Book Insight #12: 3 Things I Learned from Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah

doc.pribadi

Identitas Buku

Judul: Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah

Penulis: Alfialghazi

Tahun Terbit: Cetakan kesebelas, 2022

Penerbit: Penerbit Sahima (Kelompok Penerbit PT Magenta Media), Depok, Jawa Barat

Blurb

Tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginanmu. Pada satu waktu, impianmu akan dipukul mundur, harapanmu terpatahkan, dan langkahmu dihentikan paksa.

Dunia yang luas terasa begitu menyesakkan. Ramai, tapi sepi.

Ingin terus melangkah, takut terjatuh. Ingin putar balik, sudah tak mungkin tertempuh. Ingin menyerah, tetap saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Setiap pilihan nyaris tak mampu kamu tanggun konsekuensianya. 

"Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah" akan menemanimu, untuk terus melangkah maju, menerabas segala keterbatasan, menikmati segala kekecewaan, melewati dunia yang penuh dengan kefanaan, menuju satu tempat bernama keabadian.

Untukmu, jiwa-jiwa kecil yang sedang mendamba bahagia, kebahagiaan yang sesungguhnya. Selamat menikmati!

Tiga Insight Utama:

1. Padahal, itu semua tak akan pernah menemui kata selesai, angka-angka tak akan pernah memuaskanmu, karena yang sedang kamu beri makan adalah nafsu, ia tak punya rasa kenyang. Sayangnya, kamu meletakkan kebahagiaan pada hal-hal semacam itu, pada deretan angka yang menipu. (p. 21)

2. Apabila pada masanya nanti kita menemu situasi-situasi sulit, bahkan sangat rumit untuk diselesaikan, ingatlah selalu bahwa langkah kita harus terus berlanjut, sebesar apa pun halangannya dan sesakit apa pun kenyataannya. 

Walaupun kebahagiaan terasa begitu jauh, kita tetap tak boleh kehilangan harapan karena sejatinya kebahagiaan ataupun kesulitan keduanya sama. Keduanya adalah jalan juang yang harus dilewati. Pada kebahagiaan, kita tak boleh lali, sedangkan pada kesulitan, kita tak boleh menyerah. (p. 68)

3. Memang benar, mencari pekerjaan yang baik memang tidaklah salah. Namun, jika itu membuat seseorang menjadikan dunia sebagai poros kehidupan dan harta sebagai tanda keberhasilan maka tentu hal tersebut adalah keliru. 

Kaya belum tentu menemui kebahagiaan dan miskin belum tentu menemui kesengsaraan. Inilah kenyataan yang kira sering alpa untuk memahaminya. (p. 242)

Refleksi Pribadi

Buku ini adalah buku milik teman yang aku pinjam. Aku tidak pernah menyangkan bahwa isinya akan banyak menamparku dan membuatku menangis. Aku sadar selama ini aku terlalu menjadikan angka-angka itu sebagai bentuk keberhasilan padahal ketika aku sudah merasakannya nyatanya hati aku tidak pernah tenang dan nyaris sering membuatku stress tak karuan. Angka-angka kecil yang kini aku terima entah mengapa rasanya jauh menenangkan dan membuatku tak pernah takut merasa kehilangan. Dengan waktu yang aku korbankan untuk berbagi melalui program mengajar gratis, hatiku merasa tenang dan diriku merasa utuh kembali. Kini aku sedang belajar kembali menata niat, diri, dan hati. Akan bawa ke mana hidupku ini? 

Meski tak bisa dipungkiri, melihat teman-teman se usiaku banyak yang sudah mapan secara angka dan mudah pergi bolak-balik ke luar negeri membuatku kadang merasa iri, tapi ini aku selalu berusaha untuk menyadarkan dan menenangkan diri. Kalau kamu dikasih kesempatan itu sama Allah, apa niat kamu? Mau pamer sama orang-orang bahwa kamu itu mampu dan hebat? Sementara yang memampukan dan menghebatkan itu semua adalah atas izin Allah? 

Aku kembali lagi merenung. Kenapa hanya poros dunia yang dijadikan standar keberhasilannya bukan standar akhirat? Apakah ini yang memicu stress dan merasa bahwa diri ini tidak layak?
Buku ini sangat membantu kamu yang sedang kehilangan arah, hampir dan bahkan ingin menyerah. Kita akan disadarkan kembali melalui buku ini, bahwa dunia adalah sementara dan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. 

Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi