Monday, January 12, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: Broken Strings 

Penulis: Aurélie Moeremans

Tahun Terbit: 2025


Tiga Insight Utama

1. Ia berdiri di atasku dan berkata tenang, "Kalau aku memukulmu dengan Alkitab, maka rasa sakitmu itu urusan Tuhan." 

Ia membuatnya suci. Ia membuatnya benar. Ia membuatnya seolah kesalahanku. (p.169)

2. Mamaku menangis. Papaku hanya menggeleng berulang kali. Keduanya merasa gagal. Tapi mereka berjanji, mulai sekarang, mereka akan menebus semuanya. "Nggak ada lagi rahasia," kata mereka. "Katakan semuanya. Jangan tanggung sendiri." (p. 189)

3. Aku menginginkan keadilan, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk semua gadis yang pernah terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak dipercaya siapapun. Aku ingin menunjukkan bahwa monster bisa terlihat menawan, bahwa kejahatan bisa tersenyum, dan bahwa bertahan hidup itu tidak selalu indah. 
Tapi aku belajar cepat, bahwa keadilan bukan jaminan. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa dipihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu. Mungkin suatu hari keadaan akan berubah. Tapi saat itu, begitu keadaannya. Jadi aku biarkan saja orang-orang percaya apapun yang mereka mau. (p.196-197)


Refleksi Pribadi

Hanya butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan memoar yang ditulis oleh artis Aurélie ini. Selama membacanya emosiku serasa diaduk-aduk, ingin mengumpat, marah, sekaligus muak dengan lelaki modelan Bobby. Ditambah sok suci bawa-bawa ajaran agama, padahal kelakuannya udah gak beda jauh sama iblis. Buku ini membuatku sadar, betapa manipulasi bisa tampil sangat rapi, bahkan tampak "suci" di permukaan. 

Aku jadi teringat bagaimana aku memiliki teman dekat yang mendapatkan perlakuan yang sama dari pacarnya dulu. Tapi dia enggan bercerita secara detail pada saat itu. Yang aku ingat adalah waktu mata dia bengkak berwarna ungu, kemudian ketika aku tanya alasannya kenapa dia memilih menjawab tidak sengaja nabrak potral di jalan dekat kosannya. Aku mulai mikir, ya kali nabrak portal bisa ampe lebam gitu matanya yang sebelah. Mulai merasa ada yang aneh, pada saat itu aku laporan saja kepada atasan aku. Dari sana baru terbongkar, kalau selama ini sudah terjadi kekerasan baik fisik maupun verbal kepada teman dekat aku itu. Aku masih ingat jelas bagaimana tubuhnya gemetar dan air matanya jatuh satu per satu saat ia menceritakan semuanya. Meski tidak detail, namun beberapa poin yang teman aku sampaikan cukup membuat kami yang mendengarnya naik pitam. Kami meminta dan menyarankan agar dia mau membawa kasus itu ke ranah hukum. Sayangnya,  kekerasan memang sering kali meninggalkan luka yang sulit dibuktikan. Bukti lebam itu sudah hilang, dan kasusnya pun tak bisa dilanjutkan. 

Aku masih ingat, karena aku pernah ikut tidur di kosannya, aku merasa aneh dengan kelakuan teman ku itu. Dia tidak bisa jauh-jauh dair hp, bahkan pada saat kuotanya habis ribut minta tethering data kepadaku. Tidur sambil telfonan gitu, alias sleep call. Dan pernah bilang, kalau cowoknya itu overprotective dan beberapa kali aku juga bilang untuk putus aja dari dia. Tapi sayangnya selalu ada alasan: cinta, kasihan, janji berubah, rasa bersalah.  Hingga akhirnya bogem mentah itu mendarat ke wajah cantiknya dan ternyata itu bukan pertama kalinya. Belum lagi hutang-hutang si cowok itu yang menggunung ke temen aku. 

Aku gak tahu sih perkaranya udah selesai apa belum. Aku hanya berharap temanku sudah aman, merdeka, dan tak lagi menanggung beban yang bukan miliknya. Terakhir berkabar sih si cowoknya udah mulai nyicil bayar hutang-hutangnya. Ya, semoga hutang-hutang itu lunas. Bukan hanya secara materi, tetatpi juga secara batin. 

Setelah baca buku ini aku jadi faham, mungkin itu ya yang dimaksud dengan temanku dulu. Alasan berpisah susah dan malah balik lagi-balik lagi ke orang yang menyakitinya. Buku ini juga membuka mataku bahwa hubungan abusif bukan sekedar soal kekerasan, tetapi juga soal jerat psikologis yang perlahan mengikis nalar dan harga diri korban. 

Refleksi terbesarku setelah membaca buku adalah:  jika di sekitar kita ada orang yang terjebak dalam hubungan yang seperti ini, tolong jangan buru-buru menghakimi. Yang mereka butuhkan bukan ceramah, tapi ruang aman.  Aku  sangat salut pada orang tuanya Aurélie yang memberikan dukungan penuh. Dukungan semacam itulah yang sering kali menjadi satu-satunya tali penyelamat. 

Dari buku ini juga aku jadi belajar pola orang-orang manipulatif, bahkan ini seperti memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder. Kalau udah ada tanda-tanda begitu: merendahkan, mengontrol, memutarbalikkan fakta, membuat kita merasa bersalah atas luka yang mereka ciptakan, mungkin memang satu-satnunya jalan adalah cut off. Kejam sih, tetapi karena kita juga harus selamat dari orang-orang modelan begini. 

Terima kasih Aurélie sudah berani menuliskan kisahmu itu. Melalui ceritamu itu aku jadi belajar mengenali lelaki yang harus dijauhi, belajar memahami kompleksitas luka para korban, dan yang terpenting adalah belajar untuk berempati. Buku ini bukan hanya sekedar bacaan, tapi peringatan sekaligus pengingat bahwa kekerasan tidak selalu datang dengan wajah garang. Kadang ia datang dengan kata-kata manis dan topeng beratasn namakan "Tuhan."


Sunday, January 11, 2026

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

What is one thing you regret very badly and cannot change?

Kalau ditanya pertanyaan ini aku akan jawab soal audisi penyiar radio vs sekolah. 

When I was in junior high school, I applied a radio announcer. Radio announcer cilik gitu, buat yang masih sekolah. Hari itu inget banget, lagi libur semester kan jadi aku bisa ikut audisinya langsung ke tempat. Udah sampe ke tahap interview, kemudian si penyiarnya nanya, 

"Kalau nanti lolo dan hari Minggu harus ikut kelas radio bisa?"

Aku diam sejenak. Rasanya galau. Kenapa galau? Ya karena dulu sekolah aku liburnya Jumat dan Minggu itu masuk. Lalu, udah pasti orang tua gak ngizinin karena harus mengutamakan sekolah. Dengan berat hati aku jawab,

"Aku sekolah kak kalau hari Minggu. Jadi sepertinya gak bisa."

Si kakak penyiar radio itu hanya bisa manggut-manggut sambil menulis di kertas. Udah pasti gak akan keterima. Batinku. 

Acara berlangsung sampai siang. Dan begitu diumumkan iya, aku tidak lolos. 

Aku pulang dengan langkah yang gontai. Sedih? Tentu! Begitu sampai rumah dan cerita kepada orang tua, orang tua tidak banyak komentar. Kalau aku ingat-ingat ya, keputusan itu aku ambil berdasarkan perspektif aku sendiri. Padahal jika didiskusikan dengan orang tua, sepertinya aku akan diizinkan. Dan sekolah akupun pastinya akan mengizinkan juga.

Aku dulu terlalu takut untuk keluar dari zona aman. Aku terlalu takut akan nilai rapor aku yang jelek, kemudian dikomentari oleh teman-teman karena izin tidak masuk di hari Minggu. Hei! Padahal itu semua hanya terjadi di isi kepalamu bukan? Tidak terjadi di dalam kehidupan nyata?

Aku tahu, aku gak bisa merubah tentang hari itu. Tapi dari kejadian ini, aku mengambil hikmahnya. Jangan pernah takut untuk mengambil kesempatan yang ada di depan mata. Selama itu positif, gak apa-apa kan?

Thursday, January 08, 2026

Difficult relationship often push you to change your behavior for the better. In feeling helpless, you learn to take care of yourself. In feeling used, you recognize your worth. In being abused, you develop compassion. In feeling like you're stuck, you realize there is always a choice. In accepting what was done to you, you realize that nobody has control at the end of the day, but in surrendering the need for something we'll never have, we can find peace, which is what we were actually seeking in the first place.

 -Brianna Wiest-*

Menulis ini butuh tarikan nafas yang panjang. Mengumpulkan semua memori yang berantakan dan menjadikannya runut tapi rasanya masih sama: ada sedikit rasa sakit yang tertinggal di sana.

Hai!

Lo apa kabar? Selamat atas pernikahan lo ya. Lo kaget gak waktu gue datang ke nikahan lo? Gue masih inget, alis lo terangkat sambil menahan diri agar tetap tenang walau sebenarnya lo pasti kaget dan gak nyangka gue bakal hadir kan? Untungnya gue gak nyanyi, harusnya aku yang di sana dampingimu dan bukan dia. Kalau gue nyanyi itu, kira-kira perasaan lo gimana?

Gue tahu, gue banyak mendem dan gue gak marah sama lo pada saat itu. Harusnya dulu gue marah dan terus mempertanyakan semua ke lo sampai akhirnya lo memberikan keputusan yang jelas. Tapi sayangnya lo malah banyak menyangkal dan bilang udah gak perlu ada yang dibahas lagi. Lo gimana sih? Lo yang mulai, ngasih harapan, tiba-tiba ninggalin, terus balik lagi seolah gak terjadi apa-apa. Lo kira gue ini tempat parkir yang bisa didatangi dan ditinggali gitu aja? 

Begonya, gue dulu manut-manut aja dan menganggap bahwa gua yang terlalu berharap sama lo. Nyantanya lo yang salah! Lo yang duluan ngasih harapan ke gue, bilang kalau lo punya harapan ke gue biar gue bisa nemenin lo terus. Kan kamvret!

Otak lo di mana sih? Kok lo sejahat itu? Mau segimana pun lo dikagumi banyak orang, dipuja banyak orang, dihormati, bagi gue lo tetep orang jahat yang ngasih harapan seenak jidat terus pergi tanpa ngasih closure yang jelas. Wait! Bukannya pergi itu caranya lo ngasih closure kan? Tapi lo harusnya tutup juga cerita yang udah lo buat dengan kata-kata jelas: SELESAI! 

Kemaren waktu gak sengaja ketemu, kenapa lo langsung diam gitu aja waktu lihat gue? Lo masih ngerasa punya salah ya? Harusnya lo tuh selesaikan dulu sebelum married. Bilang sama gue udah ya, udahan. Sampai sini aja. Gak usah temenin gue lagi. Kan selesai. 

Gue tahu, gue masih kesel sama lo, masih marah sama lo, pengen banget maki-maki lo, tapi ya gak ada gunanya sekarang. Harusnya gue habisin semua amarah dan kata-kata gue dulu: waktu gue maksa dan nanya tentang kepastian kita. Gue dulu goblok sih nurut-nurut aja sama kata-kata manipulatif lo. 

Gue cuma pengen bilang sama lo, semoga lo gak lupa sama gue karena lo sendiri yang buat kesalahan dan lo gak minta maaf. Lo yang berani mengawali tapi lo terlalu pengecut buat menutup ceritanya. Gue cuma mau belajar buat maafin diri gue di masa lalu yang bodohnya mau-mau aja terima tawaran lo. Gue cuma mau maafin diri gue yang bertahun-tahun galauin lo, yang lo sendiri aja malah ke sana ke mari nyari cewek lain. 

Gue nyesel ketemu sama lo, tapi gue bersyukur gak jadi sama lo. Karena kalau gue sama lo, belum tentu gue bisa sebebas sekarang pergi ke sana - ke mari, ketemu orang-orang yang lebih keren dari lo, dan mewujudkan mimpi-mimpi gue yang sempat tertunda. 

Makasih udah jahat sama gue!

*)101 Essays That Will Change The Way You Think (p. 169)

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

What fascinates you about life and people around you?

Aku selalu tertarik dengan masa depan. Kira-kira apa ya yang akan terjadi pada kehidupan ku selanjutnya? Lalu bagaimana dunia ini dengan segala kemajuan teknologinya? Meski mau secanggih apapun tetap tak ada yang bisa membuat waktu berhenti sejenak, pindah ke masa lalu, atau pergi ke masa depan. 

Aku selalu tertarik juga dengan kehidupan orang yang berbeda-beda. Bagaimana mereka memulai hari di pagi hari, menjalani hari, hingga menutup hari mereka. Aku selalu takjub saja dengan seluruh perbedaan yang ada di dunia ini. 

Semenjak berteman dengan depresi, aku jadi menyadari banyak hal yang selama ini aku lewatkan begitu saja. Misal segarnya udara di pagi hari, hangatnya sinar mentari pagi, hiruk pikuk orang-orang di pagi hari yang berbeda-beda. 

Sejujurnya topik ini agak berat ya menurutku. Terlebih untuk kondisi aku saat ini yang belum benar-benar pulih. Untuk bisa mendapatkan spark dalam hidup ini aku harus mencoba banyak hal yang selama ini tak pernah aku lakukan. Tak seperti dulu, hal apapun bisa menjadi sumber inspirasi. Kini agak susah ya, tapi aku yakin aku bisa keluar dari situasi ini dan kembali melihat dunia dengan segala warna dan rasanya. 

Wednesday, January 07, 2026

Even if it wasn't your fault, it is your problem, and you get to choose what you do in the aftermath. You have every right to rage and rant and hate every iota of someone's being, but you also have the right to choose to be at peace. To thank them is to forgive them, and to forgive them is to choose to realize that the other side of resentment is wisdom. To find wisdom in pain is to realize that the people who become "supernovas" are the ones who acknowledge their pain and then channel it into something better, not people who just acknowledge it and then leave it to stagnate and remain.

-Brianna Wiest-*

Hai, kak!

Apa kabar? Udah lama ya gak bersua. Kabar gue baik di sini. Gue harap kabar kakak baik-baik aja di sana. 

Kak, gue tahu kejadiannya udah lama banget. Tapi satu hal yang sampai saat ini pengen gue tanya ke Kakak. 

Kakak dulu anggap gue apa? 

Kayaknya kalau sebatas hubungan adik-kakak gak deh. Kakak sering nanya kabar gue tiap hari, kirim gue sms tiap pulang sekolah sampe malem sebelum gue bobo. Bahkan tetep bela-belain balas sms-sms gue di saat lo lagi sakit parah. Gue tahu kakak tertutup banget sama semua orang, tapi kenapa sama gue Kakak bisa cerita apapun? 

Kak lo tahu gak? Selama kakak sering sms gue, ngabarin gue, perasaan gue itu kacau balau. Seneng? Udah pasti. Takut? Iya. Kenapa takut? Karena gue tahu kakak udah ada yang punya. Kakak sendiri yang bilang kalau hubungan kakak sama pacar kakak lagi gak baik-baik aja. Tapi kenapa larinya malah ke gue?

Gue saat itu gak cukup berani dan tegas buat soal perasaan. Gue cuma menikmati secuil perhatian yang kakak kasih. Padahal kalau di sekolah, Kakak akan kembali perhatian dan dekat dengan pacar Kakak. 

Sampai kemudian tak perlu menunggu waktu lama, kabar kedekatan kita tersebar. Dan pacar Kakak bilang,

"Bagus dong kalau gue putus dari Andre. Andre bisa jadian sama Nita."

Rasanya menusuk dan gue takut jadi perusak hubungan orang. 

Meski pada akhirnya itu gak pernah terjadi. Kakak putus sendiri sama pacar Kakak tanpa menjadikan gue pacar Kakak setelahnya. Karena pada saat itu gue juga udah muak sama Kakak. 

Kak tahu gak? Hal yang paling bikin gue seneng selama sekolah itu kalau udah papasan sama Kakak di tangga, terus Kakak senyum. Duh, udahlah hati gue meleleh dan jantung gue dagdigdug luar biasa. Atau pada saat gue masih di kelas dan Kakak lewat ke kelas gue lalu senyum dari balik jendela kelas. Rasanya luar biasa senang. 

Tiap kali Kakak kirim sms atau bantuin tugas-tugas gue, rasanya gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Senang aja. Oh iya, gue masih inget waktu gue pinjem buku tertentu dan Kakak kasih pinjem buku itu di parkiran. Kakak tahu gak sewaktu gue bawa buku itu dan balik ke kelas? Gue senyum-senyum sendiri sepanjang jalan udah kayak orang gila! Hahahaaa.

Kak, gue harap lo gak gitu lagi ya. Lo harus tegas sama perasaan lo sendiri. Jangan sampai lo gak nyaman sama pasangan lo terus lo malah nyari kenyamanan itu di orang lain. Dan egoisnya lo juga pada akhirnya gak mau memperjuangkan kenyamanan yang lo dapat itu kan?

Udah gue cuma mau bilang itu aja. 

Gue maafin lo Kak. Semoga, Kakak bahagia selalu di sana. 

Dan buat diri gue yang dulu masih bego dan gak paham soal boundaries, dari diri gue saat ini: gue maafin semua kealfaan lo. Gue faham lo juga dulu ada sisi egoisnya tapi lo gak sadar sama signs yang dia berikan. Harusnya lo dulu cut off dia aja daripada perasaan lo tambah tumbuh sementara dia tetep balik sama pacarnya. Ok, yang lalu sudah berlalu, gue juga gak bisa terus terjebak di sana dan menyesali semua yang terjadi. Gue maafin kesalahan diri gue di masa lalu dan gue mau melangkah ke arah yang lebih baik lagi. 

Thank you Kak udah baik, egois, sekaligus jahat sama gue. Dari lo, gue belajar bahwa saat diri lo cuma jadi pilihan kemungkinannya hanya ada dua: diperjuangkan atau ditinggalkan. Dan gue gak mau lagi jadi pilihan. Gue cuma mau jadi tujuan yang selamanya akan terus diperjuangkan. 

*) 101 Essays That Will Change The Way You Think (p.170)

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi