Friday, May 15, 2026
What bothers you most about other people?*
What bothers me most? It’s when people speak as if they know me, when they only know my name.
They’ve seen the title, but they haven't read a single chapter. They don't know the plot twists, the silent struggles, or the pages I had to tear out to keep going. It’s frustrating to be judged by someone else’s narrow perspective.
Because I know that pain, I choose to be a listener. I don’t interrupt your story with my advice unless you ask for it. I won't judge your journey based on my map. I’m just here to hear you.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
Thursday, May 14, 2026
All we ever have is now...*
Yesterday, I received the news that a former colleague of mine passed away. She was so young, only 36 years old. Our group chat is overflowing with messages of sympathy; everyone is in a state of disbelief.
The news made me reflect. Sometimes, we work too much and too hard. We become so consumed by achievements and the next goal on the horizon that we neglect what truly matters: our families, our children, and our soulmates. We focus on the climb and forget to look at the view right in front of us.
I’ve come to realize that the only thing we can truly hold onto is the present. We cannot live in the past, burdened by regret, nor can we live in the future, paralyzed by fear and anxiety.
Our time is a mystery, and its length is never guaranteed. Because of this, we must learn to be fully present. We need to appreciate the people who walk beside us—our family, our friends, and our partners. It is wonderful to strive for success, but please, do not forget to give your body and mind the pause they deserve.
To rest is not to give up. It is to honor the life you are working so hard to build.
Take a breath.
Be here.
That is enough.
Good night!
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)
Wednesday, May 13, 2026
What would be to good to believe if someone were to sit down and tell you what's coming next in your life?*
If someone could tell me my future, I’d want to hear two things: that my darkness is ending and that my soulmate is near.
It’s okay to admit that it’s lonely. It’s normal to feel a little jealous of the "happily ever afters" you see around you
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
Tuesday, May 12, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Blurb
"...to feel,
to hurt,
to love,
and to heal
you were born to be a human being."
This book serves as a compaasionate reminder that, on your self-love journey, you are never truly alone. May its pages empower you with the courage to embrace and forgive every aspect of yourself, both inside and out.
Tiga Insight Utama
1. As now you're recognizing your inner child or getting along with your inner voice, let's begin the journey of loving yourself. Let's give your inner voice a space to be heard. Let's give a chance for your emotions to be felt. The journey of embracing your inner voice will be challenging, but you'll be okay.
2. You are different, unique, and you have your own path. You don't have to be someone else to be successful dan happy. You don't have to follow other people's lives to be considered as someone who's worthy. Being you is enough.
3. Sometimes, not everything is your fault. Sometimes, bad things happened because it supposed to happen. And, no, you shouldn't blame and beat yourself up that hard. Because darling, there are many things out there which are beyond your control. Not everything is your fault. Please forgive yourself.
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini rasanya seperti sedang dipeluk dan dipahami tanpa sedikit pun dihakimi. Bahasanya sederhana namun sangat dalam, seolah setiap kalimatnya mampu menyentuh bagian paling rapuh dalam diri yang selama ini disembunyikan. Buku ini benar-benar mewakili suara hati kita yang sedang berjuang untuk menerima luka dan belajar mencintai diri sendiri kembali. Melalui buku ini, aku diingatkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah, dan tidak apa-apa jika proses sembuhku tidak secepat orang lain. Benar-benar sebuah teman perjalanan yang menenangkan bagi siapa pun yang sedang berusaha berdamai dengan masa lalu.
Monday, May 11, 2026
Hallo! Selamat pagi.
Selamat hari Senin.
Selamat memulai kembali hari untuk bekerja.
Enggak tahu kenapa rasanya happy aja nulis refleksi mingguan di hari Senin pagi. Serasa memberikan semangat dan energi untuk diri sendiri menghadapi minggu baru di bulan ini.
Seminggu yang lalu, aku merasa aku bahagia dengan diriku sendiri. Aku senang dan bangga pada diriku sendiri karena mampu mempresentasikan materi dengan baik. Semula, aku nervous sekaligus anxious yang luar biasa sampai gerd. Tapi setelah hari H tiba dan selesai mempresentasikannya, perasaan aku lega dan sakit di perut perlahan hilang.
Aku tahu. Ini efek dari pengalaman buruk aku ketika aku SMP. Pada saat itu aku mengikuti lomba speech dan aku tidak hafal dengan teksnya. Demam panggung. Begitu saat berdiri di hadapan umum aku gemetaran, panik, baru juga salam aku sudah turun panggung lagi karena aku tak bisa menyampaikan isi speech nya. Begitu turun, guru pendampingku hanya memalingkan muka. Tidak ada ucapan untuk menenangkan diriku yang panik luar biasa pada saat itu. Apalagi setelah diumumkan juara-juaranya, guru tersebut lebih membanggakan yang juara-juara saja.
Maka dari itu, aku ingin memutus rantai ini. Menghentikannya bahwa ini sudah berlalu dan kejadian tersebut akan berbeda dengan kejadian yang akan aku alami nanti.
Hallo Ihat remaja, usia SMP yang masih labil.
Terima kasih sudah berani untuk maju ke atas panggung, walau kamu belum hafal teksnya dan kamu sadar pada saat itu tidak ada guru satupun yang membimbingmu. Kamu berlatih seadanya dan sendirian. Tidak apa-apa. Tenang. Kamu aman bersamaku di sini. Jangan merasa bersalah. Tidak apa-apa. Itu pengalaman pertama kamu dan semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan sedih lagi ya. Berhenti menyalahkan diri sendiri karena itu sudah berlalu lama sekali. Terima kasih karena setelah kejadian itu, kamu jadi lebih well prepared. Sehingga setiap kamu tampil, kamu bisa dan mampu memberikan yang terbaik. Buang suara-suara buruk itu. Kamu berharga, kamu mampu, kamu cukup, dan kamu bisa.
Terakhir, aku juga senang karena dosis obatku kini mulai dikurangi oleh psikiaterku.
Semangat melanjutkan hidup!
Hai, Ihat!
Terima kasih sudah berjuang minggu ini. Terima kasih karena kamu memilih untuk berjuang daripada membiarkan dirimu tenggelam dalam lubang hitam. Terima kasih karena saat ini kamu sudah tidak segan untuk meminta tolong, menyampaikan perasaan kamu, dan juga menerima seluruh perasaan yang hadir dalam hidupmu. Terima kasih karena perlahan cahaya itu mulai menerangi hatimu yang sempat gelap gulita. Terima kasih karena selalu melihat hal-hal kecil yang ada di sekitarmu untuk dijadikan refleksi rasa syukurmu. Terima kasih karena kamu lebih memilih untuk hidup. Karena nyatanya hidup menawarkan dua hal, senang dan sedih. Itu sepaket. Dan tak bisa kita memilih salah satunya saja. Terima kasih sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada waktunya. Kini. kamu bisa lebih tenang dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam hidupmu. Karena kamu sudah sadar, semua akan berlalu dan berganti dengan yang baru.
Terima kasih. Mari berjuang kembali di minggu ini. Aku sayang kamu!
Demi menarikmu keluar dari emosi merusak diri,
aku mencebur ke dalamnya, menyelami dan menemukan kata-kata untuk menyelamatkanmu.
Kata-kata yang belum pernah kuucapkan.
"Tolong aku."
Tapi ternyata kata-kata yang kutemukan itu justru menyelamatkan diriku.
Saat kau keluar dari situasi terburuk, tiba-tiba prespektif baru terbuka, dan semua hal yang dulu menyusahkan mulai terasa sepele.
Kesuksesan?
Debut?
Persetan semua.
Jika aku cuma ada satu permintaan dalam hidup, aku ingin mati karena usia tua.
Semoga kucing, pohon, dan semua makhluk hidup mati karena usia tua.
Bukan karena penyakit, bukan karena derita.
Semoga semuanya mati karena usia tua, seperti daun yang gugur sendiri.
Hwang Dong-Man (We Are All Trying Here)
Social Media
Search