Tuesday, April 14, 2026
Sudah hampir satu bulan lebih aku tidak menulis. Bahkan proyek menulis Ramadan Journaling tak bisa aku selesaikan. Bulan lalu aku relapse setelah tidak lagi minum obat secara sepihak. Pertama karena BPJS aku dinon-aktifkan, kedua sempat berdebat dengan orang tua karena orang tua tidak setuju aku minum obat. Ketiga, orang tua masih denial dengan kondisi aku.
Dua minggu pertama setelah lepas obat, aku merasa baik-baik saja. Baru di minggu ketiga, keempat aku kesulitan untuk bisa memejamkan mata, isi kepala rasanya lebih berisik dari sebelumnya, mood ku berantakan, emosiku lebih sensitif.
Di minggu ini aku relapse. Kembali memukul-memukul diri sendiri, mencaci maki, bahkan sempat kalap mencari gunting. Namun aku patut berbangga diri pada diri sendiri, karena di tengah kondisi aku yang kacau, masih ada sisi dari diri aku yang lain untuk meminta menghentikannya.
Lalu aku melihat karet rambut. Aku mengenakan karet rambut itu dipergelangan tanganku sebagai pengganti benda tajam.
Memasuki minggu kelima, aku sudah tak bisa lagi menahan akan kondisiku. Maka dari itu, aku putuskan untuk pergi ke kantor BPJS, mengurus BPJS aku yang tidak aktif, lalu kembali mengambil rujukan.
"Iya, Ibu itu sudah terlalu lama memendam semuanya sendirian. Makannya ini dikategorikan berat," ucap psikiater aku ketika aku kembali berkunjung.
"Ini kita kembali lagi ke nol ya. Soalnya sudah lebih dari satu minggu gak kontrol."
"Dok, tapi orang tua saya tidak mendukung saya untuk berobat."
"Nanti kalau kontrol selanjutnya, orang tua Ibu boleh kok diajak ke sini. Biar nanti saya jelaskan kondisi Ibu."
Setelah itu aku tidak pernah berhenti berdoa agar orang tua aku bisa memahami kondisiku. Dan doa itu dikabulkan.
Beberapa hari kemudian, datang salah satu dari orang dinas sosial berkunjung ke rumah didampingi oleh mantan RT setempat. Orang dari dinsos itu bilang aku lagi berobat apa, aku jawab kondisi aku. Ternyata mantan RT setempat pun pernah berada di posisi yang sama dulu.
Setelah diceritakan oleh mantan RT tersebut, barulah kedua orang tuaku paham tentang kondisi aku sebenarnya. Barulah setelah itu mereka mendukung aku untuk berobat sampai tuntas.
Rasanya gimana ya. Nano-nano gitu. Senang iya akhirnya keluarga tahu dan mensupport aku untuk bisa sembuh.
"Ingat ya Bu, tidak semua orang faham tentang kesehatan mental."
Dari pengalaman ini aku belajar bahwa aku harus mempercai diriku sendiri, kata hatiku, dan juga menerima kondisiku bahwa memang betul aku sedang tidak baik-baik saja. Kalau harus mengobati, ya lanjutkan. Tak perlu menunggu persetujuan orang lain ataupun mendengar omongan mereka karena yang merasakan dan yang melaluinya adalah dirimu sendiri.
Wednesday, March 25, 2026
Ternyata yang bikin aku susah lupa dan move on itu bukan karena perasaan aku yang masih tertinggal di sana, atau karena aku masih rindu dengan semua kenangan itu. Bukan. Bukan itu.
Tapi amarah aku, kekecewaan aku, dan kesedihan aku yang tak pernah aku terima kehadirannya dan menganggap semuanya baik-baik saja. Harusnya saat itu aku marah, aku kecewa, aku sedih. Alih-alih berteriak kesurupan dan berlinang air mata, aku malah memilih untuk tersenyum: menekan semua perasaan yang sebenarnya hadir.
Akhirnya apa? Jadi bom waktu juga kan?
Maka dari itu, setiap kali memori itu hadir, sebenarnya itu bukan tanda kalau aku lagi kangen momen itu. No. Bukan. Tapi ada perasaan lama yang sudah aku tekan dan aku kubur bertahun-tahun, yang kini minta untuk didengarkan, dikeluarkan, dan diekspresikan.
Jadi kalau saat ini mau nangis, ya nangis. Mau marah ya marah. Gak usah dipendam lagi. Gak usah diganti dengan senyum dan tawa lebar seolah semuanya baik-baik aja. Pengen terlihat kuat padahal sebenarnya udah hancur banget di dalam. Iya kan?
Jadi ngapain pura-pura kuat kalau pada akhirnya semua ini harus kamu tanggung sendiri akibatnya?
Enggak enak kan, berjalan sendirian di labirin hitam yang kamu sendiri gak tahu akan ketemu cahayanya di mana?
Enggak enak kan, sama gedoran di dalam hati dan bisikan di kepala yang seolah tidak pernah berhenti?
Enggak enak kan, ketika semua warna-warni dalam hidup tiba-tiba berubah menjadi hitam putih kayak hasil foto copyan?
Apalagi yang enggak enak?
Oh, tidur kamu. Kamu jadi sering terbangun tengah malam kan? Tiba-tiba nangis tanpa alasan yang jelas. Isi kepala yang terus menerus aktif, berlari-lari dari masa lalu ke masa depan. Heningnya malam yang seharusnya bisa menenangkan, ini justru malah menikam diam-diam.
Saat semua orang minta kamu buat semangat untuk menjalani hidup, padahal kamu sendiri sedang kewalahan dengan diri kamu sendiri.
Lalu tanpa sadar, kamu ingin mengakhiri semua keributan di isi kepala kamu dan ingin mengembalikan warna di hidup kamu bukan?
Sayang, yang terdengar bukan itu.
Yang didengar bukan itu.
Yang diikuti bukan itu.
Kamu justru malah semakin jauh dan memilih untuk menyalakan api di tubuhmu sendiri.
“Kamu tuh kuat di luar, tapi rapuh di dalam.”
Kata seseorang sambil menatapku tajam, seolah ingin menembus benteng pertahananku. Tapi aku memilih untuk menghindar saat itu. Memilih untuk tidak mendengar ucapannya dan berpura-pura kalau aku baik-baik saja.
Maaf. Aku terlalu dungu untuk kalimatmu di tahun-tahun yang telah berlalu, yang kini sempat kusesali. Kenapa dulu aku begitu egois untuk terlihat baik-baik saja?
Belum lagi aku muak pada lingkungan yang terkadang menertawakan apa yang sedang kurasa. Dibilang lebay lah, gitu aja cengeng, harus kuat. Tanpa mau benar-benar memahami atau hanya sekedar diam, mendengarkan sepenuhnya, dan hadir.
Disaat itu pula aku memutuskan untuk menutup semua perasaan yang hadir. Menggantinya dengan senyum dan tawa keras nan sumbang. Aku kira, dengan begitu aku akan kuat. Tak lagi dianggap cengeng dan lebay.
Satu hari, dua hari, seminggu, sebulan, hingga akhirnya bertahun-tahun hal buruk ini menjadi kebiasaanku.
Sampai di titik ketika hati dan jiwaku sudah lelah dengan topeng busuk ini. Di waktu yang tak pernah ku duga, semuanya meledak. Tak bisa lagi ditahan.
Kini, aku diberi teguran keras oleh diriku sendiri.
Berjalan sendirian di tengah kegelapan yang tak pernah ada ujungnya dan cahaya itu pergi entah ke mana.
Monday, March 16, 2026
Pola emosi apa yan terus berulang dalam hidupku?
Setiap pagi, matahari menyusup melalui celah-celah jendela kamar yang kusam, tapi aku tetap berbaring di atas kasur. Tubuhku berat, seperti ditindih beban tak kasat mata. "Bangunlah, ayo," bisik pikiranku, tapi semangat itu hilang entah ke mana. Hidup terasa seperti kabut abu-abu yang tak berujung, tidak ada warna, tidak ada tujuan. Sedih itu datang lagi, seperti tamu tak diundang yang selalu muncul tanpa kenal waktu. Di tengah kekosongan itu, perasaan hampa merayap masuk, meninggalkan lubang di dada yang tak bisa diisi apa pun, bukan makanan, bukan hiburan, bahkan bukan pula sebuah pelukan.
Siang hari, hal-hal kecil pun antara terasa menusuk atau sama sekali tak berarti. Aku bisa sangat numb atau bisa saja aku terlalu sensitif dengan apa yang terjadi. Kadang tertawa hanya ikut tertawa, diam melamun, lalu tiba-tiba air mata sudah menggenang tanpa alasan jelas. Dan aku merasa dunia terlalu kasar untuk bisa kufahami.
Malam hari lebih parah. Jam menunjukkan pukul satu dini hari, tapi mataku menolak terpejam. Pikiran berputar-putar: kenangan masa lalu yang menyakitkan, kekhawatiran besok yang tak pasti, dan pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti, "Buat apa semua ini? Buat apa aku hidup?" Aku berguling-guling di tempat tidur, menatap langit-langit kamar, atau kalau sudah kesal sekali lantaran tak bisa memejamkan mata pada akhirnya aku akan mengambil hp, scroll ini-itu berharap riuhnya isi kepala bisa teralihkan. Tapi setelah menit, jam berlalu semuanya tidak membantu. Bahkan dengan keheningan yang menyelimuti, justru itu terasa menyiksa diri bahkan disertai dengan air mata yang diam-diam tumpah.
Ini pola yang kukenali sekarang. Sedih, hampa, sensitif pada hal kecil, sulit fokus, kehilangan semangat, susah tidur, susah bangun, sedih lagi. Lingkaran setan yang berulang setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Kadang aku coba lawan dengan minum latte: varian kopi favoritku, bersepedah, atau membaca buku. Tapi besoknya? Semuanya kembali. Seperti roda yang rusak, terus berputar di tempat. Semua ini kembali lagi terulang setelah aku berhenti minum obat anti depresan. Meski pola ini tak separah sebelumnya, namun sungguh tak nyaman untuk dirasakan dan dilalui.
Suatu hari, aku menatap cermin, melihat pantulan wajahku di sana. "Kapan ini berhenti?" Lalu, dalam hening itu aku berdoa pelan,
"Ya Allah, sekuat-kuatnya perasaan ini menguasaiku tolong jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah membiarkan aku putus asa dari rahmat-Mu dan meragukan kuasa-Mu."
"Ya Wali, be my closest friend when the world drifts away. Guard me with the grip that never slips. Guide me gently through what I don't understand and let every loss lead me back to You.
Ya Barr, keep me firm on the ground of Your goodness. Make my faith steady when my heart trembles. Let me love what brings me to Your stability and make me patient with what keeps me on its shore.
Ya Rafiq, be tender with my soul as You unfold Your plan. Soften the path without removing its purpose. Make me gentle with others as You've been gentle with me. And when I am lonely, fill that space with Your Companion." (The Friend Who Never Leaves - Ep 4 Dr Omar Suleiman)
| doc.pribadi |
Identitas Buku
Judul: Blooming Gracefully: A Collection of Comforting Writings to Give You Love in Your Healing Journey
Penulis: Rara Noormega
Tanggal Rilis: 03 Desember 2024
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Blurb
A healing journey might look different for each of us, but it feels almost the same for us all: lonely, hurtful, hopeless, and full of despair. And that is why I wrote this book for you. To be your healing friend. To be your source of love when you need to feel loved. This book is a love letter for you whenever you feel all alone in your healing journey.
Healing is not linear, and it doesn't happen in a stright line. Thus, read this book as you wish. You can start from each chapter accordingly, or you can opne the page wherever your heart is calling you. May this book be your friend, especially on your healing journey's most lonely and hurtful nights. May each of the pages in this book lead you to yourself. May this book lead you home. And most of all, may you heal your wounds while also blooming gracefully.
Your healing journey doesn't make you a broken one. It's making you more beautiful than ever before. Healing makes you grow. It makes you bloom.
Tiga Insight Utama
1. I hope you fall in love with how you put your best efforts into everything you do. I hope you fall deeply in love, not with a person, but with how you live your life. I hope you fall in love with your mind, talents, and courage, even with your silly jokes and foolish decisions. I hope you fall in love with how you stumble upon failures and get back up. I hope you fall in love with how you love someone instead of the idea of someone. I hope you fall in love with your thoughts, hopes, and dreams, not your expectations towards someone.
2. Your healing journey might take months or years, and you might need to create yourself all over again, but it'll be worth that wait and the effort. Your healing journey doesn't have to be fast or smooth or full of trips to tropical island. Most of the time, you need kindness from yourself.
3. So, when you feel trapped in a dark place and have no way out, go inside yourself and cast a light from within. Because even when you're in the dark, you still grow.
Refleksi Pribadi
Sebelum membahas buku ini, let me tell you something about this book. Sebenarnya udah dari lama aku pengen banget baca buku ini, berkali-kali tiap ke Gramedia hanya mampu foto cover bukunya saja, sambil berharap bulan depan uang gajiku bisa aku sisihkan untuk membeli buku ini. Meski aku belum tahu pasti ini isi bukunya membahas apa, tapi entah mengapa di dalam hati terus bergumam, "Ini buku yang aku butuhkan." Sayangnya, bulan selanjutnya, uang gajiku belum bisa aku alokasikan untuk membeli buku ini. Namun, gejolak itu tak kunjung reda, seperti panggilan halus dari dalam diri.
Hingga suatu malam, aku membuka aplikasi Gramedia Digital yang sudah lama aku download di Ipadku. Scroll-scroll pelan hingga akhirnya aku memutuskan untuk berlangganan non-fiction sebesar Rp. 49.000 untuk bisa aku gunakan selama satu bulan. Dan duaarr!! Senangnya tak terkira, karena aku bisa menemukan buku-buku yang ingin aku baca tanpa harus merogoh kocek yang besar walau ya bedanya aku tak punya buku fisik di tangan heheee. Untuk kamu yang ingin mendapatkan buku ini secara fisik kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini ya! Cuma satu pelajaran penting buat aku, di tengah keterbatasan budget yang aku punya, aku bersyukur dengan kehadiran aplikasi Gramedia Digital ini sehingga aku bisa membaca buku apapun yang aku mau tanpa harus merogoh uang saku yang banyak.
Ternyata intuisi hati tak pernah mengkhianati. Aku tak pernah menyesal sedikitpun untuk bisa membaca buku ini. Buku ini berhasil menggoyahkan sudut pandangaku tentang luka, kegelapan, healing process, seperti cermin lembut, memantulkan bayanganku sendiri yang selama ini kusembunyikan. Buku ini juga seperti seorang sahabat yang tak bermaksud untuk menasihati tapi kata-katanya menenangkan hatiku yang sebelumnya kacau balau. Aku merasa diingatkan tanpa paksaan, ditenangkan tanpa penghakiman, dan akhirnya, aku seperti sedang diajak pulang ke rumah diri sendiri. Terima kasih, Kak Rara sudah menulis buku seindah ini. Terima kasih karena sudah menulis tenang healing dari sudut pandang yang mudah dimengerti dan difahami.
Buku ini sangat cocok untuk kamu yang sedang berada dalam fase gelapnya hidup, kehilangan arah, tengah menyembuhkan luka, atau untuk kamu yang sedang berjuang kembali ke pelukan diri sendiri, mengajakmu merenung, bahwa proses ini adalah bagian dari perjalanan pulang.
Selamat berproses, dari hati ke hati.
Monday, March 02, 2026
There is a question that often lingers in the quite corners of my mind: What mistakes or shortcomings still haunt me with guilt? However, this is not merely about my flaws or past errors. Rather, it is a reflection on a deeper struggle, one that has shaped my understanding of faith, doubt, and surrender.
I have walked through that darkness. There were moments, some still present now, when I contemplated leaving Islam altogether. When I lost faith in myself, in my life, and eventually in my belief, I found myself thinking: Should I seek another God?
Yet, something pulled me back. I forced myself reopen the Qur'an. I watched countless videos about Islam, particulary about Qada and Qadar. And in those moment, I wept.
The root of my despair lay in my struggle with Qadar. I wanted to control of my life, to shape it according to my own desires. Whenever things unfolded differently from what I had planned, disappoitment consumed me. I blamed myself, convinced that I had failed beyond repair.
But slowly, I began to learn something profound: to surrender it all back to Allah. I started seeking His light, believing that only He can guide me out of the darkness and lead me back to the right path.
Ya Hadi, guide me when my heart forgets the way. Pull me back from every turn that leads me astray. Let your guidance feel closer than the doubts in my chest and steadier than the voices that confuse me.
Ya Rasyid, teach me to see the truth instinctively. Make faith beloved to me. make righteousness feel natural. And let sin feel heavy on my chest and hated by my every breath. Inspire me with wisdom that protects me even from myself.
Ya Nur, light every darkness I carried or caryy within. Let your light pour into my heart and onto all my other limbs. Until you make me a light and everything I see reminds me of you.
Ya Mubin, make your signs clear in what surrounds me and what is within me. Reveal the lessons hidden in every trial. Let me never lose sight of your signs again. (When You're Searching For Meaning, The Name I need Ep. 3, Dr Omar Suleiman)
Social Media
Search