Monday, May 16, 2022
Sunday, May 15, 2022
![]() |
| Foto oleh cottonbro dari Pexels |
Memendam sebuah perasaan itu terasa menyesakkan bukan? Entah itu perasaan sedih, kecewa, senang, hingga bahagia karena jatuh cinta. Menyimpannya sendiri dan hanya mampu dituangkan dalam sebuah aksara di malam-malam yang dingin pada tumpukan kertas yang dikunci rapat adalah kebiasaanku. Seluruh perasaan yang aku alami hari ini selalu aku curahkan menjelang beranjak pergi untuk memejamkan mata. Karena bagiku perasaan yang dibawa tidur hanya akan membuat otak terus menerus bekerja mengingatnya lalu menjelmakannya menjadi mimpi-mimpi malam yang panjang yang terkadang meresahkan atau membuat tak keruan hingga tak ingin terbangunkan oleh suara kokokkan ayam tetangga.
Adalah hari itu. Saat aku tak mampu lagi memendam seluruh perasaan yang aku miliki sejak awal kita berjumpa maka dengan segenap keberanian yang telah aku kumpulkan jauh-jauh hari aku membulatkan tekad untuk mengirimkan sepotong lirik lagu padamu sebagai representasi dari isi hatiku.
Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Tentang rasa ini aku tak mengerti
Akankah sama jadinya bila bukan kamu
Lalu senyummu menyadarkanku
Kaulah cinta pertama dan terakhirku.
Sherina Munaf - Cinta Pertama dan Terakhir
Dengan perasaan campur aduk dan hati yang berdebar keras akhirnya aku putuskan untuk kembali mengirimmu pesan.
Maaf salah kirim
Karena pada saat itu kita tak bisa menarik pesan yang statusnya telah terkirim. Berbeda dengan sekarang. Bisa jadi dia tak keburu untuk membacanya lantaran pesannya sudah kamu tarik. Tapi zaman itu beda. Apa yang telah kamu lakukan ya sudah. Tak bisa lagi ditarik. Hingga pesan itu aku yakin kamu membacanya dan sebuah pesan balasan sampai padaku.
Hayo buat siapa hayo? Nanti saya sampaikan ke orangnya.
Aku hanya tersenyum membacanya. Kamu itu benar-benar polos, tidak tahu, atau memang sengaja menjawab seperti itu sebagai bentuk sebuah penolakan yang halus?
Kamu tak perlu menyampaikannya pada orang lain. Kamu sendiri adalah orangnya. Bisikku dalam hati.
Gak usah. Salah kirim kok.
Tak butuh hitungan menit sebuah pesan kembali hadir.
Ayolah beri tahu saya, nanti saya sampaikan.
Aku merebahkan diri di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar dan membiarkan pesanmu itu tanpa membalasnya. Hingga aku tertidur kemudian terbangun di keesokan harinya dan mendapati lagi sebuah pesan darimu.
Ayo buat siapa sebenarnya pesan itu?
Masih sambil tersenyum dengan sedikit menantang aku menjawab,
Kalau buat kamu gimana?
Bergeming. Tak ada lagi pesan masuk darimu.
Hingga akhirnya kembali berjumpa di sekolah dengan sedikit perasaan canggung.
💓💓💓
Lagu Sherina Munaf-Cinta Pertama dan Terakhir akhirnya selesai diputar membuat aku kembali ke masa kini. Duduk sendirian tanpa mengindahkan kursi di samping sambil menikmati panorama sore yang indah dari balik jendela bus, aku tersenyum sendirian.
"Jadi lagu itu dulu benar-benar buat saya?"
Sebuah suara tiba-tiba muncul dari seorang penumpang di sampingku, membuat aku menoleh padanya.
"Kamu?" Aku cukup terkejut sekaligus gugup.
"Hari ini masih berlaku gak kalau lagunya itu buat saya? Bukan cuma jadi yang pertama tapi jadi yang terakhir juga."
Senyumku memudar. Antara percaya sekaligus tidak. Antara mimpi atau kenyataan karena sejatinya pertemuan ini adalah pertemuan kami setelah tujuh tahun berpisah.
"Saya dari tadi duduk di samping kamu tapi kamunya menghadap ke jendela terus. Mungkin kamu lagi mengenang saya karena lagu itu diputar." Jawabmu penuh percaya diri sambil tersenyum menggoda.
Love,
Ihat
Friday, May 13, 2022
![]() |
| Foto oleh Olya Kobruseva dari Pexels |
Thursday, May 12, 2022
![]() |
| doc.pribadi |
Before deciding to buy this book, aku sempet galau karena sebelumnya I had watched this movie. Iya udah tahu kan jalan ceritanya dari film pasti gak jauh beda dari bukunya kan? Gitu fikirku. Cuma akhirnya aku membeli juga buku ini karena aku yakin pasti ada kata-kata yang lebih nyentuh ke hati dari buku ini yang biasanya gak ada di film atau emang akunya aja yang gak fokus nonton sehingga bagian pentingnya ke skip. And after reading this book? Boom!
Buku Rentang Kisah ini sendiri berkisah tentang pengalamannya Kak Gita Savitri Devi dari mulai dia SMA, bingung mau kuliah kemana, jurusannya apa, kemudian tiba-tiba ditawari kuliah ke Jerman, bagaimana hidup di Jerman, dan juga kisah asmaranya hingga pertemuannya dia dengan Paul yang kini menjadi suaminya.
I particularly liked about this book because this book use simple words, easy to understand, to the to point, tidak terkesan menggurui, dan lebih ke membuat aku sebagai pembaca banyak introspeksi diri. Besides, the thing that I disliked from this book is the font size used is a bit too large. I would highly recommend this book to young adult, especially for the students in senior high school.
I give this book 5 stars.
Here some my favourite quotes from this book:
Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita mau. Ketika itu terjadi, kita harus bisa menerima dan menghadapinya dengan bijaksana atau nggak akan pernah belajar tentang apa-apa dari hidup ini. – hal 51
Aku pun selalu bilang kepada diri sendiri untuk selalu percaya dengan apa pun yang Allah SWT kasih. Karena hal tersebut semata-mata hanyalah untuk kebaikanku sendiri. – hal 158
Blurb
Apa tujuan hidupmu?
Kalau itu ditanyakan kepadaku saat remaja, aku pasti nggak bisa
menjawabnya. Jangankan tujuan hidup, cara belajar yang benar saja aku enggak
tahu. Setiap hari aku ke sekolah lebih suka bertemu teman-teman dan bermain
kartu. Aku nggak tahu apa yang menjadi passion-ku. Aku sekedar menjalani
apa yang ibu pilihkan untukku-termasuk melanjutkan kuliah di Jerman.
Tentu bukan keputusan mudah untuk hidup mandiri di negara baru. Selama 7
tahun tinggal di Jerman, banyak kendala aku alami; bahasa Jerman yang belum
fasih membuat proses perkuliahan menjadi berat, hingga uang yang pas-pasan
membuatku harus mengantur waktu antara kuliah dan kerja sambilan.
Semua proses yang sulit itu telah mengubahku; jadi mengenal diri
sendiri, mengenal agamaku, dan memahami untuk apa aku ada di dunia. Buatku,
kini hidup tak lagi sama, bukan hanya tentang aku, aku, dan aku. Tapi juga,
tentang orangtua, orang lain, dan yang paling penting mensyukuri semua hal yang
sudah Tuhan berikan.
The purpose to live a happy life is to always be grateful and don’t
forget the magic words: ikhlas,
ikhlas, ikhlas.
Thank You!
Ihat





Social Media
Search