Refleksi Catatan 98: Mengizinkan Diri Untuk Merasakan Lelah
Halo!
Jadi, bagaimana seminggu ini? Capek? Kesal? Marah? Atau bahagia?
Talking about this week, I feel like I've been tired almost every day. Entahlah, rasanya capek aja. Iya sih, seminggu kemarin banyak mengerjakan administrasi kelas, seperti menilai hasil ujian siswa dan juga bikin report. Tapi kenapa ya, semenjak depresi hadir dalam hidup aku, aku jadi tak sekuat biasanya?
Aku jadi mudah lelah. Ngumpul atau terlalu banyak ketemu orang rasanya menyedot banyak energiku. Ah, ya! Nah kan, aku baru sadar alasan kenapa lelah sekali seminggu ini—bahkan di hari Minggu ini aku malas melakukan aktivitas. Seminggu ini aku memang banyak bertemu dengan orang tua siswa untuk acara parents' meeting. Rasanya energi ini benar-benar tersedot habis.
Bahkan kemarin, ketika teman-temanku mengajak untuk nongkrong di kafe, pada akhirnya aku tolak. Karena udah capek aja gitu, gak tahu kenapa. Udah gak ada energi lagi buat ketemu banyak manusia. Kadang suka mikir, kalau kayak gini terus, kapan ya bisa ketemu jodohnya? Hahaha.
Tapi wajar kok. Gak semua minggu harus kamu lalui dengan perasaan yang excited. Kamu boleh lelah, boleh merasa malas, dan boleh untuk tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk pertama kalinya dalam hidupku, orang tuaku tidak banyak komplain hari ini, meskipun aku tidak melakukan apa pun selain mandi, mengajar anak-anak (volunteer), makan, tidur, nonton, jajan, lalu ditutup dengan menulis buku dan membaca.
Btw, minggu ini aku sedang membaca buku Gentle Souls karya Dhannisa Cho. Isinya benar-benar menggambarkan apa yang pernah dan sedang aku rasakan. Kapan-kapan nanti aku tulis review-nya ya!
Ya sudahlah, untuk minggu ini pokoknya aku lelah. Aku lelah bertemu dan banyak berkomunikasi dengan manusia. Entahlah, aku juga tidak paham kenapa bisa se-lelah ini. Tapi ya sudahlah, biarlah. Mungkin memang minggu ini aku harus mengizinkan diriku merasakan lelah berkepanjangan.
Selamat menutup hari Minggu dan selamat bertemu hari Senin!


Comments
Post a Comment