Saturday, April 05, 2025
![]() |
| Photo by RDNE Stock project |
Selamat berlebaran untuk teman-teman semua yang merayakan! Tak ada yang lebih membahagiakan dari lebaran tahun ini selain diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga tercinta. Alhamdulillah, Allah masih memberikan nikmat ini dengan kondisi anggota keluarga yang masih utuh.
Seperti biasa, selepas salat Ied, kami akan berkumpul di ruang tengah lalu saling memohon maaf. Mungkin karena merantau, aku merasa dosaku sangat sedikit kepada orang tua, hehee. Berbeda saat aku masih tinggal di rumah, rasanya dosaku menggunung setiap kali Idulfitri datang. Sayangnya, selama liburan menjelang lebaran ini aku harus jatuh sakit. Tapi ada satu kalimat yang menghangatkan hatiku - saat Mamah memelukku dan berkata;
"Jangan sakit aja ya. Yang kuat, harus semangat!"
Aku hanya mengangguk pelan.
Setelah selesai bermaaf-maafan di rumah, kami pun pergi ke rumah saudara. Duduk melingkar di ruang tamu dengan kue yang berjajar rapi di meja. Setelah saling memaafkan, seperti biasa, obrolan pun mengalir. Dan kali ini, topik hangatnya adalah soal menjadi ASN. Berhubung adikku lolos CPNS, seluruh keluarga langsung antusias bertanya ini-itu, seolah dengan menjadi CPNS, kamu tidak perlu lagi merisaukan soal rezeki.
Lucu sih, ternyata status pekerjaan tertentu masih dianggap puncak keberhasilan dalam pertemuan keluarga. Seolah pencapaian hidup hanya valid jika ada embel-embel gelar, status, atau jabatan.
Di tengah keramaian itu, diam-diam aku memperhatikan wajah kedua orang tuaku. Mereka tak pernah menuntutku untuk menjadi ini-itu. Tak pernah memaksa ataupun membandingkan. Mereka bahkan selalu mendukung apapun pilihanku, asalkan aku bertanggungjawab. Begitupun dengan adikku. Dia tidak merasa lebih tinggi dariku. Dia masih menghormatiku, bahkan tak pernah sedikit pun memintaku untuk mengikuti jejak keberhasilannya.
Lalu giliran aku yang ditanya. Semua hanya terdiam, tak banyak lagi bertanya saat aku bilang bahwa aku akan resign dari pekerjaanku saat ini. Aku tahu, ada beberapa mata yang menyayangkan keputusanku. Tapi aku tak membutuhkan validasi itu. Aku hanya ingin mendengar diriku sendiri. Karena hanya aku yang merasakan, hanya aku yang memperjuangkan, bukan mereka.
Malam pun tiba. Aku, Mamah dan adikku yang bungsu pergi keluar rumah, sekedar mencari angin. Aku berkata kepada Mamah bahwa obrolan di rumah saudara tadi terasa sekali: kamu akan lebih dihargai jika kamu memiliki pencapaian. Lalu Mamah bilang begini,
"Jangan iri dengan pencapaian adikmu."
"Aku gak iri, Mah. Cuma... beda saja perlakuannya. Aku justru bersyukur dia bisa lolos CPNS di usia muda. Dia punya tanggungjawab yang lebih besar dari aku. Dia akan jadi suami yang harus menafkahi istri dan anak-anaknya kelak."
"Iya. Adikmu juga pernah bilang, katanya kasian kalau lihat Teteh. Hidup dan pekerjaannya harus terus berjuang keras. Makannya, adikmu nggak sampai hati bilang dia lulus CPNS ke kamu."
Aku terdiam. Rasanya menyesak di dada. Aku berpikir, jika aku yang mendapatkan kesempatan itu, mungkin aku akan bilang kepada adikku dan memintanya untuk mengikuti jejakku. Biasanya seperti itu, bukan? Jika anak pertama berhasil, maka orang tua akan berharap adik-adiknya mengikuti jejak kakaknya. Tapi aku bersyukur, itu bukan aku. Aku bersyukur itu adikku yang mendapatkannya. Sehingga, orang tuaku pun sadar bahwa meskipun satu keturunan, perkara rezeki tidak bisa dipukul sama rata.
"Inshallah, nanti juga kamu akan bertemu dengan kesuksesanmu sendiri. Mamah titip, jangan menyerah. Dan juga jangan terlalu banyak dipikirkan. Jalanin saja."
Aku hanya mengangguk sambil menahan air mata. Kini aku benar-benar merasa bahwa, ya, ini adalah rumah - tempat di mana kamu bisa kembali tanpa harus memiliki pencapaian apapun; tempat di mana kamu merasa bahwa cinta tak bersyarat itu nyata adanya.
Aku tak bisa memejamkan mata malam itu. Pikiranku kembali berisik. Lebaran kali ini mengajariku banyak hal. Entah bagaimana awalnya, aku malah menuliskan kalimat panjang kali lebar kepada temanku. Walau aku tahu, dia pasti sibuk dan akan lama membalasnya. Namun ternyata tak butuh waktu lama begitu pesan itu terkirim, dia langsung membalasnya.
Do you feel uncomfortable with your life now?
Aku berfikir sejenak walau dalam hati aku sudah berteriak; Yessss!
YESS!
What makes you happy? Experience or money?
Aku berpikir lebih lama lagi. Tentu uang, uang! Kenapa? Karena uang bisa membeli apa pun yang aku mau dan bisa memperlihatkan kepada mereka bahwa aku mampu dan berhasil! Dalam hati aku berteriak seperti itu.
Resah lebih tepatnya. Tapi aku gak mau menuhin ekspektasi orang karena itu bukan mau aku.
That's the answer. Kamu masih malu dengan pilihan yang kamu jalani. It is normal. I felt that too for long time. Makanya tadi aku nanya money atau experiences. Money itu buat bungkam mereka. Experiences itu buat bikin mereka gak nyaman juga dengan yang mereka pilih. Sejatinya mereka make sure aja kalau posisi mereka tuh aman dalam tatanan keluarga.
Aku hanya terdiam sembari menunggu dia menyelesaikan kalimat berikutnya.
See. Dunia tuh beputar. Gak ada satupun hal yang menjadi jaminan hidup enak. Mereka yang haha hihii hari ini bisa saja seminggu ke depan kena musibah. Bagi Allah mah ya membolak-balikan keuangan atau posisi seorang itu semudah menjatuhkan daun dari ranting pohonnya. Dan mudah juga bagi Allah menerbangkan daun ke langit-langit dengan tiupan angin dalam sekejap.
Aku kembali hanya menatap layar handphone, tak mampu membalas.
Dari kata warzukni aja harusnya yakin kalau rezeki kita udah tertakar sih.
Aku hanya mengirim emoticon menangis, membiarkan dia mengirimiku dengan pesan-pesannya.
Nah proses dalam hidup inilah yang kita lalui akan menentukan kita akan menjadi seperti apa. Makannya aku tadi mention experiences. Karena dipertemukan dengan orang-orang baik itu sebuah privilege yang nyata.
Kalau kata profesorku: kebaikan-kebaikan yang kita lakukan akan kembali di saat yang tepat.
Dua profesorku selalu bilang, "you deserve it." Dan yap, kita butuh waktu sampai kita "pantas" mendapatkannya.
Semoga ceramah ini bisa sedikit menenangkan :D
Air mataku tumpah tak tertahankan. Aku membiarkan pesan itu terbuka, sampai akhirnya aku menepuk-nepuk pundakku sendiri. Sambil berbisik pelan:
Tak ada yang perlu disesali. Kamu saat ini adalah bentuk dari pengalaman-penglaman yang sudah kamu lalui. Tak perlu merasa kecil. Ingat keluargamu bahkan adikmu sendiri tak pernah membandingkanmu, kan? Jangan terusik oleh obrolan orang lain yang bisa merusak tenangnya air dalam lautan.
Rupanya, pertanyaan lebaran tak berhenti sampai di sana. Pertanyaan lain pun datang.
"Sama orang mana sekarang?"
"Wah sudah punya calon ya?"
Aku hanya bisa tersenyum seraya berkata, "Doakan saja."
Aku masih sendiri. Belum ada pasangan yang bisa aku ajak pulang dan dikenalkan kepada keluarga. Tapi anehnya, aku tak merasa kosong. Masih ada hal yang bisa aku syukuri. Aku masih memiliki Bapak dan Mamah yang sehat, adik-adik yang kadang menyebalkan tapi selalu membantu, keluarga yang utuh dan tawa hangat yang mengisi ruang-ruang rumah kecil ini.
Meski begitu, jujur sih. Ada sedikit ruang di hati yang merindukan sosok untuk aku bisa berbagi. Bukan karena tekanan lingkungan ataupun usia yang sudah semakin dewasa, tapi karena aku tahu betapa indahnya memiliki seseorang yang bisa diajak tumbuh dan pulang bersama.
Namun untuk saat ini, aku memilih untuk menikmati kebersamaan bersama Bapak dan Mamah dulu. Merekam sebanyak mungkin tawa dan cerita, sebelum waktu memisahkan kami semua. Karena siapa tahu, tahun depan, susunannya bisa berbeda.
Dan aku... Aku tetap berdoa. Semoga ketika waktunya tiba, aku bisa memperkenalkan seseorang yang juga tahu rasanya pulang. Bukan hanya ke rumah.. tetapi pulang kepada hati yang tak pernah menuntut untuk menjadi siapa-siapa, atau meraih apa-apa; cukup menjadi dirinya sendiri.
Love,
Ihat
Monday, March 17, 2025
![]() |
| Photo by Engin Akyurt |
Tak ada yang salah dengan kehadiranmu begitu pula dengan perasaanku untukmu.
Meski pada akhirnya, perasaan itu harus bertepuk sebelah tangan.
Semula, semuanya baik-baik saja. Kita pernah sebegitu dekatnya, seolah hanya berjarak sejauh bulan dari bumi. Tapi perlahan, aku merasakan sesuatu berubah. Kamu menjauh, samar-samar hingga hampir menghilang.
Janji-janji yang dulu biasanya ditepati, kini hanya menyisakan kata yang tak lagi berarti. Pesanku yang dulu selalu kamu balas di sela-sela kesibukanmu, kini dibiarkan menyisakan tanya. Aku memilih menghapusnya, bukan karena tak ingin berbicara, tapi karena akhirnya aku sadar; tak ada gunanya berbicara dengan seseorang yang sudah tak lagi peduli.
Panggilan yang dulu selalu kita nantikan, kini tak lagi ada. Kamu memilih untuk bilang sibuk, tapi nyatanya masih punya waktu untuk bersenang-senang dengan temanmu. Aku tak perlu mencari jawaban lagi. Satu hal yang aku terima: aku memang bukan prioritas dalam hidupmu.
Dulu, kamu sudah mengatakan itu sejak awal dan aku berfikir aku bisa menerimanya. Tapi kini, kamu benar-benar membuktikannya dan aku tak bisa berpura-pura lagi dengan dalih hanya sebatas teman.
Saat kamu mengatakan kamu melihat pesan yang aku hapus dan tanpa membalasnya, membuatku tak membutuhkan penjelasanmu lagi. Sikapmu sudah cukup menjelaskan segalanya bahwa kamu sudah tak peduli lagi denganku.
Jadi kali ini, aku benar-benar mundur.
Mundur.
Bukan untuk menarik perhatianmu, bukan untuk berharap kamu berubah, tapi untuk menyelematkan diriku sendiri. Aku lelah berharap, aku muak menunggu, dan aku kecewa karena terus mengalah. Aku tak ingin menyakiti diriku sendiri lebih dalam lagi.
Harapan yang dulu kupupuk kini telah gugur. Doa yang pernah kupanjatkan kini kutarik kembali. Aku tak ingin lagi memohon kepada Tuhan agar menjadikanmu teman hidupku. Sungguh, aku tak ingin.
Mari kembali asing dengan cerita masing-masing.
Biarkan cerita kita berakhir di sini.
Karena memperjuangkan seorang diri itu melelahkan.
Jangan cari aku lagi.
Seperti yang pernah kamu katakan, aku berhak mendapatkan yang lebih baik darimu.
Terima kasih sudah hadir. Kehadiranmu mengajariku satu hal penting: sebaik apapun seseorang, sesempurna apapun dia memenuhi kriteriamu, jika dia tidak memiliki niat untuk menetap, semuanya akan sia-sia.
Sekali lagi, berjuang sendirian itu melelahkan. Maka kali ini aku benar-benar melepaskan, tak perlu lagi digenggam.
Dan setelah ini, aku hanya akan benar-benar pasrah atas apapun yang Tuhan putuskan untukku, seraya terus belajar mencintai diri sendiri, dengan atau tanpa kehadiran orang lain.
Love,
Ihat
| doc. pribadi |
Bulan Ramadan kali ini bertepatan dengan bulan Maret dan tanpa terasa kita sudah berada di pertengahan bulan lagi. Padahal rasanya kayak kemarin tahun baru, eh ternyata sudah memasuki bulan ke 3 lagi.
| doc. pribadi |
| doc. pribadi |
Sunday, March 09, 2025
![]() |
| Photo by KATRIN BOLOVTSOVA |
Aku masih ingat dengan jelas. Semua berawal dari percakapan pertama kami di tahun 2023. Setelah sekian lama hanya berkomunikasi lewat chat, akhirnya kami memutuskan untuk berkomunikasi melalui telepon, lalu berlanjut ke video call. Ada satu pertanyaan darinya yang sampai sekarang terus terniang di kepalaku, saat aku bilang bahwa aku tinggal sendiri dan merantau, jauh dari keluarga.
"Kenapa kamu memutuskan untuk tinggal sendiri?”
"Kenapa kamu tidak tinggal dengan orang tua? Bukankah kamu seorang perempuan?”
“Bukankah lebih baik kamu tinggal bersama dengan orang tua karena kamu pun belum menikah?"
Awalnya, dia terdengar terkejut mendengar bahwa aku merantau. Terlebih, aku adalah seorang perempuan yang masih single - yang menurut agama, tanggung jawabku masih berada di bawah tanggung jawab orang tuaku. Namun, perlahan-lahan dia mulai memahami pilihanku, meski sesekali aku bisa merasakan kekhawatirannya.
Sampai suatu hari, beberapa bulan setelah ucapan itu entah mengapa hati kecilku terus memanggil-manggil untuk pulang ke rumah orang tua dan meninggalkan pekerjaanku di sini. Seperti ada suara di dalam diriku yang berkata,
“Sudah cukup, pulanglah.”
Awalnya aku mengabaikan suara-suara bising ini. Namun, lambat laun suara ini semakin kuat. Setiap kali aku pulang ke rumah rasanya rumah lebih hangat dan aku lebih bersemangat. Sebaliknya, setiap kali harus kembali ke tempat perantauan, aku justru merasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang menahanku untuk pergi.
Hingga akhirnya, aku mengambil keputusan besar: resign dari pekerjaanku. Ketika aku dipanggil kepala sekolah dan ditanya tentang alasanku, aku menjawab dengan jujur bahwa aku ingin kembali ke rumah orang tua. Beliau menanyakan apakah kedua orang tuaku sudah sangat sepuh sehingga tidak bisa ditinggal, atau apakah mereka memintaku untuk pulang. Aku menggeleng. Orang tuaku masih sehat, baik-baik saja, belum terlalu sepuh dan masih mandiri. Mereka bahkan tidak memaksaku untuk pulang. Mereka selalu mendukung apa pun keputusanku. Hanya saja aku ingin berada di samping mereka.
Tapi, ada hal yang selalu mengusik pikiranku. Setiap kali orang tuaku menelepon hanya untuk menanyakan hal-hal kecil - seperti masalah teknologi yang bisa diselesaikan dalam hitungan menit - aku merasa ada sesuatu yang kurang. Kenapa aku tidak bisa ada di samping mereka untuk membantu langsung? Kenapa aku harus jauh, padaha mereka ada di sini, menua setiap hari?
Kepala sekolahku memberikan saran jika alasanku hanya sebatas membantu mereka dalam hal-hal kecil seperti teknologi, bukankah itu masih bisa disiasati dengan meminta bantuan sanak saudara terdekat atau tetangga? Aku mengangguk, tetapi dalam hati aku tahu, orang tua akan selalu nyaman meminta bantuan kepada anaknya sendiri. Mereka mungkin tak pernah mengatakannya dengan gamblang, tapi aku bisa merasakannya.
Seiring berjalannya waktu, aku kira perasaan ini hanya muncul di awal-awal saja, ternyata tidak. Semakin mendekati hari terakhir masa kontrakku, keinginan aku untuk tinggal bersama orang tua semakin kuat. Walau beberapa orang justru menyayangkan keputusanku - karena gaji dan kesempatan di perantauan jauh lebih besar- aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tahu, kesempatan berkarier itu penting. Tapi waktu bersama orang tua? Itu sesuatu yang tak bisa diulang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Bukankah hidup itu adalah tentang memilih? Dan aku memilih untuk pulang. Aku memilih untuk berada di sisi mereka, menciptakan kenangan sebanyak mungkin sebelum waktu benar-benar memisahkan kami. Entah karena kematian, atau karena suatu hari aku akan menikah dan harus mengikuti suami.
Saat aku menyampaikan keputusan ini kepadanya, dia hanya tersenyum dan berkata bahwa dia mendukung sepenuhnya. “Aku lega kalau kamu pada akhirnya nanti tinggal kembali bersama orang tua. Itu lebih baik untuk kamu.”
Dari kejadian ini, aku berfikir. Mungkin, ini adalah cara Tuhan mengingatkanku akan hal-hal yang benar-benar berarti dalam hidup. Mungkin, ini adalah saatnya aku belajar bahwa kebahagiaan bukan selalu tentang pencapaian besar, tetapi tentang momen kecil yang penuh makna. Pulang bukan berarti mundur. Pulang adalah kembali ke akar, kembali ke tempat di mana aku benar-benar diterima, tanpa syarat, tanpa tuntutan.
“Kalau dirasa di perantauan sudah cukup membuatmu berat, pulanglah sejenak. Tidak apa-apa. Mamah dan Bapak dengan senang hati menerimanya, walau ya harus hidup seadanya.”
Dan di titik ini, akupun menyadari satu hal. Kadang, hidup memberikan pilihan yang sulit. Tapi yang terpenting bukanlah seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan, melainkan seberapa tulus hati kita dalam menjalaninya.
Wahai diri,
Terima kasih karena masih mau dan terus mau untuk belajar
Ingat, never stop learning, because life never stops teaching.
With love,
Ihat
Wednesday, February 19, 2025
![]() |
| Photo by Photo By: Kaboompics.com |
Well, there are so many things I want to share with you from last week - so many lessons I've learned. So, let's get started!
1. Hampir Ketinggalan Kereta
Mendadak diajak pergi ke kampung halaman, rempong di jalanan karena komunikasi kurang baik, dan hampir saja tertinggal kereta. One thing that I can learn from the situation: keep calm, don't panic. Justru karena panik, semuanya jadi berantakan dan banyak hal terlupa. Selain itu, penting juga untuk merencanakan perjalanan dengan matang dan melihat kegiatan sendiri. Jika hati kecilmu sebenarnya enggan pergi karena tubuh benar-benar butuh istirahat, lebih baik dengarkan apa kata hatimu. Karena akibat dari memaksakan diri, beberapa hari kemudian I got a fever and fatigue for three days. :(
2. Bersyukur atas Apa yang Dimiliki
Belajar mensyukuri apa yang ada daripada terus mempertanyakan apa yang belum kita miliki saat ini. Salah satu hal yang paling aku syukuri adalah masih memiliki orang tua yang kini semakin perhatian dan menyayangiku. Inner child dalam diriku pun bisa merasakannya. Mungkin itulah sebabnya, setiap kali pulang ke rumah, aku sering bertingkah seperti anak kecil yang masih butuh banyak kasih sayang.
3. Melepaskan yang Tak Jelas
Melepaskan sesuatu yang sejak awal saja sudah tidak jelas memang sulit dan menyakitkan. Tapi daripada terus menginvestasikan perasaan kepada seseorang yang tidak memiliki purpose yang sama, untuk apa? Masih banyak hal yang lebih penting untuk aku lakukan dan perjuangkan. Lebih baik fokus mengupgrade diri daripada bertahan pada sesuatu yang tidak sejalan. Dan aku bangga pada diriku sendiri karena bisa melepaskannya tanpa takut merasa kehilangan.
4. People Come and Go
Tahun lalu, menjelang Ramadan, aku sibuk dengan kegiatan volunteers di Tahura. Kini, orang-orang yang dulu berada dalam satu circle yang sama sudah berpencar mengikuti jalannya masing-masing. Dari sini, aku belajar bahwa setiap peluang yang datang harus dinikmati dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, karena bisa jadi kesempatan itu tidak akan datang lagi.
5. Making Mistake is Normal!
Yep! Saat mengikuti kelas volunteer, aku melihat guruku melakukan kesalahan dalam menyampaikan materi. Tapi beliau tetap tenang, tidak panik, dan melanjutkan dengan santai. Even as a teacher, of course. We are human. Dari situ aku belajar bahwa membuat kesalahan itu wajar. Justru dari kesalahanlah kita belajar dan bisa berhati-hati lagi ke depannya.
6. Tidak Semua Komentar Harus Ditanggapi
Dalam hidup, selalu ada orang yang mendukung dan ada juga yang tidak setuju dengan pilihan kita. Itu hal yang wajar. Tapi satu hal yang aku sadari, komentar orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita meresponsnya. Saat ini, aku merasa sudah mulai kebal terhadap komentar-komentar tentang pilihanku. Aku tahu mereka mungkin bermaksud baik, tapi yang menjalani hidup ini adalah aku. Aku tidak bisa menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada pendapat orang lain. Ini hidupku sendiri, dan aku berhak menentukan jalan hidupku, selama tetap dalam koridor agama dan norma yang ada.
7. Percaya pada Diri Sendiri
Aku mulai belajar untuk percaya pada diri sendiri, meskipun kadang masih muncul perasaan ragu. Memang sulit, tapi aku akan terus berusaha. Semangat!
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku sampaikan, tapi sepertinya cukup sampai di sini dulu. Semoga bisa menjadi pengingat, baik untukku maupun untuk kalian yang membaca ini. :)
Cheers,
Ihat




Social Media
Search