Saturday, February 11, 2023
![]() |
| Photo by Archie Binamira |
Tak ada yang
namanya pekerjaan yang sempurna. Pasti selalu ada titik dimana kita benar-benar
telah lelah, jenuh, bahkan ingin menyerah. Hanya saja menginjak dewasa bukan perkara
kita sudah tak sanggup lantas cabut begitu saja, banyak urusan runyam jika
hanya memikirkan ego sesaat. Maka tak lain dan tak bukan adalah tetap bertahan
meski itu itu bukanlah hal yang menyenangkan.
Siang itu,
saat semuanya terasa runyam aku memilih untuk pergi ke toilet untuk membasuh
muka. Berharap ada ilham datang sehingga bisa mempercepat urusan pekerjaan yang
mendadak stuck di kepala. Menuruni anak tangga dengan fikiran melayang-layang
hingga kemudian seorang anak kecil perempuan yang sedang berdiri di bawah anak
tangga tersenyum ke arahku, tak biasanya.
“Hai Uneng!”
sapaku.
“Ibu..” jawab
dia sambil tersenyum lebar membuat hatiku senang. “Ibu ini.” Lanjut dia sambil
memamerkan kepalan tangannya. Aku mengerutkan kening tidak mengerti. Kemudian
dia membalikkan kepalan tangannya itu. “Buka.”
Aku pun
membuka kepalan tangannya itu dan di sana rupanya ada satu permen.
“Buat Ibu,
ambil.” Aku tersenyum sembari terharu lalu diambillah permen yang ada di tangan
Uneng tersebut. Lalu si Kaka yang ada di sampingnya tak ingin kalah. Dia melakukan
hal yang sama seperti yang dilakukan adiknya. Aku pun disuruh untuk mengambil
permen yang ada di tangan si Kaka.
“Terima
kasih ya.” kataku sambil tersenyum bahagia. Kemudian aku kembali menuju
ruanganku dengan perasaan lega. Entah mengapa hal-hal yang tadinya kusut di
kepalaku kini mendadak rapih dan sudah terurai. Memangnya apa yang sudah
dilakukan kedua anak kecil tadi? Bukankah itu hal yang amat sederhana bukan?
Kemudian di hari
yang lain saat sepulang kerja rasanya aku ingin berteriak kencang, tiba-tiba
datang anak kecil yang baru saja membeli kopi sambil berlarian kecil. Wajahnya masih
penuh dengan bedak yang tak ditabur sempurna di wajahnya membuat aku terhibur. Aku
tersenyum sendiri. Mengingat ketika kecil setiap sore pasti selalu disuruh untuk
membeli kopi oleh Bapak. Setelah melihat pemandangan itu entah mengapa rasa
capek yang tadinya menggunung langsung lenyap seketika. Rupanya terkadang kita
lupa akan hal-hal yang terjadi di sekitar lantaran kita terlalu sibuk dengan
fikiran kita sendiri. Padahal banyak sekali hal-hal istimewa yang bisa kita
saksikan langsung di sekitaran kita. Entah itu saat kita berangkat kerja,
pulang kerja, ataupun saat bekerja.
Terima kasih
untuk hal-hal istimewa ini yang membuat aku kembali tersenyum dan sejenak bisa
melupakan keruwetan yang ada.
Love,
Ihat
Wednesday, February 08, 2023
Lama tak menulis. Sebenarnya banyak sekali hal-hal yang ingin aku bagi di sini. Entah mungkin karena penyakit procrastinating aku kambuh lagi atau bagaimana. Hingga sebuah video reels di Instagram menamparku bahwa lakukan sedikit dan jangan menunda-nunda.
Pada hari Minggu,
22 Januari 2023 lalu aku berkesempatan untuk mengikuti walking tour bersama
Cerita Bandung. Dengan rute perjalanan Patung Pastor H.C.Verbraak yang berada
di Taman Maluku dan berakhir di Gedung Sate. Ini adalah pertama kalinya untuk
aku mengikuti acara tour kota Bandung. Bermodalkan nekat dan ingin lari dari kenyataan namun tak bisa :D, akhirnya tanpa berharap banyak rupanya namaku masuk di list pada rute perjalanan ini. Tarif untuk
kegiatan ini, Cerita Bandung sendiri menerapkan sistem pay as you wish. Lalu
bagaimana cara kita kisa mengikuti tur ini? Cukup mudah, kita hanya perlu
menunggu jadwal tur yang rilis setiap Rabu malam di akun Instagram Cerita
Bandung @ceritabandung.id, setelah itu kita bisa mengisi form untuk mendaftar
di link yang ada di bio Instagram Cerita Bandung.
![]() |
| Doc. Pribadi |
![]() |
| Doc. Pribadi |
![]() |
| Doc. Pribadi |
Salah satu hal yang paling menarik dari acara tour minggu lalu, yaitu sejarah mengenai Stasion Radio Malabar. Meski monumen Doktor de Groot atau yang kerap disebut dengan monumen Pantat Bugil kini hanya tinggal nama dan sudah berganti menjadi Masjid Istiqomah, kemudian stasion Radio Malabar sendiri kondisinya saat ini kini sudah tinggal puing-puing reruntuhan. Ada satu cerita menarik mengenai dua orang yang berjauhan yang kemudian saling terhubung dengan menggunakan telepon tanpa kabel. Yaitu seorang anak yang tinggal di Bandung sementara itu ibunya tinggal di Belanda. Setelah bisa menelfon itu tak lama sang Ibu meninggal. Hingga kemudian tercipta lah lagu Hallo Bandoeng karya Willy Derby pada tahun 1929.
Dari kisah tersebut bisa menjadi bahan
renungan dan refleksi untuk diri sendiri, di era canggih seperti saat ini kita bisa
menghubungi semua orang dengan begitu mudahnya tapi entah mengapa selalu kita lupakan.
Contoh, bagi teman-teman yang diperantauan kadang kita lupa, hingga tak sadar
sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah lalu lupa mengabari orang tua. Sampai-sampai
kita menerima kenyataan bahwa kita terpaksa harus pulang karena kondisi orang
tua kita sakit atau sudah tidak ada. Selama ada kesempatan maka sempatkanlah untuk
menelfon, bertukar kabar, atau pulang sejenak untuk melepas rindu yang melanda.
Karena sungguh tak ada obat selain segera bertemu untuk rindu yang sudah
menggebu.
Semoga di
lain kesempatan bisa kembali lagi mengikuti walking tour dari Cerita Bandung.
Karena sungguh rupanya Bandung menyimpan banyak cerita di setiap sudut yang
kita lewati dan bisa menjadi bahan untuk evaluasi diri.
Sunday, January 15, 2023
![]() |
| Photo by hissetmehurriyeti |
Have you ever written about your future? Such as, I wanna have my husband in the future like bla bla bla. You just write in your book, and day by day goes on. You forgot about what you’ve written and in the next day. Di hari yang tak pernah kamu sangka, kamu dipertemukan dengan orang yang persis seperti apa yang telah kamu tulis.
Satu persatu list
yang pernah aku buat, menceklis dengan sendirinya setiap kali kebenaran tentang
dirimu terungkap. Aku semakin kacau sekaligus bahagia. Rupanya orang yang ku
anggap hanya ada dalam imajinasiku ternyata hidup dan ada di depan mata.
Kamu tahu? Aku selalu
ingin berlari saat mengetahui bahwa apa yang aku imajinasikan perlahan
membentuk utuh dirimu. Seperti menggabungkan puzzle yang berantakan dan kini
mulai tersusun rapih memperlihatkan dirimu.
Diantara rasa senang
sekaligus tak percaya terselip kekhawatiran yang amat dalam. Selalu
bertanya-tanya atas Kuasa-Nya menunjukkan semua ini secara perlahan.
Sering terlontar doa
agar diberi petunjuk untuk satu hentakan agar puzzle itu bisa berantakan dan
aku bisa mengendalikan fikiran yang mengarah pada tujuan yang aku buat.
Aku tak punya harapan
padamu. Karena menaruh harapan kepadamu sama saja aku berkhianat pada Tuhanku. Dan
aku tak ingin Tuhanku marah dengan menjadikan harapanku kepadamu sebagai
boomerangnya.
Melihatmu hadir dan
nyata dihadapanku adalah suatu bentuk Kuasa-Nya atas mimpi dan juga dongeng
yang aku buat sendiri selama bertahun-tahun.
Dan saat ini aku sedang bermain peran bersama sosok yang aku impikan dalam wujud nyata mengikuti skenario-Nya. Tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi selalu yakin bahwa ketetapan-Nya adalah yang terbaik dan jika sudah menjadi ketetapan-Nya ia tak akan pernah lari meski badai selalu menghalangi.
Love,
Ihat
Saturday, December 10, 2022
Berawal dari malam mingguku yang selalu saja sendiri, guling-guling di kasur, bengong, bingung harus ngapain lagi karena sudah tak ingin melakukan pekerjaan lagi. Toh ini kan weekend. Kasih space dikit buat diri di malam minggu special nothing to do. Sampai kemudian tersadar akan waktu yang terus berjalan, usia yang semakin tua, dan postingan teman-teman yang kadang membuat aku iri; terbersit ingin menikah, memiliki suami, dan memiliki anak. Meski pada faktanya menikah adalah tak seindah dongeng belaka. Tapi aku ingin beramal, melakukan hal-hal baru yang bisa dilakukan bersama yang tentunya hingga akhir hayat yang tak lain dan tak bukan aku harus menikah. Dan sebelum menikah, tentu aku harus memiliki dulu calon suami sebagai syarat nikah. Gimana mau nikah kalau calonnya enggak ada?
Dear my future husband,
Aku benar-benar
tak tahu kamu siapa, kamu berasal dari mana, kamu sedang apa saat ini di saat aku
sedang menuliskan surat aneh ini. Apakah kamu tengah sibuk dengan pencarian? Ataukah
kamu sedang terluka, dikecewakan oleh keadaan? Atau kamu yang sudah dititik
pasrah karena berkali-kali gagal namun tak patah semangat?
Ingin sekali
rasanya aku membuka halaman itu. Halaman di saat kamu tiba dihadapanku. Menjemputku
dengan cara yang Allah mau. Sehingga aku bisa tenang dan tak perlu risau karena
aku sudah tahu kamu orangnya. Sayangnya perihal hari esok hanya Allah yang
tahu. Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang mengetahuinya. Meski kata temanku
bilang, perihal menikah bukan karena usia kita yang sudah beranjak dewasa, bukan
karena melihat teman-teman yang lain sudah menikah, atau karena sudah bosan
mendengar orang bertanya, kapan menikah? Tetap saja, di sudut hatiku yang terdalam,
aku ingin menikah. Aku ingin punya suami, memiliki anak, dan juga keluarga yang
bahagia dunia dan akhirat.
Meski sadar
akan kerumitan dalam berumah tangga, dari mulai faktor ekonomi, komunikasi,
hingga ego diri masing-masing dan seluruh hal-hal kecil yang tanpa sadar menjadi
urusan runyam tapi entah mengapa diri ini ingin. Iya ingin. Beberapa dari temanku
yang sudah menikah rata-rata selalu bilang untuk menikmati usia muda dulu,
nikah mah santai aja. Lagi pula nikah bukan menyelesaikan persoalan kita
hari ini, tapi gerbang dari seluruh masalah yang tiada hentinya.
Aku hanya tersenyum
simpul seraya berkata dalam hati, kalaupun sudah tiba waktunya nanti pasti akan
Allah permudah.
Dear my
future husband,
Harapanku, cita-citaku adalah aku ingin menikah di tahun depan. Tepat di saat usiaku menginjak dua puluh enam tahun. Semoga kehadiranmu nanti adalah sebagai bentuk kado terindah dari Allah untuk aku beramal dan belajar. Karena tidak lain dan tidak bukan setiap hari yang dilalui adalah bahan pembelajaran. Dan kehadiranmu dalam hidupku tentu bukan hal kebetulan. Pasti akan ada sesuatu hal yang akan menjadi pembelajaran untuk aku agar lebih baik lagi.
Dear my
future husband,
Semoga kamu berada dalam lindungan Allah. Dimudahkan segala urusannya, diperluas rezekinya, dan juga dibukakan jalan untuk menemukan aku yang masih di sini, sendiri.
Jemput aku
dengan cara yang Allah mau dan jangan ajak aku menuju kemaksiatan. Aku sudah
muak dengan segala bentuk drama patah hati.
Sincerely,
Ihat
Sunday, November 13, 2022
Hai. Lama gak nulis ya. Mungkin bisa jadi efek dari patah hati aku sebelumnya. So sad sih. Ingin sekali aku bilang pada diri sendiri, baboya! Udah umur segini masih aja gak bisa mengartikan tingkah laku orang lain. Hampir saja masuk terperangkap oleh imajinasi sendiri sampai akhirnya kembali mantra kamu yang menyelamatkan aku.
Nyalakan akal, matikan rasa.
Mantra yang selalu aku tanamkan sejak patah hati itu kini aku gunakan kembali. Ampuh sih. Aku bisa selamat sebelum jatuh terperosok terlalu dalam. Well, kamsahamnida.
Siang ini hujan, ditemani lagu yang pada akhirnya kembali membuatku teringat pada dirimu. Sebenarnya bukan karena hujan dan lagunya sih, tapi memang setelah kejadian patah hati dua minggu yang lalu aku langsung teringat pada dirimu. Pada mantramu, dan juga pada nasihatmu. Ingin sekali aku menghubungimu, menceritakan kebodohanku kali ini, tapi ya niat itu aku urungkan kembali. Kamu sudah bilang sama aku, bahwa mulai detik itu setiap ada permasalahan hadapi sendiri. Jangan lagi minta bantuan. Belajar sendiri.
Padahal bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bercerita saja. Mengeluarkan segala unek-unek dalam hati. Karena hanya denganmu aku bisa menjadi diri sendiri. Tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah jadi keputusanmu dan aku menghormatinya. Mungkin selama ini aku terlalu bergantung padamu ya. Jadi saat keadaan memisahkan mau tidak mau aku harus berjalan sendiri.
Beruntungnya aku masih memiliki mantra ajaib darimu.
Aku sudah berjanji pada diri sendiri bahwa betul saat ini aku hanya perlu menyalakan akal dan mematikan rasa. Sampai benar-benar bertemu dengan seseorang yang nantinya akan menjemputku dengan cara yang diridhoi oleh Tuhan, baru. aku akan menyalakan kembali rasa itu.
Love,
Ihat







Social Media
Search