Thursday, January 11, 2024
![]() |
| Photo by Rohan Nathwani |
Kamu harus belajar memaafkan.
Memaafkan atas kealfaan orang tuamu dalam mendidik dan membesarkanmu
karena kaupun belum tentu bisa sekuat mereka dalam menghadapi ujian hidup.
Memaafkan orang-orang yang menyakitimu,
bisa jadi karena ada perlakuanmu yang tanpa disengaja menyakiti mereka.
Memaafkan mereka yang hanya memanfaatkan kebaikanmu, kelebihanmu.
Memaafkan mereka yang pernah mencaci makimu, merendahkanmu, lalu meninggalkanmu.
Wahai diri, perluas maafmu atas hal yang pernah terjadi padamu.
Terima apapun yang hadir padamu baik dan buruknya.
Libatkan Tuhanmu dalam menentukan pilihan.
Cukup hanya untuk ditengok bukan untuk diratapi apalagi disesali
Karena yang terjadi kemarin sudah menjadi lembaran sejarah hidupmu.
Jika esok masih tak berpihak padamu, tak apa.
Proses belajar. Kamu diminta untuk lebih sabar dan ulet lagi
One day berkat kerja keras dan doa yang kamu panjatkan
Tuhan pasti akan mengabulkannya.
Belajar untuk percaya dan tidak merasa cemas lagi atas apa yang telah digariskanNya
Kamu hanya perlu menjadi hamba yang taat dan jauhi maksiat.
Ingat sejauh-jauhnya kamu meninggalkan-Nya
Bukankah Dia tidak pernah mengecewakanmu?
Ihat
Wednesday, January 10, 2024
![]() |
| Photo by Meruyert Gonullu |
Sepulang kerja, aku memutuskan untuk membeli fried chicken di depan komplek untuk menu makan malam.
"A mau beli yang dada, satu. Berapa?" kataku sopan sambil berusaha melihat harga yang terpampang di kaca roda.
"Ibu ini padahal udah sering beli masih aja nanya harganya berapa," kata si penjualnya dengan nada ketus membuatku mengerutkan kening. Agak lola emang aku pada saat itu. "Sebelas ribu," katanya lagi sambil menyerahkan ayam yang aku minta.
Sementara otaku masih berfikir keras. Sebegitu seringnyakah aku beli fried chicken ini? Sampai si penjual ini hafal banget sama muka aku? Batinku.
Aku menyerahkan uangnya tanpa berkata apapun kemudian balik kanan untuk pulang dengan fikiran yang masih bekerja keras, sesering itukah aku?
Kemudian aku ingat, kalau seringkan berarti hampir setiap hari ya? Lha aku kan kalau beli paling satu bulan sekali, gak tiap minggu juga apalagi tiap hari?
Tiba-tiba rasa kesal itu muncul dalam hati.
"Emangnya kerjaan aku ngafalin harga ayam itu?"
"Emangnya tiap beli aku akan terus ingat harganya berapa? Ya kalau dia jualannya cuma satu item aku juga bakal ingat harganya kali!"
Perjalanan pulang ke kosan penuh dengan pertikaian batin. Beruntung aku lola dalam mengartikan ucapannya tadi. Gak kebayang kalau aku 'ngeh' pada saat itu bisa-bisa adu mulut.
Hingga akhirnya akupun malas kalau harus beli lagi ke sana. Mana jutek, nge gas lagi ngomongnya. Huhuuu.
Sesampainya di kosan, aku menarik nafas panjang. Belajar untuk merefleksi diri atas apa yang terjadi. Memposisikan diri sebagai pedagang membuat aku tersadar bahwa sebagai penjual atau pedagang harus ramah dalam melayani pembeli. Jangan sampai hal-hal yang seharusnya tidak perlu dikomentari malah dikomentari. Perkara harga kan tidak setiap orang bisa mengingatnya dengan baik. Mana aku gak sering banget belinya. Kalau tiap hari beli ya wajar dikomentari begitu. Pengen sumpah serampah tapi ya sudahlah.
Kapok deh jadinya gak mau beli lagi ke sana.
Aku jadi inget sama Ibu yang suka jualan seblak, nah kalau ke si ibu yang satu ini aku kehitung sering jajannya dibanding ke yang jualan chicken itu. Tiap mau bayar aku selalu memastikan bahwa harganya segitu.
"Bu, tiga belas ribu kan ya?"
"Iya betul Teh, tiga belas ribu aja."
Sering sekali aku berkata seperti itu tiap kali beli. Tapi si Ibu gak pernah marah-marah tuh, menanggapinya dengan santai dan rumah.
Ya sorry aja aku bandingkan. Lagi pula perlu banget menjaga attitude di depan pelanggan. Bayangin aja kalu ada di posisi aku gimana? Heuhh!
Monday, January 08, 2024
![]() |
| Photo by Evie Shaffer |
Sudahlah beberapa hari ini Bandung diguyur hujan, ditambah perasaan aku tak karuan. Antara ingin marah, tapi kepada siapa aku marah? Merasa kecewa, lantas harapan apa yang pernah ku buat? Ingin menangis, tapi aku bingung hal apa yang bisa membuatku menangis?
Rasanya tawaku hanya topeng belaka. Menutup rasa kekacauan yang mungkin orang lain tak bisa melihatnya. Sampai pada suatu hari, aku ketahuan sedang melamun di tengah-tengah keramaian. Dipanggil pun aku tak menyahut, hingga entah panggilan ke berapa baru aku bisa sadar dan menoleh.
Keesokannya sungguh, perasaan aku semakin kacau. Akupun bingung dengan perasaan ini. Perasaan yang sudah kuterima tetapi aku kebingungan sendiri karena aku sungguh tidak mengenalnya. Sampai pertanyaan itupun terlontar dari rekan kerjaku,
"Kamu gimana kabarnya?"
Pertanyaan umum tapi justru malah membuat aku tersentak mendengarnya. Cukup beberapa detik untuk aku bisa mencerna pertanyaannya itu.
"Alhamdulillah baik." Jawabku pendek sembari memalingkah wajah.
"Akhir-akhir ini sepertinya kamu banyak murungnya. Tidak seperti biasanya."
Cukup membuatku lebih tersentak lagi dengan pengakuannya itu. Sekilas aku melihat wajahnya, aku jawab dengan seadanya sambil menundukkan wajah.
"Ah, enggak. Biasa aja kok."
"Yakin baik-baik aja?"
"Iya, baik." Jawabku tetap menunduk lantas menjauh dari rekan kerjaku itu dan mengalihkan pembicaraan dengan topik lain.
Aku terus mencari-cari alasan atas perasaanku yang berkecamuk ini.
Ada apa ya? Ingin memaki, tapi siapa dan apa yang bisa aku maki? Berkali-kali malam datang dan aku menangis tetap saja perasaan ini masih saja menetap dan enggan memberiku jawabannya.
Terkadang aku menerka-nerka. Apa jangan-jangan karena janji yang pernah dibuat lantas diingkari bahkan dilupakan begitu saja?
Apa iya itu?
Kalaupun iya berarti aku sudah salah kembali dalam menaruh harap.
Harapan yang seharusnya aku sandarkan kepada sang Maha Pencipta bukan kepada ciptaan-Nya.
Wednesday, January 03, 2024
![]() |
| Photo by Ylanite Koppens |
.jpg)



Social Media
Search