| doc. pribadi |
Identitas Buku
Blurb
Tiga Insight Utama
Refleksi Pribadi
Ini adalah pertama kalinya aku kembali membaca novel setelah hiatus beberapa bulan. Selama ini, aku lebih memilih buku-buku self-improvement, seolah sedang sibuk membenahi diri, mencari jawaban, dan belajar kuat.
Aku pertama kali menemukan cerita ini dari blognya Tsana. Dan entah kenapa, sekali baca, rasanya boom. Ceritanya seperti menampar, pelan tapi tepat sasaran. Ada banyak bagian yang terasa dekat, terlalu dekat bahkan. Seolah kisah Rani tidak sepenuhnya fiksi, tapi potongan-potongan perasaan yang pernah aku simpan rapi.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung membeli bukunya. Dan benar saja, novel ini bukan sekadar tentang cinta atau masa lalu, tapi tentang keberanian untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kita miliki, sekeras apa pun kita menginginkannya.
Membaca buku ini membuatku diam cukup lama. Mengingat, merasakan, lalu perlahan belajar melepaskan lagi.
Penutup
Mungkin memang ada musim yang tidak ditakdirkan untuk kita miliki, sekeras apa pun kita ingin menetap di sana. Ada cerita yang hanya hadir untuk mengajarkan, bukan untuk dilanjutkan.
Novel ini mengingatkanku bahwa melepaskan bukan berarti kalah, dan mengingat bukan berarti harus kembali. Kadang, yang paling bisa kita lakukan hanyalah menerima bahwa beberapa orang dan rasa memang diciptakan untuk selesai.
Dan setelah menutup halaman terakhirnya, aku belajar satu hal: tidak semua yang kita sayangi harus kita simpan. Sebagian cukup kita kenang, lalu kita biarkan pergi dengan tenang.
Post a Comment