Refleksi Catatan 96: Melanjutkan Hidup

Hallo! Selamat pagi.

Selamat hari Senin.

Selamat memulai kembali hari untuk bekerja.

Enggak tahu kenapa rasanya happy aja nulis refleksi mingguan di hari Senin pagi. Serasa memberikan semangat dan energi untuk diri sendiri menghadapi minggu baru di bulan ini. 

Seminggu yang lalu, aku merasa aku bahagia dengan diriku sendiri. Aku senang dan bangga pada diriku sendiri karena mampu mempresentasikan materi dengan baik. Semula, aku nervous sekaligus anxious yang luar biasa sampai gerd. Tapi setelah hari H tiba dan selesai mempresentasikannya, perasaan aku lega dan sakit di perut perlahan hilang. 

Aku tahu. Ini efek dari pengalaman buruk aku ketika aku SMP. Pada saat itu aku mengikuti lomba speech dan aku tidak hafal dengan teksnya. Demam panggung. Begitu saat berdiri di hadapan umum aku gemetaran, panik, baru juga salam aku sudah turun panggung lagi karena aku tak bisa menyampaikan isi speech nya. Begitu turun, guru pendampingku hanya memalingkan muka. Tidak ada ucapan untuk menenangkan diriku yang panik luar biasa pada saat itu. Apalagi setelah diumumkan juara-juaranya, guru tersebut lebih membanggakan yang juara-juara saja. 

Maka dari itu, aku ingin memutus rantai ini. Menghentikannya bahwa ini sudah berlalu dan kejadian tersebut akan berbeda dengan kejadian yang akan aku alami nanti. 

Hallo Ihat remaja, usia SMP yang masih labil.

Terima kasih sudah berani untuk maju ke atas panggung, walau kamu belum hafal teksnya dan kamu sadar pada saat itu tidak ada guru satupun yang membimbingmu. Kamu berlatih seadanya dan sendirian. Tidak apa-apa. Tenang. Kamu aman bersamaku di sini. Jangan merasa bersalah. Tidak apa-apa. Itu pengalaman pertama kamu dan semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan sedih lagi ya. Berhenti menyalahkan diri sendiri karena itu sudah berlalu lama sekali. Terima kasih karena setelah kejadian itu, kamu jadi lebih well prepared. Sehingga setiap kamu tampil, kamu bisa dan mampu memberikan yang terbaik. Buang suara-suara buruk itu. Kamu berharga, kamu mampu, kamu cukup, dan kamu bisa. 

Terakhir, aku juga senang karena dosis obatku kini mulai dikurangi oleh psikiaterku. 

Semangat melanjutkan hidup! 

Hai, Ihat!

Terima kasih sudah berjuang minggu ini. Terima kasih karena kamu memilih untuk berjuang daripada membiarkan dirimu tenggelam dalam lubang hitam. Terima kasih karena saat ini kamu sudah tidak segan untuk meminta tolong, menyampaikan perasaan kamu, dan juga menerima seluruh perasaan yang hadir dalam hidupmu. Terima kasih karena perlahan cahaya itu mulai menerangi hatimu yang sempat gelap gulita. Terima kasih karena selalu melihat hal-hal kecil yang ada di sekitarmu untuk dijadikan refleksi rasa syukurmu. Terima kasih karena kamu lebih memilih untuk hidup. Karena nyatanya hidup menawarkan dua hal, senang dan sedih. Itu sepaket. Dan tak bisa kita memilih salah satunya saja. Terima kasih sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada waktunya. Kini. kamu bisa lebih tenang dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam hidupmu. Karena kamu sudah sadar, semua akan berlalu dan berganti dengan yang baru. 

Terima kasih. Mari berjuang kembali di minggu ini. Aku sayang kamu!


Demi menarikmu keluar dari emosi merusak diri, 

aku mencebur ke dalamnya, menyelami dan menemukan kata-kata untuk menyelamatkanmu.

Kata-kata yang belum pernah kuucapkan. 

"Tolong aku."

Tapi ternyata kata-kata yang kutemukan itu justru menyelamatkan diriku. 

Saat kau keluar dari situasi terburuk, tiba-tiba prespektif baru terbuka, dan semua hal yang dulu menyusahkan mulai terasa sepele. 

Kesuksesan?

Debut?

Persetan semua.

Jika aku cuma ada satu permintaan dalam hidup, aku ingin mati karena usia tua.

Semoga kucing, pohon, dan semua makhluk hidup mati karena usia tua. 

Bukan karena penyakit, bukan karena derita.

Semoga semuanya mati karena usia tua, seperti daun yang gugur sendiri. 

Hwang Dong-Man (We Are All Trying Here)

0 Comments