-67)
3. Terapi bicara memegang peran penting dalam pemulihan depresi.
Terapi bicara dapat diutamakan dalam pemulihan depresi. Depresi harus dihadapi, maka kita yang mengalami depresi harus bisa keluar dari penjara pikiran yang kita buat sendiri. (p. 192)

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini membuatku semakin sadar bahwa di dunia ini, tidak ada orang yang benar-benar normal lalu tiba-tiba ingin bunuh diri. Pikiran tersebut tidak muncul begitu saja.

Ini bukan semata soal kurang iman, kurang bersyukur, atau kurang kuat. Di baliknya, ada luka yang tidak terlihat, beban yang terlalu lama dipendam, dan kelelahan yang tidak pernah benar-benar mendapat ruang.

Mereka yang mengalami depresi sebenarnya hanya membutuhkan satu hal yang sangat manusiawi: ruang untuk dipahami. Didengarkan tanpa dihakimi. Diterima tanpa disudutkan. Buku ini mengajarkanku bahwa memanusiakan manusia adalah bentuk empati paling sederhana. Mengakui bahwa semua perasaan itu valid dan setiap peristiwa tidak bisa kita pukul rata kadarnya.

Setiap manusia memiliki kapasitasnya masing-masing dalam menghadapi masalah. Dan memahami hal itu, barangkali, adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan seseorang atau bahkan diri kita sendiri.

Penutup

Buku ini tidak memberian aku jawaban instan tentang bagaimana caranya sembuh. Tetapi buku ini memberikan aku sesuatu yang jauh lebih penting: pengertian. Tentang diri sendiri, tentang orang lain, dan tentang luka yang sering kali tidak terlihat.

Aku belajar bahwa depresi bukanlah kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada bagian jiwa yang terlalu lama diabaikan. Dan mencintai jiwa yang terluka bukan berarti memaksa diri untuk segera baik-baik saja, melainkan berani berhenti sejenak, mengakui lelah, lalu perlahan mencari pertolongan.

Semoga setelah membaca buku ini, kita bisa lebih lembut pada orang lain, dan terutama pada diri sendiri. Karena barangkali, itulah langkah awal dari proses penyembuhan yang sesungguhnya.


doc. pribadi



Identitas Buku

Judul: Musim yang Tak Sempat Kita Miliki
Penulis: Rintik Sedu
Tahun Terbit: Cetakan kedua, Oktober 2025
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Jumlah halaman:  272 hlm

Blurb

Rani bekerja sebagai editor di sebuah kantor penerbitan. Dia suka dengan kehidupan dan dunia kecilnya yang tenang di penghujung usia 20-annya, meski terkadang rekan kerjanya suka mengusiknya.
Suatu hari, proyek besar datang dari perusahaan parfum lokal yang berniat merilis produk baru lewat buku. Rani yang sudah lama bermimpi menerbitkan buku pertamanya, akhirnya mendapatkan kesemapatan. Tetapi, proses pengerjaan naskah itu membawa Rani kembali pada seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang menjadi alasan pertama Rani ingin menulis. 
Apakah Rani berhasil merampungkan naskahnya? Atau dia justru semakin terjerat masa lalunya?

Tiga Insight Utama

1.  Mereka memang HTS, tetapi bukan Hubungan Tanpa Status, melainkan Hubungan Teman Saja (p. 89)
2. Kenapa sesuatu yang pernah begitu dekat, bisa menjauh dalam sekejap? Kenapa seseorang yang pernah membuatnya merasakan banyak hal, kini membuatnya begitu hampa? (p. 102) 
3. Supaya kita nggak takut untuk melipat dan menyimpan masa lalu di sebuah kotak di dalam ingatan kita. Meyakini bahwa apa yang digariskan untuk selesai, ya sudah seharusnya selesai. Kalau kita paksakan untuk terus berlanjut, kita justru menghalangi apa yang seharusnya datang berikutnya. (p. 245)

Refleksi Pribadi

Ini adalah pertama kalinya aku kembali membaca novel setelah hiatus beberapa bulan. Selama ini, aku lebih memilih buku-buku self-improvement, seolah sedang sibuk membenahi diri, mencari jawaban, dan belajar kuat.

Aku pertama kali menemukan cerita ini dari blognya Tsana. Dan entah kenapa, sekali baca, rasanya boom. Ceritanya seperti menampar, pelan tapi tepat sasaran. Ada banyak bagian yang terasa dekat, terlalu dekat bahkan. Seolah kisah Rani tidak sepenuhnya fiksi, tapi potongan-potongan perasaan yang pernah aku simpan rapi.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung membeli bukunya. Dan benar saja, novel ini bukan sekadar tentang cinta atau masa lalu, tapi tentang keberanian untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kita miliki, sekeras apa pun kita menginginkannya.

Membaca buku ini membuatku diam cukup lama. Mengingat, merasakan, lalu perlahan belajar melepaskan lagi.

Penutup

Mungkin memang ada musim yang tidak ditakdirkan untuk kita miliki, sekeras apa pun kita ingin menetap di sana. Ada cerita yang hanya hadir untuk mengajarkan, bukan untuk dilanjutkan.

Novel ini mengingatkanku bahwa melepaskan bukan berarti kalah, dan mengingat bukan berarti harus kembali. Kadang, yang paling bisa kita lakukan hanyalah menerima bahwa beberapa orang dan rasa memang diciptakan untuk selesai.

Dan setelah menutup halaman terakhirnya, aku belajar satu hal: tidak semua yang kita sayangi harus kita simpan. Sebagian cukup kita kenang, lalu kita biarkan pergi dengan tenang.


doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: A Guide Book to be a Beginner
Penulis : Luc Diana
Cetakan: Pertama, 2022
Penerbit: Brilliant 

Blurb

Pernah nggak kamu merasa 'Tiap hari kok ya gini ginii aja... Jenuh!', atau mungkin kamu berpikir, 'Kapan ya alur hidupku bisa semenarik film-film?' .
Wah... kalau begitu, kamu memang sedang mengalami kebosanan tingkat dewa. Kamu perlu mengganti atau menambah beberapa aktifitas dan rutinitas harianmu, agar hidupmu lebih mengensankan. Seperti belajar memasak, berenang, menyetir, serta masih banyak lagi. Ganti kegiatanmu yang membosankan dengan kegiatan penuh tantangan.
Dan, buku inilah yang akan mendampingimu selama masa transisi menjadi seorang pemula. Buku ini juga akan menjelaskan bagaiamna dan seperti apa serunya menjadi pemula.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Tidak perlu takut salah saat memulai hal baru. Karena hidup ini - sejatinya - adalah katalog kekeliruan. Kamu adalah sutradara sekaligus pemeran utama dalam hidupmu. So, yang menentukan alur ceritamu akan seru atau klise adalah dirimu sendiri.

Tiga Insight Utama

1. Menjadi pemula berarti berdamai dengan proses
Untuk menjadi pemula yang bahagia, kita perlu memahami bahwa tidak ada hal yang bisa langsung jadi. Tidak ada proses instan atau abrakadabra. Semua membutuhkan waktu, dan tugas kita adalah menikmati setiap tahapannya.

2. Banyak hal sederhana yang bisa dicoba tanpa harus sempurna
Memasak tidak harus sekelas MasterChef. Berenang berarti bermain air. Belajar menyetir cukup menjadi sopir amatir. Menari bisa membuat hati bahagia, bernyanyi di kamar mandi itu sah-sah saja, dan menjadi gitaris, meski baru bisa satu kunci, tetap terasa keren.

3. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi manusia bahagia
Usia bukan penghalang untuk memulai. Selama kita masih hidup, selalu ada ruang untuk mencoba dan bertumbuh.

Refleksi Pribadi

Dari buku ini, aku belajar bahwa di usia berapa pun, saat ada keinginan, lakukan saja. Jangan menunggu momen sempurna atau merasa benar-benar siap, karena pada hakikatnya kita tidak akan pernah sepenuhnya siap.

Mulailah dari hal yang paling mudah. Jangan terlalu ambisius untuk langsung bisa atau langsung jago. Nikmati setiap momen di tiap levelnya. Karena sejatinya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang langsung mahir dalam suatu bidang.

Sebelum menjadi ahli, mereka lebih dulu akrab dengan kegagalan, menikmati proses, dan memilih untuk tidak menyerah.

Penutup

Membaca buku ini seperti diingatkan kembali bahwa aku tidak perlu terburu-buru menjadi siapa-siapa. Tidak harus hebat hari ini, tidak harus rapi dari awal, dan tidak harus tahu semua jawabannya sekarang. Cukup hadir sebagai pemula yang mau belajar, jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi.

Di dunia yang sering menuntut kita untuk cepat, buku ini mengajakku melambat. Mengizinkan diri untuk tidak tahu, tidak bisa, dan belum mahir, tanpa harus merasa gagal. Karena ternyata, menjadi pemula bukanlah tanda ketertinggalan, melainkan bukti keberanian: berani memulai.

Dan mungkin, di fase hidupku saat ini, menjadi pemula adalah bentuk paling jujur dari mencintai diri sendiri.

Sunday, September 28, 2025

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul: A Guide Book to Trust Yourself

Penulis: Ares Ulia

Tahun Terbit: 2022

Penerbit: Penerbit Briliant

Jumlah Halaman: 142 

Blurb

Mental breakdown, introvert hangover, burnout, overthinking, dan masih banyak lainnya berhubungan dengan diri sendiri, interaksi sosial, dan rasa lelah akibat perpaduan hal-hal tersebut. Baik fisik, pikiran, ataupun mental harus selalu dirawat karena kesehatan dari ketiga hal tersebut semuanya sama-sama penting. Tidak ada yang lebih penting dibanding lainnya. Bahkan, beberapa sakit fisik bisa timbul karena banyaknya beban fikiran. 

3 Insight Utama

1. Saat overthinking kambuh, kita bisa lakukan langkah nyata dengan menulis apa pun yang mengganggu pikiran kita. Anggap menulis sebagai ajang curhat dan wadah untuk mencurahkan semua kegelisahan yang ada dalam diri. Selain itu, kegiatan ini juga melatih kita untuk lebih jujur pada diri sendiri.

2. Kita selalu meremehkan kemampuan diri kita sendiri. Padahal kemampuan individu itu selalu bisa ditingkatkan. Tidak bisa pada percobaan pertama bukan berarti akan selamanya tidak bisa.

3. Kalau punya rencana, keep it secret. Berhenti banyak bicara dan langsung lakukan saja.

Refleksi Pribadi

Aku mau mengucapkan terima kasih banyak, jazakillah khoiran katsiira buat Bu Sabin yang sudah menghadiahkan buku ini. Dari buku ini aku jadi sadar, ternyata dunia tidak semenyeramkan bayangan di kepala. Sekarang, kalau overthinkingnya mulai kambuh, aku biasanya langsung ambil buku atau kertas untuk menuliskan semua ketakutan yang ada di pikiran. Hasilnya? Aku bisa lebih lega, karena ternyata semua itu hanya imajinasi di dalam kepala. 

Selain itu, overthinking sering merambat ke konsep diri. Jujur, aku sering jadi merendahkan kemampuan diri sendiri. Gagal dipercobaan pertama sering membuat aku menyimpulkan kalau aku itu gak capable dan ingin pindah ke bidang lain. Padahal konsepnya gak gitu. Lingkungan kerja aku juga alhamdulillah sangat suportif. Jadi sekarang, aku belajar untuk lebih banyak mengapresiasi diri sendiri sekecil apa pun atas usaha yang sudah dilakukan, sambil terus evaluasi dan belajar lagi. Bukankah orang-orang yang expert di bidang tertentu awalnya juga seorang beginner kan? Dengan banyak trial and errornya? 

Terakhir, bagian yang paling menampar aku adalah soal keep your plan secret. Karena kalau banyak diumbar sana-sini, seringnya malah muncul banyak komentar atau masukan, yang pada akhirnya bikin kita malas memulai. Apalagi kalau sudah dapat pujian, rasanya kayak cukup sampai sebatas rencana saja tanpa benar-benar terealisasi.

Rekomendasi

Menurutku, buku ini cocok untuk siapa saja yang sedang merasa gagal, tak berdaya, sering overthinking atau merasa bahwa dirinya sendiri tidak layak. Buku ini juga pas dibaca saat kamu lagi butuh teman refleksi, supaya sadar kalau ternyata banyak hal yang bisa diselesaikan dengan langkah sederhana. Selain itu, buku ini ringan dibaca, jadi cocok buat kamu yang baru mulai tertarik dengan tema self-healing dan pengembangan diri


Cheers,

Solihat

Sunday, April 09, 2023



Hai! Sambil mengisi waktu ngabuburit selama bulan Ramadan. kali ini insha allah aku akan mengisinya dnegan menulis proyek terbaru aku di Storial.co berjudul The Answer for My Prayers. Proyek ini merupakan proyek untuk kompetisi yang diadakan oleh Storial berjudul Kejutan Sebelum Ramadan.

Segala bentuk komentar dan saran yang membangun sangat aku tunggu ya! 

Love,

Ihat

Thursday, May 12, 2022

doc.pribadi

Before deciding to buy this book, aku sempet galau karena sebelumnya I had watched this movie. Iya udah tahu kan jalan ceritanya dari film pasti gak jauh beda dari bukunya kan? Gitu fikirku. Cuma akhirnya aku membeli juga buku ini karena aku yakin pasti ada kata-kata yang lebih nyentuh ke hati dari buku ini yang biasanya gak ada di film atau emang akunya aja yang gak fokus nonton sehingga bagian pentingnya ke skip. And after reading this book? Boom!

Buku Rentang Kisah ini sendiri berkisah tentang pengalamannya Kak Gita Savitri Devi dari mulai dia SMA, bingung mau kuliah kemana, jurusannya apa, kemudian tiba-tiba ditawari kuliah ke Jerman, bagaimana hidup di Jerman, dan juga kisah asmaranya hingga pertemuannya dia dengan Paul yang kini menjadi suaminya.

I particularly liked about this book because this book use simple words, easy to understand, to the to point, tidak terkesan menggurui, dan lebih ke membuat aku sebagai pembaca banyak introspeksi diri. Besides, the thing that I disliked from this book is the font size used is a bit too large. I would highly recommend this book to young adult, especially for the students in senior high school.

I give this book 5 stars.

Here some my favourite quotes from this book:

Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita mau. Ketika itu terjadi, kita harus bisa menerima dan menghadapinya dengan bijaksana atau nggak akan pernah belajar tentang apa-apa dari hidup ini. – hal 51

Aku pun selalu bilang kepada diri sendiri untuk selalu percaya dengan apa pun yang Allah SWT kasih. Karena hal tersebut semata-mata hanyalah untuk kebaikanku sendiri. – hal 158  

Blurb

Apa tujuan hidupmu?

Kalau itu ditanyakan kepadaku saat remaja, aku pasti nggak bisa menjawabnya. Jangankan tujuan hidup, cara belajar yang benar saja aku enggak tahu. Setiap hari aku ke sekolah lebih suka bertemu teman-teman dan bermain kartu. Aku nggak tahu apa yang menjadi passion-ku. Aku sekedar menjalani apa yang ibu pilihkan untukku-termasuk melanjutkan kuliah di Jerman.

Tentu bukan keputusan mudah untuk hidup mandiri di negara baru. Selama 7 tahun tinggal di Jerman, banyak kendala aku alami; bahasa Jerman yang belum fasih membuat proses perkuliahan menjadi berat, hingga uang yang pas-pasan membuatku harus mengantur waktu antara kuliah dan kerja sambilan.

Semua proses yang sulit itu telah mengubahku; jadi mengenal diri sendiri, mengenal agamaku, dan memahami untuk apa aku ada di dunia. Buatku, kini hidup tak lagi sama, bukan hanya tentang aku, aku, dan aku. Tapi juga, tentang orangtua, orang lain, dan yang paling penting mensyukuri semua hal yang sudah Tuhan berikan.

The purpose to live a happy life is to always be grateful and don’t forget the magic words: ikhlas, ikhlas, ikhlas.

Thank You!

Ihat

Tuesday, May 03, 2022

 

doc.pribadi


Book identity
Judul: I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
Penulis: Baek Se Hee
Penerjemah: Hyacinta Louisa
Bahasa: Indonesia
Penerbit: PT Haru Media Sejahtera
Catakan kedua puluh empat, Januari 2022
Hal: 236 Hal 
Genre: Self Improvement


Blurb
Aku:  Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standar dan biasa saja?
Psikiater: Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki?
Aku: Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri
 
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah esai yang berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran, nasihat, dan evaluasi diri yang bertujuan agar pembaca bisa menerima dan mencintai dirinya.
Buku self improvement  ini mendapatkan sambutan baik karena pembaca merasakan hal yang sama dengan kisah Baek Se Hee sehingga buku ini mendapatkan predikat bestseller di Korea Selatan.


This book tells us….
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Baek Se Hee, penulis asal Korea Selatan, yang menceritakan tentang catatan pengobatannya yang terjangkit distmia atau gangguan distimik (kondisi di mana penderitanya mengalami depresi ringan yang berkepanjangan dan terus-menerus). Hal 12.


What I particularly liked about this book…
Membaca buku ini sama seperti sedang membaca diary seseorang, mostly the content of this book is about conversation between the writer and her psychiatrist during the treatment process. Dari dialog-dialog inilah banyak sekali hal-hal yang bisa kita ambil. Diantaranya adalah bagaimana cara kita menerima dan mencintai diri kita sendiri. Besides, there are many her reflections after the conversations yang membuat aku sebagai pembaca jadi ikut merenung dan kembali berkaca pada diri sendiri. Isi bukunya juga tidak teoritis hanya berisi percakapan apa adanya berdasarkan pengalaman pasien dengan psikiaternya dan yang dibahasnya pun sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. (Started from less confident, overthinking, membandingkan hidup dengan orang lain, pekerjaan, and many so on. Please read this book!)

Dari segi cover, menarik. Font tulisannya juga bagus, enak untuk dibaca. Kemudian untuk hal-hal penting tulisannya dibold dan juga diberi highlight dengan warna merah. Ada pembatas bukunya juga, menghindari dari melipat-lipat kertas sebagai tanda batas baca.


What I disliked about this book…
Bahasanya kaku (contohnya: aku tidak tahu kenapa aku berbicara tajam seperti ini. Hal 136), baku dan ada beberapa istilah psikiatri yang tidak dijelaskan secara definisi.


The last…
I would highly recommend this book to new adult and adult, yang sedang bertahan dan memperjuangkan hidupnya to keep sane. Exactly, being an adult is not easy. By reading this book I think you can find the formula to face it.    
I give this book 5 starts.
 

Penyebab utamanya adalah karena anda terlalu mengkhawatirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Akibatnya, kepuasan terhadap diri anda sendiri pun menurun. Padahal, hidup anda adalah milik anda sendiri. Tubuh anda adalah milik anda dan andalah yang sepenuhnya bertanggung jawab atasnya. Hal 61

Hanya ada satu ‘aku’ di dunia. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat special. Diriku adalah sesuatu yang harus aku jaga selamanya. Diriku adalah sesuatu yang harus kubantu secara dengan perlahan, kutuntun selangkah demi selangkah dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Diriku adalah sesuatu yang butuh istirahat sesaat sambil menarik nafas panjang atau terkadang butuh cambukan agar bisa bergerak ke depan. Aku percaya bahwa aku akan menjadi semakin bahagia jika aku sering melihat ke dalam diriku sendiri. Hal. 111

Sepertinya kehidupan adalah suatu proses pembelajaran untuk menerima hal-hal yang terjadi pada kita. Aku pun terpikir bahwa kemampuan untuk menerima dan pasrah bukanlah sesuatu yang bisa muncul hanya pada masa-masa tertentu dalam hidup saja. Kedua hal itu adalah suatu tugas yang harus dipelajari dan dilatih terus-menerus selama hidup. Aku harus belajar dan berusaha untuk menerima diriku apa adanya. Hal. 201

 

Thank You!
 

Sunday, July 11, 2021

Photo by Ahmed Nishaath on Unsplash


Bismillahirrahmanirrahiim

Memasuki usia 24 tahun membuat saya terkadang harap-harap cemas. Kejutan apa yang akan saya terima di usia 24 nanti? Mengingat saya pernah membuat peta hidup dan di peta hidup saya, saya menulis bahwa saya akan menikah di usia 24 tahun. Hehee :D.

Oh berarti udah ada calonnya?

Waduh kalau ditanya begitu saya langsung jawab pelan, belum sambil geleng-geleng kepala dan nyengir. Disusul dengan ucapan, doakan saja ya. Dengan hati dongkol sebenarnya, mengingat saya menjomlo terlalu lama. Apalagi kalau lihat teman-teman sekolah sudah banyak yang menikah. Terkadang saya selalu berfikir, kenapa ya saya jomlo terus? Ah mungkin udah takdirnya kali, belum ketemu aja. That’s a simple reason. Tapi setelah kemarin saya baca buku Marriage With Heart yang ditulis oleh Elia Daryati & Anna Farida ternyata ada 8 alasan seseorang terlambat menikah atau menunda pernikahannya, hal. 57.

1. Pergeseran budaya

Saat ini sebutan perawan atau perjaka tua tidak mendatangkan efek seseram pada zaman dulu. Sudah mulai banyak orang yang tidak malu atau merasa biasa saja, apalagi ketika mereka memiliki karir yang terbilang bagus. Mereka akan lebih santai setelah hidup mandiri, terpisah dengan keluarga besar.

Jangan lihat ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya. Di sekitaran rumah saya yang seusia saya bahkan yang usianya di atas saya masih banyak yang memilih single. Mereka disibukkan dengan pekerjaan bahkan kebanyakan mereka pergi merantau. Meski ada beberapa tetangga yang suka nyinyir soal kenapa gak nikah-nikah, kebanyakan dari tetangga di sini memilih acuh tak acuh dan tak banyak komentar. Apalagi yang tau bahwa masing-masing dari kita ini sedang kuliah/sudah lulus kuliah, mereka selalu mendukung untuk mencari kerja dulu ketimbang nikah. Orang tua saya pun di rumah tidak menekan saya untuk segera menikah. Apalagi saya baru lulus kuliah dan tabungan habis karena dipakai kuliah. Jadi ya saya mau gak mau harus ngumpulin dulu modal. Heheheee 😀

2. Hitung-hitungan ekonomis

Ada yang merasa bahwa berumah tangga berarti siap-siap punya pengeluaran lebih. Dulu, kebanyakan perempuan menikah demi jaminan hidup. Kini kondisinya berbeda. Mulai banyak perempuan yang bukan hanya mandiri secara finansial, tapu juga menjadi tulang punggung keluarga. Dengan pertimbangan ini, sebagian berpendapat bahwa menikah berarti menghadirkan tanggungan ekonomis baru. Laki-laki tak kalah cemasnya dengan hitung-hitungan ini. Sebagai kepala keluarganya, bayangan akan tanggung jawab menafkahi anak, istri, bahkan keluarga besar istri tak jarang jadi mimpi buruk di sore hari.

What’s your opinion of this case? To be honest, iya sih saya suka mikir ke sana. Kadang fikiran saya gini, gaji sekarang saya aja buat sendiri udah pas-pasan apalagi nanti kalau sama suami dibagi dua? Dan hal ini gak cuma ada difikiran saya aja, teman saya yang dulunya pas masih single mikir begitu. Tapi sekarang pas udah nikah bahkan udah punya anak bilang ke saya, saya menghawatirkan hal-hal yang gak perlu saya khawatirkan. Ternyata saya, suami, dan anak masih bisa hidup sampai sekarang. Bahkan rezeki suami saya alhamdulillah lancar setelah menikah.

Lain halnya dengan kedua teman saya ini. Yang satu dulunya bekerja, punya penghasilan tiap bulan tentunya. Suka main sana-sini sama teman-temannya kalau habis gajihan. Setelah menikah dan punya anak, dia memilih sebagai ibu rumah tangga yang hanya fokus mengurus rumah dan anak. Suatu hari pas saya main ke rumahnya, dia berbisik kepada saya.

Enak ya masih single. Punya gaji dan bisa main sana-sini. Dulu juga saya pas kerja begitu. Bisa beli barang atau apapun yang saya mau. Sekarang karena saya udah gak kerja lagi, mau gak mau saya cuma bisa nunggu pemberian dari hasil kerja suami. Itupun harus dibagi-bagi.  

Saya cuma tersenyum masam mendengarnya. Padahal gak saya tanya ya, dia sendiri yang bilang begitu.

Berbeda dengan teman saya kedua. Setelah menikah, lantaran suaminya tidak memiliki penghasilan tetap mau tidak mau dia harus bekerja. Ditambah suaminya memiliki hutang yang cukup besar. Dia bilang sendiri ke saya, saya jadi harus bantu suami membayar hutang-hutangnya dengan gaji saya yang segini. Mungkin gajinya lebih besar kamu daripada saya.

Saya hanya mendengarkan tak banyak komentar. Teman saya yang inipun sama, dia tiba-tiba cerita sendiri ke saya begitu saya main ke rumahnya.   

Jujur sih alasan ini memang kerap menghantui saya. Padahalkan ya urusan rezeki udah Allah atur kadarnya berapa. Mamah sama Bapak suka bilang sama saya, setiap rumah tangga itu urusannya beda. Kalau soal ekonomi, seharusnya bisa diatasi bersama jangan memberatkan salah satu pihak. Nah menurut kalian gimana?

3. Takut Komitmen

Menikah berarti memperoleh kemerdekaan di satu sisi dan kehilangan kemerdekaan di sisi lain. Kebutuhan biologis dan kasih sayang terpenuhi, tapi di saat yang sama hadirlah tanggung jawab “kekitaan”. Setelah menikah, yang menjadi pemeran utama bukan lagi “aku” tapi “kita” atau “kami”. Banyak keputusan yang bisa diambil dalam hitungan detik oleh seorang bujangan, tapi jadi bahan diskusi berhari-hari ketika dia telah menikah…

Waw! Memang betul sih, dengar cerita dari teman-teman saya yang sudah menikah hal sepele pun bisa jadi masalah kalau dalam rumah tangga. Misal gegara lampu kamar antara dimatikan atau dinyalakan ketika tidur, urusan bersih-bersih rumah, mengasuh anak, sampai mencari nafkah. Semuanya butuh kesadaran dan tentunya komitmen. Kalau masih single kan bebas mau ngapain juga. Paling cuma komitmen sama dirinya sendiri.

4. Takut kehilangan teman

Untuk orang yang punya rutinitas kumpul-kumpul bareng teman, pernikahan bisa menjadi lampu merah otomatis. Walau tidak semua, umumnya orang yang sudah menikah – terutama perempuan – akan mengurangi intensitasnya kegiatan hang out bareng teman dan mengalokasikan waktu yang lebih banyak bersama keluarga.

Kalau saya pribadi untuk alasan ini enggak sih. Karena saya kurang suka kumpul-kumpul. Saya lebih senang diam di rumah. Makannya kadang kalau diajak main saya suka banyak nolaknya. Heheee.

5. Tidak percaya pernikahan karena trauma

Sebagian orang melihat pernikahan sebagai dunia yang penuh dengan kebahagiaan. Di sana ada pasangan suami istri yang saling sayang dan sehidup semati. Sebagian lagi melihatnya sebagai sumber masalah, bahkan bencana.

Saya ingat begitu teman saya membuka percakapan dengan kalimat seperti ini,

“Hat, jangan fikir kalau menikah itu enak, bahagia terus karena udah pasangan. Jangan bayangin hal-hal yang indah. Karena setelah menikah semua pintu akan terbuka. Baik dan buruknya.”

Kembali lagi saya cuma manggut-manggut sambil mendengarkan celotehannya. Dalam kalaimat pembukanya itu saya bisa menangkap, bisa jadi sebelum dia menikah dia membayangkan hal-hal yang indahnya saja tanpa memikirkan resiko A atau B yang harus siap ditanggung. Maka dari itu menurut saya, penting sekali sebelum kita memutuskan untuk menikah ada baiknya kita mempersiapkan diri dulu dengan rajin membaca buku soal menikah atau bertanya kepada orang yang sudah menikah terutama kepada orang tua kita. Saya sendiri dulu mikirnya begitu, lha buat apa nikah kalau misal ujung-ujungnya cerai? Apalagi kalau udah liat berita-berita di TV, sinetron yang membahas atau menceritakan mengenai KDRT, perceraian, perselingkuhan. Mamah cuma bilang gini sama aku, setiap pernikahan itu pasti akan berbeda jalannya, berbeda takdirnya. Kalau sudah tau dari awal akan cerai, siapa juga yang mau menikah? Kenapa orang-orang tetap mau menikah padahal misal orang di sekitarnya banyak pernihakannya yang gagal, yak arena orang itu tidak tau masa depan pernikahannya akan seperti apa.

Doc. Pribadi
6. Takut tidak bisa jadi pasangan yang baik

Pernyataan ini bisa dibalik: takut kalau ternyata pasangannya tidak baik. Model pernikahan yang tersaji tiap hari di berbagi berita adalah perceraian kalangan artis. Kasus perceraian yang terdaftar di catatan sipil atau Kantor Urusan Agama tak kalah banyak, namun bergulir tanpa pemberitaan. Informasi yang setiap hari kita peroleh turut membangun persepsi kita tentang pernikahan.

Kalau ini tentu saya juga suka suudzan duluan. Maka dari itu saya suka memotivasi diri saya agar selalu menjadi pribadi yang baik. Karena saya yakin dengan janji Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 26, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik.

7. Tidak cukup uang untuk biaya resepsi

Menikah adalah saatnya menjadi raja dan ratu sehari. Rumah atau gedung disulap menjadi istana, hidangan istimewa disuguhkan, teman dan kerabat diundang, dan kabar tentang pesta besar pun disiarkan. Sudah pasti ongkosnya tidak murah, apalagi jika ada adat tertentu yang membuat pengeluaran jadi lebih besar.

Makannya saya dari mulai sekarang sudah niat dan komitmen buat nabung. Hehee. Meski jodoh belum ada dan kelihatan tapi soal uang kan harus sudah disiapkan dari sekarang. Kalaupun nanti uang udah terkumpul dan jodoh belum juga datang gak rugi juga kan? Apalagi saya tipikal yang inginnya nanti kalau nikah itu simple, gak terlalu memakan biaya yang besar dan lebih baik uangnya dijadikan bekal buat nanti sehabis nikah. Hehee.

8. Rahasia Illahi

Ada kalangan yang berpendapat bahwa usaha manusia yang paling menentukan, ada pula yang berkeyakinan bahwa Tuhan berkehendak sedangkan manusia menjalaninya.

Ini sih alasan yang memang paling dasar. Bahkan dari seluruh alasan-alasan di atas, alasan inilah yang menjadi berada diurutan atas bagi saya. Mungkin bisa jadi karena saya belum niat untuk menikah dan masih ingin menikmati hidup sendiri sembari sedikit-sedikit membantu keluarga. Karena saya mikirnya kalau sudah menikah akan sangat susah hanya untuk sekedar bisa main bersama keluarga. Pasti waktu akan banyak dihabiskan untuk mengurus suami dan anak.

Dari depalan alasan ini, adakah yang mewakili alasan teman-teman sekalian? Mari saling mendoakan, agar Allah selalu membantu kita di setiap urusan-urusan yang sedang kita hadapi.

Love,




Sumber:

Daryati, E & A. Farida. 2015. Marriage With Heart. Bandung: Penerbit Kaifa PT Mizan Pustaka

   

Wednesday, July 07, 2021

Photo by João Ferrão on Unsplash


Bismillahirrahmanirrahiim

Waduh CV Ta’aruf? Udah kebelet nikah? Eh emangnya kebelet pipis? Bukanlah ya. Jadi kemaren-kemaren sempet penasaran aja gitu pas lagi bikin CV buat ngelamar kerja tiba-tiba aja sebuah ide terlintas dalam benak, kalau CV ta’aruf modelnya kayak gimana ya?  Dan pas buka lagi bukunya Mbak Dewi yang judulnya Awe-Inspiring Us, aku menemukan sebuah penanda buku dan pas aku buka dibagian yang ditandai tersebut ternyata itu membahas tentang CV ta’aruf. OMG, how can I forget this?! LOL!

Di dalam buku itu tepatnya di halaman 115, Mbak Dewi menuliskan secara singkat gambaran umum mengenai CV ta’aruf. Ok berikut ini cara membuat CV ta’aruf ala Mbak Dewi Nur Aisyah:

Pertama, profil diri. Pastinya ada profil diri kita sendiri ya. Nama, TTL, alamat, tempat bekerja, suku, golongan darah.

Saranku: kalian bisa memasukkan personal data kalian sedetail mungkin tapi yang perlu digaris bawahi janggan sampai memasukkan data palsu. Waduh bahaya banget tuh!

Kedua, gambaran fisik. Dalam kategori gambaran fisik ini, Mbak Dewi menyebutkan seperti tinggi badan, berat badan, warna kulit, tipe rambut, warna mata, riwayat penyakit, dsb.

Saranku: kalau nulis gambaran fisik kalian bisa tanyain ke orang terdekat kalian mengenai real nya diri kalian seperti apa. Karena kadang apa yang mereka lihat jelas berbeda dengan apa yang kita lihat. Apalagi soal fisik. Diingatkan lagi jangan sampai berlebih-lebihan apalagi memperbagus kondisi fisik yang tidak sesuai juga bisa bikin urusan runyam.

Ketiga, latar belakang pendidikan. Bisa disebutkan mulai dari jenjang SD. Bahkan kalau kataku dari TK juga boleh kalau mau, hehee. Asal jangan bohong aja. Dalam latar belakang pendidikan ditulis misal S1 padahal aslinya tamatan SMA.

Keempat, pengalaman kerja.

Kelima, daftar penghargaan/prestasi (kalau ada).

Keenam, gambaran keluarga.  Kalian bisa bahas soal ayah, ibu, kakak, adik kalian gimana.

Ketujuh, kriteria calon. Hihii. Ini yang paling ditunggu-tunggu. Well, sebelum beranjak menuliskan ini alangkah baiknya kalau kita udah nge list duluan dan udah difikirin mateng-mateng  mengenai kriteria calon seperti apa. Gak asal tulis yang penting dapet calon! Duh! Di dalam kategori kriteria calon, kata Mbak Dewi kita bisa menyebutkan mulai dari kriteria fisik ataupun hal lainnya seperti pendidikan, pekerjaan, suku, gambaran acara pernikahan, domisili ke depan, karier, target jangka pendek, dll.

Kedelapan, foto diri. Ini yang terakhir nih. Foto diri. Tapi foto dirinya yang terbaru ya. Jangan foto pas zaman UN SMA misal, hehee. Dan yang terpenting fotonya itu foto sendiri.

Begitulah cara membuat CV ta’aruf ala Mbak Dewi Nur Aisyah. Semoga bisa membantu kamu dan aku juga yang saat ini hendak membuat CV untuk ta’aruf. Heheeh. Kalau aku pribadi kayaknya masih harus dirumuskan mau apa aja yang ditulis di CV nya apalagi soal kriteria calon. Hihii. Tulisan di atas hanya ditambah dari opini dan juga saranku aja sih. Selebihnya itu terserah temen-temen sendiri mau dibikin seperti apa CV nya. Yang terpenting apa yang ditulis dalam CV itu bener-bener real dari dari kita sendiri yang apa adanya bukan ada apanya.

Terakhir, good luck! Semoga jodoh yang sedang diusahakan segera menemukan jalannya. Oh ya buat temen-temen yang punya ide lain/tambahan lain mengenari CV ta’aruf bisa komen di bawah ya.

Love,



Sumber:

Aisyah, D.N. 2018. Awe-Inspiring Us. Jakarta: Penerbit Ikon


Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi