Monday, February 02, 2026
If I didn't feel tired, what would I do today?
If I didn't feel tired, I would engage in numerous tasks similar to those I handled in my previous school. For instance, I would organize various events, lead students in activities, attend multiple meetings, and connect with many people to gather inspiration and ideas. This would allow me to be highly productive and energetic throughout the day.
However, upon reflection, I realize that this busyness raises important questions: What am I truly chasing? When would I have time to listen to myself if I were constantly occupied with others? This thought makes me grateful for my tiredness. It enables me to live more slowly, observe my surroundings mindfully, and tune into my own needs and thoughts.
Perhaps it is time for me to relax and slow down in life, appreciating the balance that fatigue brings. In conclusion, while energy might fuel productivity, tiredness teaches valuable lessons about self-awareness and intentional living.
Write about your chilhood ambition
Dari semenjak dulu ampe sekarang, cita-cita aku gak pernah berubah: menjadi seorang guru. Alhamdulillah ini berhasil dicapai walau kalau kita lihat kondisi sekarang miris banget buat jadi guru karena pemerintah gak peduli sama nasib guru. Gaji gak seberapa, tapi tugasnya seabrek. Malah lebih fokus sama MBG. Hahahaaa.
Januari lalu aku sudah berhenti tidak lagi menjadi guru honorer di sekolah. Kenapa? Ya realistis aja. Di gaji 400 ribu perbulan tapi tugasnya sama kayak PNS. Ogah deh. Aku memilih untuk jadi guru lesan aja di sebuah lembaga kursusan. Sedih? Iya sedih. Tapi buat makan sehari-hari emangnya bisa bermodalkan ikhlas dan pengabdian?
Semoga pemerintah bisa berbenah soal kesejahteraan guru ini. Bisa lebih memperhatikan mereka dan mendukung para guru baik dari segi finansial, fisik, dan mental.
Who and what adds meaning to your life?
Bingung harus jawab apa. Karena untuk saat ini aku aja masih mempertanyakan tujuan hidup aku apa, aku mau ke mana, dan harus apa untuk hidup ini. Apalagi semenjak keinginan untuk bunuh diri itu kuat banget, walau pada akhirnya aku gak jadi melakukan itu.
Untuk saat ini aku hanya ingin berhenti sejenak dari semua ambisi-ambisi aku yang tak pernah ada habisnya. Aku hanya ingin mendengar diriku lebih banyak dan apa yang sebenarnya aku butuhkan. Aku hanya ingin mendengar diri sendiri saja untuk saat ini. Gak apa-apa mau dibilang lambat, gagal, gak ada tujuan hidup. Untuk bisa bangun dari tempat tidur, mandi, dan pergi kerja buat aku itu sudah menjadi pencapaian yang besar.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, pertanyaan "Who and what adds meaning to your life?" ini bikin aku mikir lebih dalam. Saat ini, mungkin belum ada orang atau hal spesifik yang benar-benar menambahkan makna besar ke hidupku, karena aku sedang fokus untuk mengerti sama diri sendiri dulu. Tapi, proses mendengarkan suara hati aku sendiri itu mulai jadi sumber makna kecil-kecilan, meski belum jelas bentuknya. Mungkin nanti, setelah aku lebih paham apa yang aku butuhkan, aku baru bisa menemukan jawaban yang lebih pasti. Yang penting, aku sedang belajar menerima bahwa pencapaian sehari-hari seperti itu sudah cukup untuk saat ini.
Where do you wish to travel next?
Malaysia? Singapura? Dua negara itu sih. Pengen banget nyoba ke luar negeri karena emang belum pernah. Pengen banget tahu budaya di sana bagaimana. Karena selama ini cuma denger dari orang yang pernah pergi ke sana.
Meski kalau dilihat dari penghasilan aku sekarang kayaknya impossible banget atau butuh waktu yang lama untuk bisa ngumpulin duit biar bisa ke sana, tapi aku yakin suatu saat aku bisa ke negera tersebut dan berkunjung ke negara-negara lainnya.
Thursday, January 29, 2026
Write about a gift you have always cherished.
Sepertinya hadiah berupa postcard dari Turki yang dikasih sama temen aku yang baru pulang kerja dari sana. Tanpa minta oleh-oleh dia ngasih itu dan rasanya entah kenapa seneng aja. Melihatnya setiap hari membuat aku termotivasi untuk belajar lebih giat lagi agar mendapatkan beasiswa yang aku inginkan. Hadiah itu aku simpan di meja kecilku sebagai alarm atas mimpiku, setiap kali aku bengong aku selalu mengambil postcard itu dan membayangkan suatu saat aku akan ada di sana.
![]() |
| doc.pribadi |
Kadang aku mikir, postcard sederhana ini gak cuma sekedar kertas dengan gambar cantik, tapi simbol dari harapan yang hidup. Ia mengingatkan dan meyakinkan aku kalau kerja keras bakal bawa aku ke tempat-tempat yang aku impikan. Setiap kali pegangnya, rasanya seperti janji kecil buat diri sendiri, bahwa aku nggak sendirian dalam perjalanan ini.

Social Media
Search