Whom do you admire most, and why?*
The person I admire most is my former co-worker, whom I worked with during my time as a teacher. He embodies qualities such as kindness, firmness, and strong leadership, which have profoundly influenced my professional growth. I respect him deeply because he consistently respects my boundaries and always seeks my permission before taking any actions that might affect me. His guidance has been invaluable, providing me with numerous pieces if advice that helped me navigate challenges.
One aspect I particularly appreciate is his problem-solving approach. He always think carefully before making decisions, and he is not afraid to admit when he cannot do something if he does not fully believe in himself. His words often bring a sense of calm and relaxation, enabling me to face problems with greater confidence. Additionally, he frequently speaks positively about his wife, highlighting how well she treats him, even in front of students. Despite his knowledge, he remains humble and never arrogant. He led me patiently, offering many opportunities without interrupting my progress. When I made mistakes, he discussed them with me thoughtfully, allowing me to reflect and learn independently. This is my first time I have encountered someone so considerate and supportive.
In conclusion, meeting such as an individual has been a rare and inspiring experience. I hope to encounter similar people in the future workplace, as they motivate me to become a better version of myself.
*)Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
Your long-forgotten hobby.
Menulis, membaca dan mendengarkan radio itu adalah hobi yang aku tekuni dari sejak SD sampai sekarang. Lalu hobi apa ya yang aku dulu lakukan dan sekarang udah enggak lagi? Bentar. Harus agak mikir dulu.
Kayaknya ini deh, main ke rumah temen. Iya, dulu pas zaman TK, SD sampai SMA seneng banget tuh main ke rumah temen. Pokoknya mau ngerjain apa-apa harus di rumah temen ampe pernah ikut tidur siang juga di rumah temen. Gak tahu deh, dulu gak betah banget di rumah. Pengennya main mulu, ketemu orang. Kalau sekarang boro-boro. Diajakin ngumpul atau ketemuan sama temen aja malesnya ampun. Mending diem aja di rumah, tidur walaupun diomelin sama orang tua tidur mulu, tapi ya dari pada kelayapan ke luar rumah ketemu orang banyak? No. Big no.
Untuk saat ini aku lebih banyak menikmati waktu ku seorang diri. Gak tahu kenapa, lagi seneng sama diri sendiri aja, lagi anteng. Dulu boro-boro. Habis beres mandi pagi, makan langsung nyamper tetangga. Hahahaa. Meski harus nunggu karena temen masih mandi juga ya aku tungguin aja. Pernah kena omel gegara masih pagi udah nyamper buat main. Wkwkkw. Tapi ya itu aku yang dulu, gak pernah betah di rumah.
Write about that one movie or book or incident that drastically changed your life.
Dari sekian film ataupun buku yang pernah nemenin aku, tetep hanya satu film dan buku-buku ini yang berhasil mengubah hidup aku: Laskar Pelangi. Film dan juga tetralogi bukunya berhasil membuat aku memiliki sudut pandang yang baru mengenai pendidikan tinggi bagi orang yang kurang secara finansial. Film dan buku ini juga berhasil membakar semangat aku kala aku tengah hampir putus asa untuk bisa berkuliah S1 kala itu karena tidak memiliki biaya. Berbekal cerita Ikal dan kawan-kawan yang bisa berkuliah sampai ke Paris, akhirnya mematahkan omongan orang-orang yang bilang bahwa aku gak bisa kuliah karena kondisi keuangan keluarga yang serba kurang. Namun tidak ada yang mustahil bagi Allah. Selama aku berusaha dan bertekad, akhirnya aku bisa berkuliah. Walau sambil bekerja dan mengambil kelas karyawan, aku sangat mensyukuri momen tersebut. Karena setelah disadari, banyak yang tidak bisa mengenyam pendidikan sampai ke S1.
Buku ini juga yang sampai sekarang terus menginspirasi aku yang masih memiliki mimpi untuk melanjutkan study. Bismillah ya. Jangan pantang menyerah.
Imagine yourself stranded alone in an unknown land. How does it look?
Gak bisa ngebayangin sih gimana jadinya. Terdampar di sebuah negeri yang aku sendiri gak kenal udah pasti langkah pertama yang akan aku cari adalah rumah ibadah. Mau agama apapun itu karena satu hal yang aku yakini, semua rumah ibadah itu adalah aman. Tempat yang aman. Habis itu baru nanya ama orang sekitar mau pake bahasa isyarat sekalipun yang penting ada orang yang bisa dikenal dan bantu kita buat bisa stay di sana atau ke luar dari negeri tersebut. Karena aku bisa bahasa Inggris, bisa ngebantu sih kalau mereka bisa ngobrol Inggris. Dari sini aku mikir, ternyata penting juga buat belajar bahasa lain ya. Walau belajar buat mantepin bahasa Inggris saja aku masih butuh effort yang luar biasa. Ya namanya juga bahasa gak bisa satu hari lu cas cis cus ngomong kan?
Habis itu gimana ya? Entahlah aku juga gak bisa bayangin. Yang jelas dua hal itu yang akan aku lakukan. Hahahaa.
You are allowed to change one thing in your life. What will it be?
Aku ingin kembali ke tahun 2012, tahun di mana aku bisa memilih sekolah impianku dulu. SMAN 1 Tasikmalaya, tanpa takut soal biaya dll.
Nilai sudah mumpuni untuk bisa daftar ke sekolah tersebut, tapi izin dari orang tua? Tidak. Aku tidak mendapatkan itu. Ditambah obrolan orang-orang yang bilang kalau di sekolah tersebut banyaknya anak-anak orang kaya, nanti secara pergaulan aku gak kuat. Belum nanti anak-anaknya pada les ini itu. sementara aku hanya mengandalkan otak dan usaha aku sendiri karena untuk bisa di tahap itu rasanya jauh sekali.
Padahal itu hanya gosip belaka. Belum tentu seperti itu. Dulu aku terlalu nurut sama orang tua. Gak berani ambil resiko, dan menciut soal uang. Tapi ya, nasi sudah menjadi bubur. Mungkin tidak jadi sekolah di sana dan harus bersekolah di tempat lain adalah jalan terbaik dari Allah.
Hanya saja dari pengalaman ini aku jadi belajar, jangan pernah takut ambil kesempatan. Karena gak semua kesempatan datang dua kali dalam hidupmu bukan?