Sunday, November 10, 2024
![]() |
| Photo by Scott Webb |
Monday, November 04, 2024
![]() |
| Photo by Pixabay |
Di mulai dari Senin yang lalu, Allah kasih kesempatan untuk aku bisa mengobrol dan berbagi ilmu dengan guru dari Thailand pada saat mereka melakukan kunjungan ke sekolah tempat aku bekerja. Saling bertukar nomor handphone dan juga kalau pergi ke Thailand jangan lupa hubungi mereka.
Sambung hari selanjutnya yang rasanya berat sekali, entah mengapa. Disusul dengan pengajuan resign ku secara lisan sebelum nanti form lanjut atau tidak resmi dikeluarkan. Rasanya setelah menyampaikan pengajuan itu hati ini menjadi lebih tenang. Kenapa ya?
Tidak ada rencana tiba-tiba diajak menjenguk teman yang sedang dirawat di RSHS. Sempat kesal karena harus menunggu teman yang salah arah, namun pada akhirnya malah jadi bahan tawa bersama. Makan cuanki di pinggir jalan Masjid Pusdai, rasanya menyenangkan dan mampu melepas penat pekerjaan.
Tanpa rencana kembali keesokan harinya begitu hendak pulang, aku diajak untuk makan Mie Aceh bersama dengan genk yang baru saja terbentuk. Sambil makan, pada akhirnya kami mengutarakan rencana kami ke depan. Dan lucunya, salah satu temanku berkata,
"Baru juga terbentuk udah bubar lagi."
Yah, namanya hidup kadang tak sesuai dengan rencana.
Lalu karena merasa sesak sekali entah mengapa, aku pada akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Rencananya tadinya aku akan menghadiri dulu acara International Education Fair di Pullman Hotel sayangnya ojeg online yang aku pesan tak ada satu pun yang bisa mengantar. Waktu terus berjalan ditambah hujan, rasanya tak mungkin aku bisa hadir di acara yang aku tunggu-tunggu itu mengingat aku juga akan pulang ke Tasik. Dengan berat hati, aku membatalkan rencana tersebut dan langsung mencari tiket pulang agar bisa sampai lebih pagi di sana. Qadarullah, hujan lebat, ditambah si drivernya telat sampai, jalanan yang super duper macet, sampai akhirnya aku harus merelakan tiket kereta eksekutif seharga 120 ribu melayang hangus karena aku tak bisa sampai di stasiun sebelum kereta itu berangkat. Sepanjang perjalanan aku sudah mencoba untuk menenangkan diri, tapi ya gimana? Pada akhirnya aku tak bisa membendung air mataku karena aku sudah pasti akan kehilangan 120 ribu itu sia-sia. Huhuu. Kemudian aku menyeka air mataku, berfikir.
Bukannya dari kemarin-kemarin kamu minta nangis ya? Karena saking udah lelah dan merasa kecewa sulit untuk kamu bisa menangis? Hari ini Allah izinkan kamu menangis dengan perantara drivernya telat, jalanan macet, dan kamu harus kehilangan tiket eksekutif kamu seharga 120 ribu lalu kamu bisa menangis?
Meski harus menunggu kereta selanjutnya selama 2 jam. Kalau kamu tanya kenapa gak direscedule aja? Gak bisa, karena rescedule cuma bisa di atas dari 2 jam sebelum pemberangkatan. Kalau udah 2 jam sebelum pemberangkatan udah gak bisa diotak-atik lagi tiketnya.
Pulang ke rumah dengan perasaan senang dan bahagia, meski keesokannya disuguhi pekerjaan yang banyak sampai harus begadang. Tapi kenapa ya rasanya ya seneng aja gitu, sambil bantu orang tua sambil cerita nostalgia juga. Keesokannya sebelum aku pergi kembali ke Bandung, Mamah seperti merasa bersalah karena sudah mempekerjakan aku, padahal itu adalah kemauan aku sendiri. Mamah bilang harusnya kan ke sini buat istirhat, ini malah disuruh kerja, maafin ya.
Hmm.. Rasanya kenapa ya nyes gitu.
Setelah selesai pekerjaan itu, Mamah langsung pergi buat beliin bubur karena Mamah tahu aku doyan makan bubur. Lalu ribut buat bikinin aku puding biar bisa dibawa pulang padahal aku tahu Mamah itu lagi capek banget. Nawarin aku banyak banget buat dibawa bekal, tapi aku menolak. Gak mau ngerepotin.
Terakhir, sewaktu aku pamit salaman buat berangkat lagi, Mamah berbisik seraya tersenyum,
"Sehat ya, maafin karena kamu malah bekerja di sini bantuin Mamah bukannya istirahat. Semoga dimudahkan jalan buat ketemu jodohnya."
"Aamiin.." Kataku.
Huft, aku tahu banget rasanya tahun ini adalah tahun-tahun terberat aku dalam menjalani hidup. Aku sempat frustasi dan terkadang masih menemui hari di mana hari-hari itu terasa gelap dan tak bermakna sama sekali. Tapi dari semua ujian yang Allah berikan pada aku saat ini, justru support dan kehadiran orang tualah yang membuat aku sanggup untuk bertahan dan melalui semua ini meski berat sekali pada saat melaluinya.
Sungguh, aku butuh jeda sesaat dari hiruk pikuk dunia ini. Fikiranku kusut, hatiku kacau balau, perasaanku sudah mulai mati, dan ya mungkin fase ini harus aku jalani sebelum aku bertemu dengan jalan yang lebih luas dan panjang lagi.
Tahu tulisan ini tidak terarah, hanya saja aku ingin mengucapkan terima kasih untuk diri ini yang mampu melewati hari demi harinya dengan baik meski banyak mengeluh jika malam tiba,
"Ya Allah, aku capek. Capek. Tapi mati juga gak bikin masalah selesai, karena di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan amalan yang sudah dikerjakan di dunia."
Hi, semangat! Terima kasih sudah bertahan dan tetap berjalan meski sambil misuh-misuh, nangis-nangis. Nikmati aja ya :)
Love,
Ihat
Sunday, October 27, 2024
![]() |
| Photo by cottonbro studio |
Seminggu ini cukup melelahkan. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Ketidaknyamanan yang sedang aku hadapi saat ini rupanya mengajarkan aku untuk lebih tangguh dan lebih kuat lagi.
"Gimana kabarnya? Udah sehat?"
"Alhamdulillah sehat."
"Bener-bener udah sehat? Sehat full?"
"Iya."
"Ah, enggak. Kamu itu sebenarnya sakit. Kita bisa lihat kalau kamu itu sedang tidak baik-baik saja."
"Udahlah, jangan bahas itu." Jawabku. "Iya aku tahu, aku lagi gak baik-baik aja. Sekarat malah. Hahahaaa.."
Pada akhirnya situasi apapun ya mau gak mau harus dihadapi bukan?
Aku bersyukur karena di minggu ini di balik kenyataan pahit yang harus aku jalani, aku masih punya teman-teman yang support, yang setia sama aku. Meskipun dengan hal-hal kecil, tapi itu mampu membuat aku kembali semangat lagi dan tak kehilangan harapan.
Tiba-tiba harus menemani kegiatan siswa keluar, mendapatkan perspektif baru bahwa ya dicoba aja dulu, gak perlu harus nunggu sempurna. Semuanya kan proses pembelajaran.
Mulai belajar tenang saat menghadapi hal-hal yang memang di luar kendali.
Mulai belajar untuk tidak show off di depan orang yang tinggi hati, merasa serba tahu. Tersenyum tipis dan pura-pura bodoh ternyata menyenangkan juga ya. Kalau dulu biasanya aku tuh gak mau kalah, pasti aku akan menyampaikan hal lain lagi karena ya gak mau kalah saing itu. Kalau sekarang ya angguk-angguk, tersenyum tipis. Habis itu kalau obrolannya udah bukan urusan kerjaan lagi aku memilih untuk pergi, mengurusi urusanku sendiri.
Aku juga mau ngucapin terima kasih sama diri sendiri, terima kasih karena kamu sudah bisa berani sendiri, keluar dari circle yang memang kamu tidak nyaman di sana. Sudah bisa menolak secara halus dan tegas. Udah mulai gak sakit hati lagi kalau diabaikan, atau diajak paling terakhir :D
Makasih karena kamu udah mulai bodo amat sama lingkungan yang memang mentreat kamu selalu menjadi the last one. Kalau dulu masih kefikiran, sakit hati karena gak diajak, atau terpaksa ikut karena diajak paling terakhir kemudian di sana kamu malah dikacangin. Kalau sekarang ya, mohon maaf. Diajak gak diajakin, I don't care. I can do it by myself. Diajakin terakhir? Wah udah langsung reject.
Kalau bukan diri kita sendiri yang menghargai, lantas siapa lagi?
Terima kasih yaa sudah mulai berubah sedikit sedikit dan menetapkan boundaries. Mulai belajar berfikir tenang dan mengambil jeda sejenak sebelum mengambil keputusan, berani menolak, dan ngobrol seperlunya aja.
Fighting!
Tenang, gak akan lama lagi kok :)
Cheers
Ihat
Wednesday, October 23, 2024
![]() |
| Photo by Tara Winstead |
Can we skip to the good part? -The Good Part, AJR-
Gak bisa, gak bisa. Kamu harus hadapi itu satu persatu-satu.
Cuma bisa menghela nafas, tersenyum getir, tertawa hambar, mau nangis sulit, mau teriak nanti disangka kek orang yang kesurupan. Mau guling-guling nanti disangka orang gila. Ya Allah, kamu tahu momen seperti ya betul mau tidak mau harus kamu hadapi, nikmati, dan gimana lagi ya? Intinya jangan nyerah lah.
Gak nyaman dengan situasi saat ini, tapi Allah sudah menempatkan kamu sejauh ini bukan tanpa alasan. Gak ada di dunia ini yang Allah ciptakan dan ciptaannya itu sia-sia.
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Ali Imran: 191)
Lantas kamu saat ini masih terus bertanya-tanya,
Ya Allah kenapa ini begini?
Ya Allah kenapa ini begitu?
Kamu sibuk cari jawaban? Cari alasan kenapa semua harus terjadi? Sementara tugas kamu adalah mencari jalan keluarnya bukan mencari kenapanya. Ya iyalah gimana kamu gak pusing? Gimana kamu bisa nikmatin sekecil apapun nikmat yang udah Allah kasih, kalau kamunya aja masih belum bisa menerima kondisi kamu.
Tenang, semua yang terjadi gak perlu harus selalu dicari alasannya. Cukup diterima dan tak perlu difikirkan masa depannya seperti apa. Nanti kamu tiap malam overthinking atau anxiety kamu tambah parah. Lepaskan, biar Allah yang atur. Percaya pada setiap ketetapanNya untuk kamu bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini gak ada yang sia-sia.
Yuk, diperkuat lagi iman sama Allah nya, qada dan qadarNya. Tambahkan terus berdoa dan meminta pertolongan padaNya. Karena sejatinya dunia dan seisinya ini hanya milik Dia semata.
Lelah boleh, tapi menyerah jangan ya. Sekali-kali jangan.
Cukup jalani walau harus tertatih, gak apa-apa lambat asal selamat.
Selamat malam,
Ihat
Tuesday, October 22, 2024
![]() |
| Photo by Maria Geller |
Hari itu sebenarnya aku cuma ingin perjalanan tenang. Aku udah capek banget dan perjalanan kereta selalu jadi waktu terbaik untuk menyendiri, dengerin playlist, atau tidur selama perjalanan. Apalagi naik kereta eksekutif! Tapi semua rencana itu berantakan begitu aku sampai di gerbong.
Seseorang sudah duduk di kursi yang tertera pada tiketku.
"Permisi, maaf Ma.." kataku, hampir menyebut Mas sampai akhirnya aku terlalu cepat untuk menyadari bahwa orang itu... "Daffa? Daff? Ini kursi aku."
Aku mulai kesal. "Tapi ini kan kursi aku, pindah ih."
"Ya udah sih, santai aja. Kursi kan cuma kursi. Udah di sana aja duduk."
"Ih gak mau." Kataku kesal.
"Ini temen SMA, Kak." Lanjut dia nunjuk aku sambil menoleh ke samping ujung dekat jendela. Rupanya dia pergi bersama Kakaknya. Aku hanya menoleh sebentar kepada Kakaknya itu tanpa senyuman sedikitpun.
Aku mencoba menahan diri, tapi rasanya kayak semua energi buruk hari itu terkumpul di detik itu juga. Bukannya berdebat lebih jauh, aku langsung duduk di kursi sebelahnya—yang memang harusnya itu kursinya dia!






Social Media
Search