Tuesday, June 16, 2026
Aku sedih, aku kecewa, aku marah, dan juga kesal. Sesuatu yang sangat ingin aku dapatkan, ternyata belum bisa diwujudkan saat ini. Aku terpaksa harus mengalah pada keadaan. Aku tahu, melangkah nekat pun belum tentu menjadi jalan terbaik, karena kondisi mentalku belum benar-benar dinyatakan pulih sepenuhnya oleh psikiater—meski terkadang ego di kepalaku merasa bahwa aku baik-baik saja.
Beberapa teman di tempat kerja mulai menyadari perubahanku. Sikapku kini lebih banyak diam. Terkadang, aku memilih untuk melipat tangan dan tidur sejenak di atas meja kerja, sekadar mengistirahatkan pikiran sembari menunggu jadwal kelas berikutnya. Aku pun merasakannya; ada bagian dari diriku yang berubah sejak depresi itu bertamu ke hidupku. Aku tidak lagi seberisik dulu. Kini, aku lebih nyaman diam dan mendengarkan ketimbang mengobrol ramai ke sana kemari. Energi mental yang kupunya terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa arti.
Di tengah kesunyian ini, riuh kecemasan tentang masa depan kerap datang mengetuk. Namun, aku segera tersadar: siapakah aku? Aku hanyalah manusia yang hanya mampu menyusun rencana di atas kertas, sementara Allah adalah Sang Maha Pembuat Skenario, penentu mutlak yang memegang kendali atas setiap ketukan takdir. Lantas, kenapa aku harus merisaukan hari esok secara berlebihan?
Keinginan yang harus tertunda hari ini bisa jadi adalah cara lembut Allah untuk menyelamatkanku dari jurang-jurang tak terlihat, yang mungkin saja menyeretku kembali ke lembah gelap yang mengerikan. Allah begitu menyayangiku. Pintu itu ditutup rapat agar aku berbelok arah, mencari pintu-pintu lain yang lebih aman, tanpa harus memaksa mentalku hancur dan jatuh ke lubang luka yang sama.
Walau hati kecil terkadang goyah dan tergiur oleh nominal angka, aku mengingatkan diriku lagi: jika kupaksakan, prosesnya akan jauh lebih menyakitkan. Aku bisa saja terhempas lebih keras hingga sulit untuk kembali ke titik normal. Tidak apa-apa jika dunia melihatku terlambat. Bisa jadi, keterlambatan yang selama ini kutangisi justru adalah pelindung yang sedang menuntunku pada peluang-peluang baru yang jauh lebih indah.
Menangis dan bersedihlah jika hari ini terasa berat, tapi jangan pernah putus asa. Tertutupnya satu pintu hanyalah tanda bahwa perjalananmu belum selesai; kamu hanya diminta untuk mencari dan mengetuk pintu-pintu lain. Tenanglah, Allah menjagamu dengan teramat sangat. Ingat itu selalu.
Sudah direncanakan, sudah diusahakan dengan seluruh tenaga, tapi kalau takdirnya belum tiba, selalu saja ada jalan penghalang yang menghentikan langkah. Namun, di sinilah aku belajar: tertutupnya satu pintu bukan aba-aba untuk menyerah pada keadaan. Aku menolak untuk berhenti mengetuk pintu lain hanya karena satu ruang telah mengunci harapanku.
Tidak, aku tidak ingin menyerah. Aku memilih percaya bahwa pintu yang tertutup itu adalah cara Allah menyelamatkanku agar tidak kembali jatuh ke lubang luka yang sama. Mungkin itu cara-Nya membelokkan jalanku menuju pintu-pintu lain yang jauh lebih lapang, yang perlahan akan mengantarkanku pada mimpi-mimpiku yang sebenarnya.
Hari ini, aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menikmati rezeki yang sudah Allah beri dengan penuh syukur. Walau jujur, di sudut hati yang paling sunyi, kadang terselip rasa sesak—perasaan takut tertinggal karena di usia ini rasanya aku belum memiliki apa-apa dibandingkan orang lain. Namun, aku mengingatkan diriku lagi, bahwa "memiliki" tidak selalu tentang pencapaian materi yang terlihat. Mungkin, apa yang aku miliki hari ini adalah ketabahan, napas yang masih bertahan, dan hati yang terus belajar menyembuhkan diri. Dan itu lebih dari cukup.
Thursday, June 11, 2026
I know I still face many struggles since depression entered my life. It is so hard for me to wake up early, or even to stay awake after the Shubuh prayer. I usually prefer to go back to sleep. I don't know why, but I just feel so exhausted and sleepy all day long.
Yesterday, as usual, I taught my teenage student. She was beaming with happiness because she was finally accepted into Sekolah Maung in my city. She told me that all her hard work had finally paid off. Before class began, she shared her story: how she did everything she could to make her dream come true. She studied, she prayed, she woke up for Tahajjud, and she even made a promise to complete her Quran recitation if she got in.
Listening to her made me think about my own dream of studying abroad. Have I given enough effort to reach it? Why do I feel too tired to pursue it lately? Things like practicing for the IELTS, exercising in the morning, or researching information feel so heavy. With only one year left for preparation, a year feels so short, and I feel like I'm on the verge of giving up. I don't know why.
I keep wondering: is this my depression speaking, or am I just being lazy? But when I look back at my past, whenever I wanted to achieve something, I would give it my all. So I think the truth is simply that I am deeply, completely exhausted. That is why my body and mind need much more rest than usual right now.
Hi Ihat, Don’t rush. Take your time. Take all the time you need with yourself so you can truly hear what your soul wants. Keep going. It is completely okay to take small steps. That’s okay. I am so proud of you.
Sunday, May 31, 2026
I don’t know why, but I feel like something is completely messed up. My mind, my mood, and everything. I have a one-week holiday for Eid al-Adha, but instead of resting, I feel this heavy weight. It’s as if I have so much to say, yet I can’t find the words for it. I long for a friend, someone to dive into a deep conversation with, but there is no one around. Whenever this season of emptiness comes, I find myself drowning in self-blame, simply because I don’t know how to fix it. So, instead of desperately searching for answers, I just sit here and let myself feel the discomfort.
When night falls, closing my eyes feels like an impossible task. My mind speaks so loudly, replaying everything on a loop, and I can't find the switch to turn it off. So, I just stare at the ceiling until midnight catches up with me and sleep finally takes over.
Consequently, I’ve been waking up late. For the past two days, I’ve overslept and almost missed my Fajr prayer. I look at myself and wonder what is happening. But I know the pattern: whenever I have nothing to do—when the days stretch out for more than three days, the depression easily creeps back in, taking full mastery over my body and my mind.
I can't quite pinpoint what this is. I just need to write and share. For me, writing has always been the purest way to talk to myself without interruption. Here, I can bleed every thought onto the page without the hesitation or fear of being judged. In this space, I genuinely don’t care.
Deep down, I know I need someone to talk to. I know I need him. But he couldn't promise a forever, so I chose to walk away. And now, I am holding the weight of everything entirely alone. AGAIN.
Hey, you. I MISS YOU. I miss the times when we used to talk and share our days.
But wait... do I really miss you? Or do I just miss the routine? I think I just miss the routine that I’ve probably romanticized in my head. Hahaha.
The truth is, I’m just so tired of falling in love again. Tired of the vulnerability it takes to get comfortable with someone. I am exhausted, and honestly, I’ve forgotten how to open my heart after being lonely for so long since the breakup.
And on top of that, I carry this depression. So... would you still want to stay by my side?
Saturday, May 30, 2026
Selamat merayakan Iduladha 1447 H bagi kamu yang merayakan!
I’m so grateful with this Eid. Entah mengapa, kali ini aku merasakan seperti ada beberapa cahaya yang menyinari hatiku. Cahaya yang mengembalikan diriku seperti sebelumnya: an initiator in my family. Aku kembali memiliki ide dan energi untuk merayakan Iduladha ini, walau mungkin tidak seberapa. Kondisi ini sangat berbeda dengan diriku saat Idulfitri lalu, di mana aku lebih banyak diam ketimbang menginisiasi perayaannya.
Semuanya bermula ketika aku ingin membuat BBQ-an (dibandingkan bikin sate seperti biasa), sekaligus tetap ingin makan kupat dan opor ayam. Saat mengobrol, Mamah bercerita dan meminta maaf karena tidak bisa memasak menu tersebut dikarenakan keuangan keluarga yang sedang menurun.
Mendengar itu, muncullah inisiatifku untuk mengajak adikku yang sudah sama-sama bekerja untuk udunan (patungan). Biasanya, akulah yang selalu menanggung semuanya sendirian. Jujur saja, selama ini terkadang di dalam hati suka ada rasa kesal sedikit. Tapi dari momen ini aku tersadar: rasa kesal itu muncul hanya karena aku tidak mengomunikasikannya dengan baik. Adikku tipe orang yang memang harus dikasih tahu, bukan seperti aku yang mudah terenyuh dan cepat paham situasi. Dan ternyata, saat diajak udunan dia mau-mau saja tanpa keberatan.
Momen ini mendadak mengingatkanku pada sebuah kutipan buku yang sangat menampar:
"Jika kita menginginkan sesuatu dari orang lain, hal kecil sekalipun, kita harus memberitahu mereka yang sebenar-benarnya. Pengertian dan perhatian, hal apa pun yang menyangkut ekonomi, kata-kata yang hangat untuk disampaikan, apa pun itu. Jika kita tidak berkata apa-apa, orang lain tidak akan tahu kalau kita terluka. Tak ada tersangka, yang ada hanya korban." Yoo Eun-Jung, Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti.
Dan, boomm! Tulisan itu betul sekali. Selama ini aku selalu pura-pura kuat. Pura-pura bisa menanggung semuanya, padahal sebetulnya aku pun butuh bantuan tapi tidak tahu harus mengomunikasikannya bagaimana.
Dari pengalaman Iduladha kali ini, aku membuktikan sendiri bahwa adikku tidak egois. Dia hanya butuh diberi tahu, dan sisanya dia paham sendiri. Bahkan saat kami mau membuat BBQ, dia malah menyumbang minuman tanpa diminta!
Ternyata, asumsi-asumsi buruk itu hanya ada dalam benakku saja. Karena tidak berani menyampaikan dan memilih menyimpannya sendiri, akhirnya aku kewalahan sendiri, kan?
You are the only person responsible for your life and your happiness.
Betul sekali. Tidak ada yang bisa memahamiku pada saat itu karena, ya... semuanya aku pendam sendiri tanpa dikomunikasikan dengan baik.
Kembali meminjam kutipan dari buku Yoo Eun-Jung di halaman 5:
"Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri, menciptakan situasi yang membuat kita menanggung segala hal sendirian, dan saat sesuatu terjadi, kita tak punya siapa-siapa. “Aku sangat memikirkan dan peduli pada orang lain, tapi kenapa mereka tidak mengerti perasaanku sama sekali?” “Kenapa dia menyepelekan kebaikanku?” Kita harus berhenti dikuasai oleh keputusasaan, frustrasi, kemarahan, dan keterasingan."
Iduladha tahun ini bukan cuma tentang daging kurban atau BBQ, tapi tentang sebuah kesadaran baru untuk diriku sendiri. Saatnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri dengan ekspektasi bahwa orang lain harus selalu paham tanpa kita bicara.
Yuk, belajar menurunkan ego untuk meminta bantuan, dan belajar mengomunikasikan isi hati dengan jujur. Karena orang lain bukan cenayang, dan kita tidak harus selalu jadi pahlawan sendirian.
Sunday, May 24, 2026
Halo!
Jadi, bagaimana seminggu ini? Capek? Kesal? Marah? Atau bahagia?
Talking about this week, I feel like I've been tired almost every day. Entahlah, rasanya capek aja. Iya sih, seminggu kemarin banyak mengerjakan administrasi kelas, seperti menilai hasil ujian siswa dan juga bikin report. Tapi kenapa ya, semenjak depresi hadir dalam hidup aku, aku jadi tak sekuat biasanya?
Aku jadi mudah lelah. Ngumpul atau terlalu banyak ketemu orang rasanya menyedot banyak energiku. Ah, ya! Nah kan, aku baru sadar alasan kenapa lelah sekali seminggu ini—bahkan di hari Minggu ini aku malas melakukan aktivitas. Seminggu ini aku memang banyak bertemu dengan orang tua siswa untuk acara parents' meeting. Rasanya energi ini benar-benar tersedot habis.
Bahkan kemarin, ketika teman-temanku mengajak untuk nongkrong di kafe, pada akhirnya aku tolak. Karena udah capek aja gitu, gak tahu kenapa. Udah gak ada energi lagi buat ketemu banyak manusia. Kadang suka mikir, kalau kayak gini terus, kapan ya bisa ketemu jodohnya? Hahaha.
Tapi wajar kok. Gak semua minggu harus kamu lalui dengan perasaan yang excited. Kamu boleh lelah, boleh merasa malas, dan boleh untuk tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk pertama kalinya dalam hidupku, orang tuaku tidak banyak komplain hari ini, meskipun aku tidak melakukan apa pun selain mandi, mengajar anak-anak (volunteer), makan, tidur, nonton, jajan, lalu ditutup dengan menulis buku dan membaca.
Btw, minggu ini aku sedang membaca buku Gentle Souls karya Dhannisa Cho. Isinya benar-benar menggambarkan apa yang pernah dan sedang aku rasakan. Kapan-kapan nanti aku tulis review-nya ya!
Ya sudahlah, untuk minggu ini pokoknya aku lelah. Aku lelah bertemu dan banyak berkomunikasi dengan manusia. Entahlah, aku juga tidak paham kenapa bisa se-lelah ini. Tapi ya sudahlah, biarlah. Mungkin memang minggu ini aku harus mengizinkan diriku merasakan lelah berkepanjangan.
Selamat menutup hari Minggu dan selamat bertemu hari Senin!
Thursday, May 21, 2026
What do you not want anybody else to know about you?
When I was first diagnosed with a depressive episode with psychotic features, I kept it entirely to myself. I felt so embarrassed by my condition, fearing that if people found out, they would judge me, ignore me, and stay away. But the longer I kept it bottled up and refused to communicate, the more I noticed that people couldn't truly understand or respect my boundaries. I realized I had become incredibly sensitive to everything.
After two months of carrying this heavy secret, I gave up trying to hide it. For the first time, I chose to open up about my condition to my supervisor. Surprisingly, he was incredibly supportive and offered me exactly the flexibility and help I needed. In that moment, I felt a wave of relief, like the universe finally understood me.
Three months into my treatment, I took an even bigger step and decided to share my journey on social media. And boom! The response was overwhelming. So many people flooded me with support. A friend living in Japan even texted to check on me, listening deeply without interrupting or judging. Endless prayers and encouragement filled my post.
That was the moment my perspective completely shifted. My depression is not my aib (shameful secret). Instead, it has become a gateway to knowing myself better—understanding my life, my limits, and what I truly want. My depression is just a single chapter in my life, not the whole book. It does not define who I am; it is simply a profound lesson. Today, I am no longer ashamed. I accept it, I learn from it, and I fully embrace my vulnerability.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
If I had the I life I wanted. what would today look like?
It would start with me sitting in a cozy café, writing while sipping a hot latte, my absolute favorite coffee. Afterward, I would wander around the city, or perhaps catch a flight to a completely different country. I would fully enjoy the journey, typing away on my laptop as the clouds pass by the airplane window.
In this life, I would constantly meet new people, share deep conversations, and gather new lessons from every soul I cross paths with. I would share these perspectives on my social media, hoping to inspire others. I would spend hours reading, freely buying every book that catches my eye. And most importantly, I would run a free English course for children who don't have the financial means to afford one, teaching them, sharing with them, and opening doors for their future. That's it. That would be my perfect day.
Wednesday, May 20, 2026
What and who is worth suffering for?*
Before my dark era arrived, I always put other people before myself. But then, I realized that when I needed help, they couldn't be there for me. Whether I wanted to admit it or not, in the end, I could only rely on myself. I was so angry and disappointed back then because nobody was by my side, and nobody understood the things that I myself didn't even comprehend. It also made me mad when people tried to explain things to me that I could no longer make sense of. The feelings were just too hard to describe.
Day by day, I chose to walk alone. I asked myself a thousand questions, trying to truly understand who I was. Then, without even realizing it, I slowly fell in love with myself and my life again.
So, when asked this question, I will answer loudly: YOURSELF!
You have to fight for yourself, for your life, and for your dreams, not for anyone else. Maybe we can choose to suffer for others at times, but look at how it ends. People come and go, right? Ultimately, you have to come back to yourself. You are the only one who will always be there, standing by your own side.
So, please, love and respect yourself. Say thank you to yourself before you close your eyes at night.
Hi myself,
Thank you for surviving and fighting today.
You did so well, and I'm proud of you.
I love you.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)
Tuesday, May 19, 2026
Am I truly doing the best I can right now?
This question forces me to pause. Am I living for myself, or am I still reacting to the expectations of the world?
After going through a dark era in my life, I am finally trying to focus on myself and do what I truly want to do. For example, on my journey to mastering English, I know I still have so much to learn. There is still a vast ocean of information out there that I haven't discovered yet. But this time, I actually enjoy the process. I am not doing it because of my circumstances or because of external pressure. I am doing it because my inner self needs it.
I am doing my best right now, and I am choosing to surrender the results. Either way, I love my progress and I am proud of myself. Thank you for surviving and learning through every single season.
Monday, May 18, 2026
Based on your daily routines, where will you be in five years? Ten? Twenty?
Looking at my daily routines, I see myself becoming a blogger, an English teacher, and a digital content creator. I know I am not a native speaker, but I have a deep love for English. I love learning it, and more than that, I love sharing it.
There is something magical about English for me. It gives a voice to everything in my mind. For some reason, when I write and speak in English, I can be more honest, vulnerable, and truly myself. I don't know exactly why, but it feels like home. That is the future I am building toward, one daily routine at a time. I truly hope it comes true.
Sunday, May 17, 2026
Halo semua, selamat malam.
Sebelum melangkah memasuki hari Senin, aku ingin meluangkan waktu sejenak untuk merefleksikan minggu ini.
Satu hal yang paling aku syukuri dalam seminggu terakhir adalah kesempatan untuk berkumpul dan bercengkerama kembali dengan teman-teman kerja lama. Kami mengobrol ke sana kemari, tertawa, bahkan sampai berpindah tempat nongkrong. Rasanya lumayan sekali untuk melepas penat sekaligus rindu karena cukup lama tak bertemu. Mendengar celotehan mereka soal dinamika pekerjaan masing-masing menjadi hiburan tersendiri untukku.
Aku juga sangat bersyukur dengan hari Minggu kali ini. Aku bisa melaluinya dengan santai, tanpa beban berat untuk menjemput hari Senin. Menikmati Minggu yang damai seperti ini sungguh kontras dengan apa yang sering aku alami di tempat kerja sebelumnya. Dulu, aku sering kali dilanda stres setiap hari Minggu. Aku jarang bisa menikmati hari libur dari gawai (gadget), karena dari Minggu sore menuju malam, pesan-pesan instruksi untuk esok hari sudah ramai bertebaran di grup kerja.
Oh iya, ada satu momen menarik yang tertangkap mataku saat sedang berkumpul bersama teman-temanku kemarin. Aku melihat seorang anak yang mengajak ibunya makan bersama. Setelah selesai makan, anak itu meminta ibunya berpose lalu mengabadikannya dengan kamera. Melihat beberapa pose yang berhasil difoto itu, entah mengapa ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatiku. Momen sederhana, tapi begitu penuh kasih. Semoga Mamah mau juga ya diajak begini nanti.
Ya... meski hari Mingguku terasa hangat, tetap saja ada bumbu kekesalan kecil karena di sepanjang jalan ketika berkumpul bersama teman-teman itu banyak sekali tukang parkir yang bermunculan, hehe.
Kalau minggu ini, bagaimana dengan ceritamu? Adakah hal manis yang bisa kamu syukuri, atau justru ada hal kecil yang sempat bikin kamu kesal?
Selamat bertemu hari Senin!
Saturday, May 16, 2026
Bagaimana kamu mendeskripsikan masa kecilmu?
Bagaimana rasanya sewaktu kamu masih kanak-kanak?
Apa saja hal yang kamu ingat dan rasakan?
Bagaimana suasana rumahmu atau tempat di mana kamu dibesarkan?*
Semakin aku mengingat masa kecil, bukan berarti aku membenci kedua orang tuaku. Namun, garis ingatan itu justru lebih banyak memunculkan rasa pahit dan pengabaian. Alih-alih kenangan manis, memori masa kecilku dipenuhi bayang-bayang tubuh kecil yang selalu ditinggalkan sendirian.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk mengekspresikan perasaan, justru terasa dingin menusuk dan mencekam setiap kali malam tiba. Malam adalah waktu di mana aku dipaksa menghafal tanpa pernah paham apa tujuannya. Jika gagal, bentakan, amukan, bahkan pukulan menjadi hukumannya. Aku ingat betul bagaimana sebuah rebutan TV berujung pada tamparan di pipi kiriku dari Bapak. Dan ketika semua itu terjadi Mamah hanya menatap dingin tanpa bersuara atau justru membenarkannya. Aku bingung, kepada siapa anak kecil itu harus mengadu?
Bagiku dulu, malam adalah cemas yang nyata. Aku selalu berdoa agar malam segera berganti pagi, agar aku bisa "kabur" ke sekolah, tempat di mana aku bisa bebas dari amukan di rumah.
Tidak ada yang menarik dari masa kecil yang penuh ketakutan. Aku melihat anak kecil itu memeluk lututnya di pojok kamar, menangis sendirian, memendam amarah yang tidak punya jalan keluar.
Wahai diri kecilku yang ketakutan, perkenalkan, ini aku versi dewasamu.
Kamu aman bersamaku sekarang. Membuat kesalahan itu manusiawi, dan kamu tetap sangat berharga di mataku. Berhasil atau tidak, aku tidak peduli, karena aku tahu kamu sudah berjuang sekeras itu. Kamu tidak perlu takut lagi, ada aku di sini yang akan melindungimu dan menyayangimu. Kamu pintar, kamu baik, dan kamu berhak istirahat saat lelah. Ini bukan salahmu. Aku menyayangimu, dulu, sekarang, dan selamanya.
*) Rara Noormega, Perjalanan Menerima Diri.
Friday, May 15, 2026
What bothers you most about other people?*
What bothers me most? It’s when people speak as if they know me, when they only know my name.
They’ve seen the title, but they haven't read a single chapter. They don't know the plot twists, the silent struggles, or the pages I had to tear out to keep going. It’s frustrating to be judged by someone else’s narrow perspective.
Because I know that pain, I choose to be a listener. I don’t interrupt your story with my advice unless you ask for it. I won't judge your journey based on my map. I’m just here to hear you.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
Thursday, May 14, 2026
All we ever have is now...*
Yesterday, I received the news that a former colleague of mine passed away. She was so young, only 36 years old. Our group chat is overflowing with messages of sympathy; everyone is in a state of disbelief.
The news made me reflect. Sometimes, we work too much and too hard. We become so consumed by achievements and the next goal on the horizon that we neglect what truly matters: our families, our children, and our soulmates. We focus on the climb and forget to look at the view right in front of us.
I’ve come to realize that the only thing we can truly hold onto is the present. We cannot live in the past, burdened by regret, nor can we live in the future, paralyzed by fear and anxiety.
Our time is a mystery, and its length is never guaranteed. Because of this, we must learn to be fully present. We need to appreciate the people who walk beside us—our family, our friends, and our partners. It is wonderful to strive for success, but please, do not forget to give your body and mind the pause they deserve.
To rest is not to give up. It is to honor the life you are working so hard to build.
Take a breath.
Be here.
That is enough.
Good night!
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)
Wednesday, May 13, 2026
What would be to good to believe if someone were to sit down and tell you what's coming next in your life?*
If someone could tell me my future, I’d want to hear two things: that my darkness is ending and that my soulmate is near.
It’s okay to admit that it’s lonely. It’s normal to feel a little jealous of the "happily ever afters" you see around you
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
Tuesday, May 12, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Blurb
"...to feel,
to hurt,
to love,
and to heal
you were born to be a human being."
This book serves as a compaasionate reminder that, on your self-love journey, you are never truly alone. May its pages empower you with the courage to embrace and forgive every aspect of yourself, both inside and out.
Tiga Insight Utama
1. As now you're recognizing your inner child or getting along with your inner voice, let's begin the journey of loving yourself. Let's give your inner voice a space to be heard. Let's give a chance for your emotions to be felt. The journey of embracing your inner voice will be challenging, but you'll be okay.
2. You are different, unique, and you have your own path. You don't have to be someone else to be successful dan happy. You don't have to follow other people's lives to be considered as someone who's worthy. Being you is enough.
3. Sometimes, not everything is your fault. Sometimes, bad things happened because it supposed to happen. And, no, you shouldn't blame and beat yourself up that hard. Because darling, there are many things out there which are beyond your control. Not everything is your fault. Please forgive yourself.
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini rasanya seperti sedang dipeluk dan dipahami tanpa sedikit pun dihakimi. Bahasanya sederhana namun sangat dalam, seolah setiap kalimatnya mampu menyentuh bagian paling rapuh dalam diri yang selama ini disembunyikan. Buku ini benar-benar mewakili suara hati kita yang sedang berjuang untuk menerima luka dan belajar mencintai diri sendiri kembali. Melalui buku ini, aku diingatkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah, dan tidak apa-apa jika proses sembuhku tidak secepat orang lain. Benar-benar sebuah teman perjalanan yang menenangkan bagi siapa pun yang sedang berusaha berdamai dengan masa lalu.
Monday, May 11, 2026
Hallo! Selamat pagi.
Selamat hari Senin.
Selamat memulai kembali hari untuk bekerja.
Enggak tahu kenapa rasanya happy aja nulis refleksi mingguan di hari Senin pagi. Serasa memberikan semangat dan energi untuk diri sendiri menghadapi minggu baru di bulan ini.
Seminggu yang lalu, aku merasa aku bahagia dengan diriku sendiri. Aku senang dan bangga pada diriku sendiri karena mampu mempresentasikan materi dengan baik. Semula, aku nervous sekaligus anxious yang luar biasa sampai gerd. Tapi setelah hari H tiba dan selesai mempresentasikannya, perasaan aku lega dan sakit di perut perlahan hilang.
Aku tahu. Ini efek dari pengalaman buruk aku ketika aku SMP. Pada saat itu aku mengikuti lomba speech dan aku tidak hafal dengan teksnya. Demam panggung. Begitu saat berdiri di hadapan umum aku gemetaran, panik, baru juga salam aku sudah turun panggung lagi karena aku tak bisa menyampaikan isi speech nya. Begitu turun, guru pendampingku hanya memalingkan muka. Tidak ada ucapan untuk menenangkan diriku yang panik luar biasa pada saat itu. Apalagi setelah diumumkan juara-juaranya, guru tersebut lebih membanggakan yang juara-juara saja.
Maka dari itu, aku ingin memutus rantai ini. Menghentikannya bahwa ini sudah berlalu dan kejadian tersebut akan berbeda dengan kejadian yang akan aku alami nanti.
Hallo Ihat remaja, usia SMP yang masih labil.
Terima kasih sudah berani untuk maju ke atas panggung, walau kamu belum hafal teksnya dan kamu sadar pada saat itu tidak ada guru satupun yang membimbingmu. Kamu berlatih seadanya dan sendirian. Tidak apa-apa. Tenang. Kamu aman bersamaku di sini. Jangan merasa bersalah. Tidak apa-apa. Itu pengalaman pertama kamu dan semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan sedih lagi ya. Berhenti menyalahkan diri sendiri karena itu sudah berlalu lama sekali. Terima kasih karena setelah kejadian itu, kamu jadi lebih well prepared. Sehingga setiap kamu tampil, kamu bisa dan mampu memberikan yang terbaik. Buang suara-suara buruk itu. Kamu berharga, kamu mampu, kamu cukup, dan kamu bisa.
Terakhir, aku juga senang karena dosis obatku kini mulai dikurangi oleh psikiaterku.
Semangat melanjutkan hidup!
Hai, Ihat!
Terima kasih sudah berjuang minggu ini. Terima kasih karena kamu memilih untuk berjuang daripada membiarkan dirimu tenggelam dalam lubang hitam. Terima kasih karena saat ini kamu sudah tidak segan untuk meminta tolong, menyampaikan perasaan kamu, dan juga menerima seluruh perasaan yang hadir dalam hidupmu. Terima kasih karena perlahan cahaya itu mulai menerangi hatimu yang sempat gelap gulita. Terima kasih karena selalu melihat hal-hal kecil yang ada di sekitarmu untuk dijadikan refleksi rasa syukurmu. Terima kasih karena kamu lebih memilih untuk hidup. Karena nyatanya hidup menawarkan dua hal, senang dan sedih. Itu sepaket. Dan tak bisa kita memilih salah satunya saja. Terima kasih sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada waktunya. Kini. kamu bisa lebih tenang dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam hidupmu. Karena kamu sudah sadar, semua akan berlalu dan berganti dengan yang baru.
Terima kasih. Mari berjuang kembali di minggu ini. Aku sayang kamu!
Demi menarikmu keluar dari emosi merusak diri,
aku mencebur ke dalamnya, menyelami dan menemukan kata-kata untuk menyelamatkanmu.
Kata-kata yang belum pernah kuucapkan.
"Tolong aku."
Tapi ternyata kata-kata yang kutemukan itu justru menyelamatkan diriku.
Saat kau keluar dari situasi terburuk, tiba-tiba prespektif baru terbuka, dan semua hal yang dulu menyusahkan mulai terasa sepele.
Kesuksesan?
Debut?
Persetan semua.
Jika aku cuma ada satu permintaan dalam hidup, aku ingin mati karena usia tua.
Semoga kucing, pohon, dan semua makhluk hidup mati karena usia tua.
Bukan karena penyakit, bukan karena derita.
Semoga semuanya mati karena usia tua, seperti daun yang gugur sendiri.
Hwang Dong-Man (We Are All Trying Here)
Monday, May 04, 2026
Selamat malam, selamat hari Senin!
Gimana hari Seninnya? Berjalan lancar? Atau belum sesuai dengan apa yang ditargetkan? Gak apa-apa. Masih ada esok, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat. Yang penting tutup hari kamu dengan pelukan hangat untuk diri kamu sendiri. Berterima kasihlah pada dirimu karena sudah menemani dirimu sejauh ini.
Sebenarnya ini tuh terlambat sih ya buat nulis refleksi mingguannya. Iya, harusnya kemarin hari Minggu. Tapi gak apa-apa lah ya.
Mm, seminggu kemarin yang ingin aku syukuri adalah aku mau berterima kasih sama diri aku sendiri karena sudah memilih berjuang daripada menyerah. Curiosity akan musim yang sedang aku alami ini akhirnya membawaku duduk di hadapan seorang psikolog.
Sesi konseling pertama selama 1,5 jam itu berhasil memperlihatkan sisi lain dari diriku. Dari rangkaian cerita yang kusampaikan, ternyata ada satu pola yang tidak kusadari telah membentukku selama ini:
MELARIKAN DIRI.
Iya, melarikan diri. Tanpa sadar, setiap ada masalah, aku cenderung menghindar. Entah itu dengan cara mengalah padahal aku punya hak membela diri, atau hal kecil seperti menunda membalas pesan karena takut membukanya, padahal isinya biasa saja. Bahkan sampai pada titik memilih tidak masuk kerja hanya karena enggan menghadapi sesuatu.
Psikologku sempat berujar bahwa keputusanku pulang ke kampung halaman pun mungkin bentuk dari pelarian. Namun, aku memilih untuk tidak menelan mentah-mentah pernyataan itu. Aku tahu persis kenapa aku keluar dari pekerjaan sebelumnya: mental yang sudah tidak sehat dan realita yang tak lagi sejalan dengan cita-cita. Aku teringat pesan seorang teman: “Tidak semua perkataan ahli harus kamu cerna bulat-bulat, karena ada bagian dari dirimu yang hanya kamu sendiri yang paham.” Apalagi ini baru pertemuan pertama; 1,5 jam tentu tak cukup untuk merunut semua luka, apalagi ditambah episode menangisnya, kan? :D
Meski begitu, pernyataan itu membekas. Aku sadar tidak bisa terus berada dalam pola yang sama. Sekarang, aku belajar untuk mengomunikasikan hal-hal yang tidak enak, alih-alih menutup diri dan membuat kesimpulan sendiri. Siapa tahu dengan bicara baik-baik, ada jawaban yang menenangkan? Setidaknya, aku tidak lagi menerka-nerka dalam penyesalan.
Aku tahu ini tidak mudah. Memutus pola komunikasi dan problem solving yang tidak sehat itu butuh waktu. Menariknya, aku merasa "melarikan diri" bukanlah akar masalahku yang sebenarnya. Mungkin itu hanya faktor pendukung dari beban masa lalu—di mana aku terbiasa berada "di puncak". Dari ranking 1-3 selama SD, ketua OSIS di SMP dan SMA, hingga mendapat kepercayaan besar dari petinggi di tempat kerja. Ketika akhirnya aku bertemu dengan satu kasus berat yang proses penyelesaiannya panjang dan terasa buntu, mentalku jatuh sejatuh-jatuhnya karena merasa gagal.
Intinya, jika kamu punya sesuatu yang ingin disampaikan, sampaikanlah dengan cara yang baik. Jangan terlalu lama dipendam. Takutnya, jika terus ditumpuk, suatu saat ia akan meledak.
Selamat malam!
Thursday, April 30, 2026
Amalia pulang ke Tasikmalaya bukan untuk mencari kenangan, melainkan untuk melarikan diri dari suara-suara di kepalanya. Namun, di kota kecil yang tenang ini, ia justru didiagnosis depresi. Di saat ia berjuang untuk tetap "waras", sebuah kabar datang: pria yang dulu menghancurkan masa SMA-nya dengan perundungan kejam, kini kehilangan kewarasan di Rumah Sakit Jiwa.
Ironi itu memuncak saat mereka bertemu. Pria itu tak lagi ingat siapa dirinya sendiri, tak lagi ingat dunia yang ia tinggalkan. Hanya satu memori yang tersisa di kepalanya: Nama Amalia.
Sanggupkah Amalia memaafkan seseorang yang bahkan tidak ingat pernah menyakitinya?
Setelah hiatus hampir beberapa tahun, akhirnya saya kembali mencoba menulis non-fiksi berjudul Breathing Through the Noise. Kamu bisa membacanya dengan klink link berikut ini ya. Saran dan komentar sangat saya tunggu!
Monday, April 20, 2026
Sudah memasuki hari Senin lagi.
Hallo semuanya. Selamat kembali beraktifitas!
Sebenarnya aku ini terlambat untuk menulis refleski mingguan, biasanya kan di hari Minggu ya, tapi ini malah di Senin pagi. Tapi gak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada gak sama sekali kan?
Aku sangat bersyukur atas minggu ini, atas hidup ini, dan juga semua hal yang terjadi dalam hidupku. Hubungan aku dengan orang tua semakin membaik; mereka lebih memahami kondisi aku saat ini. Maka dengan itu, akupun lebih mudah untuk memahami diriku sendiri, memeluk semua luka yang terjadi di masa lalu, terus belajar untuk memaafkan dan juga let go atas apa yang telah terjadi. Karena aku tidak mau terus menerus membawa serta hidup dalam bayang-bayang amarah dan kecewa. Aku berhak bahagia, damai, dan tenang dalam menjalani hidup ini.
Selain itu, aku pun mau mengucapkan terima kasih kepada diriku sendiri karena sudah berani untuk mendaftar beasiswa AAS. Meski efek samping obat membuat cara berpikirku sedikit melambat dan mudah lupa, aku bangga karena tetap mencoba.
Aku merasa seperti menemukan kembali titik-titik cahaya dalam hidupku. Semua itu dimulai saat aku kembali belajar sedikit-demi sedikit. Aku merasa aku kembali hidup dan bersemangat.
Semoga titik-titik terang ini akan terus bertambah setiap harinya sehingga aku dapat menemukan kembali cahaya dalam hidupku.
Tuesday, April 14, 2026
Sudah hampir satu bulan lebih aku tidak menulis. Bahkan proyek menulis Ramadan Journaling tak bisa aku selesaikan. Bulan lalu aku relapse setelah tidak lagi minum obat secara sepihak. Pertama karena BPJS aku dinon-aktifkan, kedua sempat berdebat dengan orang tua karena orang tua tidak setuju aku minum obat. Ketiga, orang tua masih denial dengan kondisi aku.
Dua minggu pertama setelah lepas obat, aku merasa baik-baik saja. Baru di minggu ketiga, keempat aku kesulitan untuk bisa memejamkan mata, isi kepala rasanya lebih berisik dari sebelumnya, mood ku berantakan, emosiku lebih sensitif.
Di minggu ini aku relapse. Kembali memukul-memukul diri sendiri, mencaci maki, bahkan sempat kalap mencari gunting. Namun aku patut berbangga diri pada diri sendiri, karena di tengah kondisi aku yang kacau, masih ada sisi dari diri aku yang lain untuk meminta menghentikannya.
Lalu aku melihat karet rambut. Aku mengenakan karet rambut itu dipergelangan tanganku sebagai pengganti benda tajam.
Memasuki minggu kelima, aku sudah tak bisa lagi menahan akan kondisiku. Maka dari itu, aku putuskan untuk pergi ke kantor BPJS, mengurus BPJS aku yang tidak aktif, lalu kembali mengambil rujukan.
"Iya, Ibu itu sudah terlalu lama memendam semuanya sendirian. Makannya ini dikategorikan berat," ucap psikiater aku ketika aku kembali berkunjung.
"Ini kita kembali lagi ke nol ya. Soalnya sudah lebih dari satu minggu gak kontrol."
"Dok, tapi orang tua saya tidak mendukung saya untuk berobat."
"Nanti kalau kontrol selanjutnya, orang tua Ibu boleh kok diajak ke sini. Biar nanti saya jelaskan kondisi Ibu."
Setelah itu aku tidak pernah berhenti berdoa agar orang tua aku bisa memahami kondisiku. Dan doa itu dikabulkan.
Beberapa hari kemudian, datang salah satu dari orang dinas sosial berkunjung ke rumah didampingi oleh mantan RT setempat. Orang dari dinsos itu bilang aku lagi berobat apa, aku jawab kondisi aku. Ternyata mantan RT setempat pun pernah berada di posisi yang sama dulu.
Setelah diceritakan oleh mantan RT tersebut, barulah kedua orang tuaku paham tentang kondisi aku sebenarnya. Barulah setelah itu mereka mendukung aku untuk berobat sampai tuntas.
Rasanya gimana ya. Nano-nano gitu. Senang iya akhirnya keluarga tahu dan mensupport aku untuk bisa sembuh.
"Ingat ya Bu, tidak semua orang faham tentang kesehatan mental."
Dari pengalaman ini aku belajar bahwa aku harus mempercai diriku sendiri, kata hatiku, dan juga menerima kondisiku bahwa memang betul aku sedang tidak baik-baik saja. Kalau harus mengobati, ya lanjutkan. Tak perlu menunggu persetujuan orang lain ataupun mendengar omongan mereka karena yang merasakan dan yang melaluinya adalah dirimu sendiri.
Wednesday, March 25, 2026
Ternyata yang bikin aku susah lupa dan move on itu bukan karena perasaan aku yang masih tertinggal di sana, atau karena aku masih rindu dengan semua kenangan itu. Bukan. Bukan itu.
Tapi amarah aku, kekecewaan aku, dan kesedihan aku yang tak pernah aku terima kehadirannya dan menganggap semuanya baik-baik saja. Harusnya saat itu aku marah, aku kecewa, aku sedih. Alih-alih berteriak kesurupan dan berlinang air mata, aku malah memilih untuk tersenyum: menekan semua perasaan yang sebenarnya hadir.
Akhirnya apa? Jadi bom waktu juga kan?
Maka dari itu, setiap kali memori itu hadir, sebenarnya itu bukan tanda kalau aku lagi kangen momen itu. No. Bukan. Tapi ada perasaan lama yang sudah aku tekan dan aku kubur bertahun-tahun, yang kini minta untuk didengarkan, dikeluarkan, dan diekspresikan.
Jadi kalau saat ini mau nangis, ya nangis. Mau marah ya marah. Gak usah dipendam lagi. Gak usah diganti dengan senyum dan tawa lebar seolah semuanya baik-baik aja. Pengen terlihat kuat padahal sebenarnya udah hancur banget di dalam. Iya kan?
Jadi ngapain pura-pura kuat kalau pada akhirnya semua ini harus kamu tanggung sendiri akibatnya?
Enggak enak kan, berjalan sendirian di labirin hitam yang kamu sendiri gak tahu akan ketemu cahayanya di mana?
Enggak enak kan, sama gedoran di dalam hati dan bisikan di kepala yang seolah tidak pernah berhenti?
Enggak enak kan, ketika semua warna-warni dalam hidup tiba-tiba berubah menjadi hitam putih kayak hasil foto copyan?
Apalagi yang enggak enak?
Oh, tidur kamu. Kamu jadi sering terbangun tengah malam kan? Tiba-tiba nangis tanpa alasan yang jelas. Isi kepala yang terus menerus aktif, berlari-lari dari masa lalu ke masa depan. Heningnya malam yang seharusnya bisa menenangkan, ini justru malah menikam diam-diam.
Saat semua orang minta kamu buat semangat untuk menjalani hidup, padahal kamu sendiri sedang kewalahan dengan diri kamu sendiri.
Lalu tanpa sadar, kamu ingin mengakhiri semua keributan di isi kepala kamu dan ingin mengembalikan warna di hidup kamu bukan?
Sayang, yang terdengar bukan itu.
Yang didengar bukan itu.
Yang diikuti bukan itu.
Kamu justru malah semakin jauh dan memilih untuk menyalakan api di tubuhmu sendiri.
“Kamu tuh kuat di luar, tapi rapuh di dalam.”
Kata seseorang sambil menatapku tajam, seolah ingin menembus benteng pertahananku. Tapi aku memilih untuk menghindar saat itu. Memilih untuk tidak mendengar ucapannya dan berpura-pura kalau aku baik-baik saja.
Maaf. Aku terlalu dungu untuk kalimatmu di tahun-tahun yang telah berlalu, yang kini sempat kusesali. Kenapa dulu aku begitu egois untuk terlihat baik-baik saja?
Belum lagi aku muak pada lingkungan yang terkadang menertawakan apa yang sedang kurasa. Dibilang lebay lah, gitu aja cengeng, harus kuat. Tanpa mau benar-benar memahami atau hanya sekedar diam, mendengarkan sepenuhnya, dan hadir.
Disaat itu pula aku memutuskan untuk menutup semua perasaan yang hadir. Menggantinya dengan senyum dan tawa keras nan sumbang. Aku kira, dengan begitu aku akan kuat. Tak lagi dianggap cengeng dan lebay.
Satu hari, dua hari, seminggu, sebulan, hingga akhirnya bertahun-tahun hal buruk ini menjadi kebiasaanku.
Sampai di titik ketika hati dan jiwaku sudah lelah dengan topeng busuk ini. Di waktu yang tak pernah ku duga, semuanya meledak. Tak bisa lagi ditahan.
Kini, aku diberi teguran keras oleh diriku sendiri.
Berjalan sendirian di tengah kegelapan yang tak pernah ada ujungnya dan cahaya itu pergi entah ke mana.

Social Media
Search