Thursday, September 14, 2023
![]() |
| Photo by Francesco Ungaro |
Suddenly the
time called me…
Setelah dua tahun
berlalu mengapa tiba-tiba kenangan buruk di bulan September kembali hadir dan
memporak-porandakan seluruh benteng pertahanan yang telah aku bangun dengan
susah payah.
Jika September lalu
aku bisa berjalan tanpa harus kesakitan mengingatmu lagi, lantas mengapa
September kali ini aku harus jatuh ke lubang yang sama? Kembali mengingatmu, kembali
mencercamu, kembali lagi menangisimu…
Sudah seharusnya, ya
sudah seharusnya aku tak lagi menangisimu saat kembali membuka catatan lama. Membaca
setiap ejaan yang kemudian menghidupkan kembali kenangan lama. Aku ingin
kembali membencimu, tapi hatiku terlampau lelah. Aku ingin kembali marah,
berteriak kepadamu. Tapi buat apa? Toh dengan marahnya aku tak akan membuatmu
berpaling darinya begitupun dengan aku yang enggan untuk kembali mengulang bersama
lagi.
Aku terus mencari alasan
lain. Hingga akhirnya aku sadar, aku masih bertanya-tanya atas kepergianmu yang
mendadak dan juga tanpa kejelasan yang jelas. Kamu tak mengakhirinya hanya
menyisakan koma yang tak kunjung usai. Alih-alih menyelesaikan kamu malah
membuat cerita baru yang kini sudah tak bisa diganggu gugat lagi pemiliknya.
Sadar bahwa sudah
seharusnya aku mengikhlaskan koma yang tak kunjung selesai ini. Hanya saja ikhlas
tak semudah kata yang terucap, tak semudah tindakan yang harus dilakukan. Aku sadar.
Aku perlu dialog-dialog yang lebih panjang lagi untuk benar-benar bisa memulihkan
hatiku dan menyadarkan aku bahwa aku tak
perlu lagi mencari alasan ataupun sebab atas kepergianmu yang bak ditelan di bumi.
Karena seperti
katamu dulu, bukankah semuanya sudah usai? Bukankah aku hanyalah bentuk dari
masa lalumu? Bukan untuk masa depanmu. Bahkan bisa jadi
kamu kini telah benar-benar menghapusku dari kehidupan barumu.
Mengapa harus kamu
yang lebih dahulu berlabuh? Mengapa harus kamu yang lebih dahulu membuat
rangkaian cerita indah? Mengapa tidak aku dulu? Orang yang kamu tinggalkan
tanpa alasan. Orang yang kamu jawab dengan undangan: jelas semua itu meluluh
lantahkan pertanyaanku, harapanku, dan juga doaku.
Aku dipaksa untuk menerima kenyataan tanpa harus berkata lagi mengapa?
Aku dipaksa untuk berhenti
mencari tanpa ada kata tapi.
Dan aku dipaksa
untuk ikhlas, menerima tanpa lagi bertanya sebenarnya mau itu apa?
Dipaksa untuk
kembali berjalan meski aku tahu semua tujuan itu telah hilang.
Dengan segala
kenangan yang berputar-putar menari di kepala.
Aku ingin lari, tapi
kenangan itu terus saja membuntuti.
Lantas harus kemana
lagi aku melangkah agar semua kenangan ini melebur dan tak tersisa lagi?
Adakah seseorang di
sana yang siap membantuku melalui dialog-dialog panjang dan juga langkah-langkah
ringan untuk melepaskan beban yang dirasa?
Dimanakah kamu? Bisakah
kamu membantuku?
Aku ingin menerima
September dengan segala pahit dan urusan-urusan yang tak terselesaikan dengan
baik.
Ihat
Friday, September 08, 2023
30 April 2013
Hualaahh!! Jadi kemarin itu aku baru aja buka Facebook lalu di beranda muncul dong sebuah status yang memang gak aku harapkan! Membuat aku naik pitam! Busyett gila tuh cewek! Gak bisa jaga perasaan temannya apa? Oh apa jangan-jangan udah gak anggap aku temannya lagi?
10. Terima kasih sudah memilihku dan akupun memilihmu.
Tanggal jadian kalian sama kayak tanggal lahir aku? 10? Gak sudi! Ganti tanggal jadiannya!! Udahlah bikin gue sakit hati, ini iniih??? Ditambah tanggalnya? Terus nanti next month disaat kalian merayakan tanggal jadian kalian, gue ulang tahun. No!!!!!!!!!
Aku sampe sekarang bahkan gak faham sama kelakuan
Tiyas. Dia belum terus terang sama aku perkara dia jadian sama Farhan. Seolah
gak terjadi apa-apa. Minta maaf ke aku aja gak pernah apalagi mengakui, kan
dari awal dia juga tahu kalau aku juga sama Farhan. Gila ya! Kayaknya dia
tertawa puas banget pas aku di PHP-in kayak gitu.
Benci banget Tuhannn!!!
Gimana aku bisa betah di sekolah kalau begini?
Lia
Sunday, August 13, 2023
Tak mudah untuk melawan ego dan juga kenyataan yang harus ku hadapi. Ego berkata lain sementara kenyataan menampar semua itu. Kontras. Aku hanya bisa terdiam sambil memejamkan mata. Meredam gejolak yang membara di dada.
Aku memilih pergi, undur diri dan pamit. Dari pada diri terus tersiksa dari dirimu yang jelas-jelas tak menaruh rasa sedikitpun.
Aku menerima semua kenyataan ini dengan baik. Aku menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksa. Perkara rasa yang dihadirkan sang Pencipta rupanya sebagai jalan untuk aku agar bisa mencintai diri sendiri. Meninggalkanmu rupanya menemukan aku jalan pulang untuk mencintai diri sendiri.
Disibukkan dengan segala urusan karena aku tak ingin larut dalam kesedihan. Kata good bye yang ku tulis rupanya membuka kata hello baru yang menenangkan. Berawal dari aku yang kesulitan menghafal nama dan namanya adalah satu-satunya yang bisa kusebut karena aku bisa membacanya dari name tag yang dia gunakan.
Pelarian yang kutempuh, yang ku kira tak akan ada orang lain yang mengenaliku rupanya melesat dari sasaran. Masih ada satu yang tahu dari sekian banyaknya tentang diriku. Dan itu adalah dia yang di awal sering ku sebut namanya. Percakapan yang dimulainya membuatku mau membuka diri. Obrolan yang panjang hingga pada satu titik membuatku terdiam. Dari sekian banyak kategori, aku harus dihadapkan kembali pada orang yang mahir memotret. Dihadapkan kembali juga pada orang yang bisa menjaga perintah Tuhannya. Dan dihadapkan kembali pula pada sosok yang selalu mencintai Ibunya sepenuh hati.
Apakah urusanku sebelumnya belum selesai sehingga kembali dihadapkan dengan ujian yang sama?
Ihat
Sunday, May 28, 2023
#012 DDL-Putih Abu
27 April 2013
Dear, diary
Hallo diary! Bagaimana kabarmu
di malam ini? Sorry banget udah hampir beberapa hari ini aku gak nulis. Tadi
masuk sekolah sih. Cuma enggak belajar. Iih.. males banget masuk kudu bertemu
dengan mereka berdua lagi. Apalagi mereka berdua deket banget di depan mataku
sendiri! Halaahh… membuat luka di hati kambuh lagi!
Sumpah aku gak betah di sekolah.
Gak betah banget! Teman-teman aku mulai bergosip tentang kejadian aku dan
mereka berdua. Mereka udah khawatir banget kalau aku sama Tiyas bakalan musuhan
lebih lama lagi dan mereka ingin aku segera berteman kembali dengan Tiyas! Hellooww!!!!
Jadi posisi gue dulu mau luu pada?!
Temen-temen yang rese yang gak
ada empatinya sedikitpun, ditambah mereka berdua yang bikin aku sakit mata tiap
kali masuk kelas. Parahnya emang kita satu kelas lagi. Lihat mereka bahagia tiap
hari di kelas. Huhuuuu! Hati gue masih berkabung nih. Luka itu susah buat
diilanginnya! Enggak secara pas menyanyatnya yang memerlukan waktu beberapa detik.
CAMKAN ITU KAWAN!
Lia
#011 DDL-Putih Abu
20 April 2013
Dear, diary
Hai diary! Maaf udah beberapa
hari aku gak suka nulis. Sekolah libur, tapi tugas numpuk ☹. Tadi juga ke
sekolah buat ngumpulin tugas Maths. Sialnya aku harus bertemu dengan mereka
berdua. Gila nyesek banget lihat mereka berdua. Rasanya..Huhuuu ☹ Apalagi pas
harus berpapasan sama Tiyas dan pura-pura senyum.
Devi tadi bilang sama aku, dia
sempet membahas tentang aku ke Farhan dan Farhan itu kayak yang ngerasa
bersalah. Eeh.. emang dia salah kan? Bisa aja emang udah aku maafkan, tapi rasa
sakit plus bekas lukanya masih ada. Aku gak tahu kapan perasaan ini akan hilang
dan terhapus.
Tuhan beri aku kekuatan ketika harus
bertemu dengan mereka.
Lia




Social Media
Search