Sunday, May 17, 2026

Halo semua, selamat malam.

Sebelum melangkah memasuki hari Senin, aku ingin meluangkan waktu sejenak untuk merefleksikan minggu ini.

Satu hal yang paling aku syukuri dalam seminggu terakhir adalah kesempatan untuk berkumpul dan bercengkerama kembali dengan teman-teman kerja lama. Kami mengobrol ke sana kemari, tertawa, bahkan sampai berpindah tempat nongkrong. Rasanya lumayan sekali untuk melepas penat sekaligus rindu karena cukup lama tak bertemu. Mendengar celotehan mereka soal dinamika pekerjaan masing-masing menjadi hiburan tersendiri untukku. 

Aku juga sangat bersyukur dengan hari Minggu kali ini. Aku bisa melaluinya dengan santai, tanpa beban berat untuk menjemput hari Senin. Menikmati Minggu yang damai seperti ini sungguh kontras dengan apa yang sering aku alami di tempat kerja sebelumnya. Dulu, aku sering kali dilanda stres setiap hari Minggu. Aku jarang bisa menikmati hari libur dari gawai (gadget), karena dari Minggu sore menuju malam, pesan-pesan instruksi untuk esok hari sudah ramai bertebaran di grup kerja.

Oh iya, ada satu momen menarik yang tertangkap mataku saat sedang berkumpul bersama teman-temanku kemarin. Aku melihat seorang anak yang mengajak ibunya makan bersama. Setelah selesai makan, anak itu meminta ibunya berpose lalu mengabadikannya dengan kamera. Melihat beberapa pose yang berhasil difoto itu, entah mengapa ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatiku. Momen sederhana, tapi begitu penuh kasih. Semoga Mamah mau juga ya diajak begini nanti. 

Ya... meski hari Mingguku terasa hangat, tetap saja ada bumbu kekesalan kecil karena di sepanjang jalan ketika berkumpul bersama teman-teman itu banyak sekali tukang parkir yang bermunculan, hehe.

Kalau minggu ini, bagaimana dengan ceritamu? Adakah hal manis yang bisa kamu syukuri, atau justru ada hal kecil yang sempat bikin kamu kesal?

Selamat bertemu hari Senin!

Saturday, May 16, 2026

Bagaimana kamu mendeskripsikan masa kecilmu?

Bagaimana rasanya sewaktu kamu masih kanak-kanak? 

Apa saja hal yang kamu ingat dan rasakan?

Bagaimana suasana rumahmu atau tempat di mana kamu dibesarkan?*

Semakin aku mengingat masa kecil, bukan berarti aku membenci kedua orang tuaku. Namun, garis ingatan itu justru lebih banyak memunculkan rasa pahit dan pengabaian. Alih-alih kenangan manis, memori masa kecilku dipenuhi bayang-bayang tubuh kecil yang selalu ditinggalkan sendirian.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk mengekspresikan perasaan, justru terasa dingin menusuk dan mencekam setiap kali malam tiba. Malam adalah waktu di mana aku dipaksa menghafal tanpa pernah paham apa tujuannya. Jika gagal, bentakan, amukan, bahkan pukulan menjadi hukumannya. Aku ingat betul bagaimana sebuah rebutan TV berujung pada tamparan di pipi kiriku dari Bapak. Dan ketika semua itu terjadi Mamah hanya menatap dingin tanpa bersuara atau justru membenarkannya. Aku bingung, kepada siapa anak kecil itu harus mengadu?

Bagiku dulu, malam adalah cemas yang nyata. Aku selalu berdoa agar malam segera berganti pagi, agar aku bisa "kabur" ke sekolah, tempat di mana aku bisa bebas dari amukan di rumah.

Tidak ada yang menarik dari masa kecil yang penuh ketakutan. Aku melihat anak kecil itu memeluk lututnya di pojok kamar, menangis sendirian, memendam amarah yang tidak punya jalan keluar.

Wahai diri kecilku yang ketakutan, perkenalkan, ini aku versi dewasamu.

Kamu aman bersamaku sekarang. Membuat kesalahan itu manusiawi, dan kamu tetap sangat berharga di mataku. Berhasil atau tidak, aku tidak peduli, karena aku tahu kamu sudah berjuang sekeras itu. Kamu tidak perlu takut lagi, ada aku di sini yang akan melindungimu dan menyayangimu. Kamu pintar, kamu baik, dan kamu berhak istirahat saat lelah. Ini bukan salahmu. Aku menyayangimu, dulu, sekarang, dan selamanya.


*) Rara Noormega, Perjalanan Menerima Diri. 

Friday, May 15, 2026

What bothers you most about other people?*

What bothers me most? It’s when people speak as if they know me, when they only know my name.

They’ve seen the title, but they haven't read a single chapter. They don't know the plot twists, the silent struggles, or the pages I had to tear out to keep going. It’s frustrating to be judged by someone else’s narrow perspective.

Because I know that pain, I choose to be a listener. I don’t interrupt your story with my advice unless you ask for it. I won't judge your journey based on my map. I’m just here to hear you.


*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)


Thursday, May 14, 2026

 All we ever have is now...*

Yesterday, I received the news that a former colleague of mine passed away. She was so young, only 36 years old. Our group chat is overflowing with messages of sympathy; everyone is in a state of disbelief.

The news made me reflect. Sometimes, we work too much and too hard. We become so consumed by achievements and the next goal on the horizon that we neglect what truly matters: our families, our children, and our soulmates. We focus on the climb and forget to look at the view right in front of us.

I’ve come to realize that the only thing we can truly hold onto is the present. We cannot live in the past, burdened by regret, nor can we live in the future, paralyzed by fear and anxiety.

Our time is a mystery, and its length is never guaranteed. Because of this, we must learn to be fully present. We need to appreciate the people who walk beside us—our family, our friends, and our partners. It is wonderful to strive for success, but please, do not forget to give your body and mind the pause they deserve.

To rest is not to give up. It is to honor the life you are working so hard to build. 

Take a breath. 

Be here. 

That is enough.

Good night!


*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)

Wednesday, May 13, 2026

What would be to good to believe if someone were to sit down and tell you what's coming next in your life?*

If someone could tell me my future, I’d want to hear two things: that my darkness is ending and that my soulmate is near.

It’s okay to admit that it’s lonely. It’s normal to feel a little jealous of the "happily ever afters" you see around you. I’ve spent this chapter learning how to be enough for myself, and I’m proud of that person I’m becoming. But I still hope for a heart that beats in sync with mine. Someone to accompany me through the shadows until we reach the light.


*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi