Sunday, March 13, 2022
| www.canva.com |
Bismillahirrahmanirrahiim
Takut Kecoa? Ada yang sama?
Literally tadinya aku gak akan nulis ini. Cuma
pas mau nulis kebelet pengen buang air kecil dan pas mau masuk ke kamar mandi, Astaghfirullah! Itu kecoa entah datang dari mana
lagi mondar-mandir di belakang kloset bikin aku bergidik dan bingung harus
diapain biar mati. Semprotan buat pembunuh serangga belum beli, padahal tadi pagi
pas ditelfon Mamah bilang suruh beli. Biar pas dateng tuh si kecoa langsung
semprot dan nanti juga mati sendiri jadi bisa langsung dibuang kecoanya. Because
she knows that I'm so scared with cockroach.
Bingung harus diapain, teriak minta
tolong tetangga ya kali mereka dari kemaren pintunya nutup terus dan keluar cuma kalau mau masak doang di dapur umum ( I wanna cry with this situation. I know it’s the first time for
me so I’m not used with this ðŸ˜). Kebiasaan 6 tahun lebih di asrama kalau
ada kecoa ya auto teriak, lari pontang-panting dari ujung ruangan ke
ujung ruangan dan nanti giliran Unni sama Tuti yang beraksi. (Selain aku ada Keke sama Dina yang sama-sama takut kecoa jadi suka teriak berjama'ah dan berebut tempat yang aman. Kan jadi kangen kan karena takutnya bareng-bareng gak sendirianðŸ˜ðŸ˜†). Atau kalau lagi di
rumah, pasti bakal teriak-teriak manggil, “Mamaahh… Mamaahhh…” “Bapakk… Bapakk…”
habis itu Bapak akan bawa sapu buat mukul si kecoa atau Mamah dengan membawa semprotan
pembunuh serangga.
And now? Mau gak mau aku harus beraksi
sendiri. Bermodalkan cairan pembersih wc yang aku arahkan ke si kecoa malah
bikin si kecoa lari terbirit-birit muterin isi kamar mandi😢. Udah puyeng
kayaknya eh malah mau naik keluar dari kamar mandi. Panik lah! I immediately
brought a broom dan aku pukul langsung si kecoanya eh si kecoanya
malah mau terbang malah bikin aku ngejerit! Untungnya gak kenceng amet karena
aku tahu nanti malah menimbulkan kepanikan bagi yang lain. Masa gegara kecoa
heboh. Kan nanti gitu 😔. Ok. Masih dengan pegang sapu, si kecoa bener-bener
keluar dari toilet dan lari ke pojokan
deket botol gas kecil. Memaksakan diri untuk berani padahal sebenarnya takut
setengah mati, aku mencoba buat neken si botol ke dinding dan alhasil si kecoa
malah keluar mau lari ke arah aku tapi malah balik lagi ke belakang si botol. Duh
udah pengen nangis! Mana di luar hujan lagi, petirnya nyamber gede! Aku tarik nafas
coba buat sekali lagi meski dengan perasaan takut sampai akhirnya aku mengulanginya hingga 3x.
Dan di ketiga kalinya ini lah akhirnya si kecoa udah mulai gak berdaya dengan
keadaan terbalik. Yes! Buru-buru aku seret pakai sapu meski dengan
was-was dan pas aku buang ke luar ruangan nihil! Itu se kecoa entah lari ke
mana. Lho bukannya tadi udah kebalik ya?
Aku cek lagi dan dia lari lagi ke pojokan
itu! Arghh!!! Aku kembali lagi melakukan hal yang sama, memukul itu si kecoa hingga
terbalik lalu aku seret hati-hati meski dengan hati yang super duper ketakutan dan
taraaaaa dia akhirnya mati di teras kosan ku.
Kalau ditanya kenapa takut sama
kecoa, ya takut. Asli TAKUT! Apalagi pas terbangnya iihhhh pokoknya. Aku yang
biasanya selalu mengandalkan teman-teman, Mamah, Bapak, kini mau gak mau harus
menghadapi rasa ketakutan itu sendirian. Gak enak sih. Tapi ya kali mau
dibiarin aja itu kecoa berkeliaran di kamar mandi dan harus nahan pipis? Gak juga
kan?
Punya pengalaman yang sama soal
kecoa? Share with me here!
“Keadaan benar-benar membuatku harus
menghadapi dan melawan rasa takut sendirian.”
Cheers,
Ihat
Saturday, March 12, 2022
| Photo by Toa Heftiba on Unsplash |
Ada hal yang tak seharusnya aku mulai. Karena aku tak pernah tahu arus ini akan membawa aku ke mana. Meski diawal aku sudah menyadarinya bahwa ini akan berakhir bencana tapi perasaan yang datang terus saja menggedor pintu hatiku, minta aku membukanya, mengakuinya. Dan aku tak sanggup untuk menahan gedoran itu hingga aku mempersilahkan mereka masuk dan menempatkannya di sudut ruang hatiku yang masih tersisa.
Adalah kamu. Yang aku sendiri tak pernah menyangka akan terlibat urusan
asmara. Kamu yang selama ini hanya aku anggap sebagai teman biasa lambat laun
semua berubah termasuk sesuatu dalam hati kini selalu ingin ikut berbicara.
Gayaku yang kaku begitu berjumpa denganmu, berbicara dengan nada datar dan
selalu menghindar dari berbagai topik pembicaraan, komunikasi seperlunya adalah
cara aku menyelamatkan diriku dari hal-hal yang nantinya hanya akan membuatku
sakit berkepanjangan. Mungkin kamu akan mengira itu adalah caraku untuk
memberikan radar padamu. Bukan. Bukan itu. Aku tak butuh perhatian darimu. Aku
tak butuh kamu tahu atau tidak soal perasaaanku. Karena buat apa? Buat apa jika
kamu hanya sekedar ingin tahu dan kamu akan tetap pergi bersamanya?
Tak ada yang salah dengan perasaan yang datang. Meski perasaan itu tak
berpihak, patah sebelum dimulai, bertepuk sebelah tangan. Aku yakin akan ada
suatu nasihat yang bisa aku ambil. Akan ada suatu pengalaman baru untuk aku agar terus belajar
menghindari kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi sebelumnya. Cinta tak
pernah salah datang. Hanya waktu yang salah dan kamu adalah bukan orang yang
tepat. Aku akan salah jika aku tetap mencoba mendekatimu, mengambil semua
peluang yang ada, dan berusaha mematahkan kisahmu bersamanya. Tapi aku tak
seegois itu. Aku tak sejahat itu.
Aku tak perlu melakukan hal bodoh untuk perkara cinta. Yang aku yakini
adalah jika kamu orangnya maka kamu akan melepaskan pelukan yang lain dan
berpaling padaku. Bukan begitu? Jika kamu masih berada dalam pelukannya dan
enggan melepaskannya lantas mengapa aku harus melepaskanmu secara paksa dari
pelukannya?
Sekalipun kenangan manis pernah tercipta, itu tak ada artinya di hidupmu
bukan? Aku hanyalah cameo dalam hidupmu hingga akhirnya kamu akan cepat
lupa terhadapku. Kamu akan lupa terhadap hari-hari yang pernah dilalui bersama.
Tolong jangan salahkan aku atas perasaan ini. Aku pun tak mengerti dan
tak tahu dari manakah asal mulanya perasaaan ini hadir. Menyeruak dalam hati
lantas meminta tempat untuk disinggahi. Meski kisahnya tak pernah benar-benar
hidup dalam kenyataan, setidaknya pernah hidup di sudut hati yang lain meski
harus ku padamkan juga pada akhirnya.
Menyakitkan bukan? Kembali mencintai orang yang salah. Mencintai orang
yang jelas-jelas dari awal tak bisa kita miliki. Tapi aku bisa apa? Bukankah
kita tak bisa memilih esok lusa akan jatuh pada hati siapa? Bertemu dengan
siapa? Sekalipun dengan doa, bukankah ada taqdir yang sudah ditetapkan yang
tak bisa dirubah ketetapannya dan
memaksa kita mau tidak mau untuk melaluinya?
Pada cinta yang hadir dan kamu yang singgah. Terima kasih atas hangatnya
pertemuan, kisah-kisah yang menyenangkan dan juga mendebarkan. Aku sangat
berterima kasih dan bersyukur. Karena tak ada alasan untuk aku membencimu meski
dirimu tak bisa ku miliki seutuhnya. Kelak jika kau mengetahui kebenarannya,
kuharap kau tak membenciku.
Love,
Ihat
Monday, February 14, 2022
| Photo by Adismara Putri Pradiri on Unsplash |
Bismillahirrahmaaniirahiim
Kemarin saya baru saja pergi ke kampus untuk mengambil Ijazah meski ya harus bolak-balik sana-sini buat minta surat-surat yang dibutuhkan untuk pengambilan Ijazah. Alhamdulillah gak sia-sia sih. Finally I got it. Sepulang dari kampus as usually I use a public transportation karena emang belum punya motor sendiri sih. Siang itu saat matahari sedang terik-teriknya panas saya memutuskan buat naik angkutan umum 01 nanti berhenti di halte Taman Lokasana habis itu dilanjut dengan menggunakan mobil Ciamisan, sejenis mobil angkutan umum jurusan Tasik-Ciamis dan saya menyebutnya mobil Ciamisan.
Alhamdulillah saya mendapati mobil Ciamisan yang penuh dan saya kebagian duduk di depan di samping Mamang sopirnya. Kalau mobil Ciamisannya penuh itu artinya mobil akan terus melaju dan gak akan ngetem. Ngetem itu artinya berhenti dibeberapa lokasi untuk menunggu penumpang naik. Nah pas di pertigaan jalan, mobil Ciamisan yang saya tumpangi itu malah berhenti padahal di depannya sudah ada mobil Ciamisan lain yang memang sedang ngetem, dikarenakan penumpangnya sedikit. Saya sempat mengerutkan kening, kok si Mangnya malah berhenti sih? Tak lama si Mang sopir Ciamisan yang saya tumpangi ini mobilnya, beliau itu malah turun dan menyebrangi jalan raya. Saya kira si Mamang supir mau setoran hasil nariknya hari ini eh ternyata beliau itu sedang membantu seorang ibu-ibu yang akan menyebrangi jalan dan hendak menaiki mobil Ciamisan. Begitu mereka berhasil menyebrang, si Mang supir mobil Ciamisan yang di depan malah teriak-teriaknya dari kursi pengemudi sambil bilang,
“Eta penumpang urang! Naha kalah ku maneh dicokot! Urang tatadi nungguan!” Kurang lebih artinya begini itu penumpang saya. Kenapa malah kamu yang ambil! Dari tadi saya nungguin!
Dan si Ibu itu juga malah membuka pintu mobil Ciamisan yang saya tumpangi. Mungkin karena tadi ya dibantuin nyebrang sama si Mangnya. Cuma sayangnya si Ibu gak jadi naik karena mobilnya penuh dan udah gak muat lagi si kursi penumpangnya. Si Mang supir mobil Ciamisan yang saya tumpangi beliau sudah masuk lagi ke dalam mobil kemudian menjalankan lagi mobilnya sambil berteriak ke supir Mang mobil Ciamisan yang tadi,
“Matakan boga suku teh pake. Lain cicing wae nungguan penumpang datang! Naon hesena turun pangmentaskeun!.” Makannya kalau punya kaki itu dipake. Bukannya diem aja nunggu penumpang datang! Apa susahnya bantuin nyebrangin orang!
Saya hanya diam menyaksikan kejadian itu. Hingga akhirnya saya menyimpulkan sendiri dari kejadian ini bahwa yang namanya rezeki memang seharusnya dijemput. Gak cuma diem aja nunggu bola datang, istilahnya begitu. Dari kasus si Mang itu bisa dilihat kan rezeki bisa segera diperoleh dengan menjemputnya? Meski ya si Ibu tadi gak jadi naik karena mobilnya ternyata udah penuh.
Menurut kalian gimana?
Love,
Ihat
| Photo by Mikhail Nilov from Pexels |
Zaman saya pas Muallimien/SMA pengen punya botol minum aja susahnya minta ampun. Meski ada di lemari perabotan rumah, tapi botol minumnya itu udah jelek bahkan bocor. Jadi kalau dibawa ke sekolah harus pakai krresek biar gak rembes gitu airnya atau enggak dipegang soalnya kalau dimasukin ke tas udahlah tau-tau buku yang ada di dalam tas ikut kebasahan. Makannya dulu sekalian berangkat sekolah saya suka mampir dulu ke warung buat beli air minum kemasan botol. Habis itu botolnya gak saya buang, saya pake lagi sampai botolnya udah keliatan ledrek (kucel, jelek).
Sebenarnya ya malu juga sih kalau lagi kumpul istirahat, makan sama temen-temen saat yang lain bawa botol minum bermerek katakanlah Lion Star, Tupperware, wah nyali saya langsung ciut. Tapi ya mau gimana lagi saya cuma bisa mandang tempat minum tersebut sambil sesekali saya pegang.
Tidak hanya botol minum, kotak makan juga. Jadi dulu itu dari kelas X temen-temen saya rajin bawa bekal ke sekolah. Selain biar irit uang juga karena kebanyakan dari mereka tidak sempat sarapan di rumah jadi dibekal gitu makanannya. Hampir semua teman-teman saya memiliki kotak makan atau biasanya saya menyebutnya misting. Dan ya sama rata-rata bermerek gitu. Lantas saya sendiri? Saya juga di rumah ada kotak makan dan itupun sering rebutan dengan adik. Waktu itu di rumah cuma punya dua kotak makan, yang satu ukurannya kecil dan sudah jelek ya, yang satunya lagi lumayan besar tapi penutupnya gampang ngebuka. Pernah suatu ketika saya bekal nasi dengan lauknya itu tumis kentang bumbu kuning. Saya pakai kotak makanannya yang ukurannya agak besar dan tak lupa saya masukin ke kresek juga karena takut tumpah. Alhasil pas pelajaran pertama aroma bumbu kuning itu menyeruak begitu saya membuka tas untuk ambil buku dan yaa… Taraaa!!! Beberapa buku saya di dalam tas kena bumbu kuning dari tumis kentang tersebut. Ternyata kreseknya bocor dan si nasi berserta kentangnya jatuh semua ke kresek. Setelah kejadian itu saya gak mau lagi pakai kotak makan itu dan memilih menggunakan bungkus nasi dan plastik untuk lauknya.
Lalu bagaimana sekarang?
Alhamdulillah wa syukurillah selain saya bisa beli sendiri botol minum dan juga kotak makan, beberapa tetangga ada yang suka ngasih ke rumah. Belum lagi beberapa orang tua anak asuh saya ada yang mengirimi saya kado berisi botol minum dan kotak makan. Sekarang Alhamdulillah kalau pergi kemana-mana bawa botol minum itu gak gampang bocor. Jadi meski disimpan di dalam tas dengan barang yang lain aman.
Nah makannya saya suka ngomel-ngomel kalau sedang mengontrol ruangan asrama anak-anak. Melihat botol minum dan kotak makan yang disimpan di mana saja membuat saya langsung bergegas mengumpulkannya disuatu tempat sambil ngomel-ngomel. Karena bagi saya itu berharga sekali. Saya pernah mengalami bagaimana susahnya untuk bisa memiliki alat makan dan minum tersebut.
Jadi buat kamu yang masih menyiakan-nyiakan suatu barang karena kamu anggap kamu mudah mendapatkannya coba renungkan. Diluaran sana banyak orang yang sangat sulit untuk bisa meraih apa yang sudah kamu miliki saat ini. Maka dari itu rawatlah, jangan disimpan di mana saja, kalaupun misal karena barangnya sudah banyak dan tidak terpakai lebih baik kamu berikan barang tersebut kepada orang yang membutuhkan.
Love,
De Ihat
| Photo by cottonbro from Pexels |
Dari aku yang selalu merasa tertipu kamu dan waktu,
De Ihat
Social Media
Search