Monday, January 08, 2024
![]() |
| Photo by Evie Shaffer |
Sudahlah beberapa hari ini Bandung diguyur hujan, ditambah perasaan aku tak karuan. Antara ingin marah, tapi kepada siapa aku marah? Merasa kecewa, lantas harapan apa yang pernah ku buat? Ingin menangis, tapi aku bingung hal apa yang bisa membuatku menangis?
Rasanya tawaku hanya topeng belaka. Menutup rasa kekacauan yang mungkin orang lain tak bisa melihatnya. Sampai pada suatu hari, aku ketahuan sedang melamun di tengah-tengah keramaian. Dipanggil pun aku tak menyahut, hingga entah panggilan ke berapa baru aku bisa sadar dan menoleh.
Keesokannya sungguh, perasaan aku semakin kacau. Akupun bingung dengan perasaan ini. Perasaan yang sudah kuterima tetapi aku kebingungan sendiri karena aku sungguh tidak mengenalnya. Sampai pertanyaan itupun terlontar dari rekan kerjaku,
"Kamu gimana kabarnya?"
Pertanyaan umum tapi justru malah membuat aku tersentak mendengarnya. Cukup beberapa detik untuk aku bisa mencerna pertanyaannya itu.
"Alhamdulillah baik." Jawabku pendek sembari memalingkah wajah.
"Akhir-akhir ini sepertinya kamu banyak murungnya. Tidak seperti biasanya."
Cukup membuatku lebih tersentak lagi dengan pengakuannya itu. Sekilas aku melihat wajahnya, aku jawab dengan seadanya sambil menundukkan wajah.
"Ah, enggak. Biasa aja kok."
"Yakin baik-baik aja?"
"Iya, baik." Jawabku tetap menunduk lantas menjauh dari rekan kerjaku itu dan mengalihkan pembicaraan dengan topik lain.
Aku terus mencari-cari alasan atas perasaanku yang berkecamuk ini.
Ada apa ya? Ingin memaki, tapi siapa dan apa yang bisa aku maki? Berkali-kali malam datang dan aku menangis tetap saja perasaan ini masih saja menetap dan enggan memberiku jawabannya.
Terkadang aku menerka-nerka. Apa jangan-jangan karena janji yang pernah dibuat lantas diingkari bahkan dilupakan begitu saja?
Apa iya itu?
Kalaupun iya berarti aku sudah salah kembali dalam menaruh harap.
Harapan yang seharusnya aku sandarkan kepada sang Maha Pencipta bukan kepada ciptaan-Nya.
Wednesday, January 03, 2024
![]() |
| Photo by Ylanite Koppens |
Monday, November 06, 2023
![]() |
| Photo by Markus Winkler |
Ada yang beda dan kini tak lagi sama. Dari sorot matamu yang kini mulai memalingkan ke arah lain. Kadang aku bingung, bukankah selama ini kamu yang selalu mengajariku untuk menatap orang yang tengah berbicara padamu? Lantas setelah aku berani dan percaya diri untuk menatap siapapun yang sedang berbicara denganku, kamu justru malah berpaling?
Aku mengerutkan kening. Maumu apa sih? Ada yang salah dengan diriku? Jika iya, kamu bisa mengutarakannya. Bukannya diam-diam menjauh, seolah membuat benteng tinggi tapi akhirnya kamu coba untuk mengakrabkan diri lagi? Gimana sih?
Atau jangan-jangan kamu sudah menangkap sinyal yang aku pancarkan? Lalu tanpa konfirmasi kamu malah berspekulasi bahwa ada sesuatu yang tersembunyi dari diri ini. Betulkah? Kalau memang betul ya harusnya kita duduk bersama, bicarakan bersama, lalu selesai. Tak perlu membangun tembok tinggi-tinggi sebagai penghalang agar jarak diantara kita tercipta. Karena sesungguhnya perasaan aku bukan tentang kamu. Perasaan aku saat ini hanya untuk aku sendiri. Tidak untuk orang lain. Jikalau kamu tahu, rona merah di wajahmu akan tercipta karena kamu sudah memutuskan sesuai prasangkamu sendiri. Sedangkan aku? Mungkin aku akan tertawa terbahak melihat wajah kepiting rebusmu di hadapanku.
Jadi sekali lagi, kalau mau berteman ya berteman. Harus ada batas? Ya sudah jangan ajari aku untuk bisa melawan batas. Kamu sendiri yang membuka batasan itu hingga aku bisa berjalan bebas tanpa merasa cemas. Lantas saat batasmu terusik, kamu berteriak bak orang kerasukan membuatku terpental jauh.
Cukup setelah teriakanmu itu aku justru membuat batas untuk diriku sendiri. Sekalipun kamu mencoba untuk mencairkannya kembali, aku sudah terlanjur membuat batasan itu setinggi mungkin. Karena acap kali batasanmu kamu buka, aku sudah tak tertarik lagi untuk melawan batasmu. Buat apa? Jika pada akhirnya aku akan diteriaki lagi, kemudian terpental jauh?
Jika memang tidak siap batasmu diusik, tolong jangan ajarkan aku untuk sekedar mengetahui apalagi melewati bahkan sampai melawan batas.
Dan satu hal yang kini aku pelajari darimu adalah saat ada orang yang seolah-olah membuka batasan itu untuk kita, tak seharusnya kita masuk dan melewati batas itu. Karena sekalinya terusik, dia akan berisik.
Love,
Ihat
Saturday, November 04, 2023
![]() |
| Photo by Eugenia Remark |
Hari itu kami harus merampungkan agenda-agenda kegiatan
untuk satu minggu ke depan. Sambil menyusun agenda kegiatan entah dari mana
tiba-tiba obrolan kami sampai pada hal-hal pengalaman masing-masing.
“Saya dulu pernah Bu, uang tiba-tiba hilang,
barang-barang pun begitu. Ditinggal sebentar saja barang-barang sudah raib. Setiap
harinya akan selalu ada barang ataupun uang yang hilang. Hanya yang saya ingat
sampai sekarang adalah ketika Bapak saya bilang, tidak apa-apa harta hilang
yang penting keluarga tetap berkumpul dan bersatu.”
Aku hanya mengangguk, mendengarkan dengan seksama
ceritanya kemudian dicerna pelan-pelan.
“Wah betul tuh Pak, masih ada hal yang harus disyukuri
meski harta tiap hari hilang entah ke mana.”
“Iyalah Bu, perkara uang hilang kan kita hampir aja
saling tuduh satu sama lain. Hanya saja ketika kita semakin kuat dengan ujian
yang Allah berikan, waktu itu keluarga jadi lebih solid juga dan kita sudah
tidak merasa takut lagi akan kehilangan apa-apa, karena hakikatnya apa yang
kita miliki adalah hanya sebuah titipan, tiba-tiba berhenti. Barang-barang
aman, tidak ada lagi yang hilang. Usut punya usut ternyata, biasa ada orang
yang iri dengan keluarga kita.”
“Kalau aku Pak,
dulu tuh pernah dicopet hp. Jadi waktu itu baru banget sekitar 5 hari beli hp dan
uangnya itu aku pinjem ke temen. Totalnya pokoknya sekitar dua juta lah, pulsa banyak
banget, kuota juga baru ngisi full, nomor hpnya juga nomor cantik. Raib sudah
dicopet pas perjalanan pulang menuju asrama setelah pulang dari rumah. Nangis kejer,
kebayang harus nyicil uang yang barangnya sendiri udah gak ada, mana spp kuliah
juga aku harus bayar. Ah rasanya dunia kayak mau berakhir. Itu dulu pas aku
umur 19 tahun. Padahal dulu kepaksa buat beli hp karena hp yang akunya udah
rusak, tiap dipake buat nugas mati lagi, mati. Cuma baru sekarang sih kerasa banget
hikmahnya. Bahwa dengan cara hp aku dicopet itu Allah sebenarnya lagi ngajarin
aku biar aku tuh bisa lebih hati-hati lagi. Kebayang sih kalau dulu kalau gak
dikasih ujian itu, kayaknya aku bakal bener-bener teledor dan bisa jadi ada hal
yang harus hilang dan harganya lebih dari itu. Semenjak kena copet itu, aku
jadi lebih hati-hati lagi tiap mau naik angkutan umum, terus kalau pinjam
barang punya temen, atau kalau misal nih aku butuh barang atau sesuatu kemudian
udah mendesak banget dan shortcutnya itu adalah mau gak mau aku harus
pinjem misal ke temen. Aku langsung mikir kayak, Ya Allah, Engkau ridha tidak. Aku
gak mau karena Engkau tidak Ridha, aku diuji dengan hal serupa lagi seperti dulu.”
Sampai kemudian aku berefleksi bahwa dari sebuah kehilangan
ada hal yang ingin Allah ajarkan. Meski tersirat namun perlahan semuanya akan
tersurat. Seperti temanku yang harus kehilangan harta dan juga barang setiap
harinya namun rupanya Allah mengajarkan kepada mereka tentang arti dari sebuah
kehadiran dan kekompakkan keluarga. Kemudian dari kasusnya hp aku yang dicopet,
mungkin Allah mengajarkan aku untuk lebih berhati-hati dan tidak menginginkan
lebih atas sesuatu hal. Karena saat kita berlebihan atas hal yang bersifat fana
itu hanya akan membuat hati kita sakit. Lupa bahwa seharusnya dalam menginginkan
hal-hal yang besifat duniawi itu tarafnya adalah “sewajarnya.” Sehingga ketika
harus pergi, atau tidak menjadi milik kita, hati kita tidak kecewa. Karena dari
awal kita sudah menyimpan perasaan “sewajarnya” dan juga menyakini bahwa
hal-hal tersebut bisa hilang dan tak kembali.
“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh
di jalan Allah (mereka) telah mati sebenarnya (mereka) hidup tetapi kamu tidak
menyadarinya. Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan dan
kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan dan sampaikanlah kabar
gembira (kepada) orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila
ditimpa musibah mereka berkata “innalillahi wa inna ilaihi rojiun”(sesungguhnya
kami milik Allah dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nyalah akan kembali).” (Q.S Al-Baqarah 154-156)
Love,
Ihat
Thursday, September 14, 2023
![]() |
| Photo by Francesco Ungaro |
Suddenly the
time called me…
Setelah dua tahun
berlalu mengapa tiba-tiba kenangan buruk di bulan September kembali hadir dan
memporak-porandakan seluruh benteng pertahanan yang telah aku bangun dengan
susah payah.
Jika September lalu
aku bisa berjalan tanpa harus kesakitan mengingatmu lagi, lantas mengapa
September kali ini aku harus jatuh ke lubang yang sama? Kembali mengingatmu, kembali
mencercamu, kembali lagi menangisimu…
Sudah seharusnya, ya
sudah seharusnya aku tak lagi menangisimu saat kembali membuka catatan lama. Membaca
setiap ejaan yang kemudian menghidupkan kembali kenangan lama. Aku ingin
kembali membencimu, tapi hatiku terlampau lelah. Aku ingin kembali marah,
berteriak kepadamu. Tapi buat apa? Toh dengan marahnya aku tak akan membuatmu
berpaling darinya begitupun dengan aku yang enggan untuk kembali mengulang bersama
lagi.
Aku terus mencari alasan
lain. Hingga akhirnya aku sadar, aku masih bertanya-tanya atas kepergianmu yang
mendadak dan juga tanpa kejelasan yang jelas. Kamu tak mengakhirinya hanya
menyisakan koma yang tak kunjung usai. Alih-alih menyelesaikan kamu malah
membuat cerita baru yang kini sudah tak bisa diganggu gugat lagi pemiliknya.
Sadar bahwa sudah
seharusnya aku mengikhlaskan koma yang tak kunjung selesai ini. Hanya saja ikhlas
tak semudah kata yang terucap, tak semudah tindakan yang harus dilakukan. Aku sadar.
Aku perlu dialog-dialog yang lebih panjang lagi untuk benar-benar bisa memulihkan
hatiku dan menyadarkan aku bahwa aku tak
perlu lagi mencari alasan ataupun sebab atas kepergianmu yang bak ditelan di bumi.
Karena seperti
katamu dulu, bukankah semuanya sudah usai? Bukankah aku hanyalah bentuk dari
masa lalumu? Bukan untuk masa depanmu. Bahkan bisa jadi
kamu kini telah benar-benar menghapusku dari kehidupan barumu.
Mengapa harus kamu
yang lebih dahulu berlabuh? Mengapa harus kamu yang lebih dahulu membuat
rangkaian cerita indah? Mengapa tidak aku dulu? Orang yang kamu tinggalkan
tanpa alasan. Orang yang kamu jawab dengan undangan: jelas semua itu meluluh
lantahkan pertanyaanku, harapanku, dan juga doaku.
Aku dipaksa untuk menerima kenyataan tanpa harus berkata lagi mengapa?
Aku dipaksa untuk berhenti
mencari tanpa ada kata tapi.
Dan aku dipaksa
untuk ikhlas, menerima tanpa lagi bertanya sebenarnya mau itu apa?
Dipaksa untuk
kembali berjalan meski aku tahu semua tujuan itu telah hilang.
Dengan segala
kenangan yang berputar-putar menari di kepala.
Aku ingin lari, tapi
kenangan itu terus saja membuntuti.
Lantas harus kemana
lagi aku melangkah agar semua kenangan ini melebur dan tak tersisa lagi?
Adakah seseorang di
sana yang siap membantuku melalui dialog-dialog panjang dan juga langkah-langkah
ringan untuk melepaskan beban yang dirasa?
Dimanakah kamu? Bisakah
kamu membantuku?
Aku ingin menerima
September dengan segala pahit dan urusan-urusan yang tak terselesaikan dengan
baik.
Ihat


.jpg)


Social Media
Search