Monday, March 17, 2025
![]() |
| Photo by Engin Akyurt |
Tak ada yang salah dengan kehadiranmu begitu pula dengan perasaanku untukmu.
Meski pada akhirnya, perasaan itu harus bertepuk sebelah tangan.
Semula, semuanya baik-baik saja. Kita pernah sebegitu dekatnya, seolah hanya berjarak sejauh bulan dari bumi. Tapi perlahan, aku merasakan sesuatu berubah. Kamu menjauh, samar-samar hingga hampir menghilang.
Janji-janji yang dulu biasanya ditepati, kini hanya menyisakan kata yang tak lagi berarti. Pesanku yang dulu selalu kamu balas di sela-sela kesibukanmu, kini dibiarkan menyisakan tanya. Aku memilih menghapusnya, bukan karena tak ingin berbicara, tapi karena akhirnya aku sadar; tak ada gunanya berbicara dengan seseorang yang sudah tak lagi peduli.
Panggilan yang dulu selalu kita nantikan, kini tak lagi ada. Kamu memilih untuk bilang sibuk, tapi nyatanya masih punya waktu untuk bersenang-senang dengan temanmu. Aku tak perlu mencari jawaban lagi. Satu hal yang aku terima: aku memang bukan prioritas dalam hidupmu.
Dulu, kamu sudah mengatakan itu sejak awal dan aku berfikir aku bisa menerimanya. Tapi kini, kamu benar-benar membuktikannya dan aku tak bisa berpura-pura lagi dengan dalih hanya sebatas teman.
Saat kamu mengatakan kamu melihat pesan yang aku hapus dan tanpa membalasnya, membuatku tak membutuhkan penjelasanmu lagi. Sikapmu sudah cukup menjelaskan segalanya bahwa kamu sudah tak peduli lagi denganku.
Jadi kali ini, aku benar-benar mundur.
Mundur.
Bukan untuk menarik perhatianmu, bukan untuk berharap kamu berubah, tapi untuk menyelematkan diriku sendiri. Aku lelah berharap, aku muak menunggu, dan aku kecewa karena terus mengalah. Aku tak ingin menyakiti diriku sendiri lebih dalam lagi.
Harapan yang dulu kupupuk kini telah gugur. Doa yang pernah kupanjatkan kini kutarik kembali. Aku tak ingin lagi memohon kepada Tuhan agar menjadikanmu teman hidupku. Sungguh, aku tak ingin.
Mari kembali asing dengan cerita masing-masing.
Biarkan cerita kita berakhir di sini.
Karena memperjuangkan seorang diri itu melelahkan.
Jangan cari aku lagi.
Seperti yang pernah kamu katakan, aku berhak mendapatkan yang lebih baik darimu.
Terima kasih sudah hadir. Kehadiranmu mengajariku satu hal penting: sebaik apapun seseorang, sesempurna apapun dia memenuhi kriteriamu, jika dia tidak memiliki niat untuk menetap, semuanya akan sia-sia.
Sekali lagi, berjuang sendirian itu melelahkan. Maka kali ini aku benar-benar melepaskan, tak perlu lagi digenggam.
Dan setelah ini, aku hanya akan benar-benar pasrah atas apapun yang Tuhan putuskan untukku, seraya terus belajar mencintai diri sendiri, dengan atau tanpa kehadiran orang lain.
Love,
Ihat
| doc. pribadi |
Bulan Ramadan kali ini bertepatan dengan bulan Maret dan tanpa terasa kita sudah berada di pertengahan bulan lagi. Padahal rasanya kayak kemarin tahun baru, eh ternyata sudah memasuki bulan ke 3 lagi.
| doc. pribadi |
| doc. pribadi |
Sunday, March 09, 2025
![]() |
| Photo by KATRIN BOLOVTSOVA |
Aku masih ingat dengan jelas. Semua berawal dari percakapan pertama kami di tahun 2023. Setelah sekian lama hanya berkomunikasi lewat chat, akhirnya kami memutuskan untuk berkomunikasi melalui telepon, lalu berlanjut ke video call. Ada satu pertanyaan darinya yang sampai sekarang terus terniang di kepalaku, saat aku bilang bahwa aku tinggal sendiri dan merantau, jauh dari keluarga.
"Kenapa kamu memutuskan untuk tinggal sendiri?”
"Kenapa kamu tidak tinggal dengan orang tua? Bukankah kamu seorang perempuan?”
“Bukankah lebih baik kamu tinggal bersama dengan orang tua karena kamu pun belum menikah?"
Awalnya, dia terdengar terkejut mendengar bahwa aku merantau. Terlebih, aku adalah seorang perempuan yang masih single - yang menurut agama, tanggung jawabku masih berada di bawah tanggung jawab orang tuaku. Namun, perlahan-lahan dia mulai memahami pilihanku, meski sesekali aku bisa merasakan kekhawatirannya.
Sampai suatu hari, beberapa bulan setelah ucapan itu entah mengapa hati kecilku terus memanggil-manggil untuk pulang ke rumah orang tua dan meninggalkan pekerjaanku di sini. Seperti ada suara di dalam diriku yang berkata,
“Sudah cukup, pulanglah.”
Awalnya aku mengabaikan suara-suara bising ini. Namun, lambat laun suara ini semakin kuat. Setiap kali aku pulang ke rumah rasanya rumah lebih hangat dan aku lebih bersemangat. Sebaliknya, setiap kali harus kembali ke tempat perantauan, aku justru merasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang menahanku untuk pergi.
Hingga akhirnya, aku mengambil keputusan besar: resign dari pekerjaanku. Ketika aku dipanggil kepala sekolah dan ditanya tentang alasanku, aku menjawab dengan jujur bahwa aku ingin kembali ke rumah orang tua. Beliau menanyakan apakah kedua orang tuaku sudah sangat sepuh sehingga tidak bisa ditinggal, atau apakah mereka memintaku untuk pulang. Aku menggeleng. Orang tuaku masih sehat, baik-baik saja, belum terlalu sepuh dan masih mandiri. Mereka bahkan tidak memaksaku untuk pulang. Mereka selalu mendukung apa pun keputusanku. Hanya saja aku ingin berada di samping mereka.
Tapi, ada hal yang selalu mengusik pikiranku. Setiap kali orang tuaku menelepon hanya untuk menanyakan hal-hal kecil - seperti masalah teknologi yang bisa diselesaikan dalam hitungan menit - aku merasa ada sesuatu yang kurang. Kenapa aku tidak bisa ada di samping mereka untuk membantu langsung? Kenapa aku harus jauh, padaha mereka ada di sini, menua setiap hari?
Kepala sekolahku memberikan saran jika alasanku hanya sebatas membantu mereka dalam hal-hal kecil seperti teknologi, bukankah itu masih bisa disiasati dengan meminta bantuan sanak saudara terdekat atau tetangga? Aku mengangguk, tetapi dalam hati aku tahu, orang tua akan selalu nyaman meminta bantuan kepada anaknya sendiri. Mereka mungkin tak pernah mengatakannya dengan gamblang, tapi aku bisa merasakannya.
Seiring berjalannya waktu, aku kira perasaan ini hanya muncul di awal-awal saja, ternyata tidak. Semakin mendekati hari terakhir masa kontrakku, keinginan aku untuk tinggal bersama orang tua semakin kuat. Walau beberapa orang justru menyayangkan keputusanku - karena gaji dan kesempatan di perantauan jauh lebih besar- aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tahu, kesempatan berkarier itu penting. Tapi waktu bersama orang tua? Itu sesuatu yang tak bisa diulang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Bukankah hidup itu adalah tentang memilih? Dan aku memilih untuk pulang. Aku memilih untuk berada di sisi mereka, menciptakan kenangan sebanyak mungkin sebelum waktu benar-benar memisahkan kami. Entah karena kematian, atau karena suatu hari aku akan menikah dan harus mengikuti suami.
Saat aku menyampaikan keputusan ini kepadanya, dia hanya tersenyum dan berkata bahwa dia mendukung sepenuhnya. “Aku lega kalau kamu pada akhirnya nanti tinggal kembali bersama orang tua. Itu lebih baik untuk kamu.”
Dari kejadian ini, aku berfikir. Mungkin, ini adalah cara Tuhan mengingatkanku akan hal-hal yang benar-benar berarti dalam hidup. Mungkin, ini adalah saatnya aku belajar bahwa kebahagiaan bukan selalu tentang pencapaian besar, tetapi tentang momen kecil yang penuh makna. Pulang bukan berarti mundur. Pulang adalah kembali ke akar, kembali ke tempat di mana aku benar-benar diterima, tanpa syarat, tanpa tuntutan.
“Kalau dirasa di perantauan sudah cukup membuatmu berat, pulanglah sejenak. Tidak apa-apa. Mamah dan Bapak dengan senang hati menerimanya, walau ya harus hidup seadanya.”
Dan di titik ini, akupun menyadari satu hal. Kadang, hidup memberikan pilihan yang sulit. Tapi yang terpenting bukanlah seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan, melainkan seberapa tulus hati kita dalam menjalaninya.
Wahai diri,
Terima kasih karena masih mau dan terus mau untuk belajar
Ingat, never stop learning, because life never stops teaching.
With love,
Ihat
Wednesday, February 19, 2025
![]() |
| Photo by Photo By: Kaboompics.com |
Well, there are so many things I want to share with you from last week - so many lessons I've learned. So, let's get started!
1. Hampir Ketinggalan Kereta
Mendadak diajak pergi ke kampung halaman, rempong di jalanan karena komunikasi kurang baik, dan hampir saja tertinggal kereta. One thing that I can learn from the situation: keep calm, don't panic. Justru karena panik, semuanya jadi berantakan dan banyak hal terlupa. Selain itu, penting juga untuk merencanakan perjalanan dengan matang dan melihat kegiatan sendiri. Jika hati kecilmu sebenarnya enggan pergi karena tubuh benar-benar butuh istirahat, lebih baik dengarkan apa kata hatimu. Karena akibat dari memaksakan diri, beberapa hari kemudian I got a fever and fatigue for three days. :(
2. Bersyukur atas Apa yang Dimiliki
Belajar mensyukuri apa yang ada daripada terus mempertanyakan apa yang belum kita miliki saat ini. Salah satu hal yang paling aku syukuri adalah masih memiliki orang tua yang kini semakin perhatian dan menyayangiku. Inner child dalam diriku pun bisa merasakannya. Mungkin itulah sebabnya, setiap kali pulang ke rumah, aku sering bertingkah seperti anak kecil yang masih butuh banyak kasih sayang.
3. Melepaskan yang Tak Jelas
Melepaskan sesuatu yang sejak awal saja sudah tidak jelas memang sulit dan menyakitkan. Tapi daripada terus menginvestasikan perasaan kepada seseorang yang tidak memiliki purpose yang sama, untuk apa? Masih banyak hal yang lebih penting untuk aku lakukan dan perjuangkan. Lebih baik fokus mengupgrade diri daripada bertahan pada sesuatu yang tidak sejalan. Dan aku bangga pada diriku sendiri karena bisa melepaskannya tanpa takut merasa kehilangan.
4. People Come and Go
Tahun lalu, menjelang Ramadan, aku sibuk dengan kegiatan volunteers di Tahura. Kini, orang-orang yang dulu berada dalam satu circle yang sama sudah berpencar mengikuti jalannya masing-masing. Dari sini, aku belajar bahwa setiap peluang yang datang harus dinikmati dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, karena bisa jadi kesempatan itu tidak akan datang lagi.
5. Making Mistake is Normal!
Yep! Saat mengikuti kelas volunteer, aku melihat guruku melakukan kesalahan dalam menyampaikan materi. Tapi beliau tetap tenang, tidak panik, dan melanjutkan dengan santai. Even as a teacher, of course. We are human. Dari situ aku belajar bahwa membuat kesalahan itu wajar. Justru dari kesalahanlah kita belajar dan bisa berhati-hati lagi ke depannya.
6. Tidak Semua Komentar Harus Ditanggapi
Dalam hidup, selalu ada orang yang mendukung dan ada juga yang tidak setuju dengan pilihan kita. Itu hal yang wajar. Tapi satu hal yang aku sadari, komentar orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita meresponsnya. Saat ini, aku merasa sudah mulai kebal terhadap komentar-komentar tentang pilihanku. Aku tahu mereka mungkin bermaksud baik, tapi yang menjalani hidup ini adalah aku. Aku tidak bisa menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada pendapat orang lain. Ini hidupku sendiri, dan aku berhak menentukan jalan hidupku, selama tetap dalam koridor agama dan norma yang ada.
7. Percaya pada Diri Sendiri
Aku mulai belajar untuk percaya pada diri sendiri, meskipun kadang masih muncul perasaan ragu. Memang sulit, tapi aku akan terus berusaha. Semangat!
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku sampaikan, tapi sepertinya cukup sampai di sini dulu. Semoga bisa menjadi pengingat, baik untukku maupun untuk kalian yang membaca ini. :)
Cheers,
Ihat
Monday, February 03, 2025
![]() |
| Photo by Tobi |
Pernahkah gak sih, kamu merasa begitu bahagia karena suatu pencapaian, lalu sadar bahwa kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar?
Terus, gimana perasaan kamu ketika kebahagiaan itu mulai memudar dan kamu harus kembali menghadapi realitas perjuangan?
Aku tidak pernah menyangka, di tengah-tengah kebimbangan hidup yang sedang aku hadapi, di pagi hari itu, Allah seperti sedang berbicara kepadaku melalui orang tua salah satu siswa yang harus aku temui. Setelah selesai konsultasi tentang perkembangan anaknya, si Bunda ini tiba-tiba berkata,
"Bu, kalau kata saya dalam hidup ini 20% kebahagiaan, sisanya 80% adalah pilihan: bertahan atau menyerah."
Aku mengernyitkan dahi, mencoba memahami maksudnya. Seakan menyadari kebingunganku, beliau melanjutkan,
"Misalnya, saat kita diterima di universitas ternama, kita akan mendapat ucapan selamat, merasa bangga dengan almamater kita. Tapi, berapa lama kebahagiaan itu bertahan? Mungkin hanya beberapa minggu. Setelahnya, kita harus menghadapi tugas-tugas yang melelahkan, tekanan akademik, konflik pertemanan, dan tantangan lainnya. Kita akan menghabiskan 80% waktu kita untuk memilih: bertahan dan berjuang, atau menyerah."
Aku mengangguk, mulai memahami arah pembicaraan ini.
"Saat lulus kuliah, kita kembali mendapat ucapan selamat, tapi itu hanya bertahan sebentar. Setelahnya? Kita harus kembali berjuang. Begitu juga saat diterima bekerja di perusahaan impian—20% awalnya penuh dengan kebahagiaan, tapi setelah itu kita kembali dihadapkan pada tekanan kerja, tuntutan, dan rasa jenuh. Sisanya? Lagi-lagi, kita memilih: bertahan atau menyerah."
Aku terdiam, mencerna kata-katanya.
20% kebahagiaan, 80% perjuangan.
Perjuangan yang penuh dengan rasa capek, lelah, kecewa, marah, bahkan terkadang terselip perasaan ingin menyerah.
"Makannya Bu, punya tujuan dalam hidup itu penting. Sebesar apa pun ujian yang datang, kalau kita tahu ke mana kita melangkah, kita akan tetap maju."
Pagi itu, rasanya seperti mendapat mata kuliah kehidupan. Aku mulai menyadari satu hal: tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kebahagiaan.
Ucapan si Bunda terus terniang di telingaku, sampai kemudian pertanyaan ini bergema dalam benakku.
Apakah kebahagiaan sejati terletak pada hasil, atau pada proses bertahan dan berjuang?
Tak lama setelahnya, aku mengikuti sebuah kajian, dan di sanalah aku menemukan jawabannya.
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang terbaik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)
"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-An'am:32)
"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Ali-Imran: 140)
Aku terdiam. Rasanya ayat-ayat ini menamparku.
Di era media sosial ini, mudah sekali melihat hidup orang lain yang tampak lebih bahagia hanya dari postingannya. Aku lupa, bahwa yang mereka bagikan hanyalah potongan kecil dari kehidupan 24 jam mereka. Aku terlalu sibuk membandingkan hidupku dengan orang lain, lalu merasa tertinggal.
Tapi semakin dewasa, aku menyadari sesuatu.
Saat sesuatu yang ingin kamu capai ternyata belum bisa kamu capai, lepaskan.
Jangan digenggam, biarkan ia berjalan menemui rumahnya sendiri. Kelak, kalau kamu adalah rumahnya, ia pasti kembali.
Kadang keindahan postingan orang-orang di media sosial membutakan kita. Sampai-sampai kita sendiri merutuki nasib kita yang menyedihkan. Padahal, namanya juga media sosial. Semuanya diatur, dipoles, diperindah sesuai dengan apa yang kita mau tampilkan. Jangan pernah terkecoh dengan postingan-postingan yang tersebar. Setiap hidup akan selalu ada ujiannya, masalahnya. Karena udah Allah sampaikan, kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan sementara dan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Kalau sekiranya media sosial itu malah bikin kamu banyak mengeluh dan terus membandingkan hidupmu dengan orang lain, mungkin saatnya mengambil jeda. Coba jalan keluar rumah, lihat sekitar kita. Masih banyak hal yang bisa kita syukuri tenyata. Terkadang, kebahagiaan sejati bukan tentang mencapai sesuatu yang besar, tetapi tentang menemukan keindahan dan ketulusan dalam hal-hal sederhana.
Dan yang terpenting...
Gak apa-apa kalau jalan hidupmu berbeda dengan teman-temanmu yang lain. Jangan pernah merasa tertinggal. Semua ada masanya.
Cheers,
Ihat




Social Media
Search