Memeluk Kembali Anak Kecil yang Ketakutan
Bagaimana kamu mendeskripsikan masa kecilmu?
Bagaimana rasanya sewaktu kamu masih kanak-kanak?
Apa saja hal yang kamu ingat dan rasakan?
Bagaimana suasana rumahmu atau tempat di mana kamu dibesarkan?*
Semakin aku mengingat masa kecil, bukan berarti aku membenci kedua orang tuaku. Namun, garis ingatan itu justru lebih banyak memunculkan rasa pahit dan pengabaian. Alih-alih kenangan manis, memori masa kecilku dipenuhi bayang-bayang tubuh kecil yang selalu ditinggalkan sendirian.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk mengekspresikan perasaan, justru terasa dingin menusuk dan mencekam setiap kali malam tiba. Malam adalah waktu di mana aku dipaksa menghafal tanpa pernah paham apa tujuannya. Jika gagal, bentakan, amukan, bahkan pukulan menjadi hukumannya. Aku ingat betul bagaimana sebuah rebutan TV berujung pada tamparan di pipi kiriku dari Bapak. Dan ketika semua itu terjadi Mamah hanya menatap dingin tanpa bersuara atau justru membenarkannya. Aku bingung, kepada siapa anak kecil itu harus mengadu?
Bagiku dulu, malam adalah cemas yang nyata. Aku selalu berdoa agar malam segera berganti pagi, agar aku bisa "kabur" ke sekolah, tempat di mana aku bisa bebas dari amukan di rumah.
Tidak ada yang menarik dari masa kecil yang penuh ketakutan. Aku melihat anak kecil itu memeluk lututnya di pojok kamar, menangis sendirian, memendam amarah yang tidak punya jalan keluar.
Wahai diri kecilku yang ketakutan, perkenalkan, ini aku versi dewasamu.
Kamu aman bersamaku sekarang. Membuat kesalahan itu manusiawi, dan kamu tetap sangat berharga di mataku. Berhasil atau tidak, aku tidak peduli, karena aku tahu kamu sudah berjuang sekeras itu. Kamu tidak perlu takut lagi, ada aku di sini yang akan melindungimu dan menyayangimu. Kamu pintar, kamu baik, dan kamu berhak istirahat saat lelah. Ini bukan salahmu. Aku menyayangimu, dulu, sekarang, dan selamanya.
*) Rara Noormega, Perjalanan Menerima Diri.


Comments
Post a Comment