7. Pola Emosi Berulang
Pola emosi apa yan terus berulang dalam hidupku?
Setiap pagi, matahari menyusup melalui celah-celah jendela kamar yang kusam, tapi aku tetap berbaring di atas kasur. Tubuhku berat, seperti ditindih beban tak kasat mata. "Bangunlah, ayo," bisik pikiranku, tapi semangat itu hilang entah ke mana. Hidup terasa seperti kabut abu-abu yang tak berujung, tidak ada warna, tidak ada tujuan. Sedih itu datang lagi, seperti tamu tak diundang yang selalu muncul tanpa kenal waktu. Di tengah kekosongan itu, perasaan hampa merayap masuk, meninggalkan lubang di dada yang tak bisa diisi apa pun, bukan makanan, bukan hiburan, bahkan bukan pula sebuah pelukan.
Siang hari, hal-hal kecil pun antara terasa menusuk atau sama sekali tak berarti. Aku bisa sangat numb atau bisa saja aku terlalu sensitif dengan apa yang terjadi. Kadang tertawa hanya ikut tertawa, diam melamun, lalu tiba-tiba air mata sudah menggenang tanpa alasan jelas. Dan aku merasa dunia terlalu kasar untuk bisa kufahami.
Malam hari lebih parah. Jam menunjukkan pukul satu dini hari, tapi matalu menolak terpejam. Pikiran berputar-putar: kenangan masa lalu yang menyakitkan, kekhawatiran besok yang tak pasti, dan pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti, "Buat apa semua ini? Buat apa aku hidup?" Aku berguling-guling di tempat tidur, menatap langit-langit kamar, atau kalau sudah kesal sekali lantaran tak bisa memejamkan mata pada akhirnya aku akan mengambil hp, scroll ini-itu berharap riuhnya isi kepala bisa teralihkan. Tapi setelah menit, jam berlalu semuanya tidak membantu. Bahkan dengan keheningan yang menyelimuti, justru itu terasa menyiksa diri bahkan disertai dengan air mata yang diam-diam tumpah.
Ini pola yang kukenali sekarang. Sedih, hampa, sensitif pada hal kecil, sulit fokus, kehilangan semangat, susah tidur, susah bangun, sedih lagi. Lingkaran setan yang berulang setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Kadang aku coba lawan dengan minum latte: varian kopi favoritku, bersepedah, atau membaca buku. Tapi besoknya? Semuanya kembali. Seperti roda yang rusak, terus berputar di tempat. Semua ini kembali lagi terulang setelah aku berhenti minum obat anti depresan. Meski pola ini tak separah sebelumnya, namun sungguh tak nyaman untuk dirasakan dan dilalui.
Suatu hari, aku menatap cermin, melihat pantulan wajahku di sana. "Kapan ini berhenti?" Lalu, dalam hening itu aku berdoa pelan,
"Ya Allah, sekuat-kuatnya perasaan ini menguasaiku tolong jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah membiarkan aku putus asa dari rahmat-Mu dan meragukan kuasa-Mu."
"Ya Wali, be my closest friend when the world drifts away. Guard me with the grip that never slips. Guide me gently through what I don't understand and let every loss lead me back to You.
Ya Barr, keep me firm on the ground of Your goodness. Make my faith steady when my heart trembles. Let me love what brings me to Your stability and make me patient with what keeps me on its shore.
Ya Rafiq, be tender with my soul as You unfold Your plan. Soften the path without removing its purpose. Make me gentle with others as You've been gentle with me. And when I am lonely, fill that space with Your Companion." (The Friend Who Never Leaves - Ep 4 Dr Omar Suleiman)


0 Comments