Monday, January 05, 2026

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau. 

Write about your most interesting day of the past year.

Interesting ya. Mungkin ini. Hari Jumat, 14 November 2025. Hari di mana untuk pertama kalinya aku didiagnosis depressive episode. Kaget? Sedih? Marah? Semua bercampur aduk. Gak nyangka akan mendapatkan ujian ini. Pantesan selama setahun kebelakang seperti ada yang aneh dengan diri aku. Ternyata pas diperiksa ya ini. 

Aku inget banget. Hari itu aku izin ke sekolah dengan alasan mau periksa gigi. Lama banget waktu di Puskesmas itu dan memang pada saat itu lagi banyak banget pasien yang berobat. Aku baru selesai di jam 11.15. Telefon masuk dari rekan kerjaku karena pada hari itu semua guru ikut ke sekolah lain untuk menghadiri acara PGRI. Aku berasalan bahwa aku masih berobat dan belum selesai. Jadi aku tidak akan menyusul. Setelah telefon ditutup, aku hanya memandangi surat rujukan yang berisi nama penyakit dan juga poli yang dituju. Poli Jiwa. 

Hari itu juga aku dirujuk langsung ke rumah sakit. Karena memang jadwalnya sudah penuh juga aku baru bisa ke rumah sakit di minggu depannya. Dan ya, akhirnya aku harus minum obat anti-depresan, mengatur pola hidup. Rasanya ya seperti mimpi. Gak pernah nyangka sih bakal mengalami ini. 

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

Are you early or nocturnal? Write the pros and cons of being one.

Kalau dikasih pertanyaan gini, sejujurnya aku bingung ya. Kadang malam banget, kadang bangun pagi banget. Tapi memang setelah dipikir-pikir, aku bisa on focus itu di jam 5 shubuh asalkan ada paparan cahaya layar mau laptop atau hp aku pasti on terus. Apalagi sekarang karena lagi berobat, aku sedang mengatur jam tidur ku yang sebelumnya kacau. Jam 8 udah harus minum obat, itu artinya aku harus sudah lepas semua gadget biar lebih mudah menuju alam tidurnya. Nah berhubung sekarang-sekarang lagi gak salat, aku jadi bangunnya siang. Ini juga lagi terus diperbaiki biar tetep bangun di jam setengah 5 lagi ya atau jam 4. Jadi pagi-paginya biar aku bisa olaharaga dulu. 

Kalau dulu zaman sekolah sih nocturnal ya. Nah pas kerja, jadi early gitu. Karena udah gak kuat banget kalau masih harus lanjutin kerjaan di malam hari. Alhasil setelah salat isya suka langsung tidur dan biar nanti selepas shubuh dilanjut. 

Kalau kamu gimana?

Sunday, January 04, 2026

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

What are the three most improtant things you cannot live without?

Waduh, harus nulis tiga nih. Mari kita berpikir keras dulu sebelum nulis tiga benda keramat ini. Hihii.

1. Radio

Ini udah nemenin dari zaman aku orok kali ya. Hahaha. Gak tahu gak bisa aja kalau gak ada radio. Hidup rasanya sepi dan salah satu sumber rasa happy aku berkurang kalau gak ada alat ini. Meski sekarang sudah ada aplikasi lain, tetep radio ya radio. Gak terganti.

2. HP

Iya mau gimanapun tetep ya butuh. Buat komunikasi, buat tetep bisa berkarya, buat dapetin informasi. Apalagi? Buat mengabadikan momen dengan kameranya, atau buat rekam momen penting tertentu. 

3. Internet

Iya zaman sekarang kalau gak ada internet gimana gitu ya. Ini penting banget sih buat aku. Kenapa? Ya buat share informasi kalau gak ada internet pakai apa dong? Buat tetep bisa eksis juga kan butuh internet ya? Ya gitu sih, ini penting banget pokoknya. 


Friday, January 02, 2026

Photo by Bekka Mongeau

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau. Dan sekarang kita sudah berada di hari kedua. Dan ini dia topiknya. 

Write about the things or activity that make you happy

1. Membaca

Gak tahu sih seneng aja baca. Berasa bisa mengistirahatkan pikiran dari riuhnya yang kadang sulit untuk bisa diajak diem. Melalui membaca juga aku jadi punya sudut pandang yang baru, ilmu baru, malah menurutku buku adalah teman aku juga. Atau terkadang saat aku tidak memahami apa yang aku rasa, aku akan mencari buku yang sesuai dengan apa yang aku butuhkan. Setelah membaca itu aku jadi bisa mengerti tentang apa yang aku rasa. Bukan hanya teman sih, tapi translator perasaan iya. Hehee. Pokoknya kalau kamu lagi suntuk, buntu gak tahu harus ngapain, daripada scroll sosial media gak jelas mending cari buku yang kamu suka dan mulai membaca. Dijami kamu akan anteng!

2. Mendengarkan Radio

Meski sekarang udah ada YouTube, Spotify atau aplikasi musik lainnya aku tetap setia dengerin radio. Karena gak tahu kenapa ya, seneng aja gitu. Dengerin penyiarnya ngobrol, dan yang paling seneng itu kalau udah diputerin lagu tanpa non-stop, suka cemas-cemas dan nebak-nebak habis ini lagu apa ya. Seneng aja gitu. Beda aja kalau denger di YouTube atau Spotify gak dapet tuh sensasi harap-harap cemas dan seneng pas lagu yang kita suka di play. 

3. Menulis

Tentunya! Gak tahu ya, dari zaman SD nulis di buku diary sampai sekarang walau kadang-kadang gak sesering dulu, seneng aja bawaannya. Bisa mengeluarkan semua uneg-uneg yang gak bisa tersampaikan dengan baik lewat lisan. Bisa sumpah serapah tanpa takut ada yang judge. Bisa sambil nangis kalau udah se emosional itu. Hahaha. Tapi ternyata itu terapi ya. Kalau udah kayak gitu, lega sudah rasanya. Biasanya nih ya, kalau udah otak penuh dan ngerasa kayak pengen meledak gitu, biasanya aku ambil laptop atau enggak pulpen sama kertas. Tulis aja apapun di sana, perasaan yang sedang aku rasakan. Gak apa-apa gak terstruktur juga, lompat-lompat ke sana - ke sini yang penting ini isi kepala yang kadang sulit dimengerti bisa diterjemahkan lewat kata. Habis itu ya lega sendiri. Gak tahu kenapa. Meski sekedar misal habis nulis beginian di blog, udahnya ya seneng aja. Aneh? Hahahaa. Pokoknya aku seneng sama menulis. Titik. 



Thursday, January 01, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: Alasan untuk Tetap Hidup (Reasons to Stay Alive)

Penulis: Matt Haig

Tahun Terbit: Cetakan ketiga: Oktober 2020

Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Blurb

Apa rasanya menjadi orang yang mengalami gangguan kecemasan atau depresi? Ada dorongan yang membanjiri perasaan dan pikiran mereka sampai-sampai tubuh fisiknya pun ikut sakit. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Matt Haig pernah berada di titik itu. Ia pernah mencoba bunuh diri di pinggir tebing ketika berusia 24 tahun. Serangan panik yang bertubi-tubi dan harapan yang tak lagi terlihat membuatnya berpikir bahwa mengakhiri segalanya adalah hal terbaik. Tetapi, pada langkah terakhir, ia berhenti dan mengurungkan niatnya.

Sampai sekarang, ia menjadi bukti bahwa gangguan kecemasan dan depresi bisa diatasi. Melalui buku inni, Matt Haig akan membagikan pengalamannya, mulai dari gejala depresi, rasanya mendapat serangan panik, hingga apa yang membuatnya bertahan hidup hingga hari ini. Kita akan menyelami apa yang para penderita depresi rasakan dan bagaimana cara membantu mereka (atau bahkan diri sendiri) menjadi lebih baik. 

Tiga Insight Utama

1. Ada sebuah fakta aneh tentang pikiran, yaitu Anda bisa saja memikirkan hal-hal yang sangat intens dalam benak Anda, tapi tidak seorang pun bisa melihatnya. (p. 12)

2. Depresi tidak selalu memiliki sebab yang jelas. Depresi bisa memengaruhi banyak orang - para jutawan, orang-orang berambut indah, orang-orang dengan kehidupan pernikahan yang bahagia, orang-orang yang baru saja naik jabatan, orang-orang yang bisa menari tap, melakukan trik kartu, dan main gitar, orang-orang yang pori-porinya kecil, orang-orang yang membanjiri unggahan status mereka dengan kebahagiaan - yang dari luar, kelihatannya tidak punya alasan untuk bersedih. 
Depresi itu misterius, bahkan bagi para penderitanya. (p. 17)

3. Dengarkan baik-baik. Kalau selama ini Anda percaya bahwa seseroang yang deprei ingin bahagia, Anda salah. Mereka sama sekali tidak peduli betapa menyenangkannya kebahagiaan. Mereka hanya ingin kepedihan mereka lenyap. Mereka ingin lari dari pikiran yang terbakar, saat semua isi benak menyala-nyala dan mengeluarkan asap bagai benda-benda peninggalan kuno yang dilalap api. (p. 20)

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini seperti sedang menerjemahkan perasaan yang sulit dipahami begitu depresi itu sendiri menyerang diri sendiri. Melalui buku ini, aku merasa tidak sendiri, seperti ada teman yang mampu memahami perasaan yang selama ini sulit untuk dimengerti. 

Buku ini juga mengingatkanku betapa pentingnya memahami kondisi seseorang secara utuh. Alih-alih buru-buru menghakimi atau memberi nasihat klise, kita justru perlu memperkaya diri dengan literasi dan informasi. Dengan begitu, kita tidak gegabah saat menemani proses seseorang—atau diri sendiri—keluar dari kondisi yang gelap tersebut.

Buku ini sangat aku rekomendasikan, baik untuk kamu yang sedang bergulat dengan depresi, maupun untuk kamu yang memiliki keluarga, kerabat, atau teman yang sedang mengalaminya. Setidaknya, buku ini bisa membantu kita belajar memahami—bahwa bertahan hidup saja, bagi sebagian orang, sudah merupakan perjuangan yang luar biasa.


Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi