Book Insight #3: 3 Things I Learned from Musim yang Tak Sempat Kita Miliki

doc. pribadi



Identitas Buku

Judul: Musim yang Tak Sempat Kita Miliki
Penulis: Rintik Sedu
Tahun Terbit: Cetakan kedua, Oktober 2025
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Jumlah halaman:  272 hlm

Blurb

Rani bekerja sebagai editor di sebuah kantor penerbitan. Dia suka dengan kehidupan dan dunia kecilnya yang tenang di penghujung usia 20-annya, meski terkadang rekan kerjanya suka mengusiknya.
Suatu hari, proyek besar datang dari perusahaan parfum lokal yang berniat merilis produk baru lewat buku. Rani yang sudah lama bermimpi menerbitkan buku pertamanya, akhirnya mendapatkan kesemapatan. Tetapi, proses pengerjaan naskah itu membawa Rani kembali pada seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang menjadi alasan pertama Rani ingin menulis. 
Apakah Rani berhasil merampungkan naskahnya? Atau dia justru semakin terjerat masa lalunya?

Tiga Insight Utama

1.  Mereka memang HTS, tetapi bukan Hubungan Tanpa Status, melainkan Hubungan Teman Saja (p. 89)
2. Kenapa sesuatu yang pernah begitu dekat, bisa menjauh dalam sekejap? Kenapa seseorang yang pernah membuatnya merasakan banyak hal, kini membuatnya begitu hampa? (p. 102) 
3. Supaya kita nggak takut untuk melipat dan menyimpan masa lalu di sebuah kotak di dalam ingatan kita. Meyakini bahwa apa yang digariskan untuk selesai, ya sudah seharusnya selesai. Kalau kita paksakan untuk terus berlanjut, kita justru menghalangi apa yang seharusnya datang berikutnya. (p. 245)

Refleksi Pribadi

Ini adalah pertama kalinya aku kembali membaca novel setelah hiatus beberapa bulan. Selama ini, aku lebih memilih buku-buku self-improvement, seolah sedang sibuk membenahi diri, mencari jawaban, dan belajar kuat.

Aku pertama kali menemukan cerita ini dari blognya Tsana. Dan entah kenapa, sekali baca, rasanya boom. Ceritanya seperti menampar, pelan tapi tepat sasaran. Ada banyak bagian yang terasa dekat, terlalu dekat bahkan. Seolah kisah Rani tidak sepenuhnya fiksi, tapi potongan-potongan perasaan yang pernah aku simpan rapi.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung membeli bukunya. Dan benar saja, novel ini bukan sekadar tentang cinta atau masa lalu, tapi tentang keberanian untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kita miliki, sekeras apa pun kita menginginkannya.

Membaca buku ini membuatku diam cukup lama. Mengingat, merasakan, lalu perlahan belajar melepaskan lagi.

Penutup

Mungkin memang ada musim yang tidak ditakdirkan untuk kita miliki, sekeras apa pun kita ingin menetap di sana. Ada cerita yang hanya hadir untuk mengajarkan, bukan untuk dilanjutkan.

Novel ini mengingatkanku bahwa melepaskan bukan berarti kalah, dan mengingat bukan berarti harus kembali. Kadang, yang paling bisa kita lakukan hanyalah menerima bahwa beberapa orang dan rasa memang diciptakan untuk selesai.

Dan setelah menutup halaman terakhirnya, aku belajar satu hal: tidak semua yang kita sayangi harus kita simpan. Sebagian cukup kita kenang, lalu kita biarkan pergi dengan tenang.


Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi