Saturday, December 10, 2022
Berawal dari malam mingguku yang selalu saja sendiri, guling-guling di kasur, bengong, bingung harus ngapain lagi karena sudah tak ingin melakukan pekerjaan lagi. Toh ini kan weekend. Kasih space dikit buat diri di malam minggu special nothing to do. Sampai kemudian tersadar akan waktu yang terus berjalan, usia yang semakin tua, dan postingan teman-teman yang kadang membuat aku iri; terbersit ingin menikah, memiliki suami, dan memiliki anak. Meski pada faktanya menikah adalah tak seindah dongeng belaka. Tapi aku ingin beramal, melakukan hal-hal baru yang bisa dilakukan bersama yang tentunya hingga akhir hayat yang tak lain dan tak bukan aku harus menikah. Dan sebelum menikah, tentu aku harus memiliki dulu calon suami sebagai syarat nikah. Gimana mau nikah kalau calonnya enggak ada?
Dear my future husband,
Aku benar-benar
tak tahu kamu siapa, kamu berasal dari mana, kamu sedang apa saat ini di saat aku
sedang menuliskan surat aneh ini. Apakah kamu tengah sibuk dengan pencarian? Ataukah
kamu sedang terluka, dikecewakan oleh keadaan? Atau kamu yang sudah dititik
pasrah karena berkali-kali gagal namun tak patah semangat?
Ingin sekali
rasanya aku membuka halaman itu. Halaman di saat kamu tiba dihadapanku. Menjemputku
dengan cara yang Allah mau. Sehingga aku bisa tenang dan tak perlu risau karena
aku sudah tahu kamu orangnya. Sayangnya perihal hari esok hanya Allah yang
tahu. Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang mengetahuinya. Meski kata temanku
bilang, perihal menikah bukan karena usia kita yang sudah beranjak dewasa, bukan
karena melihat teman-teman yang lain sudah menikah, atau karena sudah bosan
mendengar orang bertanya, kapan menikah? Tetap saja, di sudut hatiku yang terdalam,
aku ingin menikah. Aku ingin punya suami, memiliki anak, dan juga keluarga yang
bahagia dunia dan akhirat.
Meski sadar
akan kerumitan dalam berumah tangga, dari mulai faktor ekonomi, komunikasi,
hingga ego diri masing-masing dan seluruh hal-hal kecil yang tanpa sadar menjadi
urusan runyam tapi entah mengapa diri ini ingin. Iya ingin. Beberapa dari temanku
yang sudah menikah rata-rata selalu bilang untuk menikmati usia muda dulu,
nikah mah santai aja. Lagi pula nikah bukan menyelesaikan persoalan kita
hari ini, tapi gerbang dari seluruh masalah yang tiada hentinya.
Aku hanya tersenyum
simpul seraya berkata dalam hati, kalaupun sudah tiba waktunya nanti pasti akan
Allah permudah.
Dear my
future husband,
Harapanku, cita-citaku adalah aku ingin menikah di tahun depan. Tepat di saat usiaku menginjak dua puluh enam tahun. Semoga kehadiranmu nanti adalah sebagai bentuk kado terindah dari Allah untuk aku beramal dan belajar. Karena tidak lain dan tidak bukan setiap hari yang dilalui adalah bahan pembelajaran. Dan kehadiranmu dalam hidupku tentu bukan hal kebetulan. Pasti akan ada sesuatu hal yang akan menjadi pembelajaran untuk aku agar lebih baik lagi.
Dear my
future husband,
Semoga kamu berada dalam lindungan Allah. Dimudahkan segala urusannya, diperluas rezekinya, dan juga dibukakan jalan untuk menemukan aku yang masih di sini, sendiri.
Jemput aku
dengan cara yang Allah mau dan jangan ajak aku menuju kemaksiatan. Aku sudah
muak dengan segala bentuk drama patah hati.
Sincerely,
Ihat
Sunday, November 13, 2022
Hai. Lama gak nulis ya. Mungkin bisa jadi efek dari patah hati aku sebelumnya. So sad sih. Ingin sekali aku bilang pada diri sendiri, baboya! Udah umur segini masih aja gak bisa mengartikan tingkah laku orang lain. Hampir saja masuk terperangkap oleh imajinasi sendiri sampai akhirnya kembali mantra kamu yang menyelamatkan aku.
Nyalakan akal, matikan rasa.
Mantra yang selalu aku tanamkan sejak patah hati itu kini aku gunakan kembali. Ampuh sih. Aku bisa selamat sebelum jatuh terperosok terlalu dalam. Well, kamsahamnida.
Siang ini hujan, ditemani lagu yang pada akhirnya kembali membuatku teringat pada dirimu. Sebenarnya bukan karena hujan dan lagunya sih, tapi memang setelah kejadian patah hati dua minggu yang lalu aku langsung teringat pada dirimu. Pada mantramu, dan juga pada nasihatmu. Ingin sekali aku menghubungimu, menceritakan kebodohanku kali ini, tapi ya niat itu aku urungkan kembali. Kamu sudah bilang sama aku, bahwa mulai detik itu setiap ada permasalahan hadapi sendiri. Jangan lagi minta bantuan. Belajar sendiri.
Padahal bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bercerita saja. Mengeluarkan segala unek-unek dalam hati. Karena hanya denganmu aku bisa menjadi diri sendiri. Tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah jadi keputusanmu dan aku menghormatinya. Mungkin selama ini aku terlalu bergantung padamu ya. Jadi saat keadaan memisahkan mau tidak mau aku harus berjalan sendiri.
Beruntungnya aku masih memiliki mantra ajaib darimu.
Aku sudah berjanji pada diri sendiri bahwa betul saat ini aku hanya perlu menyalakan akal dan mematikan rasa. Sampai benar-benar bertemu dengan seseorang yang nantinya akan menjemputku dengan cara yang diridhoi oleh Tuhan, baru. aku akan menyalakan kembali rasa itu.
Love,
Ihat
I haven’t been writing a lot these past two months. I haven’t
been sharing a lot as well. I didn’t have any idea to do so. Moving to this
city is not easy from me, far from family; my big support system. I was sad
most of the time. Angry, other times. Small things triggered my insecurities.
Even I know, live here is one of my dreams and also being an English teacher is
my big dream. So, I didn’t write a lot and I didn’t share a lot.
My heart was empty. Actually, when I wrote here, I was confused. I
just sat down, stared at the computer, played the keyboard. Usually after hanging
out with my friends, I got any idea so directly I wrote it on my laptop,
publish it in my blog. But, I don’t know why for my situation right now, I didn’t
get anything to share with you. To get the inspiration is so hard from me.
Should I take rest for a while from social media?
Should I give big motivation to myself?
Should I read many books to charge my mind and my energy?
Should I come closer to Allah? As my creator?
In the reality, I find it burden to be a teacher. While I was
writing here, I got the reason for that. Yep, because I put “teacher” as my big
dream.
Thus, please! Just give it a try, you have nothing to lose.
Never give up!
Sunday, September 11, 2022
Dear kamu,
Lama tak jumpa dan yang kudapati adalah
kabar kamu telah meminang orang lain. Kaget, bahagia, sekaligus kecewa
bercampur dalam hati. Cerita-certia imajinasiku mendadak luluh, hancur dan aku
tak berdaya untuk melanjutkan kisah fiksi ini.
Kamu yang ku kira akan menjadi terakhir
bagiku ternyata tidak. Bukan kamu orangnya. Kamu adalah harapan terakhir yang selalu
aku panjatkan, rupanya hanya menjadi tempat persinggahan dan kisah yang sudah
usai. Yang seharusnya sudah aku tutup lembarannya tujuh tahun yang lalu.
Doa yang kamu panjatkan yang pertama dan juga
rupanya menjadi yang terakhir bagiku itu harusnya sudah menjadi bab akhir yang
tak perlu aku lanjutkan lagi dengan paragraph baru berisi harapan-harapan
kosong.
Aku kembali pada titik terendahku.
Kembali pada garis merah yang selama ini dengan
susah payah aku telah menarik diri darinya.
Aku kembali terjerebab hanya karena
kenyataan yang seolah-olah selalu menipuku.
Aku benci dibuat bahagia kemudian tak lama
dibuat menderita
Aku benci pada cinta yang datang yang pada
akhirnya hanya membuat aku kembali menjadi seperti orang gila.
Aku mulai membenci diriku sendiri karena
begitu mudahnya terperdaya
Aku mulai merutuk pada diri sendiri
Sudah tak seharusnya kemarin aku mencarimu
Meminta kepada-Nya
Jelas dari awal kamu hanya datang sebagai
pelangi di hidupku.
Yang hanya bisa dipandang namun tak bisa
diraih.
Sudah sadar sekarang?
Yuk, kembali lagi berjalan untuk pulang
pada rumah sendiri
Tak apa-apa sambil terseok-seok asal sampai
Doakan agar kamu bahagia dengan kehidupan
barumu
Namun sungguh aku tak sanggup jika pertemuan
pertama nanti setelah tujuh tahun tak jumpa
Kamu sudah menggandeng tangan seorang
perempuan, yang tak lain dan tak bukan adalah istrimu.
Dan hujan mengguyur deras malam ini seolah meredam tangisku agar kamu tak mendengarnya.
Love,
Ihat
Saturday, July 23, 2022
![]() |
| www.canva.com |
Bismillahirrahmanirrahiim...
It's been a long time, almost two months I've never written here. I was busy and hadn't found the pattern to get the new job done. I'm still learning it, so working on it is a bit hampered, considering all this is new to me.
I feel insecure. I felt so useless, and even I kept lowering myself even though the new people around me didn't say anything to me. They said that I was pretty confident when performing in front. Even when hanging out or meeting, I don't look like I'm down.
I know these are just my feelings. The satanic feelings keep whispering for me to give up. Yet this place is perfect. A theme that will make me grow, develop and even make my relationship with God closer.
Now I'm starting to stroll because I can't run. I simply try, give my best and enjoy all this process even though it is very annoying and tiring.
Don't people who are experts start from their incompetence which is then honed, and when they find failure, they get up and don't give up?
Common Ihat. You can do it! Don't underestimate yourself. Starting now, let's study hard, work hard, memorize forcefully, and don't forget to Allah for always praying and asking for Him everything. Your tahajjud, don't leave it.
Remember! Just Allah will enable you. Just Allah will help you. Just Allah will make easy your way.
It is just about time. I need to enjoy everything that comes to me. Pray to Allah, ask for Him and never get bored doing it.
Love,
Ihat





Social Media
Search