Namaku Amelia. Semua orang memanggilku, Lia.
Masuk SMA itu bukan rencanaku. Aku tidak lolos ke sekolah favorit—bukan karena nilai, tapi karena biaya. Nilai raporku cukup baik, tapi kondisi keuangan keluargaku tidak pernah benar-benar memberi banyak pilihan. Jadi aku menerima saja ketika akhirnya harus masuk ke SMA ini. Sekolah biasa, tanpa embel-embel unggulan, tanpa kebanggaan khusus.
Aku datang dengan perasaan setengah pasrah. Tidak berharap apa-apa, tidak menunggu siapa-siapa. Aku hanya ingin lulus dengan baik, lalu pergi sejauh mungkin dari tempat ini.
Setelah MOS atau Masa Orientasi Siswa selesai dan kami resmi masuk kelas, satu nama langsung cepat beredar di antara anak-anak baru, adik kelas, sampai kakak kelas.
Dimas.
Maklum. Wajahnya gampang diingat. Ganteng, senyumnya manis, deretan giginya rapi. Cara jalannya santai, seolah sekolah ini sudah lama ia kuasai. Banyak yang diam-diam memperhatikannya dan tidak sedikit yang terang-terangan kagum.
Aku tidak termasuk di antaranya. Setidaknya, begitu yang ingin kupercaya.
Sejak awal aku bersikap biasa saja. Sedikit sinis, bahkan. Sampai suatu hari, tanpa aba-aba, kamu mulai sering meminjam alat tulisku. Pulpen. Penghapus. Alasan sepele yang terlalu sering diulang.
Saat pergantian jam pelajaran dan guru belum datang, kamu berdiri dari bangku, mengambil spidol, lalu menulis sesuatu di papan tulis.
Lia.
Diiringi sebait lagu Rama—Bertahan—yang dia nyanyikan setengah bercanda.
“Lia, aku di sini,” katamu ringan.
“Lihat!” kataku sinis tanpa menoleh. Aku tetap menyalin pelajaran sebelumnya, berpura-pura tidak peduli.
Kamu hanya tersenyum, lalu menghapus tulisan itu.
Hari itu seharusnya tidak berarti apa-apa.
Tapi namaku di papan tulis membuat sesuatu bergerak pelan di dalam dadaku.
Dan sejak hari itu, aku mulai menyadari satu hal:
kamu terlalu sering muncul di hari-hariku.
.png)
Post a Comment