Refleski Catatan 95: Melarikan Diri

Selamat malam, selamat hari Senin!

Gimana hari Seninnya? Berjalan lancar? Atau belum sesuai dengan apa yang ditargetkan? Gak apa-apa. Masih ada esok, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat. Yang penting tutup hari kamu dengan pelukan hangat untuk diri kamu sendiri. Berterima kasihlah pada dirimu karena sudah menemani dirimu sejauh ini.

Sebenarnya ini tuh terlambat sih ya buat nulis refleksi mingguannya. Iya, harusnya kemarin hari Minggu. Tapi gak apa-apa lah ya. 

Mm, seminggu kemarin yang ingin aku syukuri adalah aku mau berterima kasih sama diri aku sendiri karena sudah memilih berjuang daripada menyerah. Curiosity akan musim yang sedang aku alami ini akhirnya membawaku duduk di hadapan seorang psikolog. 

Sesi konseling pertama selama 1,5 jam itu berhasil memperlihatkan sisi lain dari diriku. Dari rangkaian cerita yang kusampaikan, ternyata ada satu pola yang tidak kusadari telah membentukku selama ini:

MELARIKAN DIRI.

Iya, melarikan diri. Tanpa sadar, setiap ada masalah, aku cenderung menghindar. Entah itu dengan cara mengalah padahal aku punya hak membela diri, atau hal kecil seperti menunda membalas pesan karena takut membukanya, padahal isinya biasa saja. Bahkan sampai pada titik memilih tidak masuk kerja hanya karena enggan menghadapi sesuatu.

Psikologku sempat berujar bahwa keputusanku pulang ke kampung halaman pun mungkin bentuk dari pelarian. Namun, aku memilih untuk tidak menelan mentah-mentah pernyataan itu. Aku tahu persis kenapa aku keluar dari pekerjaan sebelumnya: mental yang sudah tidak sehat dan realita yang tak lagi sejalan dengan cita-cita. Aku teringat pesan seorang teman: “Tidak semua perkataan ahli harus kamu cerna bulat-bulat, karena ada bagian dari dirimu yang hanya kamu sendiri yang paham.” Apalagi ini baru pertemuan pertama; 1,5 jam tentu tak cukup untuk merunut semua luka, apalagi ditambah episode menangisnya, kan? :D

Meski begitu, pernyataan itu membekas. Aku sadar tidak bisa terus berada dalam pola yang sama. Sekarang, aku belajar untuk mengomunikasikan hal-hal yang tidak enak, alih-alih menutup diri dan membuat kesimpulan sendiri. Siapa tahu dengan bicara baik-baik, ada jawaban yang menenangkan? Setidaknya, aku tidak lagi menerka-nerka dalam penyesalan.

Aku tahu ini tidak mudah. Memutus pola komunikasi dan problem solving yang tidak sehat itu butuh waktu. Menariknya, aku merasa "melarikan diri" bukanlah akar masalahku yang sebenarnya. Mungkin itu hanya faktor pendukung dari beban masa lalu—di mana aku terbiasa berada "di puncak". Dari ranking 1-3 selama SD, ketua OSIS di SMP dan SMA, hingga mendapat kepercayaan besar dari petinggi di tempat kerja. Ketika akhirnya aku bertemu dengan satu kasus berat yang proses penyelesaiannya panjang dan terasa buntu, mentalku jatuh sejatuh-jatuhnya karena merasa gagal.

Intinya, jika kamu punya sesuatu yang ingin disampaikan, sampaikanlah dengan cara yang baik. Jangan terlalu lama dipendam. Takutnya, jika terus ditumpuk, suatu saat ia akan meledak.

Selamat malam!

0 Comments