Thursday, January 08, 2026

Difficult relationship often push you to change your behavior for the better. In feeling helpless, you learn to take care of yourself. In feeling used, you recognize your worth. In being abused, you develop compassion. In feeling like you're stuck, you realize there is always a choice. In accepting what was done to you, you realize that nobody has control at the end of the day, but in surrendering the need for something we'll never have, we can find peace, which is what we were actually seeking in the first place.

 -Brianna Wiest-*

Menulis ini butuh tarikan nafas yang panjang. Mengumpulkan semua memori yang berantakan dan menjadikannya runut tapi rasanya masih sama: ada sedikit rasa sakit yang tertinggal di sana.

Hai!

Lo apa kabar? Selamat atas pernikahan lo ya. Lo kaget gak waktu gue datang ke nikahan lo? Gue masih inget, alis lo terangkat sambil menahan diri agar tetap tenang walau sebenarnya lo pasti kaget dan gak nyangka gue bakal hadir kan? Untungnya gue gak nyanyi, harusnya aku yang di sana dampingimu dan bukan dia. Kalau gue nyanyi itu, kira-kira perasaan lo gimana?

Gue tahu, gue banyak mendem dan gue gak marah sama lo pada saat itu. Harusnya dulu gue marah dan terus mempertanyakan semua ke lo sampai akhirnya lo memberikan keputusan yang jelas. Tapi sayangnya lo malah banyak menyangkal dan bilang udah gak perlu ada yang dibahas lagi. Lo gimana sih? Lo yang mulai, ngasih harapan, tiba-tiba ninggalin, terus balik lagi seolah gak terjadi apa-apa. Lo kira gue ini tempat parkir yang bisa didatangi dan ditinggali gitu aja? 

Begonya, gue dulu manut-manut aja dan menganggap bahwa gua yang terlalu berharap sama lo. Nyantanya lo yang salah! Lo yang duluan ngasih harapan ke gue, bilang kalau lo punya harapan ke gue biar gue bisa nemenin lo terus. Kan kamvret!

Otak lo di mana sih? Kok lo sejahat itu? Mau segimana pun lo dikagumi banyak orang, dipuja banyak orang, dihormati, bagi gue lo tetep orang jahat yang ngasih harapan seenak jidat terus pergi tanpa ngasih closure yang jelas. Wait! Bukannya pergi itu caranya lo ngasih closure kan? Tapi lo harusnya tutup juga cerita yang udah lo buat dengan kata-kata jelas: SELESAI! 

Kemaren waktu gak sengaja ketemu, kenapa lo langsung diam gitu aja waktu lihat gue? Lo masih ngerasa punya salah ya? Harusnya lo tuh selesaikan dulu sebelum married. Bilang sama gue udah ya, udahan. Sampai sini aja. Gak usah temenin gue lagi. Kan selesai. 

Gue tahu, gue masih kesel sama lo, masih marah sama lo, pengen banget maki-maki lo, tapi ya gak ada gunanya sekarang. Harusnya gue habisin semua amarah dan kata-kata gue dulu: waktu gue maksa dan nanya tentang kepastian kita. Gue dulu goblok sih nurut-nurut aja sama kata-kata manipulatif lo. 

Gue cuma pengen bilang sama lo, semoga lo gak lupa sama gue karena lo sendiri yang buat kesalahan dan lo gak minta maaf. Lo yang berani mengawali tapi lo terlalu pengecut buat menutup ceritanya. Gue cuma mau belajar buat maafin diri gue di masa lalu yang bodohnya mau-mau aja terima tawaran lo. Gue cuma mau maafin diri gue yang bertahun-tahun galauin lo, yang lo sendiri aja malah ke sana ke mari nyari cewek lain. 

Gue nyesel ketemu sama lo, tapi gue bersyukur gak jadi sama lo. Karena kalau gue sama lo, belum tentu gue bisa sebebas sekarang pergi ke sana - ke mari, ketemu orang-orang yang lebih keren dari lo, dan mewujudkan mimpi-mimpi gue yang sempat tertunda. 

Makasih udah jahat sama gue!

*)101 Essays That Will Change The Way You Think (p. 169)

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

What fascinates you about life and people around you?

Aku selalu tertarik dengan masa depan. Kira-kira apa ya yang akan terjadi pada kehidupan ku selanjutnya? Lalu bagaimana dunia ini dengan segala kemajuan teknologinya? Meski mau secanggih apapun tetap tak ada yang bisa membuat waktu berhenti sejenak, pindah ke masa lalu, atau pergi ke masa depan. 

Aku selalu tertarik juga dengan kehidupan orang yang berbeda-beda. Bagaimana mereka memulai hari di pagi hari, menjalani hari, hingga menutup hari mereka. Aku selalu takjub saja dengan seluruh perbedaan yang ada di dunia ini. 

Semenjak berteman dengan depresi, aku jadi menyadari banyak hal yang selama ini aku lewatkan begitu saja. Misal segarnya udara di pagi hari, hangatnya sinar mentari pagi, hiruk pikuk orang-orang di pagi hari yang berbeda-beda. 

Sejujurnya topik ini agak berat ya menurutku. Terlebih untuk kondisi aku saat ini yang belum benar-benar pulih. Untuk bisa mendapatkan spark dalam hidup ini aku harus mencoba banyak hal yang selama ini tak pernah aku lakukan. Tak seperti dulu, hal apapun bisa menjadi sumber inspirasi. Kini agak susah ya, tapi aku yakin aku bisa keluar dari situasi ini dan kembali melihat dunia dengan segala warna dan rasanya. 

Wednesday, January 07, 2026

Even if it wasn't your fault, it is your problem, and you get to choose what you do in the aftermath. You have every right to rage and rant and hate every iota of someone's being, but you also have the right to choose to be at peace. To thank them is to forgive them, and to forgive them is to choose to realize that the other side of resentment is wisdom. To find wisdom in pain is to realize that the people who become "supernovas" are the ones who acknowledge their pain and then channel it into something better, not people who just acknowledge it and then leave it to stagnate and remain.

-Brianna Wiest-*

Hai, kak!

Apa kabar? Udah lama ya gak bersua. Kabar gue baik di sini. Gue harap kabar kakak baik-baik aja di sana. 

Kak, gue tahu kejadiannya udah lama banget. Tapi satu hal yang sampai saat ini pengen gue tanya ke Kakak. 

Kakak dulu anggap gue apa? 

Kayaknya kalau sebatas hubungan adik-kakak gak deh. Kakak sering nanya kabar gue tiap hari, kirim gue sms tiap pulang sekolah sampe malem sebelum gue bobo. Bahkan tetep bela-belain balas sms-sms gue di saat lo lagi sakit parah. Gue tahu kakak tertutup banget sama semua orang, tapi kenapa sama gue Kakak bisa cerita apapun? 

Kak lo tahu gak? Selama kakak sering sms gue, ngabarin gue, perasaan gue itu kacau balau. Seneng? Udah pasti. Takut? Iya. Kenapa takut? Karena gue tahu kakak udah ada yang punya. Kakak sendiri yang bilang kalau hubungan kakak sama pacar kakak lagi gak baik-baik aja. Tapi kenapa larinya malah ke gue?

Gue saat itu gak cukup berani dan tegas buat soal perasaan. Gue cuma menikmati secuil perhatian yang kakak kasih. Padahal kalau di sekolah, Kakak akan kembali perhatian dan dekat dengan pacar Kakak. 

Sampai kemudian tak perlu menunggu waktu lama, kabar kedekatan kita tersebar. Dan pacar Kakak bilang,

"Bagus dong kalau gue putus dari Andre. Andre bisa jadian sama Nita."

Rasanya menusuk dan gue takut jadi perusak hubungan orang. 

Meski pada akhirnya itu gak pernah terjadi. Kakak putus sendiri sama pacar Kakak tanpa menjadikan gue pacar Kakak setelahnya. Karena pada saat itu gue juga udah muak sama Kakak. 

Kak tahu gak? Hal yang paling bikin gue seneng selama sekolah itu kalau udah papasan sama Kakak di tangga, terus Kakak senyum. Duh, udahlah hati gue meleleh dan jantung gue dagdigdug luar biasa. Atau pada saat gue masih di kelas dan Kakak lewat ke kelas gue lalu senyum dari balik jendela kelas. Rasanya luar biasa senang. 

Tiap kali Kakak kirim sms atau bantuin tugas-tugas gue, rasanya gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Senang aja. Oh iya, gue masih inget waktu gue pinjem buku tertentu dan Kakak kasih pinjem buku itu di parkiran. Kakak tahu gak sewaktu gue bawa buku itu dan balik ke kelas? Gue senyum-senyum sendiri sepanjang jalan udah kayak orang gila! Hahahaaa.

Kak, gue harap lo gak gitu lagi ya. Lo harus tegas sama perasaan lo sendiri. Jangan sampai lo gak nyaman sama pasangan lo terus lo malah nyari kenyamanan itu di orang lain. Dan egoisnya lo juga pada akhirnya gak mau memperjuangkan kenyamanan yang lo dapat itu kan?

Udah gue cuma mau bilang itu aja. 

Gue maafin lo Kak. Semoga, Kakak bahagia selalu di sana. 

Dan buat diri gue yang dulu masih bego dan gak paham soal boundaries, dari diri gue saat ini: gue maafin semua kealfaan lo. Gue faham lo juga dulu ada sisi egoisnya tapi lo gak sadar sama signs yang dia berikan. Harusnya lo dulu cut off dia aja daripada perasaan lo tambah tumbuh sementara dia tetep balik sama pacarnya. Ok, yang lalu sudah berlalu, gue juga gak bisa terus terjebak di sana dan menyesali semua yang terjadi. Gue maafin kesalahan diri gue di masa lalu dan gue mau melangkah ke arah yang lebih baik lagi. 

Thank you Kak udah baik, egois, sekaligus jahat sama gue. Dari lo, gue belajar bahwa saat diri lo cuma jadi pilihan kemungkinannya hanya ada dua: diperjuangkan atau ditinggalkan. Dan gue gak mau lagi jadi pilihan. Gue cuma mau jadi tujuan yang selamanya akan terus diperjuangkan. 

*) 101 Essays That Will Change The Way You Think (p.170)

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

Find an old photograph that you like and share the story behind it

doc. pribadi

Ini adalah foto tahun 2012, lebih tepatnya bulan Mei 2012 tapi aku lupa lagi persis tanggal berapa-berapa nya. Ini adalah momen pertama kalinya aku melihat dan merasakan bagaimana pantai dan seisinya. Saat itu aku baru kelas 3 MTs (setingkat SMP) dan sekolah aku mengadakan tour ke Yogyakarta. Untuk pertama kalinya juga mengunjungi Candi Borobudur. Tapi ini yang paling berkesan dan memorable.  Mungkin karena pertama kalinya dan juga hal yang paling dinanti dari semua destinasi yang akan dikunjungi ya pantai. Pantai Parangtritis lebih tepatnya. 

Masih inget banget waktu mau sampai, Mudir (kepala sekolah) almarhum bilang, 

"Siti, jangan tidur. Sebentar lagi akan sampai ke laut."

Aku begitu antusias di dalam bis. Melihat-lihat ke jendela kalau-kalau bibir pantai sudah bisa terlihat. Begitu sampai aku senangnya bukan main. Aku mulai bermain bersama ombak, main pasir, menulis nama di atas pasir, dan berfoto bersama teman-teman. 


doc. pribadi

"Gimana? Senang tidak?" Tanya Mudirku itu melihat aku yang terus tersenyum semingrah. Sampai-sampai hal ini sampai di satu angkatan kalau aku belum pernah ke pantai dan ini yang pertama kalinya hehheee. 

Sampai sekarang tetep pengalaman ini yang paling membekas. Entah mengapa. Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama mendambakan kali ya? Hahahaaa. 


Tuesday, January 06, 2026

Hi!

Lo apa kabar? Ternyata lama gak ada kabar, diam-diam lo udah married ya. Btw, congrats ya! Semoga pernikahan lo diberi banyak keberhakan dan kebahagiaan dunia akhirat. Aamiin.

Gue sebenarnya kaget sih waktu tau kabar lo mau nikah. Gue kira lo masih lajang dan mau nyari gue. *eheeh ngarep. Iya setidaknya lo adalah tipe gue banget waktu gue masih sekolah. Hahahaa. Gue mendem perasaan buat lo aja hampir 4 tahun. Dan sayangnya ya baik dari awal maupun akhir lo gak pernah milih gue ataupun mengizinkan perasaan gue jadi nyata bukan hanya soal cerita yang gue rangkai sebaik mungkin di kepala gue. 

Gue tahu pasti, lo adalah idola kaum hawa di zaman itu. Banyak banget yang suka sama lo. Dan satu hal yang paling gue syukuri adalah gue bisa jadi teman yang dekat sama lo karena kita sama-sama aktif di organisasi. Gue suka cara problem solving lo. Lo yang gak gampang ngambek dan selalu take it easy for everything. Lo selalu cari hal yang mudah ketimbang yang rumit mempersulit diri sendiri. Otak lo ok, suara lo bagus, leadership lo juga ok. Gak heran sih banyak banget yang ngarep lo jadi pacar atau bahkan jadi jodoh temen-temen gue. 

Lo masih inget gak sih waktu gue kirim lirik lagu Geisha Tak Kan Pernah Ada? Terus gue bilang salah kirim dan lo penasaran itu ke siapa. Terus gak lama dari itu gue kirim lagi lirik lagu Sherina Munaf Cinta Pertama dan Terakhir, yang lo balas buat siapa dan lo siap buat nyampein ke orangnya. Dengan polosnya gue jawab kalau buat lo gimana? Dan lo diam lama gak balas. Meski pada akhirnya gue tutup dengan alasan bercanda walau sebenarnya itu yang gue rasain dulu ke lo.

Hari itu tiba. Hari di mana lo pada akhirnya malah jadian sama temen deket gue. Rasanya dunia gue kayak hancur berkeping-keping. Gue kecewa sama lo, tapi ya itu keputusan lo. Selama ini ternyata gue salah mengartikan semua kebaikan lo ke gue. Lo cuma anggap gue temen lo kan? Meski pada akhirnya lo gak lama putus juga sama temen gue, lo tetep gak pernah lihat gue kan? Lo tetep baik sama gue, bela gue, sama-sama kerjasama sama gue, tapi ya itu gak ada apa-apanya karena lo hanya anggap gue temen kan? Lo udah pernah lihat gue nangis, marah, panik, dan lo berhasil atasi itu semua. 

Di hari terakhir sekolah, gue sempat cari-cari lo. Berharap gue bisa bilang apa yang gue pendem selama ini. Tapi sayangnya lo gak hadir di acara terakhir sekolah itu. Dan lo tahu? Gue seneng banget waktu lo nulis sesuatu buat gue di hari ulang tahun gue. Dan pada saat itu cuma lo satu-satunya yang mengirimi doa lewat kata yang manis itu di beranda milik gue. Dan gue merasa kayak orang paling special di muka bumi ini. 

Mungkin harus kayak gitu kali ya ceritanya. Tapi gue gak pernah nyesel kok pernah punya rasa sama lo. Makasih banget udah hadir di kehidupan gue, udah jadi pelindung gue, udah sabar and baik sama gue. Meski kadang lo nyebelin, tapi lo adalah orang yang paling peka soal perasaan. Lo adalah orang pertama yang selalu tahu gue lagi sedih, marah atau seneng. Lo pernah coba menghibur gue di saat gue terlambat untuk pertama kalinya ke sekolah. 

Banyak banget sih kenangan tentang lo. Tapi ya gue udah gak bisa lagi mengingat itu secara runut karena buat apa terus-terusan dikenang? Toh lonya juga udah sama orang lain. Udah bangun rumah sama yang lain dan itu bukan gue. 

Btw. makasih ya. 

Kalau nanti kita diizinkan ketemu, gue yakin lo gak akan judge diri gue yang sekarang. Gue udah beda termasuk soal tipe hahahaa. Semua udah berubah dan gue udah nutup semua lembaran tentang lo. Gue gak benci sama lo, gue gak marah sama lo. Gue cuma mau bilang makasih aja. Udah itu aja. 

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi