Thursday, January 29, 2026

Write about a gift you have always cherished.

Sepertinya hadiah berupa postcard dari Turki yang dikasih sama temen aku yang baru pulang kerja dari sana. Tanpa minta oleh-oleh dia ngasih itu dan rasanya entah kenapa seneng aja. Melihatnya setiap hari membuat aku termotivasi untuk belajar lebih giat lagi agar mendapatkan beasiswa yang aku inginkan. Hadiah itu aku simpan di meja kecilku sebagai alarm atas mimpiku, setiap kali aku bengong aku selalu mengambil postcard itu dan membayangkan suatu saat aku akan ada di sana.

doc.pribadi

Kadang aku mikir, postcard sederhana ini gak cuma sekedar kertas dengan gambar cantik, tapi simbol dari harapan yang hidup. Ia mengingatkan dan  meyakinkan aku kalau kerja keras bakal bawa aku ke tempat-tempat yang aku impikan. Setiap kali pegangnya, rasanya seperti janji kecil buat diri sendiri, bahwa aku nggak sendirian dalam perjalanan ini.

 Write about your favourite song and share your memories associated with it.


Kau adalah belahan jiwa

Ku tau itu sayang sedari dulu

Kau cinta yang hembuskan aku

Surga dunia di sepanjang nafasku

Tompi - Sedari Dulu


Lagu ini akan dan terus menjadi lagu favoritku karena aku suka cerita di balik lagu ini. Pertama kali mendengarkan lagu ini di televisi, di acara inbox ketika aku masih SD kelas 5, duduk di kursi pasien sambil menunggu antrean untuk periksa oleh dokter. Lagu ini yang menemani aku yang kala itu belum tahu sakit apa tapi setelah diperiksa dan di test darah ternyata aku mengalami gejala tipus. 

Lagu itu masih terngiang-ngiang di telinga ketika perjalan pulang dan Mamah mengomel karena khawatir akan kondisi aku sendiri. Dan untuk pertama kalinya aku merasa dikhawatirkan oleh Mamah dan rasanya senang sekali. Sekarang, setiap kali mendengar lagu ini, aku teringat betapa kecilnya aku dulu, tapi juga betapa besarnya cinta dan perhatian yang datang dari orang-orang terdekat. Lagu ini seperti pengingat bahwa di balik rasa sakit atau ketakutan, ada kehangatan yang membuat segalanya terasa lebih ringan, dan itu membuatku lebih menghargai momen-momen sederhana dalam hidup.

Monday, January 26, 2026

 What is the first wish you want to make if you are granted three wishes?

Aku bakalan minta buat kasih jalan biar aku bisa keliling dunia. Mau gimana pun itu. Mau itu akunya dikasih rezeki yang melimpah, lewat beasiswa, atau dapet tiket gratis: yang penting bisa jalan-jalan keliling dunia. 

Kenapa ngebet banget pengen keliling dunia? Ya penasaran aja sama budaya mereka, pola pikir masyarakatnya, adat istiadatnya, makanannya, tempat-tempatnya. Semua itu pengen aku pelajari dan jadi bahan renungan untuk aku sendiri. Dan sisanya aku bisa share melalui tulisan di blog ini. 

 What are the three things you are unable to let go of?

1. Lanjut sekolah

Impian untuk bisa melanjutkan sekolah masih terus menggebu walau belum benar-benar dieksekusi, tapi impian ini akan tetap menyala sampai kapanpun.

2. Menulis Diary

Dari sejak SD sampai sekarang gak bisa tuh meninggalkan satu hobiku ini. Mau dalam keadaan apapun tetap menulis di diary karena ini satu-satunya cara agar aku bisa berkomunikasi dengan diri aku sendiri dan mengeluarkan semua yang isi kepala yang kusut dan berisik. 

3. Tidur habis shubuh

Gak tahu kenapa ya rasanya enak aja gitu tidur habis shubuh. Walau sebenarnya ini gak boleh ya, tapi tetep aja dilakuin huhuu. Meski gak setiap hari tapi tetep aja intensitasnya cukup sering. Habis solat shubuh masih pakai mukena, terus tidur lagi deh. Heheheee. 

Friday, January 23, 2026

 Your inspiration

Inspirasi itu seperti angin: bisa datang dari mana saja, dan sering kali tiba-tiba, tanpa diundang. Kadang-kadang, ia muncul dari obrolan singkat dengan orang asing, atau saat aku bersepeda santai, melihat-lihat sekitar jalanan yang ramai, dan tiba-tiba ada ide yang melintas di pikiran. Inspirasi juga bisa datang dari buku yang aku baca, video di YouTube yang menarik, atau bahkan saat aku asyik scrolling di media sosial. Ya, sumbernya memang tak terbatas, tapi untuk saat ini, inspirasi-inspirasi terbesar aku datang dari buku karya Brianna Wiest berjudul 101 Essays that Will Change the Way You Think.

Melalui buku ini, aku banyak merenung dan berefleksi tentang diri aku sendiri serta kehidupan aku. Setiap esai di dalamnya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang memaksa aku untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Siapa aku sebenarnya? Apa yang benar-benar aku inginkan dari hidup ini? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan itu yang akhirnya membantu aku mencari tahu jawabannya, bukan dengan jawaban instan, melainkan melalui proses menulis dan dialog internal. Ini seperti terapi gratis: aku duduk sendirian, pena di tangan, dan menuangkan pikiran-pikiran yang selama ini tersembunyi.

Satu hal yang pasti, ketika inspirasi datang, aku selalu buru-buru mencatatnya. Tak peduli di mana aku berada atau media apa yang aku gunakan: apakah itu catatan di ponsel, buku harian, atau bahkan coretan di kertas bekas, aku langsung menuliskannya. Karena, aku tahu betul, inspirasi itu mudah sekali hilang jika tidak segera diabadikan. Pikiran kita kan seperti pasir yang licin; kalau tidak segera dipegang, ia akan luruh begitu saja.

Refleksi ini membuat aku sadar bahwa inspirasi bukanlah sesuatu yang harus dicari-cari, melainkan sesuatu yang harus kita siapkan diri untuk menangkapnya. Dengan membaca buku seperti ini, aku belajar untuk lebih terbuka terhadap dunia di sekitar aku. Dan siapa tahu, inspirasi berikutnya mungkin datang dari hal-hal sederhana yang aku lewatkan hari ini. Mari kita jaga agar api inspirasi itu terus menyala dengan mencatat, merenung, dan berbagi. Siapa tahu, inspirasi aku bisa menjadi inspirasi bagi orang lain juga.

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi