Saturday, April 09, 2022
![]() |
| Photo by Nate Neelson on Unsplash |
Bismillahirrahmanirrahiim
Di awal-awal kepindahan aku ke Bandung, setiap pulang dari tempat kerja pasti kerjaanku kalau gak bengong sendiri di kostan ya nangis. Kemudian nelfon temen di asrama, orang rumah biar gak ngerasa sepi atau aku akan mengetik panjang kali lebar ditambah voice note yang durasinya cukup untuk dibikin podcast ke temen aku sambil agak sesegukan. Ternyata pindah kerja itu gak mudah ya. Berat! SANGAT BERAT! Aku harus adaptasi segalanya. Di mulai dari jam kerja yang kini lebih terjadwal dan ketat, soal makan yang harus beli sendiri/masak sendiri, pindah ke kostan yang benar-benar mendidik aku untuk hidup lebih mandiri lagi (It's very different when I stayed at dormitory. You can ask for helping to your friends), lingkungan kerja yang baru tentunya dengan tugas baru bagi aku, dan teman-teman baru tentunya. Kalau urusan kesulitan ini aku enggan bercerita ke orang tua (walau pada akhirnya aku pun menceritakan kesulitan-kesulitan aku selama di sini meski hanya garis besarnya saja karena sungguh aku tidak sampai hati mengatakannya) maka ya tentu seluruh hal yang aku rasakan saat itu aku ceritakan hanya pada teman dekatku saja. Dari seluruh kesulitan-kesulitan itu yang paling terasa mencekikku dan membuat aku sempat kehilangan percaya diri adalah teman-teman baru aku: yang rata-rata lulusan PTN ternama, sedang/sudah sekolah tingkat Master, berasal dari keluarga menengah ke atas, sudah pernah ke luar negeri. Sedangkan aku? Maka saat fikiran itu datang yang ada adalah aku terus membuat diriku terpuruk dan makin terpuruk oleh fikiran buruk aku sendiri. Padahal pada saat training semuanya baik-baik saja bahkan kami pun berteman baik dengan saling berbagi pengalaman. Jelas akunya saja yang sudah keburu menutup diri, memandang orang lain lebih special. Padahal diri ini pun tak kalah specialnya. Astaghfirullah.
Berkali-kali teman aku itu mencoba mengingatkan aku bahwa Allah tak pernah membuat produk gagal. Kamu special dan di dunia ini hanya ada kamu seorang. Tak ada orang yang benar-benar sama dengan kamu. Kamu terpilih di sana berarti kamu mampu menghadapi karena Allah tidak akan memberikan suatu ujian di luar batas kemampuan hambanya. Bahkan surat yang dikirimkannya selalu aku baca kembali jika rasa minder aku kembali kambuh.
Seketika rasa minder aku mulai lenyap. Tapi keesokan harinya rasa minder itu muncul lagi hingga pada saat training tak jarang aku kehilangan konsentrasi. Bahkan untuk sekedar giving opinion terasa sulit untuk bisa aku lakukan. Aku kembali merendahkan diriku sendiri. Aku kan cuma dari kampung, kuliah aja sambil kerja, untuk bisa jalan-jalan ke luar kota aja belum mampu, gak ada yang special dari diri aku. Batinku dalam hati dan seluruh fikiran-fikiran positif malah hilang dan lenyap gara-gara perkataan negatif aku pada diriku sendiri.
Capek? Tentu saja capek. Aku kesulitan untuk tidur. Bahkan kalaupun tertidur aku akan terbangun di tengah malam sekitar pukul 01.00 dini hari atau pukul 01.30. Lalu aku kesulitan untuk memejamkan mata lagi, hingga baru bisa tertidur saat jarum jam menunjukan pukul 03.30. Melelahkan sekali. Sangat melelahkan. Dan hal ini terus terjadi berturut-turut selama satu minggu.
Setelah satu minggu terlewati, lambat laun aku bisa menerima kondisi lingkungan aku sekarang. Meski aku tak bisa seutuhnya menenangkan diriku jika rasa minder kembali menerpa, tapi setidaknya sudah agak membaik dan aku sudah jarang menghubungi temanku untuk menceritakan hal yang sama karena jawabannya pasti sama.
Suatu hari aku hanya berniat bertanya suatu hal pada temanku yang lain yang hampir satu bulan ini tidak ada komunikasi. Aku kira komunikasi kita akan terhenti pada inti pertanyaanku tapi nyatanya tidak. Rupanya Allah tengah memberiku jawaban melalui temanku ini.
(A : Aku, D : temanku)
A : Di sini temen-temen aku rata-rata high class hihiii. Aku awalnya sempet minder
D : Wah? Bagus dong. Berbagi dengan mereka tentang kesederhanaan. Ada masanya orang-orang high class bosan dengan kemewahan. Yang mereka punya dan bakal anggap yang sederhana itu lebih mewah. Jadi kita pede dengan versi kita. Mau gaul sama yang high class ya no problem yang penting kita punya kualitas. Bener enggak? Hihiii
A : Waduh aku gak pernah kefikiran ke sana. Pantesan beberapa dari temen aku sempet kebingungan dengan masa kerja aku sama kuliah yang berbarengan. Aku jawab ya aku kerja sambil kuliah. Ketua yayasannya pun menanyakan hal yang sama sampai kemudian ditulis bahwa aku pernah kerja sambil kuliah. Padahal bagi aku itu tuh hal biasa meski pada kenyatannya dulu sangat sulit dan capek luar biasa wkwkkw.
D : Nah iya kan gitu. Jadi sebenarnya tiap orang punya high class nya tersendiri dengan versi kita masing-masing ๐. Makannya pede aja. Kalau gaul sama siapa aja. Nah itu kan sulit dan capek luar biasanya jadi nilai plus kualitas yang lebih buat kita.
Aku sempet nangis pas dikasih balasan begitu yang pada akhirnya aku berhasil mengeluarkan diriku dari rasa minder. Kemudian aku teringat pada sebuah penggalan hadits yang berbunyi:
"Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan untukmu." (H.R Bukhari dan Muslim)
Padahal namanya manusia pasti ada sisi kekurangan dan kelebihan. Di dunia ini mana ada yang sempurna. Gak akan ada. Bukan kah manusia diciptakan dengan kondisi yang berbeda-beda agar bisa saling melengkapi satu sama lain? Mengapa aku tidak pernah terfikir hal ini sebelumnya hingga harus menutup akses pertemanan dan memblokir diriku di dalam lingkaran yang aku ini itu "gak ada apa-apanya dibandingkan mereka."
Wahai diri. Aku tahu aku salah. Tak seharusnya aku membandingkan kamu dengan yang lain. Yang sungguh sudah berbeda dari garis startnya juga. Saat ini kamu hanya perlu belajar tekun, terus memperbaiki yang kurang, semampunya, sebisanya, dan berikan yang terbaik. Biar hasil Allah yang tentukan. Karena baik dan buruknya hanya Dia yang tahu dan kewajiban kita hanya berikhtiar, berdoa, kemudian bertawakal.
Meski rasa ingin menyerah selalu saja datang menghampiri, ingat ada hidup kamu sendiri yang harus diperjuangkan, ada orang-orang tersayang kamu yang kini sudah mulai memasuki usia renta, yang waktunya mungkin tak akan lama lagi maka berikan yang terbaik untuk mereka.
Sungguh hidup ini tak mudah. Meski harus dijungkir balikan, di posisi manapun kesulitan maupun kemudahan akan selalu ada dan berjalan beriringan.
"Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan." (Q.S Al-Insyirah 5-6)
Allah please don't ever leave me alone. I know I'm just a weak servant. All this happened because of Your will. So help me, guide me, and convince me that I can get through all of this.
Mari perbanyak bersyukur, jangan malah makin insecure. Fighting!
Love,
Ihat
Thursday, April 07, 2022
![]() |
Photo by Gijs Coolen on Unsplash |
Bismillahirrahmanirrahiim
Three weeks ago I visited West Java Public Library (Perpustakaan Umum Jawa Barat) located at Jl. Kawaluyaan Indah II No. 4 Soekarno Hatta Bandung, West Java by using ojol. I was so amazed when I arrived there because the building is awesome! Bangunannya tinggi, terdiri dari 4 lantai, petugasnya yang ramah, protokol kesehatannya juga ketat (masuk ke gedung ini harus dibuktikan dengan aplikasi PeduliLindungi atau kartu vaksin dosis 2 pas waktu aku ke sana), dicek suhu juga, dan waktu itu sayangnya aku cuma bisa masuk di area lantai satunya aja karena masih pandemi belum bisa main ke lantai atas. Jadi cuma bikin kartu anggota aja deh habis itu pulang lagi.
Dikesempatan yang baik ini, bukan itu sih inti yang ingin aku share ke temen-temen semua. Yang aku ingin share adalah cerita pas perjalanan menuju ke Perpustakaannya. Ok, because I don't have private vehicle so I chose ojol. Selama perjalanan Mamangnya nanya-nanya soal,
"Boleh gak jalannya ke sini?"
"Jalannya ke sini aja ya gak apa-apa? Biar cepat."
Dan aku cuma jawab,
"Iya Pak."
"Ya gak apa-apa Pak asal sampai aja." Dengan mata yang lirik kiri-kanan, melihat-lihat jalan yang dilalui. Karena memang sejatinya aku gak tahu ini jalannya ke mana dan harus ke mana jadi ya udah terserah Mamang Ojolnya aja yang penting sampai di tempat tujuan.
Hingga kemudian si Mamangnya mulai nanya-nanya, apa aku kuliah, kerja, dll yang kemudian aku bilang sendiri ke si Mangnya bahwa aku bukan asli orang Bandung.
"Oh bukan orang Bandung, dikira teh orang Bandung. Pantesan saya tanya jalannya dari tadi Tetehnya jawab ngikut aja."
"Hee iya Pak maaf. Soalnya saya baru pindahnya juga."
"Asli mana gitu Teh?"
"Asli Tasik Pak."
"Oh Tasik. Tasiknya di mana?"
"Tasik kota."
"Oh iya geningan orang Tasik. Sami abi oge ti Tasik Teh." (Oh iya ternyata orang Tasik. Sama saya juga dari Tasik.)
Si Mamang ojolnya langsung ganti jadi pakai bahasa Sunda dan aku agak terkejut bercampur senang karena bertemu dengan orang yang sama dari daerah asal.
"Oh gitu ya Pak. Bapak Tasikna di mana? Atos lami di Bandungna?" (Oh gitu ya Pak. Bapak Tasiknya di mana? Sudah lama tinggal di Bandungnya?)
"Abi mah Tasikna di ujung. Nembe satahun Teh. Pami istri sami ti Tasik kota." (Saya Tasiknya di ujung. Baru satu tahun Teh. Kalau istri sama dari Tasik kota.)
"Oh jadi istri Bapak mah aslina ti Tasik Kota." (Oh jadi istri Bapak aslinya dari Tasik Kota)
"Muhun calikna ge ayeuna diditu sareng pun anak." (Iya tinggalnya juga sekarang sama di sana sama anak juga)
Aku mengerutkan kening. Tinggal di sana?
"Jadi Bapak sama istri LDR gitu? Tasik-Bandung?"
"Iya Teh. Seminggu atau dua minggu sekali baru pulang ke Tasik."
"Di sini Bapak nge kost?"
"Iya saya di sini nge kost Teh. Teteh di Bandung sama saudara atau ada saudara?"
"Oh gitu ya Pak. Keren-keren. Saya di Bandung nge kost dan gak ada saudara."
"Kenapa jauh-jauh ke Bandung kerjanya? Kenapa gak di Tasik aja?"
"Hehee. Udah rezekinya kali Pak. Soalnya saya kemarin di Tasik gak nemu-nemu."
"Iya ketang gak apa-apa. Nyari rezeki mah di mana aja asal halal. Saya juga nyari penumpang di Bandung enggak di Tasik. Nyari pengalaman sama suasana baru."
"Iya ya pak."
"Iya Teh. Kan bumi Allah itu luas. Di mana pun juga kita bisa cari rezeki di sana. Selama itu halal dan barokah."
Aku hanya diam sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dalam hati, keren ini si Bapak. Berani LDR sama istrinya demi mencari nafkah.
Tak terasa perbicangan kami pun akhirnya harus terhenti karena sudah sampai di lokasi.
"Pokoknya mah jangan takut. Inysa allah selalu ada rezekinya." Tutup si Bapak begitu aku mengembalikan helmet dan menyerahkan uang kepada si Bapak ojol tersebut.
Aku langsung teringat pada satu ayat dalam Al-Qur'an,
"Apabila sholat telah dilaksanakan, carilah karunia Allah maka bertebaranlah kamu di bumi dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (Q.S Al-Jumu'ah : 10)
Ayat ini memang kaitannya adalah dengan Sholat Jum'at. Namun yang menjadi inspirasi bagi aku adalah di kalimat "carilah karunia Allah maka bertebaranlah kamu di bumi." Selain itu di ayat lain, di Q.S An-Nisa ayat 97 Allah berfrman,
"...Mereka (para malaikat) bertanya: "Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?"...."
Dua ayat ini yang memotivasi aku untuk akhirnya memutuskan hijrah ke Bandung. Meski memang terasa berat, namun karena ingin mendapatkan hal yang lebih (bukan soal materi saja, pengalaman dan ilmu tentunya yang tidak bisa terganti nilainya) dan karena tadi bertemu si Mamang Ojol aku jadi semakin semangat. Beliau saja rela meninggalkan istri dan anaknya demi mendapatkan keuntungan yang lebih.
Dan selama perjalanan pulang aku masih teringat obrolan dengan si Mamang Ojol itu. Kadang begitu ya Allah kalau mau nasehatin kita dengan cara apa saja. Bisa jadi perbincangan tadi dengan Mamang Ojol adalah cara Allah menyemangatiku atas keputusan yang sudah aku ambil. Thanks Allah. Alhamdulillah.
Untuk kamu yang saat ini berjuang dan menjadi anak rantau tetap semangat ya! Hal yang harus aku relakan adalah berpisah dengan keluarga dan ini sangat jauh sekali dengan pengorbanan si Bapak ojol tadi yang harus berpisah dengan anak istrinya. Karena sejatinya apapun yang akan kita dapatkan tentunya harus ada yang kita lepaskan.
Love,
Ihat
Wednesday, April 06, 2022
![]() |
| Photo by Andrew Dunstan on Unsplash |
Malam ini
entah kenapa perasaan aku sendu. Entah mungkin rindu atau bagaimana yang jelas
setelah melihat memori-memori beberapa tahun belakang. Tersenyum, tertawa,
menitikkan air mata begitu satu persatu foto-foto itu muncul di layar laptop.
Aku tahu waktu yang telah hilang tak akan pernah bisa kembali. Mungkin dengan
seperti ini salah satu caranya agar bisa kembali mengingatnya. Mustahil kan
untuk bisa kembali ke masa lalu dengan menggunakan mesin waktu seperti Nobita
yang meminta bantuan kepada Doraemon?
Hal yang
paling menyesakkan sampai saat ini adalah surat ucapan kelulusan atas wisudaku
satu tahun yang lalu yang ditulis oleh anak-anaku, FULATION. Surat yang ku baca
untuk pertama kalinya pada malam hari setelah siangnya acara wisuda dan saat
itu perasaanku meledak. Aku menangis tersedu-sedu. Hinga barusan, saat aku tak
sengaja menemukannya kemudian kembali membacanya rasanya masih sama; masih meneteskan
air mata. Terima kasih sudah mau direpotkan dan diajak kerja sama. Aku gak tahu lagi
harus berkata apa karena tak ada yang bisa menggantikan kalian.
Semoga urusan-urusan kalian dipermudah ya anak-anak. Mari sama-sama kembali lagi berjuang walau tak lagi bergandengan tangan. Mari sama-sama berdoa meski jarak yang memisahkan. Mohon maaf atas segala khilaf yang pernah dilakukan. Terima kasih untuk suratnya yang membuatku kembali percaya diri untuk terus berjuang!
Tonight let me share about the letter from my students.
Love,
Ihat
Monday, March 28, 2022
![]() |
| Foto oleh Jose Barrios dari Pexels |
Bismillahirrahmanirrahiim
Actually
this is so surprising for me karena bener-bener dadakan dan diluar rencana. Yang pada awalnya enam
tahun sembilan bulan tinggal di asrama dan sekarang harus tinggal di kostan,
sendirian lagi. Ya namanya juga tinggal di asrama dalam satu ruangan tentunya
gak sendirian dong, ada banyak temen-temen lain yang sama tinggal dalam satu
ruangan. Terbiasa berisik, makan bareng-bareng, kemudian pasti sering ngobrol
dan sekarang harus berubah seratus delapan puluh derajat dengan kondisi kostan
yang sendirian, sepi, dan apa-apa harus sendiri. Di awal-awal aku sering nangis
dan pasti nelfon orang rumah atau teman-teman di asrama.
Specifically, the differences are:
1. Yang biasanya pulang piket ke asrama akan disambut dengan panggilan anak-anak atau ruangan yang ramai kali ini setiap pulang dari sekolah pas sampai kostsan suasananya hening. Paling-paling merebahkan diri di kasur sambil melihat langit-langit kamar yang masih bersih.
2. Dulu pas masih di asrama untuk urusan makan gak perlu repot mikir mau makan apa dan beli di mana karena sudah disediakan oleh dapur tiga kali sehari: pagi, siang dan malam. Tinggal ngambil aja ke dinning room. Sekarang? Hmm.. masak sendiri repot karena gak suka habis. Belanja sayurannya juga gak bisa dalam porsi sedikit. Beli ya gitu-gitu aja. Kalau mau paling pesan makanannya lewat aplikasi.
3. Kalau makan biasanya ada temen atau enggak kalaupun makannya sendiri masih ada yang bisa di ajak ngobrol. Sekarang setelah nge kost? Bener-bener hening. Cuma makan sendiri gak ada temen ngobrol, gak ada temen makan. Makannya kadang sekarang kalau lagi makan suka sambil main handphone atau enggak sambil dengerin radio. Karena sepi banget juga gak enak. Gimana gitu.
4. Kalau ada apa-apa ya mau gak mau harus dihadepi sendiri karena gak ada orang yang bisa diandalkan. Misal ketika ada kecoa. Ya mau gak mau harus menghadapinya sendiri. Ya kali nelfon mereka suruh dateng dari Tasik ke Bandung. Kan kelamaan๐ .
5. Kalau mau pergi kemana-mana pastikan isi kostan udah aman seperti lampu-lampu dalam keadaan mati, terminal listrik dicabut kalau gak dipakai. Jangan lupa dikunci. Kalau pas di asrama kalau mau pergi ya pergi karena di ruangan kan ada temen yang nungguin.
6. Di sisi lain enaknya sih ya untuk belajar, untuk menulis suasananya hening jadi lebih fokus. Toilet cuma buat sendiri jadi gak perlu antri. Kalau di asrama kan ya pasti ba’daki ba’daki sebelum mandi. (Yang pernah mondok pasti faham maksudnya).
Terlepas apapun
kondisi aku saat ini, I say thanks to Allah because He has permitted me to live alone
in the kost with the new situation. And this situation teaches me everything
include how to survive. Karena ini bener-bener keluar dari zona nyamannya
aku. Yang biasanya selalu ada di sekitar aku, yang jaraknya dekat kayak mau
ngambil uang ke ATM tinggal jalan ke depan gerbang langsung ada, mau beli bubur
di pagi hari atau di malam hari tinggal jalan aja deket dan selalu ada. Mau beli
air kelapa misalnya tinggal jalan kaki aja udah sampe. Sekarang? Mau ke ATM
(yang sama ATMnya) need more effort. Jalan agak jauh atau enggak naik
ojeg. Mau beli bubur ada sih tapi pagi aja kalau mau malam ya agak jauh juga
tempatnya.
Tapi gak
apa-apa. Alhamdulillah sekarang ya sudah mulai terbiasa dengan suasana baru
ini. Enggak ada lagi males-malesan after shubuh karena kalau
males-malesan dipastikan telat untuk sampai ke sekolah. Senin-Jum’at bener-bener full
dan I must learn how to manage time well. Karena serba sendiri
sebenarnya gak enak *kode keras ๐. Keuangan untuk urusan bayar sewa kost,
makan, minum, keperluan pribadi mau tidak mau harus benar-benar diperhitungkan.
Karena kan sebelumnya gak pernah tuh bayar sewa pas lagi di asrama, makan,
minum free! But once more,
namanya juga hidup apapun itu yang terjadi hadapi dan jalani.
Love,
Ihat
Saturday, March 19, 2022
| Photo by Hanny Naibaho on Unsplash |
Bismillahirrahmanirrahiim...
Akhir-akhir
kemarin aku jarang post ya, mohon maaf karena memang minggu-minggu kemarin
sibuk mengurusi perpindahan. Perpindahan apa? Tentunya pindahan kerja. Jadi dari
awal bulan Maret kemarin aku sudah dinyatakan resign dari tempat kerja
aku sebelumnya, asrama tercinta yang memang almost 6.5 years I spent my time
to dedicate there. Lama banget ya? Aku aja yang ngejalaninnya
ngerasa kayak baru aja kemarin melangkahkan kaki masuk ke Pesantren ini, starting
when I was 18 years old. When I didn’t know everything to know everything. Time
flies so fast.
Honestly,
I have a plan for resigning here because I want to fight my dream. In my plan,
I will leave this boarding at the end of this semester. Maybe around on June. So
when I got the information about job vacancy and it was suitable for me, I
tried it. My application was accepted twice in different place but there was
one thing that didn't support thus I didn’t continue it. And then on November
2021, I got the new information from my friend who lives in Bandung and I tried it
again. I didn’t expect more and thought if this place will make myself be better
and close to Allah, I believe that Allah will place me there. But if this place
just will make me far from Allah, I believe that Allah will never give me that.
I forgot
about my application who was send. Up till December came, I received the message from the
employer that my application was accepted! After that, I followed to interview and the
result was accepted. Then, I was tested for teaching (micro teaching) in front
of the supervisor and also the students. Again and again, I didn’t expect more
but the result… I was accepted! Lastly, psychological test (psikotes). And yaa
I passed it! Ya Allah.. Astaghfirullah, innalillahi wa alhamdulillah when I
received this message and then I sujud syukur. I cried because this was not on
my plan. My friends were happy to hear it but they were also sad because I
would leave this place sooner.
Once more,
semuanya benar-benar jauh dari rencana dan melesat cepat. Bandung is a one of
my dreams which comes to me when I’m turning 24 years old.
To all my beloved
friends,
Unni. Thanks
to always listen my unek-unek ๐
atau dengerin Taecyeon/ Lee Min Ho ganteng
yang aku udah bilang beribu kali tanpa bosan. Yang suka dirurusuh buat cepetan
mandi because you’re so hard to take a bath but the soonest kalau mandi. Yang emang
bukan bener-bener bestie pas aku lagi tenggelam di kolam renang ๐ฅ. Well,
thanks for your letter. I cried when I read it. Huhuuuu๐ญ. Thanks for supporting
me! Your letter will be pasted in my diary. Ehehhhh.
Ummi Iwin
and Ustadz Opik thanks for always giving advice for me. Entah itu soal
pekerjaan, jodoh ๐ or sometimes always made me jealous karena suka minta
tolong fotoin berdua wkwkw. Makasih karena suka ngajak jalan-jalan. Pangandaran,
Pameungpeuk, walau kadang akunya susah diajak main hehehehhhh.
Teh Tia. Temen sekasur dulu pas masih single. Temen ngobrol soal novel, drakor
jaman dulu yang belum aku tonton, soal hafalan Al-Qur’an, ngaji, sekolah. Ah pokoknya
apapun itu pasti suka diobrolkan hihiiii.
Wa Ichan. Mohon maaf yang suka dipinjem hpnya buat main games, yang suka ngajak jajan
kalau piket bareng, atau enggak aku yang suka ngabisin makanan Wa Ichan
heheehhhh. Yang suka nitip nasi telor Teh Tati ๐.
Tuti. Yang dari
awal pendiam banget, terus sakit dianterin. Orang yang pertama kali suka
dibangunin kalau tengah malem bangun. Kalau apa-apa aku suka minta dianter๐
atau
kalau piket malem kalau aku lagi susah tidur dan dia lagi tidur suka diganggu
biar dia gak tidur karena saking takutnya ๐mohon maaf ya.
Keke. Partner
aku yang tegas ke adonya. Temen nyanyi di ruangan. Yang suka tidur paling
akhir. Yang suka riweuh kalau ada panggilan dari luar negeri ๐yang sama-sama
kalau ada kecoa ributnya ampun ๐ I will miss it when we were finding a cockroach.
Pernah sampai rebutan naik kasur gegara si kecoa yang jalan-jalan ke sana- ke
mari dan ngebangunin orang yang lagi tidur๐.
Arum. Yang suka
cerita soal ke insecure-an bikin aku jadi ngerasa ada temen bahwa aku gak
sendirian kok yang mikirin hal itu. Yang suka ngejajanin, yang pernah dibikin
kesel karena insiden naik sepeda malem pas di Pangandaran. That’s unforgettable
moment! Always make me laugh when I’m remembering it.
Dina. Yang sama-sama
takut kecoa. Yang sama-sama penakut. Yang tengah malem pernah tiba-tiba duduk
kayak hantu, atau tengah malem tiba-tiba teriak bikin aku bangun dan
marah-marah ๐
yang pernah aku marahin di Pangandaram pas lagi snorkelling.
I’m so sorry for that.๐
Tita. Yang apa-apa
serius apalagi kalau udah nonton susah dipanggilnya. Yang sama-sama ingin punya
dream catcher gegara nonton The Heirs. Yang kalau udah ngomong bahasa Sunda
pasti bahasanya terdengar asing di telinga.
Silfi.
Iprit! Wkwwk. Yang kalau ngomong ada aja
hal yang bikin kita ketawa. Yang suka Doraemon. Yang apa-apa kalau get
problems larinya minta nikah. Please
yaa nikah bukan solusi atas masalah-masalah kita saat ini. ๐
Yang suka naik
gunung bahkan dia melabeli dirinya dengan sebutan anak gunung.
Teh Yunisa.
Yang anaknya suka aku ambil tanpa bilang dulu ke emaknya. Abis itu aku biarin
dan malah yang lain yang ngasuhnya ๐.
Teh Yuni. Kalau
piket pasti bawa makanan. Yang jadi tumbal buat ngisi kelas 12 kalau lagi
jamkos. Yang sama-sama pernah harap-harap cemas kalau hari Ahad tiba๐ .
Kiki. Yang baru
masuk. Yang apa-apa diem gak banyak omel ini-itu. Paling nanya diam-diam ๐, yang
rajin tahajud. Semoga Mamah cepet sehat ya.
Pak Iiq. Yang
apa-apa pasti minta tolong heheee. Di mulai dari zaman jaga lab karena gak
punya laptop jadi ya lumayan sambil nunggu sambil ikut search, ngerjain
tugas. Ikutan ngeprint karena deadline. Yang suka ikut diririweuh karena
anak-anak. Thanks a bunch Pak Iiq!
Ustadz
Heru. Terakhir kemaren yang ngeh dan nyadar kalau aku itu tenggelam. Thanks
for saving me! Huhuuu. Yang suka julid kadang.
Teh Miftah.
Yang bermutasi dari Murobbiyah menjadi Ustadzah terima kasih atas segala ilmu
dan nasihatnya yang pernah diberikan. Yang sering ngasih traktiran jajanan
hehee.
Ustdzah Eulis,
Ustadz Budi terima kasih sudah mau membimbing, mengarahkan dan mengingatkan. Anak-anak
asuh aku, Indirect terkhusus ruang 16, 17, 18, 19 & 1 terima kasih atas
segala kenangannya. Suratnya yang bikin aku meleleh dan nangis.
Dan untuk
seluruh warga Pesantren yang tak bisa aku sebutkan satu persatu. Jazakallohu khoiran
katsiira. Terima kasih atas segala kebaikan-kebaikan dan juga kesempatan yang
telah diberikan. And I never regret that I’ve ever met all of you in my life. I'm so grateful for our moments together!
Untuk segela
rencana yang hanya bisa kita rencanakan. Maka sepenuhnya mari kita serahkan
rencana kita pada Yang Maha Pemilik rencana terbesar se alam semesta, Allah
SWT.
Love,
Ihat





Social Media
Search