2. Hati Yang Lelah #RamadanJournaling
Apa yang membuat hatiku lelah akhir-akhir ini?
Mungkin inilah pertanyaan yang tepat untuk menggambarkan kondisi jiwaku saat ini. Hati yang lelah, bukan karena tubuh yang capek, melainkan karena terlalu lama membawa beban yang tidak seharusnya ditanggung: ekspektasi.
Ekspektasi tentang hidup dan harapan terhadap manusia yang pada akhirnya selalu membuat kecewa. Aku tahu, aku udah jahat banget sama diri aku sendiri dengan menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Menyalahkan diri saat kegagalan menghampiri dan lupa bahwa sesungguhnya segala sesuatu sudah ada yang mengatur, Allah SWT.
Lantas mengapa aku terus menguras seluruh tenagaku untuk urusan dunia ini? Bukankah sudah ada Allah yang mengatur? Mengapa aku tidak berusaha semampu yang aku bisa, berdoa, lalu bertawakal? Meletakkan sisanya kepada Allah?
Orang tuaku sendiri bahkan tidak pernah membebaniku soal pekerjaan harus berpenghasilan tertentu, atau harus menjadi ini-itu. Mereka mendukung aku untuk menjadi guru, bermanfaat bagi sesama. Hanya saja, mereka mengingatkan aku bahwa aku juga harus memikirkan diriku sendiri. Jangan terus menerus mengajar tanpa cukup untuk hidup. Karena untuk saat ini ya harus realistis saja. Hidup butuh makan, dan makan butuh uang, bukan pahala.
Maka, satu persatu yang memang tidak masuk akal dan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupku, aku tinggalkan. Apalagi jalannya ribet dan aturannya sering berubah. Aku memilih mengerjakan yang pasti-pasti saja, yang penghasilannya mencukupi.
Di tahun ini, untuk pertama kalinya selama sepuluh tahun aku bekerja, adalah tahun tersantai. Aku hanya bekerja dari jam satu siang sampai jam delapan malam. Aku tidak perlu lagi ribut-ribut di pagi hari karena harus masuk di jam tujuh pagi. Meski begitu, entah kenapa rasanya aneh saja. Mungkin aku belum terbiasa dengan ritme santai ini.
Beberapa lamaran sudah aku kirimkan untuk mengisi waktu pagiku, tapi tidak ada panggilan. Mungkin memang waktunya untuk beristirahat dulu dari seluruh ambisiku yang tidak pernah ada habisnya. Lebih banyak mendengarkan diri sendiri dan lebih sering berdialog dengan Allah.
Satu pesan Mamah.
"Jangan sering lihat-lihat ke kehidupan orang yang ada di atas kamu. Karena itu bikin kamu sakit dan terus menerus gak bersyukur sama nikmat yang udah Allah kasih."
Aku terdiam. Aku tahu itu. Dan aku sedang berproses untuk menerima kondisiku, kehidupanku saat ini. Meski ujung-ujungnya, aku dibuat kesal juga sama Mamah karena Mamah bilang aku dinasehatin gitu gak ada hasilnya. Kayak masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Ya, aku gak terima dong digituin. Aku bilang, gak serta merta kita bisa menerima plek-ketiplek soal hidup kita. Itu butuh waktu, butuh proses. Dan aku pun gak perlu cerita soal proses penerimaan atas hidupku ke Mamah ataupun ke orang lain, bukan? Mereka gak akan pernah tahu dan faham soal pergolakan batin apa yang sedang berkecamuk di hati dan pikiran kita.
Aku cuma ingat kata psikolog sekolah aku dulu,
"Jalan menuju penyucian jiwa itu tidak mudah, tapi ingat balasannya adalah surga."
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr 27-30)
Maka di bulan Ramadan ini aku terus menerus berdoa agar dilembutkan hatiku untuk menerima kondisi dan kehidupanku saat ini. Rida atas apa yang telah ditetapkannya untukku dan aku pun rida untuk terus beramal melakukan kebaikan karena-Nya, bukan lagi karena urusan dunia.
Ya Rahman, Your throne you wrote mercy upon yourself. You were merciful before there was anyone to receive mercy. Embrace every part of me with that mercy, my past with its scars, my present with its needs, my future with its uncertainty. Ya Rahim, let me taste the mercy you keep for those who return. Reward me with the mercy I have yet to know and raise me to the highest place in Paradise despite my lows. Ya Ra'uf, cover me from storms I don't see coming. mend me before I break. Spare me from trials of every kind. Let your mercy reach me in ways I'll only understand when I finally meet You. (How Merciful is the Most Merciful? Allah's Names Ep. 1. Dr. Omar Suleiman)


0 Comments