Sunday, February 04, 2024
![]() |
| Photo by Mark Cruz on Unsplash |
Setiap orang pasti punya lagu yang jika diputar langsung teringat kenangan masa lalu, seolah menghidupkan memori lama. Saya bilangnya gitu. Selain itu juga ada beberapa orang yang tiba-tiba menangis atau tersenyum ketika mendengar lagunya. Saya sendiri begitu sih. Tapi gimana suasana hati juga. Ya kalau lagi melow-melow terus ada orang yang muterin lagu tertentu mewek saat itu juga. Seolah kayak film yang diputar begitu aja di dalam kepala tuh. Berikut ini saya rangkum aja 5 lagu yang bikin saya inget momen-momen tertentu.
- Tompi-Sedari Dulu
Lagu Sedari Dulu miliknya Tompi yang dirilis pada tahun 2008 berhasil bikin saya nangis tiap kali saya mendengarnya. Lagu ini memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Jika lagu ini diputar, maka isi kepala saya akan memutar memori di tahun 2008 saat saya masih sekolah kelas 5 sd. Saat itu saya dinyatakan sakit gejala typus dan Mamah saya yang biasanya memilih untuk berdiam diri malah mengomeli saya habis-habisan di becak sehabis pulang dari dokter. Saya bukannya kesal, saya justru senang mendengarkan omelannya karena terdengar jelas nada khawatir dari mulutnya. Sebelum pulang itulah saat saya sedang menunggu obat dan Mamah waktu itu sedang memberikan resep obatnya kepada apoteker. Nah TV di ruang tunggu itu memilih channel SCTV dan sedang berlangsung acara Inbox. Tak lama lagu Tompi-Sedari Dulu itu diputar menemani saya dan Mamah yang sedang menunggu obat.
2. Kerispatih – Demi Cinta
Sebuah lagu yang saya tulis liriknya di surat perpisahan yang saya tujukan untuk sahabat-sahabat saya ketika kelas 6 SD. Waah kalau denger lagu ini inget banget momen-momen terakhir kita bersama. Bahkan kita berempat membuat sebuah nama persahabatan, SUUT. Do you still remember about SUUT? I hope you still remember! Inget gimana diam-diam kita menyukai orang yang sama, curhat bareng, gantian baca buku diary, musuhan gegara pas ulangan gak dikasih tahu, saya yang gak ikut ke Mall waktu itu dan kalian bertiga malah beliin cincin buat saya dengan bentuk hati berwarna biru yang bertuliskan Love. Sayang cincin tanda persahabatannya udah hilang. Sehat-sehat selalu ya! Well, I miss you!
3. Sherina Munaf – Cinta Pertama dan Terakhir
Duh kalau denger lagu ini perasaan saya jadi campur aduk. Antara malu, senang, sedih, dan juga menyesal. Lagu yang lirik reff nya saya kirim lewat sms ke seseorang yang saya suka waktu kelas 1 SMP. Ha!
Waktu itu setelah saya kirim sms yang berisi reff lagu itu saya buru-buru kembali mengirim pesan kepadanya bahwa saya salah kirim sms. Dan sms saya itulah yang akhirnya membuat dia penasaran dan berkali-kali menanyakan untuk siapa pesan itu ditujukan hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk bilang,
Emang kalau buat kamu kenapa?
Dia diam tak membalas dan keesokan harinya ketika di kelas jadi canggung dong. 😀
4. Maudy Ayunda – Bayangkan Rasakan
Sebuah lagu yang menemani saya saat saya sedang mengalami patah hati terberat ketika usia remaja! Sakit banget rasanya waktu itu dan kondisi saya saat itu sangat terwakili oleh lirik lagu Maudy yang satu ini. Sampai sering request di radio kalau malam habis itu kalau diputer nangis dong hihiii. Ini terjadi ketika saya duduk di bangku kelas 12. Suka dari kelas 11 eh ternyata dia suka sama orang lain dan parahnya dia selalu belain ceweknya (ya iyalah orang pacaran kan :D) lalu menyindir saya atau tak jarang keluar bahasa yang menurut saya pedas banget lah buat didengar. Dan parahnya lagi efek dari patah hati ini saya sulit buat tidur. Saya tidur kalau gak jam setengah 12 ya jam 12 malam atau enggak jam setengah 1 malam. Sering nangis tiap malam sambil sumpah serapah di buku diary. Menyalahkan diri saya sendiri bahwa selama ini saya bodoh, saya salah menyukai orang. Selain patah hati di rumah juga saya sering kena omel orang tua. Hubungan saya dengan kedua orang tua saat itu renggang sekali. Iya tiap ngobrol pasti berantem. Mereka maunya saya begini tapi mereka gak pernah tau gimana maunya saya dan kondisi saya seperti apa. Beruntung waktu itu saya gak bunuh diri, sempet waktu itu ada fikiran ke sana. Karena saya mikirnya saya gak beharga banget di dunia ini. Perasaan saya tak terbalas, orang tua marah-marah mulu kerjaannya, pokoknya dulu itu mau ke sekolah atau balik ke rumah rasanya kayak neraka. Sama-sama menyiksa. Cuma kamar saya sendiri yang waktu itu bisa didefinisikan rumah bagi saya. Tidak ada yang mengganggu, menyalahkan, memarahi, yang ada hanya suara penyiar dan lagu dari radio yang menghibur saya. Pelariannya waktu itu dengerin radio sambil nulis berlembar-lembar di buku. Waktu itu saya pengen banget curhat ke orang tua saya mengenai rasa sakitnya patah hati, tapi saya gak berani. Saya takut malah tambah dimarahin dan disuruh fokus belajar. Makannya sampai saat ini urusan asmara saya tutup rapat-rapat dan tak pernah membahas soal itu ke mereka. Mereka tak pernah tahu gimana saya patah hati, kasmaran. Semuanya saya simpan dan selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan mereka.
5. BTS – Epiphany
Lagu yang saya putar diam-diam dengan menggunakan headset jika suasana hati sedang galau, sedih, dan kecewa. Lagu yang suka saya putar tiap berangkat atau pulang kuliah. Sambil melihat pemandangan jalan dari balik jendela kaca bus/angkot/mobil ciamisan. Yang masih terekam jelas sampai saat ini adalah ketika saya untuk pertama kalinya pulang malam karena kelas berakhir pada saat adzan maghrib berkumandang. Saya ketinggalan bus karena saat itu saya malah balik lagi ke kampus tepatnya ke toilet masjid (karena lebih dekat dari gerbang) karena pengen buang air kecil. Teman-teman saya yang lain udah pada pulang dan mereka pulangnya ke rumah masing-masing bukan ke kostan. Saat itu karena hari Sabtu dan besoknya libur. Saya sempat minta bantuan ke teman-teman saya tapi hasilnya nihil. Bahkan salah satu teman SMA saya yang rumahnya cukup dekat dengan kampus enggan mengantar saya sampai ke jalan lain yang sering dilalui oleh bus lain yang beda jurusan. Dia malah menyuruh saya untuk tetap menunggu bus sampai busnya datang. Malam semakin larut suasana kampus sepi dan jalanan yang gelap karena pada saat itu lampu-lampu masih kurang tak seramai sekarang. Mamah dan Bapak menelfon bahkan mengkhawatirkan saya dan sempat akan menjemput saya lalu saya tolak (pada saat ini hubungan saya dengan orang tua membaik alhamdulillah). Karena jaraknya yang jauh dan waktu untuk menunggu sekitar 45 menit. Belum lagi kondisi motor Bapak yang sudah tua dan lampu motornya tidak berfungsi dengan baik. Saya menangis sendirian saat itu di halte kampus. Karena gelap tidak ada lampu saya berjalan sendirian menuju depan gerbang kampus. Sampai akhirnya setengah jam kemudian bus pun datang dengan penumpang yang sangat penuh dan saya terpaksa berdiri. Saya baru mendapatkan kursi duduk setelah dua puluh menit berdiri. Kemudian saya mengelurkan headset dari dalam tas dan memasangkannya di handphone. Memilih lagu ini sambil menangis tertahan. Duh sedih ya hihiii. Ditambah udah malam udaranya kerasa banget dingin dan saya gak bawa jaket. Sesampainya di jalan pertigaan saya turun dan disambut oleh motor bapak yang sedari tadi menunggu saya turun dari bus.
Itulah lima lagu yang bikin saya inget momen-momen tertentu. Kamu sendiri gimana?
Ihat
Thursday, January 11, 2024
![]() |
| Photo by Rohan Nathwani |
Kamu harus belajar memaafkan.
Memaafkan atas kealfaan orang tuamu dalam mendidik dan membesarkanmu
karena kaupun belum tentu bisa sekuat mereka dalam menghadapi ujian hidup.
Memaafkan orang-orang yang menyakitimu,
bisa jadi karena ada perlakuanmu yang tanpa disengaja menyakiti mereka.
Memaafkan mereka yang hanya memanfaatkan kebaikanmu, kelebihanmu.
Memaafkan mereka yang pernah mencaci makimu, merendahkanmu, lalu meninggalkanmu.
Wahai diri, perluas maafmu atas hal yang pernah terjadi padamu.
Terima apapun yang hadir padamu baik dan buruknya.
Libatkan Tuhanmu dalam menentukan pilihan.
Cukup hanya untuk ditengok bukan untuk diratapi apalagi disesali
Karena yang terjadi kemarin sudah menjadi lembaran sejarah hidupmu.
Jika esok masih tak berpihak padamu, tak apa.
Proses belajar. Kamu diminta untuk lebih sabar dan ulet lagi
One day berkat kerja keras dan doa yang kamu panjatkan
Tuhan pasti akan mengabulkannya.
Belajar untuk percaya dan tidak merasa cemas lagi atas apa yang telah digariskanNya
Kamu hanya perlu menjadi hamba yang taat dan jauhi maksiat.
Ingat sejauh-jauhnya kamu meninggalkan-Nya
Bukankah Dia tidak pernah mengecewakanmu?
Ihat
Wednesday, January 10, 2024
![]() |
| Photo by Meruyert Gonullu |
Sepulang kerja, aku memutuskan untuk membeli fried chicken di depan komplek untuk menu makan malam.
"A mau beli yang dada, satu. Berapa?" kataku sopan sambil berusaha melihat harga yang terpampang di kaca roda.
"Ibu ini padahal udah sering beli masih aja nanya harganya berapa," kata si penjualnya dengan nada ketus membuatku mengerutkan kening. Agak lola emang aku pada saat itu. "Sebelas ribu," katanya lagi sambil menyerahkan ayam yang aku minta.
Sementara otaku masih berfikir keras. Sebegitu seringnyakah aku beli fried chicken ini? Sampai si penjual ini hafal banget sama muka aku? Batinku.
Aku menyerahkan uangnya tanpa berkata apapun kemudian balik kanan untuk pulang dengan fikiran yang masih bekerja keras, sesering itukah aku?
Kemudian aku ingat, kalau seringkan berarti hampir setiap hari ya? Lha aku kan kalau beli paling satu bulan sekali, gak tiap minggu juga apalagi tiap hari?
Tiba-tiba rasa kesal itu muncul dalam hati.
"Emangnya kerjaan aku ngafalin harga ayam itu?"
"Emangnya tiap beli aku akan terus ingat harganya berapa? Ya kalau dia jualannya cuma satu item aku juga bakal ingat harganya kali!"
Perjalanan pulang ke kosan penuh dengan pertikaian batin. Beruntung aku lola dalam mengartikan ucapannya tadi. Gak kebayang kalau aku 'ngeh' pada saat itu bisa-bisa adu mulut.
Hingga akhirnya akupun malas kalau harus beli lagi ke sana. Mana jutek, nge gas lagi ngomongnya. Huhuuu.
Sesampainya di kosan, aku menarik nafas panjang. Belajar untuk merefleksi diri atas apa yang terjadi. Memposisikan diri sebagai pedagang membuat aku tersadar bahwa sebagai penjual atau pedagang harus ramah dalam melayani pembeli. Jangan sampai hal-hal yang seharusnya tidak perlu dikomentari malah dikomentari. Perkara harga kan tidak setiap orang bisa mengingatnya dengan baik. Mana aku gak sering banget belinya. Kalau tiap hari beli ya wajar dikomentari begitu. Pengen sumpah serampah tapi ya sudahlah.
Kapok deh jadinya gak mau beli lagi ke sana.
Aku jadi inget sama Ibu yang suka jualan seblak, nah kalau ke si ibu yang satu ini aku kehitung sering jajannya dibanding ke yang jualan chicken itu. Tiap mau bayar aku selalu memastikan bahwa harganya segitu.
"Bu, tiga belas ribu kan ya?"
"Iya betul Teh, tiga belas ribu aja."
Sering sekali aku berkata seperti itu tiap kali beli. Tapi si Ibu gak pernah marah-marah tuh, menanggapinya dengan santai dan rumah.
Ya sorry aja aku bandingkan. Lagi pula perlu banget menjaga attitude di depan pelanggan. Bayangin aja kalu ada di posisi aku gimana? Heuhh!
Monday, January 08, 2024
![]() |
| Photo by Evie Shaffer |
Sudahlah beberapa hari ini Bandung diguyur hujan, ditambah perasaan aku tak karuan. Antara ingin marah, tapi kepada siapa aku marah? Merasa kecewa, lantas harapan apa yang pernah ku buat? Ingin menangis, tapi aku bingung hal apa yang bisa membuatku menangis?
Rasanya tawaku hanya topeng belaka. Menutup rasa kekacauan yang mungkin orang lain tak bisa melihatnya. Sampai pada suatu hari, aku ketahuan sedang melamun di tengah-tengah keramaian. Dipanggil pun aku tak menyahut, hingga entah panggilan ke berapa baru aku bisa sadar dan menoleh.
Keesokannya sungguh, perasaan aku semakin kacau. Akupun bingung dengan perasaan ini. Perasaan yang sudah kuterima tetapi aku kebingungan sendiri karena aku sungguh tidak mengenalnya. Sampai pertanyaan itupun terlontar dari rekan kerjaku,
"Kamu gimana kabarnya?"
Pertanyaan umum tapi justru malah membuat aku tersentak mendengarnya. Cukup beberapa detik untuk aku bisa mencerna pertanyaannya itu.
"Alhamdulillah baik." Jawabku pendek sembari memalingkah wajah.
"Akhir-akhir ini sepertinya kamu banyak murungnya. Tidak seperti biasanya."
Cukup membuatku lebih tersentak lagi dengan pengakuannya itu. Sekilas aku melihat wajahnya, aku jawab dengan seadanya sambil menundukkan wajah.
"Ah, enggak. Biasa aja kok."
"Yakin baik-baik aja?"
"Iya, baik." Jawabku tetap menunduk lantas menjauh dari rekan kerjaku itu dan mengalihkan pembicaraan dengan topik lain.
Aku terus mencari-cari alasan atas perasaanku yang berkecamuk ini.
Ada apa ya? Ingin memaki, tapi siapa dan apa yang bisa aku maki? Berkali-kali malam datang dan aku menangis tetap saja perasaan ini masih saja menetap dan enggan memberiku jawabannya.
Terkadang aku menerka-nerka. Apa jangan-jangan karena janji yang pernah dibuat lantas diingkari bahkan dilupakan begitu saja?
Apa iya itu?
Kalaupun iya berarti aku sudah salah kembali dalam menaruh harap.
Harapan yang seharusnya aku sandarkan kepada sang Maha Pencipta bukan kepada ciptaan-Nya.
Wednesday, January 03, 2024
![]() |
| Photo by Ylanite Koppens |

.jpg)



Social Media
Search