Tuesday, February 03, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: A Guide Book To Find Yourself

Penulis: Luc Diana

Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2024

Penerbit: Brilliant Books

Blurb

I still haven't found what I'm looking for 

"Aku masih belum menemukan apa yang aku cari." Piuhh... perasaan semacam ini sangat menyebalkan, saat aku merasa galau terus-menerus dan merasa tidak harus melakukan apa dalam hidupku ini. Inilah yang sempat kurasakan pada masa-masa pendewasaan diriku. Aku pernah merasakan hari-hari gelap, saat aku merasa tidak pernah cukup untuk diriku sendiri, dan aku merasa begitu kesepian, sampai-sampai aku ingin mati saja. 

Di luar sana, mungkin banyak orang yang punya pengalaman sama. Punya perasaan yang sama ketika hari-hari mereka dipenuhi oleh kegelisahan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Buku ini adalah salah satu caraku mengatasi hari-hari gelap itu. Ini adalah catatan pergulatan batinku, serta hasil pencarianku tentang bagiaman aku harus menemukan diriku yang sejati, dan bagaimana menemukan apa yang kucari selama ini dalam hidupku. Buku ini sekaligus menjadi semacam pengingat bagiku.

Besar harapanku agar buku ini bisa menjadi panduan sekaligus teman untukmu yang sedang mengalami pergulatan dalam pencarian jati diri dan di akhir kamu bisa mengatakan, "Now, I have found what I'm looking fo."

Tiga Insight Utama

1. "Mengapa aku selalu merasa tidak bahagia?" adalah karena aku terlalu ketat, dan terlalu tinggi menerapkan standar-standar dalam kehidupanku. Aku lupa kalau hidup itu tidak perlu sempurna, atau tidak perlu mengikuti standar-standar kebahagiaan orang lain. (p. 43)

2. Pikiran itu muncul karena aku merasa jika aku mati, sepertinya perasaan-perasaan menyiksa itu pasti akan hilang. Padahal, kan belum tentu. (p. 67)

3. Ketika aku menarik napas dan menghembuskannya, di situlah kesadaranku dilatih. Saat aku harus sadar bahwa yang aku pikirkan secara terus menerus itu hanyalah ilusi. Jika aku berpikir tentang masa depan, itu artinya aku memikirkan hal yang belum tentu terjadi. 

Sementara itu, kalau aku berpikir tentang masa lalu, itu artinya aku mimikirkan hal yang sudah lewat, dan sia-sia karena masa itu tidak akan pernah kembali atau mengubah hal yang sudah terjadi itu. 

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini persis seperti sedang berbicara kepada seorang teman yang paham sekali dengan kondisi kita, terutama aku pribadi. Penggunaan bahasa yang santai dan mudah dipahami membuat aku merasa tidak sendiri dalam menjalani hari-hari gelap itu. Banyak tips menarik dan mudah dipraktikkan dalam buku ini, seperti latihan pernapasan sederhana yang langsung bisa aku coba saat merasa cemas. Buku ini benar-benar membantuku memahami bahwa kesepian itu sementara, dan aku mulai merasa lebih percaya diri setelah menerapkan saran-sarannya. Jika kamu sedang dalam masa-masa sulit dan belum mengenal siapa dirimu, kamu bisa mulai dengan membaca buku ini, siapa tahu, ini bisa jadi titik balik kamu.

Untuk kamu yang ingin mendapatkan buku ini, kamu bisa klik link berikut ini ya!

Monday, February 02, 2026

If I didn't feel tired, what would I do today?

If I didn't feel tired, I would engage in numerous tasks similar to those I handled in my previous school. For instance, I would organize various events, lead students in activities, attend multiple meetings, and connect with many people to gather inspiration and ideas. This would allow me to be highly productive and energetic throughout the day.

However, upon reflection, I realize that this busyness raises important questions: What am I truly chasing? When would I have time to listen to myself if I were constantly occupied with others? This thought makes me grateful for my tiredness. It enables me to live more slowly, observe my surroundings mindfully, and tune into my own needs and thoughts. 

Perhaps it is time for me to relax and slow down in life, appreciating the balance that fatigue brings. In conclusion, while energy might fuel productivity, tiredness teaches valuable lessons about self-awareness and intentional living. 


Write about your chilhood ambition

Dari semenjak dulu ampe sekarang, cita-cita aku gak pernah berubah: menjadi seorang guru. Alhamdulillah ini berhasil dicapai walau kalau kita lihat kondisi sekarang miris banget buat jadi guru karena pemerintah gak peduli sama nasib guru. Gaji gak seberapa, tapi tugasnya seabrek. Malah lebih fokus sama MBG. Hahahaaa.

Januari lalu aku sudah berhenti tidak lagi menjadi guru honorer di sekolah. Kenapa? Ya realistis aja. Di gaji 400 ribu perbulan tapi tugasnya sama kayak PNS. Ogah deh. Aku memilih untuk jadi guru lesan aja di sebuah lembaga kursusan. Sedih? Iya sedih. Tapi buat makan sehari-hari emangnya bisa bermodalkan ikhlas dan pengabdian? 

Semoga pemerintah bisa berbenah soal kesejahteraan guru ini. Bisa lebih memperhatikan mereka dan mendukung para guru baik dari segi finansial, fisik, dan mental. 

Who and what adds meaning to your life?

Bingung harus jawab apa. Karena untuk saat ini aku aja masih mempertanyakan tujuan hidup aku apa, aku mau ke mana, dan harus apa untuk hidup ini. Apalagi semenjak keinginan untuk bunuh diri itu kuat banget, walau pada akhirnya aku gak jadi melakukan itu. 

Untuk saat ini aku hanya ingin berhenti sejenak dari semua ambisi-ambisi aku yang tak pernah ada habisnya. Aku hanya ingin mendengar diriku lebih banyak dan apa yang sebenarnya aku butuhkan. Aku hanya ingin mendengar diri sendiri saja untuk saat ini. Gak apa-apa mau dibilang lambat, gagal, gak ada tujuan hidup. Untuk bisa bangun dari tempat tidur, mandi, dan pergi kerja buat aku itu sudah menjadi pencapaian yang besar. 

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, pertanyaan "Who and what adds meaning to your life?" ini bikin aku mikir lebih dalam. Saat ini, mungkin belum ada orang atau hal spesifik yang benar-benar menambahkan makna besar ke hidupku, karena aku sedang fokus untuk mengerti sama diri sendiri dulu. Tapi, proses mendengarkan suara hati aku sendiri itu mulai jadi sumber makna kecil-kecilan, meski belum jelas bentuknya. Mungkin nanti, setelah aku lebih paham apa yang aku butuhkan, aku baru bisa menemukan jawaban yang lebih pasti. Yang penting, aku sedang belajar menerima bahwa pencapaian sehari-hari seperti itu sudah cukup untuk saat ini.

 Where do you wish to travel next?

Malaysia? Singapura? Dua negara itu sih. Pengen banget nyoba ke luar negeri karena emang belum pernah. Pengen banget tahu budaya di sana bagaimana. Karena selama ini cuma denger dari orang yang pernah pergi ke sana. 

Meski kalau dilihat dari penghasilan aku sekarang kayaknya impossible banget atau butuh waktu yang lama untuk bisa ngumpulin duit biar bisa ke sana, tapi aku yakin suatu saat aku bisa ke negera tersebut dan berkunjung ke negara-negara lainnya. 

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi