Monday, May 22, 2023
#004 DDL-Putih Abu
16 Maret 2013
Hai diary!
Aku rasa hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan
untuk aku. Dan entah mengapa, aku sangat menikmati itu.
Hari tadi di kelas aku bisa tertawa lepas, sialnya si
Angga malah protes! Tau gak? Dia malah marah-marah ke aku. Ya aku gak terima lah.
Adu mulut pun terjadi. Capek tahu ngeladenin dia, tapi rame. Hahahaa!
Terus tiba-tiba dia ambil spidol gitu kan, dia nulis
di papan tulis,
Lia aku di sini
Aku mengerutkan kening begitu dia selesai menulis
kalimat itu,
“Lia, lia. Lihat! Lihat aku di sini!” kataku sewot
setelah aku sadar bahwa itu ternyata potongan lirik lagu yang kemudian aku
akhiri dengan menyanyikan bait pertama lagu itu, lagunya Rama-Bertahan, band
favoritnya dia.
Dia hanya tersenyum ke arahku lalu keluar dari kelas
dan aku membuntutinya dengan tatapan kesal.
Gak tahu sih bawaannya kesel mulu liat tu orang. Euh!
Lia
#003 DDL-Putih Abu
14 Maret 2013
Dear diary,
Kalau ada lagu Dia-Sammy
Simorangkir kenapa harus inget sama Farhan? Terus akhir-akhir ini, temen-temen
aku juga sering bilang kalau Farhan tuh kadang suka liatin aku. Tapi aku sih
masa bodo lah ya. Tuh kan ada lagu Sammy Simorangkir-Dia ☹ Emang iya sih,
aku sering ngedapetin mata dia yang lagi liat ke arah aku. Tapi ya aku berusaha
buat cubek alias cuek bebek.
Tadi kan pas pulang sekolah tuh
hujannya, alhasil aku dipinjemin payung sama temen aku, Indah. Sayangnya payungnya
gak bisa nutup, tapi ya udah deh dari pada aku pulangnya kehujanan ya aku
terima aja tawaran payung rusaknya dia. Alhasil pas aku mau naik angkot, itu payung
gak bisa diajak kompromi. Jadinya payungnya dipegangin sama Mamang kenek
angkot. Pengen ketawa sih jadinya. :D
Udahlah hujan ya, eh angkotnya
ada lagunya. Hujan masih turun deras, tiba-tiba…
Sammy Simorangkir-Dia!
Tuhan…
Lagu ini ☹
Tuhan sebenarnya aku itu suka
gak sih sama Farhan? Aneh sumpah -___-
Lia
#002 DDL-Putih Abu
29 Januari 2013
Hai diary! Maaf nih udah
beberapa hari gak nulis.
Hm.. kemarin pas udah jam
istirahat, aku nanya ke Farhan tentang Maths. Secara dia kan jago banget
di Maths. Beda banget sama aku yang rapor kemarin aja nilainya di bawah
KKM :’(. Alhasil ya beginilah aku harus mengerjakan beberapa tugas dari LKS
untuk menambal nilai aku semester kemarin.
“Apa ini?” Tanya dia sambil membulati
sebuah tulisan I Hate Maths di halaman yang dia buka secara acak itu. Sementara
itu aku cuma nyengir sambil bilang dalam hati, sekarang udah enggak kok. Soalnya
gara-gara…” Disensor aja ya deh kalimatnya. Hehehee.
Pas pelajaran Maths berlangsung
kenapa ya Farhan nanya mulu ke Tiyas? Tapi emang sih, Tiyas juga lumayan pinter
dibanding aku jadi ya mana mungkin kan dia nanya sama aku perihal Maths? Aku aja
minta bantuan ke dia. Tapi gak tahu kenapa… Aku cemburu lho! Gak biasanya aku
punya perasaan itu sama dia.
Tuhan kenapa sih aku jadi kayak
gini?
Kenapa rasa ini hadir disaat aku
tidak mengharapkannya?
Tuhan kenapa aku harus jatuh pada
hatinya?
Dan entah mengapa Tuhan,
semenjak aku menyukainya, disaat itu pula aku mulai peduli dengan Maths. Tuhan…
kenapa semuanya jadi begini?
Bingung… bimbang… semuanya
terasa hambar.
Lia
#001 DDL-Putih Abu
24 Januari 2013
Hai diary! Tadi pas jam olahraga
nyebelinnya. Huhuuh!
Gini, tadi itu olahraganya
bagian lari. Jadi dibagi dua lah, cowok-cowok, terus cewek-cewek. Pas cowok
yang lari, nah dihitung berapa kali balikannya sama cewek begitupun sebaliknya.
Setelah pemanasan itulah kita semua membuat barisan sebanyak dua banjar. Dalam hati
aku berharap banget bisa ngitung larinya Farhan! Secara aku kan ya gitu, diam-diam
suka sama dia hihiii.
Dimulailah guru olahraga aku,
Pak Yusuf menghitung kami semua. Dan saat hitungan itu jatuh ke arahku,
“Nah, kamu ngitung larinya Angga.”
Kata Pak Yusuf membuat Angga langsung menoleh ke arahku.
“Hah?! Ih..” ucapku sebal tak
terima.
“Yah, Pak! Kok sama dia sih? Heuh,
musuh!” jawab Angga dengan ekspresi sama sebalnya. Sayangnya protes aku dan dia
tidak digubris oleh Pak Yusuf.
Cewek-cewek pun mulai berjalan
ke pinggir, termasuk aku sambil manyun karena tak terima. Sementara itu pas aku
lihat ke arah Farhan, dia hanya tersenyum.
Beginilah teriakan-teriakan
ketika harus menghitung lari Angga: musuh bebuyutan!
“Heh! Cepetan larinya! Delapan!”
“Berisik lu! Ngitung aja kali!”
“Heh! Yang lain udah beres. Boyot
amat sih laki!”
“Mulut lo berisiknya kebangetan
ya!”
Lalu pas giliran aku yang lari. Sebenarnya
sama aja sih. Aku juga boyot larinya.
“Heh cepetan larinya!”
“Berisik ngomel mulu!”
“Banyakan makan sih lu, jadi
larinya lama hahahahaaa!” Tawa khasnya yang terdengar sampai ujung lapangan,
membuat aku pengen banget nimpuk jidat dia pake sepatu aku.
“Sama-sama boyot ternyata,
makannya jangan sok jago!” ucap dia lagi begitu aku melintasinya. Udah pengen dimasukin
cabe tuh ke mulutnya. Gila keseelll!!!!
Nah tadi pas pelajaran IPA, kan
bagian presentasi. Yes! Dari kelompok 1, ternyata aku yang nilainya paling
tinggi. Kata Devi sama Nina katanya pas aku lagi presentasi, Farhan tuh gak
henti-hentinya menyimak. Masa iya sih? Sejujurnya aku tadi grogi, bukan grogi
karena teman-teman, tapi grogi karena dia.
Amalia yang sukanya dipanggil Lia
Friday, May 12, 2023
Untuk aku yang saat ini sudah tak lagi mengharapkanmu. Sudah tak lagi mendoakanmu. Sudah menghapusmu dari kisah harian yang biasa aku tulis di lembaran-lembaran kertas.
Kalaupun berakhir baik. Mungkin kamu adalah hadiah terbaik yang Tuhan kirim untuk aku.
Aku hanya sedang belajar mencintai diriku sendiri. Membuang semua prasangka-prasangka buruk dan menikmati setiap kehadiran yang datang dalam hidupku.
Terima kasih wahai diri untuk bisa menahan ego. Terima kasih karena telah menerima perasaan ini tanpa perlu merasa menjadi beban.
Ihat





Social Media
Search