Monday, March 16, 2026
Pola emosi apa yan terus berulang dalam hidupku?
Setiap pagi, matahari menyusup melalui celah-celah jendela kamar yang kusam, tapi aku tetap berbaring di atas kasur. Tubuhku berat, seperti ditindih beban tak kasat mata. "Bangunlah, ayo," bisik pikiranku, tapi semangat itu hilang entah ke mana. Hidup terasa seperti kabut abu-abu yang tak berujung, tidak ada warna, tidak ada tujuan. Sedih itu datang lagi, seperti tamu tak diundang yang selalu muncul tanpa kenal waktu. Di tengah kekosongan itu, perasaan hampa merayap masuk, meninggalkan lubang di dada yang tak bisa diisi apa pun, bukan makanan, bukan hiburan, bahkan bukan pula sebuah pelukan.
Siang hari, hal-hal kecil pun antara terasa menusuk atau sama sekali tak berarti. Aku bisa sangat numb atau bisa saja aku terlalu sensitif dengan apa yang terjadi. Kadang tertawa hanya ikut tertawa, diam melamun, lalu tiba-tiba air mata sudah menggenang tanpa alasan jelas. Dan aku merasa dunia terlalu kasar untuk bisa kufahami.
Malam hari lebih parah. Jam menunjukkan pukul satu dini hari, tapi mataku menolak terpejam. Pikiran berputar-putar: kenangan masa lalu yang menyakitkan, kekhawatiran besok yang tak pasti, dan pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti, "Buat apa semua ini? Buat apa aku hidup?" Aku berguling-guling di tempat tidur, menatap langit-langit kamar, atau kalau sudah kesal sekali lantaran tak bisa memejamkan mata pada akhirnya aku akan mengambil hp, scroll ini-itu berharap riuhnya isi kepala bisa teralihkan. Tapi setelah menit, jam berlalu semuanya tidak membantu. Bahkan dengan keheningan yang menyelimuti, justru itu terasa menyiksa diri bahkan disertai dengan air mata yang diam-diam tumpah.
Ini pola yang kukenali sekarang. Sedih, hampa, sensitif pada hal kecil, sulit fokus, kehilangan semangat, susah tidur, susah bangun, sedih lagi. Lingkaran setan yang berulang setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Kadang aku coba lawan dengan minum latte: varian kopi favoritku, bersepedah, atau membaca buku. Tapi besoknya? Semuanya kembali. Seperti roda yang rusak, terus berputar di tempat. Semua ini kembali lagi terulang setelah aku berhenti minum obat anti depresan. Meski pola ini tak separah sebelumnya, namun sungguh tak nyaman untuk dirasakan dan dilalui.
Suatu hari, aku menatap cermin, melihat pantulan wajahku di sana. "Kapan ini berhenti?" Lalu, dalam hening itu aku berdoa pelan,
"Ya Allah, sekuat-kuatnya perasaan ini menguasaiku tolong jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah membiarkan aku putus asa dari rahmat-Mu dan meragukan kuasa-Mu."
"Ya Wali, be my closest friend when the world drifts away. Guard me with the grip that never slips. Guide me gently through what I don't understand and let every loss lead me back to You.
Ya Barr, keep me firm on the ground of Your goodness. Make my faith steady when my heart trembles. Let me love what brings me to Your stability and make me patient with what keeps me on its shore.
Ya Rafiq, be tender with my soul as You unfold Your plan. Soften the path without removing its purpose. Make me gentle with others as You've been gentle with me. And when I am lonely, fill that space with Your Companion." (The Friend Who Never Leaves - Ep 4 Dr Omar Suleiman)
Monday, March 02, 2026
There is a question that often lingers in the quite corners of my mind: What mistakes or shortcomings still haunt me with guilt? However, this is not merely about my flaws or past errors. Rather, it is a reflection on a deeper struggle, one that has shaped my understanding of faith, doubt, and surrender.
I have walked through that darkness. There were moments, some still present now, when I contemplated leaving Islam altogether. When I lost faith in myself, in my life, and eventually in my belief, I found myself thinking: Should I seek another God?
Yet, something pulled me back. I forced myself reopen the Qur'an. I watched countless videos about Islam, particulary about Qada and Qadar. And in those moment, I wept.
The root of my despair lay in my struggle with Qadar. I wanted to control of my life, to shape it according to my own desires. Whenever things unfolded differently from what I had planned, disappoitment consumed me. I blamed myself, convinced that I had failed beyond repair.
But slowly, I began to learn something profound: to surrender it all back to Allah. I started seeking His light, believing that only He can guide me out of the darkness and lead me back to the right path.
Ya Hadi, guide me when my heart forgets the way. Pull me back from every turn that leads me astray. Let your guidance feel closer than the doubts in my chest and steadier than the voices that confuse me.
Ya Rasyid, teach me to see the truth instinctively. Make faith beloved to me. make righteousness feel natural. And let sin feel heavy on my chest and hated by my every breath. Inspire me with wisdom that protects me even from myself.
Ya Nur, light every darkness I carried or caryy within. Let your light pour into my heart and onto all my other limbs. Until you make me a light and everything I see reminds me of you.
Ya Mubin, make your signs clear in what surrounds me and what is within me. Reveal the lessons hidden in every trial. Let me never lose sight of your signs again. (When You're Searching For Meaning, The Name I need Ep. 3, Dr Omar Suleiman)
Thursday, February 26, 2026
Jika hatiku bisa berbicara kepada Allah hari ini, apa yang ingin ia sampaikan?
Aku ingin bilang,
Izinkan aku berdiri di hadapan-Mu dengan hati yang terbuka. Dengan segala kerentanan dan ketakutan yang menyertainya. Aku menyadari bahwa seringkali aku melupakan-Mu di tengah hiruk pikuk urusan dunia yang tak ada habisnya. Namun Engkau tetap menjadi cahaya yang tidak pernah padam, bahkan di saat-saat kegelapan datang menyelimuti yang terasa begitu menyesakkan.
Ya Rabb, bimbing aku agar langkahku tidak tersesat dalam labirin kehidupan yang fana ini. Hadirkan cahaya-Mu agar aku dapat melihat jalan-Mu yang benar. Menghilangkan kabut yang memenuhi pikiran dan menjauhkanku dari jurang keputusasaan yang begitu gelap dan panjang.
Ingatkan aku, Ya Allah, bahwa hidup ini adalah ujian yang bersifat sementara. Bahwa setiap detik yang kulalui adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Dan akhirat adalah rumah yang kekal, tempat balasan sejati atas setiap usaha yang aku kerjakan dengan ikhlas.
Bimbing aku untuk menjadi hamba yang Engkau ridhai. Bukan manusia yang mengejar kepuasan dunia, melainkan jiwa yang tentram dalam naungan cinta dan kasih-Mu.
Ketika dunia menarik perhatianku ke arah yang salah, ingatkan aku bahwa Engkau adalah pusat dari segalanya. Ajarkan aku untuk menyucikan niat, agar setiap langkah yang aku ambil, setiap nafas yang aku hembuskan, semata-mata hanya untuk-Mu.
Ketika dunia sibuk memperjuangkan kekayaan dengan segala cara, hingga aku mulai mengeluh dan melupakan segala nikmat-Mu, ingatkan aku bahwa rezeki ku sudah Engkau atur dengan sempurna.
Ketika seluruh dunia mencari validasi dari sudut pandang manusia lain, ingatkan aku bahwa nilai diriku hanya berasal dari-Mu. Engkau adalah satu-satunya yang berhak menilai, bukan manusia fana yang juga mencari jawaban yang sama
Dan ketika hati mulai terbagi untuk mencintai urusan dunia yang sementara, ingatkan aku bahwa hatiku adalah milik-Mu semata. Seluruh aktifitasku, pengorbananku, sepenuhnya untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang-Mu.
Ya Rabb, ajarakan aku untuk terbebas dari belenggu penilaian duniawi yang kadang membutakan mata hati hingga melupakan kehadiran-Mu.
Ya Allah, The One my heart was created to seek, pull me away from every false worship, from anything that divines my devotion, until nothing fills my longing but You.
Ya Wahid, Unify my pursuit into a single direction. And when the world pull me apart, center me in Your oneness.
Ya Ahad, open my heart to see that nothing compare, so that I'm never overly impressed by anyone but You. And I come to love Your names and attributes in a way that fress me from all others but You.
Ya Witr, when I stand alone at the close of the night, let my solitude remind me of Your singular majesty. Make my heart distinct by its devotion, and make me one of Your servants. (Who Owns Your Heart? Allah's Name Ep.2 Dr. Omar Suleiman)
"Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, "Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya: 87)
Tuesday, February 24, 2026
Kapan terakhir kali aku merasa jauh dari Allah, dan kenapa?
Mungkin pertanyaan itu selalu menggema di setiap sudut hatiku yang paling gelap. Dan jawaban itu selalu sama: saat depressive episode datang mengetuk pintu hidupku. Aku merasakan hidupku yang gelap, tak ada lagi harapan, dan masa depan yang suram: saat dunia tiba-tiba kehilangan warnanya, saat harapan menjadi kata yang asing, dan masa depan terasa seperti lautan luas tanpa tujuan.
Malam-malamku dipenuhi bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, seperti film yang diputar berulang-ulang tanpa bisa dihentikan. Aku mencoba memejamkan mata, tetapi kenangan-kenangan itu selalu berhasil membangunkanku lagi.
Aku kehilangan semangat untuk beribadah. Salat yang seharusnya menjadi penenang, justru menjadi beban yang terasa sangat berat. Tapi anehnya, meskipun jiwaku letih, aku tetap memaksakan diri untuk bersujud, seraya berdoa, "Ya Allah, bagaimana pun kondisi aku, jangan biarkan aku melupakan dan meninggalkan-Mu."
Di titik terdalam keputusasaanku, ada sebuah pikiran yang terus mengantui: aku merasa tidak layak atas hidupku ini dan pada saat itu yang ada dalam fikiranku adalah aku ingin segera mengakhiri hidupku ini.
Namun berapa kali aku mencoba untuk menyakiti diri sendiri dan ingin mengakhiri hidup, hal itu tidak pernah sampai di garis finish yang aku inginkan. Aku merasa seolah Allah terus menerus menjagaku, melindungiku, dan membimbingku.
Sekarang, aku terus mencari apa arti hidup ini, serta apa yang bisa membuatku kembali menemukan cahaya di ujung kegelapan terpanjang ini.
"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Social Media
Search