What is essential to forming meaningful connections?
Buat aku meaningful connections itu saat kita bisa menjalin hubungan dengan orang lain tanpa terasa membebani diri kita sendiri. Kita bisa bebas menjadi diri sendiri tanpa takut judment, bisa jujur atas apa yang dirasakan lalu berani menyampaikan juga, tak peduli sesibuk apapun pasti bisa menyempatkan untuk sekedar menyapa, menanyakan kabar.
Ada satu hal yang aku pelajari dari my connections this week. Saat aku memberanikan diri untuk berkata tidak walaupun rasanya di awal sangat tidak nyaman, membebani, tapi setelah dicoba aku bisa merasakan kelegaan dalam hati. Kemudian, saat aku mulai belajar untuk memprioritaskan diri sendiri tanpa harus takut orang lain jadi jengkel atau benci, that's their bussiness, not mine. Karena apa yang mereka rasakan itu kan hak mereka and I don't have to make eveveryone pleased with me, do I?
Aku bahkan sudah berada di fase yang ada temen ok, gak ada temen juga gak apa-apa. As long as I enjoy myself. Aku gak mau berada di lingkaran pertemanan yang aku sendiri merasa terbebani, gak nyaman, bahkan kayak pretend to be ok. No, I don't want to fake anything. It's exhausting.
The thing that makes me grateful and also sad in the same time is.
Saat aku bisa menemukan orang itu, pada akhirnya kita dihadapkan pada realita bahwa connection which we have doesn't work for the future. Aku nyaman bersama orang ini, bahkan bisa ngobrol lama padahal dalam berkomunikasi kita tidak pakai bahasa Ibu masing-masing. Biasanya aku akan sangat ke drain energi kalau banyak ngobrol sama orang lain even we use Indonesian language, but with him I don't know why I really enjoy every topic that we discuss. Untuk dia yang gengsi dan takut penolakan dengan aku yang inisiatif, biasanya aku yang pancing dia baru sisanya aku membiarkan dia bergerak sendiri. Setelah beberapa bulan ini kita tidak ada kontak sama sekali, tapi entah mengapa malam tadi kita malah bisa kembali ngobrol lama seperti dulu-dulu yang biasa kita lakukan. Satu hal yang kini berubah adalah aku sudah tidak lagi banyak berharap kepada dia, karena hubungan dua negara yang berbeda memang banyak membutuhkan persiapan. Selain itu, untuk hal mendasar seperti finansial yang bisa kita jadikan sebagai alat untuk kita bisa bertemu di dunia nyata dengan kondisi keuangan dan pekerjaan kita saat ini rasanya mustahil. Dulu aku pernah marah sama dia hanya karena aku merasa tidak perjuangkan, tapi kini seiring dengan berlalunya waktu aku juga sadar ternyata apa yang dia katakan itu benar. Dia lebih baik menyampaikan hal seadanya daripada membuat janji yang pada akhirnya tidak bisa ditepati. Jika saat ini aku lebih banyak legowo dengan connection yang kita punya, dia sekarang sudah punya plan untuk membangun hidupnya dan ada keinginan untuk memperjuangkan visa agar dia bisa bekerja di Spanyol. Untuk saat ini menikah bagi dia tidak ada dalam kamusnya, karena dia masih struggle dengan keuangannya dan aku sangat respect hal itu. Satu jam berlalu kami isi dengan ngobrol tentang kehidupan kami masing-masing, pekerjaan, rencana ke depannya, dan juga kondisi negara kami masing-masing. Aku tahu, aku sudah terlanjur nyaman dengan orang ini. Bahkan ketika dihitung-hitung it's almost 3 years we've known each other. Meski sudah beberapa kali aku yang memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi tapi entah kenapa ya balik lagi-balik lagi. Satu pesan yang dikirim bisa jadi bahan obrolan yang panjang. Dan aku senang dengan dia yang sekarang karena dia sudah lebih terbuka tentang kehidupannya dibandingkan awal-awal ketika kami masih berkenalan.
Bersama dia, aku diberi kesempatan untuk merasakan sebuah meaningful connection. Meski hanya sebatas di dunia maya, tapi bersama dia untuk pertama kalinya aku merasa aku bisa jadi diri sendiri. Perasaan marah, kesal, dan semua perasaan yang aku rasakan bisa valid saat bersama dia. Aku banyak belajar dari dia tentang memandang kehidupan ini. Untuk aku yang emosional dan dia yang sangat rasional. Rasanya seperti saling melengkapi. Bersama dia juga aku tidak merasa sendiri, semua percakapan apapun bisa menjadi terasa bermakna atau hal-hal seserius apapun kadang dia bawa sedikit bercanda supaya lebih relaxed. Jika di awal aku sangat menginginkan orang ini bahkan terdengar seperti memaksa, namun saat melihat realita yang ada aku menjadi sadar. Bisa jadi apa yang kita anggap baik belum tentu baik untuk kita sebenarnya.
Aku hanya jadi punya pijakan baru, pandangan baru, dan juga pengalaman baru bahwa tipe laki-laki seperti inilah yang bisa mengimbangi aku, membimbing aku, sekaligus menemani overthinking-nya aku sehingga bisa diuraikan dengan benar.
Kalaupun pada akhirnya orang itu bukan dia, semoga nanti akan dipertemukan dengan jenis-jenis manusia seperti dia yang pastinya akan selalu lebih baik dan bisa menerima diri ini dengan segala keabsurdannya.
Dan untuk diri sendiri, sebelum kamu punya meaningful connection dengan orang lain ternyata semuanya berawal dari cara kamu menerima dan memperlakukan dirimu sendiri dengan baik.
Hey, I'm proud of you.
Post a Comment