Thursday, January 01, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Alasan untuk Tetap Hidup (Reasons to Stay Alive)
Penulis: Matt Haig
Tahun Terbit: Cetakan ketiga: Oktober 2020
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Blurb
Apa rasanya menjadi orang yang mengalami gangguan kecemasan atau depresi? Ada dorongan yang membanjiri perasaan dan pikiran mereka sampai-sampai tubuh fisiknya pun ikut sakit. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.
Matt Haig pernah berada di titik itu. Ia pernah mencoba bunuh diri di pinggir tebing ketika berusia 24 tahun. Serangan panik yang bertubi-tubi dan harapan yang tak lagi terlihat membuatnya berpikir bahwa mengakhiri segalanya adalah hal terbaik. Tetapi, pada langkah terakhir, ia berhenti dan mengurungkan niatnya.
Sampai sekarang, ia menjadi bukti bahwa gangguan kecemasan dan depresi bisa diatasi. Melalui buku inni, Matt Haig akan membagikan pengalamannya, mulai dari gejala depresi, rasanya mendapat serangan panik, hingga apa yang membuatnya bertahan hidup hingga hari ini. Kita akan menyelami apa yang para penderita depresi rasakan dan bagaimana cara membantu mereka (atau bahkan diri sendiri) menjadi lebih baik.
Tiga Insight Utama
1. Ada sebuah fakta aneh tentang pikiran, yaitu Anda bisa saja memikirkan hal-hal yang sangat intens dalam benak Anda, tapi tidak seorang pun bisa melihatnya. (p. 12)
2. Depresi tidak selalu memiliki sebab yang jelas. Depresi bisa memengaruhi banyak orang - para jutawan, orang-orang berambut indah, orang-orang dengan kehidupan pernikahan yang bahagia, orang-orang yang baru saja naik jabatan, orang-orang yang bisa menari tap, melakukan trik kartu, dan main gitar, orang-orang yang pori-porinya kecil, orang-orang yang membanjiri unggahan status mereka dengan kebahagiaan - yang dari luar, kelihatannya tidak punya alasan untuk bersedih.
Depresi itu misterius, bahkan bagi para penderitanya. (p. 17)
3. Dengarkan baik-baik. Kalau selama ini Anda percaya bahwa seseroang yang deprei ingin bahagia, Anda salah. Mereka sama sekali tidak peduli betapa menyenangkannya kebahagiaan. Mereka hanya ingin kepedihan mereka lenyap. Mereka ingin lari dari pikiran yang terbakar, saat semua isi benak menyala-nyala dan mengeluarkan asap bagai benda-benda peninggalan kuno yang dilalap api. (p. 20)
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini seperti sedang menerjemahkan perasaan yang sulit dipahami begitu depresi itu sendiri menyerang diri sendiri. Melalui buku ini, aku merasa tidak sendiri, seperti ada teman yang mampu memahami perasaan yang selama ini sulit untuk dimengerti.
Buku ini juga mengingatkanku betapa pentingnya memahami kondisi seseorang secara utuh. Alih-alih buru-buru menghakimi atau memberi nasihat klise, kita justru perlu memperkaya diri dengan literasi dan informasi. Dengan begitu, kita tidak gegabah saat menemani proses seseorang—atau diri sendiri—keluar dari kondisi yang gelap tersebut.
Buku ini sangat aku rekomendasikan, baik untuk kamu yang sedang bergulat dengan depresi, maupun untuk kamu yang memiliki keluarga, kerabat, atau teman yang sedang mengalaminya. Setidaknya, buku ini bisa membantu kita belajar memahami—bahwa bertahan hidup saja, bagi sebagian orang, sudah merupakan perjuangan yang luar biasa.
Untuk mengawali bulan Januari di tahun 2026 ini, aku mau challange diriku sendiri lewat kegiatan #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara: www.kevinanggara.com. Topik-topiknya pun aku ambil semua dari blognya Kak Kevin. Makasih ya kak udah nulis topik-topik tersebut selama 30 hari.
Okay mari kita mulai di hari pertama ini dengan pertanyaan:
List three things you are grateful for and why?
1. Buku
Aku bersyukur banget karena di dunia ini ada buku. Aku juga bersyukur sama diri sendiri yang suka banget baca buku dari mulai aku TK bawa-bawa buku cerita Nabi yang bergambar sampai sekarang yang lagi doyan bacan buku self-improvement: khusus yang bahas soal kesehatan mental. Makin ke sini makin sadar kalau ternyata buku jadi teman paling mujarab di kala otak udah kalang kabut ke sana-kemari. Selain itu pula melalui buku, aku jadi punya bahan untuk menulis. Ambil saja satu kalimat yang menarik, habis itu aku bahas dari segi pengalaman atau perspektif aku sendiri.
Berawal dari buku cerita kisah para Nabi bergambar, naik ke buku tebal yang tidak bergambar, cerpen-cerpen di koran, lalu novel-novel, sampai akhirnya anteng di buku penuh tips-tips atau pengalaman orang lain.
Di tahun 2022-2024, sempet stuck sih karena rutinitas yang padat membuat aku hanya mampu membaca buku 1-2 buku selama satu tahun itu. Nah di akhir tahun 2025 kemarin, aku berhasil melahap setidaknya kurang lebih 10 buku. Dan di tahun ini, aku gak menargetkan sih. Pokoknya satu hari harus baca buku aja. Udah titik.
2. Internet
Aku bersyukur banget dengan kehadiran internet. Kenapa coba? Ya tentunya biar bisa nge blog hahahaaa. Aku mulai nge blog itu di tahun 2013, masih inget banget dulu zamannya ke warnet kan ya. Sekarang bisa lebih mudah mengakses internet di manapun kita berada.
Selain itu juga dengan adanya internet, mempermudah aku dalam mencari prompt-prompt journal yang sesuai dengan apa yang aku butuhkan. Meski di buku bisa kita temukan, tapi ada beberapa hal juga yang bisa dengan mudah kita temukan di internet bukan? Sebenarnya bukan hanya soal internetnya aja sih, bersyukur punya duit dan bisa beli kuota itu yang utama. Hahahaa. Karena kalau gak ada duit, gimana bisa kita beli kuota dan menikmati akses internet?
3. Ice Cream
Yap, semenjak didiagnosis depressive episode, ice cream adalah jalan ninjaku dikala kambuh tiba-tiba. Rasanya menenangkan aja pas lagi makan itu dan udahnya cukup bikin diri ini tenang. Biasanya ice cream andalan aku adalah Mixue dengan menu Boba Sundae atau engga Ice Cream Latte. Sebenarnya ice cream McD tak tergantikan sih, tapi mau gimana ya. Lagi boikot kan huhuuu. Jadi biasanya sambil makan ice cream, sambil melamun dan itu menyenangkan. Hahahaa!
Itu dia tiga hal yang aku syukuri kehadirannya. Kalau kamu gimana? Share pengalaman kamu di sini yak!
Happy writing!
Ihat
Wednesday, December 31, 2025
Sepertinya sudah telat 3 hari ya aku tidak menulis refleksi untuk satu minggu yang lalu? Tapi tidak ada kata terlambat bukan? Jadi baru hari ini aku akan menulis apa saja yang aku lalui di satu minggu ke belakang.
What makes me happy is jalan-jalan. Iyaps! Sabtu kemarin aku habis ikutan Cerita Bandung dengan rute Pecinan Discover disusul hari Minggunya pergi ke Katapang, naik motor bareng temen lama waktu kerja di Bandung. It was so amazing! And I really enjoyed the tour.
Uniknya aku menemukan hal aneh dalam diriku. Jika biasanya aku akan banyak ngobrol dan berisik, entah kenapa kali ini aku lebih menikmati mode diamku. Aku sangat menikmati jalan-jalan hanya dengan mengamati ketimbang banyak bertanya atau mengobrol. Dan hal itupun dirasakan oleh teman-temanku: aku lebih banyak diam. Entahlah, ini menjadi hobi baruku rasanya. Aku senang jalan-jalan dengan mengamati pemandangan tanpa banyak obrolan. Sepertinya ini akan aku lanjutkan di tahun selanjutnya! Solo travelling kali ya?
Minggu kemarin juga menjadi minggu pertama aku melepas status sebagai guru bahasa Inggris secara formal. Yeayy! Aku sudah tak lagi menjadi guru formal di sekolah dan rasanya entah mengapa melegakkan. Mungkin aku tidak suka suasana pagi yang kedabag-kedebug. Karena itu menguras emosiku.
Mm, mau cerita apalagi ya? Oh iya. Aku juga sudah lepas obat tidur hahahaa. Meski begitu, ternyata susah buat bisa tidur. Biasanya kan kebantu banget sama obat itu. Tapi kini enggak. Yang jam 8 biasanya udah nguap dan mata udah nutup rapat, ini masih melek. Bahkan aku benar-benar bisa tidur di jam 1 dini hari. Otak tuh rasanya berisik gak bisa diem. Capek banget sumpah. Kalau lagi susah tidur gitu, biasanya aku bakal gangguin adek aku yang udah tidur. Saking udah kesel gak bisa tidur.
Aku sudah mengupayakan berbagai cara. Mengurangi kafein, banyakin minum air putih, menjauhkan gadget minimal banget di 30 menit sebelum tidur, baca buku dulu sebelum tidur, dzikir. Arghh....!! Tetep aja otak aku aktif banget bahkan berisik. Udah pakai cara nulis juga tetep. But, wait! Aku jadi inget malam waktu aku nginep di kosan temenku kemarin. Sebelumnya itu aku sama temenku lari malam di Gasibu dan aku bisa banget tidur lelap tanpa otak berisik dan aktif. Apa jangan-jangan aku harus rutin lari sore kali ya? Biar bisa bobo nyenyak?
Karena jam tidurku yang kini berantakan, alhasil bangun pagi pun berantakan. Aku jadi mudah ngantuk di pagi hari dan sudah tiga hari ini aku melewatkan kegiatan fisik di pagi hari sambil menghirup udara pagi. Rasanya melelahkan ya? Banget! Huhuuu.
Dan lucunya aku juga gak bisa cerita ke sembarang orang. Aku udah capek di semangatin terus dan dikasih tips-tips ala-ala. Aku cuma butuh didengar dan dipahami. Udah itu aja. Alhamdulillahnya aku bersyukur karena aku punya satu teman itu. Karena kita sama-sama sedang berjuang dengan si depressive episode ini, tiap kali kita berulah kayak anak kecil ya no comment. Karena tanpa diceritakan udah paham aja rasanya gimana.
Beberapa jam lagi kita akan menuju tahun 2026 dan aku masih harus berjuang serta berteman sama si depressive episode ini. Tanggal 2 aku harus kontrol lagi ke psikiater. Tapi kayaknya aku juga butuh ke psikolog untuk membantu proses penyembuhanku gak sih?
Semoga tahun 2026 makin banyak duit biar bisa konseling ke psikolog atau biar bisa banyak jalan-jalan? Hahhaaa.
Yang jelas di minggu terakhir di tahun 2026 ini aku cuma pengen bilang sama diri aku:
Makasih karena kamu udah bertahan sejauh ini, terus mencoba berdamai dan menerima setiap kali si derpressive episode itu datang dan kambuh. Meski berat, susah, dan complicated pada akhirnya kamu bisa kan ya mengatasinya sedikit demi sedikit?
Makasih yaa karena udah bertahan. Aku sayang sama kamu!
Love,
Ihat
Wednesday, December 24, 2025
Namaku Amelia. Semua orang memanggilku, Lia.
Masuk SMA itu bukan rencanaku. Aku tidak lolos ke sekolah favorit—bukan karena nilai, tapi karena biaya. Nilai raporku cukup baik, tapi kondisi keuangan keluargaku tidak pernah benar-benar memberi banyak pilihan. Jadi aku menerima saja ketika akhirnya harus masuk ke SMA ini. Sekolah biasa, tanpa embel-embel unggulan, tanpa kebanggaan khusus.
Aku datang dengan perasaan setengah pasrah. Tidak berharap apa-apa, tidak menunggu siapa-siapa. Aku hanya ingin lulus dengan baik, lalu pergi sejauh mungkin dari tempat ini.
Setelah MOS atau Masa Orientasi Siswa selesai dan kami resmi masuk kelas, satu nama langsung cepat beredar di antara anak-anak baru, adik kelas, sampai kakak kelas.
Dimas.
Maklum. Wajahnya gampang diingat. Ganteng, senyumnya manis, deretan giginya rapi. Cara jalannya santai, seolah sekolah ini sudah lama ia kuasai. Banyak yang diam-diam memperhatikannya dan tidak sedikit yang terang-terangan kagum.
Aku tidak termasuk di antaranya. Setidaknya, begitu yang ingin kupercaya.
Sejak awal aku bersikap biasa saja. Sedikit sinis, bahkan. Sampai suatu hari, tanpa aba-aba, kamu mulai sering meminjam alat tulisku. Pulpen. Penghapus. Alasan sepele yang terlalu sering diulang.
Saat pergantian jam pelajaran dan guru belum datang, kamu berdiri dari bangku, mengambil spidol, lalu menulis sesuatu di papan tulis.
Lia.
Diiringi sebait lagu Rama—Bertahan—yang dia nyanyikan setengah bercanda.
“Lia, aku di sini,” katamu ringan.
“Lihat!” kataku sinis tanpa menoleh. Aku tetap menyalin pelajaran sebelumnya, berpura-pura tidak peduli.
Kamu hanya tersenyum, lalu menghapus tulisan itu.
Hari itu seharusnya tidak berarti apa-apa.
Tapi namaku di papan tulis membuat sesuatu bergerak pelan di dalam dadaku.
Dan sejak hari itu, aku mulai menyadari satu hal:
kamu terlalu sering muncul di hari-hariku.
Tuesday, December 23, 2025
Hari itu tanpa angin, tanpa hujan. Tiba-tiba kabar itu datang: kamu masuk rumah sakit jiwa.
Informasinya tak pernah utuh. Dan aku memilih untuk tidak banyak bertanya; karena aku bukan siapa-siapa dalam hidupmu, bukan?
Sampai akhirnya, sahabatmu sendiri yang meneleponku.
Katanya aku harus menjengukmu. Tak bisa dijelaskan lewat telepon. Tiket dan seluruh ongkos perjalanan ditanggung keluargamu. Dan aku memilih mengiyakan, dengan satu alasan yang terdengar paling netral: kemanusiaan.
Sejak pertama kabar itu datang, aku sengaja menjaga jarak. Aku menutup semua lembaran tentangmu. Aku memaafkan kesalahan-kesalahanmu di masa lalu. Aku mengira semuanya sudah selesai.
Tapi mengapa jalannya harus seperti ini? Mengapa keluargamu yang memintaku hadir?
“Sudah satu minggu ini, nama kamu terus keluar dari mulut adik saya,” kata kakakmu begitu aku tiba di rumah sakit. “Kadang dia tertawa, lalu menangis sambil menyesali.”
Aku hanya diam. Mendengarkan. Hingga langkah kami berhenti di ruang khusus untuk bertemu pasien.
Sepuluh tahun berlalu.
Dan baru pada hari itu aku melihatmu lagi.
Kamu mengenakan pakaian pasien, lengkap dengan gelang identitas di pergelangan tangan kirimu. Tubuhmu ada di hadapanku, tapi matamu kosong—seolah tak benar-benar hadir.
“Dek,” kata kakakmu pelan, “ini orang yang sering kamu sebut namanya.”
Tiba-tiba kamu berjalan mendekat. Tanpa ragu, tanpa kata, lalu memelukku.
Aku terkejut bukan main. Naluriku ingin melepaskan diri, tapi pelukanmu terlalu erat, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu untuk kedua kalinya.
“Jangan tinggalkan saya,” ucapmu terbata. “Maafkan saya.”
Dan di detik itu, aku sadar: ada perasaan yang sudah lama aku kubur rapi, tapi belum sepenuhnya mati.
Aku tidak membalas pelukanmu. Tanganku menggantung kaku di udara, lalu perlahan turun, membiarkanmu menangis di dadaku. Aku tidak tahu harus bersikap sebagai apa? Seorang teman lama, kenangan yang seharusnya selesai, atau orang asing yang kebetulan punya wajah yang kamu ingat?
“Tenang ya,” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Kalimat paling aman yang bisa kuucapkan agar tidak memberimu harapan, juga tidak melukai.
Kamu terisak lebih keras, seolah kalimat itu adalah izin untuk runtuh sepenuhnya.
Kami duduk berdampingan. Ada jeda panjang di antara kami, dipenuhi suara mesin dan langkah kaki perawat. Kamu bercerita terpotong-potong. Tentang malam-malam tanpa tidur, tentang rasa bersalah yang datang tanpa aba-aba, tentang penyesalan yang tidak tahu harus diarahkan ke mana.
Aku mendengarkan. Tidak menyela. Tidak menghakimi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar hanya hadir.
Di kepalaku, aku berperang dengan diriku sendiri. Ada bagian dari diriku yang ingin memelukmu lebih erat, ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ada juga diriku yang tahu: aku tidak bisa menyelamatkanmu. Dan kamu tidak berhak menjadikanku satu-satunya jangkar.
Waktu kunjungan hampir habis. Perawat memberi isyarat halus.
Aku berdiri. Kamu menatapku cemas.
“Kamu akan datang lagi?” tanyamu lirih.
Aku menarik napas panjang. “Aku doakan kamu sembuh,” jawabku jujur. Tidak berjanji, tidak pula menutup kemungkinan.
Kamu mengangguk, meski jelas ada kecewa di matamu.
Saat aku melangkah pergi, aku tidak menoleh ke belakang. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku tahu: jika aku menoleh, aku mungkin akan tinggal.
Di luar rumah sakit, angin berembus pelan. Untuk pertama kalinya sejak kabar itu datang, aku merasa bisa bernapas penuh.
Sepuluh tahun telah berlalu.
Dan hari itu, aku akhirnya benar-benar melepaskan.
***
“Depresi berat.”
Itulah yang diucapkan kakakmu begitu sesi kunjungan selesai. Kalimat itu meluncur datar, seolah sudah diulang berkali-kali kepada banyak orang. Aku mengangguk pelan, pura-pura mengerti, padahal kepalaku kosong. Yang tersisa hanya bayanganmu dengan pakaian pasien dan pelukan yang terlalu erat untuk dilupakan.
Kakakmu dengan baik hati mengantarku menuju hotel. Mobil melaju perlahan, lalu terjebak macet. Lampu merah, klakson bersahut-sahutan, dan kota tetap hidup—bertolak belakang dengan dadaku yang terasa hening.
“Waktu SMA… kalian pacaran?” tanyanya hati-hati, seolah takut menyentuh luka yang belum kering.
Aku tersenyum getir, lalu menggeleng pelan.
Aku bukan pacarmu. Aku hanya seseorang yang terlalu lama berharap pada perasaan yang tidak pernah benar-benar dibalas.
Kamu sering mengejekku. Dengan kata-kata, dengan tawa kecil yang seolah tak berarti apa-apa. Awalnya aku hanya benci. Sangat benci. Tapi entah sejak kapan, rasa itu berubah arah. Aku jatuh cinta pada orang yang bahkan tidak pernah melihatku sebagai tempat pulang.
Hal-hal yang sudah kututup rapat, perlahan terbuka kembali. Seperti laci lama yang dipaksa dibuka, meski isinya penuh debu dan luka.
Di tengah kemacetan itu, kakakmu meminta aku bercerita. Tentang SMA. Tentang kamu.
Dengan berat hati, aku menuruti.
Dan aku sadar: menceritakan kembali artinya mengingat ulang. Mengingat ulang artinya membuka luka yang belum tentu sudah sembuh.
Tentang bangku sekolah yang penuh coretan, tentang ejekanmu yang kuingat terlalu detail, tentang caraku diam-diam memperhatikanmu dari kejauhan. Tentang aku yang selalu berharap, dan kamu yang tak pernah benar-benar tinggal.
Mengingat semua itu ternyata masih menyakitkan.
Bukan karena aku belum move on.
Tapi karena beberapa perasaan tidak pernah benar-benar pergi, dia diam di sudut hati terdalam minta untuk diakui, diterima lalu dilepaskan.
.png)

Social Media
Search