Tuesday, January 13, 2026

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

Write a letter to a close friend that you lost contact with

Dear Silmi,

Kamu apa kabar? Udah lama banget ya kita gak ketemu. Terakhir ketemu ya waktu kita masih TK. Meski begitu aku akan selalu mengingat kamu karena kamu orang baik dan orang yang pertama kali mengajak kenalan denganku ketika aku masih malu menjadi murid baru. 

Kamu di mana sekarang? Kira-kira kalau kamu ketemu aku, kamu bakal ingat aku enggak? Kalau kamu lupa kayaknya aku bakal nangis sih. Hahahaaa.

Aku ingat banget gimana kamu suka traktir aku jajan susu karena uang bekal aku sedikit. Atau kamu bagi makanan kamu sama aku. Main bareng sepulang sekolah, sampai aku ingat banget waktu Mamah kamu datang buat jenguk Mamah aku yang pada saat itu sama-sama sedang mengandung.

Oh iya, terakhir aku dengar, Mamah kamu sudah tidak ada. Aku sedih mendapat kabar itu. Bagaimana pun, Mamah kamu itu baik banget sama aku. 

Gak banyak yang ingin aku sampaikan sama kamu, aku cuma pengen bilang aku rindu dan ingin bertemu. Semoga kamu di sana sehat dan bahagia ya!

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

What is the biggest lesson you learned till now?

"Jangan jadi gak enakan. Nanti malah ditindas orang seenaknya."

"Jangan apa-apa iya-iya terus. Sesekali harus belajar bilang "enggak."

"Jangan membenani diri sendiri dengan kata iya, kalau gak sanggup bilang daripada menyiksa diri."

Dari beberapa teman dekatku selalu saja bilang begitu. Aku tahu dan aku kenal diriku yang begitu people pleasure sampai apapun yang diminta orang aku turuti dan aku terima. 

Sampai suatu ketika pernah rekan kerjaku yang sudah agak kesal denganku langsung menolak beberapa pekerjaan yang tadinya akan diberikan padaku. Aku hanya melongo pada saat itu. Dari sana aku berpikir, orang lain aja bisa paham kalau kamu itu sudah kesulitan dan tak perlu lagi menambah beban, lalu kenapa diri kamu sendiri yang selalu mengiyakan keinginan mereka semua?

Semenjak kejadian itu aku mulai belajar untuk berkata tidak. Meski di awal rasanya gak enak ya tapi justru bikin lega. Makin ke sini makin belajar lagi untuk memprioritaskan diri sendiri. Karena aku paham aku gak bisa terus bergantung sama rekan kerjaku itu untuk membelaku berkata tidak. 

Dan sampai sekarang aku masih belajar soal ini. Aku menikmati prosesnya sampai suatu hari nanti aku akan terbiasa bilang tidak pada sesuatu yang aku sendiri tidak sanggup mengerjakannya. Karena pada akhirnya kita gak bisa menyenangkan semua orang kan?

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

Write about a friend who never left your side.

Her name is Dede Kharisma.

"Ceu, kamu teh harus banyak istighfar geura."

"Ceu, bangunin aku ya jam 9. Nanti aku pulangnya jam 9."

"Ceu, euleuh kamu sakit apa? Mau dibeliin bubur gak? Nanti pulang sekolah aku ke kosan kamu."

"Ceu, anter aku ke klinik yuk. Aku lagi gak enak badan."

"Ceu, ke Selasih yuk."

Dan banyak sekali ungkapan-ungkapan yang selalu ia lontarkan diawali dengan kata Ceu, yang artinya Kakak Perempuan. 

Berteman dekat selama tiga tahun ketika aku merantau di Bandung membuat aku merasa merasa she's not only my best friend, but also my sister. Rasanya kayak udah jadi sama saudara jauh aja gitu. Bersama dia  aku berani menjadi diri aku sendiri, berani cerita apa saja. Walau sering banget berantem, rebutan apapun itu, dan saling menjaili, tapi aku sayang sama sahabatku yang satu ini. 

Hal yang paling aku suka adalah caranya yang hanya banyak diam selama aku bercerita. Karena dia faham, aku hanya butuh didengarkan saja. Meski kadang dibuat kesal karena ujung-ujungnya dia malah tertidur pulas meninggalkan aku yang masih nyeroscos sendirian. Walau begitu ya pada akhirnya aku bisa tertidur pulas dan lupa membangunkan dia di jam sembilan malam. Alhasil dia harus pulang pagi buta sebelum berangkat ke sekolah. 

Pernah suatu ketika pada saat aku sedang sakit, dia rela tidur di kosan demi bisa merawatku. Apa-apa diambilin sama dia, diurusin sama dia. 

Mungkin masa kami bersama-sama hanya diberikan tiga tahun. Meski begitu dia tetap jadi sahabatku di mana pun kita berada. 

Monday, January 12, 2026

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: Broken Strings 
Penulis: Aurélie Moeremans
Tahun Terbit: 2025


Tiga Insight Utama

1. Ia berdiri di atasku dan berkata tenang, "Kalau aku memukulmu dengan Alkitab, maka rasa sakitmu itu urusan Tuhan." 
Ia membuatnya suci. Ia membuatnya benar. Ia membuatnya seolah kesalahanku. (p.169)
2. Mamaku menangis. Papaku hanya menggeleng berulang kali. Keduanya merasa gagal. Tapi mereka berjanji, mulai sekarang, mereka akan menebus semuanya. "Nggak ada lagi rahasia," kata mereka. "Katakan semuanya. Jangan tanggung sendiri." (p. 189)
3. Aku menginginkan keadilan, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk semua gadis yang pernah terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak dipercaya siapapun. Aku ingin menunjukkan bahwa monster bisa terlihat menawan, bahwa kejahatan bisa tersenyum, dan bahwa bertahan hidup itu tidak selalu indah. 
Tapi aku belajar cepat, bahwa keadilan bukan jaminan. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa orang berkuasa dipihakmu, kebenaran bisa lepas begitu saja dari tanganmu. Mungkin suatu hari keadaan akan berubah. Tapi saat itu, begitu keadaannya. Jadi aku biarkan saja orang-orang percaya apapun yang mereka mau. (p.196-197)


Refleksi Pribadi

Hanya butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan memoar yang ditulis oleh artis Aurélie ini. Selama membacanya emosiku serasa diaduk-aduk, ingin mengumpat, marah, sekaligus muak dengan lelaki modelan Bobby. Ditambah sok suci bawa-bawa ajaran agama, padahal kelakuannya udah gak beda jauh sama iblis. Buku ini membuatku sadar, betapa manipulasi bisa tampil sangat rapi, bahkan tampak "suci" di permukaan. 

Aku jadi teringat bagaimana aku memiliki teman dekat yang mendapatkan perlakuan yang sama dari pacarnya dulu. Tapi dia enggan bercerita secara detail pada saat itu. Yang aku ingat adalah waktu mata dia bengkak berwarna ungu, kemudian ketika aku tanya alasannya kenapa dia memilih menjawab tidak sengaja nabrak potral di jalan dekat kosannya. Aku mulai mikir, ya kali nabrak portal bisa ampe lebam gitu matanya yang sebelah. Mulai merasa ada yang aneh, pada saat itu aku laporan saja kepada atasan aku. Dari sana baru terbongkar, kalau selama ini sudah terjadi kekerasan baik fisik maupun verbal kepada teman dekat aku itu. Aku masih ingat jelas bagaimana tubuhnya gemetar dan air matanya jatuh satu per satu saat ia menceritakan semuanya. Meski tidak detail, namun beberapa poin yang teman aku sampaikan cukup membuat kami yang mendengarnya naik pitam. Kami meminta dan menyarankan agar dia mau membawa kasus itu ke ranah hukum. Sayangnya,  kekerasan memang sering kali meninggalkan luka yang sulit dibuktikan. Bukti lebam itu sudah hilang, dan kasusnya pun tak bisa dilanjutkan. 

Aku masih ingat, karena aku pernah ikut tidur di kosannya, aku merasa aneh dengan kelakuan teman ku itu. Dia tidak bisa jauh-jauh dair hp, bahkan pada saat kuotanya habis ribut minta tethering data kepadaku. Tidur sambil telfonan gitu, alias sleep call. Dan pernah bilang, kalau cowoknya itu overprotective dan beberapa kali aku juga bilang untuk putus aja dari dia. Tapi sayangnya selalu ada alasan: cinta, kasihan, janji berubah, rasa bersalah.  Hingga akhirnya bogem mentah itu mendarat ke wajah cantiknya dan ternyata itu bukan pertama kalinya. Belum lagi hutang-hutang si cowok itu yang menggunung ke temen aku. 

Aku gak tahu sih perkaranya udah selesai apa belum. Aku hanya berharap temanku sudah aman, merdeka, dan tak lagi menanggung beban yang bukan miliknya. Terakhir berkabar sih si cowoknya udah mulai nyicil bayar hutang-hutangnya. Ya, semoga hutang-hutang itu lunas. Bukan hanya secara materi, tetatpi juga secara batin. 

Setelah baca buku ini aku jadi faham, mungkin itu ya yang dimaksud dengan temanku dulu. Alasan berpisah susah dan malah balik lagi-balik lagi ke orang yang menyakitinya. Buku ini juga membuka mataku bahwa hubungan abusif bukan sekedar soal kekerasan, tetapi juga soal jerat psikologis yang perlahan mengikis nalar dan harga diri korban. 

Refleksi terbesarku setelah membaca buku adalah:  jika di sekitar kita ada orang yang terjebak dalam hubungan yang seperti ini, tolong jangan buru-buru menghakimi. Yang mereka butuhkan bukan ceramah, tapi ruang aman.  Aku  sangat salut pada orang tuanya Aurélie yang memberikan dukungan penuh. Dukungan semacam itulah yang sering kali menjadi satu-satunya tali penyelamat. 

Dari buku ini juga aku jadi belajar pola orang-orang manipulatif, bahkan ini seperti memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder. Kalau udah ada tanda-tanda begitu: merendahkan, mengontrol, memutarbalikkan fakta, membuat kita merasa bersalah atas luka yang mereka ciptakan, mungkin memang satu-satnunya jalan adalah cut off. Kejam sih, tetapi karena kita juga harus selamat dari orang-orang modelan begini. 

Terima kasih Aurélie sudah berani menuliskan kisahmu itu. Melalui ceritamu itu aku jadi belajar mengenali lelaki yang harus dijauhi, belajar memahami kompleksitas luka para korban, dan yang terpenting adalah belajar untuk berempati. Buku ini bukan hanya sekedar bacaan, tapi peringatan sekaligus pengingat bahwa kekerasan tidak selalu datang dengan wajah garang. Kadang ia datang dengan kata-kata manis dan topeng beratasn namakan "Tuhan."


Sunday, January 11, 2026

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

What is one thing you regret very badly and cannot change?

Kalau ditanya pertanyaan ini aku akan jawab soal audisi penyiar radio vs sekolah. 

When I was in junior high school, I applied a radio announcer. Radio announcer cilik gitu, buat yang masih sekolah. Hari itu inget banget, lagi libur semester kan jadi aku bisa ikut audisinya langsung ke tempat. Udah sampe ke tahap interview, kemudian si penyiarnya nanya, 

"Kalau nanti lolo dan hari Minggu harus ikut kelas radio bisa?"

Aku diam sejenak. Rasanya galau. Kenapa galau? Ya karena dulu sekolah aku liburnya Jumat dan Minggu itu masuk. Lalu, udah pasti orang tua gak ngizinin karena harus mengutamakan sekolah. Dengan berat hati aku jawab,

"Aku sekolah kak kalau hari Minggu. Jadi sepertinya gak bisa."

Si kakak penyiar radio itu hanya bisa manggut-manggut sambil menulis di kertas. Udah pasti gak akan keterima. Batinku. 

Acara berlangsung sampai siang. Dan begitu diumumkan iya, aku tidak lolos. 

Aku pulang dengan langkah yang gontai. Sedih? Tentu! Begitu sampai rumah dan cerita kepada orang tua, orang tua tidak banyak komentar. Kalau aku ingat-ingat ya, keputusan itu aku ambil berdasarkan perspektif aku sendiri. Padahal jika didiskusikan dengan orang tua, sepertinya aku akan diizinkan. Dan sekolah akupun pastinya akan mengizinkan juga.

Aku dulu terlalu takut untuk keluar dari zona aman. Aku terlalu takut akan nilai rapor aku yang jelek, kemudian dikomentari oleh teman-teman karena izin tidak masuk di hari Minggu. Hei! Padahal itu semua hanya terjadi di isi kepalamu bukan? Tidak terjadi di dalam kehidupan nyata?

Aku tahu, aku gak bisa merubah tentang hari itu. Tapi dari kejadian ini, aku mengambil hikmahnya. Jangan pernah takut untuk mengambil kesempatan yang ada di depan mata. Selama itu positif, gak apa-apa kan?

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi