Terlambat

Wednesday, December 24, 2025


Namaku Amelia. Semua orang memanggilku, Lia.

Masuk SMA itu bukan rencanaku. Aku tidak lolos ke sekolah favorit—bukan karena nilai, tapi karena biaya. Nilai raporku cukup baik, tapi kondisi keuangan keluargaku tidak pernah benar-benar memberi banyak pilihan. Jadi aku menerima saja ketika akhirnya harus masuk ke SMA ini. Sekolah biasa, tanpa embel-embel unggulan, tanpa kebanggaan khusus.

Aku datang dengan perasaan setengah pasrah. Tidak berharap apa-apa, tidak menunggu siapa-siapa. Aku hanya ingin lulus dengan baik, lalu pergi sejauh mungkin dari tempat ini.

Setelah MOS atau Masa Orientasi Siswa selesai dan kami resmi masuk kelas, satu nama langsung cepat beredar di antara anak-anak baru, adik kelas, sampai kakak kelas.

Dimas.

Maklum. Wajahnya gampang diingat. Ganteng, senyumnya manis, deretan giginya rapi. Cara jalannya santai, seolah sekolah ini sudah lama ia kuasai. Banyak yang diam-diam memperhatikannya dan tidak sedikit yang terang-terangan kagum.

Aku tidak termasuk di antaranya. Setidaknya, begitu yang ingin kupercaya.

Sejak awal aku bersikap biasa saja. Sedikit sinis, bahkan. Sampai suatu hari, tanpa aba-aba, kamu mulai sering meminjam alat tulisku. Pulpen. Penghapus. Alasan sepele yang terlalu sering diulang.

Saat pergantian jam pelajaran dan guru belum datang, kamu berdiri dari bangku, mengambil spidol, lalu menulis sesuatu di papan tulis.

Lia.

Diiringi sebait lagu Rama—Bertahan—yang dia nyanyikan setengah bercanda.

“Lia, aku di sini,” katamu ringan.

“Lihat!” kataku sinis tanpa menoleh. Aku tetap menyalin pelajaran sebelumnya, berpura-pura tidak peduli.

Kamu hanya tersenyum, lalu menghapus tulisan itu.

Hari itu seharusnya tidak berarti apa-apa.

Tapi namaku di papan tulis membuat sesuatu bergerak pelan di dalam dadaku.

Dan sejak hari itu, aku mulai menyadari satu hal:

kamu terlalu sering muncul di hari-hariku.

Tuesday, December 23, 2025


Hari itu tanpa angin, tanpa hujan. Tiba-tiba kabar itu datang: kamu masuk rumah sakit jiwa.

Informasinya tak pernah utuh. Dan aku memilih untuk tidak banyak bertanya; karena aku bukan siapa-siapa dalam hidupmu, bukan?

Sampai akhirnya, sahabatmu sendiri yang meneleponku.

Katanya aku harus menjengukmu. Tak bisa dijelaskan lewat telepon. Tiket dan seluruh ongkos perjalanan ditanggung keluargamu. Dan aku memilih mengiyakan, dengan satu alasan yang terdengar paling netral: kemanusiaan.

Sejak pertama kabar itu datang, aku sengaja menjaga jarak. Aku menutup semua lembaran tentangmu. Aku memaafkan kesalahan-kesalahanmu di masa lalu. Aku mengira semuanya sudah selesai.

Tapi mengapa jalannya harus seperti ini? Mengapa keluargamu yang memintaku hadir?

“Sudah satu minggu ini, nama kamu terus keluar dari mulut adik saya,” kata kakakmu begitu aku tiba di rumah sakit. “Kadang dia tertawa, lalu menangis sambil menyesali.”

Aku hanya diam. Mendengarkan. Hingga langkah kami berhenti di ruang khusus untuk bertemu pasien.

Sepuluh tahun berlalu.

Dan baru pada hari itu aku melihatmu lagi.

Kamu mengenakan pakaian pasien, lengkap dengan gelang identitas di pergelangan tangan kirimu. Tubuhmu ada di hadapanku, tapi matamu kosong—seolah tak benar-benar hadir.

“Dek,” kata kakakmu pelan, “ini orang yang sering kamu sebut namanya.”

Tiba-tiba kamu berjalan mendekat. Tanpa ragu, tanpa kata, lalu memelukku.

Aku terkejut bukan main. Naluriku ingin melepaskan diri, tapi pelukanmu terlalu erat, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu untuk kedua kalinya.

“Jangan tinggalkan saya,” ucapmu terbata. “Maafkan saya.”

Dan di detik itu, aku sadar: ada perasaan yang sudah lama aku kubur rapi, tapi belum sepenuhnya mati.

Aku tidak membalas pelukanmu. Tanganku menggantung kaku di udara, lalu perlahan turun, membiarkanmu menangis di dadaku. Aku tidak tahu harus bersikap sebagai apa? Seorang teman lama, kenangan yang seharusnya selesai, atau orang asing yang kebetulan punya wajah yang kamu ingat?

“Tenang ya,” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Kalimat paling aman yang bisa kuucapkan agar tidak memberimu harapan, juga tidak melukai.

Kamu terisak lebih keras, seolah kalimat itu adalah izin untuk runtuh sepenuhnya.

Kami duduk berdampingan. Ada jeda panjang di antara kami, dipenuhi suara mesin dan langkah kaki perawat. Kamu bercerita terpotong-potong. Tentang malam-malam tanpa tidur, tentang rasa bersalah yang datang tanpa aba-aba, tentang penyesalan yang tidak tahu harus diarahkan ke mana.

Aku mendengarkan. Tidak menyela. Tidak menghakimi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar hanya hadir.

Di kepalaku, aku berperang dengan diriku sendiri. Ada bagian dari diriku yang ingin memelukmu lebih erat, ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ada juga diriku yang tahu: aku tidak bisa menyelamatkanmu. Dan kamu tidak berhak menjadikanku satu-satunya jangkar.

Waktu kunjungan hampir habis. Perawat memberi isyarat halus.

Aku berdiri. Kamu menatapku cemas.

“Kamu akan datang lagi?” tanyamu lirih.

Aku menarik napas panjang. “Aku doakan kamu sembuh,” jawabku jujur. Tidak berjanji, tidak pula menutup kemungkinan.

Kamu mengangguk, meski jelas ada kecewa di matamu.

Saat aku melangkah pergi, aku tidak menoleh ke belakang. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku tahu: jika aku menoleh, aku mungkin akan tinggal. 

Di luar rumah sakit, angin berembus pelan. Untuk pertama kalinya sejak kabar itu datang, aku merasa bisa bernapas penuh.

Sepuluh tahun telah berlalu.

Dan hari itu, aku akhirnya benar-benar melepaskan.


***


“Depresi berat.”

Itulah yang diucapkan kakakmu begitu sesi kunjungan selesai. Kalimat itu meluncur datar, seolah sudah diulang berkali-kali kepada banyak orang. Aku mengangguk pelan, pura-pura mengerti, padahal kepalaku kosong. Yang tersisa hanya bayanganmu dengan pakaian pasien dan pelukan yang terlalu erat untuk dilupakan.

Kakakmu dengan baik hati mengantarku menuju hotel. Mobil melaju perlahan, lalu terjebak macet. Lampu merah, klakson bersahut-sahutan, dan kota tetap hidup—bertolak belakang dengan dadaku yang terasa hening.

“Waktu SMA… kalian pacaran?” tanyanya hati-hati, seolah takut menyentuh luka yang belum kering.

Aku tersenyum getir, lalu menggeleng pelan.

Aku bukan pacarmu. Aku hanya seseorang yang terlalu lama berharap pada perasaan yang tidak pernah benar-benar dibalas.

Kamu sering mengejekku. Dengan kata-kata, dengan tawa kecil yang seolah tak berarti apa-apa. Awalnya aku hanya benci. Sangat benci. Tapi entah sejak kapan, rasa itu berubah arah. Aku jatuh cinta pada orang yang bahkan tidak pernah melihatku sebagai tempat pulang.

Hal-hal yang sudah kututup rapat, perlahan terbuka kembali. Seperti laci lama yang dipaksa dibuka, meski isinya penuh debu dan luka.

Di tengah kemacetan itu, kakakmu meminta aku bercerita. Tentang SMA. Tentang kamu.

Dengan berat hati, aku menuruti.

Dan aku sadar: menceritakan kembali artinya mengingat ulang. Mengingat ulang artinya membuka luka yang belum tentu sudah sembuh.

Tentang bangku sekolah yang penuh coretan, tentang ejekanmu yang kuingat terlalu detail, tentang caraku diam-diam memperhatikanmu dari kejauhan. Tentang aku yang selalu berharap, dan kamu yang tak pernah benar-benar tinggal.

Mengingat semua itu ternyata masih menyakitkan.

Bukan karena aku belum move on.

Tapi karena beberapa perasaan tidak pernah benar-benar pergi, dia diam di sudut hati terdalam minta untuk diakui, diterima lalu dilepaskan. 

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi