Wednesday, November 27, 2024
![]() |
| Photo by Vlad Bagacian |
Minggu lalu seperti biasa pulang pergi ke rumah itu aku pasti menggunakan kereta. Ketika berangkat aku bersyukur karena kereta yang aku pilih ternyata kereta yang sudah menggunakan rangkaian kereta api baru alias kereta new generation. Mana naik kelas eksekutif dan tentunya nyaman sekali.
Pulangnya aku memilih perjalanan sore dengan menggunakan kereta api ekonomi. Seperti biasa, tidak ada yang berbeda dengan pilihanku.
Sore itu ketika akan pulang ke tempat perantuan rasanya hati aku campur aduk lantaran kembali meninggalkan rumah dan harus menabung rindu untuk bertemu lagi di minggu-minggu selanjutnya. Diantar Bapak sampai stasiun dan begitu sampai stasiun, aku memesan iced cappucino; berharap diperjalanan aku bisa terjaga seraya memandang pemandangan lewat jendela. Karena tiket yang aku pesan itu dekat jendela.
Begitu sampai di gerbong, aku cukup menarik nafas panjang lantaran banyak sekali penumpang yang naik sampai-sampai bagasi atas pun habis. Terpaksa aku hanya bisa menyimpan koperku di dekat pintu gerbong. Begitu aku sampai di kursiku rupanya kursiku sudah ditempati oleh seorang anak seusia SD. Kursi itu muat untuk tiga orang. Bapak-bapak yang ada di sana pergi karena dia sadar itu bukan kursinya.
"Maaf saya di kursi 9A." Kataku.
"Oh iya, silahkan Teh."
Begitu Bapak itu pergi, sekali lagi aku bilang bahwa aku duduk di kursi A. Namun si Ibu tidak mengindahkan ucapanku. Mungkin ucapanku pelan. Akhirnya dengan berat hati aku duduk di kursi C. Si Ibu yang berada di tengah hanya duduk santai tidak peduli bahwa kursi yang ditempati anaknya itu adalah kursiku.
Berkali-kali pengumuman di kereta menyampaikan bahwa semua orang harus duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Sampai pada akhirnya kereta itu berhenti di Stasiun Cipeundeuy dan si Ibu beserta anak itu turun. Aku bergeser dan duduk di kursiku. Begitu mereka kembali lagi aku bilang dengan sopan,
"Maaf Bu, ini kursi saya."
"Oh gimana ya, anak saya pengen duduk di dekat jendela." Ucapnya tanpa merasa bersalah sementara si anak entah mendengarkan Ibunya berbicara atau tidak nampaknya biasa-biasa saja berdiri di belakang Ibunya.
Aku menarik nafas panjang mendengar jawaban si Ibu tersebut.
"Oh gitu ya." Jawabku pendek, malas berdebat dan aku kembali mundur ke kursi C lagi.
Lalu mereka kembali duduk seolah tak terjadi apa-apa.
Oh gini doang? Gak ada minta maaf atau bagaimana?
Uuh.. Perasaan aku kesal bukan main. Ingin berdebat, marah tapi sungguh aku tak berani. Mana di bawah kursi si anak banyak banget barang.
Fikiranku kacau selama perjalanan itu. Aku ingin protes, tapi masa harus berdebat hanya karena anak kecil? Gimana kata orang nanti?
Aku hanya memikirkan bagaimana reaksi orang-orang tanpa mempedulikan hakku untuk duduk di sana.
Aku terus menenangkan diri. Mencari hal positif lainnya.
Koper kamu kan ada di ujung sana. Mungkin duduk di dekat gang biar mempermudah kamu pas nanti kamu turun. Atau ya udahlah orang udik, gak tahu aturan. Ngapain mesti didebat.
Alangkah baiknya si Ibu itu tidak egois dan belajar untuk mendisiplinkan anak sedini mungkin. Jangan mentang-mentang status "anak" kemudian bisa seenak jidat ngambil alih hak orang lain di fasilitas umum. Emang sampai tua dia bakal terus berada di bawah perlindungan orang tua? Enggak! Anak juga harus belajar untuk menghargai dan menghormati hak orang lain. Kalau mau duduk di dekat jendela, tolonglah pas beli tiket pilih yang bener!
Dari hal ini aku belajar, bahwa aku pun sebagai orang dewasa berhak untuk menyampaikan dan memperjuangkan yang memang hakku. Dan juga sebagai reminder kalau aku punya anak nanti jangan sampai seenak jidat kayak ibu-ibu itu. Yang dengan entengnya bilang anaknya pengen duduk di sana tanpa diajari untuk izin dulu kepada yang berhak yang punya tempat duduk tersebut dan meminta maaf karena sudah mengambil tempat duduknya. Karena gak semua hal di dunia ini bisa kamu dapatkan sesuai dengan apa yang kamu mau. Itu poinnya. Apalagi udah jelas-jelas hak orang lain malah kamu ambil.
Selain itu, aku tidak perlu takut atas cibiran orang-orang. Yang penting sampaikan dengan baik dan santun. Karena omongan orang kan gak bisa kita kendalikan. Lagi pula pada saat itu aku takut atas fikiran aku sendiri.
Jika bertemu lagi dengan situasi itu, aku akan tegas bilang,
"Mohon maaf kursi saya di dekat jendela, silahkan bisa duduk sesuai kursi yang tertera pada tiket ya."
"Tapi anak saya duduknya ingin dekat dengan jendela."
"Mohon maaf Bu, saya jauh-jauh sudah pesan tiketnya yang memang duduk dengan jendela. Di kereta sendiri sudah ada aturannya untuk duduk sesuai dengan nomor yang tertera dengan tiket."
Kalau masig ngeyel?
Panggil Kondektur nya aja. Hahahahaaa.
Sampai pada akhirnya aku menemukan kata-kata di bukunya Haemin Sunim "Love for Imperfect Things: How to Accept Yourself in a World Striving for Perfection",
Be good to yourself first, then to other.
Why am I such an idiot, that I can't express my feelings properly, can't even speak up honestly?
Cukup sekian cerita yang membuat hati jengkel sepanjang jalan.
Semoga teman-teman bisa tegas pada diri sendiri dan juga orang lain ya :)
Cheers,
Ihat
Tuesday, November 12, 2024
![]() |
| Photo by Paweł L. |
Hallo Bapak,
Rasanya capek banget Pak, pengen nyerah iya. Tapi suka inget sama nasihat Bapak, sama ayat Qur'an yang suka Bapak bacain sama aku kalau aku udah mulai nyerah dengan ujian hidup.
"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. Al-Baqarah: 214)
Pak, makasih ya udah jadi Bapak yang baik buat aku, buat adek-adek juga. Terima kasih karena sudah mau berubah, udah bukan lagi pemarah kayak dulu.
Pak, segala bentakan dulu yang sering Bapak lakuin ke aku, dengan sepenuh hati aku sudah menerimanya dan ikhlas memaafkan. Termasuk pukulan yang pernah dilayangkan, ucapan yang tidak seharusnya disampaikan. Aku sudah memaafkan itu semua Pak.
Meski di tengah-tengah amarah Bapak dulu yang sangat sulit untuk bisa diredam, Bapak masih mau nganter aku ke sekolah dibonceng naik sepeda, diajak ke festival meski pada saat aku minta untuk dibelikan gimbot, Bapak bilang Bapak lagi gak punya uang, dan aku hanya bisa memegangnya kemudian menyimpannya kembali seraya bilang,
"Iya ya Pak, mahal."
Walau sungguh dalam hati aku ingin sekali memilikinya.
Pak maafin aku juga ya. Mungkin aku dulu bandel banget ya ditambah kerjaan Bapak yang dibayar gak seberapa tapi capeknya luar biasa. Terima kasih karena sudah memilih untuk tetap bertahan dari pada berpaling lalu meninggalkan.
Maafin aku yang dulu tak sengaja membandingkanmu dengan Bapak temanku yang lain. Aku jahat sih, tapi Bapak gak pernah marah dan hanya memilih diam jika aku sudah membicarakan Bapak temanku yang lain yang memiliki jabatan tinggi atau mampu membelikan apapun yang diminta anaknya.
Pak, maafin aku juga yang dulu marah sama Bapak karena aku yang keukeuh pengen kuliah tapi Bapak larang aku karena memang tidak ada uang sama sekali. Maafin aku yang sebetulnya itu membuat Bapak frustasi kan?
"Sebenarnya Bapak juga pengen nguliahin kamu, tapi Bapak bener tidak punya apa-apa. Kamu tahu? Dulu Bapak setiap malam suka nangis, kenapa Bapak gak bisa nguliahin anak Bapak sendiri?"
Atau ketika aku pada akhirnya memilih untuk bekerja sembari kuliah, membayar uang kuliah sendiri dan mampu membeli baju dengan uang sendiri, Bapak bilang,
"Maafin Bapak ya. Bapak gak bisa beliin baju buat kamu selama ini. Sampai akhirnya kamu harus kerja dan bisa beli sendiri baju kamu itu."
Atau ungkapan...
"Maafin Bapak ya, Bapak belum bisa bikin kamu bahagia. Semoga kamu mendapatkan suami yang baik, yang sayang sama kamu, yang gak main tangan..."
Bapak, I'm so proud of you. Meski pendidikanmu tidak setinggi orang lain, tapi menurutku Bapak justru lebih hebat.
Bapak yang rela antar jemput anaknya buat bimbingan skripsi, rela nungguin aku yang lagi bimbingan berjam-jam, nunggunya di masjid. Rela bongkar celengan karena cartridge yang aku beli itu salah sementara uang aku udah mulai habis dan harus nunggu dulu uang gajihan.
Atau setiap mau pulang ke rumah pasti suka ditanya,
"Mau dibeliin apa?"
"Mau dimasakin apa?"
"Mau dianter ke mana?"
Atau kalau aku yang udah anteng di perantauan pasti ditanya,
"Kapan pulang?"
"Gimana sehat?"
Yang rela ninggalin kerjaan rumah cuma buat dengerin aku curhat.
Yang cuma dengerin keluh-kesahnya aku tanpa disela ceritanya, tanpa disalahkan. Dibiarkan aku menangis sampai aku bisa tenang kembali.
Yang kalau aku udah mulai nyerah, Bapak justru cuma mendengarkan aja habis itu support biar aku bisa maju lagi. Atau Bapak suka bilang,
"Katanya mau ke luar negeri, tapi segini aja udah banyak ngeluh."
Terima kasih ya, Pak.
Terima kasih udah jadi sosok yang hangat dan perhatian.
Terima kasih karena selalu menomor satukan kami semua.
Terima kasih karena pernah merelakan untuk tidak jualan demi mengantar aku interview kerja di luar kota setelah aku mengalami sakit parah.
Kalau kata Bapak,
"Uang bisa dicari lagi, tapi waktu tak bisa diputar kembali."
Love you endlessly,
Ihat
Sunday, November 10, 2024
![]() |
| Photo by Scott Webb |
Monday, November 04, 2024
![]() |
| Photo by Pixabay |
Di mulai dari Senin yang lalu, Allah kasih kesempatan untuk aku bisa mengobrol dan berbagi ilmu dengan guru dari Thailand pada saat mereka melakukan kunjungan ke sekolah tempat aku bekerja. Saling bertukar nomor handphone dan juga kalau pergi ke Thailand jangan lupa hubungi mereka.
Sambung hari selanjutnya yang rasanya berat sekali, entah mengapa. Disusul dengan pengajuan resign ku secara lisan sebelum nanti form lanjut atau tidak resmi dikeluarkan. Rasanya setelah menyampaikan pengajuan itu hati ini menjadi lebih tenang. Kenapa ya?
Tidak ada rencana tiba-tiba diajak menjenguk teman yang sedang dirawat di RSHS. Sempat kesal karena harus menunggu teman yang salah arah, namun pada akhirnya malah jadi bahan tawa bersama. Makan cuanki di pinggir jalan Masjid Pusdai, rasanya menyenangkan dan mampu melepas penat pekerjaan.
Tanpa rencana kembali keesokan harinya begitu hendak pulang, aku diajak untuk makan Mie Aceh bersama dengan genk yang baru saja terbentuk. Sambil makan, pada akhirnya kami mengutarakan rencana kami ke depan. Dan lucunya, salah satu temanku berkata,
"Baru juga terbentuk udah bubar lagi."
Yah, namanya hidup kadang tak sesuai dengan rencana.
Lalu karena merasa sesak sekali entah mengapa, aku pada akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Rencananya tadinya aku akan menghadiri dulu acara International Education Fair di Pullman Hotel sayangnya ojeg online yang aku pesan tak ada satu pun yang bisa mengantar. Waktu terus berjalan ditambah hujan, rasanya tak mungkin aku bisa hadir di acara yang aku tunggu-tunggu itu mengingat aku juga akan pulang ke Tasik. Dengan berat hati, aku membatalkan rencana tersebut dan langsung mencari tiket pulang agar bisa sampai lebih pagi di sana. Qadarullah, hujan lebat, ditambah si drivernya telat sampai, jalanan yang super duper macet, sampai akhirnya aku harus merelakan tiket kereta eksekutif seharga 120 ribu melayang hangus karena aku tak bisa sampai di stasiun sebelum kereta itu berangkat. Sepanjang perjalanan aku sudah mencoba untuk menenangkan diri, tapi ya gimana? Pada akhirnya aku tak bisa membendung air mataku karena aku sudah pasti akan kehilangan 120 ribu itu sia-sia. Huhuu. Kemudian aku menyeka air mataku, berfikir.
Bukannya dari kemarin-kemarin kamu minta nangis ya? Karena saking udah lelah dan merasa kecewa sulit untuk kamu bisa menangis? Hari ini Allah izinkan kamu menangis dengan perantara drivernya telat, jalanan macet, dan kamu harus kehilangan tiket eksekutif kamu seharga 120 ribu lalu kamu bisa menangis?
Meski harus menunggu kereta selanjutnya selama 2 jam. Kalau kamu tanya kenapa gak direscedule aja? Gak bisa, karena rescedule cuma bisa di atas dari 2 jam sebelum pemberangkatan. Kalau udah 2 jam sebelum pemberangkatan udah gak bisa diotak-atik lagi tiketnya.
Pulang ke rumah dengan perasaan senang dan bahagia, meski keesokannya disuguhi pekerjaan yang banyak sampai harus begadang. Tapi kenapa ya rasanya ya seneng aja gitu, sambil bantu orang tua sambil cerita nostalgia juga. Keesokannya sebelum aku pergi kembali ke Bandung, Mamah seperti merasa bersalah karena sudah mempekerjakan aku, padahal itu adalah kemauan aku sendiri. Mamah bilang harusnya kan ke sini buat istirhat, ini malah disuruh kerja, maafin ya.
Hmm.. Rasanya kenapa ya nyes gitu.
Setelah selesai pekerjaan itu, Mamah langsung pergi buat beliin bubur karena Mamah tahu aku doyan makan bubur. Lalu ribut buat bikinin aku puding biar bisa dibawa pulang padahal aku tahu Mamah itu lagi capek banget. Nawarin aku banyak banget buat dibawa bekal, tapi aku menolak. Gak mau ngerepotin.
Terakhir, sewaktu aku pamit salaman buat berangkat lagi, Mamah berbisik seraya tersenyum,
"Sehat ya, maafin karena kamu malah bekerja di sini bantuin Mamah bukannya istirahat. Semoga dimudahkan jalan buat ketemu jodohnya."
"Aamiin.." Kataku.
Huft, aku tahu banget rasanya tahun ini adalah tahun-tahun terberat aku dalam menjalani hidup. Aku sempat frustasi dan terkadang masih menemui hari di mana hari-hari itu terasa gelap dan tak bermakna sama sekali. Tapi dari semua ujian yang Allah berikan pada aku saat ini, justru support dan kehadiran orang tualah yang membuat aku sanggup untuk bertahan dan melalui semua ini meski berat sekali pada saat melaluinya.
Sungguh, aku butuh jeda sesaat dari hiruk pikuk dunia ini. Fikiranku kusut, hatiku kacau balau, perasaanku sudah mulai mati, dan ya mungkin fase ini harus aku jalani sebelum aku bertemu dengan jalan yang lebih luas dan panjang lagi.
Tahu tulisan ini tidak terarah, hanya saja aku ingin mengucapkan terima kasih untuk diri ini yang mampu melewati hari demi harinya dengan baik meski banyak mengeluh jika malam tiba,
"Ya Allah, aku capek. Capek. Tapi mati juga gak bikin masalah selesai, karena di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan amalan yang sudah dikerjakan di dunia."
Hi, semangat! Terima kasih sudah bertahan dan tetap berjalan meski sambil misuh-misuh, nangis-nangis. Nikmati aja ya :)
Love,
Ihat
Sunday, October 27, 2024
![]() |
| Photo by cottonbro studio |
Seminggu ini cukup melelahkan. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Ketidaknyamanan yang sedang aku hadapi saat ini rupanya mengajarkan aku untuk lebih tangguh dan lebih kuat lagi.
"Gimana kabarnya? Udah sehat?"
"Alhamdulillah sehat."
"Bener-bener udah sehat? Sehat full?"
"Iya."
"Ah, enggak. Kamu itu sebenarnya sakit. Kita bisa lihat kalau kamu itu sedang tidak baik-baik saja."
"Udahlah, jangan bahas itu." Jawabku. "Iya aku tahu, aku lagi gak baik-baik aja. Sekarat malah. Hahahaaa.."
Pada akhirnya situasi apapun ya mau gak mau harus dihadapi bukan?
Aku bersyukur karena di minggu ini di balik kenyataan pahit yang harus aku jalani, aku masih punya teman-teman yang support, yang setia sama aku. Meskipun dengan hal-hal kecil, tapi itu mampu membuat aku kembali semangat lagi dan tak kehilangan harapan.
Tiba-tiba harus menemani kegiatan siswa keluar, mendapatkan perspektif baru bahwa ya dicoba aja dulu, gak perlu harus nunggu sempurna. Semuanya kan proses pembelajaran.
Mulai belajar tenang saat menghadapi hal-hal yang memang di luar kendali.
Mulai belajar untuk tidak show off di depan orang yang tinggi hati, merasa serba tahu. Tersenyum tipis dan pura-pura bodoh ternyata menyenangkan juga ya. Kalau dulu biasanya aku tuh gak mau kalah, pasti aku akan menyampaikan hal lain lagi karena ya gak mau kalah saing itu. Kalau sekarang ya angguk-angguk, tersenyum tipis. Habis itu kalau obrolannya udah bukan urusan kerjaan lagi aku memilih untuk pergi, mengurusi urusanku sendiri.
Aku juga mau ngucapin terima kasih sama diri sendiri, terima kasih karena kamu sudah bisa berani sendiri, keluar dari circle yang memang kamu tidak nyaman di sana. Sudah bisa menolak secara halus dan tegas. Udah mulai gak sakit hati lagi kalau diabaikan, atau diajak paling terakhir :D
Makasih karena kamu udah mulai bodo amat sama lingkungan yang memang mentreat kamu selalu menjadi the last one. Kalau dulu masih kefikiran, sakit hati karena gak diajak, atau terpaksa ikut karena diajak paling terakhir kemudian di sana kamu malah dikacangin. Kalau sekarang ya, mohon maaf. Diajak gak diajakin, I don't care. I can do it by myself. Diajakin terakhir? Wah udah langsung reject.
Kalau bukan diri kita sendiri yang menghargai, lantas siapa lagi?
Terima kasih yaa sudah mulai berubah sedikit sedikit dan menetapkan boundaries. Mulai belajar berfikir tenang dan mengambil jeda sejenak sebelum mengambil keputusan, berani menolak, dan ngobrol seperlunya aja.
Fighting!
Tenang, gak akan lama lagi kok :)
Cheers
Ihat






Social Media
Search